Bidat Nestorian dan Konsili Ekumenis Ketiga

Bidat Nestorian dan Konsili Ekumenis Ketiga

Oleh St. Yohanes Maximovitch

Ketika semua orang yang berani berbicara melawan kekudusan dan kemurnian Maria Sang Perawan Tersuci, melalul suatu usaha yang dibuat untuk menghilangkan penghormatan kepada Sang Bunda sebagai Bunda Allah, namun semuanya dapat dipadamkan. Pada abad ke-5, Uskup Agung Konstantinopel yang bernama Nestorius mulai mengajarkan bahwa Maria hanyalah melahirkan manusia Yesus, yang di dalam diri manusia Yesus inilah Keilahian telah berdiam dan tinggal di dalam tubuhNya sebagaimana seperti di dalam rumah. Awalnya Nestorius mengizinkan presbiter-nya yang bernama Anastasius untuk mengajarkan hal ini dan kemudian dia sendiri mulai ikut mengajarkannya secara terbuka di gereja dan melarang orang untuk memanggil Maria sebagai “Theotokos”, karena dia bukan memberikan kelahiran kepada Manusia-Allah. Ia menganggap menyembah seorang anak yang dibungkus dalam pakaian rombeng dan terbaring di palungan adalah merendahkan dirinya.

Khotbah semacam itu menimbulkan gangguan umum dan menggelisahkan kemurnian iman, awalnya di Konstantinopel dan kemudian di mana-mana gosip mengenai ajaran baru itu tersebar. St. Proklus murid St. Yohanes Krisostomos yang kemudian menjadi Uskup Kyzikus dan kelak menjadi Uskup Agung Konstantinopel, di hadapan Nestorius memberikan khotbah di dalam gereja mengakui bahwa Anak Allah lahir di dalam daging dari Perawan, yang sesungguhnya Perawan itu adalah Theotokos (Pemberi Kelahiran kepada Allah), karena di dalam rahim dari Sang Perawan Termurni, pada saat dia mengandung, Keilahian disatukan dengan Bayi yang dikandung di dalam Roh Kudus dan Bayi ini, meskipun Dia dilahirkan oleh Sang Perawan Maria di dalam kodrat kemanusiaanNya, Bayi itu sudah terlahir sebagai Allah sejati dan manusia sejati.

Nestorius dengan keras kepala menolak mengubah ajarannya dengan berkata bahwa orang harus membedakan antara Yesus dan Anak Allah, sehingga Maria tidak boleh disebut Theotokos, tetapi Khristotokos (Pemberi Kelahiran kepada Kristus), karena Yesus yang dilahirkan Maria hanyalah manusia Kristus (Yang berarti Mesias, orang yang diurapi), seperti halnya juga Allah mengurapi orang-orang pada zaman dahulu, seperti para nabi, hanya saja pengurapan Yesus melampaui para nabi itu di dalam kepenuhan hubungannya dengan Allah. Ajaran Nestorius dengan demikian menetapkan sebuah penyangkalan atas seluruh ekonomia tentang Allah, karena apabila dari Maria hanya terlahir seorang manusia, maka dia bukanlah Allah yang menderita bagi kita, tetapi seorang manusia saja.

St. Kyrilus Uskup Alexandria ketika mengetahui ajaran Nestorius dan mengetahui tentang pertikaian di gereja yang disebabkan oleh ajaran ini di Konstantinopel, menulis surat kepada Nestorius, yang dengan surat itu dia mencoba untuk membujuk Nestorius untuk teguh terhadap ajaran yang telah diakui Gereja dari sejak mulanya, dan agar tidak memperkenalkan apapun yang baru ke dalam ajaran Gereja ini. Sebagai tambahan, St. Kyrilus menulis kepada para imam dan umat di Konstantinopel agar mereka teguh di dalam iman Orthodox dan tidak takut terhadap penganiayaan yang dilakukan Nestorius kepada mereka yang tidak setuju dengannya. Paus Suci Selestinus, bersama dengan umatnya berpegang teguh kepada iman Orthodox.

St. Selestinus pada gilirannya menulis kepada Nestorius dan meminta dia untuk mengajarkan iman Orthodox dan bukannya ajarannya sendiri. Tetapi Nestorius tetap bersikap tuli terhadap semua bujukan dan menjawab bahwa apa yang sedang dia ajarkan adalah iman Orthodox, sedangkan para penentangnya adalah bidat. St. Kyrilus menulis kepada Nestorius lagi dan menyusun dua belas kutukan, yaitu dua belas susunan paragraf mengenai perbedaan-perbedaan pokok dari ajaran Orthodox dan ajaran yang diajarkan Nestorius, mengumumkan pengucilan (ekskomunikasi) ke setiap orang yang menolak bahkan satu saja dari paragraf yang telah disusunnya itu.

Nestorius menolak seluruh tulisan yang disusun oleh St. Kyrilus dan menulis karangannya sendiri mengenai ajaran yang sedang diajarkannya itu, dan seperti halnya dua belas paragraph yang ditulis oleh St. Kyrilus, dia menjatuhkan kutukan (yaitu dikucilkan/diekskomunikasi/dilarang menerima sakramen Gereja) setiap orang yang tidak menerima tulisannya itu. Bahaya yang menyerang kemurnian iman meningkat dari waktu ke waktu. St. Kyrilus menulis surat kepada Theodosius Muda, yang kemudian memerintah Konstantinopel, dan juga menulis kepada Evdokia, isteri Theodosius dan juga kepada saudari Kaisar yang bernama Pulkheria, St. Kyrilus memohon mereka agar meneguhkan diri mereka dengan ajaran­-ajaran Gereja dan mengendalikan bidat.

Kemudian diputuskan untuk menyelenggarakan suatu Konsili Ekumenis, yang di dalam rapt tersebut para rohaniwan yang dikumpulkan dari ujung-ujung bumi, diharuskan untuk memutuskan apakah keyakinan yang diajarkan oleh Nestorius adalah Orthodox. Sebagai tempat untuk konsili tersebut, yang menjadi Konsili Ekumenis ke-Tiga, mereka memilih kota Efesus, kota di mana Perawan Tersuci Maria dulu pernah tinggal bersama dengan Rasul Yoharies Penginjil. St. Kyrilus mengumpulkan para Uskup sesamanya dari Mesir dan bersama dengan mereka itu mengadakan perjalanan ke Efesus melalui laut. Dari Antiokhia, melalui jalan darat, datanglah Yohanes Uskup Agung Antiokhia bersama dengan para Uskup dari wilayah Timur lainnya. Uskup Roma, St. Selestinus, tidak dapat pergi dan meminta St. Kyrilus untuk mempertahankan iman Orthodox, dan sebagai ganti dirinya, St. Selestinus mengirimkan wakilnya dua orang uskup dan presbiter Filipus dari Gereja Roma, kepada mereka juga diberikan pengarahan tentang apa yang harus dikatakan dalam konsili nanti. Datang juga ke Konstantinopel dari pihak Nestorius, para uskup dari daerah Konstantinopel, dan para uskup dari Palestina, Asia Kecil dan Syprus.

Pada tanggal 10 Juli menurut perhitungan bangsa Romawi atau tanggal 22 Juni tahun 431, di Gereja Perawan Maria – Efesus, para uskup berkumpul, dipimpin oleh Kyrilus Uskup Agung Alexandria, dan juga Memnon Uskup Efesus. Di tengah-tengah mereka diletakkan sebuah Injil sebagai tanda dari kepemimpinan Konsili Ekumenis oleh Kristus sendiri. Pada pembukaan dibacakan Pengakuan Iman yang telah disusun pada Konsili Ekumenis yang pertama dan kedua, kemudian dibacakan juga kepada Konsili tersebut, Pernyataan Kekaisaran yang dibawa oleh wakil­-wakil Kaisar Theodosius dan Kaisar Valentinianus, yaitu para Kaisar dari wilayah Timur dan Barat.

Setelah Pernyataan Kekaisaran diperdengarkan, pembacaan dokumen-dokumen dimulai, dan ada juga dibacakan surat-surat penggembalaan dari Kyrilus dan Selestinus kepada Nestorius, dan juga dibacakan jawaban-jawaban dari Nestorius. Konsili tersebut melalui mulut para anggotanya, mengumumkan pengajaran Nestorius sebagai tidak benar dan mengutuknya, mengumumkan Nestorius dilepas dari jabatan dan ke-imamatan-nya. Sebuah dekrit disusun mengenai hal ini dan ditandatangani oleh 160 anggota konsili dan oleh karena beberapa yang hadir itu juga mewakili uskup-uskup lainnya yang tidak memiliki kesempatan untuk hadir dalam Konsili tersebut, maka dekrit tersebut sebenarnya merupakan keputusan lebih dari 200 orang uskup, yang memiliki jabatan mereka di berbagai daerah pemerintahan Gereja pada saat itu, dan mereka bersaksi bahwa mereka mengakui Iman yang dari sejak zaman dahulu telah dipelihara di dalam wilayah setempat mereka.

Dengan demikian dekrit dari Konsili adalah suara dari Gereja Ekumenis, yang dengan jelas mengungkapkan imannya bahwa Kristus, yang dilahirkan dari Perawan itu adalah Allah sejati yang menjadi Manusia dan oleh karena Maria melahirkan manusia sempurna yang pada saat bersamaan adalah Allah sempurna, maka dia dengan patut dan benar harus dihormati sebagai Theotokos.

Pada akhir masa konsili, dekrit tersebut segera diumumkan kepada masyarakat yang sedang menunggu. Seluruh Efesus bersukacita ketika mengetahui bahwa penghormatan kepada Perawan Suci telah dipertahankan, karena Sang Perawan secara khusus dihormati di kota ini, kota yang pernah ditinggalinya pada saat hidupnya di dunia ini dan menjadi Pelindung setelah kepergiannya menuju kehidupan kekal. Orang­-orang menyarnbut para Bapa Konsili dengan amat gembira ketika pada sore hari para Bapa Konsili tersebut pulang ke rumah setelah acara rapat. Orang­-orang itu menyertai mereka sampai ke rumah dengan obor menyala dan bakaran dupa di jalan-jalan. Di mana-mana terdengar ucapan-ucapan bahagia, memberi kemuliaan kepada Yang Selalu Perawan, dan pujian­-pujian kepada para Bapa Konsili yang telah mempertahankan Nama Sang Theotokos melawan bidat-bidat. Dekrit Konsili tersebut dipajang di jalan-­jalan kota Efesus.

Konsili itu menyelenggarakan lima acara rapat lagi, pada tanggal 10 dan 11 Juli, tanggal 16, 17 dan 22 Juni dan tanggal 31 Agustus. Pada acara ini ditetapkan di dalam enam kanon, tindakan-tindakan penanggulangan terhadap mereka yang berani menyebarkan ajaran Nestorius dan mengubah dekrit Konsili Efesus.

Untuk keluhan para Uskup Syprus terhadap keingingan-keinginan Uskup Antiokhia, Konsili mengeluarkan dekrit bahwa Gereja Syprus harus memelihara kedaulatannya dalam pemerintahan Gereja yang telah dimilikinya sejak para Rasul, dan agar secara umum tidak satu pun uskup yang diperbolehkan memasukkan suatu wilayah ke dalam wilayahnya padahal wilayah itu lebih dahulu sudah berdaulat. “Agar kesombongan kuasa duniawi tidak menyerobot dengan dalih jabatan ke-imamatan, dan agar kita tidak kehilangan serta tidak menghancurkan sedikit demi sedikit kebebasan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus, Pembebas segenap manusia dengan darahNya sendiri”.

Demikian juga Konsili meneguhkan pengutukan bidat Pelagianisme, yang mengajarkan bahwa manusia dapat diselamatkan dengan kekuatannya sendiri tanpa perlu memiliki kasih karunia dari Allah. Juga diputuskan beberapa perkara mengenai pemerintahan gereja dan juga mengirimkan surat-surat penggembalaan kepada para uskup yang tidak menghadiri Konsili, mengumumkan dekrit-dekrit yang telah dikeluarkan Konsili dan memanggil seluruh umat untuk menjaga Iman Orthodox dan kedamaian Gereja. Pada saat yang sama Konsili tersebut mengumumkan bahwa pengajaran Gereja Ekumenis Orthodox telah dengan sepenuhnya dan dengan cukup jelas ditetapkan di dalam Pengakuan Iman Nikea-­Konstantinopel, oleh karenanya Konsili ini tidak menyusun Pengakuan Iman yang baru dan melarang untuk menyusun pengakuan iman baru lainnya di kemudian hari. Ini berarti melarang membuat Pengakuan Iman lainnya atau mengubah Pengakuan yang telah ditetapkan pada Konsili Ekumenis ke Dua.

Dekrit susulan ini diusik beberapa abad kemudian oleh orang-orang Kristen Barat ketika, mula-mula di tempat-tempat tertentu lalu di seluruh Gereja Roma, ditambahkan kepada Pengakuan Iman itu bahwa Roh Kudus keluar dari “Sang Putra”, dan tambahan itu disetujui oleh Paus Roma sejak abad ke 11, meskipun sejak Konsili Efesus para Paus Roma dimulai oleh St. Selestinus, dengan teguh memelihara keputusan Konsili Efesus, yang merupakan Konsili ketiga, dan mereka menerapkannya.

Dengan demikian kedamaian yang dihancurkan oleh Nestorius datang sekali lagi ke dalam Gereja. Iman yang benar telah dijaga dan pengajaran palsu dinyatakan salah.

Konsili Efesus dengan layak ditinggikan sebagai Konsili Ekumenis, dengan derajat yang sama dengan Konsili-konsili terdahulu di Nikea dan Konstantinopel. Karena dihadiri perwakilan-perwakilan dari seluruh Gereja. Keputusan-keputusannya diterima oleh seluruh Gereja ”dari satu ujung bumi ke ujung lainnya”. Pada konsili ini diakui ajaran yang telah dipegang dari zaman Rasuliah. Konsili ini tidak mendirikan pengajaran baru, tetapi dengan lantang bersaksi akan kebenaran yang beberapa orang telah berusaha mencoba untuk menggantinya. Konsili ini dengan tepat menetapkan pengakuan akan Keilahian Kristus yang dilahirkan dari Perawan Maria. Kepercayaan gereja dan penghakimannya mengenai pertanyaan masalah ini kini begitu jelas terungkap bahwa tak seorangpun dapat menganggap penalarannya sendiri berasal dari Gereja. Di kemudian hari muncul juga pertanyaan lain yang membutuhkan keputusan seluruh Gereja untuk menjawabnya, tetapi bukan pertanyaan apakah Yesus Kristus itu Allah atau bukan.

Konsili-konsili berikutnya mendasarkan keputusannya pada dekrit-­dekrit yang mendahuluinya. Mereka tidak menyusun Pengakuan Iman yang baru, tetapi hanya memberi keterangan terhadap dekrit-dekrit Konsili Ekumenis terdahulu. Pada Konsili Ekumenis ketiga dengan tegas dan jelas mengakui pengajaran Gereja mengenai Bunda Allah. Sebelumnya Para Bapa Kudus telah mempersalahkan orang yang memfitnah hidup tanpa noda dari Perawan Maria dan kini sehubungan dengan mereka yang mencoba untuk mengurangi kehormatannya, telah diumumkan kepada semua orang: “Orang yang tidak mengakui Immanuel sebagai Allah sejati dan oleh karenanya tidak mengakui Perawan Suci sebagai Theotokos karena dia memberi kelahiran di dalam daging kepada Sang Sabda yang berasal dari Allah Sang Bapa dan yang telah menjadi daging, biarlah orang itu di-anathema (disisihkan dari Gereja).” (Anathema pertama St. Kyrilus dari Alexandria).

Musuh Utama Penghormatan terhadap Bunda Allah

Lebih luas iman kepada Kristus tersebar dan Nama Sang Juru Selamat Dunia dimuliakan di bumi, dan bersama dengan Dia juga dimuliakan dia yang bersedia menjadi Bunda dari Manusia-Allah, maka lebih besar jugalah kebencian musuh-musuh Kristus bangkit melawan BundaNya. Maria adalah Bunda Yesus. Dia menunjukkan teladan kemurnian dan kebenaran secara diam-diam hingga kini, dan lebih jauh dia kini telah pergi dari kehidupan ini, dia adalah penyokong yang amat berkuasa bagi orang-orang Kristen, meskipun dia tak nampak oleh mata jasmani. Oleh karenanya semua yang membenci Yesus Kristus dan tidak percaya kepadaNya, yang tidak mengerti pengajaranNya, atau lebih tepat lagi tidak mau mengerti sebagaimana yang dimengerti Gereja, yang ingin menggantikan pengajaran Kristus dengan penalaran manusia mereka ­- semua kebencian mereka ini terhubungkan kepada Kristus, kepada Injil dan Gereja dan kepada Sang Perawan Termurni Maria. Mereka menghendaki untuk mengecilkan arti Sang Bunda, agar dengan demikian juga menghancurkan iman kepada Putranya, supaya membentuk gambaran palsu mengenai Sang Bunda diantara orang-orang agar mereka punya kesempatan untuk membangun kembali seluruh ajaran Kristen di atas fondasi yang berbeda. Di dalam rahim Maria, Allah dan manusia disatukan. Dia adalah orang yang melayani sedemikian itu sebagai anak tangga bagi Putra Allah yang turun dari Surga. Dengan menghujamkan tusukan kepada penghormatan kepada Sang Bunda, berarti menusuk Kekristenan pada akarnya dan membinasakan Kekristenan dari fondasinya yang paling dasar.

Dan awal mula dari kemuliaan surgawi Bunda kita tertera di bumi oleh riuh rendahnya kedengkian dan kebencian terhadapnya oleh orang­-orang yang tidak percaya. Ketika setelah meninggalnya, para Rasul membawa tubuhnya untuk dimakamkan di Getsemani, ke tempat yang dipilihnya sendiri, Yohanes Penginjil pergi dengan membawa ranting dari Firdaus yang dibawa Malaikat Penghulu Gabriel untuk Sang Perawan Suci tiga hari sebelum kejadian ini, ketika dia memberitahukan kepada Bunda akan mendekatnya saat kepergiannya ke kerajaan surga.

“Ketika Israel pergi ke Mesir, keluar dari rumah Yakub dari antara orang-orang barbar,” demikian St. Petrus mengidung dari Mazmur 133; “Alleluia,” menyanyilah segenap kumpulan para rasul bersama dengan para murid mereka, seperti Dionysios dari Areopagus, yang juga secara mujizat terangkat saat itu juga ke Yerusalem. Dan ketika kidung kudus ini sedang dinyanyikan, – yang oleh orang-orang Yahudi disebut dengan “Alleluia Agung,” yaitu kidungan agung “Terberkatilah Engkau Tuhan”, ­seorang imam Yahudi bernama Antonius melompat ke arah keranda dan akan membalik keranda itu lalu hendak membuang tubuh Bunda Allah ke tanah.

Kekurangajaran Antonius segera mendapat ganjaran : Mikhael Malaikat Penghulu dengan pedang yang tak nampak mata memotong tangannya, dan tangan itu menggelantung di keranda. Kilat menyambar Antonius, ketika tersiksa rasa sakit, dalam kesadaran akan dosanya, dia berbalik berdoa kepada Yesus yang pernah ia benci itu, dan segera saja menjadi sembuh. Dia tidak menunda lagi untuk menerima iman Kristen dan mengakuinya di hadapan kaum agamawan kawan-kawannya dulu, dan dengan perbuatannya itu dia menerima mahkota kemartiran, dia dibunuh kawan-kawan lamanya. Demikianlah usaha untuk menyerang kehormatan Bunda Allah justru menjadi kemuliaan yang lebih besar lagi bagi Bunda Allah.

Musuh-musuh Kristus tidak lebih jauh meneruskan memperlihatkan ketidakhormatan mereka kepada tubuh Bunda Tersuci pada saat itu dengan kekerasan yang kasar, tetapi kedengkian mereka tidak mereda. Ketika melihat iman Krtisten tersebar ke mana-mana, mereka mulai menyebarkan berbagai fitnah busuk tentang orang-orang Kristen. Mereka juga tidak menyebut nama Bunda Allah, dan mereka mengarang cerita bahwa Yesus Nazaret berasal dari lingkungan dan rumah tangga yang tak bermoral, dan bercerita kalau BundaNya telah berhubungan dengan seseorang prajurit Romawi.

Tetapi dusta itu terlalu kentara untuk dongeng ini supaya mendapat perhatian serius. Seluruh keluarga Yusuf Sang Tunangan dan Maria sendiri dikenal dengan amat baik oleh seluruh penduduk Nazaret dan sekeliling negeri pada zaman mereka. “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu ? Bukankah ibu-Nya, bernama Maria dan saudara-saudara-Nya : Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas ?Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita (Matius 13:54-55; Markus 6:3; Lukas 4:22). Demikan dikatakan sesama mereka penduduk Nazaret ketika Kristus menyingkapkan kebijaksanaanNya yang lain di hadapan mereka dalam sinagoga. Di kota-kota kecil, perkara-perkara keluarga dari setiap orang diketahui khalayak dengan baik. Pengawasan yang amat ketat dipelihara terhadap kesucian kehidupan pernikahan.

Akankah orang-orang sungguh-sungguh berlaku hormat terhadap Yesus, memanggil Dia untuk mengajar di sinagoga, apabila Dia dilahirkan dari hubungan yang tidak sah ? Kepada Maria, hukum Musa akan diterapkan, yaitu hukum yang memerintahkan orang-orang semacam itu untuk dirajam dengan batu hingga mati dan seharusnya orang-orang Farisi akan berkali-kali mengambil kesempatan untuk mencela Kristus oleh karena perbuatan BundaNya. Tetapi amat berlawanan dengan kenyataannya, Maria menerima hormat yang besar. Di Kana dia adalah tamu terhormat pada pesta pernikahan, dan meskipun ketika Putranya dihukum, tidak seorangpun mati mengolok-olok atau mencela BundaNya.

Usaha-usaha Orang Yahudi dan Kaum Bidat Untuk Menghina Keperawanan Kekal Maria

Para saksi dusta orang-orang Yahudi menjadi yakin bahwa adalah tidak mungkin untuk menghina Bunda Yesus, dan dengan dasar informasi yang mereka sendiri miliki, adalah jauh lebih mudah untuk membuktikan hidup Maria patut dipuji. Oleh karenanya, mereka kehilangan para saksi dusta dari kaum mereka sendiri ini, dan para pemfitnah itu telah diambilalih oleh orang-orang penyembah berhala. (Origenes, Melawan Celsus, I), dan berusaha untuk membuktikan setidaknya, bahwa Maria bukanlah seorang perawan ketika Dia melahirkan Kristus. Bahkan mereka berkata bahwa nubuat-nubuat mengenai kelahiran Mesias oleh seorang perawan tidak pernah ada, dan oleh karenanya sungguh sia-sia total orang-orang Kristen berpikir untuk meninggikan Yesus oleh karena kenyataan bahwa suatu nubuat diharapkan terpenuhi olehNya.

Para penerjemah Yahudi dicari (.Aquila, Symakhos, Theodotion), dan mereka membuat terjemahan baru dari Perjanjian lama ke dalam Bahasa Yunani dan di dalamnya diterjemahkan nubuat Yesaya yang terkenal itu (Yesaya 7:14): Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung. Mereka mengacaukan kata Ibrani Aalma sebagai “perempuan muda” dan bukan “perawan“, sedangkan terjemahan suci dari Tujuh Puluh Penerjemah (Septuaginta), ayat ini diterjemahkan: “Sesungguhnya, seorang perawan akan mengandung.” (sayangnya tetjemahan Bahasa Indonesia oleh LAI tidak menggunakan tetjemahan Septuaginta ini-pent.)

Dengan terjemahan baru ini mereka berharap untuk membuktikan bahwa orang-orang Kristen dengan dasar terjemahan yang salah terhadap kata Aalma, ingin menerapkan sesuatu yang sama sekali mustahil kepada Maria – yaitu melahirkan tanpa seorang laki-Iaki, tetapi menurut mereka sesungguhnya kelahiran Kristus tidak berbeda dari kelahiran manusia lainnya.

Akan tetapi, tujuan jahat dari para penerjemah baru ini dengan jelas terungkap karena dengan perbandingan berbagai ayat di dalam Kitab Suci, menjadi jelaslah bahwa kata Aalma menunjuk dengan tepat terhadap “perawan”. Dan sesungguhnya bukan hanya orang-orang Yahudi, tetapi bahkan para penyembah berhala, dengan dasar tradisi mereka sendiri dari berbagai nubuat, mereka mengharapkan Sang Penebus dunia agar dilahirkan dari seorang Perawan. Injil-injil dengan jelas menetapkan bahwa Tuhan Yesus telah dilahirkan oleh seorang Perawan.

Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tak mengenal laki-laki ? (LXX) demikian tanya Maria, yang berarti telah memberikan suatu sumpah keperawanan kepada Gabriel Malaikat Penghulu, yang telah memberitahukan kelahiran Kristus kepadaNya.

Dan Malaikat menjawab: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1 :34-35)

Selanjutnya Malaikat tersebut menampakkan diri juga kepada Yusuf yang benar, yang akan mengeluarkan Maria dari rumahnya, ketika melihat bahwa Maria telah mengandung sebelum menikah dengannya. Kepada Yusuf Malaikat Gabriel berkata: Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Dan Malaikat juga mengingatkan dia akan nubuat Yesaya bahwa seorang perawan akan mengandung (Matius 1: 18-25).

Tongkat Harun yang bertunas, batu karang dari gunung yang terbelah bukan oleh perbuatan tangan dan dilihat oleh Nebukadnezar dalam mimpi dan ditafsirkan oleh Nabi Daniel, gerbang tertutup yang dilihat oleh Nabi Yehezkiel, dan banyak lagi lainnya di dalam Perjanjian Lama, memberi pra-gambaran terhadap pemberi lahiran Sang Perawan. Sebagaimana Adam telah diciptakan dengan Sabda Allah dari bumi yang belum terolah dan perawan, demikan juga Sabda Allah menciptakan daging bagi diriNya sendiri dari rahim seorang perawan ketika Putra Allah menjadi Adam yang baru agar memulihkan kejatuhan Adam pertama ke dalam dosa (St. Ireneus dari Lyons, Buku III).

Kelahiran Kristus yang tanpa benih itu dapat dan hanya dapat disangkal hanya oleh mereka yang menyangkal Injil, sedangkan Gereja Kristus dari sejak dahulu mengaku bahwa Kristus “menjelma oleh Sang Roh Kudus dan dari Sang Perawan Maria”. Tetapi kelahiran Allah dan Yang Selalu Perawan adalah batu sandungan bagi mereka yang ingin menyebut diri mereka sebagai orang Kristen tetapi tidak mau merendahkan pikiran mereka dan tidak mau berusaha giat untuk kemurnian hidup. Kemurnian hidup Maria adalah celaan bagi mereka yang juga tak murni di dalam pikiran mereka. Dengan demikian untuk menunjukkan diri mereka sendiri sebagai orang Kristen, mereka tidak berani menyangkal bahwa Kristus dilahirkan oleh seorang Perawan, tetapi mereka mulai menegaskan bahwa Maria tetap Perawan hanya setelah melahirkan anak pertamanya, Yesus. (Matius 1 :25).

“Setelah kelahiran Yesus,” demikian kata Helvidius, guru palsu pada abad ke-empat, dan sebagaimana guru palsu lain sebelum dan sesudah dia, “Maria menikah dengan Yusuf dan dengannya dia memiliki anak-anak, yang disebut di dalam Injil sebagai saudara-saudara laki-laki dan perempuan dari Kristus.” Tetapi kata “sampai” (dalam Matius 1:25) tidak menunjukkan bahwa Maria tetap perawan hanya untuk saat tertentu. Kata “sampai” dan kata-kata yang sama dengan itu sering menunjuk pada kekekalan. Dalam Kitab Suci dikatakan mengenai Kristus: “Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan !” (Mazmur 71:7 LXX), tetapi ini tidak berarti bahwa ketika nanti tidak ada lagi bulan di akhir zaman, keadilan Allah tidak akan ada lagi, padahal tepatnya, lebih dari itu keadilan Allah akan menang. Dan, apakah artinya ketika ada dikatakan: Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh­ Nya di bawah kaki-Nya. “(1 Korintus 15 :25). Apakah Tuhan nanti akan memerintah hanya pada saat semua musuhnya di bawah kakiNya ? Dan Daud, dalam Mazmur ke-empat pada Kenaikan dengan berkata: “Lihat, seperti mata para hamba laki-Iaki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita. (Mazmur 12i2 LXX). Dengan demikian Sang Nabi akan memandang Tuhan sampai Tuhan mengasihani dia, tetapi setelah dia memperoleh belas kasihan, apakah dia akan mengarahkan matanya ke tanah ? (Yerome yang terberkati, “Mengenai Tetap Perawannya Maria yang terberkati”) Sang Juru Selamat dalam Injil berkata kepada para rasul (Matius 28:20): “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. ” Dengan demikian setelah akhir zaman, Tuhan akan meninggalkan para muridNya, dan kemudian, apakah ketika mereka akan menghakimi duabelas suku Israel di atas dua belas tahta, mereka tidak akan memiliki persekutuan yang dijanjikan itu dengan Tuhan? (Yerome yang terberkati, op.cit).

Ini sama tidak benarnya dengan berpikir bahwa saudara-saudara laki-laki dan perempuan Kristus adalah anak-anak dari BundaNya yang tersuci. Kata “saudara” dan “saudari” memiliki makna berbeda. Untuk memaknai hubungan keluarga tertentu antara orang-orang atau menyebut kedekatan secara rohani, kata-kata ini digunakan beberapa kali di dalam makna yang lebih luas dan kadang kala di dalam pengertian yang lebih sempit. Dalam kasus biasa, orang-orang disebut saudara-saudara dan saudari-saudari apabila rnereka rnerniliki ayah dan ibu yang sama atau rnerniliki ayah yang sama atau ibu yang sama atau apabila mereka rnerniliki ayah atau ibu yang berbeda, apabila kemudian orang tua mereka (telah menjanda atau menduda) lalu rnenikah (menjadi saudara-saudara tiri) atau apabila orang tua rnereka terikat oleh derajat kekeluargaan yang dekat.

Di dalam Injil tak dapat ditemukan dimanapun bahwa mereka yang disebut sebagai saudara-saudara Yesus adalah anak-anak dari BundaNya atau dianggap sebagai anak-anak dari BundaNya. Sebaliknya, diketahui bahwa Yakobus dan yang lainnya adalah anak-anak Yusuf, Tunangan Maria, yang menduda dengan anak-anaknya dari istrinya yang pertama (St. Epiphanius dari Syprus, Panarion, 78). Dernikian pula, saudari­-saudari BundaNya, Maria isteri Kleopas, yang berdiri bersama BundaNya di kaki Salib Tuhan (Yohanes 19:25), Maria yang ini juga punya anak-anak, yang dalam cara pandang hubungan dekat kekeluargaan dengan sepenuhnya benar juga dapat disebut saudara-saudara Tuhan. Bahwa orang-orang yang disebut saudara-saudara dan saudari-saudari Tuhan bukanlah anak-anak BundaNya dengan jelas berasal dari fakta bahwa Tuhan mempercayakan BundaNya sebelurn kernatianNya kepada muridNya kekasih : Yohanes. Mengapa Dia harus rnelakukan hal ini apabila BundaNya itu memiliki anak-anak yang lain selain Dia sendiri? Anak-anak yang lain itulah yang seharusnya akan rnerawat Bunda mereka. Anak-anak dari Yusuf yang disangka ayah Yesus, tidak menganggap diri mereka berkewajiban untuk memelihara orang yang rnereka anggap sebagai ibu tiri, atau setidaknya mereka tidak rnemiliki kasih bagi Bunda Maria seperti yang dimiliki oleh anak kandung terhadap orangtuanya, atau tidak merniliki juga kasih sebagairnana kasih Yohanes anak angkatnya itu.

Dengan demikian, sebuah pengkajian yang teliti mengenai Kitab Suci mengungkapkan dengan kejelasan mutlak mengenai ketidak-sahihan keberatan mengenai Kekekalan Keperawanan Maria dan mernpermalukan mereka yang rnengajarkan berbeda dari itu.

Sumber : Synaxis GOI Edisi November 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: