Menyingkapkan Tabir Kitab Wahyu

Menyingkapkan Tabir Kitab Wahyu

BAGAIMANA MELIHAT YANG TIDAK KELIHATAN

Orang Kristen Ukraina senang menceritakan bagaimana nenek moyang mereka “menemukan” liturgi. Pada tahun 988, Pangeran Vladimir dari Kiev, saat bertobat dan percaya : mengirimkan utusan ke Konstantinopel, ibukota Kekristenan Timur. Di sana mereka menyaksikan liturgi Bizantin di katedral Kebijaksanaan Kudus, gereja terbesar di timur. Setelah mengalami nyanyian, dupa, ikon-ikon – tapi, di atas semua itu, hadirat Allah – para utusan itu mengirimkan kabar kepada pangeran :“Kita tidak tahu apakah kita sedang berada di surga atau di bumi. Belum pernah kami melihat keindahan yang demikian. Kita tak dapat menggambarkannya, tapi hanya ini yang dapat kita katakan: di sanalah Tuhan berada di tengah-tengah umat manusia.”

Hadirat-Nya. Dalam bahasa Yunaninya: Parousia, salah satu : tema kunci di dalam Kitab Wahyu. Pada abad ini, penafsir­-penafsir menggunakan perkataan yang khusus untuk menandai “Kedatangan Yesus yang kedua kalinya pada akhir zaman”. Itulah satu-satunya definisi yang dapat Anda temukan di dalam kebanyakan kamus bahasa Inggris. Padahal itu bukan arti yang utama. Arti utama Parousia adalah nyata, pribadi, hidup, abadi, dan kehadiran aktif. Dalam kalimat terakhir dari Injil Matius, Yesus berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa”.

Tanpa dipengaruhi oleh definisi-definisi kita, Kitab Wahyu menangkap kesadaran yang kuat tentang Parousia Yesus yang terus-menerus – kedatangan-Nya yang adalah saat ini. Kitab Wahyu memperlihatkan kepada kita bahwa Ia ada di sini dalam kepenuhan-Nya – dalam kerajaan, dalam penghakiman, dalam peperangan, dalam kurban imami, dalam Tubuh dan Darah, Jiwa dan Keilahian – pada saat umat Kristen merayakan Ekaristi.

“Liturgi adalah keikutsertaan Parousia, yang ‘telah’ me­masuki keberadaan kita yang ‘belum’, “tulis Kardinal Joseph Ratzinger. Bila Yesus datang kembali pada akhir zaman, ke­muliaan-Nya tidak melebihi kemuliaan yang Ia punyai saat ini di atas altar-altar dan di dalam tabernakel gereja-gereja kita. Allah ada di antara umat manusia, saat ini, karena Misa Kudus adalah surga di atas bumi.

SEBAGAI CATATAN

Saya ingin menjelaskan bahwa ide ini – ide di belakang penulisan buku ini – tidak baril, dan yangjelas bukanlah berasal dari diri saya. Tetapi uSionya setua Gereja perdana, dan Gereja tidak pernah melepaskannya, meskipun idenya banyak yang hilang berbaur oleh kontroversi-kontroversi doktrinal sepanjang beberapa abad.

Pembicaraan yang demikian bukanlah semata-mata keinginan yang saleh dari orang-orang kudus dan para sarjana. Karena ide tentang Misa Kudus sebagai “surga di atas bumi” sekarang adalah ajaran iman Katolik yang jelas dan pasti. Anda akan menemukannya di banyak sumber, misalnya, dalam pernyataan yang paling mendasar dari kepercayaan Katolik, yakni : Katekismus Gereja Katolik :

Memang sungguh, dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, mempelai-Nya yang amat terkasih, dengan diri-Nya, Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Bapa yang kekal… yang mengambil bagian dalam Liturgi Surgawi (no. 1089).

Liturgi kita berperan serta di dalam liturgi surgawi ! Itu ada di dalam Katekismus ! Dan masih banyak lagi:

Liturgi adalah suatu “kegiatan” dari “Kristus paripurna”. Liturgi surgawi dirayakan mereka, yang sudah berada di seberang dunia tanda-tanda . . . (no.1136).

Di dalam Misa Kudus, kita telah berada di surga ! Yang mengatakan demikian bukanlah saya, atau banyak teolog yang sudah meninggal. Katekismuslah yang mengatakannya. Katekismus juga mengutip kalimat yang sama dari Vatikan II yang mempengaruhi saya begitu kuat dalam bulan-bulan sebelum saya bertobat masuk Geraja Katolik :

Dalam liturgi di dunia ini kita ikut mencicipi liturgi surgawi, yang dirayakan di kota sufi Yerusalem, tujuan penziarahan kita. Di sana Kristus duduk di sisi kanan Allah, sebagai Pelayan tempat sufi dan kemah yang sejati. Bersama dengan segenap bald tentara surgawi kita melambungkan kidung kemuliaan kepada Thhan… (no. 1090).

“Tentara-tentara pejuang, madah-madah, dan kota-kota suci. Bukankah sekarang kedengarannya mulai menyerupai Kitab Wahyu ? Nah, biarkan Katekismus yang memperkenalkannya:

Pewahyuan tentang “peristiwa-peristiwa yang akan terjadi,” buku Wahyu, diwarnai oleh lagu-lagu liturgi surgawi… Gereja di bumi juga menyanyikan lagu pujian dalam iman dan dalam pencobaan… (no.2642).

Katekismus menyatakan semua ini sebagai kenyataan, yang menjadi bukti bagi dirinya sendiri. Untuk saya, kesadaran itu mengubah hidup saya. Kepada teman-teman saya dan rekan-rekan, juga – dan semua saja yang mau mendengarkan penjelasan saya – ide ini, bahwa Misa Kudus adalah “surga di atas bumi,” benar-benar merupakan berita, berita yang sangat baik.

TUHAN YESUS, DATANGLAH DALAM KEMULIAAN

Bila kita ingin melihat liturgi seperti apa yang dialami oleh utusan Pangeran Vladimir, kita harus belajar melihat Kitab Wahyu seperti Gereja melihatnya. Bila kita ingin menjadikan Kitab Wahyu masuk di akal, kita harus belajar membacanya dengan imajinasi sakramental. Kita akan melihat kemuliaan yang tersembunyi dalam misa kudus hari Minggu mendatang.

Lihat sekali lagi dan temukan bahwa benang emas liturgi adalah yang menyatukan mutiara-mutiara wahyu dari penglihatan Yohanes:

Ø Ibadat Minggu : 1:10

Ø Imam agung : 1:13

Ø sebuah altar/mezbah : 8:3-4; 11:1; 14:18

Ø imam-imam (presbyteroi) : 4:4; 11:15; 14:3; 19:4

Ø jubah-jubah : 1:13; 4:4; 6:11; 7:9; 15:6; 19:13-14

Ø selibat yang dikuduskan : 14:4

Ø kaki dian, atau Menorah : 1:12; 2:5

Ø melakukan pertobatan : bab 2 dan 3

Ø dupa : 5:8; 8:3-5

Ø kitab, atau gulungan kitab : 5:1

Ø Hosti Ekaristi : 2:17

Ø piala-piala : 15:7; bab 16; 21:9

Ø Tanda Salib (tau) : 7:3; 14:1; 22:4

Ø Kemuliaan : 15:3-4

Ø Alleluya : 19: 1, 3, 4, 6

Ø Arahkan hatimu : 11:12

Ø “Kudus, Kudus, Kudus” : 4:8

Ø Amin : 19:4;22:21

Ø “Anak Domba Allah” : 5:6 dan di seluruh bagian

Ø pentingnya Perawan Maria : 12:1-6; 13-17

Ø doa permohonan para malaikat dan

orang-orang kudus : 5:8; 6:9-10; 8:3-4

Ø devosi kepada St. Mikhael Malaikat : 12:7

Agung nyanyian antifon : 4:8-11; 5:9-14; 7:10-12;

18: 1-8

Ø pernbacaan dari Kitab Suci : bab 2-3; 5; 8:2-11

Ø keimamatan orang-orang percaya : 1:6; 20:6

Ø kekatolikan, atau keuniversalan : 7:9

Ø kontemplasi hening : 8:1

Ø perjamuan perkawinan Anak Domba : 19:9,17

Gabungkanlah semuanya: unsur-unsur ini menjadi hampir seperti Wahyu – dan sangat mirip dengan Misa Kudus. Unsur-­unsur liturgis lainnya dalam Kitab Wahyu, bagi pembaca masa kini lebih mudah dimengerti. Misalnya, banyak orang sekarang tahu bahwa trompet dan harpa adalah alat musik yang umum dipakai untuk musik liturgi pada masa Yohanes, seperti pemakaian organ sekarang. Dan melalui penglihatan Yohanes, para malaikat dan Yesus menyatakan berkat-berkat dengan menggunakan standar formula liturgis: “Diberkatilah ia yang…” Bila Anda membaca kembali Kitab Wahyu dari awal sampai akhir, Anda juga akan melihat bahwa semua campur tangan Allah secara historis – malapetaka, peperangan, dan sebagainya ­diikuti langsung oleh tindakan liturgis: madah-madah, doksologi, persembahan anggur, pedupaan.

Akan tetapi, Misa Kudus bukanlah hanya merupakan bagian-­bagian kecil. Melainkan juga ada dalam skenario besar. Kita dapat lihat, misalnya, bahwa Wahyu, seperti halnya Misa Kudus, terbagi rapi dalam dua bagian. Sebelas bab pertama berhubungan satu sama lain dengan pernyataan surat-surat kepada tujuh jemaat dan dibukanya gulungan kitab. Ini menekankan pada “bacaan” membuat bagian pertama sangat cocok dengan Liturgi Sabda. Sangat penting, tiga bab pertama dalam Wahyu menanda­kan semacam Ritus Pertobatan; di dalam ketujuh surat untuk jemaat, Yesus menggunakan kata “bertobatlah” delapan kali. Untuk saya, ini mengingatkan kata-kata kuno Didache, buku panduan liturgi dari abad pertama: “pertama-tama akuilah dosa-­dosamu, sehingga persembahanmu tidak bercela”. Bahkan di pembukaan, Yohanes mengandaikan bahwa kitab ini akan dibaca dengan suara lantang oleh seorang lektor di dalam pertemuan liturgi: “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini” (Why 1:3).

Kitab Wahyu bagian kedua dimulai pada bab 11 dengan pembukaan bait Allah di surga, dan puncaknya pada penuangan ketujuh cawan dan perjamuan nikah Anak Domba. Dengan pembukaan surga, cawan-cawan, dan perjamuan, Bagian Kedua memberikan gambaran yang sangat jelas akan Liturgi Ekaristi.

TEMPAT PEDUPAAN DI LUAR INDRA?

Di dalam Kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan pe­mandangan surgawi secara jelas, dalam istilah duniawi, dan kita mempunyai hak untuk bertanya mengapa. Mengapa menggambarkan ibadat rohaniah – yang pasti tidak melibatkan harpa-­harpa atau dupa-dupa – dengan kesan indrawi yang begitu jelas ? Mengapa tidak menggunakan angka-angka matematik, seperti mistik-mistik kuno, sehingga pembaca dapat mengerti dengan benar ibadat yang hanya dipahami oleh sekelompok orang saja, transenden, dan ibadat surgawi alam imaterial ? Saya mengira bahwa Allah menyingkapkan ibadat surgawi dalam istilah pengertian duniawi sehingga manusia – yang, untuk pertama kali, diundang untuk ikut serta dalam ibadat surgawi – dapat mengetahui bagaimana menjalankannya. Saya tidak berkata bahwa Gereja hanya duduk diam menantikan Wahyu turun dari surga, sehingga umat Kristen tahu bagaimana beribadat. Tidak, para Rasul dan pengikut-pengikutnya telah merayakan liturgi, setidaknya sejak Pentakosta. Wahyu bukanlah hanya semata­-mata gema dari liturgi yang sudah ditetapkan, bukan hanya sebuah pantulan ke surga dari apa yang terjadi di dunia.

Wahyu adalah penyingkapa; itulah arti harfiah dari kata Yunani apokalypsis. Kitab itu adalah refleksi penglihatan yang menyingkapkan sebuah norma. Dengan kehancuran Yerusalem, jemaat-meninggalkan untuk selamanya sebuah bait yang indah, sebuah kota suci, dan imamat yang terhormat. Ya, umat Kristen memeluk sebuah perjanjian baru, yang bagaimanapun juga mengakhiri yang lama, tetapi juga menyertakan yang lama. Apa yang seharusnya dibawa mereka, dari ibadat lama ke ibadat baru ? Apa yang harus mereka tinggalkan? Wahyu memberikan petunjuk kepada mereka.

Beberapa hal dengan jelas telah diganti dalam kekecualian yang baru. Israel menandakan perjanjiannya dengan menyunat anak laki pada hari kedelapan; Gereja memeteraikan Perjanjian Baru dengan baptisan. Israel merayakan sabat sebagai hari beristirahat dan hari ibadat; Gereja merayakan hari Tuhan, hari Minggu, hari kebangkitan. Israel memperingati Paskah lama setahun sekali; Gereja mengulangi Paskah yang sejati yaitu Yesus Kristus di dalam perayaan Ekaristi.

Walaupun demikian, Yesus tidak bermaksud menghilangkan segalanya yang ada dalam Perjanjian Lama; maka dari itu Ia mendirikan sebuah Gereja/Jemaat. Ia datang untuk meng­intensifkan, menginternasionalkan, dan menginternalisasikan ibadat bangsa Israel. Dengan demikian inkarnasi memberi isi baru lambang-lambang Perjanjian Lama dengan makna yang lebih luas, Misalnya, tidak akan ada lagi tempat ibadat sentral satu-­satunya di bumi. Wahyu memperlihatkan bahwa Kristus Raja bertakhta di surga, di mana Ia bertindak sebagai imam agung dari para Kudus, Tetapi apakah hal itu berarti Gereja tidak boleh mempunyai bangunan-bangunan; pejabat-pejabat, lilin-lilin, cawan, atau jubah ? Tidak. Jawaban Wahyu sangatlah jelas, bahwa kita boleh mempunyai semua ini – semua ini, dan juga surga.

AURA SION

Semua tahu di mana Yerusalem itu. Tetapi di manakah mereka dapat menemukan surga? Rupanya, tidak terlalu jauh dari Yerusalem lama, Surat Ibrani mengatakan: “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sem­purna, dan kepada Yesus, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel” (Ibr 12:22-24),

Kutipan tadi menyimpulkan dengan rapi seluruh isi Kitab Wahyu: kumpulan orang-orang kudus dan para malaikat, perayaan, penghakiman, dan darah Kristus. Tetapi di manakah, kita ditinggalkan ? Di tempat seperti dikatakan Kitab Wahyu: “Dan aku melihat : sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa­Nya” (Why 14: 1).

Semua jalan dalam Kitab Suci sepertinya menuju ke kota Raja Daud, Bukit Sion. Allah memberkati Sion dengan kelimpahan dalam Perjanjian Lama. “Sebab Tuhan telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: ‘Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam’ “(Mzm 132: 13-14). ‘Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!” (Mzm 2:6). Di Sion, Allah mau mendirikan istana Daud, kerajaan yang berdiri sepanjang masa. Di sanalah, Allah sendiri hadir selamanya di antara umat-Nya.

Ingatlah bahwa Sion adalah juga tempat di mana Yesus mengadakan Ekaristi, dan di mana Roh Kudus turun pada hari Pentakosta. Dengan demikian, “bukit suci” lebih lagi disukai dalam dispensasi kedua. Perjamuan Terakhir dan Pentakosta adalah dua peristiwa yang memeteraikan Perjanjian Baru. .

Perhatikan pula, bahwa sisa Israel, 144.000 dalam Kitab Wahyu 14, muncul di bukit Sion- meskipun dalam Wahyu 7 mereka muncul di Yerusalem surgawi. Apakah ada ketidak­cocokan ? Lihat lagi di Ibrani 12 untuk jawabannya: “Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion. . . Yerusalem surgawi.” Bukit Sion adalah Yerusalem surgawi, karena peristiwa yang terjadi adalah apa yang membawa persatuan yang definitif antara surga dan bumi.

Gereja yang berada di tempat peristiwa ini terjadi, selamat dari kehancuran yang terjadi atas Yerusalem, tetapi hanya sebagai tanda. Karena umat Kristen di Yudea, ruang atas tempat per­jamuan terakhir adalah “gereja kecil Tuhan” sebagai penghormat­an kepada Raja Daud dan St. Yakobus, uskup pertama Yerusalem. Tempat itu menjadi “gereja rumah (house church)”, di mana umat bertemu untuk memecahkan roti dan berdoa. Bagaimanapun juga, Sion menjadi lambang yang hidup dari Perjanjian Baru. Sion adalah lambang dari titik kontak duniawi kita dengan surga.

Saat ini, walaupun kita berada ribuan mil dari bukit kecil di Israel, kita ada di sana bersama Yesus di ruang atas, dan kita berada di sana dengan Yesus di surga, bila kita menghadiri Misa Kudus.

MULA-MULA ADALAH CINTA, KEMUDIAN PERKAWINAN

Inilah yang disingkapkan dalam Kitab Wahyu: persatuan antara surga dan bumi, yang disempurnakan di dalam Ekaristi Kudus. Kalimat pertama dari Kitab Wahyu memberi pengertian yang demikian juga. Istilah apokalypsis, biasanya diterjemahkan sebagai “wahyu,” arti harfiahnya “penyingkapan”. Di masa Yohanes, bangsa Israel biasa menggunakan apokalypsis untuk menggambarkan bagian dari pesta perkawinan yang biasanya berlangsung selama seminggu. Apokalypsis adalah menyingkap­kan radar pengantin wanita, yang dilakukan tepat sebelum perkawinan yang disempurnakan dalam hubungan seksual.

Itulah yang dimaksudkan oleh Yohanes. Begitu dekat persatuan antara surga dan bumi sehingga menyerupai per­satuan mesra dan subur dari suami istri dalam cinta. St.Paulus menggambarkan Gereja sebagai pengantin wanita Kristus (lihat Efesus 5) – dan Kitab Wahyu menyingkapkan pengantin wanita itu. Puncak dari Kitab Wahyu, kemudian, adalah persatuan Gereja dengan Kristus: perjamuan nikah Anak Domba (Why 19:9). Sejak saat itu, manusia diangkat dari bumi untuk beribadat di surga. “Maka tersungkurlah aku di depan kakinya ‘(malaikat) untuk menyembah dia,” Yohanes menulis “tetapi ia berkata kepadaku: Janganlah berbuat demikian ! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus’ “(Why 19:10). Ingatlah bahwa dalam tradisi Israel, orang-orang selalu beribadat meniru para malaikat. Sekarang, seperti yang diperlihatkan Wahyu, surga dan bumi keduanya berperan serta dalam sebuah tindakan ibadat cinta.

Pewahyuan ini, atau penyingkapan, menunjuk balik kepada salib. Matius melaporkan hal itu, ketika Yesus wafat, “tabir (atau cadar) Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah” (27:51). Dengan demikian, tempat terkudus Allah adalah “penyingkapan,” yang disingkapkan; kediaman-Nya tidak hanya untuk imam agung saja. Penebusan Yesus menyingkapkan Yang Kudus dari para Kudus, membuka kehadiran Allah bagi semua orang. Surga dan bumi kini dapat berpelukan dalam kasih mesra.

SEKOLAH LAMA

Liturgi-liturgi kuno lebur dalambahasa surga dan bumi. Liturgi St.Yakobus menyatakan: “kita dianggap layak untuk masuk ke dalam tempat tabernakel kemuliaan-Mu, dan boleh berada di dalam tahir, dan memandang Yang Kudus dari para Kudus”. Liturgi St. Addai dan Mari menambahkan : “Betapa mmgagumkan tempat ini sekarang ! Karena ini tidak lain dari pada rumah Allah dan pintu surga; karena dapat bertatap muka dengan-Mu, O Tuhan.”

St. Cyrilus dari Yerusalem (abad V) meminta kita sungguh-sungguh merenungkan kalimat: ‘Arahkanlah hatimu! “Sesungguhnya, ia berkata, dalam saat-saat yang mengagum­kan itu, kita sepatutnya mengangkat hati kita ke hadapan Allah, dan bukan ke bawah, yaitu memikirkan dunia dan hal-hal duniawi. Imam mengajak pada saat-saat tersebut untuk me­lepaskan kekhawatiran-kekhawatiran dalam hidup ini, atau kecemasan-kecemasan dalam rumah tangga, dan untuk mengarahkan hati ke surga bersama Allah yang berbelas kasih”.

Benar, kita harus seperti St.Yohanes di Patmos, ketika ia mendengar suara dari surga yang mengatakan, “Naiklah ke mari !” (lih. Why 11: 12). Itulah arti dari “Aahkanlah hatimu!”. Artinya adalah agar kita membuka hati kita kepada surga yang ada di hadapan kita, seperti yang dilakukan St.Yohanes. Arahkanlah hatimu, kemudian menjadi penyembahan di dalam Roh. Karena di dalam liturgi, kata Liber Graduum dari abad keempat, “tubuh adalah bait yang tersembunyi, dan hati adalah altar yang tersembunyi bagi pelayanan dalam Roh”.

Bagaimanapun juga, pertama-tama, kita harus merenung­kan secara aktif. St.Cyrilus melanjutkan: “Tetapi janganlah seseorang yang datang kemari berkata dengan mulutnya, ‘Kita mengarahkan hati kita kepada Tuhan,’ tetapi pikirannya penuh dengan kekhawatiran akan hidupnya. Setiap saat, kita harus menyadari bahwa Tuhan ada di dalam pikiran kita. Tetapi bila itu tidak memungkinkan karena alasan kelemahan manusia, setidaknya kita harus mencobanya pada saat-saat tersebut”.

Secara sederhana, kita harus memusatkan diri pada kalimat singkat dari liturgi Bizantin: “Bijaksanalah ! Perhatikanlah !”.

TOK, TOK, TOK

Ya, perhatikanlah! Karena Wahyu menyingkapkan lebih dari sekadar informasi. Wahyu adalah undangan pribadi, yang ditujukan kepada Anda dan saya dari segala keabadian. Pewahyuan Yesus Kristus berdampak langsung dan berkuasa atas hidup kita. Kita adalah pengantin Kristus yang belum tersingkap: kita adalah Gereja-Nya. Dan Yesus menghendaki setiap dari kita untuk masuk ke dalam relasi yang paling intim dengan Diri­Nya. Ia menggunakan gambaran perkawinan untuk menunjuk­kan betapa Ia mengasihi kita, Ia menginginkan kita dekat dengan­Nya – dan betapa la menginginkan persatuan yang abadi dengan kita.

Lihatlah, Tuhan menjadikan segalanya baru. Kitab Wahyu tidaklah asing seperti yang kita bayangkan, demikian juga Misa Kudus lebih kaya daripada apa yang kita bayangkan. Kitab Wahyu adalah sangat biasa, seperti kehidupan yang kita jalani ini; dan bahkan Misa Kudus yang paling membosankan pun, tiba-­tiba diaspal dengan emas dan perhiasan yang berkilauan.

Anda dan saya perlu membuka mata kita untuk menemukan kembali rahasia Gereja yang lama lenyap, kunci umat Kristen perdana untuk mengerti misteri-misteri Misa Kudus, satu­-satunya kunci yang benar untuk mengerti misteri-misteri Pewahyuan. “Roh dan Gereja memampukan kita mengambil bagian dalam liturgi abadi ini, apabila kita merayakan misteri keselamatan dalam Sakramen-sakramen”. (Katekismus, no. 1139).

Kita pergi ke surga- tidak saja saat kita meninggal, atau ketika kita pergi ke Roma, atau ketika kita melakukan ziarah ke Tanah Suci. Kita pergi ke surga saat kita menghadiri Misa Kudus. Ini bukanlah sekadar lambang , bukan sebuah metafora, bukan sebuah perumpamaan, bukan pula sebuah bentuk ucapan. Tetapi ini adalah kenyataan. Pada abad keempat, St.Athanasius menulis, “Saudara-saudaraku terkasih, yang kita hadiri bukanlah perayaan yang sifatnya sementara, tetapi yang abadi, pesta surgawi. Kita tidak melihatnya dalam bayangan; tetapi kita menghampirinya dalam kenyataan” .

Surga di atas bumi – itulah kenyataannya ! Itulah tempat di mana Anda hadir dan bersantap pada hari Minggu yang baru lalu! Saat itu apa yang Anda pikirkan?

Pertimbangkanlah apa yang Tuhan inginkan untuk Anda pikirkan. Pertimbangkan undangan-Nya dari Kitab Wahyu : “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi” (Why 2: 17). Apakah manna yang tersembunyi itu ? Ingatlah janji yang Yesus buat ketika Ia bicara tentang “manna” dalam Injil Yohanes: “Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga : Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga” (6:49-51). Manna adalah makanan sehari-hari umat Allah dalam perjalanan ziarah di padang gurun. Sekarang, Yesus menawarkan sesuatu yang lebih besar, dan Sungguh-­sungguh dengan undangan-Nya: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara­Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20).

Jadi artinya, Yesus sungguh bermaksud untuk mengadakan suatu perjamuan; Ia ingin membagikan manna yang ter­sembunyi dengan kita, dan Ia adalah manna yang tersembunyi itu. Dalam Kitab Wahyu 4:1, kita juga melihat bahwa ini lebih daripada santapan mesra berdua. Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk, dan sekarang pintu sudah terbuka. Yohanes masuk dalam “Roh” untuk melihat imam-imam, para martir dan malaikat yang berkumpul di sekeliling tahta surgawi. Bersama Yohanes, kita menemukan pesta surgawi adalah perjamuan keluarga.

Sekarang dengan mata iman – dan “dalam Roh” – biarlah ktia mulai melihat bahwa Kitab Wahyu mengundang kita untuk menghadiri perjamuan surgawi, dalam pelukan kasih, ke Sion, ke penghakiman, ke peperangan. Ke Misa Kudus. Amen.

Sumber : http://ourunity.blogspot.com/2008/09/menyingkapkan-tabir-kitab-wahyu.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: