Melawan Naturalisme dan New Age

Mewaspadai Pengaruh Naturalisme dan New Age

– Tanggapan atas maraknya pengajaran reiki kundalini

Akhir-akhir ini nampak begitu semarak di tengah masyarakat sebuah metode atau program “alternatif” yang cukup memikat kawula muda, eksekutif bahkan ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan semacam kursus-kursus meditasi, yoga hingga pengobatan alternatif cukup menarik perhatian beberapa kalangan baik sekedar ingin tahu maupun memperdalamnya sebagai jalan keluar dari problematika hidup atau mengatasi penyakit. Tak ketinggalan pula media massa turut meramaikan fenomena ini melalui ruang-ruang iklan yang terpampang di halaman-halaman surat khabar agar mengunjungi “ahli-ahli” yang bergelar “kiai”, “ki” yang dapat membantu anda sukses dalam berumah-tangga, berkarir, berdagang hingga mengatasi berbagai keluhan penyakit sampai guna-guna sekali pun. Seakan belum cukup, televisi-televisi nasional saling berlomba menayangkan acara-acara mistis nan menyeramkan yang justru meningkatkan rating mereka.

Bila kita perhatikan secara seksama fenomena-fenomena seperti itu apakah gerangan yang terjadi di masyarakat kita bahkan mungkin di dunia ? Apakah ini gejala-gejala kebosanan atau pun pemberontakan terhadap nilai-nilai moral dan agama yang dianut oleh sebagian besar komunitas kita ini ? Sebagai umat beriman khususnya Katolik saya mencoba mengajak masyarakat untuk mengamati secara jelas dan jernih metode-metode atau teknik-teknik “alternatif” yang disodorkan oleh jaman ini dari kaca mata ajaran-ajaran Katolik. Sejauh yang saya amati, fenomena-fenomena yang sedang “ngetrend” ini merupakan buah-buah dari Naturalisme dan ajaran-ajaran New Age. Untuk lebih jelasnya maka saya jabarkan sebagai berikut :

Naturalisme

Naturalisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa alam (nature) sebagai satu-satunya sumber yang asli dan fundamental dari segala sesuatu yang ada dan dengan segala cara paham ini menjelaskan semua kejadian (event) dalam bingkai alam (lih catholic encyclopedia di newadvent.org). Tetapi istilah alam (nature) atau alamiah (natural) bukan merupakan istilah yang digunakan dalam satu pengertian saja namun dalam prakteknya dewasa ini, naturalisme mengarah kepada penolakan akan eksistensi Allah sebagai sumber ilahi atau transenden yang menjadi sebab pertama dari segala sesuatu. Ajaran ini menyatakan bahwa hukum-hukum yang mengatur kegiatan dan perkembangan kehidupan baik yang bersifat rasional maupun irasional tidak pernah saling mencampuri. Ajaran ini pun menolak fakta atau kemungkinan intervensi ilahi atau transendental terhadap kehidupan manusia.

Perkembangan naturalisme di jaman ini cukup menarik perhatian generasi muda apalagi di saat masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia mengalami dekadensi iman dan moral sehingga naturalisme mendapat tempat yang layak bagi mereka yang sedang mencari “pencerahan” baru untuk keluar dari multi krisis ini. Naturalisme yang mengingkari Kemahakuasaan Allah menjelma melalui berbagai macam seni beladiri dan pernapasan yang sudah berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Aliran-aliran di Indonesia seperti merpati putih, reiki kundalini, panca daya, satria nusantara, sekte druids, wicca di Eropa adalah manifestasi naturalisme yang bertumpu pada energi alam dan inner power (kekuatan dalam manusia) yang diproses menjadi sumber kekuatan fisik manusia dalam teknik-teknik latihan yang teratur. Energi alam atau tubuh itu kemudian diatur dalam pernapasan tubuh lalu dioptimalkan sedemikian rupa melalui berbagai gerakan atau olah tubuh sehingga menghasilkan kekuatan untuk melumpuhkan lawan atau musuh. Olah pernapasan dalam meditasi yang diperagakan oleh aliran reiki kundalini (berasal dari Tibet dan ditemukan kembali oleh Master Usui dari Jepang sekitar awal 1900) diyakini pula dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kundalini yang berarti healing channel (saluran penyembuhan) dan cakra yang telah dibuka sehingga kita dapat mendapatkan akses ke energi bumi. Aliran reiki ini yang juga mengandalkan chi nampaknya merupakan suatu teknik metafisik yang membantu manusia mengatasi penyakit fisik maupun psikologis.

Sekali lagi bila diamati secara seksama maka buah-buah naturalisme yang berasal dari aliran-aliran di atas menekankan pada self realization (kesadaran diri sendiri) sebagai sebuah sistem energi baik yang memanfaatkan alam sekitar maupun individual yang berfungsi untuk menyembuhkan tubuh, pikiran dan jiwa. Akhirnya teknik-teknik self realization ini bila tidak diwaspadai akan mengarah pada suatu spiritual enlightenment (pencerahan spiritual) yang menggantikan peranan iman, harapan dan kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa sebagai satu-satunya sumber kekuatan, kebijaksaanan, kebaikan dan penyembuhan. Anehnya aliran reiki ini disinyalir sudah memasuki beberapa Gereja Katolik sebagai sebuah kursus atau pelatihan “spiritual”.

New Age

Menurut dokumen Vatikan yang berjudul “Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian Reflection on the ‘New Age’ dan dikeluarkan tanggal 3 Februari 2003 menyatakan bahwa New Age bukan suatu gerakan religius baru (new religious movement) dan bukan pula bentuk “cult” (pemujaan) atau “sekte” karena ajaran new age tersebar dalam berbagai budaya serta dapat dijumpai melalui musik, film, seminar, workshop, retret, terapi dan kegiatan-kegiatan atau event lainnya. Sifat aliran ini informal, uniform, serta memiliki jaringan yang lepas. Ajaran new age mengajarkan kosmos dipandang sebagai keseluruhan organis yang digerakkan oleh energi dan diidentifikasikan sebagai divine soul atau spirit (jiwa atau roh ilahi), inti ajarannya terlihat dalam kesatuan meditasi spiritual dimana manusia mampu mencapai keadaan yang lebih tinggi dan tak terlihat, serta dapat mengontrol diri sendiri di luar kematiannya. Kemudian penganut ajaran new age memiliki perennial knowledge (pengetahuan kekal) yang mendahului dan berada di atas semua agama dan kebudayaan. Dan para penganut new age mengikuti pemimpin mereka yang berjuluk enlightened master. Paham new age tidak mengenal konsep dosa, yang ada hanya ketidaktahuan atau ketidakmampuan manusia mencapai pengetahuan tertinggi. Keselamatan berasal dari diri sendiri, yang dengan demikian menyangkal inti ajaran Kristen bahwa keselamatan adalah semata-mata sebuah Anugerah dari Sang Juru yakni Yesus Kristus.

Dari uraian sekilas di atas kita bisa menilai bahwa secara esensial aliran new age ini tidak berbeda dengan naturalisme yang bertitik tolak pada kebenaran di luar yang imanen atau ilahi yaitu Allah sebagai pencipta tunggal alam semesta ini. Di lain pihak aliran-aliran seperti reiki kundalini, dan pengobatan-pengobatan metafisik lainnya tak tertutup kemungkinan masuk dalam kategori new age ini. Dalam new age, ada istilah vibration yakni suatu ekspresi getaran dari tingkat rendah (low) atau padat (dense) dari dunia fisik ke tingkat yang lebih tinggi dari dunia spiritual. Ini menyerupai konsep reiki.

Benang Merah

Dunia sekarang sedang berada di bawah pengaruh asap setan bahkan asap ini ikut masuk ke dalam Gereja. Hanya Roh Kudus Sang Pemberi Kehidupan saja-lah kita bisa berharap dan mengandalkan bukan kepada kekuatan individual atau energi-energi universal yang memberi kita kekuatan atau pencerahan. Apa yang dilakukan oleh sekte-sekte atau aliran-aliran tadi hanya menjadikan kita korban tipuan dari si setan dan para pengikutnya. Jangan mudah kita tertipu oleh suatu teknik-teknik metafisik melalui meditasi-meditasi yang nampaknya mengesankan namun penuh jebakan. Dalam ajaran kristiani, pusat meditasi kita terletak pada dan di dalam Kristus saja bukan melalui interaksi dengan alam material. Oleh karena itu hendaklah kita jangan bersandar pada kekuatan manusia atau alam untuk mengatasi problematika hidup termasuk penyakit melainkan pada Rahmat, Kasih dan Damai Allah sehingga kita beroleh keselamatan.

Oleh sebab itu segenap umat beriman khususnya Katolik harus mewaspadai pengaruh dari ajaran-ajaran naturalisme, new age yang menyangkal Kemahakuasaan Allah serta mengesampingkan keterlibatan aktif Tuhan Yesus dalam karya keselataman kekal. Telah dikatakan bahwa pada suatu saat si setan dengan kekerasan akan merecoki manusia dengan rasionalisme dan pada saat lain dengan naturalisme karena bertujuan menghapuskan dan mematikan sisa cahaya kecil yang masih tertinggal dalam diri kita sebagai bait Allah. Si iblis yang telah menduduki umat manusia termasuk Gereja, memaksakan kemurtadannya yang menghancurkan di dalam diri putera-puteri Allah serta menghapuskan kurban kekal Kristus (Ekaristi Kudus) dari dalam diri kita ( baca Dan 11:31-39; Why 13 :14-18; Why 21:1-27), supaya gantinya iblis dapat mendirikan sebuah tiruan yang tak bernilai, suatu gambaran manusia yang dapat mati yang adalah kejijikan kemurtadan dalam kekudusan-Nya. Semua sekte-sekte baik new age, naturalisme bahkan rasionalisme sesungguhnya membawa manusia menuju atheisme. Sekali orang-orang ini terperangkap oleh sekte-sekte itu maka mereka berhenti juga menerima Kurban Kekal, yaitu Ekaristi Kudus. Mintalah maka kamu akan diberikan. Marilah kita pula meminta Roh Kudus yang dapat membeda-bedakan mana tangan kiri dan kanan (discernment Spirit) sehingga kita tidak mudah terjebak dalam arus duniawi yang semakin jahat ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: