Misteri Maria Menurut St.Basilius Agung

Misteri Maria

Oleh St.Basilius Agung

Di dalam pengajaran tentang keselamatan kepada dunia luar dan di dalam Injil, Gereja tidak secara eksplisit menetapkan ajaran-ajarannya, meskipun ajaran-ajaran itu selalu hadir secara mistika di dalam Kitab-kitab Suci [l] seperti “harta karun yang tersembunyi di dalam tanah”[2]. Bertahun-tahun setelah kematian ibunda Yesuslah Perjanjian Baru, telah diselesaikan, meskipun begitu Perjanjian Baru tidak menyebut tentang ke-tetap-perawanan-nya, tahun-tahun akhir dari kehidupannya, dan pengangkatan serta penguburannya itu sendiri. “Ada banyak hal besar yang tidak tertulis di dalam Kitab-kitab dengan kata-kata yang sama tetapi telah dikumandangkan oleh para bapa gereja dan merupakan kekuatan yang setara dengan Kitab-kitab suci. Sebenarnya, rumusan “Putra adalah satu esensi (ηομοσιουσ) dengan Sang Bapa, sebagai contoh, tidak ditemukan di dalam Kitab-kitab yang terilham secara ilahi; rumusan tadi dijadikan jelas di kemudian hari oleh para bapa gereja, dan demikian pula rumusan mengenai Roh Kudus adalah Allah, dan bahwa Sang Kyriotokos adalah Theotokos. Ada hal lain juga dan memerlukan waktu lama untuk menyebutkan mereka satu per satu. Apabila mereka itu tidak diakui, penyembahan kita yang benar akan disangkal.”[3]

Percaya dalam Kristus dan kebangkitannya dalam daging adalah hal pertama yang diperlukan sebagai batu penjurn dimana selurnh bangunan iman Kristen bertumpu. Tanpa ini, mustahilah untuk mendekati “banyak perkara lain yang akan mengambil tempat kemudian.”[4] Pengalaman para rasul dan saksi mata mencatat misteri akhir Maria, sebagai contoh : sampai kepada kita di dalam tradisi Apostolik dan patristik dari Gereja. Maria meninggal setelah sekitar dua belas tahun setelah Kebangkitan Anaknya. Ia turun ke dunia dan menerima jiwa ibunya dan pada hari ke tiga, membangkitkan tubuhnya yang tak lapuk dari kuburan, mengangkat dia ke Gereja, mengangkat tubuh dan jiwanya. Sangat pantaslah apabila ia menerima buah-buah pertama dari kebangkitan Sang Sabda yang menjadi Daging, karena daging Sang Firman adalah daging bundaNya.

Apabila kita berbicara tentang misteri akhirnya, bagaimanapun, kita harus juga berbicara mengenai misteri dari Maria yang Selalu Perawan, mengenai Maria Sang Bunda Allah dan pada saat yang sama berbicara mengenai Sang Pensyafaat.[5] Berbicara mengenai salah satu gelarnya berarti membicarakan seluruh gelar itu. Untuk memisahkan salah satu gelar ini dari yang lain adalah kesalahan umum dari para penyelidik yang bagi pengalaman gerejawi Orthodox hal semacam itu adalah asing. Hal-hal ini adalah paradoks-paradoks dari Maria, yaitu mengenai keibuannya yang menjaga keperawanannya dan keperawanannya yang menjaga keibuannya, dan mengenai keberadaannya yang terbuat dari debu tanah walau demikian sebelum segala zaman menjadi yang bersama-sama menyebabkan penciptaan segala sesuatu. Paradoxa-nya adalah endoxa-nya atau misteri­-misteri yang mulia tak terpisahkan dari misteri yang satu dan agung, yaitu Inkarnasi, satu-satunya “hal baru di muka bumi” [6].

Keyakinan Orthodox kepada Maria, sebagaimana para bapa mengajar kita, dapat hidup hanya di dalam konteks Kristologi dan lnkarnasi, yaitu di dalam konteks dari siapa dan apa Yesus Kristus itu dan dari makna lnkarnasi dalam sejarah dan di dalam kehendak kekal Allah sebelum segala zaman. Anak yang dilahirkan Maria bukanlah manusia biasa yang begitu saja “diadopsi” oleh Sang Bapa, atau direbut setelah kelahirannya.

Jadi ketika Sang Juruselamat keluar dari rahim ibuNya, tidak ada seorangpun yang hadir untuk menyaksikan kehadirannya di dunia, bahkan Yusuf, sebagai ayahNya secara hukum, mungkin juga tidak menyaksikan kelahiranNya. Tidak ada seorang manusia fanapun yang ada dan menjadi saksi atas terjadinya keajaiban dari segala keajaiban ini, kelahiran yang paling istimewa di sepanjang sejarah manusia. Tidak seorangpun yang hadir untuk berbagi kebahagiaan atas peristiwa besar ini. Tidak ada seorangpun yang hadir untuk kemudian mengabarkan pada kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul di Bethlehem untuk sensus bahwa Mesias yang telah lama dinantikan telah lahir, dan jaraknya hanya sepelemparan batu dari mereka. Dengan diam-diam dan tak terduga Allah dalam daging memasuki dunia dengan hanya disaksikan oleh ibuNya yang kudus. Hanya Maria yang telah diberkati untuk mengandung Dia selama sembilan bulan, yang sekarang diberkati untuk melihat Dia menyelinap ke dunia sebagai bayi tanpa dosa yang tak berdaya. Hanya Maria yang secara istimewa mewakili umat manusia untuk melihat dimulainya era baru. Maria lebih dari pantas untuk mendapatkan kehormatan tersebut, karena diantara seluruh penghuni dunia ini, hanya dialah yang tidak mempunyai dosa serius, hanya dia yang mentaati dan berbakti kepada Allah dengan segenap hatinya, segenap perasaan dan jiwanya.

Santo Lukas adalah seorang dokter yang berpengalaman, dan dalam posisi yang tepat untuk menggambarkan kelahiran yang unik tersebut. Dia mengajak kita untuk percaya, bahwa selama proses kelahiran Sang Juruselamat, tidak ada tangis, tidak ada desah kesakitan atau ketidak-enakan yang biasanya menyertai proses kelahiran manusia. Maria melahirkan Yesus tanpa rasa sakit. Lebih jauh lagi, dalam kelahiran tersebut, tidak merusak keperawanannya. Seperti pada waktu konsepsi yang tidak merusakkan keperawanannya, sekarang, amat logis bahwa Yesus keluar dari rahimnya tanpa merobek keperawanannya. Seperti sinar matahari yang menembus kaca jendela tanpa memecahkannya, begitu juga Yesus keluar dari rahim ibuNya tanpa merusakkan selaput daranya.

Sejak zaman rasul-rasul, orang-orang Kristen selalu menghormati gua tempat kelahiran Kristus sebagai tempat kudus, dan mereka seringkali berziarah ke tempat tersebut. Tapi mereka tidak lama menikmati hal tersebut. Pada tahun 135 M seorang Kaisar Roma, Hadrianus, yang merupakan musuh Gereja, mengunjungi Palestina dan menjadikan gua tersebut sebagai tempat pemujaan Dewa Adonis. Sungguh suatu perbuatan yang tidak beriman. Tempat yang paling kudus di dunia itu telah menjadi tempat penyembahan berhala. Dan tempat dimana bayi Yesus menangis telah berubah menjadi tempat dimana para penyembah berhala tersebut meratap kepada Dewi Venus.

Politik Hadrianus yang mengotori tersebut, tidak berhenti sampai disitu. Untuk melampiaskan kemarahannya kepada rakyat Yahudi yang memberontak kepada Roma, di bawah pimpinan Yosep Bar Kokbah, kaisar berusaha menjadikan rakyat Palestina sebagai penyembah berhala. Kemudian untuk menghina orang Kristen sekali lagi, ia mendirikan kuil pemujaan Dewi Aphrodit di Gunung Golgota, yaitu tempat dimana Yesus disalibkan, dan mengubah nama Yerusalem menjadi Aelia Capitolina.

Keberhasilan kaisar tersebut hanya sementara. Pada akhirnya, semua hal tersebut gagaL Ia tidak berhasil menghapuskan memori gua tersebut sebagai tempat kelahiran Yesus. Malahan penyembahan berhala yang dilakukan di gua tersebut memperkuat memori umat Kristen terhadap tempat ku….

[1] St. Basilius Agung membuat suatu perbedaan antara tulisan-tulisan pengajaran Gereja bagi khalayak atau pengajaran umum (kyrigma) dan ajaran-ajaran tak tertulis atau lisan yang diberikan “di dalam misteri oleh tradisi para Rasul.” Pokok dari ajaran-ajaran ini, demikian ia berkata, adalah setara dengan “ajaran-ajaran tertulis” dan memiliki “otoritas yang sarna”. Dogma-dogma (dogmata) yang “tak ditujukan untuk khalayak”, “tak tertulis” adalah misteri­misteri kudus, “yang dijalankan dalam keheningan,” tumbuh “dari tradisi yang sunyi dan mistika, ajaran-ajaran yang tak ditujukan kepada khalayak dan tak terlukiskan.” (On the Holy Spirit, bab 28, MPG 32) Oleh karena itu, di dalam iman Orthodox, “mistik” dan “mistika” tidak ada hubungannya dengan semacam apa yang disebut “mistikisme”(klenik) tetapi menunjuk kepada empirik Gereja, hidup yang “tersembunyi” di dalam Roh yang tak bertempat tinggal.

[2] Matius 13:44

[3) Theodoros Studites, Second Refutation of the Iconomachs, MPG 99, 365C.

[4) Modestus dari Yerusalem, Encomium on the Dormition, MPG 86-2, 3312B.

[5) Bdk. Bab X di bawah ini. Gelar ini sesuai dengan yang digunakan Μεσιτρια

oleh para bapa gereja.

[6) Imamat 1:9 pasal-pasal Perjanjian Lama di sini adalah dari edisi Septuaginta

Yunani (LXX) (abad ke 2 SM), Perjanjian Lama yang resmi digunakan dalam

Gereja Orthodox.

Sumber : Synaxis Gereja Orthodox Indonesia Edisi November tahun 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: