“E-banking”, Tidak Sekadar Layanan

Tak pelak lagi, bank yang berjaya pada masa datang adalah bank yang mampu membangun jaringan transaksi secara elektronik atau ”e-banking” secara luas, lengkap, dan aman.

Karakter generasi nasabah ke depan yang makin mobil, serba instan, dan internet minded membuat transaksi perbankan secara konvensional melalui cabang di mana terjadi temu muka antara kasir atau teller dan nasabah makin ditinggalkan. Tak heran, perbankan pun seolah berlomba membangun anjungan tunai mandiri (ATM), layanan transaksi online, dan jaringan berbasis teknologi informasi lainnya melalui media internet dan telepon seluler.

Direktur Mikro dan Ritel PT Bank Mandiri Tbk Budi G Sadikin mengatakan, bagi perbankan, mengembangkan e-banking tidak hanya sekadar mengikuti tren kebutuhan nasabah yang makin mobil, tetapi juga mengejar tujuan lain yang juga strategis, seperti menurunkan biaya dana (cost of fund), meningkatkan efisiensi, dan memperoleh pendapatan komisi (fee base income). Jadi jelaslah bahwa e-banking bukan hanya layanan, tetapi sudah menjadi strategi utama perbankan untuk tumbuh dan meraup laba berkesinambungan.

”E-banking tak hanya sekadar meningkatkan loyalitas nasabah, tetapi juga dapat menjadi faktor pemikat untuk nasabah baru,” kata Budi.

E-banking pada dasarnya memiliki sejumlah saluran (channel), yaitu ATM, layanan pesan singkat (SMS Banking), internet (internet banking), telepon (call center), dan mesin gesek kartu di toko-toko (merchant).

Seiring makin modernnya kehidupan masyarakat, transaksi e-banking terus meningkat pesat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) yang merupakan turunan dari transaksi e-banking.

Berdasarkan data Bank Indonesia, per Oktober 2009 terdapat 12 juta lebih kartu kredit dan 43 juta kartu ATM plus debet. Padahal, diperkirakan masih ada sekitar 80 juta penduduk yang belum memiliki rekening tabungan di bank.

Sementara itu, nilai transaksi kartu ATM plus debet pada Oktober 2009 untuk transaksi tunai Rp 73 triliun, transaksi interbank sekitar 71 triliun, antarbank Rp 6 triliun, dan belanja senilai Rp 5 triliun. Angka-angka tersebut hampir dua kali lipat lebih besar ketimbang kinerja awal 2006.

Pada ATM Bersama yang dikelola Artajasa, transaksi dari 2007 sampai Juli 2009 naik 100 persen, dari 4,5 juta transaksi per bulan menjadi 9 juta transaksi. Bahkan, pada 2010 diprediksi dapat mencapai 18 juta transaksi.

Peningkatan transaksi yang pesat juga terjadi pada kanal e-banking lain, misalnya internet dan mobile banking. Dampaknya, jika lima tahun lalu perbandingan transaksi konvensional melalui cabang dan transaksi e-banking adalah 70 banding 30, saat ini kondisinya berbalik di mana transaksi e-banking mencapai 70 persen dari total transaksi perbankan.

Komisi jasa

Salah satu dampak yang amat dirasakan perbankan adalah meningkatkan komisi jasa pelayanan (fee based income). Pendapatan itu diperoleh karena transaki e-banking dikenai biaya. Misalnya pembayaran telepon melalui ATM dikenai biaya Rp 3.000-Rp 5.000 per transaksi. Adapun pembayaran tagihan listrik melalui ATM rata-rata dikenai biaya Rp 2.500 per transaksi.

Jika pada 2004 pendapatan komisi hanya menyumbang 5 persen dari total pendapatan perbankan, pada akhir 2009 kontribusi pendapatan dari fee mencapai 10 persen. Belakangan, jenis pendapatan nonbunga ini tumbuh lebih cepat ketimbang pendapatan bunga.

Di negara maju, seperti Jepang dan Korea, kontribusi pendapatan komisi bisa mencapai 30-40 persen. Ini jelas sangat menguntungkan perbankan, apalagi bisnis ini hanya memiliki risiko operasional. Tidak seperti kredit yang melekat risiko gagal bayar, di samping risiko lainnya.

Untuk beberapa transaksi, biaya yang dikeluarkan nasabah pun menjadi lebih murah. Misalnya untuk transaksi transfer ke bank lain melalui kliring dan penyelesaian seketika (real time gross settlement/RTGS), transaksi di teller biayanya Rp 5.000 untuk kliring dan Rp 25.000-Rp 35.000 untuk RTGS.

Namun, menurut Budi Sadikin, jika nasabah bertransaksi melalui SMS di Bank Mandiri hanya Rp 2.500 untuk kliring dan Rp 15.000 untuk RTGS. Transfer ke bank lain bisa lebih murah dan cepat dengan menggunakan sarana ATM melalui ATM Bersama dengan biaya Rp 5.000 per transaksi. Sifatnya pun online, transfer langsung sampai saat itu juga ke rekening tujuan.

”Waktu masyarakat juga terhemat banyak karena tak perlu lagi antre di kasir bank. Produktivitas masyarakat pun meningkat karena waktunya bisa digunakan untuk kegiatan produktif lainnya. Efisiensi nasional pun tercipta, diukur dari efisiensi Bank Indonesia dalam pengeluaran biaya mencetak uang kertas dan koin,” kata General Manager Dana dan Jasa Konsumen PT BNI Anggoro Eko Cahyo.

E-banking juga menjadi senjata ampuh perbankan untuk menghimpun dana murah tabungan. Terbukti pada akhir 2009 porsi tabungan terhadap total dana pihak ketiga mencapai 31 persen ketimbang tahun 2005 yang hanya 24 persen. Untuk memanfaatkan layanan e-banking, nasabah memang harus memiliki rekening tabungan untuk menyimpan uang yang akan ditransaksikan. Jadi, semakin e-banking diminati, semakin banyak pula bank mengumpulkan dana murah. Tabungan disebut dana murah karena bunganya hanya 2-3 persen. Sementara deposito yang merupakan dana mahal berbunga 6-8 persen tergantung besaran banknya.

Pengurangan cost of money akan berarti banyak bagi perbankan. Dengan cost of money yang rendah, perbankan bisa memenangi segala-galanya. Saat ini, misalnya, cost of fund perbankan rata-rata sebesar 6 persen. Dengan biaya dana sebesar itu, bunga kredit yang ditawarkan perbankan mencapai 12 persen. Coba bayangkan sebuah bank yang memiliki biaya dana hanya 3 persen. Bank tersebut tentu bisa menekan bunga kreditnya hingga hanya 9 persen. Dampaknya, dengan keunggulan tersebut, tentu saja bank bersangkutan bisa memilih debitor-debitor terbaik, yang mungkin sebelumnya bermitra dengan bank lain. Alhasil, bank bersangkutan otomatis bisa menekan kredit bermasalah sehingga tidak perlu melakukan pencadangan yang menggerus laba.

Meningkatnya porsi tabungan juga membuat perbankan seolah bisa terlepas dari persoalan inflasi yang senantiasa tinggi di Indonesia. Nasabah tabungan tidak masalah menerima imbal hasil di bawah inflasi karena tabungan memang dimengerti bukan tempat berinvestasi. Berbeda dengan deposito di mana deposan sudah pasti menuntut imbal hasil di atas inflasi agar investasinya tidak menyusut.

Bersama-sama

Penggunaan e-banking juga membuat efisiensi bank meningkat tajam karena bank tidak perlu lagi membangun jumlah jaringan fisik yang banyak dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar untuk operasional di cabang. Menurut Budi, biaya untuk buka satu cabang sekitar Rp 700 juta, sedangkan biaya untuk satu mesin ATM sekitar Rp 80 juta.

Direktur PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Stephen Liestyo mengatakan, efisiensi terjadi karena pada penggunaan e-banking, biaya-biaya sebenarnya dipindahkan ke nasabah. Untuk mobile banking dan internet banking, misalnya, nasabah sendiri yang menyediakan sarananya, yaitu berupa handphone, laptop, telepon, listrik.

Jika dihitung-hitung, biaya transaksi di cabang bisa mencapai Rp 10.000 per transaksi, sedangkan e-banking hanya sekitar Rp 3.000 per transaksi.

Transaksi e-banking diperkirakan makin berkembang pesat. Salah satunya karena pengguna ponsel terus bertambah. Pengguna telepon seluler di seluruh Indonesia saat ini sudah mencapai 110 juta. Karena itulah, dalam rencananya tahun ini, BII akan menambah 300 unit ATM dan peremajaan 100 unit ATM. ”Keunggulan ATM BII adalah dapat menerima kartu ATM dari hampir semua bank yang terhubung dengan jaringan ATM nasional, seperti ATM Bersama, Prima dan Alto, serta jaringan internasional seperti Visa, Mastercard, dan Plus,” katanya.

Untuk mengantisipasi evolusi yang terus berkembang dalam transaksi e-banking, Stephen telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satunya adalah penggunaan kartu khusus yang dipasangi chip RFID (radio frequency identification) yang bisa dipindai di gerai merchant untuk bertransaksi secara offline.

Selain itu, BII juga akan memanfaatkan transaksi online menggunakan pesan singkat dengan dukungan teknologi USSD (unstructured supplementary service data). Jadi, ponsel pelanggan kelak berfungsi layaknya dompet uang yang dapat digunakan untuk bertransaksi nominal kecil.

Stephen mengatakan, e-banking tidak hanya berguna dari sisi penghimpunan dana, tetapi juga bisa digunakan untuk mendukung penyaluran kredit, tugas utama bank. Dengan berkembangnya sistem informasi debitor dan nomor identitas tunggal, pengajuan aplikasi maupun persetujuan kredit pemilikan rumah, misalnya, cukup melalui e-banking.

Kendati peran e-banking semakin penting bagi perbankan, bagaimanapun, kata Stephen, jaringan fisik, seperti kantor cabang, tetap tak bisa ditinggalkan. Masyarakat pada dasarnya tetap ingin melihat bangunan fisik bank yang menjadi mitranya ada di sekitarnya. Jaringan fisik bisa membuat nasabah percaya kepada bank.

Namun, pembangunan jaringan fisik tentulah bukan proyek rugi perbankan, tetapi justru bisa menjadi peluang baru. Di kantor-kantor cabang, misalnya, bank bisa memfokuskan kegiatan sebagai agen penjual produk investasi dan bancassurance yang masih membutuhkan tatap muka antara nasabah dan pihak bank.

Keberadaan e-banking pada akhirnya juga menciptakan tantangan yang tidak ringan bagi bank-bank kecil untuk tetap bertahan hidup mengingat investasi e-banking tidaklah murah. Namun, bank-bank kecil sebenarnya bisa menyiasati itu dengan menggunakan teknologi informasi yang dipakai bersama oleh banyak bank. (FAJ)

Selasa, 9 Maret 2010 | 02:35 WIB

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/09/02353794/e-banking.tidak.sekadar.layanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: