Anomali Suku Bunga

Meski suku bunga Sertifikat Bank Indonesia turun menjadi 7,5 persen, kenyataannya masih banyak bank yang belum menurunkan suku bunga kredit. Sepintas ada kesan bank-bank komersial hanya mencari keuntungan dengan memanfaatkan situasi, yaitu tingkat suku bunga simpanan mulai diturunkan, tetapi suku bunga pinjaman belum juga turun. Krisna wijaya

Kalau kondisi tersebut benar, bisa jadi yang dilakukan oleh kalangan perbankan adalah membukukan semaksimal mungkin keuntungan.

Hal itu sebagai bagian dari antisipasi bank terhadap perlunya cadangan modal, yang diperlukan karena naiknya kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) sehingga bank harus lebih banyak membentuk cadangan kerugian.

Kalau kita pahami dari sisi lain bahwa suku bunga adalah sebagai harga dari uang, pada saat jumlahnya banyak seharusnya harganya turun.

Kenyataan itu tidak terjadi. Ini karena, sekalipun rasio antara dana yang dikumpulkan bank dari pihak ketiga dan total kredit yang dikucurkan (loan to deposit ratio- LDR) perbankan nasional sekitar 75 persen, ternyata bank tetap agresif meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) yang berasal dari simpanan.

Dalam konteks lain, mengapa suku bunga kredit tetap tinggi sebenarnya merupakan cerminan bahwa risiko bisnis masih tinggi. Kalau ini yang dijadikan acuan, bank masih beranggapan bahwa sektor riil masih berisiko tinggi.

Oleh karena itu, daripada disalurkan ke kredit dengan tingkat risiko yang tinggi, lebih aman dan terukur risikonya kalau ditempatkan di SBI.

Dengan memerhatikan fenomena tersebut di atas, dapat dikatakan ada semacam anomali, yaitu pada saat pasokan dana banyak, di lain pihak permintaan kredit rendah, seharusnya harga uang (suku bunga) turun.

Anomali juga terjadi di mana di satu pihak LDR masih belum optimal, justru pihak bank berlomba meningkatkan DPK-nya dengan imbalan suku bunga yang relatif tinggi. Bahkan, di atas suku bunga wajar yang ditetapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Gejala ”credit crunch”

Adanya anomali perilaku suku bunga, yang menyebabkan suku bunga tidak menjadi variabel yang sensitif, ini merupakan salah satu dari gejala terjadinya credit crunch atau ”keengganan” menyalurkan kredit, yakni di mana kredit berkurang karena sisi penawaran yang memang berkurang. Berkurangnya penawaran tersebut disebabkan bank memberlakukan credit rationing, dengan cara memberlakukan persyaratan kredit yang lebih ketat, kecuali suku bunga.

Hasil penelitian Gosh dan Gosh (1999) mengenai credit crunch di Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand pada periode krisis 1997-1998 menyimpulkan, suku bunga pinjaman tidak lagi berfungsi dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran kredit.

Gejala credit crunch saat ini juga karena bank memperketat persyaratan kreditnya, termasuk tingginya tingkat suku bunga.

Apakah benar atau tidak bahwa sekarang sedang terjadi credit crunch, tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Meski demikian, berjaga-jaga agar credit crunch tidak berkelanjutan tentu merupakan tindakan yang lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Langkah antisipasi

Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya credit crunch, antara lain, adalah pertama dengan mempertimbangkan bahwa 10 bank terbesar menguasai hampir 70 persen bisnis perbankan nasional.

Oleh karena itu, penurunan suku bunga dapat dilakukan, kalau 10 bank terbesar itu yang memulainya. Kalau harus dipilih lagi, tentunya dimulai dari bank-bank badan usaha milik negara (BUMN). Ini dengan catatan, harus ada kerelaan pemerintah untuk mendapatkan setoran dividen lebih rendah.

Tentunya tinggal diperhitungkan, misalnya, kalau suku bunga kredit diturunkan 2-3 persen, berapa dampaknya terhadap pengurangan perolehan laba. Kalau dengan turunnya suku bunga kredit sebesar itu ternyata diikuti dengan permintaan kredit yang signifikan, mengapa tidak untuk dilakukan?

Mungkin kalau hal tersebut di atas dilakukan kepada bank-bank BUMN, akan ada ”komando” dalam menurunkan suku bunga kredit.

Akan tetapi, kalau demi kebaikan yang lebih luas, kenapa kita harus terbelenggu oleh alasan mekanisme pasar. Sementara di lain pihak, untuk beberapa jenis kredit juga ada unsur ”komando”-nya.

3R buat UMKM

Alternatif kedua uang bisa dilakukan adalah memprioritaskan penurunan suku bunga kredit khusus untuk kredit sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bersamaan dengan penurunan suku bunga kredit itu, pemerintah melakukan berbagai upaya agar sektor UMKM menjadi lebih menarik, dan tidak berisiko tinggi.

Salah satu alternatif yang bisa ditempuh untuk menjadikan sektor UMKM lebih menarik bagi perbankan adalah regulator perlu segera mengeluarkan kebijakan 3R, yaitu restructuring, rescheduling, reconditioning , khusus untuk sektor UMKM, seperti halnya yang selama ini diberikan kepada pengusaha besar.

Kebijakan 3R tersebut seyogianya disesuaikan dengan karakteristik nasabah UMKM sehingga pihak bank akan lebih mudah mengimplementasikannya. Sebab, kalau disamakan dengan kebijakan 3R bagi pengusaha korporasi, bisa dipastikan kebijakan tersebut tidak akan berjalan.

Kebutuhan kebijakan 3R untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah memang merupakan tindakan antisipatif. Sebagai misal, untuk kredit usaha rakyat (KUR) yang baru diperkenalkan saja, NPL-nya sudah 1,2 persen.

Kalau tidak ada program restrukturisasi, NPL-nya akan semakin tinggi.

Beberapa pemikiran tersebut di atas tentunya bukan merupakan suatu panasea—yaitu resep yang mujarab. Hanya sebagai alternatif, itu pun seandainya gerakan penurunan suku bunga kredit dipandang masalah penting untuk menggairahkan perekonomian.

Ibaratnya sedia payung sebelum hujan. Jangan lagi terulang payung itu tersedia dan dipakai justru pada saat hujan sudah reda.

Sabtu, 11 April 2009 | 03:22 WIB

Source: cetak.kompas.com
Penulis: Krisna Wijaya Praktisi dan Pengamat Perbankan. Kandidat Doktor pada Jurusan Studi Antarbidang di Fakultas Pascasarjana UGM, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: