Bersikap Hormatlah di Rumah Tuhanmu

Hormatlah Di Rumah Tuhanmu

Hari Jumat yang lalu saya mengikuti Misa Jumat pertama di Gereja St.Andreas Kedoya (salah satu paroki di Jakarta), ketika petugas mengantarkan persembahan ke altar, terlihat slempang pertugas yang bertuliskan “Hormatlah Di Rumah Tuhanmu.” Dan saat itu juga saya tergugah dan langsung melihat dan memeriksa kondisi fisik saya saat itu, apakah sudah sesusai dengan yang tertulis pada slempang petugas atau belum sesuai dengan yang diinginkan Tuhan untuk bersikap hormat dalam memenuhi undangan-Nya. Bila kita melihat dan memperhatikan sekeliling kita ketika Misa Kudus berlangsung mulai dari diri kita sendiri sampai dengan umat yang menghadirinya, mungkin anda akan berpikir sama seperti saya, sudahkah sikap hormat itu tercapai sesuai yang diinginkan Yesus, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa?” (Mrk 11:17).

Sikap, tingkah laku dan cara berpakaian yang sopan dan normatif menurut daerah setempat adalah beberapa visual yang mudah kita lihat pada umat ketika menghadiri Misa Kudus dan bila hal ini tidak mencukupi untuk memenuhi sikap hormat di Rumah Bapa akan berdampak secara tidak langsung pada kesakralan Misa Kudus. Ngobrol, tidur, tangisan anak-anak, hilir mudik anak-anak adalah sikap dan tingkah laku yang sering kita jumpai di perayaan Misa dan secara tidak sadar menggangu kekhusukannya. Atmosfer atau suasana sakral jarang sekali berhasil seperti yang kita harapkan. Mungkin kita sering mengomentari bahwa Liturgi Ekaristi sebagai suatu yang membosankan dan lebih buruk lagi perayaan Ekaristi dianggap sering tidak memuaskan atau tidak memberikan solusi penyelesaian masalah hidup, Homili Romo dan nyanyian tidak menyemangati hidup. Hal ini terjadi disebabkan oleh minimnya pengetahuan umat Katolik terhadap Ekaristi, sehingga tidak menyadari bahwa itu semua bukanlah yang utama dari pengharapan kita dalam menghadiri undangan Perjamuan Kudus.

Undangan dari Tuhan setiap Minggu cenderung kita tanggapi dengan cara berpakaian yang tidak memberikan rasa hormat kepadaNya. Berpakaian yang sopan (sesuai dengan normatif pada suatu daerah) jarang ditemui di Gereja. Bila ada seseorang mengundang anda pada sebuah perayaan (pernikahan, ulang tahun dsb), pakaian yang terbaiklah yang pasti dipakai. Anda akan menggunakan kemeja yang bersih, rapih dan sepatu yang tersemir yang semua itu dipenuhi untuk memberikan rasa hormat bagi si-pengundang dan juga menunjukkan bahwa anda sudah memenuhi standar berpakaian dalam menghadiri pesta, sehingga orang tidak berpikir bahwa anda tidak tahu etika berpakaian. Ironis bila kita melihat di perayaan Misa, terlepas dari seseorang berpakaian lusuh karena mungkin ia tidak mempunyai lagi pakaian yang terbaik untuk pergi ke Rumah Bapa, pakaian yang seadanya menjadi pilihan favorit umat seperti layaknya pergi ke rumah teman (sendal, kaos oblong, Jeans robek) atau seakan-akan mereka akan pergi ke pantai atau berpikinik. Bila melihat hal ini kita akan kembali bertanya pada diri sendiri, ”Benarkah kita siap untuk menghadiri undangan Tuhan,” atau hanya menganggap sebagai sebuah kegiatan rutin belaka di tiap minggu atau keterpaksaan hati yang kita bawa untuk dipersembahkan kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Tuluskah kita menghormati undanganNya dan menyantap tubuh dan darahNya bila kita menanggapinya biasa-biasa saja.

Atmosfer Ibadah

Seperti yang sudah dituliskan diatas, bahwa atmosfer atau suasana sakral sering tidak berhasil kita dapatkan. Atmosfer atau suasana adalah sebuah hal manusiawi yang perlu dibangun terlebih dahulu untuk mencapai tujuan suatu acara atau kegiatan. Sebuah pertapaan dibangun dengan atmosfer sunyi dan jauh dari kebisingan dengan tujuan untuk mencapai tingkat meditasi dan keintiman dengan sang Pencipta. Informasi dari lektor sebelum Misa sering terdengar, ”Menon-aktifkan Hp, menjaga anak-anak dari hilir mudik” untuk menciptakan suasana tenang. Akan tetapi hal inipun jarang dapat terealisasi. Inilah fungsi petugas yang tidak hanya memberikan tempat duduk bagi umat yang telat dan mengatur Komuni, tetapi juga menjaga kondisi yang diharapkan tetap terjaga. Petugaspun tidak dapat bekerja sendiri dan dituntut pula kepekaan umat dalam menyikapinya, tegur halus kanan, belakang, depan bila atmosfer mulai tidak terpenuhi, tegur kasih kepada anak anda bila rewel atau tingkah lakunya mengganggu suasana doa dan tuntun anak anda setahap demi setahap untuk menertibkan diri ketika berada di Rumah Tuhan. Suatu waktu saya pernah menghadiri sebuah perayaan ekaristi di gereja Ortodok- Kalimalang, atmosfer kesakralan menurut saya berhasil mereka ciptakan, baik dari cara berpakain (wanita memakai kerudung) dan bau dupa yang membawa sikap konteplatif kepada umatnya. Hal ini bukanlah tujuan saya membandingkan dengan Gereja Katolik, akan tetapi tidaklah salah bila hal yang positif dapat menjadi informasi bagi kita semua.

Perayaan Ekaristi , Surga di atas bumi

Dari penjabaran singkat mengenai kondisi umat dalam menghadiri Misa , saya ingin mengajak anda mengingat kembali dan menyegarkan pengetahuan tentang Ekaristi yang diawali dengan kata kunci ”Sadarkah anda bahwa Ekaristis adalah suatu perayaan Surga di atas bumi dan bersama orang kudus dan Bunda Maria menghadirinya?” Informasi mengenai Ekaristi ini adalah sebuah intisari yang saya ambil dari beberapa pemikir seperti Prof.Scott Hahn dan Romo Pidyarto. Buku Scott Hahn yang berjudul The Lamb’s Supper , The Mass As Heaven on Earth menggoda saya untuk membagikan informasi mengenai Ekaristi kepada saudara-saudara saya dan dengan harapan sedikit demi sedikit kita dapat merubah sikap dan tingkah laku kita dalam mengikuti Misa.

Ekaristi

Ekaristi atau Sakramen Ekaristi biasanya orang memakai istilah ”merayakan kurban Misa dan merupakan peristiwa di mana Ia memateraikan Perjanjian-Nya dengan kita dan menjadikan kita anak-anakNya. Bila kita mencoba merenungkan, apa yang telah dilakukan Yesus menjelang wafat-Nya. Ia mengadakan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya yang meminta untuk umat selalu mengenang / peringatan Perjamuan Terakhirnya ”Perbuatlah ini…menjadi peringatan akan Aku” (1 Kor 11:25) dan dalam misa Yesus membuat Perjanjian Baru-Nya sekali lagi, dan tidak adil bila saat ini kita menanggapinya dengan sikap yang kurang berkenan berkaitan dengan sikap dan tingkah laku kita selagi Misa . Dan untuk lebih mendalam marilah kita lihat definisi dari Ekaristi.

Ekaristi berdasarkan Kamus Teologi adalah kata yang dipakai untuk menyebut seluruh upacara Misa, khususnya bagian kedua (sesudah perayaan Sabda), yang mencapai puncaknya pada konsekrasi roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Krsitus dan berakhir dengan komuni. Ekaristi juga menunjukkan kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur. Ekaristi yang diadakan oleh Kristus pada perjamuan terakhir, adalah yang paling agung di antara sakramen-sakramen yang lain dan merupakan pusat hidup Gereja. Sebagai kurban pujian dan syukur, dimana Kristus hadir sebagai imam dan kurban, Ekaristi menghadirkan kembali perjanjian Baru (1 Kor 11;25 ; Luk22:20) yang dihasilkan oleh wafat dan kebangkitan-Nya yang mendamaikan kita dengan Allah dan mengatisipasikan pemenuhan Kerajaan Allah. Sebagai perjamuan, Ekaristi (Kis2 :46) menjadikan kita peserta dalam perjamuan Tuhan sendiri dan mengungkapkan kesatuan kita yang terdalam di dalam Gereja. Sebagai kuban dan perjamuan, Ekaristi secara berdayaguna melambangkan kurban persembahan bagi orang lain, yang merupakan panggilan semua orang Kristiani.

Penjabaran yang cukup panjang dari kamus teologi karangan Gerald O’Collins,SJ dan Edward G.Farrugia,SJ membuka kembali hati kita untuk menanggapi Ekaristi dengan cara hormat. Kita dapat melihat dari awal penjabaran bahwa Ekaristi dipakai untuk menyebut seluruh upacara Misa. Bagian-bagian atau urutan-urutan dalam upacara misa mulai dari Liturgi Sabda ( masuknya Imam, ritus pembukaan, ritus pertobatan dan pembacaan Kitab Suci) dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi (persembahan, Doa Syukur Agung, ritual Komuni Kudus dan ritual penutup) merupakan perwujudan partisipasi kita yang penuh misteri dalam liturgi surgawi, Paus Yohannes Paulus II menyebut Misa Kudus sebagai ”Surga di atas bumi.”

Ekaristi juga menunjukkan kehadiran nyata Kristus dalam rupa roti dan anggur. Konsili Trente mengajarkan demikian, ”dengan konsekrasi atas roti dan anggur, terjadilah perubahan substansi roti menjadi substansi Tubuh Kristus, dan substansi anggur menjadi substansi Darah-Nya” (Transsubstansiasi). Adapun perubahan susbstansial ini bukan karena kata-kata imam sebagai manusia, melainkan bekat kuasa Roh kudus yang kehadiran-Nya diundang sebelum konsekrasi dan berkat kuasa Sabda Yesus yang menjanjikan kehadiran Tubuh dan Darah-Nya. Konsekrasi adalah bagian inti dari Doa Syukur Agung yang mengisahkan kembali apa yang dilakukan Yesus pada malam terakhir: ”Pada hari sebelum menderita. Ia mengambil roti ..”dan seterusnya sampai :”Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini.” Mengenang Perjamuan Terakhir akan menambah kuat iman kita bahwa roti dan anggur itu benar-benar diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus.

Ekaristi yang diadakan oleh Kristus pada perjamuan terakhir, adalah yang paling agung di antara sakramen-sakramen yang lain. Ritual Komuni merupakan puncaknya dari sakramen Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus dan sesuai dengan Sabdanya : ”Barang siapa yang memakan Aku akan hidup dalam Aku” (Yoh 6:57). Sikap dan tingkah laku kita yang tidak khusuk dan cenderung tidak hormat dalam misa adalah digolongkan sebagai kelalaian dan kelemahan manusiawi. Kita tetap diperkenankan untuk menerima Tubuh Kristus, akan tetapi lebih baik lagi bila kita tidak menerimanya, sebab tidak banyak artinya menerima komuni bila tanpa kesadaran dan persiapan yang memadai. Scoot Hahn dalam bukunya The Lamb’s Supper, menggambarkan penerimaan Tubuh Kristus sebagai puncak dari keseluruhan kesakralan Ekaristi dan juga harapan kita :” Kita menerima Dia (Hosti), yang kita puji dalam kemuliaan dan nyatakan dalam Syahadat! Kita menerima Dia, yang di hadapan-Nya kita berjanji dengan janji suci kita! Kita menerima Dia, yang adalah Perjanjian Baru yang ditunggu-tunggu sepanjang sejarah kemanusiaan! Pada saat Kristus datang di akhir zaman, Kemuliaan-Nya tidak lebih daripada Kemuliaan yang Ia punyai pada saat ini, ketika kita memakan seluruh keberadaan-Nya. Di dalam Ekaristi kita menerima apa yang menjadi diri kita untuk segala kekekalan, pada saat kita dibawa naik ke surga untuk bersatu dengan mahluk-mahluk surga di dalam perjamuan perkawinan Anak Domba.”

Berdamai dengan Allah adalah misi Yesus dalam memperbarui Perjanjian Baru-Nya dengan umatnya, ”Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 5:1). Mengakui kesalahan dan dosa dengan sadar, bukan hanya sebuah hapalan tanpa menghayatinya dalam diri segala perbuatan yang tidak menyenangkan Allah, ”Saya mengaku kepada Allah Yang Maha Kuasa …” Didache (ajaran para Rasul) mengatakan bahwa pengakuan dosa harus mendahului keikut-sertaan kita dalam perayaan Ekaristi, dan kita mohon pengampunan dan menyerahkan diri kita pada kemurahan pengadilan surga.

Wafatnya di kayu salib puncak dari ketaatan kepada Bapa untuk menghapus dosa manusia, rasa syukur dan terima kasih kita ungkapkan dengan memenuhi undangan-Nya untuk menjadi peserta dalam perjamuan Tuhan dan dengan setia mendengarkan firmannya dalam ibadat Sabda. Origenes (ahli Kitab Suci dari masa Gereja perdana) menekankan kepada umat Kristen untuk menghormati kehadiran Kristus pada pembacaan Injil seperti juga menghormati kehadiranan-Nya di dalam Hosti. Kesetiaan kita tunjukan dengan rasa hormat pada setiap urutan Misa Kudus, mulai Ibadat Sabda sampai dengan Ibadat Ekaristi, karena itu semua merupakan satu kesatuan dan saling terkait satu sama lain Kita tidak bisa hanya khusuk di Ibadat sabda dan lalai di Ibadat Ekaristi atau sebaliknya. Kecenderungan kita adalah puas setelah menerima Komuni dan pulang sebelum misa berakhir dengan kata lain kita sering lupa untuk berterima kasih setelah menerima Tubuh Kristus dan lupa untuk membawa berkat dan perutusan.

Dan dari penjabaran sederhana ini, kembali kita diajak untuk melihat kondisi kesiapan kita dalam menghadiri undangan-Nya, mulai dari keluar rumah sampai keluar dari Rumah-Nya, ”Sudahkah saya memenuhi sikap hormat dalam menanggapi undangan-Nya.” Indah rasanya bila atmosfer hormat tetap terjaga sepanjang Misa berlangsung dan kita selalu menyadari bahwa yang kita lakukan setiap minggu bukanlah sebuah rutinitas belaka yang membosankan dan penuh dengan pengulangan. Akan tetapi menyadari bahwa menghadiri Misa Kudus berarti menerima kepenuhan rahmat, kehidupan sejati Tritunggal Mahakudus. Tak ada kekuatan di surga maupun di dunia dapat memberikan yang lebih kepada kita daripada apa yang kita terima di dalam Misa Kudus, karena kita menerima Allah di dalam diri kita.

Jadi sekali lagi bolehlah kita mengingat kata yang tertulis di slempang itu ”Hormatlah di Rumah Tuhanmu.”

Yoseph Kristianto

Warga Paroki St.Mikael -Kranji

Lingkungan Agustinus 1

Alamat : Kompl.Harapan Baru 2

Jalan Cendrawasi Blok. H I No.6

Kranji – Bekasi

Email : yoseph_kristianto@yahoo.com


Daftar Pustaka

Hahn, Scott

2006 The Lamb’s Supper, The Mass As Heaven On Earth – Perjamuan Anak Domba, Perayaan Ekaristi, Surga Di Atas Bumi : Dioma

Collins, Gerald O, SJ

Farrugia, Edward G , SJ

2001 Kamus Teologi , Yogyakarta : Kanisius

Gunawan, H.Pidyarto, Dr, O.Carm

2006 Umat Bertanya Romo Pid Menjawab, Jilid 4, Yogyakarta : Kanisius

Gunawan, H.Pidyarto, Dr, O.Carm

2006 Umat Bertanya Romo Pid Menjawab, Jilid 5, Yogyakarta : Kanisius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: