Sulit Pertahankan Laba

Perbankan Harus Lebih Gencar Menyalurkan Kredit

Margin bunga bersih bank tahun ini bakal tertekan seiring dengan menyempitnya rentang suku bunga simpanan dan suku bunga kredit. Perbankan harus lebih gencar menyalurkan kredit dan meningkatkan pendapatan berbasis komisi agar perolehan laba tahun 2009 bisa dipertahankan

Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono akhir pekan lalu di Jakarta mengatakan, net interest margin (NIM) pada 2010 diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan 2009 yang sebesar 5,56 persen. Itu bisa terjadi karena rentang (spread) suku bunga simpanan dengan suku bunga kredit akan menyempit.

Suku bunga acuan atau BI Rate yang diperkirakan naik pada semester II-2010 akan mendorong kenaikan suku bunga simpanan, terutama deposito berjangka. Di sisi lain, perbankan sulit menaikkan suku bunga kredit karena levelnya sudah terlampau tinggi. Rata-rata suku bunga deposito berjangka satu bulan kini 6,77 persen per tahun, sedangkan suku bunga kredit rata-rata 12 persen.

Untuk mempertahankan NIM, perbankan harus meningkatkan penyaluran kredit minimal tumbuh 20 persen dibandingkan dengan 2009.

Tahun lalu penyaluran kredit perbankan tumbuh 10 persen. Namun, NIM tetap besar karena rentang suku bunga sangat lebar sehingga tahun 2009 perbankan bisa mencetak laba yang besar.

Selain meningkatkan penyaluran kredit, menurut Tony, perbankan juga harus meningkatkan pendapatan di pos lain agar perolehan laba 2009 bisa dipertahankan. ”Misalnya, meningkatkan fee based income. Bank perlu kreatif mendorong jasa-jasa bank yang bisa menghasilkan income, seperti remittance,” kata Tony.

Bank juga harus menambah fitur pembayaran via ATM, internet, dan phone banking. Ini karena transaksi via peralatan IT jauh lebih murah dan efisien daripada pelayanan via cabang.

Bank, kata Tony, juga harus memangkas biaya operasional, misalnya biaya perjalanan harus dipertajam prioritasnya dan mendorong upaya pemulihan kredit bermasalah yang sudah dihapus buku.

Berdasarkan data Bank Indonesia, laba perbankan nasional tahun 2009 mencapai Rp 45,22 triliun atau naik 48 persen dibandingkan dengan tahun 2008 yang hanya Rp 30,61 triliun.

Pertumbuhan laba 2009 merupakan pertumbuhan laba tertinggi dalam lima tahun terakhir. Padahal, pertumbuhan kredit mencapai titik terendah dalam periode waktu yang sama.

Menurut ekonom Dradjad Wibowo, pada 2009 bank memupuk laba secara dominan dari sumber nonkredit, seperti penghematan biaya dana (cost of money), pendapatan berbasis komisi (fee based income), dan asimetri suku bunga.

”Asimetri suku bunga terjadi karena penurunan suku bunga kredit jauh lebih lambat dibandingkan penurunan suku bunga simpanan,” kata Dradjad.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, pada 2010 perbankan umumnya membidik sektor-sektor usaha yang memberikan margin keuntungan tinggi, seperti usaha mikro dan kecil. ”Ini strategi untuk mempertahankan laba,” ungkapnya. (FAJ)

Senin, 1 Maret 2010 | 04:14 WIB

Jakarta, Kompas –http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/01/04143277/sulit.pertahankan.laba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: