Pertentangan Ideologi Selamat Tinggal Konsensus Washington

Ketika harga minyak naik, rakyat Indonesia malah pernah terbebani. Dengan ”alasan” Indonesia importir neto minyak, kenaikan harga minyak membuat pemerintah menaikkan subsidi agar harga di pasar tidak dinaikkan. Namun, ketika dana pemerintah menipis, kenaikan harga minyak dibebankan langsung kepada rakyat lewat pencabutan subsidi.

Ini kontras dengan negara lain. Kenaikan harga minyak membuat Arab Saudi, Rusia, Venezuela, dan lainnya memiliki dana kekayaan negara (sovereign wealth fund).

Inilah konsekuensi negatif swastanisasi, sebagai salah satu dari 10 poin Konsensus Washington, julukan bagi resep ekonomi yang disusun ekonom Inggris, John Williamson, pada 1989. Triumvirat Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan AS adalah pendikte resep ini di banyak negara dengan pancing bantuan asing yang sebenarnya adalah utang yang harus dibayar kemudian hari.

Konsensus Washington pun kemudian secara langsung atau tidak langsung membuat kita tidak bisa mempertahankan isi Pasal 33 UUD 1945 secara murni bahwa kekayaan alam adalah milik negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Pertamina

Swastanisasi pengelolaan kekayaan migas membuat reputasi Pertamina pun ”ditertawakan”. Ini juga kontras dengan Malaysia yang mempertahankan pengelolaan kekayaan minyak di bawah Petronas. Sebagian kekayaan minyak dan gas negara RI telah dikuasai korporasi swasta, termasuk asing, yang menciptakan kantong-kantong asing.

Konsensus Washington menekankan disiplin anggaran pemerintah, pengurangan subsidi kecuali untuk kaum papa, reformasi perpajakan, penentuan suku bunga berdasarkan kekuatan pasar, liberalisasi perdagangan, pencanangan kurs kompetitif yang arah utamanya adalah kurs bebas, rangsangan pada investasi asing, swastanisasi perusahaan negara, deregulasi yang meminimalkan peran pemerintah sebagai pengawas, dan perlindungan hak kekayaan intelektual.

Tidak semua resep itu buruk karena secara empiris, sebagian resep itu membuat perekonomian dunia bertumbuh dari waktu ke waktu. Di Indonesia, reformasi perpajakan membuat pungutan pajak menjadi penopang utama penerimaan negara.

Namun, ada pelaksanaan poin-poin itu yang kemudian terbukti menghasilkan destabilisasi ekonomi, antara lain pendewaan pada investasi asing. Poin lain yang dianggap sebagai penyebab destabilisasi adalah penekanan secara kaku mekanisme pasar bebas, yang melahirkan hostile take over, penerapan perdagangan bebas yang menekankan pembukaan pasar negara berkembang, sementara negara maju menutup diri pada produk negara berkembang.

Kecaman keras terutama diarahkan pada deregulasi, yang meniadakan proteksi, bahkan proteksi pada kaum lemah pun dianggap tak terlalu sepele. Deregulasi paling gencar dilakukan di pasar modal, perbankan, dengan pengawasan yang sebisa mungkin dinihilkan.

Kapitalis, pemodal, perusahaan adalah penguasa utama ekonomi, dengan motif utama adalah pengejaran laba, sementara aspek sosial yang kini dikenal dengan istilah corporate social responsibility (CSR) dilupakan. Kemudian mencuatlah istilah corporate greed.

Inilah salah satu kelemahan Konsensus Washington, yang juga dituliskan Dr Woodrow W Clark II, penasihat Gubernur California, dalam tulisannya, Social Capitalism: An Economic Paradigm for the Transfer and Commercialisation of Technology pada 2004.

Moto Konsensus Washington adalah pasar akan melakukan penyesuaian terhadap kekurangan yang terjadi dengan mengandalkan invisible hand-nya Adam Smith. Penyesuaian atas kesalahan itu tak pernah muncul, tetapi akumulasi kesalahan, bahaya, dan potensi destabilisasi terjadi.

Krisis pun kemudian makin sering muncul dalam 30 tahun terakhir. Muncullah antara lain julukan terkenal seperti Tequilla Fever (Meksiko), Black Monday (1987), dan krisis ekonomi Asia 1997. Ini semua adalah julukan bagi kekacauan kurs mata uang, kejatuhan harga-harga saham, dan kebangkrutan keuangan negara yang melahirkan efek domino krisis ke sejumlah negara.

Ujung-ujungnya adalah kemiskinan, ketimpangan, dan kegagalan meraih pertumbuhan ekonomi. Amerika Latin dianggap sebagai contoh terbaik untuk kegagalan itu di mana benua ini terlilit utang, sementara pertumbuhan ekonomi gagal. Dekade 1980-an dianggap sebagai the lost decade bagi Amerika Latin.

Benua Afrika juga merupakan kawasan lain yang dijadikan contoh kegagalan resep itu berupa pengisapan kekayaan pertambangan Afrika oleh korporasi asing dan membiarkan negara larut dalam konflik-konflik.

Tentu, sebagian kegagalan itu adalah juga akibat munculnya keberadaan para diktator korup. Namun, tidak sedikit yang menuding bahwa sebagian penyebabnya adalah Konsensus Washington telah dilaksanakan secara kaku, bahkan terkesan dipaksakan, atau lebih buruk lagi, didiktekan lewat Paris Club, kumpulan donatur internasional dengan motor utama adalah IMF dan Bank Dunia. Pinjaman yang ditawarkan Paris Club menjadi alat untuk memaksakan Konsensus Washington.

Jika Konsensus Washington telah mendestabilisasi negara berkembang pada masa sebelumnya, pada dekade 2000-an Konsensus Washington mendestabilisasi negara superkaya akibat dampak negatif deregulasi gencar di sektor keuangan.

Pertumbuhan

Kini dunia dihadapkan pada penurunan pertumbuhan. Pemicu utamanya adalah kesulitan industri perbankan akibat kredit macet. Ini mengakibatkan terganggunya aliran kredit, terganggunya pembiayaan perdagangan, hilangnya dana-dana pensiun, termasuk triliunan dollar AS tabungan warga dunia, juga warga Indonesia korban Lehman Brothers.

Tidak heran jika Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, ”Konsensus Washington” telah berakhir”. Ini diucapkan pada 2 April 2009 di London pada pertemuan puncak G-20, di mana Indonesia menjadi anggota.

Krisis global yang dimulai dari krisis keuangan dianggap sebagai produk Konsensus Washington yang disusun pada 1989. Jauh sebelum ucapan Brown itu, ekonom dari Universitas Harvard, Dani Rodrik, telah menuliskan artikel pada Januari 2006 berjudul Goodbye Washington Consensus, Hello Washington Confusion.

Krisis keuangan telah menjadi momok terburuk warisan Konsensus Washington. Deregulasi sektor keuangan kemudian menyemarakkan aksi-aksi spekulasi kelas kakap dengan segala rekayasa keuangan atau bahkan bisa dikatakan telah melahirkan kejahatan kerah putih New York Stock Exchange, dan bursa-bursa komoditas dunia dengan nomine, karena kejahatan kerah putih itu berbendera perusahaan yang bermarkas di safe haven, seperti Swiss.

Bahkan, badan resmi seperti American International Group (AIG) telah dituduh oleh Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke seperti hedge fund karena berperilaku seperti spekulan yang mempertaruhkan dana-dana pensiunan.

Ini semua cukup jelas tertuang dalam poin-poin yang dituliskan Lothar Kamp, dari Hans Blocker Foundation, Jerman, yang dipresentasikan dalam sebuah seminar di Eropa pada Desember 2008. Salah satu contohnya adalah dimungkinkannya lembaga keuangan memberikan pinjaman kepada warga untuk membeli rumah, padahal penghasilan pada masa depan tidak memadai untuk membayari utang.

Spekulan juga telah mengerek tinggi-tinggi harga komoditas, seperti terigu, kedelai, dan minyak yang membuat setidaknya 50 juta warga dunia jatuh miskin secara mendadak. Krisis mengancam ratusan juta warga dunia jatuh miskin, menjauhkan dunia dari Tujuan Pembangunan Milenium, berupa cita-cita menurunkan penduduk warga miskin menjadi setengah dari 1,2 miliar jiwa pada 2015.

Wawancara

Williamson, dalam wawancara dengan Washington Post, pada 12 April 2009, mengatakan tercengang sekaligus marah dengan berbagai kecaman yang diarahkan pada Konsensus Washington. Williamson menyebutkan Cile sebagai salah satu negara tersukses berkat Konsensus Washington.

Williamson—dulu adalah think tank di IMF dan Bank Dunia—mengatakan resepnya murni untuk tujuan perbaikan ekonomi yang penerapannya tidak bisa dipaksakan atau disamaratakan di semua negara.

Namun, Williamson menyadari kemarahan pada Konsensus Washington, seperti ditegaskan ekonom peraih Hadiah Nobel 2001, Joseph E Stiglitz, juga mantan ekonom senior Bank Dunia. Stiglitz menjelaskan berbagai kelemahan Konsensus Washington dalam wawancara dengan Lindsey Schoenfelder, 2003. Stiglitz terkenal dengan ucapannya bahwa korporasi global pun telah memasuki bisnis di berbagai negara lewat deregulasi yang dicanangkan Konsensus Washington dengan mendompleng triumvirat.

William setuju jika kemarahan itu muncul karena Konsensus Washington telah dijadikan sebagai traktat neoliberal, yang intinya menekankan pasar bebas dan perdagangan bebas tanpa terlalu memikirkan proteksi dan perlindungan pada kaum lemah yang tidak paham persaingan.

Rodrik menuliskan, China, India, dan kawasan Skandinavia terbukti mencatatkan pertumbuhan ekonomi tanpa resep Konsensus Washington.

Kini setelah guncangan keras krisis global, mulailah terbentuk kembali paradigma ekonomi dengan rezim regulasi dan kembali mengandalkan peran pemerintah sebagai stabilisator. Paradigma baru itu pun kini mulai menekankan pada aspek etika bisnis, manajemen risiko internal perusahaan.

Krisis juga memberikan hikmah lain karena Konsensus Washington telah membuka borok triumvirat, yang terkesan mendikte, mendominasi. Hal ini membuka tabir, betapa kekuatan pinjaman, kekuatan ekonomi Barat, telah melahirkan monopoli kebijakan yang dipaksakan di negara lain.

Seiring dengan itu telah tumbuh kekuatan ekonomi yang makin bervariasi. Hal ini telah membuka wacana soal perlunya menciptakan arsitek keuangan baru, dengan kuota suara yang lebih merata. Ini penting untuk menciptakan rezim ekonomi dunia yang lebih mengakomodasi kepentingan global.

Jika tidak dilakukan segera, kekuatan ekonomi Brasil, Rusia, India, dan China (BRIC) dalam 20 tahun ke depan akan otomatis mengubah tatanan ekonomi dunia, yang telah usang, dan sudah dicibirkan Amerika Latin, dan juga oleh BRIC, dalam pertemuan puncak mereka di Yekaterinburg, Rusia, pertengahan Juni 2009. ”Kekuatan ekonomi sudah semakin bervariasi,” kata Williamson.

Penulis: Simon Saragih
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/03/05202465/selamat.tinggal.konsensus.washington

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: