Konsumen Sahabat Bank : Membentuk Bankaholic Society Yang Mandiri dan Produktif

I. Hubungan antara Bank dan Masyarakat

Sekilas tentang judul di atas, perlu disampaikan bahwa dalam hal interaksi antara perbankan dan masyarakat [dhi. sebagai konsumen], penulis ingin memberikan tekanan pada “esensi” atau “roh” dimana konsumen terkesan menjadi obyek dalam hal pembentukan needs and wants. Maksudnya adalah bahwa siapa yang membutuhkan siapa terlebih dahulu. Apakah bank atau konsumen ? Jawabannya tentu Bank. Tanpa konsumen, Bank tidak dapat hidup bahkan hingga menangguk untung. Di lain pihak, tanpa Bank, konsumen masih dapat bertransaksi atau berbisnis lewat lembaga substitusi lain, antara lain : Koperasi, Multi-Finance dsb meski secara lebih terbatas. Namun demikian tetap saja di era modern dan kompleks ini, konsumen akan kesulitan bertransaksi tanpa kehadiran industri perbankan.

Oleh sebab itu, tema tag line Ayo ke Bank tersebut saya balik, dari Bank Sahabat Konsumen menjadi Konsumen sahabat Bank. Dengan kata lain, konsumen menjadi subyek bank terutama dalam penciptaan nilai [value creation] masyarakat dalam sektor layanan publik secara efektif dan efisien. Selanjutnya mengapa dipakai kata “bankaholic”. Sebuah kata yang tidak ada dalam kamus Inggris. Hal ini hanya merujuk pada cita-cita penulis bahwa pada masa mendatang masyarakat akan “ketagihan” bersabahat dengan bank. Bersahabat secara win-win solution, yang mana harapan kita adalah Bank lebih peduli terhadap lingkungan masyarakat, merangkul seluruh elemen masyarakat secara adil dan egaliter. Sehingga bank ikut membantu mengakomodir kebutuhan hidup mereka sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian pada akhirnya masyarakat akan menjadi lebih mandiri dan produktif dalam merencanakan dan mengelola masa depannya.

Di era globalisasi yang penuh kompetisi ketat maka bank telah bergerak dari peran penghimpun dan penyalur dana menjadi sebuah industri yang mengubah gaya hidup masyarakat. Dari peran sebagai agent of development menjadi agent of life-style. Kita lihat di sekeliling kita begitu banyak iklan-iklan dari berbagai Bank yang menawarkan kemudahan dalam berbelanja, berbisnis plus aneka macam hadiah, reward, diskon melalui produk-produk perbankan yang kreatif. Bank telah menjadi sebuah ikon perekonomian yang menawarkan nilai tambah kepada masyarakat. Melalui kreasi produk-produknya, Bank kini merambah bukan hanya ke kalangan berduit namun juga ke masyarakat kecil baik yang tinggal di kota, daerah urban maupun pedesaan. Hal ini tampak pada semakin mudahnya masyarakat mengakses kredit konsumtif seperti KTA [Kredit Tanpa Agunan], KPR plus kartu kredit. Bahkan credit card kini telah menjadi kebutuhan hidup sehari-hari di kota-kota besar. Tak ketinggalan pula, kredit yang bersifat pendayagunaan usaha seperti KUR, KUK hingga kredit berskala mega untuk kalangan korporat.

II. Membangun Minat Masyarakat Pada Perbankan

Untuk membangun minat masyarakat terhadap perbankan secara lebih optimal maka terlebih dahulu kita memetakan ekspektasi masyarakat dalam korelasinya dengan sistem moneter perbankan. Data sbb :
Tabel.1 Korelasi Moneter dengan Sistem Perkonomian

No

Jalur

Efek Yang Timbul

Akibat

1

Efek Substitusi [Substitution Effect]

Kelebihan Uang akan dibelanjakan barang dan jasa

v Permintaan terhadap barang dan jasa meningkat

v Produksi meningkat

2

Efek Suku Bunga [Interest Rates Effect]

Kelebihan uang dibelikan financial assets

v Permintaan financial assets meningkat

v Suku bunga turun

3

Efek Kekayaan [Wealth Effect]

Karena inflasi, masyarakat yang memiliki asset riil merasa lebih kaya

v Merasa lebih kaya masyarakat akan meningkatkan konsumsi barang dan jasa

v Produksi meningkat

4

Efek Ekspektasi Masyarakat [Expectation Effect]

Masyarakat melakukan antisipasi terhadap inflasi

v Pengusaha meningkatkan harga

v Pekerja meminta kenaikan upah

Dari Tabel.1 di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa efek suku bunga turut mempengaruhi masyarakat secara finansial. Apabila suku bunga rendah maka konsumen akan banyak mengajukan kredit ke bank-bank dan sebagian memilih investasi di pasar saham, obligasi dsb. Sebaliknya, apabila suku bunga tinggi maka debitur akan kesulitan membayar cicilan bunga sementara nasabah cenderung menyimpan uangnya dalam deposito. Efek perilaku masyarakat ini masih terkait dengan pola ketersediaan dana pada konsumen. Dengan kata lain, masyarakat berminat pada bank kalau memiliki uang cukup di luar kebutuhan primer hidupnya. Di lain pihak, apakah masyarakat dengan pendapatan kurang dari Rp. 10.000 per hari dapat menjadi nasabah suatu bank ? Sepertinya mustahil. Sebab beberapa bank mengharuskan saldo pembukaan rekening berkisar dari Rp.50.000 s.d Rp.500.000,-.

Sejalan dengan hal tersebut, Bank Dunia melaporkan jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 105,3 juta atau 45,2% dari total populasi Indonesia sebanyak 232,9 juta jiwa. Sedangkan BPS menyebut angka kemiskinan 37,2 juta jiwa, dimana 63,4% berada di pedesaan, yang bermata pencaharian utama di sektor pertanian, dan 80% berada pada skala usaha mikro dengan lahan lebih kecil dari 0,3 hektar . Selain itu, hingga saat ini Indonesia masih memiliki 32.379 desa tertinggal. Dari data tersebut, apakah program Ayo ke Bank juga memperhatikan mayoritas petani dan mereka yang terpinggirkan ? Ataukah awareness akan manfaat Bank hanya diperuntukkan buat kaum elit, intelektual kaya dan golongan borjuis semata ?
Oleh sebab itu, kampanye edukasi perbankan memerlukan terobosan inovatif dari kalangan perbankan sehingga masyarakat miskin juga bisa melek bank dan sekaligus bankable. Sehingga di masa depan, kita bisa melihat mereka yang miskin dapat pergi ke bank untuk menabung, bertransaksi sesuai kemampuan keuangannya. Atau setidak-tidaknya mereka dapat membuka tabungan semacam Batara, Taplus atau Tahapan. Sebagai langkah inovatif maka dunia perbankan dapat melakukan hal-hal sbb :
1. Setiap Biaya Rekening ATM yang telah ditetapkan maka dipotong Rp.1.000,- per bulan. Katakanlah ada 1 [satu] juta nasabah aktif maka didapatkan Rp. 1 [satu] miliar per bulan. Dana tersebut dapat digunakan untuk mensubsidi pembuatan rekening bagi keluarga miskin. Keluarga miskin dimaksud adalah mereka yang masih memiliki pekerjaan namun belum hidup secara layak. Lalu Bank memilih secara selektif berdasarkan potensi usaha mereka. Misalnya pedagang kaki lima, loper koran, tukang ojek, pedagang asongan, petani penggarap, buruh tani dsb. Mereka membutuhkan rekening sebagai sarana bertransaksi di masa depan dan terutama untuk mempermudah usaha mereka dengan pihak-pihak yang kepadanya mereka berhubungan. Dengan demikian mereka diarahkan menjadi pribadi yang mandiri dan produktif. Program subsidi ini dapat dilakukan selama 2 [dua] tahun kemudian dievaluasi perkembangan usahanya berdasarkan produktivitas mereka.

2. Bank melakukan tindakan proaktif mendatangani pasar-pasar tradisional dan menawarkan kepada pedagang-pedagang kecil untuk pembuatan rekening simpanan. Di samping itu Bank dapat menyediakan sarana Vehicle Banking, yakni layanan kas bergerak menggunakan kendaraan bermotor. Dengan demikian arus uang yang ada di pasar-pasar tersebut dapat diakomodasi oleh perbankan.

3. Seiring dengan kemajuan dunia teknologi dan komunikasi maka perbankan dapat menciptakan rekening virtual melalui situs sebuah bank. Pembuatan virtual account ini dapat dilakukan tanpa kehadiran calon nasabah langsung ke Bank. Selain itu rekening virtual ini dapat di-print out. Rekening virtual akan aktif kalau nasabah menyetorkan dananya ke Bank. Selanjutnya si nasabah menunjukkan rekening virtual tadi dan melaporkan ke petugas customer service untuk proses lebih lanjut seperti tanda tangan dsb.

II. Pengelolaan Keuangan Melalui Pemanfaatan Produk dan Jasa Bank

Seperti yang kita ketahui maka salah satu kritik yang penulis ingin sampaikan seputar kampanye Ayo ke Bank adalah apakah produk dan jasa Bank tersebut hanya untuk orang-orang normal saja ? Apakah pernah dipikirkan bagaimana dengan orang-orang cacat ? Bagaimana mereka harus bertransaksi baik di teller atau pun di ATM ? Menurut Kepala Informasi Data Sosial Depsos, Nurul Iswanti, berdasarkan random survei yang dilakukan oleh Departemen Sosial, populasi penyandang cacat adalah 3,11 persen dari total penduduk Indonesia . Dengan demikian jika jumlah penduduk tercatat 220 juta, maka jumlah penyandang cacat mencapai 6,8 juta jiwa. Sementara data WHO pada tahun 2004 memperkirakan bahwa populasi penyandang cacat 10 persen dari total penduduk Indonesia atau 22 juta jiwa.

Oleh sebab itu maka kampanye edukasi perbankan harus mengakomodir mereka yang disebut “luar biasa”. Karena para penyadang cacat adalah manusia yang juga dapat berproduksi sesuai dengan talentanya. Sebaliknya dengan menyediakan produk dan jasa perbankan yang bersifat “biasa” bagi nasabah normal maka bukankah hal ini juga menimbulkan bentuk diskriminasi dalam dunia perbankan ? Bukankah mereka yang cacat ini adalah konsumen yang juga sahabat Bank ? Seorang tuna-netra seperti Eko Rama Aditya adalah salah satu contoh manusia yang mengeluarkan potensinya jauh melebihi manusia normal . Dia telah membuktikan kepiawaiannya dalam dunia IT dengan cara berinteraksi menggunakan handphone, internet layaknya orang normal. Memang dia dibantu oleh software suara yang interaktif namun hal ini tidak mengurangi kejeniusannya dalam bidang tersebut. Sejatinya pihak bank perlu membuka akses kepada para penyandang cacat sehingga mereka dapat menjadi produktif dan mandiri.

Dalam API, pilar ke-enam berbunyi : “Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan”. Apakah “pemberdayaan” ini bisa memasukkan konsumen yang cacat tersebut dengan menyediakan jasa perbankan yang mudah dipahami oleh mereka. Selain masalah kecacatan, perlu diperhatikan adalah bahwa banyak produk perbankan yang tidak mengakomodir para pelajar sekolah di luar mahasiswa. Dari berbagai produk yang ada seperti tabungan, pihak bank belum melakukan pendekatan optimal dalam meraup pelajar sekolahan mulai SD hingga SMA sebagai nasabah utamanya. Dari data BPS dapat disampaikan populasi jumlah penduduk menurut aktivitas pekerjaannya , yakni :
Tabel.2 Jumlah Populasi menurut jenis aktivitas

No

Type of Activity

2007 (Agt)

2008 (Feb)

1.

Population 15 +

164.118.323

165.565.992

2.

Labor Force

109.941.359

111.477.447

Labor Force Participation Rate

66,99%

67,33%

Working

99.930.217

102.049.857

Unemployment

10.011.142

9.427.590

Unemployment Rate

9,11%

8,46%

3.

Not in Labor Force

54.176.964

54.088.545

Schooling

13.777.378

13.281.107

House Keeping

31.989.042

32.122.769

Others

8.410.544

8.684.669

Dari Tabel 2 di atas maka s.d Februari 2008 terdapat lebih dari 13 juta orang yang masih bersekolah. Secara lebih spesifik data jumlah pelajar dan mahasiswa termasuk SLB sbb :

Tabel 3 Daftar Pelajar/Mahasiswa thn 2005/2006

Sekolah

Jumlah Siswa

SD

25.982.590

SMP

8.073.389

SMA

3.497.420

SMK

1.594.756

SLB

59.352

P.T

2.691.810

Grand Total

41.899.317

Oleh sebab itu maka edukasi perbankan kepada masyarakat khususnya terhadap pemanfaatan produk dan jasa perbankan sbb :
1. Membuat produk-produk yang easy access bagi para penyandang cacat seperti para tuna netra, bisu-tuli dsb. Perlu dipikirkan bagaimana caranya mesin ATM itu dapat berfungsi buat mereka. Pihak perbankan perlu bekerjasama dengan vendor delivery channel dalam menyediakan khusus alat bantu buat kaum tuna netra seperti sistem suara atau penggunaan semacam huruf braile pada touch screen atau keyboard di mesin ATM.

2. Bank melakukan upaya gencar untuk menyediakan produk “retail” bagi kalangan pelajar. Misalnya pelajar baik dari siswa SD s.d SMA diakomodasi dalam bentuk tabungan bersifat recehan. Mulai dari Rp.1.000,- s.d Rp.100.000,-. Katakanlah potensi yang dapat diraih adalah 10% dari 41,8 juta siswa/mahasiswa sehingga total tabungan baru sebanyak ± 4,18 juta rekening. Dengan cara ini mereka diajarkan untuk menabung. Bahwa menabung itu menyenangkan, menabung itu mudah, menabung itu adalah hidup, menabung itu adalah berkat bagi orang lain, menabung itu adalah sistem pertahanan keuangan dini dsb. Ciptakanlah mekanisme layanan perbankan yang menjangkau mereka, misalnya pihak Bank mendatangi mereka melalui kendaraan kas ke sekolah-sekolah atau kampus.

3. Begitu pun dengan daerah-daerah terpencil dimana tidak semua bank hadir. Bayangkan dengan Grameen Bank di Bangladesh. Dari tahun 1976 hingga 2001 Grameen Bank memiliki 1.181 cabang yang bekerja di 42.127 desa dengan staf 11.777 orang. Jumlah pinjaman tersalurkan hingga tahun 2001 sebesar 3,9 miliar AS$ dengan tingkat pengembalian sebesar 98% . Sebuah prestasi yang mengagumkan ! Oleh karena kita tidak memiliki Grameen Bank maka kalangan perbankan dapat menggalakkan kampenye Ayo ke Bank ini dengan menggandeng kantor pos setempat. Sebagaimana kita tahu, kantor pos memiliki ribuan outlet atau kantor cabang di seluruh pelosok Indonesia dengan 1.875 kantor pos yang sudah on-line . Bentuk sinerginya adalah nasabah dapat menyetorkan uangnya di kantor pos setempat dan langsung terkoneksi ke Bank-bank yang bersinergi tadi.
4. Selain itu, pihak bank dapat menjalin kerjasama dengan koperasi di daerah-daerah khususnya pedesaan, perkampungan nelayan sehingga penetrasi perbankan dapat lebih meningkat dan dirasakan oleh masyarakat tersebut. Bentuk kerjasamanya adalah pihak Bank bisa mengelola dana koperasi secara proporsional. Data tahun 2006, terdapat 138.411 unit koperasi dengan anggota 27.042.342 orang, dimana yang aktif sebanyak 94.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.703 unit . Suatu potensi yang luar biasa besar !
III. Meningkatkan Kehati-hatian Transaksi Keuangan dan Mekanisme

Pengaduan Nasabah
Untuk meningkatkan kehati-hatian transaksi keuangan di era digital ini maka pihak Bank dapat mensosialisasikan masalah risiko kejahatan perbankan dengan cara sbb :
1. Mengadakan seminar atau lokakarya dengan kalangan sekolah, perguruan tinggi maupun komunitas-komunitas penggiat IT di beberapa daerah. Mereka dapat memberikan masukan seputar keamanan transaksi melalui internet atau phone/sms banking. Dengan demikian trik-trik kejahatan internet atau cyber crime dapat diantisipasi sedini mungkin.
2. Membuat iklan/advertensi layanan edukasi tentang cara penangkalan penipuan nasabah dengan modus operandi tertentu. Misalnya dalam kasus antara lain : penempelan stiker logo bank palsu di mesin-mesin ATM, gangguan mesin ATM yang tiba-tiba muncul karena diselot oleh benda tertentu seperti korek api dsb. Iklan edukasi tersebut dapat disiarkan di radio, TV, maupun media cetak lainnya.
Nasabah adalah aset utama perbankan. Tanpa nasabah, bank tidak mungkin beroperasi secara total. Oleh sebab itu, apa pun keluhan nasabah harus direspon se-efektif dan semaksimal mungkin. Oleh sebab itu maka program Ayo ke Bank harus mengimplementasikan mekanisme kongkrit untuk penyelesaian kasus-kasus complaint, antara lain :
1. Kalangan perbankan membuat saluran pengaduan khusus baik lewat telepon, internet maupun surat-menyurat. Saluran khusus tersebut dapat berupa : kotak pos pengaduan, hot line khusus, alamat e-mail tersendiri. Hal ini disebabkan karena tidak semua telepon yang masuk dari nasabah adalah masalah complaint. Banyak incoming calls seputar konfirmasi transaksi, sekedar menanyakan produk dan fasilitas lainnya. Dengan demikain, channel khusus pengaduan tadi membantu memonitor keluhan dan tindak-lanjut penyelesaiannya.
2. Setiap nasabah yang complaint, terutama atas kesalahan internal operasional maka pihak perbankan kiranya dapat memberikan apresiasi yang mengesankan pihak nasabah. Misalnya diberikan gimmick, berupa gift kecil, voucher belanja dsb. Sehingga loyalitas nasabah tetap terjaga dengan baik.
3. Ketika nasabah memutuskan menutup rekeningnya baik karena alasan kecewa berat atau memang berniat demikian maka pihak perbankan dapat memberikan semacam gimmick, antara lain : mug, tas, jam kecil dsb. Hal ini ditujukan untuk membina relationship dengan mantan nasabah sehingga suatu ketika dia akan merasa nyaman kembali menjadi nasabah bank Selain itu diharapkan ada semacam feed-back saat mantan nasabah tersebut mau merekomendasikan kerabat-kerabatnya untuk menjadi nasabah bank bersangkutan.

IV. Kesimpulan Tentang Edukasi Perbankan

Dari penjabaran dan strategi-strategi yang telah ditawarkan oleh penulis di atas maka perlu diambil kesimpulan sbb :
1. Program edukasi perbankan kepada masyarakat harus memberikan nilai tambah berupa kemandirian dan produktivitas masyarakat. Dunia perbankan dapat menjadi penggerak masyarakat untuk melek perbankan. Semua golongan masyarakat baik kaya-miskin, tua-muda, normal-cacat, pelajar-pekerja dapat merasakan manfaat perbankan di dalam aktivitas mereka sehari-hari.
2. Membentuk “bankaholic society” bukanlah suatu utopia namun sebuah paradigma yang positif bahwa Bank adalah milik semua lapisan masyarakat. Bahwa Bank yang sudah menjadi industri modern dan canggih harus memperjuangkan kemandirian bangsa melalui kreasi produk dan layanan yang mengangkat derajat hidup bangsa.
3. Bank adalah milik masyarakat dan masyarakat adalah aset utama Bank. Maka dari itu, edukasi perbankan harus menciptakan sebuah tata hubungan yang harmonis, win-win solution, serta meningkatkan hidup masyarakat lebih mandiri dan produktif.

*) Ditulis oleh Leonard T. Panjaitan
V. Lampiran – Daftar Pustaka
1. Pohan, Aulia, 2008, Potret Kebijakan Moneter Indonesia.
2. Yunus, Muhammad, 2007, Bank Kaum Miskin Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan, Terj.Indonesia oleh Irfan Nasution.
3. Koran Tempo, Rubrik Pendapat oleh Mufid A.Busyairi, Tanggal 23 Juli 2008, Hal.A10.
4. http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/23/Kesra/kes01.htm
5. http://www.ramaditya.com
6. http://www.bps.go.id/sector/employ/table1.shtml
7. http://www.depdiknas.go.id/
8. http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/10/04/brk,20071004-109048,id.html
9. http://www.depkop.go.id/cat_view/35-statistik/36-statistik-koperasi/83-statistik-koperasi-tahun-2007/132-pdf.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: