Apakah AS Perlu Ditolong?

BUKU I CHRISTOPHER FARRELL

Business Week 24 September 2008

Apakah Amerika Perlu Ditolong?

Ekonom Yale, Robert Shiller mengatakan, krisis kredit AS setara dengan krisis yang mengakibatkan depresi berat pada 1930-an.

Bursa saham merosot tajam dari puncaknya. Kegagalan bank semakin banyak. Pemerintahan federal AS mengambil langkah-Iangkah tak terduga guna menyangga ekonomi yang tertekan. Di tengah-tengah krisis, seorang pejabat pemerintah mengatakan: “Kita tak bisa diam saja di pinggir lapangan dan terlibat dalam perdebatan panjang ketika sebuah rumah sedang terbakar. Dalam situasi seperti itu, naluri kita akan langsung mengambil alih dan memanfaatkan metode apa pun yang menawarkan jaminan keberhasilan tercepat.”

Apakah itu ucapan Chairman Dewan Direksi Federal Reserve, Ben Bernanke, di hadapan Kongres ? Atau, Menteri Keuangan AS Henry M. Paulson Jr. tentang penyelamatan raksasa hipotek Freddie Mac dan Fannie Mae? Bukan. Itu ucapan Henry B. Steagall, Chairman House Committee on Currency & Banking, pada 1932.

Mengutip Steagall, ekonom Robert J. Shiller mengatakan krisis saat ini membutuhkan pemulihan fundamental yang didorong era depresi besar. Dalam buku barunya, The Subprime Solution: How Today’s Global Financial Crisis Happened, and What to Do about It, dosen Yale University itu menyuarakan peringatan bahwa krisis kredit yang kini berada pada awal tahun kedua mengandung risiko mengerikan. Tulisannya merupakan respon inspirasional dan cepat terhadap kejadian-kejadian saat ini serta desakan keras untuk aksi dramatis dari Washington. Tetapi, menurut Shiller, Gedung Putih dan Kongres sudah “benar-benar tidak memenuhi syarat” dalam mengemban tugas tersebut.

Buku yang secara umum mudah dimengerti ini, sesekali penulis seolah berasumsi para pembaca sangat paham soal ekonomi, menawarkan sejumlah usulan untuk menghindari krisis mendatang. Semua ini provokatif, meski banyak yang masih kurang jelas.

Jadi, bagaimana kita bisa sampai pada kondisi seperti ini? Seperti kebanyakan pengamat lain, Shiller menjadikan boom dan letusan properti sebagai fokus penjelasannya. Namun, kelemahan-kelemahan psikologis manusia juga sangat berperan. Mengadaptasi argumen yang pertama-tama dimunculkan dalam buku sebelumnya, Irrational Exuberance, si pengarang mengatakan bahwa, selama beberapa dekade silam, demokrasi finansial menyebar hingga semua orang AS menjadi investor.

Hal itu membuat masyarakat menjadi semakin rentan terhadap psikologi massal ekonomi gelembung. Harga properti yang makin tinggi memunculkan “kisah-kisah era baru” tentang bagaimana aturan-aturan lama valuasi tak lagi dapat diterapkan. Cerita-cerita itu semakin mendorong kenaikan harga dan makin banyak kisah yang dijalin untuk membenarkan lonjakan tersebut. Demam investasi yang tak logis pun mewabah. Tetapi, akhirnya, demam itu mereda.

Jelas bahwa psikologi berpengaruh, meski pendekatan itu tampaknya mengabaikan hal-hal mendasar dalam ekonomi seperti demografi dan tingkat suku bunga. Yang juga lebih meyakinkan adalah cara si penulis yang cerdik dalam memengaruhi opini yang sudah terlalu lazim bahwa tak terelakkan lagi harga properti pada akhirnya akan naik. Ia juga menekankan suatu poin valid yang jarang dikemukakan: “Tidak apa-apa jika harga rumah turun,” asalkan penghasilan kita naik.

Masyarakat layak khawatir ketika harga merosot dengan cepat seperti sekarang ini. Shiller menuntut aksi penyelamatan berani yang melibatkan berbagai langkah mulai dari membentuk organisasi baru meniru Home Owners’ Loan Corp. pada 1933 hingga kemungkinan menerapkan rabat pajak federal dalam beberapa tahun ke depan. Meski saya masih tetap skeptis, itu adalah salah satu argumen terbaik untuk intervensi jangka pendek setingkat Kesepakatan Baru oleh Washington yang pernah saya baca.

Pendekatannya untuk jangka panjang lebih meyakinkan lagi, bahkan meski kadang kurang detail. Shiller – yang menentang baik regulasi yang menindas maupun langkah yang tidak cermat untuk kembali ke masa-masa yang lebih sederhana-menganjurkan untuk memanfaatkan teknologi modern dan sistem informasi guna meningkatkan demokratisasi
keuangan.Sebagian ide-idenya adalah membuat produk-produk asuransi baru sebagai proteksi terhadap fisiko financial personal yang besar, mendirikan komisi keselamatan produk finansial, dan meningkatkan transparansi finansial.

Ide lain yang sangat menarik adalah subsidi sarana finansial dari pihak federal yang disediakan untuk siapa saja. Ini bisa jadi berbentuk kesepakatan pembayaran bersama seperti Medicare dan asuransi kesehatan tertutup. “Kita butuh sarana medik dan finansial secara berkesinambungan. Jika tak bisa mendapatkan salah satunya, pada akhirnya masyarakat akan dirugikan ketika kesehatan kita- baik kesehatan medis maupun finansial-memburuk,” tulis Shiller.

Untuk masalah perawatan kesehatan universal, bisa jadi itu masih memerlukan waktu beberapa lama lagi sebelum masyaraka tAS menerima langkah-langkah tersebut. Yang jelas, segudang ide provokatif dan berharga menunggu pembaca The Subprime Solution. I BW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: