Merekayasa Yesus [Part III] – Kriteria Orisinalitas Kitab Injil

KRITERIA AUTENTISITAS

DALAM MENENTUKAN ORISINALITAS KITAB INJILPERJANJIAN BARU *

Bukan hanya titik awal beberapa ahli yang salah dan tidak tepat, metode mereka pun sering sangat sederhana dan skeptis. Beberapa ahli tampaknya berpikir bahwa jika mereka semakin skeptis, mereka akan makin kritis. Namun, mengambil posisi skeptis yang berlebihan dan tidak beralasan tidak lebih kritis daripada menerima apa pun yang muncul begitu saja. Menurut saya, banyak hal yang dipandang sebagai kritisisme ternyata tidak kritis sama sekali; tidak lebih dari sekadar skeptisisme yang berkedok sesuatu yang ilmiah. Cara berpikir seperti ini merupakan penyumbang utama bagi gambaran tentang Yesus dan Injil yang menyimpang di banyak informasi radikal saat ini.

Cara berpikir skeptis yang berlebihan ini, misalnya, menuntun pada kesimpulan bahwa sebagian besar hal yang dikatakan Yesus di muka umum atau kepada murid-muridNya secara pribadi, entah dilupakan atau tidak relevan dan karena itu, apa yang akhirnya muncul dalam Injil dalam bentuk tertulis, sebagian besar berasal dari orang Kristen belakangan, bukan dari Yesus sendiri. Sesungguhnya, hal ini tidak masuk akal. Maksudnya, jika Yesus sungguh-sungguh hanya sedikit berkata-kata tentang hal-hal kekal yang penting dan tidak mampu melatih murid-muridNya untuk mengingat dengan tepat sedikit hal yang Ia katakan, kita harus sungguh-sungguh heran mengapa gerakan Kristen bisa muncul.

Beberapa sikap skeptis ini muncul karena kriteria yang disusun secara tidak tepat, yang digunakan untuk memutuskan hal yang au­tentik dan yang tidak. Kriteria ini disebut dengan berbagai macam istilah seperti “kriteria autentisitas” atau “kriteria keautentikan.” Mungkin kedengaran sangat teknis dan rumit, tetapi sesungguhnya hal ini merupakan usaha menerapkan logika untuk menentukan apa­kah dokumen kuno merupakan sumber yang dapat dipercaya untuk mempelajari apa yang terjadi dan siapa yang mengatakannya.

Tldak peduli apa pun sudut pandang yang kita kenakan pada Injil Perjanjian Baru (dan pada Injil ekstrakanonik, untuk hal itu), kita perlu memiliki kriteria itu. Kata criterion (atau jamaknya kriteria) adalah kata Yunani yang berarti “penilaian” atau “dasar untuk mele­wati penilaian”. Kita semua memiliki kriteria untuk melewati peni­laian berkaitan dengan banyak hal dalam kehidupan. Ketika seseorang berkata, “Saya kira cerita ini benar,” dan Anda menjawab, “Mengapa kamu berkata begitu?”, Anda meminta kepada orang tersebut untuk menjelaskan kriterianya atau dasar pembuatan penilaian tersebut.

Beberapa orang Kristen konservatif, tentu saja, akan sekadar menjawab dengan berkata, “Apa pun juga yang dikatakan Injil Perjan­jian Baru sebagai sesuatu yang dikatakan atau dilakukan Yesus, saya terima sebagai hal yang bersifat historis.” Hal itu bisa diterima orang­-orang yang sudah menerima inspirasi dan otoritas Alkitab. Namun bagaimana dengan orang-orang yang ingin mendapatkan alasan yang kuat dan sehat untuk menerima kisah Injil sebagai hal yang bisa dipercaya ? Memberi tahu mereka bahwa Alkitab itu diilhami dan karena itu benar tanpa memberikan kriteria yang dikenali ahli sejarah, tentu tidak akan memuaskan mereka. Bagaimanapun juga, bukankah Mormon mengatakan hal yang sama berkaitan dengan Buku Mormon? Satu demi satu kitab suci bisa dimunculkan dengan cara ini. Apakah ini satu-satunya pembelaan diri yang bisa dibuat?

Orang yang kritis menerapkan kriteria yang tepat dalam menilai suatu pernyataan (misalnya, “Itu benar”, “Itu berharga”, “Itu sung­guh-sungguh terjadi”, dan sebagainya). Jadi para ahli sejarah juga menerapkan kriteria untuk menafsir nilai sejarah sebuah dokumen. Mereka mengajukan pertanyaan seperti, Kapan dokumen ini ditulis? Siapa yang menulis dokumen ini? Apakah perincian dokumen ini sesuai dengan sumber lain yang dikenal dan dapat dipercaya? Apakah penulis dokumen ini mengetahui apa yang sungguh-sungguh terjadi dan apa yang sungguh-sungguh dikatakan? Apakah pernyataan dalarn dokumen ini didukung oleh bukti arkeologis dan realitas geografis?

Selama bertahun-tahun, para sarjana Alkitab telah mengem­bangkan kriteria historis dan sastra untuk menilai literatur Alkitab. Pembahasan kriteria untuk mempelajari Injil telah dilakukan secara intensif, dengan mengusulkan sejumlah besar kriteria. Saya telah melihat riset yang sangat teliti yang mendata sebanyak 25 kriteria. Beberapa dari kriteria ini tampak sangat rumit, yang lain tampak meragukan. Namun ada beberapa kriteria yang dihasilkan secara konsisten. Di bawah ini, ada tinjauan tentang kriteria yang saya kira terbaik. (Saya juga akan membahas satu kriteria yang saya kira sering disalahgunakan dan disalahterapkan).

A. Koherensi Historis

Ketika Injil memberi tahu kita hal-hal yang kita ketahui tentang sejarah Yesus dan ciri-ciri utama kehidupan dan pelayanan-Nya, cukup masuk akal untuk percaya bahwa kita berada di atas dasar pijakan yang kuat. Yesus yang memiliki banyak pengikut dan menarik perhatian penguasa dihukum mati, tetapi diberitakan sebagai Mesias Israel dan Anak Allah. Perbuatan dan perkataan yang dipandang la lakukan dalam Injil, yang sesuai dengan unsur utama ini dan sungguh-sungguh membantu kita memahami unsur utama ini, harus dipandang autentik.

Kriteria ini memberi landasan kepada kita untuk menerima ki­sah tentang Yesus di halaman bait Allah yang bertengkar dan meng­kritik imam-imam yang berkuasa (seperti kita lihat dalam Mrk. 11-12 dan perikop yang paralel dalam Injil lainnya). Kriteria ini juga mendo­rong kita untuk menerima peneguhan Yesus bahwa la sungguh-sung­guh Mesias Israel dan Anak Allah sebagai hal yang autentik (Mrk. 14:61-63). Berdasarkan pernyataan-Nya bahwa la adalah “raja orang Yahudi”, membuat penyaliban menjadi masuk akal (Mrk. 15:26).

B. Pembuktian Kolektif

Kriteria ini mengacu pada perkataan dan tindakan yang dipandang dilakukan Yesus yang muncul dalam dua atau lebih sumber independen (seperti Markus dan Q, sumber perka­taan yang digunakan oleh Matius dan Lukas). Perkataan dan tindakan Yesus yang muncul dalam dua atau lebih sumber independen menyiratkan bahwa sejak awal, hal itu sudah beredar secara luas dan bukan dikemukakan oleh satu penulis tunggal. Fakta bahwa ada banyak bahan yang mendapatkan pembuktian kolektif itu sendiri merupakan saksi kekunoan dan kekayaan sumber kita.

Di sini, ada beberapa contoh perkataan dengan pembuktian kolektif sbb :

1. Perumpamaan Yesus tentang pelita muncul dalam Markus 4:21 dan dalam sumber perumpamaan (Mat. 5:15; Luk. 11:33).

2. Perumpamaan ini diikuti dengan perkataan tentang apa yang dising­kapkan, yang muncul dalam Markus 4:22 dan dalam sumber perum­pamaan (Mat. 10:26; Luk. 12:2).

3. Perumpamaan Yesus tentang genera­si jahat yang mencari tanda ditemukan dalam Markus 8: 12 dan da­lam sumber perumpamaan (Mat. 12:39; Luk. 11:29).

C. Rasa Malu

Kriteria ini mudah disalahpahami. Yang dimaksud kriteria ini adalah bahwa informasi yang potensial menciptakan sesuatu yang janggal atau memalukan bagi gereja mula-mula bukanlah sesuatu yang ditemukan orang Kristen sesudah Paskah. Perkataan dan tindakan “yang memalukan” adalah hal-hal yang melacak balik pela­yanan Yesus. Karena itu, suka atau tidak, hal itu tidak bisa dihapus­kan dari bank data Yesus.

Mungkin, contoh klasik tradisi “yang memalukan” adalah bap­tisan Yesus (Mrk. 1 :9-11 dan perikop yang paralel). Apa yang mem­buat baptisan Yesus memalukan? Baptisan Yohanes disebut baptisan pertobatan dosa, tetapi, menurut ajaran Kristen, Yesus tidak berdosa. Jadi, mengapa Yesus yang tidak berdosa pergi kepada Yohanes untuk dibaptis? Pertanyaan yang bagus. Tidak ada satu orang Kristen pun yang akan membuat cerita ini. Kisah itu tetap dipertahankan ada dalam Injil dan itu menunjukkan dengan kuat bahwa informasi itu sangat autentik. Fakta bahwa cerita itu dipertahankan dalam Injil dan tidak dihapuskan juga menunjukkan bahwa penulis Injil berupaya sedemikian rupa untuk menceritakan kebenaran.

Contoh penting lainnya terlihat dalam cerita di mana Yohanes yang sedang dipenjara mengirim utusan kepada Yesus dan bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain ? (Mrk. 11:2-6; Luk. 7:18-23). Yesus menjawab pertanyaan Yohanes secara tidak langsung dan hampir terselubung, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat”. Ketika disampaikan, jawaban itu terasa janggal, bahkan mungkin me­malukan. Siapa yang akan mengarang cerita di mana Yohanes – sekutu Yesus – mengungkapkan keragu-raguan tentang identitas dan misi Yesus ? Mengapa jawaban Yesus yang dikarang pengikut-Nya sesudahnya gagal menyatakan dengan jelas identitas mesias dan misi-Nya ! Mengapa mereka tidak menegaskan dengan kuat dan jelas, “Pergilah dan katakan kepada Yohanes bahwa Akulah dia yang akan datang” ? Cerita seperti yang kita miliki, yang dipertahankan dalam Matius dan Lukas, memberikan keyakinan kepada para ahli sejarah bahwa cerita itu dengan setia dan akurat melaporkan percakapan antara Yohanes dan Yesus dan bukan merupakan fiksi orang Kristen di kemudian hari.

D. Perbedaan

Tidak ada kriteria yang dibahas lebih banyak dari­pada kriteria perbedaan. Jika digunakan dengan tepat, kriteria ini bisa mendukung kesimpulan bahwa perkataan atau perbuatan tertentu autentik. Jika diterapkan dengan salah, hal ini akan menghapuskan banyak perkataan dan perbuatan secara tidak perIu dan tidak masuk akal. Jika diterapkan secara tidak tepat, hal ini akan membuktikan perkataan dan perbuatan yang dipandang dilakukan Yesus tidak co­cok dengan (atau tidak konsisten dengan) teologi gereja mula- mula serta kecenderungan dan tekanan dalam Yudaisme pada zaman Yesus. Jika Anda menemukan logikanya sulit dipahami, jangan merasa kecil hati. Logikanya memang sedikit berbelit-belit.

Yang coba dilakukan bentuk kriteria ini adalah menghapuskan perkataan dan perbuatan yang mungkin berasal dari kalangan Yahudi di satu sisi, atau di kalangan Kristen mula-mula, di sisi lainnya. Jadi, jika satu perkataan tidak cocok dengan kedua konteks ini (karena itu dalam bentuk ini disebut “perbedaan ganda”), tidak ada jaminan bahwa perkataan (atau perbuatan) itu berasal dari Yesus. Problem yang timbul jika kriterianya diterapkan sedemikian adalah hal ini akan menghapus hampir segala sesuatu yang dikenakan pada Yesus. Bagai­mana pun juga, Yesus adalah orang Yahudi dan sebagian. besar hal yang Ia ajarkan mencerminkan tema dan konsep yang populer di antara para pemimpin agama di zaman-Nya (tanpa menyebutkan Kitab Suci Israel). Jadi, tidakkah kita mengharapkan bahwa kecenderungan dan tekanan Yesus muncul dalam ajaran Yesus yang autentik? Tentu saja ! Dan gereja mula-mula berpaut pada ajaran Yesus sebagai sesuatu yang berharga. Mereka membentuk pemikiran dan praktik hidup yang sesuai dengan hal itu. Jadi, tidakkah kita mengharapkan baris-baris kontinuitas di antara Yesus dan gerakan yang la dirikan ? Ya!

Bagaimanapun juga, kriteria ini ada manfaatnya bagi kita ­asal diterapkan dengan gaya positif. Ada beberapa bahan dalam Injil Perjanjian Baru yang tidak akan dipilih untuk dikembangkan gereja mula-mula sebagai bagian dari teologi dan praktik mereka. Dengan demikian, sulit dijelaskan bahwa hal itu dikarang oleh gereja mula­-mula. Penjelasan yang terbaik adalah bahwa hal itu berasal dari Yesus. Dalam beberapa kasus, hal yang sarna juga berlaku untuk kecenderung­an orang Yahudi. Pergaulan Yesus dengan orang berdosa yang bebas dan mudah bukan merupakan sesuatu yang dilakukan oleh guru-guru agama pada zaman itu (bahkan mungkin orang Kristen tidak akan banyak berbicara tentang hal ini). Jadi sekali lagi, kita memiliki contoh di mana tindakan dan ajaran Yesus agak berbeda dari tindakan dan ajaran orang-orang Yahudi sezamanNya.

E. Latar Belakang Semitisme dan Palestina

Kriteria ini yang kadang-kadang dibagi lagi menjadi dua kriteria atau lebih, menyiratkan bahwa perkataan dan perbuatan yang mencerminkan bahasa Ibrani dan Aram (Semitisme), atau mencerminkan Palestina abad pertama (secara geografis, topografis, adat-istiadat, perdagangan) bisa kita harapkan sebagai informasi yang autentik. Tentu saja, bahan untuk dukungan kriteria ini mungkin berasal dari orang Kristen Yahudi awal dan tidak harus berasal dari Yesus. Bagaimanapun juga, kriteria ini penting. Injil ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi Injil mengakui dan mempertahankan perkataan-perkataan Yesus yang berbicara bahasa Aram dan perbuatan Yesus yang melayani di Palestina pada abad pertama. Jika Injil berbahasa Yunani ini mempertahankan perkataan dan perbuatan Yesus, maka Injil berbahasa Yunani ini harus menunjukkan bukti latar belakang Semitisme dan Palestina, dan Injil lolos kriteria ini.

F. Koherensi (atau Konsistensi)

Akhimya, kriteria koherensi (atau konsistensi) juga bermanfaat dan dalam satu hal berfungsi sebagai pengikat semuanya. Menurut kriteria ini, bahan yang sesuai dengan bahan yang dinilai autentik berdasarkan kriteria lainnya juga bisa dipandang autentik.

Semua kriteria ini memiliki tempat sendiri dan bisa (bahkan telah) memberi sumbangan yang berguna untuk riset ilmiah tentang sejarah Yesus. Hal itu memampukan para ahli sejarah untuk memberi alasan yang baik untuk menilai autentik atau tidaknya perkataan dan perbuatan Yesus. Caranya adalah dengan mengandaikan bahwa sega­la tindakan Yesus, yang tidak mendapat dukungan dari salah satu kriteria atau lebih, harus dipandang tidak autentik. Ketiadaan du­kungan dari kriteria autentisitas tidak berarti bahwa perkataan dan perbuatan yang dipertanyakan tidak bisa berasal dari Yesus.

Di sinilah saya kira banyak sarjana skeptis dan menyimpang, terutama di antara anggota utama Jesus Seminar [termasuk Frans Donald Cs a.k.a Unitarian – red]. Mereka bukan hanya salah menerapkan beberapa kriteria (seperti perbedaan) dan mengabaikan atau menyalahpahami yang lain (seperti latar belakang Semitisme dan Palestina), namun mereka cenderung berpendapat bahwa perkataan dan perbuatan yang tidak didukung oleh kriteria ini harus dinilai tidak autentik. Metode skeptis yang sembrono ini menuntun pada hasil yang terbatas, hasil yang bisa diselewengkan jauh, jika titik awalnva sendiri salah dan menuju ke arah yang salah.

Gambaran tentang Yesus bisa diselewengkan jauh melalui penerapan kriteria autentisitas yang salah pada Injil Perjanjian Baru. Jika Injil dan sumber-sumber ekstrakanonik dimasukkan dalam campuran itu dan diperlakukan seolah-olah sebagai sumber informasi yang sama kunonya dan dapat dipercaya seperti halnya Injil kanonik, problem penyimpangan dibawa pada level baru yang lebih tinggi. Inilah topik yang akan dibahas dalam bab tiga dan empat.

* Sumber : Merekayasa Yesus – Membongkar Pemutarbalikan Injil oleh Ilmuwan Modern, Terjemahan Indonesia oleh Penerbit Andi tahun 2007, Judul asli : Fabricating Jesus, 2005 By Craig Evans

Satu Tanggapan

  1. Oh ya. Suatu kajian teks yang memadai. Memang Alkitab adalah sebuah buku yang banyak mengandung kesalahan redaksional. Ini wajar karena jaman dulu tidak ada mesin foto copy atau mesin cetak. Semua teks harus disalin ulang. Namun yang perlu diingat bahwa dengan kesalahan manusiawinya justru Alkitab mengungkapkan kejujurannya. Dan hal ini tidak mengurangi pesan yang disampaikan Yesus kepada para murid-muridNya termasuk aspek Ke-ilahian-Nya. Karena kita beriman bukan kepada buku atau kitab melainkan kepada Sang Firman itu sendiri, yakni Yesus Kristus. Amen

    Rgds,

    a Sinner

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: