Keberadaan Allah [St. Thomas Aquinas]

Santo Thomas Aquinas adalah teolog dan filsuf terkemuka selama jaman emas skolastisisme di abad ke-13. Bagian berikut ini diambil dari bukunya Summa Theologica [Ikhitsar Theologi] yang menyediakan sebuah informasi yang bagus dari metode skolastik, dimulai dengan sebuah pertanyaan kemudian argumen-argumen tentang pertanyaan yang akhirnya disatukan. Aquinas menarik informasi diskusinya dari banyak otoritas, mulai dari Filsuf Yunani Kuno Aristoteles di abad ke-4 B.C sampai ke teolog Kristen St. Agustinus (354-430 AD).

Dari Summa Theologica *

Bagian I (1266-1268)

By Saint Thomas Aquinas

Pertanyaan.2 Keberadaan Allah

3. Apakah Allah itu ada ?

Keberatan.1. Kelihatannya Allah itu tidak ada. Karena apabila satu dari dua entitas [maksudnya Allah vs. Iblis red] berlawanan itu hidup tanpa pembatasan maka yang lainnya akan dihancurkan secara total. Namun Firman itu, yakni Allah, berarti adalah sesuatu yang baik dan bersifat tak terbatas. Dengan demikian apabila ada suatu Allah, iblis tidak akan ada. Tetapi kita justru menemukan iblis di dunia ini. Oleh sebab itu maka tidak ada Allah.

Keb.2. Lebih lanjut apa yang dapat dijelaskan oleh sedikit penyebab maka tidak boleh dijelaskan oleh banyak penyebab. Tetapi nampaknya bahwa segala sesuatu yang kita lihat di dalam dunia ini dapat dijelaskan oleh penyebab-penyebab lain tanpa berasumsi bahwa Allah itu ada, karena benda-benda natural dijelaskan oleh penyebab natural, sementara penyebab-penyebab yang dijelaskan untuk sebuah tujuan tadi merupakan produk-produk dari akal dan kehendak manusia.

Sebaliknya, Allah berkata dalam Kitab Suci, “Aku adalah aku yang ada”.

Aku menjawab bahwa keberadaan Allah dapat dibuktikan dalam lima cara :

1. Cara yang pertama dan paling jelas adalah dengan menggunakan argumen dari suatu gerakan [motion]. Adalah hal yang pasti dan terbukti dalam akal kita bahwa benda-benda ada dalam suatu gerakan di dunia ini. Segala sesuatu yang bergerak akan digerakkan oleh sesuatu yang lainnya, karena tidak ada suatu benda pun dapat bergerak kecuali benda itu memiliki pontensialitas untuk mendapatkan kesempurnaan terhadap benda yang menggerakkannya. Menggerakkan sesuatu adalah melakukan aksi, karena bergerak adalah membuat aktual dari apa yang bersifat potensial. Maka tidak ada sesuatu yang dapat diubah dari kondisi potensialitas ke aktualitas kecuali oleh sesuatu dari kondisinya itu sendiri ada dalam kondisi aktual. Sebagai contoh : Api yang secara actual panas membuat kayu yang bersifat potensial panas menjadi bersifat actual panas dan dengan demikian api itu menggerakkan dan mengubah kayu tersebut.

Adalah hal yang tidak mungkin untuk benda yang sama untuk kedua-duanya ada dalam aktualitas dan potensialitas pada saat yang bersamaan dan dalam kondisi yang sama-justru yang terjadi hanya dalam kondisi yang berbeda. Apa yang secara actual panas tidak dapat pada saat yang bersamaan bersifat potensial panas, meskipun benda tersebut berpontensial dingin. Oleh sebab itu adalah hal yang tidak mungkin bagi suatu benda untuk kedua-duanya menjadi penggerak dan benda yang digerakkan dengan cara yang sama atau benda itu menggerakkan dirinya sendiri. Dengan demikian segala sesuatu yang bergerak harus digerakkan oleh sesuatu yang lainnya. Apabila suatu benda digerakkan juga bergerak, maka benda itu sendiri digerakkan oleh sesuatu yang lain dan sesuatu yang lainnya ini juga digerakkan oleh sesuatu yang lainnya lagi. Tetapi benda-benda tidak dapat bergerak selamanya karena dengan demikian tidak akan ada penggerak pertama dan konsekuensinya tidak ada penggerak yang berikutnya [subsequent] karena benda-benda lanjutan [intermediate] hanya bergerak dari gerakan yang mereka terima dari penggerak pertama – sama halnya seperti sebuah tongkat bergerak hanya karena digerakkan oleh sebuah tangan. Dengan demikian adalah perlu kembali ke penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh siapa pun juga, dan orang-orang mengenalnya sebagai Allah.

2. Cara kedua adalah dengan menggunakan sifat dasar dari sebuah penyebab tepat guna [efficient cause]. Dalam dunia intelektualitas kita menemukan bahwa terdapat sebuah rangkaian penyebab-penyebab tepat guna namun kita tidak pernah menemukan sesuatu yang menyebabkan dirinya sendiri dan adalah hal yang tidak mungkin untuk melakukannya karena akan mendahului dirinya sendiri-yang mana adalah tidak mungkin. Sekarang rangkaian penyebab-penyebab terbatas [finite causes] tidak dapat beralih ke penyebab tak terbatas karena dalam setiap rangkaian sebab, penyebab pertama adalah sebab dari penyebab lanjutan dan penyebab lanjutan menyebabkan sebab terakhir, apakah penyebab lanjutan itu berjumlah banyak atau hanya satu. Tetapi apabila kamu menghilangkan sebuah sebab maka kamu juga akan mengabaikan akibatnya [effect]. Apabila tidak ada penyebab pertama diantara penyebab-penyebab tepat guna maka tidak akan ada penyebab lanjutan atau terakhir. Tetapi apabila kita hanya mengalihkan ke sifat kekekalan dalam rangkaian sebab maka tidak ada penyebab pertama dan karenanya tidak ada akibat lanjutan atau akibat final yang akan ada – yang tak pelak lagi ini adalah hal yang tidak benar. Dengan demikian adalah suatu yang perlu untuk menempatkan beberapa penyebab tepat guna pertama yang oleh seluruh manusia disebut Allah.

3. Cara ketiga adalah berdasarkan atas apa yang dapat hidup (kemungkinan) dan apa yang harus hidup (kebutuhan). Hal ini ditunjukkan sebagai berikut : Kita temukan benda-benda di alam yang dapat hidup atau tidak hidup, karena benda-benda tersebut ditemukan keberadaannya (dibangkitkan) dan berhenti hidup (dirusakkan) dan oleh karenanya adalah mungkin bagi mereka untuk hidup atau tidak hidup. Sekarang adalah suatu yang tidak mungkin bagi benda-benda demikian untuk selalu terus hidup karena apabila suatu yang mungkin bagi sesuatu untuk tidak hidup, maka pada saat yang bersamaan benda tersebut tidak hidup. Tetapi apabila ini benar maka tidak tidak ada sesuatu yang akan hidup bahkan saat ini, karena apa yang tidak dapat hidup hanya mulai hidup melalui sesuatu yang lain yang ada dalam keberadaannya. Tetapi apabila tidak ada sesuatu pun dalam keberadaannya maka adalah hal yang tidak mungkin bagi sesuatu itu mulai hidup, dan juga tidak ada sesuatu yang akan hidup bahkan saat ini- yang tak pelak lagi hal ini tidak benar. Segala sesuatu tidak dapat [hanya] memiliki kemungkinan namun akan ada beberapa benda/mahluk yang perlu untuk hidup/ada. Sesuatu itu merupakan sebuah keberadaan yang penting [necessary being] atau sebagai hasil dari aksi yang lainnya atau tidak. Tetapi adalah hal yang tidak mungkin untuk beralih ke sifat kekekalan dalam [rangkaian] keberadaannya yang diperlukan [necessary being] yang harus hidup karena keberadaannya tersebut disebabkan oleh yang lain, seperti yang telah kita buktikan di atas dalam kasus penyebab tepat guna. Dengan demikian kita harus menempatkan suatu keberadaan [yang perlu/penting] yang harus hidup dalam dirinya sendiri dan tidak bergantung hidupnya kepada sesuatu yang lain, tapi itu adalah sebab dari sesuatu yang lain yang harus ada. Inilah yang kita sebut sebagai Allah.

4. Cara keempat adalah berdasarkan atas gradasi [rangkaian tingkatan-red] yang hidup dalam benda-benda. Kita temukan di dunia bahwa beberapa benda/hal lebih benar atau kurang benar atau baik atau mulia dan sebagainya. Deskripsi dari “lebih” atau “kurang” itu dinyatakan ke benda-benda sampai ke tingkat bahwa mereka mendekati tingkat superlatif [perbandingan] dalam cara-cara yang bervariasi. Sebagai contoh suatu benda dikatakan lebih panas sebagaimana benda itu lebih mendekati ke tingkat dari apa yang paling panas. Oleh karena itu, terdapat sesuatu yang adalah yang paling benar, dan paling baik, dan paling mulia dan konsekuensinya adalah secara penuh dalam keberadaannya, karena benda-benda yang adalah terbesar dalam kebenarannya adalah terbesar juga dalam keberadaannya, seperti yang dikatakan dalam Metafisik. Sekarang tingkat superlatif dalam setiap klasifikasi (genus) adalah sebab dari segala sesuatu dalam klasifikasi tersebut. Sebagai contoh, api yang paling panas dari segala sesuatu adalah sebab dari sesuatu yang menjadi panas, seperti dikatakan di buku yang sama tadi. Oleh sebab itu terdapat sesuatu yang adalah sebab keberadaan dan kebaikan dan apapun kesempurnaan yang dimiliki oleh segala sesuatu tersebut, dan ini kita sebut sebagai Allah.

5. Cara kelima adalah berdasarkan atas tata-urutan (gobernatio) dalam alam semesta. Kita melihat bahwa benda-benda yang kekurangan kesadarannya seperti halnya tubuh dalam fungsi alamiahnya. Ini adalah bukti dari fakta bahwa benda-benda tersebut selalu atau mendekati selalu, berfungsi dalam cara yang sama sehingga dapat mencapai apa yang terbaik. Dengan demikian adalah hal yang sangat jelas bahwa benda-benda tersebut mencapai tujuan akhirnya bukan secara kebetulan namun oleh sebuah disain. Tetapi benda-benda yang tidak memiliki kesadaran cenderung menuju ke sebuah akhir hanya karena mereka digerakkan oleh suatu keberadaan yang memiliki kesadaran dan intelegensia, yang dalam cara yang sama bahwa sebuah anak panah harus diarahkan oleh seorang pemanah. Dengan demikian terdapat mahluk/keberadaan intelegensia yang mengarahkan segala sesuatu kepada tujuan mereka, dan kita katakan bahwa ini adalah Allah.

Jawaban terhadap Keb.1. Agustinus berkata, “Karena Allah adalah kebaikan tertinggi dan terutama maka Dia tidak akan mengijinkan iblis untuk hidup dalam ciptaanNya kecuali kalau Dia itu begitu kuatnya dan baik sehingga Dia dapat membuat hal yang baik yang berasal dari si iblis”. Demikian hal ini adalah bagian dari kebaikan Allah yang tak terbatas yang mana Dia ijinkan iblis untuk hidup sehingga Dia dapat menghasilkan yang baik dari mereka.

Jawaban terhadap Keb.2. Karena aksi-aksi alam untuk sebuah tujuan akhir ada pada bimbingan sebuah agen yang lebih tinggi maka benda-benda yang terjadi dalam alam ini akan kembali kepada Allah sebagai sebab pertama mereka. Serupa halnya dengan apa yang dilakukan untuk sebuah tujuan harus kembali kepada beberapa penyebab yang lebih tinggi yang bukan akal dan kehendak manusia karena keduanya dapat berubah dan dapat berhenti untuk hidup. Segala sesuatu yang dapat berubah dan musnah harus kembali kepada penyebab pertama yang tak dapat berubah dan bersifat penting/perlu yakni sebuah sifat eksistensi diri sendiri yang tak bisa berubah (per se necessarium).

* Diterjemahkan oleh Leonard T. Panjaitan

Sumber: St. Thomas Aquinas on Politics and Ethics, ed. Paul Sigmund. New York: W.W. Norton & Co., 1988.

Microsoft ® Encarta ® 2008. © 1993-2007 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: