Menelaah Manfaat Penyelamatan Bank

ANALISIS DANAREKSA

Perdebatan tentang keadaan sistemik perbankan memanas belakangan ini. Tidak adanya definisi yang jelas membuat perdebatan melebar. Adakah alat analisis ekonomi yang dapat menentukan keadaan sistemik atau bukan? Apakah penyelamatan sebuah bank yang diperdebatkan kini ada manfaatnya?

Setelah krisis tahun 1997-1998, kata sistemik sering diasosiasikan dengan keadaan perbankan yang kurang baik. Kita pun seolah sudah biasa dengan istilah itu dan merasa memahaminya secara mendalam. Namun, ternyata pemahaman kita tidaklah terlalu dalam. Hal ini terlihat dari kebingungan banyak kalangan ketika ingin menentukan penutupan suatu bank akan berdampak sistemik atau tidak.

Untuk melihat keadaan sistem perbankan kita secara lebih jernih, Danareksa Research Insitute telah mengembangkan suatu indikator yang disebut Banking Pressure Index (BPI).

BPI adalah salah satu sistem peringatan dini untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya krisis perbankan. BPI disusun dari kombinasi enam variabel ekonomi yang berdasarkan studi di beberapa negara merupakan indikator dini (leading indicator) akan terjadinya krisis perbankan.

Enam variabel ekonomi tersebut adalah real effective exchange rate, indeks harga saham, money multiplier, PDB riil atau composite lading economic Indicator, ekspor, dan suku bunga jangka pendek.

Data dari masing-masing variabel tersebut diproses dengan metode statistik tertentu hingga hasil akhirnya dapat memberikan informasi yang menggambarkan tekanan di sektor perbankan. Lalu, dari keenam variabel ekonomi tersebut dibuat suatu indeks gabungan yang disebut BPI.

Interpretasi BPI amatlah sederhana. BPI yang meningkat menggambarkan tekanan dalam sistem perbankan yang meningkat, sedangkan BPI yang menurun menggambarkan tekanan di sistem perbankan yang menurun. Level kritisnya di sekitar 0,5.

Bila BPI naik menembus ke atas level tersebut, tekanan pada sistem perbankan kita amat tinggi dan potensi terjadinya sistemik default amat besar. Yang dimaksud sistemik default di sini adalah akan ada banyak bank yang gagal, bukan hanya satu bank. Sebaliknya, nilai BPI di bawah 0,5 menunjukkan keadaan perbankan yang relatif aman. Semakin negatif nilai BPI semakin baik keadaan sistem perbankan kita.

Bagaimanakah perkembangan kondisi perbankan kita menurut BPI? BPI menunjukkan bahwa sejak tahun 2000, keadaan sistem perbankan kita relatif aman. Hal ini terlihat dari BPI yang secara konsisten berada di bawah level 0,5 bahkan cenderung negatif. Namun, pada bulan Oktober 2008 BPI naik ke 0,90 (Gambar 1). Artinya, tekanan di sistem perbankan kita cukup tinggi dan peluang terjadinya sistemik default amat besar.

Naiknya tekanan di sistem perbankan ketika itu terutama disebabkan oleh melambatnya perekonomian domestik, memburuknya perekonomian global (yang memengaruhi eksportir kita dan pada akhirnya berdampak buruk ke perbankan juga karena hampir semua eksportir adalah nasabah perbankan kita).

Keketatan likuiditas di sistem finansial kita juga turut menekan sistem perbankan. Salah satu faktor yang ikut menyebabkan terjadinya keketatan likuiditas waktu itu adalah keterlambatan realisasi APBN.

Kebijakan BI menyamakan target overnight rate dengan BI rate pada awal tahun 2008 juga turut memperburuk keadaan. Kebijakan ini mengakibatkan overnight rate naik dengan signifikan pada tahun 2008. Sementara itu, BI Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia juga dinaikkan terus-menerus dalam periode Mei sampai Oktober 2008.

Dengan latar belakang yang demikian, tidaklah terlalu mengherankan bila tekanan di sistem perbankan kita naik ke level yang membahayakan (Gambar 1. Banking Pressure Index Indonesia).

Keadaan ekonomi

Perekonomian kita memasuki semester II-2008 juga terus memburuk. Kenaikan harga BBM, krisis ekonomi global, keterlambatan belanja APBN, dan kenaikan suku bunga memberikan tekanan yang cukup berat pada perekonomian kita.

Hal ini terlihat dari Coincident Economic Index (CEI) yang terus menurun sejak bulan Juli tahun 2008 (Gambar 2). CEI adalah indeks yang menunjukkan keadaan ekonomi pada setiap saat. Indeks ini disusun dengan menggunakan informasi penjualan mobil, konsumsi semen, impor, suplai uang, dan penjualan ritel. CEI yang naik menunjukkan ekonomi sedang berekspansi, sedangkan CEI yang turun menunjukkan aktivitas perekonomian sedang menurun.

Metode yang lebih maju untuk menentukan keadaan ekonomi kita adalah metode Sequential Signaling (SS), yang dikembangkan oleh pakar siklus bisnis Zarnowitz dan Moore dari Amerika Serikat.

Menurut metode ini, ketika ekonomi sedang ekspansi dan sinyal P1 terdeteksi, perekonomian sedang memasuki fase pelambatan. Bila kemudian sinyal P2 terdeteksi, pelambatan yang terjadi akan parah; dan bila P3 terdeteksi, perekonomian sudah memasuki fase resesi. Kemunculan sinyal P1, P2, dan P3 ini dihitung dengan metode statistik tertentu dengan memanfaatkan data CEI.

Metode SS mendeteksi sinyal P1 pada bulan Juni 2008. Jadi, sejak bulan itu ekonomi kita memasuki fase pelambatan. Aktivitas perekonomian memburuk terus pada bulan-bulan berikutnya. Pada bulan Oktober 2008 sinyal P2 terdeteksi dan pada bulan November 2008 sinyal P3 terdeteksi (Gambar 2). Artinya, sejak bulan November 2008 ekonomi kita sudah jatuh ke dalam fase resesi (Gambar 2. Siklus Bisnis Perekonomian Indonesia).

Keadaan saat itu cukup genting, amat mirip dengan keadaan pada tahun 1997. Pada bulan Maret 1997, BPI naik ke atas 0,5 (Gambar 1), yang menunjukkan tekanan yang amat tinggi pada sistem perbankan kita.

Sementara itu, kebijakan BI menaikkan suku bunga waktu itu justru semakin memperlambat perekonomian kita. Pada bulan Mei 1997 sinyal P1 terdeteksi (Gambar 2), ekonomi memasuki fase pelambatan. Dan, pada bulan September sinyal P2 terdeteksi.

Penanganan yang salah terhadap perekonomian dan perbankan kala itu (suku bunga tinggi yang semakin membebani perekonomian, penutupan 16 bank pada bulan September 1997) membuat keadaan semakin buruk.

Dan, pada November 1997 P3 terdeteksi, yang menunjukkan ekonomi kita masuk ke awal fase resesi. Sementara itu, penutupan bank pada bulan September telah menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan kita, yang sebelumnya keadaannya memang amat tertekan. Akibatnya, ekonomi kita pun jatuh ke resesi yang amat dalam.

Untungnya, respons kebijakan moneter dan fiskal kali ini berbeda dengan pada tahun 1997. BI, misalnya, mulai menurunkan suku bunga dengan agresif sejak bulan Desember 2008. Sementara itu, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal yang cukup signifikan pada perekonomian kita. Walaupun realisasinya tidak secepat yang kita harapkan, dampak psikologinya terhadap optimisme masyarakat tidaklah dapat diabaikan.

Namun, kita semua tahu bahwa dampak kebijakan moneter memerlukan waktu untuk dapat dirasakan di perekonomian. Jadi, kita perlu beberapa bulan sejak BI menurunkan suku bunga acuan BI sebelum perbaikan pada perekonomian kita mulai terlihat.

Sialnya, pada saat yang bersamaan kita menghadapi kondisi sistem perbankan kita tidak terlalu baik, seperti yang ditunjukkan oleh BPI yang bertahan di atas 0,5. Keadaan perbankan akan membaik ketika dampak kebijakan moneter mulai terasa pada perekonomian.

Akan tetapi, pemulihan ekonomi yang akan terjadi dapat dihancurkan oleh sistem perbankan sendiri. Bila pada masa pemulihan ekonomi tersebut ada gangguan yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan, kita dapat mengulangi lagi keadaan seperti tahun 1997.

Kita semua tahu bahwa biaya untuk memperbaiki sistem finansial kita setelah krisis tahun 1997-1998 amatlah besar, jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan satu buah bank pada masa kritis yang berlangsung sejak triwulan keempat sampai triwulan pertama tahun ini.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2008 keadaan sistem perbankan kita amat tertekan dan potensi terjadinya sistemik default amat besar. Dalam keadaan seperti itu, kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan harus dijaga agar proses memulihkan ekonomi tidak terganggu.

Untunglah otoritas moneter dan fiskal kita telah mengambil langkah yang tepat sehingga perbankan kita tidak sempat kolaps. Tindakan ini memberikan kesempatan pada ekonomi kita untuk berekspansi lagi, yang terjadi sejak bulan Maret 2009 ini. Akibatnya, tekanan pada sistem perbankan kita pun berkurang.

Pada bulan April 2009, BPI turun ke bawah 0,5 dan pada bulan Juni 2009, BPI sudah berada pada level 0,06, yang menunjukkan keadaan sistem perbankan yang tidak tertekan lagi.

Penulis: Purbaya Yudhi Sadewa – Chief Economist Danareksa Research Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: