Problem Dunia Kerja di Indonesia

Problem Dunia Kerja di Indonesia

Oleh Feby Indirani

BUSINESSWEEK 10 SEPTEMBER 2008

Dunia kerja di Indonesia tentunya memiliki permasalahan tersendiri. Untuk menggali persoalan khas yang terjadi di sini, kami menghubungi dua lembaga yang bergerak dalam jasa konsultasi dunia kerja, Dunamis Indonesia dan Daya Dimensi Indonesia (DDI). Berdasarkan pengalaman mereka, problem yang menonjol adalah sikap tenggang rasa yang berlebihan serta tidak match-nya hubungan antara sumber daya manu­sia (SDM) pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Tenggang rasa sudah pasti adalah sifat yang sangat baik. la menjadikan kita makhluk sosial yang lebih sempurna. Na­mun begitu, di dunia kerja, sikap ini menyebabkan opini dan keluhan tidak dikeluarkan, baik kepada rekan kerja maupun atasan. “Saya melihat, ini terjadi bukan karena rasa takut. Ini terutama disebabkan tenggang rasa dan tak ingin menying­gung perasaan orang,” ujar Nugroho Supangat, Managing Partner Dunamis Indonesia.

Hal seperti ini dapat menciptakan jurang komunikasi. Jika orang yang memiliki pendapat tidak mau berterus terang, ada masukan yang berkurang terhadap organisasi secara keseluruhan. Sebagai konsultan, Dunamis memperoleh banyak cerita dari pengalaman karyawan di berbagai level. “Tapi, ke­tika duduk di meeting bersama atasan mereka, cerita-cerita itu tak muncul sepenuhnya,” kata Nugroho.

Sikap tenggang rasa ini tak hanya diidap bawahan. Para atasan pun demikian. Hal ini terlihat ketika para bos melakukan penilaian atas kinerja anak buah. “Dari skala 1-4, misalnya, para manajer biasanya akan memberikan angka 3. Pertimbangannya, 2 dianggap terlalu rendah sementara 4 terlalu tinggi. Padahal, kalau memang harusnya memberi nilai 2, kenapa tidak? Yang penting alasannya memang kuat,” ujar Nugroho.

Inti persoalannya adalah bisa berterus terang tanpa cemas akan menyakiti perasaan orang. Menurut Nugroho, setiap oganisasi harus memiliki budaya memberikan dan menerirna feedback.

Ada cara yang bisa dilakukan dalam memberikan feed­back, yaitu aktual dan faktual. Aktual berarti memberikan umpan balik sedekat mungkin dengan kejadian. Jangan memberikan feedback untuk hal yang sudah terjadi tiga bulan lalu. Yang bersangkutan mungkin sudah tidak ingat peristiwanya.

Cara kedua adalah faktual, yaitu menunjukkan bukti dan deskripsi dari perbuatan, bukan menonjolkan interpretasi kita. Yang juga penting, dalam memberikan feedback cu­kup disebutkan 1-2 item tertentu saja. Jangan melebar ke mana-mana.

Sementara itu, bagi penerima kritik, sebaiknya mereka mendengarkan dulu paparannya sampai selesai, tanpa hasrat untuk langsung menyanggah. Anggap saja ini sebagai advis gratis meskipun pandangan tersebut belum tentu benar.

BERHENTI DI ZONA NYAMAN

Vina G. Pendit, Direktur DDI, menyoroti tidak match-nya sumber daya manusia pencari kerja di Indonesia dengan kebutuhan perusahaan. Keluhan perusahaan pada umumnya adalah para pencari kerja tidak memiliki bekal yang cukup dari bangku kuliah untuk memasuki dunia kerja. Padahal, di sisi lain, mencari orang yang tepat untuk mengisi kebutuhan organisasi selalu menjadi problem utama perusahaan. “Baca saja harian terbesar Ibu Kota. Halaman yang mencantumkan lowongan kerja dari tahun ke tahun terus bertambah. Artinya, lowongan pekerjaan sebenarnya ada. Namun, kualifikasi yang diminta tidak dapat dengan mudah diisi oleh para pen­cari kerja, ” ujar Vina.

Selain itu, Vina juga mengamati banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan kemudian mandek dan tidak berkembang. “Mereka bekerja tanpa tahu akan menjadi apa, bagaimana meningkatkan kemampuan, dan bagaimana pula peluang di masa depan, ” katanya. Akibatnya, mutu SDM tidak bertambah baik dan perusahaan tetap kekurangan tenaga kerja yang memiliki kualifikasi tertentu. Maka, terjadilah “pembajakan” sejumlah pekerja dari satu organisasi ke organisasi lain. Ternyata, bisnis rela membayar mahal untuk orang-orang yang sudah ‘jadi’.

Vina kemudian menyarankan, bagi yang masih kuliah, mereka sebaiknya memang tak hanya bertumpu pada bidang akademis. “Terus tingkatkan kemampuan dalam banyak hal melalui kegiatan di luar sekolah yang memacu kemampuan organisasi, perencanaan, diskusi, tawar-menawar dengan pihak lain, dan pemba­ngunan relasi”.

Bagi yang sudah bekerja, Vina menyarankan untuk terus meningkatkan kemampuan dan tak hanya bertahan di zona nyaman. “Kita harus berani mencoba tantangan kerja yang lebih sulit dan mau melakukan ‘extra miles’; ujarnya. Mereka yang “dilirik” para petinggi di organi­sasi adalah orang-orang yang mau menerima tantangan.

Catt : Di-scan dan di-upload oleh Leonard T. Panjaitan.

Sumber : Majalah BusinessWeek Indonesia edisi 10 September 2008, Hal.20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: