Kekuatan Pengairan Majapahit

Penguasaan Majapahit atas sejumlah wilayah Nusantara sampai Semenanjung Tanah Melayu menunjukkan kekuatannya sebagai negara bahari. Sebagai negeri agraris, pemerintahan kerajaan Hindu Buddha ini mempersiapkan instalasi air.

Pengelolaan air memang sangat diperlukan untuk kehidupan rakyat yang umumnya bertani. Kehidupan agraris ini tampak jelas dalam relief-relief Candi Menak Jingga yang kini dipamerkan di Museum Trowulan.

Masalahnya, dalam catatan Ma Huan, pusat Majapahit adalah kawasan berudara panas. Sementara secara geografis, permukaan Trowulan cenderung rendah, diapit anak-anak sungai dari Gunung Arjuna dan Penanggungan di selatan serta Kali Brantas dan anak- anak sungainya di utara. Kondisi ini mengakibatkan Trowulan rentan terkena banjir, apalagi ada daerah berawa-rawa, seperti Balong Bunder dan Balong Dowo yang masih tersisa di sekitar Museum Trowulan.

Untuk membuat Trowulan layak sebagai pusat pemerintahan, menurut arkeolog dari Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, instalasi air yang memadai adalah keharusan. Apalagi, umumnya di sekitar keraton terdapat daerah pertanian sehingga ketersediaan air juga menjadi penting. Karena itu, dibuatlah jaringan kanal yang berkisi-kisi memanjang seukuran 4,5 kilometer sampai 5,5 kilometer.

Di antara kisi-kisi kanal tersebut ditemukan beragam tinggalan arkeologis yang sangat padat, mulai dari candi, gerabah, batu bata dan susunan permukiman, kepingan uang kepeng Majapahit maupun uang dari China, hingga pecahan keramik China, Thailand, dan Vietnam. Kuat dugaan bahwa kawasan itu, terutama sekitar Kolam Segaran, Nglinguk, dan situs Sentonorejo, pernah menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Apalagi, banyak pula instalasi pengairan yang masih terlihat, seperti Kolam Segaran, saluran air bawah tanah di Nglinguk, dan Dukuh Blendren, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Di sana juga ditemukan waduk, parit, serta sumur berbagai tipe.

Kendati belum ditemukan catatan sejarah mengenai pembuatan jaringan kanal di Trowulan, kata pengajar Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, istilah undahagi pangarung (ahli pembuat saluran air bawah tanah), weluran (saluran air di permukaan tanah), dawuhan (waduk), dan tamwa (tanah yang ditinggikan untuk di tepi penampung air atau tangkis dalam bahasa Jawa) sudah muncul pada prasasti-prasasti zaman Majapahit.

Lima sumur

Sistem pengairan yang jelas direncanakan untuk kepentingan irigasi juga bisa ditemukan di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Di kawasan ini terdapat lima sumur yang menjadi mulut terowongan air bawah tanah. Sumur bisa dituruni dan manusia bisa memasuki terowongan yang umumnya berjarak sekitar 50-60 meter dari sumur lainnya.

Terowongan tersebut berbentuk kubah selebar tubuh manusia dengan tinggi 160-170 cm. Di beberapa bagian ada yang tingginya hanya sekitar 150 cm. Bahkan, di antara sumur keempat dan kelima jarak dasar terowongan dengan bagian atasnya hanya sekitar 60 cm.

Di dinding-dinding dalam terowongan banyak rembesan air. Karena itu, terowongan selalu berair mulai setinggi mata kaki sampai paha.

Mengenai Surowono, pada pupuh 82 Negarakertagama, Prapanca mencatat adanya pembukaan hutan di Surabana, Pasuruan, dan Pajang oleh Raja Wijayarajasa dari Wengker. Disebutkan pula Hayam Wuruk membuka hutan di Tigawangi. Di dua daerah yang terletak di Pare, Kediri, itu saat ini masih terdapat candi untuk mengenang leluhur Hayam Wuruk. Candi Surowono untuk pendarmaan Bhre Wengker atau paman Hayam Wuruk, sedangkan Candi Tigowangi untuk mengenang Pangeran Matahun yang diduga putra Wijayarajasa.

Candi Surowono hanya beberapa puluh meter dari terowongan air bawah tanah. Bahkan, menurut Slamet (42), pemandu di Terowongan Surowono, di bagian belakang candi terdapat bagian yang bersambungan dengan terowongan ini sehingga bisa digunakan untuk melarung sesajen.

Karena itu, Dwi Cahyono menduga diperlukan persawahan yang dikelola untuk kepentingan candi. Itu pula yang menyebabkan terowongan di Surowono bersambungan dengan sungai yang mengairi persawahan di Dukuh Sumberagung yang bersebelahan dengan Surowono.

Kenyataannya, menurut Slamet, di Surowono dan Sumberagung masa tanam bisa dilakukan tiga kali tanpa pernah mengalami kekeringan. Banjir juga belum pernah melanda.

Sayangnya, di dinding terowongan Surowono dan di bagian dasarnya terdapat pecahan piring keramik yang tampak baru. Selain itu, karena pernah menjadi lokasi pertemuan pasangan muda, terowongan kini ditutup dengan pintu bambu bergembok. Pengunjung yang ingin menjelajah terowongan bisa meminta bantuan jasa antar pemandu warga desa itu.

Bersamaan

Menurut Dwi, pembuatan terowongan kemungkinan dilakukan secara bersamaan dari dua mulut sumur dan bertemu di tengah. Karena itu, terowongan berliku dan di beberapa tempat terdapat susunan bata kuno sebagai penyumbat jalur. Sumur-sumur ini juga memudahkan perawatan terowongan.

Pembuatan saluran air ini dilakukan di bawah tanah. Kemungkinan, tambah Dwi, penguasa mempertimbangkan keberadaan permukiman warga yang sudah ada. Supaya tidak menggusur warga, saluran air dibuat di bawah tanah.

Dari sistem jaringan kanal, keragaman instalasi pengairan, dan peningkatan jumlahnya di Jawa Timur, terlihat perkembangan teknologi pengairan pada masa Hindu Buddha abad ke-10 sampai ke-16. Karena pengaruh India saat itu cukup kuat, lanjut Dwi, diperkirakan teknologi ini berasal dari kitab tentang pengairan jalasastra atau silpa shamsita.

Berbagai jejak teknologi yang ada, menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Prof Mundardjito, menunjukkan peninggalan pemikiran dan karya orang Majapahit yang perlu dilestarikan. Pemikiran ini juga masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang kerap dilanda kekeringan dan banjir.

Jakarta setiap tahun kebanjiran. Kanal banjir timur yang direncanakan sejak tahun 2003 sampai musim hujan 2010 belum juga rampung. Di kota-kota lain, masalah banjir dan kekeringan juga terus terjadi.

Karena itu, dengan peninggalan yang masih ada, tambah Dwi, diperlukan upaya penelusuran ulang serta revitalisasi. Bila instalasi yang ada masih berfungsi, instalasi itu bisa dimanfaatkan masyarakat. Selain itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini bisa mempelajari pengelolaan air di negara dengan dua musim, hujan dan kemarau. (Ingki rinaldi)

Sabtu, 15 Mei 2010 | 03:12 WIB

Oleh Nina Susilo dan Runik Sri Astuti

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/15/03124557/kekuatan.pengairan.majapahit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: