Pelajaran Penting di Harvard Business School

Pelajaran Penting di Harvard Business School

Setelah bersekolah di tempat itu, seorang jurnalis menyebut HBS sebagai “pabrik penghasil orang-orang tak berbahagia”.

Philip Delves Broughton memang bukan mahasiswa Harvard Business School (HBS) biasa. Pada 2004, ketika ia melepas pekerjaan sebagai kepala biro harian Inggris Daily Telegraph di Paris untuk mengambil gelar M.B.A., umurnya sudah 32 tahun. Usianya itu lebih tua dari kebanyakan mahasiswa lain. Dan ia sudah memiliki seorang anak laki-Iaki berusia dua tahun. Meski sudah mempelajari ilmu kesusastraan, sejarah, dan filsafat Latin serta Yunani; Broughton ketika itu hanya mengenal sedikit tentang bisnis. Waktu itu ia menganggap para pebisnis hanyalah “budak uang yang suka minum, bermain golf, membosankan, dan mudah ditebak.”

Ketika tiba saatnya memperoleh gelar M.B.A. dua tahun kemudian, ia sudah memi­Iiki pemahaman yang mendalam tentang bisnis. Tetapi, pendapatnya tentang dunia bisnis tidak jauh berbeda dari yang dulu.

Dalam buku A Head of the Curve : Two Years at Harvard Business School, Broughton memberikan cuplikan dari balik layar yang mendalam dan menghibur tentang sebuah lembaga sangat terkenal yang dilihatnya berhasil secara umum dalam misi mereka mengubah mahasiswa menjadi pemimpin bisnis. Namun, ia juga melihat HBS telah gagal dalam banyak misi yang lain. Lembaga itu, menurutnya, telah menjadi “pabrik penghasil orang-orang tak berbahagia. “

Mengapa ia beranggapan seperti itu ? Padahal, para lulusan sekolah itu banyak yang telah berhasil menekuni karir mereka. Topik rumit inilah yang diulas Broughton dari kacamata seorang repor­ter yang dipaparkan secara detail. Dalam kisah ini, ia menceritakan 895 anggota kelasnya yang terdiri atas laki-Iaki dan perempuan yang memiliki bakat biasa­-biasa saja tapi punya ambisi luar biasa. Mereka juga terkesan angkuh, kurang percaya diri, tapi kadang memesona. Mereka ditakdirkan memiliki karir yang akan mengorbankan keluarga dan teman­-teman untuk keberhasilan yang mereka yakini benar-benar patut mereka peroleh.

Broughton menjadi salah seorang dari banyak mahasiswa yang masuk ke HBS pada 2004 dengan hanya sedikit ambisi pribadi. Waktu itu tak tahu apa yang ingin ia lakukan. Meski begitu, Broughton sangat pandai menjelaskan bagaimana Harvard terutama, dan sekolah bisnis pada umumnya, “meru­sak” orang-orang seperti itu.

Ketika anak keduanya masih dalam kandungan, Broughton enggan mengi­kuti jejak banyak ternan yang bekerja di bidang konsultasi dan perbankan investasi. Ia ingin mencari pekerjaan yang memberinya banyak waktu luang untuk keluarga. Namun, keinginannya itu terus mendapat godaan dari teman­-temannya yang menyerah pada nasib dengan berkarir di jalur konvensional. Akhirnya, Broughton menghabiskan musim panas, setelah tahun pertamanya di Kota Cambridge (Massachusetts), untuk mengerjakan sebuah novel. Meski mendapat tawaran magang dan wawan­cara kerja di Google dan McKinsey, ia tetap menolaknya. Kini, ia bertahan di bidang jurnalisme sambil menekuni beberapa usaha wiraswasta.

Dalam ulasannya, Broughton tak banyak menemukan kekurangan sekolah bisnis itu. Bahkan, ia lebih banyak memuji metode studi kasus HBS yang mendorong maha­siswa mencari jalan keluar dari masalah­-masalah yang dihadapi perusahaan. Ini adalah bukti dari metode staf penga­jar Harvard yang membuat Broughton menjadi terbiasa dengan bahasa bis­nis meski sebelum­nya ia memiliki pengalaman yang minim.

Namun, sekolah bisnis itu tidak banyak memberikan pelajaran ten­tang etika. Padahal, kebanyakan ternan kuliah Broughton masuk ke HBS dengan masalah etika. Sayangnya, HBS tidak mengubah sikap mereka secara signifikan.

Contoh masalah yang terkait etika antara lain adanya beberapa mahasiswa yang ingin mendapatkan hak memperoleh ban­tuan finansial dengan cara menghabiskan simpanan untuk membeli mobil mahal. Selain itu, pada 2005, para pelamar HBS yang berjumlah 119 orang diketahui mencoba menyusup ke sebuah situs internet yang menyimpan informasi peneri­maan mahasiswa. Bagi yang telah diterima masuk, Harvard membatalkan surat panggilan yang telah mereka buat. Dekan HBS menyebut tindakan itu sebagai “pelanggaran keper­cayaan yang serius”. Namun, di kelas “tanggung-jawab korporasi” yang diikuti Brighton, Harvard-lah yang disalahkan.

Sebanyak 75% maha­siswa membela para peretas itu. Sang penulis memaparkan atas kehidup­an keseharian di Harvard dan “rasa takut akan ketinggalan” yang membuat banyak mahasiswa meng­hadiri semua kegiatan, tak peduli apakah acara itu penting atau tidak. Namun, pada akhirnya, ia tidak merasakan hal itu seba­gai “transformasional”, setidaknya bukan dalam cara yang diharapkan HBS. Jika saat ini ada perubahan pun, itu tetap akan ber­dampak pada dunia bisnis.

Brighton merasa heran dengan kekuat­an bisnis terhadap masyarakat yang ter­jadi sekarang ini. Dan lembaga semacam Harvard akan meneruskan kondisi seperti itu. “Apakah masyarakat telah memberi terlalu banyak kekuasaan terhadap sebuah kelas yang tunggal berisi penyusun spreadsheet dan pemberi presentasi PowerPoint yang egois ?” tanya Broughton. Ia memberi kesan yang jelas tentang keyakinannya atas hal tersebut.

Sumber : BUKU LOUIS LAVELLE – BUSINESSWEEK I 3 SEPTEMBER 2008, Hal.10.


Catt : Di-scan dan di-upload oleh Leonard T.Panjaitan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: