Grow with Character

Pada 1 Mei 2010 ini, kami di MarkPlus Inc merayakan genap 20 tahun berdirinya perusahaan. Dari perusahaan satu orang di Surabaya, ia menjadi korporat regional (ASEAN) berkelas Dunia. Pada saat ini, kami mempunyai 200 consultants researchers, trainers dan administrators yang bekerja di 10 kota di ASEAN.

Sebagai “University of Life”, kami juga sudah melahirkan banyak alumni yang ikut mewarnai dunia pemasaran di Indonesia, antara lain Handi Irawan Djuwardi di Frontier, Handito Hadi Joewono di Arrbey Indonesia dan Sumardi di Octovate.

Supaya bisa tetap tumbuh secara sustainable, kami membukukan konsep “Grow with Character” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Kami di MarkPlus Inc percaya bahwa hanya “Pertumbuhan dengan Karakter” yang bisa membuat ini terjadi.

Dalam kesempatan ini saya ingin men-share executive summary dari buku tersebut yakni sbb:

The Model

Ada tiga komponen di Model “GwC”, yaitu: Excellence, Professionalism dan Ethics.

Sebagai contoh Garuda, dimana sekarang Emirsyah Satar (CEO Garuda) sedang memacu insan Garuda supaya punya mental “excellence”. Tanpa ini, Garuda tidak mungkin bisa mencapai hasil gemilang pada 2009 lalu: meraup untung besar, sementara Singapore Airlines merugi dan Japan Air Lines malah bangkrut!

“Every business is Growth business!” kata Ram Charan. Tapi harus mempunyai profitable growth, bukan asal tumbuh tapi merugi! Karena itu harus ada “Grow with Excellence!”. Tetapi Excellence tidak akan terjadi tanpa Professionalism, yang bagi kami di MarkPlus Inc adalah Passion for Knowledge, Passion for Business, Passion for Service, Passion for People!
MarkPlus Institute of Marketing (MIM) juga diminta “menggenjot” SDM Garuda supaya mereka bisa memberikan “excellent service” pada para penumpang sebagai “manusia seutuhnya”. Pada saat yang sama, SDM Garuda pun makin menyadari hanya dengan begitu Garuda bisa memenangkan bisnis aviasi yang seolah sudah terseret masuk pada “perang harga”. So we need to “Grow with Excellence and Professionalism”.

Dan pada akhirnya, semua itu haruslah didasari pada “good character” dari pelakunya sendiri. Dalam hal ini, saya meminjam enam pilar dari Josephson Institute of Ethics. “Character is the ultimate thing in excellent professionalism!” Tanpa ini, pertumbuhan sebuah perusahaan sangat vulnerable karena dunia menjadi semakin transparan dan pelanggan semakin memilih Karakter ketimbang sebuah Merk belaka!

Garuda, dengan Karakter Indonesia yang ditunjukkan dalam perilaku kru udara dan daratnya, berhasil “memperkuat” Brand-nya. So finally, “Grow with Excellence and Professionalism with Character!” Singkatnya Grow with Character!

Excellence: Four “Necessary” Elements

Berdasarkan berbagai literature, dapat disimpulkan bahwa ada empat elemen utama dari Excellence.

Excellence pertama adalah Commitment atau Purpose. It is not about winning itself but about the paradigm to win! We must consciously choose excellence. Ini benar! Banyak orang yang “terima” hidup tenang dan cukup jadi “mediocre” saja. Nah, orang seperti ini tidak punya “purpose” untuk menang. Ya, tidak pernah menang dan mana bisa menang? Karena itu, supaya bisa excellence harus ada redefinisi paradigma terdahulu.

Kedua adalah Opening your gift atau Ability. Every person in the world has the ability to be Excellence in at least one area. Identify your inner potentials. Elemen kedua ini perlu karena tidak ada gunanya anda punya untuk menang, tapi tidak punya ability. Diingatkan bahwa tiap-tiap orang sebenarnya “diberi Tuhan” kemampuan paling tidak di satu area. Carilah dan kembangkanlah! Karane landscape berubah terus, maka “ability” pun harus dikembangkan terus. Kalau tidak, ya akan semakin tidak kompetitif, dan akhirnya mana bisa excellent? Jadi, excellence itu sendiri dinamis sifatnya.

Ketiga, Being the Best You Can be atau Motivation. It is not about talent, it is about getting the best shape possible given our God-given potentials.

Artinya? Excellence sebenarnya bukan cuma talenta. Tuhan pasti sudah memberikan sesuatu kepada Anda. Maksimumkan yang ada di situ supaya tercapai hasil yang optimal.

Keempat, Continous improvement. We must set the bar and continually raise it from time to time. Orang Jepang menyebutnya Kaizen. Besok harus lebih bagus dari hari ini. Jangan berpuas diri. Kita tidak mungkin merekrut superstar semua tapi orang biasa yang mau seperti itu akan membentuk suatu Excellent Organization!

Professionalism: Four Basi Passions

Seperti disebutkan sebelumnya, bagi kami di MarkPlus Inc, Professionalism terdiri atas empat passion mendasar.

Passion pertama adalah “Passion for knowledge”, artinya mau mengembangkan diri terus-menerus. Landscape bisnis yang selalu berubah mengharuskan kita mengembangkan diri pula. Passion ini memungkinkan perusahaan untuk tidak sekedar “reaktif” pada perubahan bisnis, tapi bisa “proaktif” karena selalu update tentang perkembangan dan trend bisnis yang sedang terjadi. Tentunya mengkonkritkan Passion ini juga memerlukan investasi yang nyata pada pengembangan knowledge perusahaan. Ini bisa dilakukan dengan, misalnya mendirikan library yang selalu di-update dengan buku-buku terbaru yang relevan terhadap bisnis perusahaan. Atau melalui komitmen yang kontinyu terhadap training dan scholarship bagi pegawai perusahaan.

Yang kedua adalah Passion for Business. Di sini intinya adalah kesadaran bahwa semua itu harus ada perhitungan bisnisnya. Harus disadari bahwa pada dasarnya suatu perusahaan itu bukanlah “LSM”. Dalam hal ini, elemen yang terpenting adalah memiliki jiwa “entrepreneur”. Dengan demikian, setiap orang dalam perusahaan akan menyadari bahwa ada Pesaing, ada Pelanggan, sekaligus paham bahwa perusahaan menghadapi persaingan yang cukup ketat dalam industrinya.

“Passion for Business” saya tulis sebagai passion kedua setelah “Passion for Knowledge” karena Knowledge comes first! Saya percaya, kalau kita “eat, sleep and dream with business knowledge, the knowledge business” akan berjalan dengan sukses. Jangan dibalik!

Ketiga adalah Passion for Service. Dengan passion, semua harus bisa “melayani” pelanggan. Siapa pun orangnya dan apapun jabatannya harus mau dan “berani” memberikan service. Tapi di sini bukan melayani seperti melayani raja, tapi memberikan service penuh kepedulian layaknya pada seorang teman yang kita sayangi.

Passion keempat adalah Passion for People. Artinya, semua pegawai perusahaan tidak boleh “look down” (anggap remeh) ke jabatan yang lebih rendah tapi juga tidak “minder” terhadap yang memiliki jabatan tinggi. Selain itu, semuanya diharapkan bisa “inklusif” ke kiri dan ke kanan. Tidak ada gunanya memperhitungkan bangsa, suku dan agama yang “vertical”, semuanya adalah “horizontal citizens of the world”. Antara Passion ketiga dan keempat ini ada hubungan yang sangat erat karena semua perusahaan pada dasarnya adalah bisnis berbasis orang.

Ethical: Six Pillars of Character

Josephson Institute of Ethics merumuskan enam pilar utama yang membentuk Character sbb:

1. Pilar pertama Trustworthiness. Sebisanya, mulai dipupuk sejak anak berusia 4-6 tahun. Tidak bohong dan tidak berdusta dan berani membela kebenaran: inilah karakter paling dasar.

2. Responsibility, yang sebaiknya mulai diajarkan sejak umur 6 sampai 9 tahun. Di pilar ini ditanamkan sikap disiplin dan bertanggungjawab terhadap pilihan yang diambil-untuk berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan konsekuensinya.

3. Respect. Di sini dibiasakan memperlakukan orang lain dengan hormat. Mengikuti The Golden Rule: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”. Berlaku sopan dan jangan melukai orang lain. Sifat ini perlu mulai ditanamkan sejak umur 9 sampai 11 tahun.

4. Fairness. Anak-anak usia 11 sampai 13 tahun perlu mulai menjiwai pilar ini agar belajar untuk mengikuti aturan yang berlaku: tidak berprasangka dan tidak sembarangan menyalahkan orang lain, juga berbagi dengan sesama.

5. Caring, yang harus mulai diterapkan sejak masa remaja. Inti pilar ini adalah bertindak dengan ramah dan peduli pada orang lain, dan memaafkan orang lain serta membantu mereka yang kesulitan.

6. Citizenship, yang dibangun sejak meninggalkan masa remaja dan mulai menjadi dewasa. Pilar ini berbicara mengenai berperan serta aktif dalam mengembangkan komunitas sekitar, bekerja sama dan bertetangga dengan baik, mematuhi hukum dan aturan serta menghargai otoritas.

Putting It All Together!

Dengan menggabungkan ketiga komponen di atas, maka saya yakin institusi apa pun akan lebih menahan ”goncangan”! Percayalah, ketika business landscape berubah secara dinamis, para investor akan kembali kepada karakter!

Sumber: Hermawan Kertajaya – The Magazine of Garuda Indonesia, May 2010, Hal.050

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: