Perhatian pada Lingkungan Hidup : Upaya pendasaran teologis

http://ourunity.blogspot.com/2008/11/perhatian-pada-lingkungan-hidup-upaya.html

Rekans terkasih dalam Allah Yang Maha Tinggi,

Tema pelestarian lingkungan hidup sekarang menjadi tema global. Ironisnya, tema ini penuh keprihatinan dengan efek jahat yang luar biasa. Manusia terancam karena banjir, longsor, perubahan cuaca yang tidak teratur bahkan sampai timbulnya strain virus baru. Mengapa ini terjadi ? Mengapa kita tak kuasa mencegah kerusakan alam ? Apakah karena kita tidak memiliki iman lagi ? Apakah kita mahluk manusia diberi kuasa oleh Allah untuk menguasai segala alam ciptaan sampai tak terbatas ? Dimana kontrol diri kita ? Apakah ini semua akibat cinta akan uang yang telah mengakar dalam-dalam pada generasi ini ?

Oleh sebab itu, maka alangkah baiknya kita menyimak kajian teologis dari salah seorang Imam Katolik yang peduli pada masalah lingkungan hidup ini. Terima kasih Romo Sunarko, Ijinkan putramu (dalam iman) memposting dalam weblog kami ini. Semoga ini bermanfaat bagi pencerahan jiwa kami yang egois, serakah dan masih cinta uang.

Perhatian pada Lingkungan Hidup : Upaya pendasaran teologis *

Oleh Rm. A. Sunarko, OFM

1. Pengantar

Dibandingkan dengan kesadaran akan mendesaknya permasalahan sosial, keadilan, perdamaian, hak asasi manusia dan lain-lain, keprihatinan akan masalah lingkungan hidup di kalangan Gereja barulah muncul agak kemudian. Seperti kita ketahui, Konsili Vatikan II (Gaudium Et Spes, 1965) sudah memberi perhatian serius pada masalah-­masalah keadilan, perdamaian. Sebaliknya dalam dokumen Gaudium et Spes tidak kita temukan kata-kata seperti pelestarian alam, lingkungan hidup, ekologi misalnya. Rupanya pada waktu itu masalah lingkungan hidup belum sungguh-sungguh disadari oleh Gereja sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani. Itu juga menunjukkan, bahwa eko-teologi belum sungguh dikembangkan. Lingkungan hidup belum menjadi bagian hakiki refleksi para teolog.

Salah satu peristiwa penting yang kemudian menggerakkan diskusi eko-teologis sampai sekarang ini adalah tulisan dari seorang sejarahwan bernama Lynn White : The Historical Roots of Our Ecological Crisis [1]. Tulisan itu mendapat perhatian khusus dari Gereja dan para teolog kristiani, karena di situ Lynn White menegaskan antara lain, bahwa demitologisasi terhadap alam ciptaan yang berakar dalam tradisi Yahudi-Kristen lah yang menjadi biang keladi terjadinya krisis lingkungan hidup yang menimpa bumi. Terlepas dari benar tidaknya kritik tersebut, tulisan Lynn White mendorong para teolog untuk merefleksikan sejumlah gagasan mendasar berkaitan dengan lingkungan hidup. Benarkah masalah lingkungan hidup akhirnya berakar pada misalnya pandangan kristiani tentang pembedaan yang tegas antara Allah pencipta yang transenden dengan alam ciptaan ? Apakah kisah-kisah penciptaan dalam Kitab Suci memang mendorong atau membenarkan terjadinya perusakan dan eksploitasi alam?

Dalam tulisan berikut ini, saya berusaha mengumpulkan sejumlah upaya para teolog dalam menunjukkan, bahwa kritik Lynn White tidak tepat; serta bahwa tradisi kristiani sebenarnya- memuat visi dan sikap yang ramah dan bersahabat terhadap lingkungan alam ciptaan.

2. Teologi Penciptaan

“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah (menjejak-jejak: trampling down) itu, berkuasalah (menginjak-injak: tread the wine-press out) alas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1: 26-28) [2].

Terhadap teks termasyur ini kita kenali beberapa upaya penafsiran berikut yang menunjukkan bahwa teks tersebut tidak dapat dijadikan basis bagi berbagai upaya perusakan alam secara tidak bertanggung jawab [3].

a. Kata “berkuasa” harus dimengerti berdasarkan konteks terdekat Kejadian 1. ltu berarti, bahwa kata tersebut harus dipahami dalam kaitan dengan konsep tentang berkat (ayat 28a) dan tentang pembagian antara manusia dan binatang tanpa adanya saling membunuh (ayat 29-30). Di samping itu patut diingat, bahwa dalam kisah penciptaan Kejadian 1 ini dunia digambarkan sebagai sesuatu yang ditata secara harmonis dan baik. Dengan memperhatikan konteks seperti itu kata berkuasa (raddah) tidak boleh dimengerti sebagai kesewenang-wenangan, perlakuan keras dan kasar (bdk. Yoel 3:13: injak-­injaklah mereka seperti anggur); melainkan lebih sebagai tugas untuk memelihara dan mengurus. Hal tersebut sesuai pula dengan gambaran tentang Raja-Gembala di Timur Tengah Kuno yang memang bertugas mengatur dan mengupayakan agar rakyatnya hidup dalam kedamaian dan sejahtera (Bdk. Yes 11 :6-9).

Demikian pula dengan memperhatikan konteks seperti itu, kata “menaklukkan” (kabbas) tidak boleh dimengerti secara negatif dan keras (bdk. Zakharia 9: 15: mereka akan menghabisi dan menginjak-injak pengumban-pengumban), tetapi harus dimengerti secara lebih positif (mengolah, mengerjakan). Dimengerti secara demikian, maka Kejadian I tidak dapat dijadikan dasar untuk membenarkan tindakan eksploitasi alam secara tidak bertanggung jawab. Manusia berdasarkan Kejadian 1 harus lebih dilihat sebagai wakil dari Allah, wazir atau kalifah yang bertanggungjawab atas bumi dan segala makhluknya. Tanggung jawab dan tugas itu harus dilaksanakan dengan semangat dan keprihatinan dari Sang Khalik Pemelihara.

b. Tafsiran seperti itu menimbulkan protes sejumlah pakar lain yang berpandangan, bahwa penafsiran tersebut terlalu lunak. Gambaran tentang manusia sebagai pengurus alam semesta serta penghuninya dianggap timpang. Ide tentang Raja-Gembala Tiinur Tengah Kuno yang sering dipakai untuk mendasarkan interpretasi seperti tadi, menurut para ahli ini sebenarnya juga ambigu. Memang ada sisi pemeliharaan, tetapi ada pula sisi despotisme, kesewenang-wenangan. Maka kiranya ayat 28 harus dimengerti sebagai sesuatu yang bermakna ganda pula: Manusia itu di satu pihak memang pelindung, tetapi juga memiliki sifat agresif-menguasai; di satu pihak pemelihara, tetapi juga yang harus senantiasa siap membendung kekacauan. Allah Pencipta sendiri memang menjaga keharmonisan alam, tetapi itu juga harus terjadi dengan terus membendung berbagai bahaya (khaos, gelap gulita) yang mengancam kosmos. Kalau begitu manusia juga sebagai citra Allah berwenang untuk memelihara dan menaklukkan.

Penafsiran kedua ini juga mendasarkan pendapat mereka pada kenyataan geografis, keadaan hidup yang keras di wilayah Kanaan. Lingkungan hidup di Palestina adalah lingkungan hidup yang keras. Alam tidak selalu ramah. Orang harus berjuang melawan kekeringan, melawan binatang liar dll.

c. Juergen Moltmann melontarkan kritik terhadap upaya-upaya penafsiran ulang Kejadian 1 tersebut karena masih terlalu antroposentris [4]. Memang sudah ditegaskan, bahwa tugas manusia adalah memelihara dan bukan merusak alam. Tetapi pusat perhatian tetap diberikan pada manusia. Dunia dilihat sebagai milik manusia. Mahkota kisah penciptaan adalah manusia. Moltmann menegaskan, bahwa mahkota karya penciptaan sebenarnya bukan manusia melainkan sabat yaitu kegembiraan Allah atas segala karya ciptaan-Nya sendiri yang baik. Dalam kerangka itu manusia memang memiliki tempat khusus tetapi sekaligus ditekankan, bahwa manusia bersama makhluk surga dan bumi bertugas melambungkan puji-pujian bagi Allah (bdk. Mazmur 104.148).

Dalam perspektif hubungan antara sains dan iman serta teologi Moltmann kemudian menegaskan, bahwa teologi penciptaan perlu memandang dunia sungguh sebagai ciptaan Allah. Hanya dengan demikian ciri antroposentris pandangan kristiani tentang realitas dapat direlativisir. Konsep tersebut memuat empat unsur berikut [5] :

(i) Sebagai ciptaan dunia itu bukan sesuatu yang ilahi dan karena itu tidak perlu dan tidak boleh disembah. Di lain pihak sebagai ciptaan dunia juga bukan sesuatu yang jahat pada dirinya sendiri, sehingga tidak perlu ditakuti;

(ii) Bila dunia dipahami sebagai ciptaan maka relasi dikotomis subjek-objek dalam sains dapat diatasi. Baik realitas yang merupakan objek sains maupun manusia dengan subjektivitasnya adalah ciptaan Allah. Akal budi dan kehendak manusia juga bersifat kontingen dan karena itu tidak pernah boleh dimutlakkan;

(iii) Menurut iman kristiani Allah adalah pencipta surga dan bumi, segala yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Realitas yang diketahui manusia (melalui sains) tidaklah mutlak melainkan hanyalah sebagian saja dari realitas. Bahkan, manusia sendiri sebagai subjek sains hanyalah bagian dari ciptaan yang kelihatan. Menegaskan bahwa dunia adalah ciptaan Allah berarti menolak klaim saintisme tentang keluasan makna realitas;

(iv) Dasar biblis yang diusulkan Moltmann untuk paham dunia sebagai ciptaan adalah Roma 8: 19-21. Teks ini lebih dekat dengan keprihatinan yang hidup dalam masyarakat kontemporer; masyarakat yang mengalami dunianya dengan penuh kekhawatiran tetapi sekaligus dengan harapan. “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan … tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” (Rom 8:20-21).

d. Masih dalam kerangka kritik terhadap pandangan yang terlalu antroposentris, Moltmann sendiri mengajak untuk melihat Sabat sebagai akhir dan puncak dari madah penciptaan (bukan penciptaan manusia) [6]. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan­Nya itu sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu.” (Kejadian 1 :31-2:2).

Berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu: Moltmann menafsirkan teks ini menjadi sebagai berikut :

Ø bahwa pada hari ketujuh Allah beristirahat dari karya-karya-Nya, di hadapan karya-karya-Nya dan dalam karya-karya-Nya. Beristirahat dari karya-karya-Nya berarti bahwa Allah berhenti dari aktivitas penciptaan dan kembali pada Diri-Nya sendiri. Tetapi ini tidak berarti, bahwa Ia kembali kepada keadaan semula sebelum penciptaan. Melainkan sekarang Ia kembali pada diri-Nya sendiri bersama dengan ciptaan-Nya. Allah juga beristirahat di hadapan karya-karya-Nya. Itu berarti, bahwa Allah menyatakan pengakuan-Nya pada eksistensi ciptaan. Ia tidak mendominasi dunia tetapi membiarkan dunia berada, bereksistensi di hadapan dan bersama Dia. Lebih dari pada itu Allah beristirahat di dalam karya-Nya. Allah tidak hanya mengakui dan mengizinkan eksistensi ciptaan di hadapan Dia melainkan Ia sendiri tinggal dan hadir dalam ciptaan. Istirahat Allah menunjukkan imanensi Sang Pencipta dalam ciptaan. Begitulah dapat disimpulkan : “Karya penciptaan Allah diselesaikan dalam sabat, istirahat Allah. Penciptaan merupakan karya Allah dimana Ia keluar dari DiriNya sendiri dan menunjukkan kehendakNya. Sementara, sabat merupakan kehadiran Allah dimana Ia kembali pada diriNya dan menunjukkan eksistensiNya. Dengan kata lain, penciptaan merupakan pewahyuan Allah melalui karyaNya sementara sabat merupakan pewahyuan Diri Allah sendiri. Karena itu, menurut Moltmann karya penciptaan memuncak pada sabat penciptaan [7]. “

Ø Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu (Kej 2:3). Yang langsung menarik di sini adalah bahwa yang diberkati dan dikuduskan bukanlah salah satu makhluk ciptaan. Yang diberkati dan dikuduskan pada sabat adalah waktu yaitu hari ketujuh. Berkat dan pengudusan pada sabat ini memang khas, berbeda dari berkat pada ciptaan yang diberikan pada hari-hari penciptaan sebelumnya. Untuk segala makhluk ciptaan-Nya Allah memberi berkat melalui aktivitas dan kegiatan-Nya. Pada hari sabat ini Allah memberkati dan menguduskan melalui istirahat-Nya. Dengan kata lain Allah memberkati dan menguduskan sabat melalui kehadiran diri-Nya sendiri. Dengan kosa kata teologi rahmat kita dapat mengatakan, bahwa istirahat Allah ini merupakan gratia non­creata, rahmat tak tercipta yang tak lain adalah kehadiran diri Allah sendiri bagi seluruh ciptaan. Berkat dan pengudusan untuk sabat berbeda dari untuk ciptaan lain. Berkat dan pengudusan untuk ciptaan lain bersifat partikular (berkat untuk berkuasa misalnya hanya diberikan kepada manusia). Dalam sabat waktulah yang diberkati dan dikuduskan. Maka seluruh ciptaan yang mengalami hari ketujuh juga mendapat berkat dan pengudusan dari Allah. Berkat dan pengudusan untuk sabat bersifat universal untuk seluruh ciptaan.

3. Kristologi dan Soteriologi

Seperti sudah disebutkan di atas yang biasanya dituduh sebagai biang keladi terjadinya eksploitasi dan perusakan alam adalah cara pandang filosofi (modern) bernama antroposentrisme. Suatu cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Dalam konteks diskusi ekologis, antroposentrisme dimengerti sebagai pandangan yang menegaskan, bahwa manusia memiliki nilai etis dalam dirinya sendiri (intrinsik), sedangkan ciptaan lain tidak memiliki nilai tersebut. Nilai etis ciptaan non-human ada dalam relasi dan kegunaan dari sudut pandang manusia (nilai instrumental).

Contoh argumen antroposentris:

(a) membabat hutan itu diperkenankan karena hal itu dilakukan demi keuntungan ekonomis yang diperoleh;

(b) Menebang hutan (sekarang) itu sebaiknya tidak dilakukan demi keuntungan lebih besar yang akan diperoleh di masa depan.

Antroposentrisme memiliki jejaknya juga dalam tradisi pemikiran teologis (kristologis) kristiani. Dan itu mungkin turut menjelaskan pula mengapa keprihatinan pada masalah lingkungan hidup baru kemudian muncul. Yang saya maksud adalah tradisi pemikiran teologis mengenai pokok yang sangat sentral, berkaitan dengan ajaran mengenai Yesus Kristus dan paham tentang keselamatan. Antroposentrisme dalam hal ini, berarti bahwa paham kita mengenai Yesus Kristus dan keselamatan dilihat semata-mata (terutama) dalam kaitannya dengan manusia.

Tradisi pemikiran teologis yang saya maksudkan adalah tradisi yang kemudian berperan sangat besar bagi perkembangan agama kristiani. Kita kiranya dapat menyebut Anselmus Canterburry sebagai perumus paling tegas dari tradisi tersebut. Pada Anselmus, paham tentang inkarnasi (Putra Allah yang menjadi manusia) dikaitkan secara niscaya dengan dosa manusia. Demikian pula, kemudian karya penyelamatan dimengerti secara ketat sebagai penebusan dari dosa (manusia). Allah mempunyai rencana tentang manusia yaitu keselamatan kekal. Akan tetapi rencana itu terancam oleh dosa manusia. Untuk memulihkan tatanan yang dirusakkan oleh dosa itu, Inkarnasi dan penebusan melalui wafat Yesus di salib merupakan sesuatu yang niscaya. Terhadap pertanyaan hipotetis, apakah Allah akan menjadi manusia seandainya manusia tidak berdosa, kiranya Anselmus akan memberi jawaban negatif.

Demikian pula mereka yang menyebut diri beraliran thomis (dari Thomas Aquinas) memiliki pandangan serupa yang memang kemudian mendominasi pikiran, doa-doa dan liturgi Gereja. Inkarnasi dipahami semata­-mata dalam rangka memulihkan dan menebus apa yang telah dirusakkan oleh dosa manusia. Motif yang ada di balik Inkarnasi harus dipahami dalam kaitannya dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa. Putra Allah tidak akan menjadi manusia, seandainya manusia tidakjatuh dalam dosa.

Dalam pola seperti itu relasi antara karya Allah dalam ciptaan dan inkarnasi hanya bersifat ekstrinsik belaka. Paham sentral umat kristiani tentang Yesus dan keselamatan seperti itu juga sulit dikaitkan secara langsung dengan alam semesta. Yesus datang karena manusia berdosa, dan Ia datang untuk menyelamatkan (menebus) manusia.

Sebenarnya khazanah iman kristiani memiliki aliran tradisi yang sedikit lain dan antara lain dalam kaitan dengan lahirnya keprihatinan pada masalah lingkungan dicoba untuk dihidupkan kembali. Berdiri dalam tradisi itu antara lain adalah Sang Doktor Subtilis: Johannes Duns Scotus. Berbeda dari pendapat tradisional pada masanya yang secara konstitutif mengkaitkan inkarnasi dengan penebusan dosa, Scotus menegaskan, bahwa Kristus akan datang ke dunia tidak sebagai penebus seandainya manusia tidak berdosa. Inkarnasi tidak ditentukan oleh adanya dosa Adam, melainkan dipandang sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri baik, karena mengalir dari kasih bebas Allah akan ciptaan. Motif dari inkarnasi di sini adalah kasih dari kehendak ilahi untuk mengkomunikasikan diri. Inkarnasi tidak tergantung pada jatuhnya manusia dalam dosa. Ia sudah selalu merupakan bagian dari rencana Allah. Dengan kata lain, pandangan bahwa dosa manusia merupakan prasyarat bagi inkarnasi ditolak Scotus. Inkarnasi bukanlah koreksi kemudian atas karya penciptaan. Sebaliknya harus dikatakan: penciptaan manusia dan dunia merupakan persiapan bagi inkarnasi. “God first intended Christ as King and center of universe. Only secondarily, so to speak, did God conceive Christ as redeemer of fallen men [8].”

Di sini ada kemungkinan untuk melihat kaitan yang lebih intrinsik antara karya Allah dalam ciptaan maupun dalam inkarnasi [9]. Duns Scotus sendiri tidak menarik konsekuensi lebih jauh dan eksplisit bagi sikap terhadap alam semesta [10].

Pendahulunya, Bonaventura dalam hal ini berbicara lebih eksplisit. Berbeda dari tulisan-tulisan terdahulu yang menunjukkan kedekatan pandangan dengan Anselmus, dalam tulisan-tulisannya yang kemudian, Bonaventura lebih melihat Yesus Kristus dan peristiwa inkarnasi dalam kerangka penyempurnaan alam semesta. Dalam Sang Sabda lah kita menemukan puncak kebesaran hati yang membawa segala sesuatu kepada kesempurnaan. Sungguh, Allah adalah yang pertama ada. Dan yang terakhir dalam karya penciptaan dunia adalah manusia. Karena itu, bila Allah menjadi manusia, karya-karya Allah dibawa kepada kesempurnaan. ltulah sebabnya mengapa Kristus – Allah dan Manusia – disebut alpha dan omega, yang awal dan yang terakhir.

Tentu saja inkarnasi tidak dipahami secara eksklusif hanya dalam kaitannya dengan penyempurnaan ciptaan, melainkan juga dipikirkan dalam hubungannya dengan karya penebusan manusia yang berdosa. Kedua motif itu kita temukan bersama dalam teologi Bonaventura mengenai inkarnasi. Berbeda dari Anselmus, Bonaventura tidak ingin membatasi misteri inkarnasi Yesus Kristus pada persoalan dosa dan penebusan darinya. Allah tidak mempredestinasi inkarnasi karena atau setelah manusia berdosa, karena sebagai karya Allah yang terbesar inkarnasi harus dikehendaki demi dirinya sendiri. Akan tetapi memang de facto, inkarnasi sekaligus juga berarti penebusan dosa. “While the Incarnation bears its own ratio, the soteriological dimension appears as the ratio inducens, a term which points to the actuality of a fallen highest revelation of the love of God can, in fact, enter into history as a redemptive act. Thus while the Incarnation is a redemptive mystery, it fulfills the functions in the world as well, particularly the perfection of the universe [11].”

Kata Bonaventura: “What more suitable act of wisdom than to bring the universe to full perfection by uniting the First and the last: the Word of God, origin of all things, and the human creature, last to be made [12] ?”

Tentu saja dalam teologinya, Bonaventura tetap berusaha memberi tempat istimewa bagi manusia. Tetapi itu tidak dilihat terlepas dari ciptaan yang lain. Itu nampak misalnya dalam penjelasan yang diberikan tentang mengapa Putra Allah menjadi manusia (dan bukan makhluk yang lain). “The highest and noblest perfection can exist in the world only if a nature in which there are the seminal causes (matter), and a nature in which there are the intellectual causes (finite spirit), and a nature in which there are the ideal causes (absolute spirit) are simultaneously combined in the unity of one person, as was done in the incarnation of the Son of God … [13]”.

Dasar biblis bagi tradisi pemikiran yang melihat relasi antara misteri Yesus Kristus dan karya penyelamatan tidak hanya dengan manusia tetapi juga dengan alam semesta dapat kita temukan dalam sejumlah teks berikut :

“Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan. Yang Sulung dari segala yang diciptakan, Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk (eis) Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

Dan Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah permulaan, Yang Sulung dari antara orang-orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib-Nya.” (Kolose 1: 15-20)

“Sebab Allah telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” (Efesus 1: 9-10)

4. Eskatologi

Dari sudut pandangan teologis mengenai masa depan dan akhir jaman ternyata perhatian diberikan bukan hanya pada manusia, melainkan juga bagi makhluk ciptaan lain. Hal tersebut nampak jelas dari teks-teks berikut ini :

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah karnu mengetahuinya ? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-­sungai di padang belantara. Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberikan kemasyhuran-Ku” (Yesaya 43: 19-21).

Orang lemah lembut “akan memiliki bumi” (Mat 5:5).

“Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh­Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. Sebab segala sesuatu (ta ponta) telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan, maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua.” (IKor 15: 24-28).

“Sebab aku yakin bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan. dan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka saja, tetapi kita sendiri yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Roma 8: 19-22).

Melihat misteri Yesus Kristus dan karya keselamatan hanya dalam kaitan dengan manusia, atau juga dalam relasi dengan seluruh alam semesta tentu dua hal yang berbeda. Konsekuensi yang ditarik bagi praksis pun lalu tidak sama.

5. Allah Tritunggal dan Paham tentang Kenyataan

Allah yang diimani orang kristiani adalah Allah Tritunggal. Kesatuan trinitaris adalah kesatuan dalam kasih. Kehidupan Allah Tritunggal adalah kehidupan saling kasih mengasihi. Karena itu, misteri kasih lah yang menjadi norma dan tolok ukur untuk memaharni realitas dalam kedalaman yang sesungguhnya. Kesatuan trinitaris dalam communio adalah model Pemahaman kristiani tentang dunia dan kenyataan. Pemahaman tentang realitas yang menekankan prioritas substans atau individu yang terpisah ditolak dan diganti dengan Pemahaman tentang realitas yang menekankan prioritas pada pribadi dalam relasi satu sama lain. Paham Allah Tritunggal dan, bahwa kenyataan terakhir bukanlah individu yang terpisah, sendirian, melainkan adalah pribadi yang berada dan mewujudkan diri dalam relasi saling memberi dan menerima.

Paham bahwa kita hidup dalam keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain (juga dengan alam semesta) merupakan hal penting bagi upaya menjaga kelestarian alam semesta.

Perlu juga ditegaskan di sini, bahwa menurut iman kristiani karya penciptaan bukanlah karya tunggal Allah Bapa melainkan sungguh adalah karya Allah trinitaris[14]. Dimensi kristologis penciptaan tampak jelas dalam teks-teks berikut :

“Bagi kita hanya ada satu Allah, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup” (1Kor 8:6). Kalau Kristus adalah dasar bagi keselamatan seluruh umat manusia dan ciptaan, maka kiranya Dia sudah pula terlibat sejak awal dalam karya penciptaan. Logika yang sama kita temukan dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose misalnya :

“Ia adalah garnbar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertarna bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” (Kolose 1: 15-18).

Demikian pula dalam Prolog Injil Yohanes kita temukan informasi tentang peran Kristus sudah dalam karya penciptaan. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1: 1.3).

Dimensi pneumatologis sebenarnya sudah nampak dalam Kejadian 1 yang berbicara mengenai Roh Allah yang melayang-Iayang di atas air (Kej 1 :2). Dalam mazmur 104 peran penciptaan Roh nampak dengan lebih jelas. “Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengarnbil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi” (Mzm 104: 29-30). Roh adalah kekuatan yang mencipta. Lebih dari itu Roh itu dihembuskan ke dalam ciptaan. Dimensi pneumatologis penciptaan mati mengatakan, bahwa Allah sendiri sebagai pencipta – melalui Roh Kudus – hadir dan memelihara ciptaan. Bahkan Allah sendiri melalui Roh ikut menderita bersama ciptaan (1 Tes 5:19; Ef 4:30) dan sekaligus menjadi sumber pengharapan.

Begitulah dapat disimpulkan. “Karya Penciptaan merupakan sebuah proses trinitaris. Allah Bapa mencipta melalui Putra dan dalam kekuatan Roh Kudus. Dalam kerangka penciptaan Trinitaris ini, penciptaan dilihat tidak hanya sebagai peristiwa awal mula. Penciptaan adalah juga janji dari keselamatan yang terjadi dan mencapai kepenuhannya dalam penciptaan baru oleh Yesus Kristus … Melalui peran Roh Kudus, proses penciptaan berlangsung terus menerus … Melalui Roh-Nya … Allah bersemayam dalam ciptaan-Nya dan berpartisipasi dalam kehidupan ciptaan-Nya. Jadi, melalui Allah Roh Kudus, dunia diciptakan dan dipelihara terus menerus dalam pengharapan dan penyempurnaan [15].”

6. Penutup: Beberapa paham dasar [16]

Dalam upaya melepaskan diri dari paradigma antroposentrisme paham kristiani tidak jatuh pada biosentrisme (segala sesuatu berpusat pada makhluk hidup); juga tidak pada geosentrisme ataupun cosmosentrisme (seluruh bumi dan alam semesta sebagai pusat). Dalam paham kristiani segala sesuatu memiliki nilai dalam dirinya sendiri karena relasi mereka dengan Allah.

“We must relate to all things in a manner appropriate to their relations with God…[17]”. Pandangan ini berciri teosentris; juga merupakan konsekuensi dari Kristologi-Hikmat yang melihat segala sesuatu sebagai yang diciptakan dan ditransformasikan dalam Yesus-Sophia. Segala sesuatu memiliki nilai dalam diri mereka sendiri karena mereka merupakan pengungkapan diri Allah sendiri. Mereka adalah artikulasi tercipta dari Sabda kekal, Kebijakan ilahi.

Burung-burung, tanam-tanaman, hutan, gunung, galaksi memiliki nilai karena mereka berada dan disokong oleh Communio ilahi (Person in Mutual). “They are indeed the voice of the divine, and to destroy one of them irresponsibly is to stop arbitrarily a mode of divine self-expression. To destroy a species is … to silence a divine voice forever [18]”.

Dalam kerangka pandangan seperti itu praksis ekologis kristiani menghormati nilai unik dari pribadi manusia dalam relasi dengan ciptaan lain. Martabat pribadi manusia bukanlah satu-satunya kriteria dalam pengambilan keputusan. Pribadi manusia perlu dipahami dalam kerangka komunitas ciptaan-ciptaan lain yang juga memiliki nilai sendiri dalam relasinya dengan Allah. Jadi kita menolak antroposentrisme ketat yang basis penilaian etisnya semata-mata martabat pribadi manusia belaka.

Di lain pihak hormat pada segala ciptaan tetap disertai pula dengan penghormatan khusus pada martabat unik pribadi manusia. Pribadi manusia di sini dimengerti dalam kaitan intersubjektif dengan sesama dan dengan ciptaan lain. Dalam konteks ini, pribadi manusia dimengerti sebagai ciptaan yang sampai pada taraf kesadaran, sebagai seorang yang berdiri di hadapan Allah yang dengan bebas mewahyukan diri dan memaafkan; sebagai seorang yang diciptakan secitra dengan Allah dan dipanggil masuk dalam kehidupan Allah Tritunggal, sebagai anak angkat Allah.

“The human creature, created in community like all other creaturely beings, is unique in this respect: the human creature is called to enter into self-conscious communion with God, along with other humans, through confession of praise and acts of obedience [19].”

Demikian pula pandangan kristiani tidak melihat alam semata secara instrumental saja, dan karena itu dengan bebas dapat dieksploitasi. Tetapi juga pandangan kristiani tidak dapat menempuh jalan memuja alam atau ibu pertiwi atau mendewakan Gaia seperti kini sering terjadi dalam eko-antusiasme yang romantis namun kurang realistis [20]. Alternatif yang mungkin bisa ditawarkan, dalam melihat ciptaan sebagai saudari dan saudara.

Daftar Rujukan

C. Balic, Duns Scotus’ Lehre liber Christi Pradestination im Lichte der neuesten Forschungen, Wissenschaft und Weisheit 3 (1936), 19-35.

Bonaventura, Breviloquium, dalam: The Works of Bonaventure II (transl. Jose de Vinck), New York: St. Anthony Guild Press 1963.

D. Edwards, Jesus the Wisdom of God. An Ecological Theology, New York: Orbis Books, 1995, 153-171.

M. Harun, “Taklukkanlah Bumi dan Berkuasalah” Alkitab Ibrani dan Dampaknya untuk Lingkungan Hidup, Jakarta: STF Driyarkara 1998.

M. Harun, Paulus dan Penyelamatan Kosmis, Forum Biblika, 14 (2001), 67-85.

Z. Hayes, The Hidden Center: Spirituality and Speculative Christology in St. Bonaventure, New York: Paulist Press 1981.

J. Moltmann, Gott in der Schoepfung. Oekologische Schoepfungslehre, Muenchen: Chr. Kaiser Verlag 1985.

F. A. Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan menurut Juergen Moltmann (Skripsi SI), Jakarta: STF Driyarkara 2007.

L. White Jr, The Historical Roots of Our Ecological Crisis, reprinted in D and E Spring (eds), Ecology and Religion in History, New York: Harper and Row 1974.

Allan B. Wolter, John Duns Scotus on the Primacy and Personality of Christ, dalam: Franciscan Christology (Ed. Damian McElrath), St. Bonaventure, N.Y.: The Franciscan Institute Publications 1994, 139-182.



[1] L. White Jr, The Historical Roots of Our Ecological Crisis, reprinted in D and E Spring (eds), Ecology and Religion in History, New York: Harper and Row 1974.

[2] Bdk. Yoel3:13.

[3] Untuk bagian ini saya mengikuti uraian dari M. Harun, “Taklukkanlah Bumi dan Berkuasalah” Alkitab lbrani dan Dampaknya untuk Lingkungan Hidup, Jakarta: STF Driyarkara 1998.

[4] 4 J. Moltmann, Gott in der Schoepfung. Oekologische Schoepfungslehre, Muenchen: Chr. Kaiser Verlag 1985,281-298.

[5] F. A. Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan menurut Juergen Moltmann (Skripsi SI), Jakarta: STF Driyarkara 2007, 15-16.

[6] Bdk. Moltmann, Gott in der Schoepfung, 281-292 serta uraian dari Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan, 61-67.

[7] Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan, 63-64.

[8] Allan B. Wolter, John Duns Scatus on the Primacy and Personality of Christ, dalam: Franciscan Christology (Ed. Damian McElrath), St. Bonaventure, N.Y.: The Franciscan Institute Publications 1994, 139-182: 142. Bdle C. Balic, Duns Scotus’ Lehre fiber Christi Pradestination im Lichte der neuesten Forschungen, Wissenschaft und Weisheit 3 (1936), 19-35.

[9] Sejumlah teolog lain yang ada di jalur ini pula: Ireneus, Teilhard de Chardin, Karl Rahner.

[10] Perdebatan Scotus dengan aliran teologi anselmian dan thomis kemudian lebih dikembangkan berkaitan dengan paham tentang kebebasan manusia dan Yesus sendiri berkaitan dengan salib dan sHih atas dosa.

[11] Z. Hayes, The Hidden Center: Spirituality and Speculative Christology in St. Bonaventure. New York: Paulist Press 1981, 190.

[12] Bonaventura, Breviloquium IV.l.2.

[13] Seperti dikutip dalam Hayes, The Hidden Center, 162. Perspektif yang lebih luas dari manusia saja nampak juga dalam rumusan berikut. “In this way, just as God had created all things through the Word Not Made, even so He restored all things through the Word Made Flesh.” Bonaventura, Breviloquium IV.l.2.

[14] Untuk uraian berikut, lihat: Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan, 33-38.

[15] Oki Dwihatmanto, Teologi Penciptaan, 38.

[16] Bdle D. Edwards, Jesus the Wisdom of God. An Ecological Theology, New York: Orbis Books, 1995, 153-17l.

[17] Edwards, Jesus the Wisdom of God, 155.

[18] Edward, Jesus the Wisdom of God, 155.

[19] Edward, Jesus the Wisdom of God, 157.

[20] M. Harun, Paulus dan Penyelamatan Kosmis, Forum Biblika, 14 (2001), 67-85: 83.

* Di-scan dan di-upload oleh Leonard T. Panjaitan. Ini berkat bantuan Sdr. Yoseph Kristianto yang pernah ikut kursus teologi di STF Driyakara Jakarta. Thanks bro.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: