Akankah Indonesia Sekadar Tampil di G-20?

Kejutan dari Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok 20 (G-20) di Pittsburgh, AS, adalah secara resmi diumumkannya penggantian fungsi Kelompok 8 (G-8) oleh G-20 sebagai forum resmi kerja sama ekonomi global. Dengan demikian, Indonesia pun resmi masuk ke dalam kelompok elite dunia.

Sebenarnya wacana perluasan G-8 menjadi G-20 sudah ada dalam beberapa pertemuan G-20. Tetapi, wacana tinggal wacana karena masih banyak ganjalan, termasuk sikap Jepang yang menolak China tampil ke panggung dunia.

”Sama sekali bukanlah tugas yang mudah mencapai suatu kesimpulan ketika 20 atau 25 orang berkumpul dan mengadakan pembicaraan. Selain itu, pokok pembahasan harus sangat terbatas jika Anda ingin mencapai kesimpulan di antara begitu banyak orang. Saya tidak benar-benar berpikir pentingnya G-8 telah menghilang,” kata Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama di Pittsburgh, Kamis (24/9).

Beberapa pengamat khawatir beragamnya isu penting dari perubahan iklim hingga hak asasi manusia dan reformasi pasar akan menghasilkan kesepakatan yang tidak bergigi. Dengan kata lain, G-20 yang merupakan kumpulan negara dengan variasi kemampuan dianggap bisa memberikan kerepotan tersendiri.

Namun, keputusan para pemimpin negara yang berkumpul di Pittsburgh untuk menggantikan G-8 menjadi G-20 terjadi juga dan lebih cepat dari yang diduga. Alasannya antara lain terjadinya krisis ekonomi global telah mempercepat perubahan tatanan ekonomi global.

G-8 akan terus bertemu untuk membahas hal-hal penting bagi negara-negara maju, seperti isu keamanan internasional. Akan tetapi, pertemuan G-8 akan diadakan ketika para kepala negara berkumpul untuk pertemuan lain, bukan pertemuan khusus seperti KTT.

Dunia saat ini tidak hanya dikuasai oleh 8 negara industri kaya yang didominasi oleh AS dan negara-negara Eropa. Arus barang dan jasa juga banyak mengalir dari negara-negara berkembang yang dahulu dipandang sebelah mata oleh negara-negara industri.

Perekonomian negara berkembang saat ini telah menempati lebih dari separuh perekonomian global. Sayangnya, banyak dari negara yang ekonominya bertumbuh sangat cepat tak termasuk ke dalam kelompok elite G-8 itu. Memang, dalam pertemuan-pertemuan G-8 sering juga diundang negara berkembang seperti China. Namun, kenyataannya G-8 tetap saja merupakan kumpulan eksklusif elite negara-negara industri.

Selain inisiatif Presiden AS Barack Obama, China dan Brasil juga merupakan negara berkembang yang mendorong perluasan G-8 menjadi G-20. Meningkatnya peranan G-20 membuat terjadinya perubahan terbesar dan terpenting dalam perekonomian global. Hal ini mengubah akar koordinasi kerja sama internasional dalam beberapa dekade terakhir.

Perubahan itu juga mencerminkan pergeseran kekuatan yang fundamental dari negara industri ke negara berkembang.

Wakil Pertama Direktur Pelaksana (First Deputy Managing Director) IMF John Lipsky kepada CNN dengan jelas memberikan argumentasi soal kelayakan pergeseran posisi G-8. ”Kita memerlukan keseimbangan ekonomi global yang memerlukan pula peran global yang lebih berimbang,” kata Lipsky kepada televisi CNN, Jumat (25/9).

Akankah seperti APEC?

Indonesia, sebagai salah satu anggota G-20, merupakan salah satu pihak yang senang dengan keputusan digantikannya G-8 menjadi G-20 itu. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers di Pittsburgh, Indonesia berada dalam posisi strategis dalam menentukan arah dan kebijakan perekonomian global.

Kelak, Indonesia sebagai negara dengan ekonomi nomor 16 di dunia akan lebih banyak diajak berdiskusi dan akan didengar pendapatnya di G-20. Posisi tawar akan menjadi semakin kuat dibandingkan dengan hanya menjadi tamu dan penonton G-8.

Persoalannya, apakah kita mampu memanfaatkan dengan maksimal posisi tawar yang semakin kuat ini dalam percaturan ekonomi internasional. Kredo bahwa keinginan negara industri sering justru merugikan negara berkembang seharusnya dapat diubah dengan semakin besarnya peran negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sebagai negara yang diperhitungkan, Indonesia harus berani menyuarakan perlawanan atau ketidaksepakatan dengan negara-negara yang lebih besar dan lebih kuat. ”Kita bisa langsung menyuarakan tindakan main tuduh oleh negara-negara maju, misalnya dalam hal praktik dumping,” kata ekonom A Tony Prasetiantono.

Banyaklah hal menantang yang seharusnya dapat disuarakan oleh Indonesia dalam forum tersebut. Misalnya soal utang, ketenagakerjaan, perdagangan, dan ekspor. Negara berkembang, termasuk Indonesia, telah diberikan kesempatan lebih memiliki gigi dalam forum ini.

Namun, kita jangan terlena dengan euforia hanya karena masuk ke jajaran elite dunia. Tradisi buruk Indonesia, suka sekali membanggakan diri telah masuk ke jajaran elite dunia. Masih jelas dalam ingatan, Indonesia di bawah Presiden Soeharto, bangga ketika Indonesia dijuluki sebagai salah satu kekuatan ekonomi ajaib Asia.

Indonesia juga bangga ketika menjadi anggota Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Pertanyaannya, akankah Indonesia hanya akan sekadar tampil di G-20. MasuknyaIndonesia ke APEC, terbukti tak kunjung bisa menghardik Indonesia menjadi lebih baik dalam segala bidang. Quo vadis RI?  (MON)

Penulis: Joice Tauris Santi

Minggu, 27 September 2009

Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/27/03154379/akankah.indonesia.sekadar.tampil.di.g-20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: