Green Banking dan Low Carbon Economy: Pelajaran dari China

Lead International Session on Climate Change

China adalah negara emitter CO2 terbesar setelah AS. Di tengah isu perubahan iklim di dunia saat ini negara Mao Zedong tengah berbenah diri untuk mengurangi laju emisi CO2-nya dalam waktu 30 tahun ke depan. Hal ini sejalan dengan tren internasional tentang pentingnya pembangungan ekonomi berbasis karbon rendah (low carbon economy). Mengapa hal ini sungguh penting bagi China? Karena selama ini pembangunan di seantero China mengalami over-expansion terutama dalam hal pemakaian sumber energi fossil. Hasil pembangunan ekonomi China yang sungguh menakjubkan ini ternyata ikut menimbulkan masalah di bidang lingkungan.

Oleh sebab itu untuk melihat seberapa besar keseriusan China selama 10 tahun terakhir dan persiapan 20 tahun ke depan daalam hal low carbon economy[1] maka dapat disampaikan data sbb:

  • Pencapaian:

a)      Investasi dalam bidang energi terbaharukan di China menunjukkan angka US$ 12 Miliar dolar di tahun 2007. Pencapaian ini setara dengan Jerman dalam hal persentase GDP-nya. Dalam kapasitas energi yang terpasang, China unggul di dunia saat ini dengan menghasilkan kapasitas hingga 151 GW pada akhir tahun 2007.

b)     Sejak tahun 2005 Pemerintah China telah mengeluarkan kebijakan agar seluruh pembangkit listriknya menggunakan teknologi batu bara yang sangat efisien (super-critical coal fire technology). Dan selama tahun 2007, sebanyak 553 pembangkit listrik yang tidak efisien dengan total kapasitas pembangkit sebesar 14,38 GW telah ditutup.

c)      Peraturan Energi Terbaharukan China memberikan subsidi untuk tenaga listrik berbasis angin dan biomassa. Program Pembangunan jangka menengah dan panjang China menyatakan bahwa 15% dari total energi yang dibutuhkan China harus menggunakan sumber-sumber energi terbaharukan sampai tahun 2020.

d)     Kapasitas tenaga listrik berbasis angin meningkat sekitar 125% di tahun 2007. China sekarang berada pada peringkat ke-5 di dunia dan diharapkan untuk tumbuh hingga 67% dari 10 GW di tahun 2008.

e)      Di tahun 2003, pangsa pasar global energi photovoltaic (PV) China hanya 1%. Di tahun 2008 China menguasai 18% pangsa pasar PV.

f)       China adalah penghasil nomor dua di dunia setelah Jepang dalam bidang energi photovoltaics dengan produksi listrik mencapai 820 MW di tahun 2007. Sampai dengan Juli 2008, gabungan dari enam perusahaan terbesar di bidang sel surya menghasilkan total kapitalisasi pasar melebihi US$ 15 Miliar.

Tantangan:

a)   China memiliki banyak sekali cadangan batu baru yang murah. Bahkan hingga saat ini 77% pasokan bahan bakar China masih menggunakan batu bara. Energi alternative karbon rendah harus menjadi patokan seiring dengan biaya operasional yang rendah.

b)   Sejauh ini hanya 0,08 GW dari tenaga sel surya photovoltaic yang terpasang di dalam negeri ini di tengah-tengah tingginya ekspor photovoltaic China ke luar negeri.

c)   Permintaan listrik di China meningkat hingga 14,4% di tahun 2007 dan diharapkan bertumbuh seiring pembangunan di China.

d)    Beberapa proyeksi menunjukkan bahwa China dapat memenuhi 30% dari kebutuhan energinya dari sumber-sumber terbaharukan hingga tahun 2050. Hal ini lebih cepat dari rekomendasi IPCC untuk pengurangan emisi karbon global.

  • Peluang di Masa Depan:

a)    China memiliki potensi sumber daya biomassa sampai dengan 880 juta metric tons dari limbah pertanian.

b)   Target dan regulasi di China dan dunia akan berlanjut untuk menciptakan pasar ekspor China yang menguntungkan bagi produk-produk energi terbaharukan.

c)    China telah memasang target hingga tahun 2020 untuk meningkatkan kapasitas tenaga listrik angin hingga 30 GW, tenaga hydro hingga 300 GW, tenaga bioenergy hingga 30 GW dan tenaga matahari hingga 1,8 GW.

Green Banking: Menuju Sustainability

Di bidang jasa keuangan dan investasi, pemerintah China telah mengembangkan sejumlah peraturan lingkungan domestik sejak tahun 1980. Bahkan baru-baru ini, aturan ini mencakup kalangan investor dan ahli keuangan China yang mana mereka harus menyertakan kebijakan lingkungannya untuk memandu operasi dan bisnis mereka di luar negeri. Sebagai contoh, China Exim Bank (Bank Ekspor Impor China) telah mengadopsi panduan lingkungan di tahun 2004 dan memperkuat panduan tersebut pada bulan September 2007. Dan sejak Oktober 2006, Dewan Negara China mengeluarkan prinsip-prinsip yang mendesak investor China agar “memperhatikan perlindungan sumber daya lingkungan” dan “mendukung komunitas lokal dan masyarakat” di tempat mereka beroperasi.

Selain itu, pemerintah China memiliki CBRC[2] (China Banking Regulatory Commission), sebuah badan pemerintah yang berfungsi untuk memsupervisi praktek perbankan agar sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik serta memperhatikan daya dukung lingkungan. CBRC yang berada di bawah Kementrian Lingkungan memiliki tujuan sbb:

•         Memformulasikan rencana kerja manajemen risiko lingkungan dan sosial.

•         Memformulasikan kebijakan kredit dan aturan-aturan operasional.

•       Memformulasikan kriteria penilaian kinerja klien dalam bidang pengelolaan risiko lingkungan dan sosial.

•         Memformulasikan prosedur manajemen risiko.

•         Sentralisasi yang layak dalam kewenangan pemutusan kredit.

•         Menugaskan seorang manajer senior untuk implementasi panduan ini dengan dukungan dari sumber-sumber daya yang layak.

Bahkan di bulan November 2007, CBRC mengeluarkan panduan umum tentang penjaminan kredit yang selaras dengan konservasi energi dan pengurangan emisi yang disebut dengan “Guidelines on Credit Underwriting for Energy Conservation and Emission Reduction”, yang salah satu pasalnya berbunyi sbb:

Lembaga keuangan sektor perbankan (selanjutnya disebut sebagai bank) akan senantiasa, melalui pandangan strategis dalam pembangunan ilmu pengetahuan, untuk meningkatkan pembangunan ekonomi, lingkungan dan masyarakat yang bersifat lestari (sustainable) dan menyeluruh, dan untuk memastikan operasi perbankan yang aman dan stabil, dengan sungguh-sungguh mengikuti ruh “Notifikasi Dewan Negara tentang “Rencana Kerja Umum Konservasi Energi dan Pengurangan Emisi”’ (Dewan Negara No.15 [2007]) dan dari “Keputusan Dewan Negara mengenai pelaksanaan Pandangan Pembangunan Ilmu Pengetahun dan Penguatan Perlindungan Lingkungan” (Dewan Negara Penerbitan No.39 [2005]), benar-benar memahami pentingnya konservasi energi dan pengurangan emisi, dan oleh karenanya melakukan pekerjaan yang baik pada penjaminan kredit untuk konservasi energi dan pengurangan emisi.”

Guidleline ini membutuhkan kontrol yang ketat terhadap penyaluran kredit kepada sektor-sektor usaha yang menimbulkan polusi dan penggunaan konsumsi energi yang tinggi. Di saat yang sama CBRC mendesak kepada kalangan perbankan agar menyalurkan kredit kepada perusahaan “hijau”. Bahkan pada bulan yang sama, 12 perusahaan penyebab polusi terbesar di China masuk daftar hitam perbankan dimana kredit mereka sebagian ditarik kembali, ditangguhkan dan ditolak.

Sebagian besar bank-bank Komersial di China yang telah mengikuti CBRC Guidelines dan menyesuaikan mekanisme korporasinya dengan peraturan tersebut antara lain adalah Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Agricultural Bank of China(ABC), China Industrial Bank, dan China Merchants Bank. Dalam hal ini bank-bank tersebut membangun sistem rating and risk classification untuk prosedur pembiayaan proyek hijau (kredit hijau).

Success Story: Green Financing

CBRC’s Guidelines dalam bidang pembiayaan green project menuai kesuksesan. Salah satunya adalah China Industrial Bank yang membiayai debitur di bidang peternakan. Konsumsi telur di Beijing sungguh besar sekali sehingga hal ini mengakibatkan besarnya jumlah limbah kotoran ayam. Melihat risiko sustainability yang tinggi baik dari sisi cash-flow debitur maupun lingkungan maka China Industrial Bank kemudian membiayai pembangkit listrik dari kotoran ayam bagi debiturnya. Hasilnya sungguh memuaskan dimana proyek tersebut berjalan sustainable baik dari sisi pengembalian kredit dan profitabilitas debitur serta dari aspek pengelolaan lingkungan.

Pelajaran Untuk Indonesia

Tuntutlah ilmu hingga ke China. Petuah Nabi Muhammad sangat relevan dengan negara Indonesia. Di China hampir di setiap sudut jalan tersedia panel photovoltaic. Ini membuktikan keseriusan China untuk menurunkan emisi CO2 dan beralih ke renewable energy. Sekali lagi ini bukti bahwa China sangat komit untuk memanfaatkan energi sel surya di tengah-tengah empat musim yang mereka alami sepanjang tahun. Mengapa di negara kita yang sinar mataharinya bersinar sepanjang tahun malahan kita tidak bisa memanfaatkannya secara optimal?

Oleh karena itu, Pemerintah, masyarakat dan dunia swasta harus bahu-membahu membenahi sistem energi nasional. Kita tidak bisa mengandalkan lagi pembangkit listrik reguler seperti PLTA, PLTBatubara, PLTG yang memiliki keterbatasan pasokan bahan bakar fossil. Kita harus melihat kelebihan negara kita dalam hal pemanfaatan energi alternatif. Kita memiliki banyak potensi energi geo-thermal yang harus terus-menerus diberdayakan untuk mecapai sustainability di bidang energi ramah lingkungan. Tanpa itu kita hanya menjadi bangsa yang akan terus bermuram durja manakala kebutuhan energi listrik tidak terpenuhi dengan baik.

Di sektor green financing, perbankan Indonesia perlu meniru langkah-langkah China untuk meningkatkan pembiayaan pada proyek-proyek ramah lingkungan. Indonesia perlu membangun basis pembiayaan eco-project yang berbunga murah yang sekaligus dapat menjadi insentif buat kalangan wirausaha terjun dalam sektor usaha ramah lingkungan. Keseriusan China dalam sektor pembiayaan proyek hijau tercermin dari lengkapnya panduan dan aturan bagi perbankan domestik untuk berpartisipasi dalam program konservasi energi dan pengurangan emisi karbon.

Dari sisi bisnis, proyek-proyek ramah lingkungan seperti pembangkit listrik berbasis limbah industri dan rumah tangga cukup sukses dan dapat menyerap lapangan pekerjaan. Pihak perbankan China sangat didukungan oleh jajaran pemerintahan China khususnya Kementrian Lingkungan dalam soal mitigasi risiko operasional dan bisnis terkait pembiayaan proyek-proyek hijau tersebut karena panduan CBRC sangat lengkap.

Source:http://www.wargahijau.org/index.php?option=com_content&view=article&id=648:green-banking-dan-low-carbon-economy-pelajaran-dari-china&catid=10:green-economics&Itemid=15

Penulis: Leonard T. Panjaitan, Anggota Tim CST BNI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: