Penetrasi Bank Paling Rendah

Atur Kembali Kompetisi Antarbank

Penetrasi perbankan Indonesia tergolong paling rendah dibandingkan di negara-negara ASEAN lainnya. Hal itu membuat pertumbuhan kapasitas perekonomian Indonesia berjalan lambat. Oleh karena itu, dibutuhkan penataan ulang struktur industri perbankan.

Rendahnya penetrasi perbankan tecermin, antara lain, dari rasio aset perbankan terhadap produk domestik bruto (PDB). Rasio tersebut untuk Indonesia 40 persen, di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Pengamat perbankan, Krisna Wijaya, Senin (5/4) di Jakarta, menjelaskan, ada beberapa alasan yang menyebabkan rendahnya peran perbankan dalam mendorong perekonomian.

Perbankan, kata Krisna, banyak menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang kurang produktif, seperti kredit konsumsi. Dampaknya, kredit yang disalurkan kurang signifikan dalam meningkatkan kapasitas perekonomian. Rendahnya kapasitas ekonomi pada akhirnya membuat permintaan kredit juga rendah.

Selain itu, menurut Krisna, pemerintah kurang meningkatkan daya saing sektoral. Akibatnya, perbankan tidak tertarik membiayai sektor industri yang sebenarnya berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan sektor lainnya.

Dijelaskan, karakter perekonomian seperti Indonesia sebenarnya masih membutuhkan peran bank sentral sebagai pelopor penyaluran kredit ke sektor-sektor yang belum diminati perbankan.

Dominasi perbankan

Menurut Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Halim Alamsyah, di dalam negeri, perbankan mendominasi pasar keuangan, dengan menguasai 80 persen aset keuangan di Indonesia. Kondisi ini membuat penetrasi pasar modal, seperti penerbitan saham dan obligasi, juga relatif rendah.

Kapitalisasi pasar saham terhadap PDB di Indonesia, misalnya, terendah di Asia, yakni hanya 28 persen, sementara di Malaysia 157 persen dan Singapura 153 persen. Bahkan, Indonesia kalah dari Filipina, yang memiliki rasio kapitalisasi pasar saham terhadap PDB 31 persen.

Di pasar obligasi korporasi, Indonesia juga paling rendah di Asia. Pasar obligasi di Indonesia masih didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN).

Menurut Halim, pasar keuangan masih akan didominasi perbankan sekurang-kurangnya sampai 25 tahun ke depan. Karena itulah, untuk mempercepat pertumbuhan pasar keuangan, penataan struktur perbankan harus diperbaiki.

Salah satu yang perlu ditata adalah mengatur agar kompetisi antarbank atau antarlembaga keuangan tidak saling mematikan satu sama lain. Ini bisa dilakukan karena sebenarnya ruang ekspansi pasar keuangan Indonesia masih sangat luas.

Persaingan antara bank besar, bank menengah, dan bank kecil juga perlu diatur kembali. Saat ini struktur perbankan tidak seimbang. Dari 121 bank, sembilan bank menguasai 62 persen aset perbankan nasional.

Dalam kelompok yang lebih besar, 41 bank menguasai 90 persen pangsa aset perbankan nasional.

Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, Bank Indonesia terus mendorong pendalaman pasar keuangan. Salah satunya dengan mengurangi penempatan dana perbankan pada Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berjangka satu bulan.

Dengan strategi ini, kata Perry, diharapkan dana perbankan bisa ditempatkan pada pasar uang antarbank atau surat utang bertenor pendek. Ini akan memicu pemerintah dan korporasi menerbitkan surat utang bertenor di bawah satu tahun. (FAJ)

06 April 2010

source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/06/04052746/penetrasi.bank.paling.rendah

Satu Tanggapan

  1. Informatif.SAlam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: