Margin Profit Bank Terlalu Tinggi

Margin profit perbankan di Indonesia saat ini salah satu yang tertinggi di dunia. Margin profit harus ditekan bertahap agar bunga kredit bisa ditekan sehingga tidak terlalu memberatkan dunia usaha.

Saat ini rata-rata margin profit perbankan mencapai 42,5 persen dari harga kredit yang ditawarkan perbankan. Tingginya margin profit ini menjadi salah satu alasan investor asing marak menanamkan investasinya di sektor perbankan nasional.

Margin profit adalah bagian terbesar pembentuk bunga kredit dibandingkan biaya dana, biaya operasional, dan premi risiko. Kondisi ini yang membuat perbankan tetap menikmati laba yang besar, meskipun penyaluran kreditnya anjlok.

Data BI menyatakan, per Juni 2009 laba bersih perbankan Rp 23,3 triliun, naik 27 persen dibanding periode sama 2008. Padahal, penyaluran kredit semester I-2009 tumbuh 3 persen.

Menurut ekonom Dradjad Wibowo, margin profit yang tinggi dipakai perbankan untuk bantalan (buffer) terhadap risiko, mengingat banyak bank terlibat transaksi investasi keuangan yang berisiko tinggi.

”Kalau produk-produk investasi ini untung, bank akan berlipat profitnya. Tapi, kalau produk investasi itu rugi, bank mempunyai buffer,” kata Dradjad di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bantalan itu, kata Dradjad, untuk menjaga kepercayaan nasabah, terutama deposan besar. Umumnya deposan besar mempersepsikan bank yang bantalannya minimal bank berisiko tinggi. Mereka akan memindahkan uangnya dari bank itu.

Selain itu, bagi bank berstatus BUMN, bantalan diperlukan karena bank BUMN sering diberi ”kewajiban” memberikan kredit ke proyek besar yang dikategorikan berisiko tinggi, seperti listrik, jalan, dan pertambangan.

Bank-bank BUMN saat ini merupakan pemimpin pasar perbankan nasional, dengan pangsa pasar sekitar 40 persen.

Menurut ekonom Aviliani, bank leluasa menerapkan margin tinggi karena posisi tawar debitor segmen mikro dan kecil amat rendah. Pengusaha mikro dan kecil tetap meminjam kredit dari bank, meskipun bunganya tinggi. ”Bagi pengusaha mikro dan kecil, yang penting akses pembiayaan, bukan bunga,” kata Aviliani.

Ketidakseimbangan ini mendorong banyak bank ramai-ramai memasuki pasar mikro dan kecil agar bisa mencetak laba besar.

Dradjad menyarankan agar margin profit perbankan ditekan supaya bunga kredit bisa turun signifikan sehingga sektor riil bisa lebih menggeliat.

Ada beberapa cara mendorong penurunan margin profit. Pertama, melalui insentif dari BI berupa keringanan giro wajib minimum. Bank yang menurunkan margin senilai tertentu diberi keringanan GWM yang setara.

Kedua, insentif dalam perpajakan dan impor barang dan jasa teknologi informasi. ”TI merupakan investasi terbesar bagi bank. Pajak dan bea masuk untuk barang dan jasa TI sangat besar. Depkeu bisa memberi keringanan pada bank yang menurunkan bunga kredit dalam jumlah tertentu di bawah patokan tertentu,” katanya.

Namun, menurut Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, langkah yang tepat untuk menurunkan suku bunga bank adalah BI menurunkan SBI outstanding- nya sehingga jumlah uang di sistem finansial bertambah. ”Ini akan menciptakan daya tekan ke bawah terhadap bunga di perbankan melalui mekanisme pasar,” ujarnya. (FAJ)

Jakarta, 24 Agustus 2009

Source: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/24/03241782/margin.profit.terlalu.tinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: