Tentara Salib Yang Sesungguhnya

TENTARA SALIB YANG SESUNGGUHNYA (Bagian 1)
Thomas Madden meluruskan anggapan keliru.

ST. LOUIS, Missouri, 10 Oktober 2004 (Zenit.org).- Para tentara Salib bukanlah
pencari gara-gara, perampok rakus, atau penjajah abad pertengahan seperti
digambarkan di banyak buku sejarah.

Kepala Departemen Sejarah Universitas St. Louis dan pengarang “A Concise
History of the Crusades (Sejarah singkat Perang Salib),” Thomas Madden
berpendapat bahwa tentara Salib adalah tentara bertahan yang dalam perjuangan
mereka tidak mengambil keuntungan untuk kekayaan duniawi maupun memperluas
wilayah.

Bahkan dia juga berpendapat Perang Salib itu sendiri adalah perang
mempertahankan diri, bukan menaklukkan.

Madden berbagi dengan ZENIT beberapa anggapan populer tentang tentara Salib dan
penemuan moderen yang membuktikan kekeliruan anggapan2 tersebut.

T(Tanya) : Apa saja kesalahpahaman yang umum terjadi terhadap Perang Salib ?

Madden : Berikut ini beberapa di antaranya dan kekeliruannya.

Anggapan 1 : Perang Salib adalah agresi terhadap umat Islam yang cinta damai.

Ini sungguh sangat keliru. Dari jaman Muhammad orang Muslim telah berusaha
menaklukkan umat Kristen, dan mereka lakukan dengan cukup baik. Setelah
beberapa abad penaklukkan, pasukan Muslim telah menguasai seluruh Afrika Utara,
Timur Tengah, Timur Dekat, dan sebagian besar Spanyol.

Dengan kata lain di akhir abad 11 pasukan Islam telah menguasai dua pertiga
daerah Kristen. Palestina, kampung halaman Yesus Kristus; Mesir, tempat
kelahiran kehidupan biara Kristen; Asia Kecil, tempat St. Paulus menanam benih
umat Kristen pertama — semua tempat itu tidak dapat dipandang sebelah mata
dalam perkembangan agama Kristen, tapi merupakan tempat2 penting.

Dan kerajaan Muslim tidak berhenti di situ. Mereka terus menekan ke barat, ke
arah Konstantinopel bahkan melewatinya dan memasuki Eropa. Kalau dikatakan
agresi, semuanya dilakukan oleh orang Muslim. Akhirnya umat Kristen harus
mempertahankan diri atau kalah oleh penaklukan Islam.

Anggapan 2 : Tentara Salib mengenakan salib tapi mereka sebenarnya hanya
tertarik menguasai tanah dan menjarahnya. Kata-kata suci mereka hanyalah kedok
ketamakan dan kerakusan.

Para ahli sejarah umumnya beranggapan bahwa kenaikan jumlah penduduk Eropa
menciptakan krisis terlalu banyaknya “anak kedua” bangsawan, yaitu mereka yang
terlatih dalam ilmu kesatria tapi tidak memiliki tanah warisan. Perang Salib
akhirnya dipandang sebagai katup pengaman untuk mengirim ahli-ahli perang
tersebut jauh dari Eropa agar mereka mencari tanah sendiri di atas penderitaan
orang luar Eropa.

Ilmu sejarah moderen yang menggunakan database komputer telah menyelidiki
anggapan ini. Sekarang kita tahu ternyata para “anak sulung”-lah yang menjawab
panggilan Paus pada tahun 1095 dan hal ini berlanjut terus ke Perang-perang
Salib berikutnya.

Perang Salib menghabiskan biaya yang sangat besar. Para bangsawan harus menjual
atau menggadaikan tanah mereka untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebagian
besar dari mereka juga tidak tertarik untuk mendirikan kerajaan di seberang
lautan. Seperti halnya prajurit sekarang, prajurit Salib bangga melakukan
tugasnya namun merindukan pulang ke kampung halaman.

Setelah sukses luar biasa Perang Salib Pertama dengan jatuhnya Yerusalem dan
sebagian besar Palestina, hampir semua prajurit kembali pulang ke tempat
asalnya. Hanya sedikit orang yang tinggal untuk mengatur dan memerintah daerah
yang baru ditaklukkan.

Penjarahan juga jarang terjadi. Bahkan meskipun tentara Salib tidak diragukan
memimpikan harta berlimpah di kota-kota mewah di Timur, hampir mereka semua
merelakan biaya yang telah dikeluarkan. Namun uang dan tanah bukanlah alasan
utama mereka ikut Perang Salib. Mereka hendak memberi silih atas dosa mereka
dan mencari keselamatan abadi dengan melakukan perbuatan baik di tanah yang
jauh.

Mereka mengeluarkan biaya besar dan rela melalui pengalaman keras tersebut
karena mereka percaya dengan menolong saudara-saudara sesama umat Kristen di
Timur mereka menumpuk harta dimana ngengat dan karat tidak akan merusakkannya.

Mereka sangat mengingat pesan Kristus bahwa ia yang tidak mau memanggul
salibnya tidak layak bagiNya. Mereka juga mengingat bahwa “Tiada kasih yang
lebih besar daripada orang yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya.”

Anggapan 3 : Sewaktu Yerusalem dikuasai tentara Salib tahun 1099 mereka
membantai semua pria, wanita dan anak2 di
kota tersebut sampai darahnya
menggenangi jalan sedalam mata kaki.

Anggapan ini yang biasanya digunakan untuk membuktikan betapa jahatnya tentara
Salib.

Tentu saja ada orang di Yerusalem yang terbunuh waktu tentara Salib menaklukkan
kota tersebut. Tapi ini harus dimengerti dalam konteks sejarahnya.

Standar moral yang diterima di semua Eropa pra-moderen dan kebudayaan Asia
adalah
kota yang menolak dikuasai dan akhirnya ditaklukkan menjadi milik
penakluknya. Itu tidak hanya mencakup bangunan dan barang-barang tapi juga
sekaligus dengan penduduknya. Itulah sebabnya setiap
kota atau benteng perlu
menimbang-nimbang dengan baik kemampuannya menahan serangan musuh. Jika tidak,
maka lebih bijaksana untuk menyerah dan berunding.

Dalam kasus Yerusalem mereka bertahan melawan sampai akhir. Mereka
memperkirakan tembok pertahanan besar mereka dapat menahan tentara Salib sampai
tentara bantuan dari Mesir bisa tiba. Mereka keliru. Kota tersebut akhirnya
jatuh dan ditaklukkan. Banyak yang terbunuh namun yang lain ditebus atau
dibiarkan pergi.

Standar moderen memandang hal tersebut brutal. Namun kesatria abad pertengahan
akan menuding banyak pria, wanita, dan anak2 terbunuh dalam pembombardiran
moderen daripada yang dapat dilakukan dengan pedang dalam satu atau dua hari.
Patut dicatat bahwa penduduk kota-kota Muslim yang menyerah pada tentara Salib
tidak dianiaya, barang-barangnya tidak diambil dan mereka bebas beribadah.

Mengenai jalan yang berlumuran darah, para sejarahwan menganggap itu hanya
unsur sastrawi. Yerusalem adalah kota besar. Banyaknya darah yang diperlukan
untuk mengaliri jalan-jalan sedalam tiga inci membutuhkan jumlah orang lebih
banyak daripada yang tinggal di
kota tersebut dan sekitarnya.

Anggapan 4 : Tentara Salib hanyalah kolonialis abad pertengahan yang berbaju
agamawi.

Penting diingat bahwa di abad pertengahan dunia Barat bukanlah budaya kuat dan
dominan yang memasuki daerah primitif dan tertinggal. Muslim Timurlah yang
kuat, kaya dan mewah. Eropa adalah Dunia Ketiga.

Negara-negara Salib yang didirikan setelah Perang Salib Pertama bukanlah benih
Katolik di wilayah Muslim seperti halnya kolonisasi Inggris atas Amerika.
Kehadiran Katolik di negara-negara tersebut cukup kecil, kurang dari 10%
populasi. Mereka adalah pejabat pemerintah dan pengajar agama, juga pedagang
Italia dan anggota organisasi-organisasi militer. Mayoritas penduduk
negara-negara tersebut adalah Muslim.

Itu semua bukanlah koloni dalam arti perkebunan atau bahkan pabrik seperti
halnya di India. Itu semua adalah pangkalan militer. Tujuan utama keberadaan
negara Salib adalah mempertahankan tempat suci di Palestina khususnya Yerusalem
dan menjaga keamanan peziarah Kristen yang mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Tidak ada negara induk yang berhubungan secara ekonomis dengan negara2 Salib,
juga Eropa tidak memiliki keuntungan ekonomis dari negara2 tersebut. Sebaliknya
pengeluaran Perang Salib untuk menjagai tempat-tempat tersebut menguras habis
sumber daya yang dimiliki Eropa. Sebagai pangkalan militer, negara-negara
tersebut selalu waspada.

Sewaktu orang Muslim berperang satu dengan yang lain negara2 tersebut tetap
aman, tapi begitu orang Muslim bersatu mereka dapat menaklukkan benteng2
pertahanan, memasuki kota-kota dan pada tahun 1291 mengusir habis semua orang2
Kristen.

Anggapan 5 : Tentara Salib juga bertempur melawan orang Yahudi.

Tidak pernah ada paus yang melakukan Perang Salib terhadap orang Yahudi. Selama
Perang Salib Pertama ada sekelompok besar gelandangan yang bukan merupakan
bagian dari pasukan utama turun ke kota-kota Rhineland (Jerman) untuk merampok
dan membunuhi orang2 Yahudi yang mereka temui di sana. Kejadian ini murni
ketamakan. Kejadian ini juga berawal dari anggapan keliru bahwa orang Yahudi
sebagai yang menyalibkan Kristus adalah tujuan dilancarkan perang.

Paus Urbanus II dan paus2 sesudahnya mengutuk keras serangan2 kepada orang
Yahudi. Uskup2 lokal, para rohaniwan dan umat2 awam mencoba membela orang
Yahudi sekalipun tidak begitu berhasil. Sama seperti sebelumnya, pada tahap
awal Perang Salib Kedua sekelompok pelarian membunuh orang2 Yahudi Jerman
sebelum St. Bernardus dapat menghentikannya.

Pemicu kekacauan2 tersebut adalah dampak negatif antusiasme Perang Salib tapi
bukan tujuannya. Sebagai analogi moderen selama Perang Dunia II ada tentara
Amerika yang melakukan kejahatan di seberang lautan. Mereka ditahan dan dihukum
karena hal tersebut. Tapi tujuan Perang Dunia II bukanlah untuk melakukan
kejahatan.

ZE04101022


TENTARA SALIB YANG SESUNGGUHNYA (Bagian 2)
Thomas Madden bicara mengenai relevansi Perang Salib dewasa ini.

ST. LOUIS, Missouri, 11 Oktober 2004 (Zenit.org).- Konflik negara2 Barat dan
Muslim hari ini hanya sedikit berhubungan dengan Perang Salib, kata seorang
sejarahwan.

Kenyataannya, Thomas Madden berpendapat dari sudut pandang Muslim sejarah
Perang Salib tadinya tidak terlalu diperhatikan. Itu semua berubah ketika abad
ke-19 para pembaharu mulai memandang Perang Salib sebagai perang imperialis,
katanya.

T(Tanya) : Apa Anda berpendapat bahwa konflik antara dunia Barat dan Muslim di
beberapa aspek merupakan reaksi atas Perang Salib ?

Madden : Tidak. Mungkin ini adalah jawaban yang kelihatannya aneh bila anda
tahu Osama bin Laden dan beberapa orang Islam melihat orang Amerika sebagai
“Tentara Salib.”

Penting diingat bahwa selama Abad Pertengahan — sampai akhir abad 16 —
adikuasa dunia Barat adalah Islam. Kebudayaan Muslim cukup kaya, canggih dan
sangat kuat. Dunia Barat tertinggal dan relatif lemah.

Juga perlu dicatat dengan pengecualian Perang Salib I semua Perang Salib yang
dilakukan Barat — ada ratusan perang — gagal total semuanya.

Tentara Salib memang menghambat ekspansi Muslim, tapi mereka tidak dapat
menghentikannya. Kerajaan Muslim terus menerabas daerah2 Kristen, menaklukkan
Balkan, sebagian besar Eropa Timur, bahkan kota Kristen terbesar di dunia,
Konstantinopel.

Dari sudut pandang Muslim sejarah Perang Salib tidak terlalu diperhatikan. Bila
anda bertanya kepada seseorang di dunia Muslim di abad 18 tentang Perang Salib
dia tidak akan tahu sedikitpun mengenainya. Perang Salib dipandang penting
diingat bagi orang Eropa karena merupakan usaha besar2an yang akhirnya gagal.

Namun selama abad 19 waktu orang Eropa mulai menaklukkan dan mengkolonisasi
negara2 Timur Tengah banyak sejarahwan — khususnya para penulis nasionalis
atau royalis Prancis — mulai menganggap Perang Salib sebagai usaha pertama
orang Eropa untuk membawa buah2 peradaban Barat ke dunia Muslim yang
tertinggal. Dengan kata lain, Perang Salib dijadikan perang imperialisme.

Sejarah2 tersebut diajarkan di sekolah2 kolonial dan menjadi pandangan yang
diterima di Timur Tengah dan tempat2 lain. Di abad 20 imperialisme
didiskreditkan. Islamis dan banyak Nasionalis Arab mengadopsi pandangan
kolonialisme Perang Salib, menganggap dunia Barat bertanggung jawab atas
ketertinggalan mereka karena Barat telah menghancurkan orang Muslim sejak
Perang Salib.

Sering dikatakan orang Timur Tengah punya ingatan panjang; dan memang benar.
Tapi dalam masalah Perang Salib ini, mereka memiliki ingatan yang dikembalikan;
yang diciptakan oleh penjajah Eropa mereka.

T : Adakah kesamaan antara Perang Salib dan perang melawan terorisme saat ini ?

Madden : Selain fakta para prajurit dalam kedua perang tersebut hendak mengabdi
pada kepentingan yang lebih besar daripada diri mereka sendiri dan yang mereka
pegang teguh serta mereka rindu pulang setelah semuanya selesai, saya tidak
melihat kesamaan lain antara Tentara Salib abad pertengahan dan perang melawan
terorisme. Motivasi di masyarakat sekuler pasca-pencerahan sangatlah berbeda
dari masyarakat abad pertengahan.

T: Bagaimana Perang Salib berbeda dengan Jihad Islam ataupun perang agama
lainnya ?

Madden : Tujuan mendasar jihad adalah untuk memperluas Dar al-Islam —
Berpegang pada Islam — menjadi Dar al-Harb — Berpegang pada Perang. Dengan
kata lain jihad bersifat ekspansif untuk menaklukkan non-Islam dan meletakkan
mereka di bawah pemerintahan Islam.

Mereka yang ditaklukkan diberikan pilihan sederhana. Bagi mereka yang bukan
umat Kitabiah — dengan kata lain, mereka yang bukan Kristen atau Yahudi —
pilihannya memeluk Islam atau mati. Bagi umat Kitabiah pilihannya adalah mau
mengikuti hukum Islam atau mati. Ekspansi Islam jelas berhubungan dengan
kesuksesan militer jihad.

Sebaliknya Perang Salib adalah akibat langsung yang terlambat dilakukan atas
penaklukkan Islam selama berabad2 terhadap daerah2 Kristen. Kejadian langsung
yang menimbulkan Perang Salib I adalah penaklukkan Turki atas semua Asia Kecil
tahun 1070 sampai 1090.

Perang Salib I dicanangkan Paus Urbanus II tahun 1095 karena permintaan gawat
dan mendesak dari kaisar Bizantium di Konstantinopel. Urbanus meminta para
ksatria Kristen untuk datang membantu saudara2 Timur mereka.

Asia Kecil beragama Kristen dan merupakan wilayah kekaisaran Bizantium. Pertama
diinjili oleh St. Paulus. St. Petrus adalah uskup pertama Antiokia. Paulus
telah menulis surat terkenalnya kepada orang Kristen Efesus. Pengakuan iman
Gereja disahkan di Nicea. Semuanya itu terletak di Asia Kecil.

Kaisar Bizantium meminta bantuan orang Kristen di Barat untuk merebut daerah2
tersebut dan mengusir orang Turki. Tentara Perang Salib adalah bantuan
tersebut. Tujuan mereka tidak hanya untuk merebut kembali Asia Kecil tapi juga
merebut daerah2 Kristen lain yang telah jatuh karena jihad Islam. Ini termasuk
Tanah Suci.

Kesimpulannya, perbedaan besar antara Perang Salib dan jihad adalah yang
pertama merupakan pertahanan terhadap yang berikutnya. Seluruh sejarah Perang
Salib adalah salah satu akibat agresi Muslim.

T : Apakah Tentara Salib sukses menyebarkan agama di dunia Muslim ?

Madden : Saya mencatat bahwa di abad 13 beberapa biarawan Fransiskan memulai
misi di Timur Tengah untuk menyebarkan agama kepada orang Muslim tapi tidak
berhasil karena hukum Islam memandang pindah agama selain Islam sebagai
pelanggaran hukum.

Usaha ini terpisah dari Perang Salib yang tidak bertujuan menyebarkan agama.
Dan usaha tersebut dilakukan dengan bujukan baik-baik.

T : Bagaimana dunia Kristen memandang kekalahannya dalam Perang Salib ? Apakah
Tentara Salib memang kalah ?

Madden : Sama seperti orang Yahudi Perjanjian Lama, Allah menahan kemenangan
umatNya karena mereka berdosa. Ini menyebabkan gerakan penyucian besar2an di
Eropa yang berusaha menyucikan masyarakat Kristen di segala hal.

T : Apakah Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas Perang Salib ? Apakah dia
mengutuknya ?

Madden : Ini anggapan aneh. Paus dikritik tajam karena tidak meminta maaf
secara langsung atas Perang Salib sewaktu dia meminta maaf atas penganiayaan
yang dilakukan orang2 Kristen secara tidak adil.

Bapa Suci tidak mengutuk Perang Salib atau meminta maaf atas hal itu. Dia
meminta maaf atas dosa-dosa orang Katolik. Belakangan ini dilaporkan Yohanes
Paulus II meminta maaf kepada batrik Konstantinopel atas penaklukkan Tentara
Salib atas Konstantinopel tahun 1204.

Kebenarannya, Paus hanya menegaskan yang sudah dinyatakan oleh pendahulunya
Paus Inocentius III (1198-1216). Itu adalah kejadian tragis sehingga Inocentius
mengusahakannya agar tidak sampai terjadi. Dia meminta maaf atas dosa orang2
Katolik yang mengambil bagian dalam Perang Salib. Namun dia tidak meminta maaf
atas Perang Salib itu sendiri atau bahkan hasil Perang Salib tersebut.

ZE04101123

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: