Sinyal Dari Seliuk

Sebelum subuh kapal Berkah Rizki memasuki perairan pulau Seliuk, sebuah pulau kecil di baratdaya Belitung. Hanya saja Wak Sinrang, kapten kapal Berkah Rizki, tidak bisa menambatkan kapalnya di dermaga Seliuk pagi ini. Air surut di Seliuk memang keterlaluan, kapal bermuatan sedang milik Wak Sinrang tidak bisa menepi. Tapi Wak Sinrang tidak kehabisan akal, dia pun menelepon Maprawi, temannya yang penduduk asli Seliuk, untuk membongkar muatannya nanti setelah matahari terbit dengan jukung atau kapal kecil.

Kali ini KM Berkah Rizki membawa berbagai mebel, beras, dan minyak dari Jepara. Wak Sinrang rutin memasok kebutuhan penduduk Seliuk setiap bulannya. Tak terkecuali kebutuhan-kebutuhan pokok yang kadang susah ditemui warga Seliuk meskipun harus menyeberang ke pulau besar, sebutan warga Seliuk untuk Belitung. “Biasanya Maprawi yang kontak saya, saya cuman memasok apa yang dibutuhkan saja,” ujar Wak Sinrang datar. Maprawi juga memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual batang-batang kayu kelapa yang memang tumbuh subur di pulau Seliuk. Sinrang mengangkut gelondongan kayu kelapa saat kembali ke Jepara. Industri mebel dan ukir di Jepara banyak menggunakan kayu kelapa sebagai bahannya.

Wak Sinrang sudah melakukan kegiatan trading ini sejak belasan tahun yang lalu. Namun Sinrang mengaku bahwa perkembangan komunikasi saat ini memberikan kemudahan untuk berhubungan dengan penduduk Seliuk, khususnya Maprawi. “Sebelumnya susah, apalagi saat musim badai tiba, bisa berbulan-bulan saya tidak datang ke Seliuk,” ungkap pelaut Bugis yang tinggal di Jepara ini.

***
Seliuk adalah pulau kecil. Dalam peta dunia Seliuk tidak masuk hitungan, di peta nasional saja biasanya Seliuk hanya digambarkan dengan noktah kecil di tengah laut, atau digambarkan menempel di bawah Belitung, bercampur dengan ribuan pulau lain yang mengitari pulaunya para Laskar Pelangi ini.

Pulau ini sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, salah satunya adalah hasil lautnya yang kaya. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa perairan di daerah Bangka B
elitung memiliki vegetasi yang sangat beragam. Bahkan jika pada musimnya, nelayan sekitar dengan mudahnya menangkap ubur-ubur yang melintas bergerombol. Tak heran sebagian penduduk Seliuk menjadikan nelayan sebagai mata pencahariannya.

Selain itu pulau Seliuk memiliki pemandangan yang cukup apik. Pantainya yang putih memanjang mengelilingi pulau dihiasi barisan pohon nyiur yang berdiri rapi di pinggirnya. Udaranya yang bersih dan bebas polusi menjadi tawaran menarik untuk meluangkan waktu menjelajahi pulau ini. Penduduk Seliuk pun sangat ramah kepada para pendatang. Setiap turis, untuk pertama kalinya pasti disapa oleh gapura sederhana berwarna kuning-hijau yang catnya sudah banyak mengelupas di sana-sini, gapura itu menyapa dengan hangat; Selamat Datang di Desa Pulau Seliu. Warga asli memang lebih suka menuliskannya dengan Seliu, tanpa ‘k’.

Hanya saja tidak mudah untuk mencapai pulau Seliuk, transportasi menjadi kendala utama. Seliuk is far away from anywhere, jalurnya pun hanya satu; lewat laut! Tidak ada alternatif yang lebih enak. Untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di Belitung saja penduduk Seliuk harus menyeberang menggunakan perahu motor tempel yang beroperasi dua kali sehari. Biasanya penduduk Seliuk pergi berbelanja ke Belitung menggunakan perahu pagi dan pulang dengan menumpang perahu yang sama pada sore harinya. Pada musim angin barat, resikonya pun menjadi berlipat-lipat. Maka diam di pulau selama musim badai merupakan pilihan yang tepat untuk selamat.

Karena merupakan tempat yang cukup susah dijangkau, maka Seliuk seringkali luput pula dari perhatian pemerintah. Segala janji danplanning pembangunan daerah pun hanya terjadi di tempat-tempat yang lebih populer saja, Tanjungpandan dan Manggar di pulau besar. Sedangkan di Seliuk, bahkan hampir tidak berubah dari keadaannya sepuluh tahun yang lalu.

***

Namun bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali di Seliuk. Salah satu yang jelas terlihat adalah pembangunan menara BTS milik PT Excelcomindo Pratama atau lebih familiar disebut XL sebagai salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia. Mengapa pembangunan BTS ini terasa spesial? Berbeda dengan Jawa dimana menara BTS dipasang berderet dan mudah ditemui di tiap jengkalnya. Di Seliuk hanya ada satu BTS dan itu milik XL. Itu mengapa penduduk Seliuk menggunakan XL sebagai operator seluler mereka; karena meman
g hanya XL yang mampu menghasilkan suara jernih dengan sinyal penuh di sebuah pulau yang berada in the middle of nowhereseperti Seliuk.

…karena memang hanya XL yang mampu menghasilkan suara jernih dengan sinyal penuh di sebuah pulau yang berada in the middle of nowhereseperti Seliuk…

Penduduk Seliuk pun merasa diuntungkan dengan adanya pembangunan sarana komunikasi milik XL ini. Beberapa usaha kecil pun berkembang menjadi lebih besar, bahkan beberapa komoditas yang awalnya hanya untuk penduduk Seliuk pun kini menjadi salah satu produk daerah dan dapat dijual di beberapa tempat di pulau besar dan pulau kecil di sekitar Seliuk. Salah satu orang yang senang dengan adanya perangkat BTS ini adalah Maksun, pemuda asli Seliuk yang melanjutkan sekolah di Membalong. Komunikasinya dengan keluarga selalu lancar, dengan hape biasanya ia mengabarkan keadaannya di pulau besar kepada kedua orangtuanya di Seliuk. Maksun berujar, “Biasanya kalau sudah kangen telpon-telponan sama mamak, untungnya XL nggak mahal,”. Maksun merasa lebih diuntungkan lagi karena sebagian besar penduduk di pulau besar adalah pengguna XL. Di Belitung XL memang menjadi operator selular yang paling eksis.

Dibangunnya BTS milik XL di Seliuk sendiri seperti sebuah aksentuasi. Sebuah pembeda yang jelas. Sebuah penegasan bahwa XL telah menginjakkan kakinya di Seliuk, pulau yang awalnya bahkan tidak dilirik oleh peradaban. XL mewujudkan akses yang lebih luas dan cepat bagi masyrakat Seliuk untuk berhubungan dengan dunia luar. Seperti Maprawi yang bisa meningkatkan bisnis kecilnya dengan Sinrang. Sebuah bisnis kecil yang dipisahkan ribuan mil laut namun tetap lancar dengan adanya layanan telekomunikasi seluler yang mudah dan murah.

Penulis: Ayos Purwoaji

Source:http://hifatlobrain.blogspot.com/2008/12/sinyal-dari-seliuk.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: