Miliaran Dollar AS Potensi Pasar Industri Indonesia Belum Digarap

Dalam konteks pasar bebas, ada begitu besar peluang industri yang potensinya ada di Indonesia. Sayangnya, industi kita belum ditopang teknologi dan inovasi yang memadahi. “Kalau tidak cepat angkat teknologi dan inovasi maka pasar tersebut akan direbut bangsa lain dan di dalam negeri akan dibanjiri produk asing,” kata Rachmat Gobel, Koordinator Bidang Perindustian, Riset dan Teknologi Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), setelah dirinya mendapat penganugerahan Perekayasa Utama Kehormatan oleh BPPT, Rabu (19/8).

Sebagai pengurus Kadin, Rachmat memfokuskan programnya untuk membangun industri berbasis budaya. Arahnya adalah menjadikan produk lokal yang sarat akan nilai budaya menjadi produk global. “Ini penting, mengingat batik kita dipatenkan Malaysia. Kain songket kita oleh Brunei,” ungkap Rachmat yang juga Direktur Utama Gobel International.

Potensi pasar itu seperti, produk tekstil, konsumsi elektronika, jamu dan mebel-kerajinan. Saat ini pasar dunia tekstil mencapai 588 miliar dollar AS, sedangkan ekspor Indonesia baru 10,3 miliar dollar AS dan pasar Indonesianya 7,18 miliar dollar AS.

Pasar dunia elektronika 700 miliar dollar AS, sedangkan ekspor 8,1 miliar dollar AS dan pasar Indonesia Rp 29,8 triliun. Pasar jamu di internasional 20 miliar dollar AS, ekspor Rp 1 triliun dan pasar Indonesia Rp 14,5 triliun.

Adapun untuk pasar dunia mebel dan kerajinan mencapai 104 miliar dollar AS, ekspor Indonesia 2,6 miliar dollar AS dan pasar Indonesia baru 3,12 miliar dollar AS.  “Lihatkan begitu besar potensinya,” ucapnya singkat.

Untuk mengatasi masalah ini, lanjut Presiden Komisaris PT Panasonic Gobel Indonesia ini, sentuhan teknologi dan inovasi untuk industri kecil dan menengah kita adalah hal yang mendesak. “Melalui itu, kita menumbuhkan nasionalisme mereka. Membuat mereka bangga dengan produk-produknya. Dari produk yang bernilai budaya diangkat menjadi produk global melalui teknologi dan inovasi,” tutur Rachmat.

Misalnya, ia menambahkan, yang awalnya memerlukan waktu 10 hari untuk membuat produk kerajinan rotan, maka dengan teknologi jadi 5 hari saja. Yang dulu konsumen datang, tapi dengan inovasi kita bisa antar produk langsung ke pembeli, dan aksesnya dipermudah dengan layanan internet.

Untuk itu, menurut pria yang juga Komisaris PT Indosat TBk sejak 2008 ini, pemerintah harus ambil peran. Dalam hal ini pemerintah diwakili oleh departemen-departemen terkait dan tentunya dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). “Saya kira BPPT juga turut terlibat dalam terobosan teknologi dan inovasi,” demikian Rachmat Gobel.

Rabu, 19 Agustus 2009 | 20:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/08/19/2033095/miliaran.dollar.as.potensi.pasar.industri.indonesia.belum.digarap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: