The Passion of the Christ

The Passion of the Christ : Evangelisasi Baru dan Persatuan Umat Kristen

By Leonard T. Panjaitan

Selama lebih dari bulan terakhir semenjak pemutaran perdananya pada Rabu Abu di AS, film The Passion melahirkan kesuksesan ganda baik dalam segi pendapatan dengan meraih box office maupun kontroversi mengenai kisah penderitaan Kristus. Film yang berdurasi +/- 2 setengah jam ini menjadi polemik diantara para petinggi Gereja maupun kaum awam selama beberapa pekan terakhir. Inilah pertama kalinya dalam sejarah, sebuah film bertema kerohanian begitu menyedot perhatian penonton dengan menimbulkan deraian air mata dan rasa pilu yang menyayat. Adakah sesuatu dalam film ini yang begitu mempengaruhi para penonton sehingga mereka rela berjam-jam antri untuk menonton di bioskop-bioskop terutama di AS dan Eropa ?

Inilah film yang menggambarkan tragedi yang memilukan hati melalui adegan-adegan kekerasan dan banjir darah yang diambil dari kisah Injil dan buku Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ yang di dalamnya berisi penglihatan St Anne Emerich (1774-1824), seorang mistikus, stigmatis dari Jerman yang selama 16 tahun terakhir hidupnya tidak pernah makan dan hanya minum air yang diberkati. Buku inilah yang menjadi inspirasi Mel Gibson, seorang Katolik yang taat walaupun skismatik sebab dia menolak konsili Vatikan II dan lebih senang disebut seorang Katolik Tradisional pra konsili Vatikan I pada masa Paus Pius IX, yang juga terkenal dengan misa tridentinenya.

Sekiranya kita semua dapat merasakan dan memahami apa yang menjadi pesan dari film ini di tengah-tengah masa pra Paskah sekarang ini ? Apalagi film dengan nuasana kental religius seperti ini sangat jarang muncul ke layar lebar dan ikut bersaing dengan film-film sekuler yang berbau porno, brutal dan konsumeristis. Untuk itu saya ingin mengajak para pembaca melihat sisi lain atau pesan yang mungkin bisa kita tarik dari The Passion ini ke arah tema evangelisasi baru dan persatuan umat Kristen.

Evangelisasi Baru

Di tengah-tengah dominasi budaya permisif dalam peradaban medioker ini, film ini ternyata bisa menata kembali mind set umat Kristen untuk merefleksikan kekristenannya secara holistik. Pertama, Kristus mengajarkan kita untuk melakukan penyerahan diri secara total kepada Bapa sama seperti yang Dia lakukan di Getsemani. Menurut Sister Josefa Menendez (1890 – 1923) dalam bukunya The Holy Passion of Our Lord and Savior Jesus Christ, yang juga seorang mistikus dan stigmatis, mengatakan bahwa kita hanya bisa mendapatkan kekuatan dari doa dan pencarian akan Allah selayaknya berlangsung dalam suasana hening, jauh dari kebisingan dan kebingungan. Selanjutnya agar bisa menemukan Dia, suatu jiwa harus menciptakan suasana sunyi yang jauh dari berbagai macam gangguan yang sifatnya melawan rahmat dan mendorong jiwa itu dipengaruhi oleh cinta pada diri sendiri atau sensualitas belaka. Kedua, Kristus yang menderita dengan rela, sabar, tanpa melawan dan tanpa mencoba membela diri ternyata disiksa, dianiaya secara keji untuk menaklukan dosa dan kesombongan manusia. Lambang salib memiliki arti signifikan bagi kita untuk lebih dimaknai secara mendalam bahwa penderitaan yang dialami oleh umat manusia bukan sesuatu yang harus dihindari dan perlu mendapat celaan namun harus dipahami untuk meneguhkan harapan yang merupakan bagian dari penderitaan dan harapan Kristus. Tom Jacobs, SJ mengatakan bahwa pengalaman akan kasih adalah Allah dan ini sangat berhasil direkonstruksikan dalam hasrat Kristus yang mau berkorban secara menyakitkan demi keselamatan kita semua. Inilah Allah yang mentransformasikan diriNya secara utuh menjadi korban kasih kekal tanpa cacat untuk mengajak kita agar mau mengikuti jejakNya yang berdarah menuju bukit Golgota. Penderitaan Kristus melahirkan Luka-luka yang menurut penglihatan St.Brigitta dari Swedia berjumlah 6600 yang olehnya malah kita disembuhkan. Dari Luka-lukaNya kita disatukan kembali oleh Kristus akibat dosa-dosa manusia sehingga kita bisa berdamai dengan Bapa Sang Pencipta. Inilah suatu relasi darah daging antara Bapa dengan anak-anakNya yang diikat dengan Tubuh dan Darah Sang Putera.

Dari sisi inilah evangelisasi baru menjadi bermakna bahwa kemenangan dan kemuliaan Kristus diawali dari pengorbanan. Sama seperti Yesus berkorban dengan menderita serta mengalami luka-luka di sepanjang via dolorosa, begitu pula kita sepatutnya berkorban di jalan salib kehidupan ini. Inilah sebuah penyadaran spiritual yang akan membawa kita kepada penyatuan penderitaan kita kepada Kristus. Menurut Uskup Agung F.X Nguyen Van Thuan dalam bukunya The Road of Hope, Allah sering mengirim salib-salib kepada mereka yang Ia kasihi, tetapi orang-orang semacam itu yang dikasihi Allah secara istimewa sedikit jumlahnya, karena tidak banyak orang akan menerima pengorbanan (No 163). Di samping itu, penderitaan yang dijalani akan berujung pada kebangkitan. Seperti yang dikatakan oleh Uskup Agung Vietnam yang juga mantan Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian dan pernah dipenjara selama 13 tahun oleh rezim komunis ketika itu, bahwa engkau gemetar ketakutan, engkau tersandung dan jatuh, engkau menemui kesukaran-kesukaran, kesalahpahaman-kesalahpahaman, kritikan-kritikan, cemoohan-cemoohan, bahkan hukuman mati. Mengapa Engkau melupakan Injil ? Tuhan kita Yesus Kristus menderita segala-galanya. Tetapi jika engkau terus mengikuti Dia, engkau akan memiliki Paskahmu juga (47). Salah satu buah dari kesadaran ini adalah seorang pemuda asal Texas bernama, Dan Leach mengakui kejahatannya di depan polisi. Ia mengatakan kalau dirinya telah melakukan pembunuhan terhadap seorang remaja wanita yang tengah hamil bernama Ashley Nicole Wilson. Keinginannya untuk mengakui dosanya itu, setelah Leach menonton film Yesus tersebut. Rupanya film ini menggugah perasaan bersalahnya. Ia pun berharap untuk diberikan pengampunan. Fakta ini didapat dari www.astaga.com.

Melalui film ini pula nama Yesus setidak-tidaknya kembali menemukan arti dimana selama bertahun-tahun di Eropa, AS dan negara-negara sekuler lainnya, nama ini semaking asing dan cenderung disingkirkan. Oleh sebab itu evangelisasi baru yang merujuk pada kisah film ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa penderitaan Kristus tidak sia-sia. Bahwa kematiannya membawa berkah bagi umat manusia. Namun yang perlu diperhatikan bahwa penderitaan Kristus itu bukan hanya pada saat 2000 tahun yang lalu namun secara mistik Dia masih menderita sampai saat ini. Apa sebab ? Karena Dia menyatu dengan umat manusia, Dia berbagi penderitaan dengan mereka yang miskin, sakit, terpenjara, teraniaya dan mereka yang merasa kehilangan harapan. Dia bukan Allah yang lupa akan mereka yang menderita dan tertindas meski sudah mulia di Surga namun Dia adalah Allah yang tinggal di hati umat manusia, Dia ikut memanggul salib bersama kita bahkan bila perlu Kristus sanggup menjalani keduakalinya sengsara di Kalvari.

Oleh sebab itu marilah kita saatnya berkontemplasi, merenungkan sengsara Kristus bahwa tanpa penderitaan, kita tidak bisa menjadi dewasa dalam iman dan juga kita tidak bisa merasakan luka-luka Kristus yang adalah luka-luka keselamatan. Dilain pihak adalah sangat lucu dan aneh bagi beberapa sekte Kristen kontemporer yang dalam beberapa liturginya berusaha untuk menghindari tema penderitaan Kristus dengan alasan kebangkitanNya-lah yang penting. Hal ini dibuktikan dengan tidak dirayakannya jum’at agung dalam ibadah mereka. Melihat Kristus dari satu aspek adalah hal yang naif. Seluruh perjalananan hidup Kristus adalah kesatuan rangkaian yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Menghilangkan satu bagian dari perjalanan hidup Kristus adalah menghilangkan sebagian iman kepercayaan kita sehingga kita akan kehilangan keseluruhan konteks penyelamatan.

Persatuan Umat Kristen

Animo umat Kristen yang sangat besar untuk menonton film ini ternyata membawa dampak besar bagi terciptanya iklim baru untuk persatuan umat beriman walaupun belum pada tahap persatuan Gereja secara penuh. Mengapa ? Karena film ini secara signifikan membawa gambaran baru yang bukan hanya bersumber pada Kitab Suci melainkan juga pada Tradisi Luhur Gereja. Hal-hal ini tentunya menjadi sesuatu yang baru bagi saudara-saudara kita dari kalangan Protestan. Singkatnya dapat kita katakan bahwa film ini sangat bersifat Roma Katolik.

Oleh sebab itu kalau film ini sangat Katolik sentris, lalu dimana letak persatuannya ? Jawabannya ialah pada figur Bunda Maria. Semua orang Kristen pasti sepakat bahwa Yesus dilahirkan oleh satu wanita yang bernama Maria binti Yoakhim. Allah telah memilih wanita suci dan perawan abadi ini bukan secara acak namun terpilih jauh sebelum dunia ini diciptakan. Maria bukanlah wanita yang tiba-tiba muncul menjadi ibu historis Sang Juru Selamat. Oleh sebab itu Maria adalah wanita sangat istimewa dimana Allah yang luasnya tak terbatas dan tak terjangkau ruang dan waktu mau bersemayam dalam rahim seorang wanita yang merupakan ciptaanNya selama 9 bulan. Bukankah ini suatu Rahmat Allah yang luar biasa bagi wanita keturunan Daud ini ? Untuk memperdalam relasi Yesus-Maria hendaknya kita sejenak merenungkan pada masa-masa Bunda menyusui Yesus ketika Sang Logos masih balita, mengajariNya berjalan, menyuapiNya makan, memandikanNya bahkan menegurNya manakala bandel.

Bunda Maria selayaknya menjadi perekat dan bukan pemecah umat Kristen. Bersama Bunda kita belajar memahami serta menyerap Yesus karena hanya seorang ibulah yang benar-benar mengetahui karakter dan seluk-beluk anaknya. Walaupun tidak bisa berdekatan langsung karena status hukuman dan terpisah jarak akibat kerumunan massa, antara Yesus dan Bunda Maria terjalin komunikasi bathin yang memungkinkan keduanya saling berinteraksi. Dari dialog hati ini keduanya saling berbagi penderitaan. Yesus memang menanggung secara fisik gelombang deraan, di sisi lain Bunda Maria ikut menderita secara bathiniah karena perasaan yang tak terperikan melihat PutraNya dianiaya secara biadab. Karena Yesus adalah manusia dan sekaligus Allah yang lahir dari peranakan Maria tanpa melalui persetubuhan dengan pria manapun, yang dibuahi hanya oleh Roh Kudus sehingga secara genetis memiliki darah daging semata-mata bersumber dari Maria maka adalah sangat tepat dan perlu bahwa seluruh umat Kristen harus belajar menghormati dan memuliakan Maria sebagai Theotokos alias Mother of God alias Bunda Allah .

Selain itu, dengan adanya film ini cakrawala saudara-saudara kita yang anti Tradisi Suci akan terbuka sehingga mereka akan semakin jernih melihat segenap peristiwa kesengsaraan Kristus. Sebagai contoh, sebanyak 7 kali Yesus jatuh ke tanah ketika memanggul salib. Hal ini bisa menjadi bentuk persatuan bila kita memaknainya dari perspektif kemanusiaan Yesus yang sangat lemah, dengan badan yang sudah remuk yang tak mungkin kuat memanggul Salib sendirian ke puncak Kalvari. Peristiwa seperti ini membawa kita pada perenungan akan beratnya beban hidup kita sewaktu-waktu yang memungkinkan kita sekali-kali jatuh dan tak lupa segera bangkit karena gairah Sang Mesias. Begitu pula Veronica, sosok wanita yang berani menawarkan secarik kain untuk membasuh wajah Kristus dan memberiNya minum dengan taruhan nyawa. Gambaran-gambaran tradisional ala Roma Katolik seperti ini cukup membuat umat Kristen lainnya menyadari pentingnya Tradisi -yang ironisnya selama ini menjadi atrophy- untuk menguatkan iman umat sehingga tidak berkembang secara statis pada penafiran harafiah teks injili namun meluas mengikuti jejak-jejak kehidupan Putera Manusia yang tidak tertulis pada Alkitab.

Dengan berbagai tanggapan positif dan antusiasme seluruh denominasi Gereja, film ini sepertinya memiliki Roh yang mengilhami umat Kristen untuk mencoba memahami ajaran-ajaran dan Tradisi dalam Gereja Roma Katolik. Ini sungguh luar biasa bahwa Allah dapat memakai segala cara untuk membangkitkan kembali kelesuan iman dan mengubah kesombongan sebagian besar umatNya melalui cara sinematik. Kita juga sepatutnya berterima kasih atas peranan besar Mel Gibson sebab tafsir kameranya membuat jutaan orang merasakan siraman rohani di tengah-tengah kekeringan jiwa generasi ini. Suatu oase di gurun pasir yang membuat mereka yang haus minum dari kisah The Passion of the Christ.

Dialog Teologis Balamand [Orthodox dan Katolik]

Balamand Statement :

Dialog Teologis antara Gereja Timur dan Barat
By Leonard T.P – diolah dari berbagai sumber

A. Pendahuluan

Komisi teologi gabungan internasional antara Gereja Roma Katolik dan Orthodok mengadakan dialog teologis paripurna yang ketujuh pada tanggal 17 – 24 Juni 1993 di Sekolah Teologi Balamand Lebanon. Dialog ini bertema “Persatuan (Uniatism), suatu metode persatuan gereja di masa lalu dan proses pencarian di masa sekarang untuk mencapai komuni bersama (full communion)”. Dialog teologis ini memiliki latar belakang sbb :

1. Dialog yang terjadi di Lebanon ini sebenarnya merupakan permintaan Gereja Orthodox dalam memahami perkembangan teologi Gereja Katolik yang selama ini telah menjadi perhatian serta munculnya pertanyaan tentang apa yang sebenarnya disebut “Persatuan” itu (Uniatism).

2. Karena menyangkut suatu metode yang disebut “Uniatism” seperti yang dikatakan oleh Freising (Juni 1990) bahwasanya metode persatuan sebenarnya bertentangan dengan tradisi kedua gereja maka perlu dibentuk suatu dialaog teologis yang lebih komprehensif antara kedua gereja.

3. Gereja Katolik Timur yang semakin berkembang dan yang merupakan bagian dari Komuni bersama dengan Katolik Roma memiliki hak untuk hidup sesuai dengan kebutuhan rohani dan keimanan mereka.

4. Dokumen yang disiapkan di Ariccia oleh komite kordinasi gabungan dan telah selesai pada Juni 1993 di Balaman menyatakan apa sebenarnya metode yang dipakai dalam proses pencarian dalam mencapai komuni bersama (full communion). Sehingga dialog ini diharapkan dapat menghindari “eksklusivitas” metode persatuan yang dimaksud itu.

5. Dokumen Dialog Balamand ini terdiri dari 2 (dua) bagian utama yakni :

a) Prinsip-prinsip Eklesiatologis (Ecclesiological principles)

b) Pedoman praktek

B. Prinsip-prinsip Eklesiatologis

Ada beberapa prinsip dasar yang diperhatikan dalam masalah ini yakni :

1. Perpecahan gereja antara Timur dan Barat tidak mengecilkan semangat akan persatuan gereja seperti yang diinginkan oleh Kristus. Padahal kenyataan yang terjadi sepertinya bertolak belakang dengan keadaan gereja yang sering dipersoalkan mengenai kesadaran akan pentingnya persatuan gereja sehingga kesetiaan kita kepada Sabda Allah tetap terjaga.

2. Dalam beberapa abad yang lampau, usaha-usaha menuju persatuan gereja telah banyak dilakukan. Para pemimpin gereja telah berupaya melakukan cara untuk mengakhiri perpecahan gereja melalui bermacam-macam konsili yang kadang-kadang diadakan atas dasar politis, historis dan teologis. Namun sampai saat ini usaha-usaha untuk mencapai komuni bersama pun antara Gereja Timur dan Barat belum berhasil bahkan cenderung menimbulkan masalah baru yang memperparah keadaan.

3. Dalam empat abad terakhir dan di beberapa tempat di Timur, inisiatif justru sering dikemukakan oleh beberapa bagian gereja Timur untuk memulihkan persaudaraan antara Gereja Timur dan Barat. Inisiatif ini malahan menghasilkan persatuan beberapa komunitas gereja Timur dengan Tahta Roma dan akibatnya komunitas tersebut terpisah dari induk gereja mereka yakni gereja Timur. Atas dasar hal-hal ini Gereja Katolik Timur lahir. Namun situasi seperti itu malah menimbulkan sumber konfik baru dan juga penderitaan bukan hanya dialami oleh Gereja Orthodox juga Gereja Katolik Roma.

4. Apapun perhatian, semangat dan maksud untuk tetap setia kepada Sabda Yesus agar “semoga mereka bersatu” seperti yang diinginkan oleh beberapa komunitas gereja timur tadi untuk bersatu dengan Tahta Roma namun harus diakui bahwa sebenarnya pendirian kembali persatuan gereja antara Timur dan Barat tidak tercapai dan perpecahan tetap ada bahkan diperburuk oleh usaha-usaha tadi.

5. Situasi yang digambarkan di atas tadi menimbulkan ketegangan dan perlawanan. Dalam beberapa dekade , para misionaris yang mengikuti semangat persatuan secara progesif baik individual maupun kelompok cenderung melakukan kegiatan yang meng-convert (mengubah) iman seseorang untuk “kembali” ke gereja asal mereka. Dalam rangka meligitimasi usaha-usaha ini, sebagai sebuah sumber “proselytism”, Gereja Katolik mengembangkan visi teologis yang menurut mereka Gereja Katolik-lah sebagai satu-satunya sumber Keselamatan. Sebagai reaksi balik, Gereja Orthodox melakukan hal yang sama. Bahkan sering terjadi seorang Kristen harus melakukan baptis ulang (re-baptized). Sehingga prinsip-prinsip kebebasan beragama menjadi hilang. Perspektif seperti inilah yang sering dilupakan oleh pihak-pihak tersebut.

6. Dilain pihak beberapa otoritas sipil di luar gereja berusaha membawa kembali Katolik Timur kepada Gereja asal mereka. Untuk mencapai hasil ini, pihak otoritas itu tidak segan-segan mempergunakan cara yang tidak patut dipakai.

7. Karena cara-cara seperti tadi yang mana Gereja Katolik dan Orthodox mulai mempertimbangkan pentingnya hubungan diantara mereka sebagai gereja yang bersaudara (sister church), maka cara “kerasulan misionaris (missionary apostolate)” seperti tadi tidak lagi dapat diterima baik sebagai metode yang harus dipakai maupun sebagai model persatuan gereja.

8. Sejak konferensi Pan Orthodox dan Konsili Vatikan II yang pada kenyataanya telah memberikan nilai-nilai baru bagi Gereja sebagai suatu komuni, telah merubah secara radikal perspektif dan sikap-sikap mereka. Setiap pihak disadarkan bahwa Kristus telah mempercayakan GerejaNya – seperti yang tertuang dalam pengakuan iman rasuli, partisipasi dalam sakramen yang sama, satu kepemimpinan dalam mempersembahkan Kristus, suksesi rasuli – yang mana hal-hal itu tidak dapat lagi dipandang sebagai bentuk eksklusivitas dari kedua gereja tersebut. Dalam konteks ini jelaslah bahwa baptis ulang (Re-baptism) harus dihindari.

9. Dalam perspektif inilah seharusnya Gereja Timur dan Barat mengenal satu sama lain sebagai Gereja kakak-beradik/bersaudara (Sister Church) dan sama-sama bertanggungjawab untuk memelihara Gereja Allah dalam kesetiaan kepada tujuan yang suci dan bermuara pada persatuan. Menurut Paus Johanes Paulus II, usaha dan semangat ekumenis dari Gereja bersaudara yang berlandaskan pada dialog dan doa merupakan pencapaian terhadap komuni total secara sempurna sehingga persatuan bukan merupakan bentuk “absorpsi (penyerapan) dan fusi (penggabungan)” melainkan lebih pada sebuah perjumpaan dalam kebenaran dan kasih. (cf.Slavorum Apostoli n.27)

10. Kebebasan seseorang untuk mengikuti hati nuraninya tetap terjaga aman, dan diharapkan tidak ada lagi persoalan mengenai “conversion” dari orang-orang agar masuk ke dalam gereja tertentu yang dijamin keselamatannya.

11. Gereja Katolik Timur yang telah bergairah dalam mendirikan kembali komuni bersama dengan Tahta Roma dan setia sampai saat ini tetap memiliki hak dan kewajiban yang berkaitan dengan komuni bersama itu. Prinsip-prinsip yang menentukan sikap dari Gereja Katolik Timur terhadap Gereja Orthodox merupakan prinsip-prinsip yang telah dinyatakan dalam Konsili Vatikan II dan telah dilaksanakan oleh Paus sekaligus Paus itu sendiri mengklarifikasikan beberapa konsekuensi praktis yang dipublikasikan sejak saat itu. Gereja Katolik Timur pun perlu dimasukkan dalam gereja Timur dan Barat baik di tingkat lokal maupun universal, diikutsertakan dalam dialog kasih yang berlandaskan saling menghormati dan adanya rasa kepercayaan diri yang sama serta terlibat dalam dialog teologis berserta segala implikasi praktisnya.

12. Dalam atmospir seperti ini, pertimbangan-pertimbangan yang muncul dan pedoman praktek yang diikuti akan lebih efektif diterima dan diakui bila mengarah kepada solusi yang adil dan definitf dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh Gereja Katolik Timur terhadap Gereja Orthodox.

13. Untuk mengakhiri situasi demikian, Paus Paulus VI dalam amanatnya di Phanar bulan Juli 1967 mengatakan : “Dalam kepemimpinan dan bimbingan gereja serta hirarki merekalah, segenap kewajiban akan mengarah dan tinggal dalam Gereja sehingga dalam berbagai cara akan menuju kepada suatu komuni bersama lagi. Mereka harus melihat dan melaksanakan hal ini dengan cara mengenal dan menghargai satu sama lain seperti gembala dalam memimpin kawanan dombanya seperti yang dipercayakan Kristus kepada kita, kemudian mereka harus saling peduli terhadap perkembangan dan kesatuan dari jemaat-jemaat Allah dan mencegah segala sesuatu yang dapat mencerai-beraikan atau menimbulkan kebingungan dalam setiap jenjang kehidupan gereja mereka” (Tomos Agapis, n.172). Dalam semangat ini Paus Johanes Paulus II serta Patriak Ekumenis Dimitrios I bersama-sama menyatakan secara jelas : “Kami menolak segala bentuk proselytism (mempengaruhi orang lain untuk masuk agama tertentu) dan sikap-sikap yang dapat dirasakan sebagai berkurangnya rasa penghormatan terhadap satu sama lain” (7 Desember 1987).

C. Pedoman Praktek

Pedoman-pedoman ini praktek memuat hal-hal sbb :

1. Saling menghormati antara kedua Gereja akan mempermudah suasana dalam rangka menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan penerapan pedoman praktek.

2. Pedoman-pedoman atau peraturan-peraturan ini tidak akan mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan kekhawatiran kita kecuali setiap kelompok memiliki niat untuk saling memaafkan yang diilhami Kitab Suci dan dalam konteks usaha-usaha yang konstan sehingga pembaruan dan semangat yang dikembangkan dapat mencapai komuni bersama (full communion). Oleh sebab itu dialog kasih harus berlangsung secara intensif dan ketekunan akan kasih itu sendiri dapat mengatasi kekurangan pengertian kedua belah pihak. Dengan demikian kondisi itu dapat memperdalam dialog teologis yang mengantar kita menuju komuni bersama.

3. Langkah pertama yang dapat diambil adalah menghindari sesuatu yang dapat mempercepat perpecahan, kutukan, dan kebencian diantara kedua Gereja. Dalam hal ini Otoritas Gereja Katolik akan membantu Gereja Katolik Timur dan juga komunitasnya agar mereka dapat mempersiapkan diri menuju komuni bersama antara Gereja Katolik Roma dan Orthodox. Sebaliknya Otoritas Gereja Orthodox akan melakukan hal yang sama. Dalam cara ini, akan lebih mungkin bagi kita semua untuk menjaga situasi yang sangat kompleks yang telah tercipta di Eropa Timur yang mana pada saat bersamaan, kasih dan keadilan bagi kedua Gereja sangat diperhatikan.

4. Kegiatan pastoral Gereja Katolik yang berbentuk Latin dan juga Katolik Timur tidak boleh memiliki umat yang berasal dari satu gereja yang dapat dipindahkan ke gereja lainnya. Maksudnya adalah Gereja Katolik mengindari sejauh mungkin bentuk “proseltysm” kepada Orthodox. Hal ini bertujuan untuk menjawab kebutuhan spiritual dari setiap umat dan dimaksudkan bukan untuk melakukan ekspansi dengan mengorbankan Gereja Orthodox. Sehingga dalam perspektif ini diharapkan tidak ada lagi ruang-ruang ketidakpercayaan dan kecurigaan. Dan perlu juga diadakan suatu bentuk pertukaran informasi terhadap berbagai proyek pastoral sehingga kerjasama antara kedua pemimpin gereja yang ada dalam daerah tersebut (misal uskup) dapat berkembang aktif.

5. Sejarah hubungan antara Gereja Orthodox dan Gereja-gereja Katolik Timur ditandai oleh siksaan dan penderitaan. Apapun yang mengakibatkan penderitaan dan penyebab dari itu, mereka tidak boleh menjustifikasikan “triumphalism” (kesombongan karena berhasil menaklukan wilayah). Tidak ada seorang pun yang dapat mengagungkan kemenangan di dalam diri mereka maupun membuat pernyataan yang dapat menimbulkan tuduhan dan perbedaan kepada Gereja yang lain. Biarkan Allah sendiri yang mengetahui siapa MilikNya. Apa pun masa lalu yang telah terjadi harus diserahkan kepada Kemurahan Hati Allah dan semua energi Gereja-gereja harus diarahkan kepada Kehendak Kristus bagi umatNya baik sekarang dan masa yang akan datang.

6. Perlu juga diperhatikan oleh kedua Gereja bahwa para uskup dan mereka yang memiliki tanggungjawab pastoral untuk secara cermat menghargai kebebasan beragama dari umat tersebut. Sebaliknya, umat harus bisa menyatakan hasrat mereka terhadap tujuan kebebasan beragama itu. Secara khusus dalam situasi konflik, kebebasan beragama mensyaratkan seorang umat seharusnya dapat menyampaikan dan memutuskan gagasan mereka tanpa tekanan dari luar apabila mereka ingin berada dalam komuni apakah itu bersama Gereja Orthodox atau Gereja Katolik. Kebebasan beragama akan rusak ketika seorang umat dipengaruhi oleh bantuan keuangan dari Gereja lain sehingga ia akan tertarik kepada gereja itu. Atau melalui janji akan sesuatu, pendidikan dan keuntungan material yang mungkin di gereja asalnya dia tidak mendapatkan. Dalam konteks ini seyogyanya bantuan sosial dan juga kegiatan filantropis lainnya dikoordinasikan melalui kesepakatan bersama untuk menghindari timbulnya kecurigaan baru.

7. Lebih jauh lagi, perlunya penghormatan terhadap kebebasan krisitani, yang merupakan salah satu dari banyak pemberian Kristus yang paling berharga, untuk tidak menjadi sebuah proyek pastoral yang melibatkan umat dari gereja lain tanpa berkonsulasi dahulu dengan pastor dari gereja tersebut. Tidak hanya segala bentuk tekanan, atau apa pun jenisnya yang harus dikesampingkan tetapi juga perlunya rasa menghargai hati nurani yang dimotivasikan oleh keadaan darurat yang otentik dari iman seseorang hal ini pun merupakan salah satu prinsip yang mengarahkan kepedulian pastoral bagi mereka yang bertanggungjawab di kedua gereja itu. Dan seharusnya pun hal ini dapat menjadi bahan refleksi yang sama.(Galatia 5 : 13).

8. Oleh sebab itu perlu terus mengadakan dialog terbuka yang dalam tempat pertama adalah dialog antara mereka yang memiliki tanggungjawab gereja di tingkat lokal. Mereka yang bertanggungjawab dalam komuitas tersebut seharusnya membuat komisi lokal bersama atau mengefektifkan komisi itu bila sudah ada agar masalah-masalah yang ada dapat dicarikan solusinya atas dasar kebenaran, kasih, keadilan dan damai. Apabila kesepakatan itu tidak dapat dicapai di tingkat lokal maka sebaiknya hal itu diteruskan ke komisi gabungan yang lebih tinggi yang dibentuk oleh otoritas yang lebih tinggi pula.

9. Kecurigaan akan hilang lebih mudah apabila kedua kelompok mengutuk kekerasan yang mungkin dipakai salah satu pihak terhadap Gereja yang bersaudara ini (Sister Church). Seperti yang dihimbau Paus Johanes Paulus II dalam suratnya tanggal 31 Mei 1991, adalah perlu disadari bahwa kekerasan dan setiap bentuk tekanan atau paksaan dihindari dalam rangka menghormati kebebasan nurani. Ini merupakan tugas dari mereka yang bertanggungjawab dalam komunitas tersebut untuk membantu para umat untuk lebih memperkuat kesetiaan mereka terhadap gereja mereka masing-masing dan juga terhadap tradisi. Para klerus pun diharapkan dapat mengajarkan kepada umatnya untuk menghindari bukan hanya kekerasan namun juga yang secara fisik, verbal dan moral dapat menimbulkan penghinaan terhadap umat kristen lainnya. Karena kalau hal-hal ini terjadi maka umat akan merendahkan karya keselamatan yang terwujud melalui rekonsiliasi dalam Kristus.

10. Iman dalam kehidupan sakramental mengajarkan penghormatan kepada perayaan liturgis yang dilakukan gereja lain. Penggunaan kekerasan dalam menduduki tempat perayaan sangat bertolak belakang dengan keyakinan akan iman kita. Sebaliknya, keyakinan ini kadang-kadang mensyaratkan bahwa perayaan dari gereja lain seharusnya dibuat lebih fleksibel dengan mengutamakan kesepakatan bersama. Sebagai contoh apabila suatu gedung secara bersama-sama maka salah satu gereja dapat memakai bergantian dengan waktu yang berbeda. Sekali lagi manifestasi kekerasan harus segera dihindari.

11. Uskup dan imam mempunyai kewajiban dihadapan Allah untuk menghormati otoritas dimana Roh Kudus telah memberikan kepada Uskup dan Imam dari gereja yang lain itu. Oleh sebab itu perlu dihindarkan campur tangan dalam kehidupan spiritual dari umat gereja itu. Kerjasama menjadi sangat dibutuhkan demi kebaikan para umat. Bahkan antara para pemimpin gereja itu perlu membuat kesepakatan yang saling selaras dan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran serta diberitahukan kepada gereja yang lain secara terbuka, tulus dan dengan penghargaan kepada kehidupan sakramental. Dalam konteks ini untuk menghindari kesalahpahaman dan mengembangkan kepercayaan antara dua gereja maka uskup Katolik dan Orthodox yang berada dalam wilayah yang sama dapat saling berkonsultasi sebelum mendirikan proyek pastoral Katolik yang dapat berimplikasi pada pendirian struktur baru dalam wilayah yang secara tradisional merupakan bagian jurisdiksi dari Gereja Orthodox. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari risiko degeneratif akibat persaingan atau bahkan konflik.

12. Perlu bagi kedua Gereja untuk datang bersama-sama dan menyatakan rasa terima kasih dan penghargaan kepada mereka baik yang dikenal maupun tidak dikenal, para uskup, imam atau umat baik Orthodok maupun Katolik apakah Timur atau Latin yang menderita dan mengakui iman mereka serta menjadi saksi setia bagi Gereja dan orang kristen secara umum yang tanpa melakukan diskriminasi mengalami siksaan dan penderitaan. Penderitaan mereka memanggil kita untuk bersatu dan memberi respon terhadap doa Kristus “semoga mereka menjadi satu sehingga dunia percaya…..(Yoh 17 : 21)”.

13. Komisi gabungan internasional untuk dialog teologis antara Gereja Katolik dan Orthodox di Balamand secara tegas merekomendasikan agar pedoman praktek ini dilaksanakan oleh kedua Gereja termasuk Gereja Katolik Timur yang memang dipanggil untuk ambil bagian dalam dialog teologis ini sehingga proses menuju pendirian kembali komuni bersama dapat terwujud dan berkembang.

14. Dengan mengeluarkan “proselytism” di masa datang serta keinginan-keinginan Gereja Katolik untuk berekspansi dengan mengorbankan Gereja Orthodox, komisi ini berharap telah dapat mengatasi halangan yang mendorong beberapa gereja “autocephalous” (menjadi independent) untuk menghindar dalam partisipasi pada dialog teologis ini. Dan juga Gereja Orthodox akan dapat menemukan dirinya bersama-sama lagi untuk melanjutkan karya teologis yang secara mesra sebenarnya sudah dimulai.

Balamand (Lebanon – 23 Juni 1993)

PESERTA BALAMAND

Berikut ini adalah delegasi-delegasi yang menghadiri Pertemuan Paripurna Ketujuh untuk Komisi Gabungan Internasional untuk Dialog Teologis antara Gereja Roma Katolik dan Orthodox yang diselenggarakan di Sekoloh Teologi Balamand , Lebanon 17 – 24 Juni 1993

From the Eastern Orthodox Churches:

Ecumenical Patriarchate of Constantinople

His Eminence Archbishop Stylianos of Australia Orthodox Co-President of the Joint International Commission

Patriarchate of Alexandria

His Eminence Metropolitan Dionysios of Nubia

Professor Constantine Patelos

Patriarchate of Antioch

His Eminence Metropolitan George of Byblos and Botrys

Father Archimandrite Youhanna (Yazigi)

Church of Russia

Father Hegumen Nestor (Zhilyaev)

Church of Romania

His Eminence Metropolitan Antonie of Transylvania

Father Archpriest Dumitru Radu

Church of Cyprus

His Eminence Metropolitan Chrysanthos of Morphou

Professor Macarius Papachristophorou

Church of Poland

Father Hieromonk Barsanuphius (Doroszkiewicz)

Church of Albania

Professor Theodoros Papapavli

Church of Finland

His Grace Bishop Ambrosius of Joensocu

Executive Secretary:

His Eminence Metropolitan Spyridon of Italy

[The Patriarchate of Jerusalem, and the Churches of Georgia, Serbia, Bulgaria, Greece, and Czechoslovakia were not represented.]

Dokumen Vatikan Mengenai New Age

Catatan :

Diterjemahkan bebas oleh Leonard T. Panjaitan

Dokumen ini dikeluarkan oleh Vatican pada tanggal 3 Februari 2003.

Judul asli : PONTIFICAL COUNCIL FOR CULTURE, PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE – JESUS CHRIST THE BEARER OF THE WATER OF LIFE : A Christian reflection on the “New Age”.

DEWAN KEPAUSAN UNTUK KEBUDAYAAN

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR AGAMA

YESUS KRISTUS

PEMBAWA AIR KEHIDUPAN

Suatu Refleksi Iman Kristen tentang Ajaran “New Age”

DAFTAR ISI

Kata Pendahuluan

1. Macam-macam refleksi tentang “New Age”

1.1 Mengapa baru sekarang ?

1.2 Komunikasi

1.3 Latar belakang budaya

1.4 New Age dan iman Katolik

2. Spiritualitas New Age : suatu tinjauan

2.1 Apa yang baru tentang New Age ?

2.2 Apa yang New Age klaim untuk diberikan ?

2.2.1 Daya Tarik : Pasti Ada seorang Malaikat

2.2.2 Harmoni dan Pemahaman : Getaran-getaran yang baik

2.2.3 Kesehatan : Kehidupan Emas

2.2.4 Keseluruhan (Wholeness) : Perjalanan misteri magis

2.3 Prinsip-prinsip fundamental dari gagasan New Age

2.3.1 Respon global dalam masa krisis

2.3.2 Matriks esensial dari gagasan New Age

2.3.3 Tema sentral New Age

2.3.4 Apa yang New Age katakan tentang

2.3.4.1 ….pribadi manusia ?

2.3.4.2 …Allah ?

2.3.4.3 …dunia ?

2.4 “Penghuni mitos daripada penghuni sejarah” : New Age dan kebudayaan

2.5 Mengapa New Age berkembang dengan pesat dan menyebar dengan efektif ?

3. New Age dan iman Kristen

3.1 New Age sebagai spiritualitas

3.2 Narsisisme spiritual ?

3.3 Kristus Kosmik

3.4 Mistisisme Kristen dan Mistisisme New Age

3.5 Allah yang berada di dalam dan theosis

4. New Age dan iman Kristen dalam perbandingan

5. Yesus Kristus menawarkan kita air kehidupan

6. Poin-poin untuk dicatat

6.1 Petunjuk dan informasi akurat dibutuhkan

6.2 Langkah-langkah praktis

7. Appendix

7.1 Beberapa formulasi singkat tentang ide-ide New Age

7.2 Daftar kata-kata pilihan

7.3 Tempat-tempat penting New Age

8. Sumber-sumber

8.1 Dokumen-dokumen Magisterium Gereja Katolik

8.2 Studi-studi Kristen

9. Bibliographi umum

9.1 Beberapa buku-buku New Age

9.2 Karya-karya historis, deskriptif dan analitis

Kata Pendahuluan

Studi ini menyangkut fenomena New Age yang kompleks yang mempengaruhi banyak aspek dari kebudayaan kontemporer.

Studi ini merupakan laporan sementara. Laporan ini merupakan buah dari refleksi biasa dari kelompok kerja yang bertugas menangani Gerakan Agama Baru yang terdiri dari anggota staf dicasteries Tahta Suci : Dewan Kepausan untuk Kebudayaan dan Dialog antar Agama (Dewan ini merupakan redaktur utama bagi proyek ini), Konggregasi untuk Evangelisasi Umat dan Dewan Kepausan untuk meningkatkan persatuan Kristen.

Refleksi ini ditujukan khususnya kepada mereka yang terlibat dalam karya pastoral sehingga mereka dapat menjelaskan mengenai Gerakan New Age yang berbeda dari iman kristiani. Studi ini mengajak para pembaca untuk memperhatikan (take account of the way) bahwa agama New Age mengisi kerinduan spiritual dari orang-orang zaman ini. Hal ini seharusnya diketahui bahwa daya tarik yang ditawarkan Agama New Age kepada beberapa orang kristen mungkin berhubungan dengan kurangnya perhatian dalam komunitas mereka terhadap tema-tema aktual yang merupakan bagian dari sintesis (perpaduan) Katolik seperti pentingnya dimensi spiritual manusia dan integritasnya dengan seluruh kehidupan, pencarian arti hidup, hubungan antara manusia dan ciptaan lain, keinginan akan transformasi sosial dan personal serta penolakan terhadap pandangan kemanusiaan yang rasionalistis dan materialistis.

Publikasi saat ini meminta perhatian para pembaca mengenai perlunya untuk mengetahui dan mengerti New Age sebagai kebudayaan masa kini begitu pula perlunya umat Katolik untuk memiliki pengertian tentang doktrin dan spirtualitas Katolik yang otentik dan agar dapat menilai tema-tema New Age dengan tepat. Dua bab pertama membicarakan New Age sebagai tendensi (kecenderungan) keaneragaman budaya, mengajukan analisis mengenai dasar dari pikiran yang disampaikan dalam konteks ini. Dari bab ketiga ke depan beberapa indikasi diberikan dalam rangka investigasi tentang New Age dalam perbandingannya dengan amanat-amanat kristen.

Mereka yang berniat mendalami lebih jauh studi New Age akan menemukan pentunjuk-petunjuk yang berguna di appendix laporan ini. Diharapkan karya ini akan menyediakan stimulus terhadap studi yang lebih jauh lagi yang mengadaptasi berbagai konteks budaya yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendorong ketajaman bagi mereka yang mencari poin-poin petunjuk dugaan (sound) demi kepenuhan hidup yang lebih besar. Ini adalah keyakinan kita bahwa melalui banyak orang di jaman ini yang sedang mencari, kita dapat menemukan kedahagaan sejati akan Allah. Seperti Paus Yohanes Paus 2 katakan kepada sekelompok uskup dari Amerika Serikat : “Imam harus jujur mengatakan apakah mereka telah memberikan perhatian yang cukup kepada keingintahuan/kedahagaan hati manusia akan “air kehidupan” yang hanya oleh Kristus Penebus diberikan (lih Yoh 4 : 7 – 13)”. Seperti Paus, kita ingin mengandalkan “kehangatan/kesejukan abadi dari amanat Kitab Suci dan kapasitasnya untuk mentransformasikan serta memperbaharui mereka yang menerimanya (kitab suci)” (AAS 86/4,330).

1. Refleksi mengenai apa ?

Refleksi-refleksi di bawah ini dimaksudkan sebagai petunjuk bagi umat Katolik yang terlibat dalam pengajaran Kitab Suci dan ajaran iman pada setiap level dalam Gereja. Dokumen ini tidak bertujuan menyediakan satu set jawaban yang lengkap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh New Age atau isyarat-isyarat (signs) kontemporer tentang pencarian manusia akan kebahagiaan abadi, tujuan (meaning) dan keselamatan. Dokumen ini merupakan ajakan untuk memahami New Age dan mengikutsertakan dalam dialog yang tulus dengan mereka yang terpengaruh oleh pemikiran New Age. Dokumen ini menuntun mereka yang terlibat dalam karya pastoral dalam pengertian dan tanggapan mereka terhadap spiritualitas New Age baik dengan mengilustrasikan poin-poin dimana spiritualitas New Age berbeda dengan iman Katolik maupun menolak posisi yang didukung oleh pemikir New Age dalam perlawanannya terhadap iman Kristen. Apa yang diperlukan oleh umat kristen pertama-tama dan terutama adalah, dasar yang solid dalam iman mereka. Dengan dasar seperti ini, mereka dapat membangun kehidupan untuk menanggapi secara positif undangan dalam surat Petrus yang pertama : “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3 ay 15).

1.1 Mengapa baru sekarang ?

Awal milenium ketiga datang bukan hanya dua ribu tahun setelah kelahiran Kristus tetapi juga ketika pada saat astrolog percaya bahwa Zaman Pisces (Age of Pisces) – yang dikenal mereka sebagai zaman orang Kristen (Christian age) – semakin dekat. Refleksi-refleksi ini berbicara mengenai New Age yang mengambil nama dari zaman Aquarius (Age of Aquarius) yang bersifat astrologis yang sebentar lagi tiba. New Age adalah satu dari sekian penjelasan yang signifikan dari momen sejarah yang menyerang kebudayaan kontemporer (khususnya barat) dan ini sulit untuk melihat dengan jelas apa itu New Age dan apa yang tidak konsisten dengan amanat Kristen. Jadi refleksi ini nampaknya merupakan momen yang tepat untuk menawarkan kepada orang Kristen suatu penilaian mengenai pemikiran New Age dan New Age sebagai gerakan secara keseluruhan.

Telah dikatakan secara jelas bahwa banyak orang akhir-akhir ini terombang-ambing diantara kepastian dan ketidakpastian, khususnya pertanyaan yang berhubungan dengan identitas mereka 1. Beberapa orang mengatakan bahwa : agama Kristen itu patriarkal dan otoriter, institusi politik tidak dapat memperbaiki dunia dan ilmu kedokteran formal (allopathic) jelas gagal untuk menyembuhkan orang secara efektif. Fakta yang merupakan elemen sentral di dalam masyarakat yang dirasakan tidak dapat dipercayai atau memiliki kekurangan dalam otoritas yang sejati (tulus) telah menciptakan iklim dimana orang melihat ke dalam dirinya sendiri untuk mencari arti/tujuan dan kekuatan. Ada pula pencarian terhadap institusi alternatif sehingga orang berharap akan menanggapi kebutuhan mereka yang begitu dalam. Komunitas alternatif dalam kehidupan yang kacau atau tak berstruktur di tahun 1970-an telah memberi jalan terhadap pencarian disiplin (ilmu) dan struktur yang secara jelas merupakan elemen kunci dalam gerakan “mistik” yang sangat populer. New Age sebagian besar menarik sebab apa yang ditawarkan New Age itu memenuhi kerinduan yang sering ditinggalkan secara tidak memuaskan oleh institusi mapan.

Walaupun banyak dari New Age merupakan reaksi terhadap kebudayaan kontemporer namun terdapat beberapa cara yang dapat disebut anak budaya. Kebangkitan dan Reformasi telah membentuk orang-orang barat modern menjadi individual yang tidak dibebani dengan beban eksternal seperti kekuasaan ekstrinsik dan tradisi belaka namun orang-orang merasakan bahwa kebutuhan untuk “memiliki” institusi semakin berkurang (tetapi kesendirian merupakan bencana yang begitu banyak terjadi dalam kehidupan modern) dan cenderung mereka tidak menggolongkan secara “resmi” pendapat yang melampaui pendapat mereka sendiri. Dengan kultus kemanusiaan ini, agama terinternalisasi dalam cara persiapan yang dasar bagi perayaan kekudusan diri sendiri. Ini sebabnya New Age berbagi banyak nilai yang didukung oleh budaya perusahaan dan “ajaran/kitab suci kemakmuran” (ini akan lebih banyak dibahas kemudian : bagian 2.4) dan juga didukung oleh kebudayaan konsumen yang pengaruhnya jelas dari pertumbuhan orang-orang yang cepat yang menegaskan bahwa itu adalah hal yang mungkin untuk memadukan antara Kekristenan dan New Age dengan mengambil apa yang mengena pada mereka sebagai yang terbaik bagi kedua-duanya 2. Patut diingat bahwa deviasi di dalam Kekristenan telah melampaui/melebihi theisme tradisional dalam menerima peralihan unilateral kepada diri sendiri dan hal ini akan mendorong adanya perpaduan dari berbagai pendekatan. Hal yang penting untuk dicatat bahwa Allah dikurangi perannya dalam praktek-praktek tertentu New Age supaya dapat memajukan individu secara lebih lanjut.

New Age menarik perhatian orang-orang yang diilhami oleh nilai-nilai kebudayaan modern. Kebebasan, otentisitas, percaya/mengandalkan pada diri sendiri, dan kesukaan-kesukaan yang dipercayai suci. New Age juga menarik perhatian bagi mereka yang memiliki masalah dengan kepatriakan. New Age “tidak meminta lebih banyak iman atau kepercayaan daripada pergi ke bioskop”, 3 tetapi aliran ini menyatakan dapat memuaskan rasa lapar orang-orang akan spiritualitas. Tetapi di sini bisa kita sampaikan sebuah pertanyaan : apa yang dimaksud dengan spiritualitas dalam konteks New Age ini ? Jawaban ini merupakan kunci untuk membuka beberapa perbedaan antara tradisi Kristen dengan apa yang banyak disebut sebagai New Age. Beberapa versi New Age memanfaatkan kekuatan alam dan mencoba berkomunikasi dengan dunia lain untuk menemukan nasib seseorang/indivual, membantu seseorang mendengarkan frekuensi yang tepat sesuai dengan selera dan keadaan mereka sendiri. Dalam banyak kasus, New Age sangat fatal. Sebaliknya, Kekristenan adalah ajakan untuk melihat keluar dan ke atas menuju “advent baru” di mana Allah memanggil kita untuk hidup dalam dialog kasih 4.

1.2 Komunikasi

Revolusi teologis dalam komunikasi selama beberapa tahun terakhir ini telah menghasilkan situasi yang sama sekali baru. Kemudahan dan kecepatan yang mana sekarang orang-orang dapat berkomunikasi merupakan salah satu dari alasan mengapa New Age telah menarik perhatian mereka dari segala umur dan latar belakang, dan banyak pula orang-orang yang mengikuti Kristus tidak begitu yakin mengenai apa itu New Age. Internet secara khusus telah mempengaruhi sangat besar terutama orang-orang muda. Tetapi internet merupakan alat dari informasi yang salah dan berubah-ubah yang mempengaruhi pada banyak aspek agama : tidak semua yang berlabel “Kristen” atau “Katolik” yang dapat dipercayai merefleksikan ajaran-ajaran Gereja Katolik dan pada saat bersamaan ada sejumlah ekspansi/perluasan sumber-sumber New Age yang berkisar dari serius sampai ke hal-hal yang lucu. Orang-orang membutuhkan dan memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai perbedaan antara Kekristenan dan New Age.

1.3 Latar belakang budaya

Ketika seseorang menguji tradisi-tradisi New Age maka segera akan menjadi jelas ada suatu fakta kecil bahwa New Age itu baru. Nama New Age ini kelihatannya telah beredar melalui Rosicrucianisme dan Freemason pada saat Revolusi Perancis dan Amerika tetapi realitas menunjukkan bahwa New Age merupakan varian dari esoterisme barat. Hal ini kembali ke masa kelompok Gnostik yang berkembang pada awal-awal Kekristenan dan memperoleh momentum pada saat Reformasi di Eropa. New Age telah berkembang pararel bersamaan dengan pandangan dunia pengetahuan. Aliran ini telah terlibat dalam penolakan yang progresif terhadap Allah sebagai pribadi dan New Age memfokuskan pada entitas lain yang dapat menjadi figur intermediasi antara Allah dan manusia dalam tradisi Kekristenan, dengan banyak adaptasi asli dari entitas-entitas tersebut. Tren yang kuat dalam kebudayaan barat yang telah memberi ruang bagi ide-ide New Age merupakan dukungan secara umum dari teori evolusioner Darwin, dan ini bersama dengan arah kekuatan spiritual yang tersembunyi atau kekuatan alam telah menjadi tulang punggung dari apa yang sekarang dikenal sebagai teori New Age. Prinsipnya, New Age telah menjadi tingkat sebuah akseptasi yang luar biasa sebab pandangan dunia yang mengarah ke hal itu secara luas telah diterima. Dasar New Age dipersiapkan dengan baik oleh perkembangan dan penyebaran paham relativisme serta antipati atau ketidakacuhan terhadap iman Kristen. Selanjutnya ada beberapa diskusi hangat yang dilakukan dalam rangka apakah dan dalam bentuk apa New Age dapat digambarkan sebagai fenomena posmodern. Keberadaan dan semangat pemikiran serta praktek New Age menjadi saksi atas kerinduan yang tak terpuaskan dari jiwa manusia akan transendensi dan pencarian spiritualitas yang tidak hanya hal ini merupakan fenomena kebudayaan kontemporer saja melainkan sebuah bukti dalam dunia purba baik itu orang Kristen maupun penyembah berhala.

1.4 New Age dan Iman Katolik

Bahkan bila agama New Age diterima , yang dalam beberapa aspek merespon kerinduan spiritual manusia dari sifat kemanusiaannya yang normal, maka harus diakui bahwa usaha-usahanya untuk melakukan hal ini menghasilkan balasan terhadap wahyu Kristen. Kebudayaan barat khususnya daya tarik mengenai pendekatan “alternatif” terhadap spiritualitas begitu kuat. Pada satu segi, bentuk-bentuk baru dari penguatan psikologis individu telah menjadi sangat populer diantara orang Katolik bahkan dalam rumah-rumat retret, seminar dan institusi-institusi untuk formasi keagamaan. Pada saat yang sama ada beberapa peningkatan nostalgia dan keingintahuan terhadap kebijaksanaan dan ritual masa lalu yang merupakan salah satu alasan bagi perkembangan luar biasa dalam popularitas esoterisme dan gnostisisme. Banyak orang kini tertarik sekali pada apa yang dikenal –entah benar atau salah- spiritualitas “celtic” 5 atau agama orang-orang zaman dulu. Buku-buku dan kursus-kursus mengenai spiritualitas dan agama timur atau kuno menjadi suatu bisnis yang meledak/booming dan kursus-kursus seperti ini sering disebut “New Age” demi tujuan komersial. Tetapi hubungan dengan agama-agama itu tidak selalu jelas. Bahkan hubungan-hubungan seperti itu sering disangkal.

Kemampuan Kristen yang cukup tajam (discernment) untuk membedakan pemikiran dan praktek New Age tidak mungkin gagal untuk mengenali bahwa , seperti gnostisisme abad kedua dan ketiga, New Age mewakili sesuatu ikhtisar dari berbagai posisi yang oleh Gereja telah diidentifikasikan sebagai heterodox. Paus Yohanes Paulus II memperingatkan sehubungan dengan “kembalinya” ide-ide gnostis kuno yang tersamar melalui apa yang disebut New Age : Kita tidak dapat menipu diri sendiri bahwa ide-ide tersebut akan membawa kita pada pembaharuan agama. Hal seperti ini hanya cara baru dari praktek gnostisisme – sikap dari semangat yang atas nama pengetahuan yang dalam mengenai Allah menghasilkan distorsi terhadap Sabda-Nya dan menggantikan Sabda itu dengan kata-kata manusia belaka. Gnostisisme tidak pernah sama sekali meninggalkan aspek Kekristenan. Sebagai gantinya, New Age selalu hidup berdampingan dengan Kekristenan, kadang-kadang mengambil bentuk dari gerakan filosofis, tetapi New Age sendiri lebih sering mengambil karakter dari sebuah agama atau para-agama (para-religion) secara jelas, apabila karakter itu tidak dinyatakan dalam agama tersebut, sehingga mengalami konflik dengan apa yang secara esensial merupakan ajaran Kristen 6. Sebuah contoh dapat dilihat dalam enneagram, sebuah alat yang bertipe sembilan untuk melakukan analisa karakter, yang ketika digunakan sebagai alat pertumbuhan spiritual menimbulkan ambiguitas dalam doktrin dan kehidupan iman Kristiani.

1.5 Sebuah tantangan positif

Daya tarik agama New Age tidak dapat disepelekan. Ketika pemahaman terhadap isi iman Kristiani lemah, beberapa orang secara keliru menganggap bahwa agama Kristen tidak mengilhami suatu spritualitas yang dalam sehingga mereka mencarinya di tempat lain. Sebenarnya, beberapa orang mengatakan New Age sudah melewati kita dan mengacu kepada zaman “berikutnya” 7. Mereka berbicara mengenai krisis di Amerika Serikat pada awal 1990-an yang dimulai untuk memanifestasikan krisis itu sendiri, tetapi mereka mengakui bahwa khususnya di luar dunia yang berbahasa inggris, “krisis” seperti itu akan datang kemudian. Tetapi toko-toko buku dan stasiun radio serta kebanyakan dari kelompok-kelompok yang mengandalkan pertolongan dari diri sendiri (self help group) di banyak kota di negara Barat nampaknya menceritakan kisah yang berbeda-beda. Kelihatan pula setidaknya untuk saat ini, New Age masih banyak hidup dan merupakan bagian dari gambaran kebudayaan saat ini.

Kesuksesan New Age membawa tantangan bagi Gereja. Orang-orang merasa agama Kristen tidak lagi menawarkan mereka – atau mungkin tidak pernah memberikan – sesuatu yang mereka butuhkan. Pencarian yang sering menuntun orang-orang menuju New Age merupakan kerinduan/hasrat yang sejati : demi pencapaian spiritualitas yang lebih dalam, demi sesuatu yang akan menyentuh hati mereka, dan demi suatu cara agar dunia yang terasing dan sering membingungkan ini lebih masuk akal. Ada suara yang bernada positif dalam kritisisme yang dilancarkan New Age terhadap “materialisme kehidupan sehari-hari, filosopi, dan bahkan terhadap ilmu kedokteran dan psikiatri, reduksionisme yang menolak mempertimbangkan pengalaman-pengalaman religius dan spiritual; kebudayaan industiral dari paham individualisme yang bebas yang mengajarkan egoisme dan tidak memperhatikan orang lain, serta masa depan dan lingkungan” 8 . Beberapa masalah yang ada dalam New Age akan ditemukan dalam apa yang ditawarkan New Age melalui jawaban-jawaban alternatif terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan. Bila Gereja tidak ingin dituduh karena tuli terhadap kerinduan orang-orang maka anggota-anggota Gereja perlu melakukan 2 (dua) hal yakni : sungguh-sungguh mengakar di dalam fundamental iman mereka sendiri dan memahami jeritan diam dari hati orang-orang yang mengantar mereka ke tempat lain bila mereka tidak puas dengan Gereja. Ada pula panggilan dari semua ini untuk lebih dekat lagi kepada Yesus Kristus agar siap untuk mengikuti Nya, karena Dia menjadi jalan yang riil menuju kebahagiaan, kebenaran mengenai Allah dan kepenuhan kehidupan untuk semua pria dan wanita yang siap untuk menanggapi Kasih-Nya.

2. Spiritualitas New Age : Sebuah Tinjauan

Orang-orang kristen dalam masyarakat barat dan di berbagai tempat di dunia, sering berhubungan dengan aspek-aspek fenomenal yang berbeda-beda yang dikenal sebagai New Age. Banyak dari antara orang-orang merasakan kebutuhan untuk memahami bagaimana mereka dapat melakukan pendekatan terhadap sesuatu secara baik yang ketika itu juga memikat, kompleks, sukar dipahami dan kadang-kadang menggelisahkan. Refleksi-refleksi ini merupakan suatu usaha untuk membantu orang-orang Kristen melakukan 2 (dua) hal :

mengidentifikasikan elemen-elemen dari tradisi New Age yang berkembang;

mengindikasikan elemen-elemen tersebut yang tidak konsisten dengan wahyu Kristiani.

Hal ini merupakan tanggapan/jawaban pastoral terhadap tantangan saat ini yang bahkan tidak mencoba untuk menyediakan daftar fenomena New Age secara lengkap, karena itu akan menghasilkan tomus (buku besar) yang banyak sekali dan informasi mengenai hal demikian sudah tersedia di berbagai tempat lainnya. Hal ini esensial untuk memahami New secara tepat, agar dapat mengevaluasi New Age secara baik, dan mencegah timbulnya karikatur/sindiran. Akan lebih bodoh dan salah mengatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan New Age adalah baik atau jelek. Meskipun demikian, visi yang mendasar dari agama New Age seperti yang dijelaskan di atas akan sulit untuk bertemu dengan doktrin-doktrin dan spiritualitas Kristen.

New Age bukan sebuah gerakan yang dalam pengertian normal merupakan terminologi “Gerakan Religius/Kerohaniaan Baru” dan New Age bukan pula diartikan secara normal sebagai sebuah “cara memuja/cult” dan “sekte”. Sebab New Age tersebar di berbagai kebudayaan, dalam fenomena yang beraneka-ragam seperti music, film, seminar, lokakarya, retret, terapi, dan aktivitas serta kegiatan-kegiatan lainnya, New Age lebih banyak tersebar dan bersifat informal, meskipun beberapa agama atau kelompok para-agama (para-religious) secara sadar bekerjasama dengan elemen-elemen New Age, namun dikesankan bahwa New Age telah menjadi sumber ide-ide bagi macam-macam sekte agama dan para-agama (para-religious) 9. New Age tidak bersifat tunggal dan gerakan uniform/sama, tetapi lebih pada jaringan lepas dari praktisi yang melakukan pendekatan dengan cara pikir global tetapi bertindak secara lokal. Orang-orang yang merupakan bagian dari jaringan tidak perlu saling kenal dan jarang, kalaupun pernah bertemu. Dalam sebuah upaya untuk menghindari kebingungan yang dapat muncul akibat penggunaan terminologi “gerakan”, beberapa orang mengacu kepada New Age sebagai “milieu (lingkungan pergaulan)” 10 atau “audience cult (klenik pendengar)” 11 . Tetapi, telah ditunjukkan bahwa “New Age merupkan arus pemikiran yang sangat koheren (bertalian)” 12, tantangan yang disengaja bagi kebudayaan modern. New Age merupakan suatu struktur sinkretis yang menggabungkan bermacam-macam elemen, memperbolehkan orang-orang berbagi kepentingan-kepentingan atau koneksi-koneksi ke berbagai tingkatan-tingkatan yang sangat berbeda-beda serta kepada kadar komitmen yang beraneka-ragam pula. Banyak tren, praktek dan sikap-sikap yang dalam beberapa hal, bagian New Age adalah benar-benar bagian yang luas dan merupakan reaksi yang tidak dapat dikenali secara tepat dari kebudayaan arus utama, sehingga kata “gerakan” itu sendiri tidak seluruhnya mengacu kepada tempat. Kondisi seperti itu dapat pula dipakai kepada New Age hanya dalam pengertian yang sama seperti gerakan sosial yang luas lainnya, seperti gerakan Hak-hak Sipil, Gerakan Perdamaian, yang serupa dengan gerakan-gerakan tersebut, termasuk jaringan yang dihubungkan dengan orang-orang yang bingung dengan tujuan utama suatu gerakan, tetapi sangat beraneka-ragam dalam cara mereka terlibat dan dalam pemahaman mereka mengenai isu-isu khusus.

Ungkapan “agama New Age” lebih banyak mengandung perdebatan, sehingga akan baik sekali New Age dihindari, meskipun New Age sering menjadi jawaban terhadap pertanyaan dan kebutuhan spiritual orang-orang, dan daya tarik New Age ditujukan kepada orang-orang yang sedang mencoba untuk mencari atau menemukan kembali dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Menghindari istilah “agama New Age” bukan dimaksudkan untuk mempertanyakan karakter asli dari orang-orang yang melakukan pencarian arti dan perasaan dalam kehidupan ini, namun untuk menghormati kenyataan bahwa banyak dalam Gerakan New Age sendiri mereka membedakan secara hati-hati antara antara “agama” dan “spiritualitas”. Banyak orang telah menolak agama yang terorganisir, sebab dalam penilaian mereka agama telah gagal untuk menjawab kebutuhan mereka dan karena alasan yang tepat itu mereka telah melihat ke luar untuk menemukan “spiritualitas”. Lebih lanjut lagi, inti New Age adalah kepercayaan bahwa waktu buat agama-agama khusus sudah berakhir, sehingga untuk mengacu kepada New Age sebagai agama akan berlawaan dengan pengertian dirinya sendiri mengenai agama. Tetapi, hal ini cukup akurat untuk menempatkan New Age dalam konteks yang lebih luas dari kerohaniaan esoteris yang daya tariknya semakin berkembang. 13

Ada suatu masalah yang terbentuk di dalam teks New Age saat ini. Adalah suatu usaha untuk memahami dan mengevaluasi sesuatu yang pada dasarnya merupakan pengagungan kekayaan terhadap pengalaman manusia. Ini merupakan suatu cakupan untuk mendatangkan kritisisme yang tidak pernah dapat memberikan keadilan kepada gerakan kebudayaan yang esesensinya untuk mengobarkan apa yang dilihat sebagai batas dari wacana rasional yang sempit. Tetapi hal ini dimaksudkan sebagai ajakan bagi orang Kristen untuk memperhatikan New Age secara serius, dan dengan demikian meminta para pembaca untuk memasuki dialog yang kritis dengan orang-orang yang melakukan pendekatan terhadap dunia dini dengan perspektif yang berbeda-beda.

Efektivitas pastoral dari Gereja di milenium ketiga ini tergantung pada cakupan yang luas tentang kesiapan seorang komunikator yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan Kitab Suci. Apa yang menjadi langkah berikutnya adalah tanggapan terhadap kesulitan-kesulitan yang dirasakan oleh banyak orang yang berhubungan dengan fenomena yang kompleks dan sukar dipahami yang sekarang dikenal sebagai New Age. Dan ini pun merupakan usaha untuk memahami apa itu New Age dan untuk mengenal pertanyaan-pertanyaan yang mana New Age memberikan jawaban dan solusinya. Ada beberapa buku dan sumber-sumber yang bagus yang mengetengahkan penelitan mengenai seluruh fenomena atau menjelaskan aspek-aspek khusus dalam detail yang lengkap dan referensi dalam buku-buku tersebut disediakan dalam appendix. Tetapi buku-buku atau sumber-sumber itu tidak selalu memberikan ketajaman yang bagus dalam bingkai cahaya iman Kristen. Tujuan dari kontribusi ini adalah untuk membantu umat Katolik menemukan kunci untuk memahami prinsip dasar di belakang pemikiran New Age sehingga kemudian umat Katolik dapat membuat evaluasi terhadap elemen-elemen New Age yang mereka hadapi. Layak untuk dikatakan bahwa banyak orang tidak menyukai istilah “New Age” dan beberapa orang menyarankan bahwa “spiritualitas alternatif” bisa salah dan kurang membatasi. Itu juga benar bahwa banyak fenomena yang disebutkan dalam dokumen ini mungkin tidak akan menghasilkan beberapa nama khusus melainkan untuk singkatnya diduga bahwa para pembaca akan mengenali sebuah fenomena atau serangkaian fenomena yang setidak-tidaknya pantas berhubungan dengan gerakan budaya umum yang sering dikenal dengan New Age.

2.1 Apa yang baru mengenai New Age ?

Bagi banyak orang istilah New Age jelas mengacu kepada titik balik penting dalam sejarah. Menurut para astrolog, kita hidup dalam Zaman Pisces yang didominasi oleh Kekristenan. Tetapi zaman Pisces ini akan segera digantikan oleh New Age dari Aquarius di milenium ketiga ini 14. Zaman Aquarius memiliki ciri-ciri yang tinggi (high profile) dalam gerakan New Age yang sebagian besar karena pengaruh dari theosophy, spiritualisme dan anthroposophy serta penyebab terdahulu (antecedent) yang bersifat esoteris. Orang-orang yang menekankan perubahan yang cepat di dunia ini sering menyatakan hasrat atas perubahan itu, tetapi tidak begitu banyak dalam dunia ini sendiri seperti dalam budaya kita, yang dengan suatu cara kita berkenaan dengan dunia; dan ini secara khusus jelas ditujukan bagi mereka yang menekankan ide tentang Paradigma Baru untuk kehidupan. Karena dalam beberapa ekspresi, cara ini merupakan suatu pendekatan yang atraktif, namun sekarang ini orang-orang tidak memperhatikan dengan pasif lagi melainkan mereka memiliki peran aktif dalam budaya yang berubah dan menghasilkan kesadaran spritual baru. Dalam ekspresi lainnya, kekuasaan yang lebih dianggap berasal dari perkembangan siklus alam yang tidak bisa dielakan. Dalam beberapa kasus, Zaman Aquarius merupaka sebuah visi, dan bukan teori. Tetapi New Age merupakan tradisi yang luas yang memasukkan banyak ide yang tidak memiliki hubungan eksplisit dengan perubahan dari Zaman Pisces ke Zaman Aquarius. Ada beberapa ide yang moderat tetapi lebih umum, visi-visi masa depan dimana akan ada spiritualitas yang berhubungan dengan planet yang berdampingan dengan agama-agama yang terpisah, institusi politis yang bersifat planetaris yang serupa dengan komplemen yang memiliki institusi lokal, kesatuan ekonomi global yang lebih bersifat partisipatoris dan demokratis, penekanan yang besar pada komunikasi dan pendidikan, pendekatan gabungan terhadap ilmu kedokteran yang mengkombinasikan kesehatan dan penyembuhan diri sendiri, pemahaman diri sendiri yang lebih bersifat androginis dan cara-cara mengintegrasikan ilmu pengetahuan, mistisisme, teknologi dan ekologi. Dan, ini adalah bukti dari keinginan yang dalam untuk pengenapan dan eksistensi yang sehat bagi ras manusia dan planet. Beberapa tradisi yang mengalir kepada New Age adalah : praktek-praktek klenik (occult) mesir kuno, kabbalisme, gnostisisme kristen awal, sufisme, adat dan pengetahuan kaum druids, kekristenan celtic, alkemi abad pertengahan, hermetisisme renaisans, zen buddhisme, yoga dan sebagainya 15 .

Di bawah ini adalah apa yang “baru” mengenai New Age. Ini adalah sebuah “sinkretisme dari elemen-elemen esoteris dan sekular” 16 . Mereka berhubungan ke dalam persepsi yang dirasakan luas bahwa waktu sudah matang untuk melakukan perubahan fundamental dalam diri seseorang, masyarakat dan dunia. Ada berbagai macam ekspresi dari kebutuhan untuk melakukan pergeseran/perpindahan (shift) :

dari fisika mekanistis Newton ke fisika kuantum;

dari mengagungkan akal budi modernis ke apresiasi perasaan, emosi dan pengalaman (sering digambarkan seperti tombol dari pemikiran rasional “otak kiri” ke pemikiran intuitif “otak kanan”);

dari dominasi maskulitas dan kebapaan ke perayaan feminitas, pada individu dan dalam masyarakat.

Dalam konteks tersebut istilah “pergeseran paradigma (paradigm shift)” sering dipakai. Dalam beberapa kasus, hal ini seharusnya menjadi jelas bahwa pergeseran bukan sesuatu yang mudah diinginkan melainkan hal justru tidak bisa dihindarkan. Penolakan terhadap modernitas/modernisasi yang mendasari keinginan bagi perubahan tersebut tidaklah mudah tetapi dapat digambarkan sebagai “kebangkitan agama berhala yang modernis dengan perpaduan pengaruh-pengaruh dari agama-agama timur maupun psikologi modern, filosopi, ilmu pengetahuan dan budaya tandingan yang dikembangkan pada tahun 1950 dan 1960-an 17. New Age tak kurang adalah saksi dari revolusi budaya itu, yang merupakan suatu reaksi kompleks terhadap ide-ide dan nilai-nilai dominan dalam budaya barat, akan tetapi kritisisme idealistis dari New Age justru ironis karena budaya yang dikritik New Age adalah tipikal budayanya sendiri.

Ada suatu pesan yang perlu disampaikan terhadap gagasan pergesaran paradigma. Istilah paradigm shift ini dipopulerkan oleh Thomas Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan dari AS yang melihat paradigma sebagai “konstelasi keseluruhan dari kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, teknik-teknik, dan sebagainya yang disusun menurut anggota-anggota komunitas yang ada” 18. Ketika ada sebuah pergeseran dari satu paradigma ke paradigma lainnya maka hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan mengenai transformasi besar dari sebuah perspektif daripada hal ini merupakan suatu perkembangan pergeseran yang gradual. Ini benar-benar merupakan sebuah revolusi dan Khun menekankan bahwa paradigma-paradigma yang bersaing tak dapat dibandingkan dan tidak dapat hidup berdampingan satu sama lain. Jadi ide yang mengatakan bahwa pergeseran paradigma dalam wilayah agama dan spiritualitas yang merupakan cara baru dan sederhana dalam menetapkan kepercayaan tradisional adalah suatu yang tidak dipahami oleh orang. Apa yang sebenarnya terjadi adalah adanya perubahan radikal dalam pandangan dunia yang menghabiskan pertanyaan bukan hanya isi namun juga interpretasi dasar dari visi yang terdahulu. Mungkin contoh yang sangat jelas dari hal tersebut, dalam hubungannya antara istilah New Age dengan Kekristenan, adalah total penyusunan kembali kehidupan dan arti Yesus Kristus. Dan ini tidak mungkin dapat menyatukan dua visi tersebut 19.

Ilmu pengetahuan dan teknologi jelas telah gagal untuk menyampaikan semua yang nampaknya pernah mereka janjikan, jadi dalam pencarian mereka akan arti dan pembebasan orang-orang telah merubah aspek spiritual. New Age seperti yang kita ketahui datang dari sebuah pencarian akan sesuatu yang lebih manusiawi dan cantik dari pengalaman kehidupan masyarakat barat yang bersifat menindas dan terasing. Anggota-anggota atau eksponen New Age yang pertama disiapkan untuk melihat lebih jauh dalam pencarian mereka, dengan demikian pencarian mereka menjadi sebuah pendekatan eklektis (bersifat memilih dari berbagai sumber). Ini mungkin merupakan salah satu tanda dari “kembalinya agama”, tetapi ini jelas bukan kembalinya ke doktrin-doktrin dan iman Kristen yang orthodox. Simbol pertama dari “gerakan” New Age yang merembes masuk ke dalam kebudayaan barat adalah ketika diadakannya festival yang luar biasa di Woodstock New York tahun 1969 dan festival musikal hair, yang dinyatakan pada tema utama New Age dalam lagu yang berlambang “Aquarius” 20 . Tetapi ini hanya ujung dari gunung es yang dimensinya telah menjadi relatif lebih jelas baru-baru ini saja. Idealisme tahun 1960 dan 70-an masih hidup dalam beberapa bagian tetapi sekarang ide itu tidak lagi menonjol pada anak-anak remaja yang terlibat New Age. Hubungan dengan partai yang berideologi sayap kiri telah memudar, dan penggunaan obat-obat bius yang bersifat “menenangkan jiwa” (psychedelic drugs) tidak semenonjol ketika mereka pernah terlibat dalam obat-obat bius itu. Begitu banyak yang telah terjadi sejak semua itu kemudian tidak lagi kelihatan revolusioner; kecenderungan-kecenderungan “spiritual” dan “mistis” dahulu terlarang bagi budaya tandingan sekarang merupakan bagian dari budaya yang utama dan tak dapat dipungkiri mempengaruhi segi-segi kehidupan yang demikian beraneka-ragam seperti ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan, seni dan agama. Kebudayaan barat sekarang sedang diilhami dengan kesadaran politis dan ekologis yang lebih umum dan pergeseran budaya yang menyeluruh ini memiliki dampak yang besar terhadap gaya kehidupan orang-orang. Ini dikesankan oleh beberapa orang bahwa “gerakan” New Age secara tepat merupakan perubahan utama terhadap apa yang diperhitungkan menjadi “cara hidup yang lebih baik dan berarti” 21

2.2 Apakah yang ditawarkan New Age ?

2.2.1 Daya tarik : Pasti ada seorang Malaikat

Salah satu elemen yang paling lazim dalam “spiritualitas” New Age adalah pesona dengan manifestasi yang luar biasa dan khususnya dengan entitas paranormal. Orang-orang mengetahui “spiritualitas” ini sebagai “medium” yang menyatakan bahwa kepribadian mereka diambil alih oleh entitas lain selama mereka berada dalam keadaan tak sadarkan diri (trance) dalam fenomena New Age ini yang juga dikenal sebagai “channeling (saluran)” selama medium itu dapat melepaskan diri dari tubuh dan panca indera mereka. Beberapa orang yang telah menyaksikan peristiwa ini akan mau mengakui bahwa manifestasi-manifestasi tersebut benar-benar bersifat spiritual tetapi manifestasi tersebut bukan berasal dari Allah meskipun bahasa kasih dan cahaya hampir sering digunakan…Hal seperti ini mungkin lebih tepat mengacu pada bentuk spiritualisme kontemporer daripada spiritualitas dalam arti yang tepat. Kawan-kawan dan konselor dari dunia roh ini adalah para malaikat (mereka telah menjadi pusat industri baru dari buku-buku dan lukisan-lukisan New Age). Mereka yang mengacu pada malaikat dalam New Age melakukan hal-hal demikian dengan cara yang tidak sistematis; dan sesungguhnya perbedaan-perbedaan dalam area ini kadang-kadang digambarkan tak menolong bila mereka begitu tepat karena “ada banyak tingkat pedoman, entitas, energi, dan mahluk dalam setiap oktaf alam semesta ini…Tingkatan-tingkatan entitas itu berada di alam semesta untuk diambil dan dipilih dari hubungan kepada mekanisme daya tarik/penolakan” 22 . Entitas-entitas ini pun sering dimintakan “hal-hal yang tak berhubungan dengan agama” untuk membantu dalam relaksasi yang ditujukan untuk pembuatan keputusan yang baik dan mengontrol kehidupan dan karir seseorang. Fusi (peleburan) dengan beberapa roh yang mengajar melalui orang-orang tertentu merupakan pengalaman New Age yang lain yang dinyatakan oleh orang-orang yang mengacu pada diri mereka sendiri sebagai “mistikus”. Beberapa roh-roh alam digambarkan sebagai energi yang kuat yang hidup dalam dunia alam/natural dan juga pada “bidang yang berada di inti (inner planes)” : contoh mereka yang dengan mudah memperoleh melalui upacara ritual, penggunaan obat-obatan dan teknik-teknik lainnya untuk mencapai keadaan kesadaran yang berubah (altered state of consciousness). Setidak-tidaknya secara teori sudah jelas bahwa New Age sering tidak mengenal adanya otoritas spiritual yang lebih tinggi daripada pengalaman personal yang sangat dalam/inti.

2.2.2. Harmoni dan Pemahaman : Vibrasi/Getaran yang baik

Fenomena yang beranekaragam semacam kebun Findhorn (Findhorn garden) dan Feng Shui 23 mewakili jenis-jenis cara yang mengilustrasikan pentingya menjadi selaras dengan alam atau kosmos. Dalam New Age tidak ada perbedaan antara baik dan jahat. Tindakan-tindakan manusia merupakan buah baik dari iluminasi/penerangan atau ketidaktahuan. Oleh sebab itu kita tidak dapat menghakimi seseorang dan tidak ada orang yang perlu meminta maaf. Percaya kepada eksistensi/keberadaan yang jahat hanya dapat menciptakan rasa negatif dan ketakutan. Jawaban terhadap rasa negatif ini adalah kasih. Tetapi ini bukan sejenis kasih yang harus diterjemahkan kedalam perbuatan-perbuatan ; Kasih ini lebih merupakan jawaban terhadap sikap-sikap dari pikiran. Kasih adalah energi yang merupakan vibrasi/getaran berfrekuensi tinggi dan rahasia untuk menuju kebahagiaan dan kesehatan serta kesuksesan bisa selaras untuk menemukan tempat bagi seseorang di dalam rangkaian keberadaannya yang luas. Para pengajar dan ahli terapi New Age mengklaim bisa menawarkan suatu kunci untuk menemukan persesuaian/korespondensi antara semua elemen dari alam semesta, dengan demikian orang-orang bisa mengatur/memodulasi nada dari kehidupan mereka dan berada dalam harmoni mutlak dengan satu sama lain dan dengan segela sesuatu yang berada di sekitar mereka meskipun ada bebera latar belakang teoritis yang berbeda24.

2.2.3 Kesehatan : Kehidupan emas

Ilmu kedokteran formal (allopathic) saat ini cenderung untuk membatasi ilmu ini kedalam penyembuhan secara khusus termasuk penyakit aneh/terisolir dan ilmu kedokteran ini pun gagal untuk melihat profil kesehatan seseorang secara luas : ini telah membangkitkan adanya sejumlah ketidakpuasan yang bisa dimaklumi. Terapi alternatif telah memperoleh populatis yang besar sebab terapi ini mengklaim bisa melihat orang secara keseluruhan dan terapi seperti ini menekankan penyembuhan/healing daripada mengobati/curing. Seperti yang diketahui, kesehatan secara holistik berkonsentrasi pada peranan penting yang memainkan pikiran dalam kesembuhan secara fisik. Dikatakan bahwa Hubungan antara aspekspiritual dan fisik seseorang merupakan sistem kekebalan atau sistem cakra india. Dalam perspektif New Age, penyakit dan penderitaan datang dari kerja yang berlawanan dengan alam; ketika seseorang selaras dengan alam maka orang tersebut bisa mengharapkan banyak kehidupan yang lebih sehat, dan bahkan kemakmuran materiil, karena menurut beberapa penyembuh New Age sebenarnya kita tidak perlu ada keinginan untuk mati. Membangun potensi kemanusiaan kita akan bisa berhubungan dengan keilahian inti/inner divinity dan dapat pula berhubungan dengan bagian-bagian dari potensi diri kita yang telah diasingkan dan ditekan. Ini diungkapkan di atas semuanya dalam Kondisi Kesadaran yang Berubah/Altered States of Consciousness (ASCs) yang disebabkan baik oleh obat-obatan atau aneka ragam teknik-teknik perluasan pikiran khususnya dalam konteks “psikologi transpersonal”. Cenayang/dukun sering dilihat sebagai spesialis dari ASCs yang merupakan mediator antara bidang roh/jiwa dan dewa dan dunia manusia.

Ada bermacam-macam pendekatan yang luar biasa yang berguna untuk meningkatkan kesehatan holistik, beberapa pendekatan itu berasal dari tradisi kebudayaan kuno apakah itu agama atau esoteris, sementara pendekatan lainnya berhubungan dengan teori psikologis yang berkembang di Esalen selama tahun 1960-1970. Adpertensi/iklan yang berhubungan dengan New Age meliputi rentang praktek yang luas seperti akupuntur, biofeedback, chiropractic, kinesiology, homeopathy, iridology, pijat/massage, dan bermacam-macam olah tubuh/”bodywork” (seperti orgonomy, Feldenkrais, reflexology, rolfing, pijat polaritas/polarity, sentuhan therapeutic dll), meditasi dan visualisasi, terapi nutrisi, penyembuhan fisik, aneka ragam pengobatan verbal, penyembuhan dengan kristal, logam, musik atau warna-warni, terapi-terapi reinkarnasi dan akhirnya program duabelas langkah dan kelompok pertolongan sendiri/self help groups 25 . Sumber penyembuhan dikatakan berada di dalam diri kita sendiri, sesuatu yang kita capai ketika kita berhubungan dengan energi inti atau energi kosmis.

Lantaran kesehatan memasukkan perpanjangan kehidupan, New Age menawarkan formula Timur dalam terminologi Barat. Semula reinkarnasi adalah bagian dari pemikiran siklus hindu berdasarkan atman atau inti kepribadian ilahi (belakangan hal ini disebut konsep jiwa) yang bergerak dari satu tubuh ke tubuh lainnya dalam satu siklus penderitaan (samsara) yang ditentukan oleh hukum karma, yang berhubugan dengan perilaku kehidupan masa lalu. Harapan terletak dalam kemungkinan lahirnya ke dalam keadaan yang lebih baik atau pada akhirnya harapan terletak dalam pembebasan dari kebutuhan untuk lahir kembali. Apa yang membedakannya dengan kebanyakan tradisi budha adalah apa yang bergerak dari tubuh ke tubuh bukan merupakan sebuah jiwa melainkan kelanjutan kesadaran. Kehidupan saat ini dilekatkan dalam sebuah proses kosmis yang potensial tak berakhir bahkan termasuk allah/tuhan. Di barat, karena berkurangnya waktu, reinkarnasi telah dimengerti secara optimis lebih jauh sebagai proses pembelajaran dan pencapaian individu yang progresif. Spiritualisme, theosophy, antrosophy dan New Age semuanya memandang reinkarnasi sebagai partisipasi dalam evolusi kosmis. Pendekatan pasca Kristen terhadap eskatologi dikatakan untuk menjawab pertanyaan yang tak terpecahkan dari theodicy dan pembuangan ide mengenai neraka. Ketika jiwa dipisahkan dari tubuh maka setiap individu dapat melihat kembali kehidupan mereka sampai kepada ujung hidup mereka dan ketika jiwa itu bersatu di dalam tubuh baru maka ada sebuah pertunjukkan mengenai fase kehidupan yang akan datang. 26

2.2.4. Keseluruhan (wholeness) : Perjalanan Misteri Magis

Salah satu pusat perhatian mengenai gerakan New Age adalah pencarian “keseluruhan” (wholeness). Ada dorongan untuk mengatasi semua bentuk “dualisme” sedemikian rupa sehingga perpecahan merupakan produk yang tak sehat dari masa lalu yang kurang terang. Perpecahan diklaim oleh pendukung New Age perlu diatasi termasuk perbedaan yang nyata antara Pencipta dan ciptaan, antara manusia dan alam, atau antara jiwa dan benda yang semuanya itu dianggap keliru sebagai bentuk-bentuk dualisme. Pada akhirnya kecenderungan-kecenderungan dualistik ini disering diasumsikan berdasarkan akar Judeo-Kristen dari peradaban barat, walaupun itu akan lebih akurat dihubungkan dengan gnostisisme khususnya Manichaeisme. Revolusi ilmiah dan jiwa dari rasionalisme modern secara khusus dipersalahkan karena adanya kecenderungan fragmentasi yang memperlakukan seluruh organik sebagai mekanisme yang dapat dikurangi sampai komponen terkecilnya dan kemudian dijelaskan dalam istilah yang baru dan juga karena kecenderungan untuk mengurangi jiwa kepada benda sehingga realitas spiritual itu termasuk jiwa menjadi sebuah “epiphenomenon” yang tergantung dari proses material pokok. Dalam seluruh area ini, alternatif-alternatif New Age disebut “holistik”. Holisme menyerap gerakan New Age dari perhatiannya terhadap kesehatan holistik ke pencariannya terhadap kesadaran unitif (satu) dan dari kesadaran ekologis ke ide mengenai “jaringan” global.

2.3 Prinsip-prinsip pemikiran New Age yang fundamental

2.3.3 Tanggapan global dalam saat krisis

“Baik tradisi Kristen maupun kepercayaan sekuler dalam proses pengetahuan yang terbatas harus menghadapi pecahnya secara parah revolusi pelajar dan yang dimanifestasikan pertama-tama dalam revolusi tersebut tahun 1968” 27. Kebijaksanaan dari generasi yang lebih tua tiba-tiba dicabut dari makna dan kehormatannya, sementara kehebatan ilmu pengetahuan diagung-agungkan sehingga Gereja sekarang “harus menghadapi gangguan serius dalam transmisi imannya kepada generasi muda” 28. Kehilangan iman secara umum dalam pilar-pilar kesadaran dan kohesi sosial terdahulu secara tidak diharapkan telah disertai oleh kembalinya agama kosmis, ritual-ritual, dan keyakinan-keyakinan yang dipercaya oleh banyak orang digantikan oleh Kekristenan, tetapi arus esoteris yang terpendam dan abadi ini tidak pernah benar-benar hilang. Gelombang dalam popularitas agama Asia dalam poin ini merupakan hal yang baru dalam konteks barat, yang dibangun pada abad 19 lampau dalam gerakan teosophis dan gerakan ini “merefleksikan kesadaran spiritualitas global yang berkembang, yang menggabungkan semua tradisi agama yang ada” 29.

Satu dan banyak pertanyaan yang bersifat filosopis dan abadi memiliki bentuk kontemporer modern dalam godaan untuk mengatasi bukan hanya perpecahan yang tak semestinya tetapi bahkan juga perbedaan dan penghormatan dan juga ekspresi yang paling lazim dari ini adalah holisme, yakni sebuah unsur esensial dalam New Age dan suatu unsur dalam tanda-tanda zaman yang prinsipil dalam waktu seperempat abad ke 20 yang lampau. Energi yang luar biasa jumlahnya telah menjadi usaha untuk mengatasi perpecahan ke dalam karakteristik komponen dari ideologi mekanistis tetapi usaha ini mengarah pada rasa kewajiban untuk tunduk pada jaringan global yang memiliki otoritas yang pura-pura bersifat trandensental. Implikasi yang jelas adalah proses transformasi yang sadar dan perkembangan ekologi 30. Visi baru yang merupakan tujuan dari transformasi yang sadar telah menyita waktu dalam memformulasikannya dan pembuatannya ditentang oleh bentuk-bentuk pemikiran yang lebih tua yang dinilai berakar dalam status quo. Apa yang telah sukses adalah generalisasi ekologi seperti daya tarik alam dan resakralisasi bumi, dewi bumi atau Gaia, dengan karakteristiknya yang bersemangat misioner dari politik Biru (Green politics). Agen (alat) eksekutif bumi adalah ras manusia sebagai keseluruhan dimana harmoni dan pengertian yang dibutuhkan demi penguasaan yang bertanggungjawab makin bertambah dipahami menjadi pemerintahaan yang bersifat global dengan kerangka kerja etis global pula. Kehangatan dari dewi bumi, yang keilahiaannya menyerap seluruh ciptaan, diadakan untuk menjembatani kerenggangan antara ciptaan dengan Allah Bapa dari Judaisme dan Kekristenan yang bersifat transendental serta menghapuskan harapan yang dinilai oleh Keberadaan seperti itu.

Dalam visi alam semesta yang tertutup ini yang berisi “Allah” dan mahluk-mahluk lainnya bersama dengan diri kita, kita mengenal secara implisit suatu aliran pantheisme. Ini adalah poin fundamental yang menyerap semua pemikiran dan praktek New Age, serta kondisi-kondisi yang sebelumnya adalah penilaian positif atau negatif dimana bahwa “manusia secara esensial merupakan ciptaan dan tetap tinggal sampai selamanya sehingga absorpsi manusia dalam keilahiaan tidak akan pernah mungkin” 31.

2.3.4 Matriks (Kandungan) esensial dari pemikiran New Age

Kandungan esensial dari pemikiran New Age dapat ditemukan dalam tradisi esoteris yang bersifat theosopis yang hampir diterima secara luas di kalangan lingkaran para intelektual Eropa dalam abad ke 18 dan 19. Pemikiran ini kuat sekali dalam freemansory, spiritualisme, okultisme dan theosopi yang berbagi sejenis kebudayaan esoteris. Dalam pandangan global, alam semesta yang kasat mata dan tak terlihat dihubungkan dengan rangkaian persesuaian, analogi dan pengaruh-pengaruh antara mikrokosmos dengan makrokosmos, antara logam dengan planet, antara planet dengan bermacam-macam bagian tubuh manusia, antara kosmos yang kasat mata dengan aspek realitas yang tak terlihat. Alam adalah benda hidup yang ditembakkan melalui jaringan simpati dan antipati, yang dijiwai oleh cahaya dan api rahasia yang dicoba dikuasai oleh manusia. Orang-orang dapat berhubungan dengan dunia atas dan bawah melalui sarana-sarana imaginasi mereka (sebuah organ dari jiwa atau roh) atau menggunakan mediator (malaikat, roh, iblis) atau upacara ritual.

Orang-orang dapat diinisiasikan dalam misteri kosmos, Allah dan diri sendiri melalui sarana-sarana transformasi rencana perjalanan (itinerary) spiritual. Tujuan akhirnya adalah gnosis, bentuk pengetahuan tertinggi sederajat dengan keselamatan. Tujuan ini melibatkan pencarian untuk tradisi paling tua dan muda dalam filosopi (apa yang tidak tepat disebut philosophia perennis) dan agama (teologi primordial), suatu doktrin rahasia (esoteris) yang merupakan kunci bagi semua tradisi-tradisi “eksoteris” yang mudah masuk ke semua orang. Ajaran-ajaran esoteris diserahkan dari seorang master kepada murid dalam program inisiasi yang dilakukan secara bertahap.

Esoterisme abad ke 19 dipandang oleh beberapa orang seperti esoterisme yang sama sekali tersekularisasikan. Alkemi, magis, astrologi dan elemen esoterisme tradisional lainnya telah diintegrasikan sepenuhnya dengan aspek kebudayaan modern termasuk pencarian mengenai hukum sebab akibat, evolusisme, psikologi dan studi agama-agama. Esoterisme mencapai bentuk yang paling jelas dalam ide-ide Helena Blavatsky, seorang medium Rusia yang bersama-sama Henry Olcott menemukan Theosophical Society (masyarakat theosopis) di New York tahun 1875. Masyarakat mengarahkan penggabungan elemen-element tradisi Timur dan Barat dalam sebuah jenis spiritualisme evolusioner. Jenis spiritualisme evolusioner ini memiliki tiga sasaran :

1. “Membentuk nukleus dari Persaudaraan manusia secara universal tanpa membeda-bedakan ras, kepercayaan atau warna kulit.

2. Mendorong perlunya studi perbandingan agama, filosopi dan ilmu pengetahuan.

3. Menyelidiki hukum-hukum Alam yang tak terjelaskan dan kekuatan yang tersembunyi dalam diri manusia.

“Arti dari ketiga tujuan ini seharusnya menjadi jelas. Tujuan pertama secara implisit menolak “kefanatikan yang irasional” (irrational bigotry) dan “sektarianisme” (sectarianism) dari Kekristenan tradisional yang dirasakan oleh para ahli spiritual (spiritualist) dan ahli theosopi (theosophist)….Hal ini tidak dengan serta merta menjadi jelas dari tujuannya sendiri bahwa bagi theospist, “ilmu pengetahuan” diartikan sebagai ilmu klenik/gaib (occult science) dan filosopi sebagai filosopi klenik (occulta philosophia) dan bahwa hukum-hukum alam merupakan sebuah klenik (occult) atau alam fisik serta bahwa akhirnya perbandingan agama diharapkan bisa membuka selubung “tradisi primordial” yang digambarkan pada kekekalan filosopis petapa (Hermeticist philosophia perennis)”32 .

Komponen utama dari tulisan Ny Blavatsky adalah emansipasi wanita yang melibatkan suatu serangan kepada Allah Judaisme yang berkelamin “pria” baik dari tradisi Kekristenan maupun Islam. Ny Blavatsky mendesak orang-orang untuk kembali kepada Dewi Ibu Hinduisme dan mempraktekan nilai-nilai perempuan. Hal ini berlanjut di bawah bimbingan Annie Besant seorang dalam barisan depan gerakan feminis. Wicca dan “spiritualitas wanita” melaksanakan perjuangan ini melawan Kekristenan saat ini yang bersifat “patriarkal”.

Marilyn Ferguson menyumbangkan sebuah bab dalam The Aquarian Conspiracy kepada pelopor Zaman Aquarius, yakni mereka yang telah menyusun topik mengenai transformasi visi berdasarkan ekspansi kesadaran dan pengalaman transendensi diri. Dua dari antara yang disebutkan oleh Ferguson adalah psikolog Amerika bernama William James dan psikater Swis Carl Gustav Jung. James mendefinisikan agama sebagai pengalaman, bukan dogma, dan dia mengajarkan bahwa manusia dapat merubah sikap mental mereka dalam cara sedemikian sehingga mereka dapat menjadi arsitek bagi nasib mereka sendiri. Jung menekankan karakter transenden dari kesadaran (transcendent character of consciousness) dan memperkenalkan ide mengenai alam bawah sadar kolektif (collective unconscious), suatu jenis penyimpanan bagi simbol-simbol dan memori yang dibagikan kepada orang-orang dari berbagai macam umur dan budaya. Menurut Wouter Hanegraaff, kedua orang ini memberiki kontribusi kepada “sakralisasi psikologi” (sacralisation of psychology), sesuatu yang telah menjadi elemen penting dari pemikiran dan praktek New Age. Jung, benar-benar, “bukan hanya esoterisme yang terpsikologikan (psychologized esoterism) tetapi juga dia mengsakralkan psikologi dan mengisinya dengan kandungan spekulasi esoteris (contents of esoteric speculation). Hasilnya adalah terbentuknya tubuh teori (body of theories) yang dapat membuat orang-orang mampu berbicara mengenai Allah meski diartikan sebagai jiwa atau hati (psyche) mereka sendiri sebaliknya mengenai jiwa atau hati (psyche) mereka sendiri meski diartikan sebagai yang ilahi. Bila hati atau jiwa (psyche) adalah “pikiran” dan Allah adalah “pikiran” juga maka untuk mendiskusikan sesuatu seseorang pun harus mendiskusikan bagian lainnya” 33 . Tanggapan Jung terhadap tuduhan bahwa dia telah “mempsikologikakan” Kekristenan adalah bahwa “psikologi adalah mitos modern dan hanya dalam terminologi mitos masa kini maka kita dapat memahami iman”. 34 Ini sudah tentu bahwa psikologi Jung memancarkan cahaya pada banyak aspek dari iman Kristen, khususnya kebutuhan untuk menghadapi realitas jahat, tetapi pendirian kerohaniaannya begitu berbeda pada tahap-tahap kehidupannya yang mana ada sesuatu yang ditinggalkannya bersama dengan citra Allah yang membingungkan. Elemen sentral dalam pikirannya adalah pemujaan matahari dimana Allah adalah energi vital (libido) di dalam diri sesesorang 35. Seperti yang dia katakan, “perbandingan ini bukan hanya permainanan kata-kata” 36. Ini adalah “allah di dalam” yang Jung arahkan, yakni keilahian esensial yang ia percayai ada dalam setiap manusia. Jalan menuju alam yang lebih dalam (inner universe) adalah melalui alam bawah sadar. Persesuaian dunia yang lebih dalam kepada dunia yang di luar ada dalam keadaan bawah sadar yang kolektif.

Kecenderungan untuk menukar tempat antara psikologi dengan spiritualitas dilekatkan dengan kuat dalam Gerakan Potensi Manusia seperti yang dikembangkan pada akhir tahun 1960-an di Institut Esalen California. Psikologi transpersonal yang dipengaruhi begitu kuat oleh agama-agama Timur dan Jung menawarkan perjalanan kontemplatif dimana ilmu pengetahuan bertemu dengan mistisisme. Tekanannya diadakan pada tubuh jasmani dimana penelusuran cara-cara untuk mengembangkan kesadaran dan pengolahan mitos dari alam bawah sadar kolektif merupakan dorongan bagi pencarian akan “Allah yang di dalam” diri seseorang. Untuk menyadari potensi seseorang, maka orang itu harus pergi melewati egonya agar menjadi allah yang berada di bagian dalam bawah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan memilih terapi yang cocok – meditasi, pengalaman parapsikologis, penggunaan obat-obatan halusinasi. Terapi-terapi ini adalah jalan untuk mencapai “pengalaman puncak”, yakni pengalaman penggabungan “mistis” bersama Allah dan kosmos.

Simbol dari Aquarius diambil dari mitologi astrologis tetapi kemudian menandakan keinginan atau hasrat akan dunia baru secara radikal. Dua pusat yang adalah wadah-kekuatan mula-mula dari New Age dan masih pada tingkat tertentu merupakan komunitas Kebun (Garden community) Findhorn di Skotlandia Timur Laut dan Pusat bagi pengembangan potensi manusia Esalen berada di Big Sur, California Amerika Serikat. Apa menjadi makanan New Age secara konsisten adalah bertumbuhnya kesadaran global dan meningkatnya kesadaran akan bayangan krisis ekologis.

2.3.5 Tema-tema sentral New Age

New Age tidak dengan tepat berbicara tentang agama tetapi New Age tertarik pada apa yang disebut dengan “ilahi” (divine). Inti dari New Age adalah perkumpulan lepas dari macam-macam kegiatan, ide-ide dan orang-orang yang mungkin secara sadar tertarik kepada istilah itu. Meskipun ini dan walaupun jenisnya banyak sekali di dalam New Age namun ada beberapa hal-hal yang sama :

kosmos dipandang sebagai keseluruhan organis

kosmos digerakkan oleh sebuah Energi yang juga diidentifikasikan sebagai Jiwa atau Roh ilahi

kepercayaan banyak diberikan pada meditasi dari aneka-ragam kesatuan spiritual – manusia mampu bergerak naik ke kondisi yang lebih tinggi dan tak terlihat, dan dapat mengontrol kehidupan mereka sendiri di luar kematiannya.

Ada “pengetahuan abadi” (perennial knowledge) yang dijadikan pegangan yang mendahului dan mengungguli semua agama dan budaya.

Orang-orang mengikuti soerang master yang berfungsi memberikan pencerahan…

2.3.6 Apa yang New Age bicarakan….

2.3.6.1 ….pribadi seseorang ?

New Age melibatkan kepercayaan fundamental dalam penyempurnaan pribadi manusia oleh sarana-sarana teknik dan terapi yang luas (seperti yang ditentang oleh pandangan kristen mengenai kerjasama dengan rahmat ilahi). Ada keserasian dengan ide Nietzche bahwa Kekristenan telah menghalangi adanya manifestasi penuh dari sifat kemanusiaannya yang asli. Kesempurnaan, dalam konteks ini berarti mencapai penggenapan diri menurut tata tertib nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri dan yang kita capai dengan kekuatan kita: oleh sebab itu seseorang dapat berbicara mengenai diri yang menciptakan dirinya sendiri (self –creating self). Dalam cara pandang ini, ada lebih banyak perbedaan antara manusia seperti sekarang dan manusia seperti masa yang akan datang ketika mereka secara penuh menyadari potensi mereka, daripada perbedaan antara manusia dengan kera (anthropoid).

Ini berguna untuk membedakan antara esoterisme, yaitu pencarian akan pengetahuan, dan magis atau klenik (occult) : yang terakhir ini adalah sarana untuk mencapai kekuatan. Beberapa kelompok tersebut merupakan esoteris dan sekaligus klenik (occult). Pusat sistem klenik adalah kemauan untuk berkuasa berdasarkan mimpi untuk menjadi ilahi.

Teknik pengembangan pikiran ditujukan untuk mengungkapkan kepada orang-orang kekuatan ilahi mereka dengan menggunakan kekuatan klenik ini sehingga orang-orang siap pada jalan menuju Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment). Pengagungan manusia ini menjungkirbalikan hubungan yang benar antara Pencipta dan ciptaan dan salah satu bentuk ekstrim dari pengagungan manusia adalah Setanisme (Satanism). Setan menjadi simbol pemberontakan melawan adat kebiasaan (conventions) dan peraturan, yang mana simbol pemberontakan ini sering berlaku agresif, egois dan memakai cara-cara kekerasan. Beberapa kelompok evangelis memperlihatkan perhatiannya pada kehadiran yang luhur dari apa yang mereka klaim sebagai simbolisme setan dalam beberapa jenis musik rock yang memiliki pengaruh luas pada anak-anak muda. Ini semua secara luas terhapuskan dari amanat damai dan harmoni yang ditemukan dalam Perjanjian Baru; ini sering merupakan salah satu konsekuensi dari pengagungan manusia ketika meniadakan Allah yang transendental.

Tetapi ini bukan hanya sesuatu yang mempengaruhi orang-orang muda tetapi juga tema-tema dasar dari budaya esoteris yang muncul dalam aspek politik, pendidikan dan hukum 37 . Ini pun secara khusus menyangkut kasus yang berhubungan dengan ekologi. Tekanan ekologi yang dalam pada bio-sentrisme menyangkal visi antropologis kitab suci yang mana manusia adalah pusat dunia karena mereka dipandang sebagai yang unggul secara kualitatif dibandingkan dengan bentuk-bentuk alamiah lainnya. Tekanan ini sangat jelas dalam hukum dan pendidikan saat ini meskipun fakta menunjukkan bahwa bio-sentrisme meremehkan manusia. Matrix budaya esoteris yang sama dapat ditemukan dalam teori ideologis yang mendasari kebijakan-kebijakan pengontrolan populasi dan eksperimen dalam rekayasa genetis yang kelihatannya memperlihatkan mimpi manusia agar bisa menciptakan dirinya sendiri sekali lagi. Bagaimana orang-orang berharap bisa melakukan hal ini ? Dengan menguraikan kode genetik, yang dapat mengubah aturan seksualitas alamiah, maka tindakan tersebut menolak adanya batas kematian (limits of death).

Apa yang mungkin bisa dikatakan sebagai aturan New Age adalah orang-orang dilahirkan dengan percikan ilahi, dalam pengertiannya mengingatkan kembali gnostisisme kuno; hal ini menghubungkan mereka ke dalam persatuan Keseluruhan (unity of Whole). Jadi mereka pada pokoknya dilihat ilahi meskipun mereka berpartisipasi dalam keilahian kosmis di tingkat kesadaran diri yang berbeda-beda. Kita adalah co-pencipta dan kita menciptakan realitas diri kita sendiri. Banyak pengarang New Age mempertahankan bahwa kita bisa memilih keadaan hidup kita (bahkan penyakit dan kesehatan kita pun) dalam visi dimana setiap individu dianggap sebagai sumber alam semesta yang kreatif. Tetapi kita perlu membuat perjalanan agar secara penuh dapat memahami dimana kita cocok delam persatuan kosmos. Perjalanan tersebut berupa psikoterapi dan pengakuan akan kesadaran universal merupakan keselamatan. Tidak ada dosa; yang ada hanyalah pengetahuan yang tak sempurna. Identitas setiap manusia dicairkan dalam wujud universal (universal being) dan dalam proses inkarnasi yang berturut-turut. Orang-orang merupakan subjek bagi penentuan pengaruh-pengaruh bintang tetapi orang-orang tersebut dapat dibuka kepada keilahian yang hidup dalam diri mereka melalui pencarian yang berlanjut (dengan sarana teknik-teknik yang pas) karena adanya harmoni yang selamanya lebih besar antara diri dan energi kosmis ilahi. Tidak perlu ada Pewahyuan (Revelation) atau Keselamatan (Salvation) yang datang dari orang-orang di luar mereka sendiri tetapi perlu adanya pengalaman keselamatan yang tersembunyi dalam diri mereka sendiri (self-salvation) dengan menguasai teknik-teknik psiko-psikis (psyco-physical techniques) yang mengantar orang pada pencerahan definitif (definitive enlightenment).

Beberapa tahap untuk menuju penebusan diri (self-redemption) adalah persiapan (meditasi, harmoni tubuh, melepaskan energi penyembuhan diri). Cara-cara ini adalah titik awal untuk menuju proses spiritualisasi, kesempurnaan dan pencerahan yang membantu orang-orang memperoleh pengendalian diri secara lebih jauh dan konsentrasi psikis pada “transformasi” dari diri seseorang ke dalam “kesadaran kosmis” (cosmic consciousness). Takdir manusia adalah rangkaian reinkarnasi jiwa secara berturut-turut dalam tubuh yang berbeda-beda. Ini dipahami bukan sebagai siklus “samsara”, dalam pengertian purifikasi seperti hukuman, tetapi sebagai kenaikan gradual menuju pengembangan potensi diri yang sempurna.

Psikologi digunakan untuk menjelaskan perluasan pikiran (mind expansion) sebagai pengalaman “mistis”. Yoga, zen, meditasi transendental dan latihan-latihan tantric membawa orang menuju kepada pengalaman penggenapan diri (self-fulfilment) atau pencerahan. Pengalaman puncak (mengenangkan kembali kelahiran seseorang, bepergian menuju gerbang kematian, biofeedback, tarian dan bahkan obat-obatan yang merupakan cara-cara yang dapat membangkitkan keadaan kesadaran yang berubah) diyakini dapat menuju persatuan dan pencerahan. Karena hanya ada satu Pikiran, beberapa orang dapat menjadi channels bagi wujud yang lebih tinggi. Setiap bagian dari wujud universal tunggal memiliki kontak dengan bagian lainnya. Pendekatan klasik dalam New Age adalah psikologi transpersonal yang konsep utamanya adalah Pikiran Unversal (Universal Mind), Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self), kesadaran personal dan kolektif serta ego individual. Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) adalah identitas riil kita, suatu jembatan antara Allah sebagai Pikiran ilahi (divine Mind) dan manusia. Pengembangan spiritual merupakan kontak dengan Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) yang mengatasi semua bentuk dualisme antara subjek dan objek, antara kehidupan dan kematian, antara jiwa/hati dan soma, antara diri dengan aspek diri yang terpisah-pisah. Kepribadian kita yang terbatas seperti sebuah bayangan atau mimpi yang diciptakan oleh diri riil (self real). Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) berisi memori dari (re)-inkarnasi dini.

2.3.4.2…..Allah ?

New Age memiliki preferensi yang telah ditandai bagi agama-agama Timur atau pra-Kristen yang dianggap tak terkontaminasi oleh distorsi Judeo-Kristen. Oleh sebab itu penghormatan yang besar diberikan kepada ritus pertanian kuno dan pemujaan fertilitas (fertility cults). “Gaia”, dewi bumi, ditawarkan sebagai sebuah alternatif Allah Bapa, yang citra-Nya dihubungkan kepada konsepsi dominasi pria terhadap wanita yang bersifat patriarkal. Memang ada perbincangan mengenai Allah, tetapi ini bukan Allah yang personal, Allah yang New Age bicarakan bukan bersifat personal dan transendental. Ini bukan pula Pencipta dan penopang alam semesta melainkan sebuah Allah yang merupakan “energi impersonal” yang tetap ada di dunia yang dengan mana membentuk “kesatuan kosmik” “ Semua adalah satu”, “jiwa atau roh dunia”, suatu penjumlah total dari kesadaran yang hidup dalam dunia. Maksudnya adalah bahwa segala sesuatunya adalah Allah. Kehadiran Allah yang paling jelas adalah dalam aspek realitas spiritual sehingga setiap pikiran/roh secara inderawi adalah Allah.

Ketika perasaan ini diterima secara sadar oleh wanita dan pria maka “energi ilahi” sering digambarkan sebagai “energi yang bersifat Kristus” (Christic energy). Ada juga perbincangan mengenai Kristus tetapi ini bukan berarti Yesus dari Nazareth. “Kristus” adalah gelar kecil yang diterapkan kepada seseorang yang telah sampai pada kondisi kesadaran dimana dia meraskan “Kristus” atau dirinya sendiri menjadi ilahi dan dengan demikian dirinya mengklaim menjadi seorang “Master universal” (universal Master). Yesus dari Nazareth bukanlah Kristus seperti yang ditafsirkan New Age ini melainkan sungguh-sungguh seseorang diantara tokoh-tokoh historis yang kepadanya sifat “Kristus” ini dinyatakan seperti halnya Buddha dan tokoh-tokoh lainnya. Setiap realisasi historis (historical realization) dari Kristus ini dengan jelas menunjukkan bahwa semua manusia adalah ilahi dan surgawi dan mengantar mereka menuju realisasi ini. Tingkat yang paling dalam dan personal (“cenayang”) yang mana “energi kosmik ilahi” ini didengar oleh manusia disebut juga “Roh Kudus”.

2.3.4.3…….dunia ?

Langkah dari model mekanistis fisika klasik ke fiskia atom yang modern serta “holistik” dan fisika sub atomik yang didasarkan pada konsep benda seperti gelombang energi daripada partikel merupakan pusat pemikiran New Age. Alam semesta adalah lautan energi yang keseluruhan tunggal atau jaringan mata rantai. Energi menggerakan organisme tunggal yang mana alam semesta itu adalah “roh”. Tidak ada perubahan antara Allah dengan dunia. Dunia itu sendiri ilahi dan dunia menjalakan sebuah proses evolusioner yang mengarah dari benda lembam ke “kesadaran sempurna dan lebih tinggi” (higher and perfect consciousness). Dunia tidak diciptakan, bersifat abadi dan mencukup dirinya sendiri (self-sufficient). Masa depan dunia didasarkan pada dinamika dalam yang perlu positif dan mengarah pada kesatuan damai (ilahi) dari semua yang ada. Allah dan dunia, jiwa dan tubuh, intelegensia dan perasaan, surga dan bumi adalah getaran energi yang sangat besar sekali.

Buku James Lovelock dalam Hipotesis Gaia mengklaim bahwa “keseluruhan cakupan benda-benda hidup di dunia” dari ikan paus ke virus, dan dari pohon ek ke alga, dapat dipandang sebagai kesatuan kehidupan tungal yang berkuasa dan mampu memanipulasi atmosfir bumi untuk menyesuaikan seluruh kebutuhannya yang dibantu dengan panca indera serta kekuatan-kekuatan yang melewati jauh dari kebutuhan-kebutuhan unsur-unsur pokoknya” 38 . Bagi beberapa orang, hipotesis Gaia adalah “sintesis yang aneh tentang individualisme dan kolektivisme. Ini semua terjadi seakan-akan ini adalah New Age, yang menarik orang-orang keluar dari politik yang terpisah-pisah yang tak tahan untuk melemparkan politik itu ke dalam ketel dari pikiran global yang besar”. Otak global memerlukan institusi yang dengan institusi ini memerintah atau dengan kata lain, suatu pemerintahan dunia. “Agar dapat berurusan dengan masalah-masalah sekarang ini, New Age bermimpi tentang aristokrasi spiritual dalam corak Republik Plato yang dijalankan oleh masyarakat rahasia (secret societies)…”39 . Ini mungkin merupakan jalang untuk menyatakan keadaan yang dibesar-besarkan tetapi ada banyak bukti bhwa elitisme gnostic dan pemerintahan global bertemu dalam isu-isu politik internasional.

Segala sesuatu dalam alam semesta itu saling bertalian; bahkan setiap bagian itu sebenarnya adalah dirinya sendiri yang berada dalam suatu citra totalitas; keseluruhan berada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu itu adalah keseluruhan. Dalam “rantai mahluk hidup yang besar” (great chain of being), semua mahluk hidup secara akrab berhubungan dan membentuk satu keluarga dengan tingkat evolusi yang berbeda-beda. Setiap manusia adalah suatu hologram, suatu citra seluruh ciptaan yang mana dalam segala sesuatunya bergetar pada frekuensinya masing-masing. Setiap mahluk hidup adalah suatu neurone dalam sistem saraf pusat bumi dan semua kesatuan individu merupakan hubungan yang saling melengkapi dengan yang lainnya. Sebenarnya ada sifat saling melengkapi yang sangat dalam atau androgini dalam seluruh ciptaan 40.

Salah satu dari tema yang manjur dalam tulisan-tulisan dan pemikiran New Age adalah “paradigma baru” yang mana ilmu pengetahuan kontemporer telah membuka diri. “Ilmu Pengetahuan telah memberikan kepada kita wawasan ke dalam keseluruhan dan sistem (wholes and systems). Kita berkomunikasi mengenai kegagalan-kegagalan sistem yang tua itu, memaksa kerangka kerja baru bagi penyelesaian masalah dalam setiap area” 41. Dengan demikian, “pergeseran paradigma” (paradigm shift) tiada lebih adalah perubahan perspektif secara radikal. Pertanyaan apakah pemikiran dan perubahan nyata itu sepadan dan seberapa efektif dalam dunia luar suatu transformasi yang dalam dapat dibuktikan. Seseorang dipaksa untuk bertanya bahkan tanpa mengekspresikan penilaiannya yang negatif, seberapa spesifiknya proses pemikiran itu ketika proses itu meminta penegasan seperti ini : “Perang itu dapat dipikirkan dalam masyarakat yang terdiri dari orang-orang otonom yang telah menemukan keterhubungan dengan semua manusia yang tidak takut akan ide-ide dan budaya-budaya asing yang tahu bahwa semua revolusi itu bermula di dalam diri manusia dan kamu tidak dapat memaksa jenis pencerahan pada orang-orang lain” 42. Ini tidak logis untuk disimpulkan dari fakta bahwa sesuatu itu tak dapat dipikirkan bahwa itu tak dapat terjadi. Alasan demikian adalah benar-benar gnostik, dalam arti memberikan banyak kekuasaan kepada pengetahuan dan penyadaran diri (consciousness). Cara ini bukan untuk menolak peranan fundamental dan krusial bagi pengembangan penyadaran diri dalam penemuan ilmiah dan pengembangan kreatif tetapi benar-benar suatu kewaspadaan terhadap realitas eksternal tentang apa yang masih ada dalam pikiran.

2.4 “Warga mitos daripada warga sejarah” 43 ? : New Age dan budayanya

“Pada dasarnya, daya tarik New Age berhubungan dengan kepentingan yang secara budaya terstimulasikan dalam diri, nilai-nilainya, kapasitas dan masalah-masalah. Padahal agama tradisional , dengan organisasi hirarkinya ternyata cocok bagi komunitas itu, sementara spiritualitas yang mengalami detradisionalisasi cocok secara individual. New Age “adalah” diri (self) di dalam apa yang memfasilitasi penyelenggaraan dari apa yang menjadi dan akan menjadi serta New Age itu “untuk” diri (self) di dalam pembedaan dari banyaknya arus utama (mainstream), hal ini diposisikan untuk menangani masalah-masalah identitas yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk kehidupan konvensional” 44 .

Penolakan tradisi dalam bentuk organisasi patriarkal, sosial hirarkial atau gerejawi

Mengimplikasikan adanya pencarian bagi bentuk masyarakat alternatif, suatu bentuk yang dengan jelas diinspirasikan oleh gagasan diri (self) yang modern. Banyak tulisan-tulisan New Age setuju bahwa seseorang tidak dapat melakukan sesuatu (secara langsung) untuk merubah dunia melainkan segala sesuatu itu merubah dirinya sendiri; mengubah kesadaran individual dipahami untuk menjadi suatu cara (tidak langsung) mengubah dunia.

Insrumen yang paling penting bagi perubahan sosial adalah adanya teladan personal. Pengakuan secara luas dari teladan-teladan personal akan terus-menurus mengarah pada transformasi pikiran kolektif dan transformasi demikian akan menjadi pencapaian yang utama dari era kita. Ini bagian yang dengan jelas merupakan paradigma holistik dan pernyataan kembali mengenai pertanyaan filosopis klasik tentang satu dan banyak hal (the one and the many). Ini juga dihubungkan dengan teori persesuaian (theory of correspondence) yang mendukung Jung dan penolakannya mengenai sebab-akibat (causality). Individu-individu merupakan perwakilan yang terpisah dari hologram planet (planetary hologram); dengan melihat ke dalam diri seseorang bukan hanya mengetahui alam semesta tetapi juga mengubah alam semesta. Tetapi semakin orang melihat ke dalam diri, semakin kecil arena politis yang terjadi. Apakah ini benar-benar cocok dalam retorika partisipasi demokratis dalam urutan planet atau ini suatu pelepasan wewenang (disempowerment) orang-orang yang tak kentara dan halus yang membuat mereka terbuka terhadap manipulasi ? Apakah keasyikan yang sedang berlangsung dengan masalah keplanetan (isu ekologis, penyebaran sumber-sumber daya, populasi berlebihan, jurang ekonomi antara timur dan selatan, penyimpanan senjata nuklir dan ketidakstabilan politik) memungkinkan atau melumpuhkan kesepakatan yang secara cukup nyata ada dalam pertanyaan-pertanyaan politis dan sosial lainnya ? Pepatah lama yang mengatakan bahwa “amal dimulai dari rumah” dapat memberikan keseimbangan yang sehat terhadap pendekatan seseorang mengenai isu-isu tersebut. Beberapa pengamat New Age mendeteksi adanya otoritarianisme yang mengancam di balik ketidakacuhan politik. David Spangler sendiri menunjuk bahwa salah satu bayangan New Age adalah “penyerahan halus kepada ketakberdayaan dan ketidakbertanggungjawaban dalam menunggu New Age yang sekedar datang daripada menjadi pencipta aktif keseluruhan dalam kehidupan orang itu” 45

Meskipun hal ini sulit untuk secara tepat disarankan bahwa paham peredaan/ketenangan (quietism) bersifat universal dalam sikap-sikap New Age namun salah satu kritisisme utama Gerakan New Age adalah pencarian pribadi bagi pencapaian diri mungkin sebenarnya bekerja melawan kemungkinan adanya budaya agama yang kuat. Tiga poin ini menghasilkan fokus sebagai berikut :

Ini masih bisa dipertanyakan apakah New Age mempertunjukkan daya meyakinkan secara intelektual (intellectual cogency) untuk memberikan gambaran yang lengkap tentagn kosmos dalam pandangan dunia yang mengklaim bisa mengintegrasikan alam dan realitas spiritual. Alam semesta barat dilihat sebagai alam yang satu dan terbagi berdasarkan monotheisme, transenden, perubahan (alterity) dan pemisahan (separateness). Dualisme fundamental dideteksi seperti pembagian antara riil dengan ideal, antara relatif dan absolut, antara terbatas dan tak terbatas, antara manusiawi dan ilahi, antara kudus dan keduniawiaan, antara masa lalu dan sekarang, semua yang berbau harum dari “penyadaran tak bahagia” (unhappy consciousness) dari Hegel. Ini digambarkan seperti sesuatu yang tragis. Tanggapan dari New Age adalah persatuan melalui penggabungan (fusi); New Age mengklaim bisa mendamaikan jiwa dengan tubuh, wanita dan pria, roh dan benda, manusia dengan ilahi, bumi dan kosmos, transenden dan imanen, agama dan pengetahuan, perbedaan diantara agama-agama, Yin dan Yang. Dengan demikian tidak ada pengubahan (alterity); apa yang disisakan menurut istilah manusia adalah transpersonalitas (transkepribadian). Dunia New Age tidak problematik; tidak ada yang tersisa untuk dicapai. Tetapi pertanyaan metafisik tentang satu dan banyak hal tetap tak terjawab, bahkan mungkin tak ditanyakan, bahwa ada sejumlah besar penyesalan akibat pengaruh perpecahan (disunity) dan pembagian (divisions) namun tanggapannya merupakan deskripsi tentang bagaimana sesuatu itu akan muncul dalam visi yang lain.

New Age mengimpor sedikit demi sedikit praktek-praktek agama Timur yang diintrepretasikan kembali agar cocok dengan orang-orang Barat; hal ini termasuk penolakan bahasa dosa dan keselamatan, serta menggantikannya dengan bahasa yang lebih netral secara moral yakni kecanduan (addiction) dan penyembuhan (recovery). Referensi terhadap pengaruh-pengaruh extra Eropa kadang-kadang hanya merupakan “pseudo-Orientalisasi” kebudayaan Barat. Lebih jauh lagi, ini hampir tidak merupakan suatu dialog asli; dalam konteks dimana pengaruh-pengaruh Yunani-Romawi (Graeco-Roman) dan Judaisme-Kristen (Judaeo-Christian) menjadi kecurigaan, sehingga pengaruh oriental digunakan secara tepat sebab pengaruh-pengaruh ini merupakan alternatif bagi kebudayaan Barat. Ilmu tradisional dan kedokteran dirasakan inferior dibandingkan pendekatan holistik seperti pendekatan patriarkal dan struktur partikular dalam politik dan agama. Semua ini akan menjadi halangan bagi kedatangan jaman Aquarius (Age of Aquarius); sekali lagi sudah jelas bahwa apa yang diimplikasikan ketika orang-orang memilih alternatif-alternatif New Age adalah putusnya hubungan dengan tradisi yang membentuk mereka. Apakah ini menjadi sematang dan sebebas yang sering dipikiran dan dianggap orang-orang ?

Tradisi-tradisi agama otentik mendorong ketertiban dengan tujuan yang pada akhirnya mendapatkan kebijaksanaan (wisdom), ketenangan hati (equanimity), dan rasa kasihan (compassion). New Age menggemakan kedalaman masyarakat yang tak dapat diberantas untuk menghasilkan kebudayaan agama integral serta sesuatu yang lebih generik dan mengandung penerangan daripada apa yang para politisi tawarkan tetapi ini tidak jelas apakah benefit visi tersebut yang berdasarkan pengembangan diri (self expanding) adalah untuk individual atau masyarakat. Kursus-kursus pelatihan New Age (biasa dikenal dengan “Pelatihan seminar Erhard” [EST] dsb). Memadukan nilai-nilai budaya tandingan dengan aliran utamanya perlu berhasil, yakni kepuasan di dalam (inner satisfaction) dengan kesuksesan di luar (outer success); “Semangat Bisnis” Findhorn memundurkan transformasi pengalaman kerja saat peningkatan produktivitasnya; beberapa penganut New Age terlibat tidak hanya menjadi lebih otentik dan spontan tetapi juga agar menjadi lebih makmur (melalui magis dll). “Apa yang membuat hal-hal bahkan lebih menarik bagi para pelaku bisnis (enterprise-minded business person) adalah bahwa pelatihan-pelatihan New Age juga menyuarakan ide-ide besar yang agak lebih humanistis dalam dunia bisnis. Ide-ide tersebut harus berhubungan dengan tempat kerja sebagai ‘lingkungan belajar’ (learning environtment), ‘membuat kehidupan kembali bekerja’, ‘memanusiakan pekerjaan’ (humanizing work), ‘memenuhi manajer’ (fulfilling manager), ‘orang-orang adalah yang pertama’ (people come first) atau ‘membuka potensi’ (unlocking potential). Diwakili oleh para trainer New Age, kemungkinan besar mereka memohon lebih banyak pelatihan-pelatihan humanistis (sekuler) kepada orang-orang bisnis yang telah terlibat sebelumnya dan yang menginginkan untuk mengambil hal-hal tersebut secara lebih jauh lagi; pada waktu yang sama demi pertumbuhan personal, kebahagiaan dan entusiasme, dan juga demi produktivitas komersial” 46 . Jadi ini jelas bahwa orang-orang yang terlibat benar-benar mencari kebijaksanaan dan ketenangan hati dmei keuntungan mereka sendiri, tetapi seberapa banyakkah aktivitas yang melibatkan mereka bisa memungkinkan mereka bekerja demi kebaikan yang umum itu ? Terlepas dari pertanyaan mengenai motivasi, semua fenomena ini perlu dinilai melalui buah-buahnya dan keraguan sehingga patut dipertanyakan apakah mereka mempromosikan diri (self) atau solidaritas (solidarity), bukan hanya dengan ikan paus, pohon-pohon atau seperti orang berpikiran seperti itu melainkan dengan seluruh ciptaan termasuk seluruh manusia. Konsekuensi yang paling merusak dari beberapa filosopi egoisme yang dirangkul erat oleh institusi-institusi atau banyak orang telah diidentifikasikan oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebagai suatu rangkaian “strategi untuk mengurangi jumlah mereka yang akan makan di meja manusia (eat at humanity’s table)” 47. Ini adalah kunci yang standard yang bisa mengevaluasi dampak dari filosopi atau teori New Age. Kekristenan selalu mencoba mengukur usaha-usaha melalui keterbukaan mereka kepada Pencipta dan semua ciptaan yang lain sebagai sebuah penghormatan yang benar-benar didasarkan pada cinta.

2.5 Mengapa New Age tumbuh dengan cepat dan menyebar secara efektif ?

Apakah pertanyaan dan kritik itu bisa menarik perhatian, New Age adalah suatu usaha oleh orang-orang yang mengalami dunia ini kejam dan tak memiliki hati sehingga kehangatan perlu dibawa kembali kepada dunia itu. Sebagai suatu reaksi terhadap modernitas, New Age bekerja lebih sering daripada yang bukan tingkat perasaaan, insting dan emosi. Kecemasan mengenai masa depan instabilas ekonomi yang bersifat apokaliptik, ketidakpastian politis dan perubahan iklim memainkan bagian besar yang menyebabkan orang-orang mencari suatu alternatif, yakni hubungan yang secara tegas optimistis terhadap kosmos. Ada suatu pencarian bagi keseluruhan dan kebahagiaan, yang secara eksplisit sering muncul pada tingkat spiritualitas. Tetapi ini cukup signifikan bahwa New Age telah menikmati kesuksesan luar biasa dalam sebuah era yang bisa dikarakterisasikan melalui pengagungan perbedaan yang hampir bersifat universal. Kebudayaan barat telah mengambil langkah melampaui toleransi – dalam pengertian penerimaan atau peletakan yang segan terhadap idiosyncrasies (karakterisitik tingkah laku yang aneh) seseorang atau kelompok minoritas – menuju erosi sadar dari penghormatan terhadap normalitas. Normalitas dipresentasikan sebagai suatu konsep bermuatan moral, yang perlu dikaitkan dengan norma-norma absolut. Karena jumlah orang-orang yang terus bertumbuh. Kepercayaan absolut atau norma-norma tidak mengidentifikasikan sesuatu kecuali suatu ketidakmampuan untuk bertoleransi pada pada pandangan dan keyakinan orang lain. Dalam keadaan ini, gaya hidup dan teori-teori alternatif ini benar-benar membawa pergi: yang tidak hanya diterima namun juga secara positif baik untuk berbeda-beda 48.

Ini perlu sekali dipikirkan bahwa orang-orang dilibatkan dengan New Age dalam cara-cara yang berbeda dan pada banyak tingkatan. Dalam banyak kasus hal ini bukan merupakan pertanyaan mengenai “kepemilikan” (belonging) bagi kelompok atau gerakan; bukan pula mengenai penyadaran secara sadar (conscious awareness) terhadap prisinp-prinsip yang dibangun dalam New Age. Kelihatannya karena bagian yang paling banyak, orang-orang tertarik pada terapi atau praktek khusus tanpa masuk ke dalam latar belakang mereka dan orang-orang lainnya benar-benar konsumen produk yang dilabelkan “New Age”. Sebagai contoh, Orang-orang yang menggunakan aromaterapi atau mendengar musik “New Age”, biasanya tertarik pada efek yang berhubungan dengan kesehatan mereka; namun hanya beberapa orang saja yang mendalami masalah itu dan coba untuk memahami signifikansi teoritisnya (atau “mistis”). Hal ini dengan pas cocok ke dalam pola-pola konsumsi masyarakat dimana kesenangan dan waktu luang memainkan bagina yang penting ini. “Gerakan” ini telah mengadaptasi dengan baik hukum-hukum pasar dan sebagian telah masuk dalam hukum-hukum tersebut sebab hukum tersebut merupakan rencana ekonomi yang menarik bahwa New Age menjadi begitu luas dikenal. New Age telah dilihat setidak-tidaknya dalam beberapa kebudayaan sebagai label produk yang diciptakan melalui penerapan prinsip-prinsip pemasaran terhadap fenomena agama 49. Akan selalu ada cara menghasilkan profit dari kebutuhan spiritual yang dirasakan masyarakat. Seperti banyak hal lainnya dalam ekonomi kontemporer, New Age merupakan fenomena global yang dipegang dan dihidupi oleh informasi melalui media massa. Ini bisa diperdebatkan bahwa komunitas global diciptakan oleh sarana-sarana media massa dan cukup jelas bahwa literatur yang populer dan komunikasi massa menjamin bahwa gagasan-gagasan umum yang dipegang oleh “kaum percaya” (believers) dan simpatisannya menyebar hampir tiap hari dengan begitu cepatnya. Tetapi, tidak ada cara untuk membuktikan bahwa penyebaran gagasan-gagasan demikian adalah kebetulan atau disengaja karena ini adalah bentuk bebas dari “komunitas”. Seperti komunitas cycber (cyber communities) yang diciptakan oleh Internet, ide-ide itu merupakan domain dimana hubungan antara orang-orang dapat berupa personal atau impersonal dalam pengertian yang sangat selektif.

New Age telah menjadi sangat populer sebagai perangkat kepercayaan, terapi dan praktek lepas yang sering dipilih dan dikombinasikan pada kehendak, terlepas dari ketidakcocokan dan ketidakkonsistenan yang mungkin terimplikasikan. Tetapi ini ternyata diharapkan dalam pandangan dunia mengenai kesadaran diri di (world-view self consciously) berdasarkan pemikiran intuitif “otak kanan” (right-brain). Dan ini secara seksama mengapa hal ini penting untuk menemukan kembali dan mengenali karakteristik fundamental dari ide-ide New Age. Apa yang ditawarkan sering digambarkan sebagai sungguh-sungguh “spiritual” daripada milik beberapa agama, ada pula beberapa kaitan yang lebih dekat kepada agama Timur partikular daripada yang “konsumen” sadari. Ini ternyata penting dalam kelompok “doa” yang dipilih orang-orang untuk diikuti tetapi kelompok ini pula menimbulkan pertanyaan yang nyata bagi manajemen dalam jumlah perusahaan yang bertumbuh yang pengawai-pegawainya diminta untuk mempraktekan meditasi dan mengadopsi teknik-teknik pengembangan pikiran sebagai bagian dari kehidupan pekerjaan mereka 50.

Adalah layak untuk mengatakan bahwa promosi bersama New Age sebagai sebuah ideologi, tetapi ini merupakan isu yang komplek. Beberapa kelompok telah bereaksi terhadap New Age dengan menyapu bersih tuduhan-tuduhan adanya konspirasi, tetapi secara umum jawabannya akan menjadi bahwa kita sedang bersaksi mengenai perubahan kultural spontan yang arahnya agak ditentukan oleh pengaruh-pengaruh diluar kontrol manusia. Bagaimana pun juga, ini sudah jelas menunjuk bahwa New Age berbagi dengan sejumlah kelompok internasional yang berpengaruh dengan tujuan menggantikan agama-agama partikular/khusus agar dapat menciptakan ruang untuk agama universal yang dapat menyatukan manusia. Yang berhubungan erat dengan ini adalah usaha-usaha bersama pada bagian dari banyak institusi untuk menemukan sebuah Etika Global , yakni kerangka kerja etis yang akan merefleksikan sifat global budaya kontemporer, ekonomi dan politik. Lebih jauh lagi, politisasi masalah-masalah ekologis secara pasti mewarnai seluruh pertanyaan mengenai hipotesis Gaia atau pemujaan kepada ibu bumi.

3 NEW AGE DAN SPIRITUALITAS KRISTEN

3.1 New Age sebagai bentuk spiritualitas

New Age sering dihubungkan kepada mereka yang mempromosikannya sebagai bentuk “spiritualitas baru”. Ini nampaknya ironis untuk menyebut New Age “baru” ketika banyak ide-idenya telah diambil dari agama-agama dan kebudayaan-kebudayaan kuno. Tetapi apa yang benar-benar baru adalah bahwa New Age merupakan pencarian yang sadar bagi sebuah alternatif terhadap budaya Barat dan akar agama Judaisme-Kristen. “Spiritualitas” dalam cara ini mengacu kepada pengalaman harmoni dan persamaan yang lebih dalam mengenai keseluruhan realitas yang menyembuhkan setiap perasaan ketidaksempurnaan dan keterbatasan manusia. Orang-orang menemukan keterhubungannya yang dalam dengan kekuatan universal yang suci atau energi yang merupakan nukleus dari semua kehidupan. Ketika mereka membuat penemuan ini, laki-laki dan perempuan bisa menanamkan pada jalur kesempurnaan yang dapat memungkinkan mereka untuk melakukan penyortiran kehidupan pribadi dan hubungan mereka kepada dunia ini dan untuk mengambil tempat mereka dalam proses menjadi universal dan dalam Kejadian Baru (New Genesis) dunia ini dalam evolusi yang konstan. Hasilnya adalah sebuah mistisisme kosmik (cosmic mysticism)51 berdasarkan pada kesadaran orang-orang mengenai alam semesta yang berkembang dalam energi yang dinamis. Demikian energi kosmik, vibrasi, cahaya, Allah, kasih – bahkan Diri yang tinggi (supreme Self) – semua mengacu pada realitas yang satu dan sama, sumber utama yang hadir dalam setiap mahluk.

Spiritualitas ini mengandung dua elemen yang berbeda, satu metafisik yang lain filosopis. Komponen metafisik berasal dari akar esoteris dan theosopis New Age dan ini pada dasarnya merupakan bentuk gnosis yang baru. Jalan masuk kepada keilahian adalah melalui pengetahuan misteri yang tersembunyi, yang setiap individu mencari “yang nyata di belakang apa yang hanya kelihatan, yang asli diluar waktu, yang transenden diluar apa yang hanya berlalu cepat, tradisi primordial diluar tradisi yang hanya berlangsung cepat, yang lain diluar diri sendiri (self), keilahian kosmis diluar inkarnasi individu”. Spiritualitas esoteris “adalah investigasi Mahluk diluar keterpisahan dari mahluk-mahluk, sejenis nostalgia bagi kesatuan yang hilang”. 52

“Di sini seseorang dapat melihat susunan (matrix) spiritualitas esoteris gnostik. Ini merupakan bukti ketika anak-anak Aquarius mencari Kesatuan Transendental agama-agama. Mereka cenderung memilih hanya nukleus historis dari agama-agama historis yang mereka klaim menjadi pelindungnya. Entah bagaimana mereka menolak sejarah dan tidak akan menerima bahwa spiritualitas dapat berakar dalam waktu atau dalam institusi. Yesus dari Nazareth bukanlah Allah, tetapi salah satu dari banyak manifestasi historis dari Kristus yang kosmis dan universal”. 53

Komponen psikologis dari jenis spiritualitas ini berasal dari pertemuan antara budaya esoteris dan psikologi (lihat sub bab 2.32). Dengan demikian New Age menjadi sebuah pengalaman psiko personal – transformasi spiritual, yang dilihat sebagai analogi terhadap pengalaman religius. Bagi beberapa orang, transformasi ini mengambil bentuk pengalaman mistis yang dalam, setelah krisis personal atau pencarian spiritual yang panjang. Bagi orang lainnya, transformasi ini datang dari penggunaan meditasi atau sejenis terapi atau dari pengalaman paranormal yang mengubah keadaan kesadaran (state of consciousness) dan menyediakan pengetahuan ke dalam kesatuan realitas.54

3.2 Narsisisme spiritual ?

Beberapa pengarang melihat Spiritualitas New Age sebagai jenis narsisisme spiritual atau pseudo-mistisisme. Ini menarik untuk dicatat bahwa kritik ini diletakkan bahkan oleh eksponen penting New Age, David Spangler, yang dalam karya-karya terakhirnya, menjauhi dirinya sendiri dari banyak aspek esoteris pada arus pemikirian ini. Dia menulis bahwa, bentuk-bentuk New Age yang lebih populer, “individu-individu dan kelompok-kelompok sedang hidup sampai pada fantasi-fantasi pengalaman dan kekuatan mereka, biasanya merupakan klenik atau bentuk millenarian….Karakteristik prinsipil tingkat ini adalah alat pelengkap kepada dunia ego yang bersifat privat – penggenapan dan penarikan yang konsekuensi (meskipun tidak selalu nyata) dari dunia. Pada tingkat ini, New Age menjadi padat dengan keanehan dan mahluk eksotik, master, orang yang terampil, mahluk luar angkasa (ET); Ini adalah tempat kekuatan fisik dan misteri klenik, dari konspirasi-konsiprasi dan ajaran-ajaran tersembunyi”.55

Dalam karya terakhirnya, David Spangler menyusun daftar mengenai apa yang dia lihat sebagai elemen-elemen negatif atau “bayangan-bayangan” New Age: “pengasingan dari masa lalu atas nama masa depan; alat kelengkapan kesenangan yang baru demi dirinya sendiri…; sikap tidak pandang bulu dan tidak adanya pembeda-bedaan atas nama keseluruhan dan persekutuan, oleh karena itu adalah suatau kegagalan untuk memahami atau menghormati peranan batas-batas…; kebingungan adanya fenomena fisik dengan kebijaksanaan, penyaluran (channeling) dengan spiritualitas, perspektif New Age dengan kebenaran akhir”.56 Tetapi, akhirnya, Spangler yakin bahwa, narsisisme irasional dan egois terbatas pada beberapa penganut New Age. Aspek-aspek positif yang dia tekankan adalah fungsi New Age sebagai citra perubahan dan sebagai inkarnasi yang kudus, gerakan yang mana banyak orang merupakan “pencari kebenaran yang serius” , yang bekerja dalam kepentingan hidup dan pertumbuhan yang lebih dalam.

Aspek komersial dari produk-produk dan terapi yang memikul nama New Age dikeluarkan oleh David Toolan, seorang Yesuit Amerika yang menghabiskan beberapa tahun dalam pergaulan New Age. Dia mengobservasi bahwa para penganut New Age telah menemukan kehidupan yang lebih dalam dan dipesonakan oleh prospek yang menjadi tanggungjawab bagi dunia, tetapi bahwa mereka juga dengan mudah diatasi oleh kecenderungan kepada individualisme dan pandangan segala sesuatu itu sebagai objek konsumsi. Dalam pengertian ini, hal itu bukan agama Kristen, New Age bukan pula Budha, sebab hal ini tidak melibatkan penolakan diri sendiri. Dalam prakteknya, mimpi mengenai kesatuan mistis nampak mengarah hanya kepada kesatuan virtual yang pada akhirnya meninggalkan orang-orang sendirian dan tak terpuaskan.

3.3 Kristus Kosmik

Pada awal Kekristenan, para pengikut Yesus Kristus dipaksa untuk menghadapi agama-agama gnostik. Para pengikut tersebut tersebut tidak mengabaikan agama-agama tersebut tetapi menantang dengan positif dan menerapkan terminologi yang digunakan dalam ketuhanan kosmik kepada Yesus sendiri. Contoh yang paling jelas dari keadaan tersebut adalah kidung yang populer kepada Kristus dalam surat Paulus kepada umat di Kolose : “Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebihutama dari yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Dialah kepala Tubuh, yaitu Gereja. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Diala Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan Diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus”.(Col 1 : 15 – 20)

Bagi orang Kristen perdana, tidak ada zaman kosmik yang akan datang; apa yang mereka rayakan dengan kidung ini adalah penggenapan segala sesuatu yang telah dimulai dalam Kristus. “Waktu benar-benar digenapi oleh fakta saja bahwa Allah, dalam Inkarnasi turun ke dalam sejarah manusia. Keabadian memasuki waktu : ‘penggenapan’ apa dapat lebih besar dari ini ? ‘Penggenapan’ lain yang apa yang mungkin terjadi ?”57 Kepercayaan gnostik dalam kekuatan kosmik dan beberapa penghalangan dari jenis takdir ini mengambil tanggungjawab hubungan kepada Allah personal yang dinyatakan dalam Kristus. Bagi orang Kristen, Kristus kosmik yang nyata adalah seseorang yang hadir secara aktif dalam berbagai macam anggota-anggota tubuhnya yakni Gereja. Mereka tidak melihat kekuatan kosmik impersonal tetapi kepada perlindungan kasih Allah personal; bagi mereka bio-centrisme kosmik harus diubah ke dalam seperangkat hubungan sosial (dalam Gereja) dan mereka terkunci dalam pola siklus dari kegiatan-kegiatan kosmik tetapi memfokuskan pada Yesus historis, khususnya penyaliban dan kebangkitan-Nya. Kita temukan dalam Surat kepada Kolose dan dalam Perjanjian Baru sebuah doktrin Allah yang berbeda dari yang implisit dalam pemikiran New Age: Konsepsi Kristen mengenai Allah adalah salah satu dari Trinitas Pribadi-pribadi yang telah menciptakan ras manusia karena keinginan untuk berbagi komuni kehidupan Trinitaris dengan pribadi-pribadi yang patuh. Bila dimengerti secara sepadan, ini berarti bahwa spiritualitas yang otentik tidak sebanyak pencarian kita akan Allah melainkan pencarian Allah terhadap kita.

Yang lainnya, sama sekali berbeda, pandangan pentingnya Kristus kosmik telah menjadi arus dalam lingkaran New Age. “Kristus kosmik adalah pola ilahi yang berhubungan dalam pribadi Yesus Kristus (tetapi sama sekali tidak terbatas kepada orang itu). Pola konektivitas yang ilahi itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh 1 : 14) …..Kristus Kosmik…memimpin eksodus baru dari perbudakan dan pandangan Newton yang pesismistis, alam semesta mekanistis begitu matang dengan kompetisi, pemenang, dualisme, antroposentrisme dan rasa jemu yang datang ketika ketika alam semesta kita yang mengasikkan ini digambarkan seperti mesin yang kehilangan harapan akan misteri dan mistisisme. Kristus Kosmik bersifat lokal dan historis, benar-benar mendalam bagi sejarah manusia. Kristus Kosmik mungkin tinggal di sebelah kita atau bahkan di dalam diri seseorang yang terdalam dan paling benar” 58. Meskipun pernyataan ini mungkin tidak memuaskan setiap orang yang terlibat dalam New Age, pernyataan tersebut benar-benar menangkap suaranya dengan baik dan pernyataan ini pun menunjukkan dengan kejernihan yang mutlak dimana perbedaan-perbedaan antara dua cara pandang mengenai Kristus terletak. Bagi New Age Kristus Kosmik dilihat seperti pola yang dapat diulang-ulangi dalam banyak orang, tempat dan waktu; ini merupakan pembawa perubahan paradigma yang sangat hebat; hal ini potensi yang akhirnya ada diantara kita. Menurut ajaran Kristen, Yesus Kristus bukanlah pola, melainkan sosok ilahi yang figur ilahi-manusianya mengungkapkan misteri kasih Bapa kepada setiap orang melalui sejarah (Yoh 3 : 16); Dia tinggal dalam kita sebab Dia berbagi hidup-Nya dengan kita, tetapi hal ini bukan dipaksa atau pun otomatis. Semua laki dan perempuan diajak untuk berbagi hidupnya, untuk hidup “dalam Kristus”.

3.4 Mistisisme Kristen dan mistisisme New Age

Bagi penganut agama Kristen, kehidupan spiritual merupakan hubungan dengan Allah yang secara gradual melalui rahmat-Nya menjadi lebih dalam, dan dalam proses memancarkan cahaya pada hubungan kita dengan sesama baik itu laki-laki maupun perempuan dan dengan alam semesta. Spiritualitas dalam terminologi New Age berarti mengalami keadaan penyadaran yang didominasi oleh perasaan harmoni dan peleburan dengan Keseluruhan (the Whole). Jadi “mistisisme” mengacu bukan kepada perjumpaan dengan Allah transendental dalam kepenuhan Kasih tetapi kepada pengalaman yang ditimbulkan melalui penyerahan diri, rasa riang yang menjadi satu dengan alam semesta, sebuah rasa yang membiarkan individualitas seseorang tenggelam ke dalam samudra luas keberadaan (Being).59

Perbedaan fundamental ini adalah bukti pada semua tingkatan perbandingan antara mistisisme Kristen dan mistisisme New Age. Cara purifikasi New Age didasarkan pada kesadaran akan ketaktenteraman atau keterasingan yang akan diatasi oleh pembenaman ke dalam Keseluruhan (the Whole). Agara dapat menjadi pengikut New Age, seseorang perlu memanfaatkan teknik-teknik yang mengantarkan kepada pengalaman mengenai penerangan (illumination). Hal ini akan mentransformasikan kesadaran seseorang dan membuka dirinya untuk mengadakan kontak dengan keilahian yang dipahami sebagai esensi realitas yang terdalam.

Teknik-teknik dan metode-metode yang ditawarkan dalam sistem agama imanentis (immanentist) ini yang mana tidak memiliki konsep Allah sebagai pribadi, bekerja ‘dari bawah’. Meskipun teknik-teknik tersebut meliputi turunnya kepada kedalaman hati seseorang atau jiwa, teknik atau metode –metode tersebut mengangkat manusia secara esensial pada bagian pribadi yang mencoba bangkit kepada keilahian melalui usaha-usahanya sendiri. Ini sering merupakan sebuah “pendakian” pada tingkat penyadaran kepada apa yang dipahami sebagai kesadaran bebas dari “Allah yang di dalam” (the god within). Tidak semua orang memiliki akses terhadap teknik-teknik tersebut yang benefitnya dibatasi pada “aristokrasi” spiritual istimewa.

Elemen dasar dalam iman Kristen bagaimana pun juga adalah turunnya Allah kepada segenap mahluk-Nya khususnya yang paling rendah hati, yakni mereka yang paling lemah dan sedikit berbakat menurut nilai-nilai “dunia” ini. Ada beberapa teknik yang berguna untuk dipelajari, tetapi Allah dapat melewati (by pass) teknik-teknik tersebut atau bekerja tanpanya. “Suatu metode Kristen untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak didasarkan pada teknik dalam pengertian yang sempit. Hal itu akan berlawanan dengan semangat kekanak-kanakan seperti yang disebut dalam Kitab Suci. Inti mistisisme Kristen yang asli bukanlah teknik : Intinya selalu adalah karunia Allah; dan orang yang mendapatkan manfaat dari mengetahui dirinya sendiri yang tak layak”.60

Bagi orang Kristen, perubahan (conversion) adalah kembalinya kepada Bapa melalui Putra, dan dalam kepatuhan kepada kekuatan Roh Kudus. Semakin banyak orang-orang berkembang dalam hubungannya dengan Allah – yang selalu dan di dalam segala cara merupakan karunia bebas – semakin akut pula kebutuhan untuk bertobat dari dosa, kebutaan spiritual (spiritual myopia) dan kebirahian diri sendiri (self-infatuation), semua yang merintangi penyerahan diri sendiri dan percaya kepada Allah dan keterbukaan kepada orang-orang lain.

Semua teknik meditasi perlu dibersihkan dari kesombongan dan kemegahan. Doa Kristen bukanlah suatu lahihan dalam kontemplasi diri, keheningan dan pengosongan diri, melainkan suatu dialog kasih, dialog yang “berimplikasi pada sikap pertobatan, sebuah perjalanan dari ‘diri’ kepada ‘Engkau’ Allah”.61 Hal ini mengarah kepada penyerahan lengkap yang makin bertambah kepada kehendak Allah, dengan jalan kita diundang kepada solidartas yang dalam, asli terhadap saudara-saudari kita.62

3.5 “allah di dalam” dan “theosis”

Ini adalah poin penting yang kontras antara New Age dan Kekristenan. Jadi banyak literatur diarahkan melalui keyakinan bahwa tidak ada mahluk ilahi “di luar sana”, atau dalam cara riil yang berbeda dari realitas yang ada. Dari jaman Jungs hingga sekarang ditemukan banyak aliran dalam “allah di dalam”. Masalah kita dalam perspektif New Age adalah ketidakmampuan untuk mengakui keilahian kita sendiri, yang merupakan suatu ketidakmampuan yang dapat diatasi dengan bimbingan dan pemanfaatan keseluruhan berbagai macam teknik untuk mengungkapkan potensi (ilahai) yang tersembunyi itu. Ide dasarnya adalah bahwa ‘Allah’ berada di dalam diri kita masing-masing. Kita adalah allah, dan kita menemukan kekuatan yang tidak terbatas dalam diri kita dengan meninggalkan lapisan ketidakotentikan [63]. Semakin sering hal ini dikenal, semakin sering pula hal ini akan disadari dan dalam pengertian ini New Age memiliki idenya sendiri mengenai theosis, menjadi ilahi atau, lebih tepatnya mengenali dan menerima bahwa kita adalah ilahi. Kita diberitahu oleh beberapa orang untuk hidup dalam “era yang mana pemahaman kita tentang Allah harus diperdalam : dari Allah Yang Maha Kuasa ke Allah yang dinamis, kekuatan kreatif yang tinggal di dalam pusat semua mahluk : Allah sebagai Roh” [64].

Dalam kata pengantar book ke 5 dari Melawan Para Bidaah, Santo Ireneus mengacu pada “Yesus Kristus yang benar-benar, melalui kasih transenden-Nya, menjadi sama seperti kita, bahwa Dia dapat membuat kita bahkan seperti Dia Sendiri. Hal ini adalah theosis, yang mana pemahaman Kristen tentang pengilahian, terjadi tidak melalui usaha kita sendiri melainkan dengan bantuan Rahmat Allah yang bekerja di dalam dan melalui kita. Ini mau tak mau melibatkan kesadaran yang berawal dari ketidaksempurnaan dan dosa-dosa manusia, yang tak lain adalah pemuliaan diri sendiri. Selanjutnya, pemahaman ini mengantar kita pada kehidupan Trinitas, suatu kasus pembedaan yang sempurna pada inti persatuan; ini adalah sinergi daripada sebuah fusi (penggabungan). Ini semua terjadi sebagai suatu hasil perjumpaan personal, suatu tawaran tentang hidup baru. Hidup dalam Kristus bukan sesuatu yang personal dan pribadi yang dibatasi aspek kesadaran. Dan ini juga bukan semata-mata merupakan tingkat kesadaran baru. Hidup dalam Kristus terjadi transformasi dalam jiwa dan tubuh kita melalui partisipasi dalam kehidupan sakramental Gereja.

4 Perbedaan Antara NEW AGE Dengan Iman Kristen

Adalah sulit untuk memisahkan elemen individual dari religiositas New Age – tanpa kelihatan rasa bersalah – dari mendominasi kerangka kerja yang menyerap keseluruhan pemikiran dengan dunia gerakan New Age. Sifat gnostik dari gerakan ini memanggil kita untuk menilainya dalam suatu keseluruhan. Dari sudut pandang iman Kristen, adalah tidak mungkin untuk mengisolasi beberapa elemen dari religositas New Age seperti yang diterima umat Kristen, namun di lain pihak menolak yang lainnya. Karena gerakan New Age membuat banyak komunikasi dengan alam, dengan pengetahuan kosmik dalam nilai-nilai kebaikan universal – yang dengan cara demikian menyangkal kandungan yang terungkap dalam iman Kristen – maka hal ini tidak dapat dipandang sebagai positif atau tidak berbahaya. Dalam lingkungan kultural, yang ditandai oleh relativisme religius, adalah perlu untuk memberi peringatan melawan usaha untuk menempatkan religiositas New Age pada level yang sama seperti halnya iman Kristen, membedakan antara iman dan kepercayaan menjadi bersifat relatif, dengan demikian menciptakan kebingunan yang besar bagi mereka yang hati-hati. Dalam melihat ini, adalah bermanfaat untuk memperhatikan nasihat St Paulus “agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain atau pun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka dan bukan tata tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman (1 Tim 1 : 4). Beberapa praktek secara tidak tepat dan begitu mudahnya dinamai New Age sebagai sebuah strategi marketing untuk membuat praktek-praktek tersebut terjual lebih baik, tetapi tidak benar-benar diasosiasikan dengan pandangan dunia. Hal ini hanya menambah kebingungan. Oleh karena itu perlu untuk mengidentifikasikan secara akurat elemen-elemen yang terdapat dalam gerakan New Age, dan yang tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman kepada Kristus dan Gereja-Nya.

Pertanyaan berikut ini dapat menjadi kunci yang memudahkan kita untuk mengevaluasi beberapa elemen sentral pemikiran New Age dan praktek dari sudut pandang Kristen. “New Age” mengacu pada ide-ide seputar Allah, manusia dan dunia, orang-orang dengan siapa umat Kristen berbicara mengenai agama, bahan publikasi untuk kelompok-kelompok meditasi, terapi dan sejenisnya, pernyataan eksplisit tentang agama dan sebagainya. Beberapa pertanyaan ini cocok untuk orang-orang dan ide-ide yang tidak secara eksplisit dinamai New Age akan mengungkapkan lebih jauh jaringan tanpa nama atau yang tidak dikenal dengan keseluruhan suasana New Age.

* Apakah Allah suatu mahluk yang kepadaNya kita dapat memiliki hubungan atau sesuatu atau kekuatan yang bisa dimanfaatkan ?

Konsep New Age tentang Allah itu agak tersebar, padahal konsep umat Kristen itu sangat jelas sekali. Dalam New Age, allah itu adalah energi impersonal, benar-benar suatu ekstensi khusus atau komponen kosmos; allah dalam pengertian ini adalah kekuatan kehidupan (life-force) atau jiwa dunia ini. Keilahian ditemukan dalam setiap mahluk, dalam suatu gradasi “dari kristal terendah dunia mineral sampai pada dan di luar Allah Galaktis itu sendiri, tentang Dialah yang tak terucapkan dengan kata-kata. Ini bukan suatu manusia tetapi Kesadaran Besar” [65]. Dalam beberapa tulisan klasik New Age, adalah jelas bahwa manusia dimaksudkan agar berpikir tentang dirinya sendiri sebagai allah: hal ini lebih berkembang dalam beberapa orang dibandingkan dengan yang lain. Allah tidak lagi dicari di luar dunia, tetapi tinggal dalam diri sendiri [66]. Bahkan ketika “Allah” adalah sesuatu di luar dirinya sendiri, makannya ia bisa dimanipulasi.

Ini sangat berbeda sekali dari pemahaman orang Kristen tentang Allah sebagai pencipta surga dan bumi dan sumber dari segala kehidupan personal. Allah sendiri adalah pribadi, Sang Bapa, Putra dan Roh Kudus yang menciptakan alam semesta agar Dia dapat berbagi kehidupan-Nya dengan ciptaan-Nya. “Allah yang ‘tinggal dalam terang yang tak dapat didekati’, ingin mengkomunikasikan kehidupan ilahiNya sendiri kepada manusia yang Dia ciptakan secara bebas, agar dapat mengadopsi mereka sebagai anak-anak-Nya di dalam Anak-Nya yang tunggal. Dengan menyatakan diriNya Allah ingin membuat mereka mampu merespon Dia, dan mengenal Dia, dan mencintai Dia di luar kapasitas alamiah mereka”[67]. Allah tidak diidentifikasikan dengan prinsip kehidupan yang dimengerti sebagai “Roh” atau “energi dasar” dari kosmos, tetapi Allah itu sendiri Kasih yang berbeda secara absolut dari dunia ini dan yang secara kreatif hidup di mana-mana dan menuntun manusia kepada keselamatan.

* Apakah hanya ada satu Yesus Kristus, atau ada ribuan Kristus ?

Yesus Kristus sering dinyatakan dalam literatur New Age sebagai satu dari banyak orang bijak atau anggota atau inkarnasi dewa hindu (avatar) padahal dalam tradisi Kristen, Dia adalah Anak Allah. Di bawah ini beberapa poin dalam pendekatan New Age :

Yesus secara historis dan personal berbeda dari Kristus yang bersifat kekal, impersonal dan universal;

Yesus tidak dianggap hanya sebagai Kristus;

Kematian Kristus pada salib disangkal atau di-reinterpretasikan untuk meniadakan ide bahwa Dia sebagai Kristus bisa saja menderita;

Dokumen extra-biblis (seperti injil neo-gnostic) dianggap sumber otentik bagi pengetahuan tentang aspek kehidupan Kristus yang tidak akan ditemukan dalam kanon Kitab Suci. Wahyu lain mengenai Yesus yang dibuat oleh entitas, petunjuk roh dan master yang telah naik (ascended master), atau bahkan melalui Akasha Chronicles yang merupakan dasar bagi kristologi New Age;

Jenis penafsiran esoteris diaplikasikan ke dalam teks-teks biblis untuk memurnikan Kekristenan dari agama formal yang merintangi jalan menuju esensi esoteris [68].

Dalam Tradisi Kristen Yesus Kristus adalah Yesus dari Nazareth yang mana injil berbicara, putra Maria dan Anak Allah satu-satunya, manusia sejati dan Allah sejati, kepenuhan wahyu dari kebenaran ilahi, Penyelamat dunia yang unik: “demi kita Dia disalibkan di bawah pemerintahan Ponsius Pilatus; menderita, wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Dia bangkit kembali sesuai dengan Kitab Suci; Dia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”[69].

* Manusia : apakah hanya ada satu mahluk universal atau ada banyak individu ?

“Inti dari teknik-teknik New Age adalah untuk mereproduksi kondisi mistis berdasarkan kehendak manusia, seakan-akan merupakan masalah material laboratoris. Kelahiran kembali, umpan balik biotis (biofeedback), isolasi sensoris, pernapasan holotropis, hipnotis, mantra, puasa, pencabutan rasa kantuk, dan meditasi transendental merupakan usaha-usaha untuk mengontrol kondisi tersebut dan untuk mengalami pengalaman tersebut secara kontinu”[70]. Semua praktek-praktek ini mencipakan atmospir kelemahan fisik (dan sifat mudah kena serang). Ketika objek latihan adalah apa yang harus kita temukan kembali pada diri sendiri maka timbul pertanyaan riil tentang siapa “Saya” ini. “Allah di dalam diri kita” dan persatuan holistik dengan seluruh kosmos menekankan pertanyaan tersebut. Kepribadian individual yang terisolasi akan menjadi patologis dalam terma New Age (khususnya psikologi transpersonal). Tetapi “bahaya yang nyata adalah paradigma holistik. Pemikiran New Age itu berdasarkan persatuan totalitaria dan inilah sebabnya berbahaya….” [71]. Lebih moderat lagi : “Kita adalah otentik ketika ‘mengontrol’ diri kita sendiri, ketika pilihan dan reaksi kita mengalir dengan spontan dari kebutuhan-kebutuhan terdalam, ketika tingkah laku dan perasaan yang diekspresikan merefleksikan keseluruhan pribadi kita” [72]. Gerakan Potensial Manusia adalah contoh paling jelas dari keyakinan bahwa manusia adalah ilahi atau berisi kilatan ilahi di dalam diri kita sendiri.

Pendekatan Kristen berkembang karena ajaran-ajaran skriptural tentang sifat manusia; laki-laki dan wanita diciptakan menurut gambar dan citra Allah (Gen 1:27) dan Allah sangat mempertimbangkan mereka, sebanyak kejutan yang menenangkan dari Mazmur (cf. Mz 8). Pribadi manusia merupakan suatu misteri yang dinyatakan secara penuh hanya dalam Yesus Kristus (cf. GS 22) dan menjadi manusia secara otentik dan wajar dalam hubungannya dengan Kristus melalui karunia Roh [73]. Hal ini sangat jauh sekali dari karikatur antroposentrisme yang digambarkan kepada Kekristenan dan ditolak oleh banyak penulis dan praktisi New Age.

* Apakah kita menyelamatkan diri sendiri atau keselamatan adalah karunia semata-mata dari Allah ?

Kuncinya adalah menemukan dengan apa atau dengan siapa kita percaya maka kita diselamatkan. Apakah kita menyelamatkan diri sendiri dengan tindakan-tindakan kita seperti yang sering dijelaskan dalam kasus New Age, atau kita diselamatkan oleh kasih Allah ? Kata kunci berikutnya adalah pemenuhan-diri dan penyadaran-diri, penebusan-diri. New Age secara esensial merupakan Pelagian dalam pemahaman tentang sifat manusia [74].

Bagi umat Kristen, keselamatan tergantung dari partisipasi dalam sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus dan lebih pada hubungan personal langsung dengan Allah daripada suatu teknik. Situasi manusia yang dipengaruhi seperti dosa asal dan dosa pribadi dana diralat oleh tindakan Allah: dosa adalah perlawanan terhadap Allah dan hanya Allah yang dapat merekonsiliasikan kita kepada diriNya. Dalam rencana keselamatan ilahi, manusia dapat diselamatkan oleh Yesus Kristus yang, sebagai Allah dan manusia, adalah mediator penebusan. Dalam Kekristenan keselamatan bukanlah pengalaman diri, yang merupakan cara tinggal meditatif dan intiutif dalam diri sendiri melainkan lebih banyak pengampunan dosa, bangkit karena ambivalensi yang besar dalam diri sendiri dan ketenangan sifat melalui karunia persatuan dengan Allah yang mengasihi. Cara untuk mencapai keselamatan tidak dilakukan semata-mata dalam transformasi kesadaran yang digerakkan oleh diri sendiri, melainkan pembebasan dari dosa dan konsekuensinya yang menuntun kita pada perjuangan melawan dosa dalam diri sendiri dan di dalam masyarakat. Ini perlu untuk menggerakkan kita menuju solidaritas kasih dengan tetangga kita yang membutuhkan.

* Apakah kita menemukan kebenaran ataukah kita merangkul kebenaran ?

Kebenaran New Age adalah tentang vibrasi yang baik, korespondensi kosmis, harmoni dan ekstasi dalam pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan bersifat umum. Ini adalah masalah penemuan kebenaran diri sendiri yang sesuai dengan faktor yang dirasakan baik. Mengevaluasi agama dan pertanyaan-pertanyaan etis merupakan sifat relatif yang nyata pada perasaan dan pengalaman orang itu.

Yesus Kristus dipresentasikan dalam ajaran Kristen sebagai “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 16 :6). Pengikut-pengikutNya diminta untuk membuka seluruh hidup mereka kepada-Nya dan kepada nilai-nilai Nya atau dengan kata lain membuka diri pada suatu persyaratan objektif yang pada akhirnya merupakan bagian dari realitas objektif yang dapat diketahui oleh semua orang.

* Doa dan meditasi : apakah kita sedang berbicara kepada diri sendiri atau kepada Allah ?

Kecenderungan untuk membingungkan psikologi dan spiritualitas membuat sulit bukan untuk mendesak bahwa banyak dari teknik meditasi sekarang digunakan bukanlah doa. Teknik-teknik tersebut sering kali merupakan persiapan yang baik buat berdoa, tetapi tidak lebih dari itu, sekalipun teknik-teknik tersebut menuntun pada kondisi pikiran yang menyenangkan atau timbulnya kesenangan tubuh. Pengalaman-pengalaman yang muncul itu sungguh-sungguh asli tetapi untuk berada pada level ini maka harus berada pada kesendirian, tidak dalam kehadiran dengan yang lain. Pencapaian keheningan dapat menghadapkan kita pada kekosongan, lebih dari keheningan akibat kontemplasi pada yang dicintai. Ini juga benar bahwa teknik-teknik untuk menuju lebih dalam dari jiwa orang itu sendiri pada akhirnya merupakan daya tarik bagi kemampuan diri orang itu untuk mencapai sang ilahi, atau bahkan menjadi ilahi: bila teknik-teknik tersebut melupakan pencarian Allah akan hati manusia maka teknik tersebut bukanlah suatu doa umat Kristen. Meskipun teknik tersebut dilihat sebagai suatu hubungan dengan Energi Universal, “seperti ‘hubungan’ yang mudah dengan Allah, dimana fungsi Allah dilihat sebagai penyedia kebutuhan kita, maka ini menunjukkan egoisme pada inti New Age[75].

Praktek-praktek New Age bukan benar-benar suatu doa, praktek-praktek mereka secara umum adalah soal introspeksi atau fusi dengan energi kosmik, seperti yang ditentang pada orientasi ganda doa-doa Kristen yang melibatkan introspeksi tetapi secara esensial juga merupakan perjumpaan dengan Allah. Jauh dari sekedar usaha manusia, mistisisme Kristen secara esensial adalah dialog yang “yang menyiratkan suatu sikap pertobatan, suatu perjalanan dari ‘diri’ menuju ‘dikau’ Allah”[76]. “Orang Kristen, bahkan ketika dia sendiri dan berdoa diam-diam, dia itu sadar bahwa dia selalu berdoa bagi kebaikan Gereja dalam persatuan dengan Kristus, dalam Roh Kudus dan bersama-sama dengan orang-orang Kudus” [77].

* Apakah kita dicobai untuk menyangkal dosa atau apakah kita menerima bahwa ada dosa itu ?

Dalam New Age tidak ada konsep yang riil tentang dosa, tetapi agak merupakan pengetahuan yang tidak sempurna; apa yang dibutuhkan adalah pencerahan, yang dapat dicapai melalui teknik-teknik psiko-fisik. Mereka yang mengambil bagian dalam aktivitas-aktivitas New Age tidak akan diberitahu apa yang harus dipercayai, apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan selain : “Ada ribuan jalan untuk mengeksplorasi realitas yang dalam (inner reality). Pergilah kemana intelegensia dan intuisi menuntun anda”[78]. Otoritas mengalami perubahan dari tempat theistik ke dalam diri manusia. Masalah yang paling serius dirasakan dalam pemikiran New Age adalah keterasingan dari seluruh kosmos daripada kegagalan pribadi atau dosa. Perbaikannya adalah dengan membenamkan ke dalam seluruh mahluk. Dalam beberapa tulisan dan praktek New Age adalah jelas bahwa suatu kehidupan tidaklah cukup sehingga harus ada reinkarnasi untuk membiarkan orang menyadari potensi penuh diri mereka.

Dalam perspektif Kristen “hanya terang Wahyu ilahilah yang bisa mengklarifikasi realitas dosa dan khususnya dosa yang dilakukan pada manusia. Tanpa pengetahuan dari Wahyu yang berbicara tentang Allah, kita tidak bisa mengenali dosa dengan jelas dan kita ditantang untuk menjelaskannya semata-mata sebagai kerusakan perkembangan, kelemahan psikologis, sebuah kesalahan atau konsekuensi logis dari struktur sosial yang tak memadai dll. Hanya dalam pengetahuan tentang rencana Allah bagi manusia maka kita dapat memahami bahwa dosa adalah penyalahgunaan kebebasan yang Allah berikan kepada manusia ciptaanNya sehingga mereka mampu untuk mencintai Dia dan mencintai satu sama lain” [79]. Dosa adalah perlawanan terhadap akal budi, kebenaran dan hati nurani yang benar; dosa adalah kegagalan dalam cinta sejati kepada Allah dan sesama yang disebabkan oleh keinginan jahat terhadap hal-hal tertentu. Dosa melukai sifat manusia dan menciderai solidaritas manusia…[80]. Dosa adalah pelanggaran terhadap Allah…dosa membuatnya bertentangan dengan kasih Allah bagi kita dan mengubah hati kita jauh dari kasih Allah…Dosa dengan demikian adalah ‘cinta diri sendiri bahkan penghinaan terhadap Allah'” [81].

* Apakah kita dianjurkan untuk menolak atau menerima penderitaan dan kematian ?

Beberapa penulis New Age memandang penderitaan sebagai pemaksaan diri atau karma buruk atau setidak-tidaknya sebagai kegagalan untuk memanfaatkan sumber daya diri sendiri. Penulis lain memfokuskan pada metode untuk meraih kesuksesan dan kesejahteraan (seperti Deepak Chopra, Jose Silva dsb). Dalam New Age, reinkarnasi sering dilihat sebagai elemen yang diperlukan dalam perkembangan spiritual, suatu tahapan dalam evolusi spiritual progresif yang dimulai sebelum kita lahir dan akan berlanjut setelah kita mati. Dalam kehidupan kita sekarang, pengalaman kematian orang lain menimbulkan krisis yang sehat.

Baik persatuan kosmis maupun reinkarnasi tidak bisa didamaikan dengan kepercayaan Kristen yang mana pribadi manusia adalah mahluk yang berbeda, yang memiliki satu kehidupan, yang untuknya dia bertanggungjawab penuh: pemahaman tentang pribadi manusia ini mempertanyakan baik tanggungjawab maupun kebebasan. Umat Kristen tahu bahawa “dalam salib Kristus tidak hanya penebusan yang diselesaikan melalui penderitaan namun juga penderitaan manusia itu sendiri yang telah ditebus. Kristus – yang tidak memiliki dosa- mengambil diriNya sendiri ‘seluruh kejahatan dosa manusia’ (total evil of sin). Pengalaman dosa ini menentukan besarnya penderitaan Kristus yang tiada taranya, yang menjadi harga penebusan…. Sang Penebus menderita dalam tempat manusia dan untuk manusia. Setiap orang memiliki bagiannya masing masing dalam penebusan. Setiap orang juga dipanggil untuk berbagi dalam penderitaan yang melaluinya penebusan dapat dicapai. Dia dipanggil untuk berbagi dalam penderitaan yang melaluinya setiap penderitaan manusia juga telah ditebus. Dalam menyelesaikan penebusan melalui penderitaan, Kristus juga menaikkan penderitaan manusia sampai pada tingkat penebusan. Dengan demikian setiap manusia dalam penderitaannya dapat juga menjadi pembagi dalam penderitaan Kristus yang bersifat menebus”[82].

* Apakah komitmen sosial ini dielakkan atau berusaha ditemukan secara positif ?

Banyak hal dalam New Age yang merupakan promosi diri tanpa rasa malu tetapi beberapa figur utama dalam gerakan ini mengklaim bahwa tidak fair untuk menilai seluruh gerakan dengan sejumlah kecil egoisme, irasionalitas dan kaum narsisistik (narcissistic people) serta mengijinkan diri sendiri untuk dipesonakan oleh beberapa praktek yang aneh yang merupakan hambatan untuk melihat dalam New Age sebuah spiritualitas dan pencarian spiritual yang sejati [83]. Fusi individu-individu ke dalam kosmik itu sendiri, relativisasi atau abolisi perbedaan dan oposisi dalam harmoni kosmis tidak dapat diterima pada Kekristenan.

Ketika ada cinta sejati, maka harus ada (pribadi) lain yang berbeda. Seorang Kristen sejati mencari persatuan dalam kapasitas dan kebebasan yang lain untuk berkata “ya” atau “tidak” bagi karunia kasih. Penyatuan (union) dilihat dalam kaca mata Kekristenan sebagai persatuan (communion), persatuan sebagai komunitas (community).

* Apakah masa depan kita berada dalam bintang-bintang atau kita membantu untuk mengkonstruksikannya ?

New Age yang sedang berkembang akan dilengkapi oleh ‘kesempuraan’, yakni mahluk androgini yang secara total menguasai hukum alam kosmik. Dalam skenario ini, Kekristenan harus dihapuskan dan kekristenan harus memberikan jalan pada agama global dan tata dunia baru.

Orang-orang Kristen berada dalam kondisi kewaspadaan yang konstan, siap untuk hari-hari terakhir ketika Kristus akan datang kembali; New Age mereka dimulai 2000 tahun lalu, bersama Kristus, yang bukan siapa-siapa kecuali “Yesus dari Nazareth; dia adalah Sabda Allah yang menjadi manusia bagi keselamatan semua”. Roh Kudus-Nya hadir dan aktif dalam hati setiap individu, dalam “masyarakat dan sejarah, orang-orang, kebudayaan dan agama-agama”. Kenyataannya, “Roh Bapa, yang dilimpahkan secara berlebihan oleh Putra adalah animator bagi semuanya” [84]. Kita hidup dalam masa lampau.

Pada satu sisi, sudah jelas bahwa banyak praktek New Age nampaknya bagi mereka yang terlibat di dalamnya berusaha untuk tidak mengungkapkan masalah-masalah doktriner; namun pada saat yang bersamaan, hal ini tak bisa ditolak bahwa praktek-praktek itu sendiri mengkomunikasikan, sekalipun secara tidak langsung, suatu mentalitas yang dapat mempengaruhi pemikiran dan mengilhami visi realitas yang sangat khusus. Sudah barang tentu New Age menciptakan atmospirnya sendiri dan ini mungkin sulit untuk membedakan antara hal-hal yang tidak berbahaya dengan hal-hal yang benar-benar patut dipertanyakan. Meskipun demikian, adalah suatu yang baik untuk menyadari bahwa doktrin Kristus yang menyebar dalam lingkungan New Age diinspirasikan oleh ajaran-ajaran theosophis dari Helena Blavatsky, anthrosophi-nya Rudolf Steiner dan “Sekolah Arcane”-nya Alice Bailey. Pengikut-pengikut kontemporer bukan hanya mempromosikan ide-ide mereka saat ini namun juga bekerja bersama pengikut New Age (New Ager) untuk mengembangkan pemahaman realitas baru dan lengkap, suatu doktrin yang dikenal oleh para pengamat sebagai “kebenaran New Age” [85].

5 YESUS KRISTUS MEMBERIKAN KITA AIR KEHIDUPAN

Fondasi Gereja adalah Yesus Kristus yang merupakan Tuhan dari Gereja. Yesus ada di hati setiap tindakan orang dan amanat-amanat Kristen. Jadi Gereja secara konstan kembali bertemu dengan Tuhan-Nya. Injil bercerita banyak tentang perjumpaan dengan Yesus, mulai dari para gembala di Yerusalem sampai pada dua orang pencuri yang disalibkan bersama Dia, lalu dari dua orang tua yang mendengarkan-Nya di sinagoga sampai pada murid-murid yang berjalan menuju Emmaus. Tetapi satu episode yang benar-benar berbicara dengan jelas mengenai apa yang Dia tawarkan kepada kita adalah kisa perjumpaan-Nya dengan wanita Samaria di dekat sumur Yakob yang ada di bab empat dari Injil Yohanes; Injil Yohanes ini juga digambarkan sebagai “paradigma keterlibatan kita dengan kebenaran” [86]. Pengalaman perjumpaan orang asing yang menawarkan air kehidupan adalah kunci dari suatu cara orang Kristen agar dapat atau seharusnya terlibat dalam dialog dengan siapa pun yang tidak mengenal Yesus. Salah satu elemen atraktif dari catatan Yohanes tentang perjumpaan ini adalah bahwa ini melibatkan wanita meskipun hanya sekilas dari apa yang Yesus maksudkan dengan air ‘kehidupan’ atau air yang ‘hidup’ (ayat 11). Bahkan begitu, wanita tersebut terpesona – bukan hanya karena orang asing tersebut namun juga karena amanat-Nya – dan ini yang membuat wanita itu mendengarkan. Setelah kaget karena menyadari bahwa Yesus mengetahui dia (“Kamu tepat ketika mengatakan bahwa ‘saya tidak memiliki suami’; karena engkau telah memiliki lima suami dan yang ada padamu sekarang bukanlah suamimu; hal ini tepat engkau katakan, ayat 17 – 18), maka wanita itu menjadi agak terbuka kepada kata-kata-Nya: “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi” (ayat 19). Dialog mengenai adorasi kepada Allah dimulai dari : “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang tidak kami kenal sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (ayat 22). Yesus menyentuh hatinya agar dapat dia siap untuk mendengarkan apa yang Dia katakan mengenai Diri-Nya sebagai Mesias : “Akulah dia yang sedang berkata-kata kepada engkau – Akulah Dia” (ayat 26) mempersiapkan dia agar hatinya terbuka kepada adorasi sejati dalam Roh Kudus dan pengungkapan diri Yesus sebagai Yang Diurapi Allah. (Helen Bergin o.p, “Kebenari Sang Hiduo”, dalam The Furrow, Januari 2000, h.12).

Wanita itu maka “meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ” mengenai Dia (ayat 28). Efek yang luar biasa pada wanita itu karena bertemu dengan orang asing membuat mereka ingin sekali “bercakap-cakap dengan Dia” (ayat 30). Mereka segera menerima kebenaran identitas-Nya : “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (ayat 42). Mereka bergerak dari mendengar tentang Yesus lantas mengenal dia secara pribadi kemudian memahami arti universal dari identitas-Nya. Ini semua terjadi karena pikiran mereka, hati mereka dan yang lainnya terlibat.

Fakta bahwa kisah ini terjadi di dekat sumur sangat berarti. Yesus menawarkan wanita itu “sumber mata air….yang memancar kepada hidup yang kekal” (ayat 14). Cara yang ramah yang ditampilkan Yesus kepada wanita itu merupakan model efektivitas pastoral yang bisa menolong orang lain untuk setia tanpa menderita dalam proses memperoleh pengakuan diri (self recognition) sebab (“Dia telah berkata segala sesuatu yang telah kulakukan”, ayat 39). Pendekatan ini bisa menghasilkan panen yang melimpah dalam pengertian orang-orang yang mungkin tertarik pada pembawa air (Aquarius) namun yang masih serius untuk mencari kebenaran. Mereka seyogyanya diajak untuk mendengarkan Yesus yang menawarkan kita sesuatu yang tidak semata-mata memuaskan dahaga kita saat ini namun juga menawarkan kedalaman spiritualitas dari “air kehidupan”. Adalah hal yang penting untuk mengakui ketulusan orang-orang yang mencari kebenaran; tidak ada pertanyaan mengenai kebohongan atau tindakan menipu diri sendiri. Penting pula agar kita sabar seperti yang sudah diketahui oleh setiap pendidik. Setiap orang yang memeluk kebenaran maka tiba-tiba akan dibangkitkan oleh perasaan baru akan kebebasan secara utuh terutama akibat kegagalan masa lalu dan ketakutan dan “setiap orang yang berjuang untuk mencari pengetahuan diri seperti pada wanita di sumur itu, akan mempengaruhi orang lain dengan keinginan untuk mengetahui kebenaran yang dapat membebaskan mereka pula” [87].

Suatu ajakan untuk bertemu Yesus Kristus, Sang Pembawa air kehidupan, akan membawa lebih banyak beban bila ajakan ini disampaikan oleh seseorang yang telah jelas dipengaruhi secara mendalam oleh perjumpaannya dengan Yesus sebab ajakan ini disampaikan bukan oleh orang yang hanya telah mendengar Dia melainkan oleh orang yang bisa yakin “bahwa Dia benar-benar penyelamat dunia” (ayat 42). Ini menyangkut hal membiarkan orang bereaksi dengan cara mereka sesuai dengan langkah mereka dan membiarkan Allah menyelesaikan sisanya.

6 POINT YANG PERLU DICATAT

6.1 Petunjuk dan formasi kuat yang diperlukan

Kristus atau Aquarius ? New Age hampir selalu dihubungkan dengan “alternatif”, baik itu visi realitas alternatif atau cara alternatif memperbaiki situasi seseorang masa kini (magic) [88]. Alternatif-alternatif tidak menawarkan dua kemungkinan namun hanya satu kemungkinan memilih satu hal dalam preferensi terhadap yang lain : dalam terma agama, New Age menawarkan sebuah alternatif warisan Judeo-Kristen. Zaman Aquarius dibayangkan seperti sesuatu yang akan menggantikan Zaman Pisces Kristen yang berkuasa. Pemikir New Age benar-benar sadar akan hal ini; diantara mereka diyakinkan bahwa perubahan yang akan datang bakal tak terhindarkan sementara pemikir New Age yang lain dengan aktif membantu kedatangan zaman tersebut. Orang-orang yang ragu apakah bila percaya sekaligus pada Kristus maupun Aquarius hanya bisa berhasil dengan mengetahui bahwa ini akan banyak situasi “kedua-duanya” (either-or). “Tidak ada pelayan yang menjadi budak dari dua tuan : maka ia akan membenci yang satu dan mencintai yang lain atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk 16:13). Orang Kristen semata-mata harus berpikir tentang perbedaan antara orang yang bijak dari Timur dengan Raja Herodes untuk mengenali efek luar biasa dari pilihan untuk atau melawan Kristus. Hal ini jangan pernah dilupakan bahwa gerakan-gerakan yang telah banyak memberi makan New Age adalah anti Kristen. Pendirian mereka ini terhadap Kekristenan tidak netral selain bersifat menetralkan: meskipun yang sering dikatakan tentang perlunya keterbukaan bagi semua pendirian religius, Kekristenan tradisional tidak sungguh-sungguh dipandang sebagai alternatif yang bisa diterima. Kenyataannya, kadang-kadang hal ini dinyatakan dengan jelas bahwa “tidak ada tempat perlu ditolerir untuk Kekristenan yang benar” dan bahkan ada argumen yang membenarkan perilaku anti-Kristen [89]. Penentangan ini awalnya dibatasi untuk bidang yang dijernikan oleh mereka yang terjun ke dalam kasih sayang superficial New Age tetapi penentangan ini sudah mulai lebih awal agar bisa menyerap semua tingkat budaya “alternatif” yang memiliki daya tarik kuat di atas semua masyarakat Barat modern.

Penggabungan (fusion) atau kebingunan (confusion) ? Tradisi New Age dengan sadar dan sengaja mengaburkan perbedaan yang ada: antara pencipta dan ciptaan, antara manusia dan sifatnya; antara agama dan psikologi, antara realitas subyektif dan obyektif. Tujuan idealistik adalah selalu untuk mengatasi skandal perpecahan tetapi dalam teori New Age, ada suatu pertanyaan tentang fusi sistematik elemen-elemen yang secara umum telah dibedakan dengan jelas dalam kebudayaan Barat. Apakah ini, mungkin, wajar untuk menyebutnya “kebingungan” ? Oleh sebab itu kita tidak bisa bermain pada kata-kata sehingga New Age dikesankan berkembang pesat dalam kebingungan. Tradisi Kristen selalu menilai akal budi dalam membenarkan iman dan dalam memahami Allah, dunia dan pribadi manusia [90]. New Age menangkap keadaan jiwa (mood) dari orang-orang dalam menolak akal budi yang dingin, tidak manusiawi dan penuh perhitungan. Ketika akal budi merupakan wawasan yang positif, mengingat kembali adanya kebutuhan keseimbangan yang melibatkan semua kemampuan (faculties) maka ini tidak membenarkan untuk menghentikan kemampuan (faculties) yang penting bagi kehidupan manusia secara penuh. Rasionalitas memiliki manfaat universalitas: Rasionalitas dengan bebas tersedia untuk setiap orang, tidak serupa halnya dengan karakter esoteris yang bersifat misterius dan mengagumkan atau agama gnostik “mistis”. Sesuatu yang meningkatkan kekacauan konseptual atau kerahasiaan harus diteliti secara seksama. Sebab hal ini lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan sifat utama realitas. Kekacauan konseptual ini berkorespondensi dengan adanya kehilangan keyakinan post modern di dalam suatu kepastian yang cukup tegas dari waktu yang terdahulu yang mana kekacauan ini sering masuk dalam irasionalitas. Tantangannya adalah menunjukkan bagaimana kerjasama yang sehat diantara iman dan akal budi meningkatkan hidup manuia dan mendorong orang untuk menghormati ciptaan.

Ciptakan realitasmu sendiri. Keyakinan New Age yang tersebar luas dan bahwa orang dapat menciptakan realitas sungguh hal yang menarik namun penuh ilusi. Ini terkristalisasi dalam teori Jung yang mengatakan bahwa manusia adalah pintu gerbang dari dunia luar menuju dunia di dalam dari dimensi yang tidak terbatas dimana setiap orang adalah Abraxas, yang memberikan kelahiran pada dunianya sendiri atau yang bisa menghancurkannya. Bintang yang bersinar dalam dunia dalam yang tidak terbatas merupakan Allah manusia dan tujuan. Konsenkuensi paling pedih dan problematis akibat penerimaan ide bahwa orang dapat menciptakan realitas mereka sendiri merupakan pertanyaan tentang penderitaan dan kematian : orang-orang yang cacat parah atau memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan merasa dicurangi dan direndahkan dirinya ketika dikonfrontasikan dengan sugesti bahwa mereka telah membawa kesialan atas mereka sendiri atau ketidakmampuan mereka untuk mengubah sesuatu menunjukkan kelemahan dalam pendekatan kehidupan mereka. Hal ini jauh dari isu akademis murni: hal ini juga memiliki implikasi yang dalam dalam pendekatan pastoral Gereja sampai pada pertanyaan eksistensial yang dihadapi oleh semua orang. Keterbatasan-keterbatasan kita merupakan fakta kehidupan dan bagian menjadi suatu ciptaan. Kematian dan kehilangan menghadirkan tantangan dan kesempatan sebab cobaan untuk sembunyi dalam pengerjaan kembali ide reinkarnasi cara barat ini adalah bukti yang jelas dari rasa takut mati dan keinginan orang-orang untuk hidup selamanya. Apakah kita membuat yang banyak kesempatan kita mengingat kembali apa yang dijanjikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus ? Bagaimana iman yang riil dalam kebangkitan badan yang oleh orang-orang Kristen diproklamasikan dalam kredo pada setiap Minggu ? Ide New Age yang mengatakan bahwa kita ada pada beberapa pengertian dan allah itu satu menimbulkan banyak pertanyaan di sini. Seluruh pertanyaan sudah tentu tergantung pada definisi realitas orang itu. Pendekatan yang mantap terhadap epistemologi dan psikologi harus diperkuat – dengan cara yang pantas- pada setiap tingkat pendidikan Katolik, formasi dan pengajaran (khotbah). Kesulitan dasar dari semua pemikiran New Age adalah bahwa transendensi itu benar-benar suatu transendensi diri (self-transcendence) yang dicapai dalam alam semesta yang tertutup.

Sumber-sumber Pastoral. Dalam bab 8, indikasi ini terdapat di dalam dokumen-dokumen pokok Gereja Katolik yang didalamnya dapat ditemukan sebuah evaluasi tentang ide New Age. Tempat pertama berasal dari amanat Paus Yohanes Paulus II yang dikutip dalam kata pendahuluan. Paus menghargai beberapa aspek positif dalam tren kultural, seperti “pencarian makna baru dalam kehidupan, sebuah sensitivitas ekologis baru dan keinginan untuk berada di luar religiositas yang rasionalistik dan dingin. Tetapi Paus juga meminta perhatian semua orang beriman terhadap elemen-elemen ambigu tertentu yang tidak sesuai dengan iman Kristen: gerakan-gerakan ini “hanya memperhatikan sedikit saja Kitab Wahyu”, “mereka cenderung merelativisasi doktrin agama yang sesuai dengan pandangan dunia yang samar-samar”, “mereka sering mengajukan konsep pantheistik tentang Allah”, “mereka menggantikan tanggung jawab pribadi dan tindakan-tindakan kita kepada Allah dengan arti tugas kosmos, dengan demikian menjatuhkan konsep dosa yang benar dan kebutuhan penebusan melalui Kristus”[91]

6.2 Langkah-langkah Praktis

Pertama-tama, layaklah kita katakan sekali lagi bahwa tidak setiap orang atau segala sesuatu dalam cakupan New Age yang luas itu dihubungkan kepada teori-teori gerakan dengan cara-cara yang sama. Demikian juga label New Age itu sendiri sering disalahgunakan atau diperluas terhadap fenomena yang dapat dikategorikan dengan cara-cara yang lain. Terma New Age telah disalahgunakan untuk men-setankan orang-orang dan praktek-prakteknya. Ini penting untuk dilihat apakah fenomena yang dihubungkan dengan gerakan New Age, meskipun longgar, merefleksikan atau mengalami konflik dengan visi Kristen mengenai Allah, pribadi manusia dan dunia. Penggunaan terma New Age dalam dirinya sendiri hanya memiliki arti yang sedikit, terutama bila dimaksudkan sesuatu. Hubungan antara pribadi, kelompok, praktek atau komoditas pada ajaran-ajaran sentral Kekristenan menjadi berarti.

Gereja Katolik memiliki jaringan kerja (network) sendiri yang sangat efektif yang mungkin bisa lebih baik digunakan. Contohnya, terdapat sejumlah besar pusat pastoral, pusat budaya, dan pusat spiritualitas. Idealnya, pusat-pusat tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan kebingungan mengenai religiositas New Age dengan beberapa caya yang kreatif seperti menyediakan forum diskusi dan studi. Sayangnya harus diakui bahwa terdapat banyak kasus dimana pusat-pusat spiritualitas Katolik terlibat dengan aktif dalam penyebaran religiositas New Age dalam Gereja. Hal ini tentunya harus dikoreksi, bukan hanya menghentikan tersebarnya kekacauan dan eror, namun juga agar mereka bisa efektif dalam mempromosikan spiritualitas Kristen yang benar. Pusat-pusat kebudayaan Katolik, secara khusus, bukan merupakan institusi pengajaran saja melainkan menjadi ruang bagi terciptanya dialog yang jujur [92]. Beberapa institusi spesialis yang hebat banyak berhubungan dengan masalah-masalah ini. Sebab masalah-masalah ini merupakan sumber yang berharga yang harus dibagikan dengan cuma-cuma dalam area yang kuang disentuh dengan baik.

Beberapa kelompok New Age menyambut baik setiap kesempatan untuk menjelaskan filosopi dan kegiatan-kegiatan mereka kepada orang-orang lain. Pertemuan dengan kelompok New Age seharusnya dilakukan dengan hati-hati dan selalu melibatkan pribadi-pribadi yang mampu menjelaskan iman Katolik dan spritualitasnya maupun merefleksikan secara kritis pemikiran New Age dan praktek-prakteknya. Ini luar biasa pentingnya untuk mengecek surat kepercayaan (credentials) orang-orang New Age, kelompok dan institusinya yang mengklaim bisa menawarkan petunjuk dan informasi tentang New Age. Dalam beberapa kasus apa yang mulai dilakukan sebagai investigasi netral kemudian bisa menjadi promosi aktif atau advokasi atas nama “agama-agama alternatif”. Beberapa institusi internasional secara aktif sedang melakukan kampanye yang mempromosikan penghormatan terhadap “keanekaragaman agama”, dan mereka ini menegaskan status dari organisasi-organisasi yang mungkin meragukan kita. Hal ini cocok dengan visi New Age yang bergerak ke dalam suatu masa dimana karakter terbatas dari agama-agama khusus ini memberi jalan pada universalitas agama atau spiritualitas baru. Dialog yang benar, pada satu sisi, dari permulaannya akan selalu menghargai keanekaragaman dan tidak akan pernah mencari perbedaan yang samar dalam peleburan tradisi-tradisi agama.

Beberapa kelompok New Age lokal mengarahkan pertemuan mereka sebagai “persekutuan-persekutuan doa”. Orang-orang itu yang diajak pada kelompok ini perlu mencari ciri-ciri asli spiritualitas Kristen dan harus hati-hati bila menemukan sejenis acara inisiasi. Kelompok ini memanfaatkan kelemahan teologis dan kelemahan pembentukan spiritual seseorang sehingga bisa memikat mereka secara bertahap ke dalam apa yang mungkin menjadi bentuk ibadah yang palsu. Orang-orang Kristen harus diajarkan tentang objek dan kandungan doa yang benar – dalam Roh Kudus, melalui Yesus Kristus kepada Bapa – agar bisa menilai dengan tepat intensi dari sebuah “persekutan doa” tersebut. Doa Kristen dan Allah Yesus Kristus akan dengan mudah dikenal [93]. Banyak orang yakin bahwa tidak ada yang salah dalam ‘meminjam’ kebijaksanaan Timur, tetapi contoh Meditasi Transendental (MT) seharusnya membuat orang-orang Kristen berhati-hati terhadap kemungkinan mereka melakukan komitmen yang tanpa diketahui masuk ke dalam agama lain (dalam kasus ini, Hinduisme), meskipun promotor MT telah mengklaim netralitas dari agama ini. Tidak ada masalah dengan belajar bagaimana bermeditasi tetapi objek atau isi dari latihan ini dengan jelas menentukan apakah ini berhubungan dengan Allah yang disingkapkan oleh Yesus Kristus pada beberapa wahyu yang lain atau hanya pada kedalaman diri (self) yang tersembunyi.

Kelompok-kelompok Kristen yang mempromosikan kepedulian terhadap bumi sebagai ciptaan Allah juga perlu diberikan pengenalan yang seharusnya. Pertanyaan mengenai respek terhadap ciptaan adalah sesuatu yang bisa didekati dengan kreatif di sekolah-sekolah Katolik. Banyak hal dari apa yang diusulkan oleh elemen-elemen radikal dari gerakan ekologis itu sulit diperdamaikan dengan iman Katolik. Memang, kepeduliaan terhadap lingkungan dalam terma umum adalah tanda yang tepat terhadap perhatian yang memadai dari apa yang Allah telah berikan kepada kita, mungkin suatu ciri pekerjaan yang mengurus ciptaan akan tetapi “ekologi dalam (deep ecology)” sering dilakukan berdasarkan pada pantheistik dan kadang-kadang prinsip-prinsip gnostik[94].

Permulaan milenium ketiga menawarkan kairos nyata bagi evangelisasi. Pikiran dan hati orang-orang sudah tidak biasa terbukan pada informasi yang terpercaya pada pemahaman Kristen tentang waktu dan sejarah keselamatan. Penekanan pada apa yang tidak cukup dari pendekatan-pendekatan lainnya seharusnya tidak menjadi prioritas utama. Ini sekedar pertanyaan untuk mengajak kembali secara konstan sumber-sumber iman kita, sehingga kita dapat menawarkan suatu amanat dan presentasi yang baik dari amanat Kristen. Kita bisa bangga dari apa yang dipercayakan, sehingga kita perlu melawan tekanan budaya dominan untuk menyembunyikan karunia-karunia tersebut (cf. Mat 25:24-30). Salah satu dari alat-alat yang paling bermanfaat dan tersedia adalah Katekismus Gereja Katolik. Ada juga warisan besar yakni jalan menuju kesucian dari kehidupan pria dan wanita di masa lalu dan sekarang. Ketika simbolisme Kekristenan yang kaya dan tradisi artistik, estetikal dan musikalnya dikenal atau telah dilupakan maka terdapat banyak karya yang dilakukan untuk umat Kristen sendiri dan akhirnya juga dilakukan untuk setiap orang yang mencari pengalaman atau mencari kesadaran akan kehadiran Allah. Dialog antara umat Kristen dan orang-orang yang tertarik pada New Age akan lebih sukses bila mempertimbangkan daya tarik dari apa yang menyentuh emosi dan bahasa simbolik. Bila tugas kita adalah mengenal, mencintai dan melayani Yesus Kristus maka yang terpenting adalah kita mulai dengan pengetahuan yang baik tentang Kitab Suci. Tetapi yang penting dari ini semua, datang bertemu Tuhan Yesus dalam doa dan sakramen, yang mana dengan tepat adalah suatu momen ketika kehidupan biasa ini disucikan, adalah cara yang paling pasti bahwa seluruh amanat Kristen masuk akal.

Mungkin yang paling simpel, ukuran yang paling nyata dan mendesak untuk diambil, yang juga mungkin paling efektif, adalah dengan membuat kekayaan spiritual Kristen itu menjadi paling kaya. Ordo-ordo religius yang besar memiliki tradisi meditasi dan spiritualitas yang kuat yang bisa dibuat lebih tersedia melalui kursus-kursus atau periode yang di saat tertentu rumah-rumah ordo itu menyambut baik para pencari kebenaran. Hal ini sudah dan sedang dilakukan namun usaha-usaha yang banyak sangat dibutuhkan. Membantu orang dalam pencarian spiritual mereka dengan menawarkan teknik-teknik yang terjamin dan pengalaman doa yang riil dapat membuka dialog dengan mereka yang demikian akan menyingkapkan kekayaan tradisi Kristen dan mungkin mengklarifikasi hal-hal tentang proses New Age.

Dengan citra yang hidup dan bermanfaat, salah satu eksponen New Age telah membandingkan agama-agama tradisional dengan ajaran Gereja dan antara New Age dengan daya tarik dunia luas. Gerakan New Age dilihat sebagai ajakan kepada orang-orang Kristen untuk membawa amanat Gereja kepada suatu daya tarik yang sekarang melanda seluruh dunia. Gambaran ini menawarkan umat Kristen suatu tantangan positif karena ini saatnya untuk membawa amanat Gereja kepada orang-orang yang tertarik oleh dunia. Sesungguhnya orang-orang Kristen tidak perlu dan tidak harus menunggu ajakan untuk membawa khabar baik Yesus Kristus kepada mereka yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan mereka, yakni makanan rohani yang mengenyangkan dan air kehidupan. Dari gambaran yang dijelaskan tadi, orang-orang Kristen harus menciptakan sesuatu yang berasal dari Gereja terutama yang berisi sabda dan sakramen dan mengimplementasikan Injil dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari – “Pergilah ! Misa telah selesai !”. Dalam Surat Apostolik Novo Millennio Inuente Bapa Suci menyatakan sebuah kepentingan besar dalam spiritualitas yang terdapat dalam dunia sekular saat ini dan bagaimana agama-agama lain menanggapi permintaan ini dengan cara-cara yang menarik. Paus lalu menantang umat Kristen terhadap masalah ini : “Tetapi kita yang telah menerima rahmat kepercayaan pada Kristus, penyingkap Sang Bapa, Penyelamat dunia, memiliki tugas untuk menunjukkan dalam tingkat kedalaman apa hubungan dengan Kristus dapat terarah” (n.33). Bagi mereka yang berkelana dalam blantika tawaran-tawaran agama dunia, daya tarik Kekristenan pertama-tama akan dirasakan dalam kesaksian setiap anggota Gereja, yang nampak dalam kepercayaan, kelembutan, kesabaran dan suka cita dan dalam kasih nyata mereka terhadap sesama, semua ini adalah buah-buah iman mereka yang hidup dalam doa-doa personal yang otentik.

7 APPENDIX

7.1 Beberapa formulasi singkat tentang Ide-ide New Age

William Bloom, Formulasi New Age tahun 1992 yang dikutip dalam Heelas, h.225f :

*Semua kehidupan – semua keberadaan – adalah manifestasi Roh, manifestasi Yang Tidak Diketahui, manifestasi kesadaran tertinggi yang dikenal dengan nama-nama yang berbeda dalam kebudayaan yang berbeda-beda pula.

*Tujuan dan dinamika semua keberadaan adalah untuk membawa Kasih, Kebijaksanaan, Pencerahan….ke dalam manifestasi penuh.

*Semua agama merupakan ekspresi pada realitas yang lebih dalam (inner reality) dan sama.

*Semua kehidupan, seperti yang kita rasakan dengan panca indera manusia atau instrumen ilmiah, hanya selubung luar dari realitas yang tidak kelihatan, yang lebih dalam dan kausal.

*Dengan cara yang sama, manusia ciptaan dua kali lipat – dengan : (1) suatu kepribadian temporer yang terletak di sebelah luar dan (ii) suatu mahluk multi dimensional yang lebih dalam (jiwa atau diri (self) yang lebih tinggi).

*Kepribadian sebelah luar dibatasi dan cenderung menuju cinta.

*Tujuan incarnasi mahluk yang lebih dalam adalah untuk membawa getaran kepribadian sebelah luar ke dalam gema cinta.

*Semua jiwa dalam inkarnasi bebas memilih jalan spiritual mereka sendiri.

*Guru-guru spiritual kita adalah mereka yang memiliki jiwa yang bebas dari kebutuhan untuk berinkarnasi dan yang mengekspresikan cinta yang tak bersyarat, kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa mahluk yang hebat ini dikenal dan telah menginspirasikan agama-agama dunia. Beberapanya dikenal dan bekerja secara tidak kelihatan.

*Semua kehidupan, dalam bentuk dan kondisinya, energi yang di-interkoneksikan – dan ini termasuk perbuatan-perbuatan, perasaaan dan gagasan-gagasan kita. Oleh karena itu, kita bekerja dengan Roh dan energi-energi ini ikut menciptakan realitas kita.

*Meskipun dijaga dalam dinamika cinta kosmik, kita bersama-sama bertanggungjawab untuk kondisi diri sendiri, bertanggungjawab bagi lingkungan dan semua kehidupan kita.

*Selama periode masa ini, evolusi planet dan kemanusiaan telah mencapai poin ketika kita melakukan perubahan spiritual fundamental dalam kesadaran individual maupun massa. Inilah sebabnya kita berbicara tentang New Age. Kesadaran baru ini adalah hasil incarnasi yang sukses dan makin bertambah dari apa yang orang-orang panggil dengan energi cinta kosmik. Kesadaran baru ini mendemonstrasikan dirinya sendiri dalam suatu pemahaman naluriah tentang kesucian dan khususnya , ketersambungan semua keberadaan.

*Kesadaran baru ini dan pemahaman baru tentang saling ketergantungan antara semua kehidupan berarti bahwa kita sekarang ini sedang dalam proses melibatkan suatu kebudayaan planetaris baru.

Heelas (h.226) dari “formulasi komplementer”-nya Jeremy Tarcher.

1. Dunia, termasuk peradaban manusia, merupakan suatu ekspresi dari sifat ilahi yang lebih komprehensif dan lebih tinggi.

2. Tersembunyi dalam setiap manusia adalah diri ilahi yang lebih tinggi, yang merupakan manifestasi sifat ilahi yang lebih tinggi dan lebih komprehensif.

3. Sifat yang lebih tinggi dapat dibangkitkan dan dapat menjadi pusat kehidupan individual setiap hari.

4. Pembangkitan ini adalah alasan bagi keberadaan setiap hidup individu.

David Spangler dikutip dalam Actualite des religion n0 8, September 1999, h.43, pada karakteristik pokok visi New Age, yang adalah :

*holistik (globalisasi sebab hanya ada satu realitas-energi);

*ekologis (dewi bumi adalah ibu kita ; setiap diri kita adalah impuls (neurone) sistem saraf pusat bumi);

*androginus (pelangi dan Yin/Yang kedua-duanya simbol NA, yang berhubungan dengan komplementaritas kebalikan, terutama maskulin dan feminin);

*mistikal (menemukan sesuatu yang suci dalam setiap hal, hal-hal yang paling biasa);

*planetaris (orang-orang harus pada saat yang sama berlabuh pada budaya mereka sendiri dan terbuka pada dimensi universal, mampu mempromosikan cinta, hasrat, damai dan bahkan pembentukan pemerintah dunia).

7.2. Daftar Kata-kata Pilihan

Zaman Aquarius : setiap zaman astrologis sekitar 2146 tahun dinamakan sesuai dengan salah satu tanda zodiak, tetapi “hari besar” berlaku kebalikan, jadi Zaman Pisces yang berlangsung sekarang akan berakhir, dan Zama Aquarius akan muncul. Setiap Zaman Baru memiliki energi kosmiknya masing-masing; energi dalam Pisces telah membuat suatu era perang dan konflik. Tetapi Aquarius ditentukan untuk menjadi suatu era harmoni, keadilan, perdamaian, persatuan dsb. Dalam aspek ini, New Age menerima ketakterelakan historis. Beberapa orang menghitung zaman Aries adalah masa agama Yahudi, zaman Pisces masa Kekristenan, Aquarius masa agama universal.

Androgyny : ini bukan hermaproditisme, seperti eksistensi dalam karakteristik fisik baik laki-laki maupun wanita, melainkan kesadaran akan kehadiran elemen-elemen dalam setiap pribadi pria dan wanita; hal ini merupakan kondisi harmoni sisi dalam yang berimbang dari animus dan anima. Dalam New Age, androgini ini adalah kondisi yang merupakan hasil dari kesadaran baru dari dua mode baik objek (being) maupun eksistensi yang adalah karakteristik setiap pria dan wanita. Semakin banyak karakteristik ini tersebar, semakin banyak pula membantu dalam transformasi tingkah laku interpersonal.

Anthroposophy : suatu doktrin teosopikal yang aslinya dipopulerkan oleh seorang Kroasia bernama Rudolf Steiner (1861-1925), yang meninggalkan Masyarakat Teosopikal setelah menjadi pemimpin cabang Jerman dari tahun 1902 sampai 1913. Ini adalah suatu doktrin esoteris yang bermaksud menginisiasikan orang-orang ke dalam “pengetahuan objektif” dalam bidang spiritual-ilahi. Steiner percaya doktrin ini telah membantu dia mengeksplorasi hukum-hukum evolusi kosmos dan manusia. Setiap bentuk fisik memiliki bentuk spiritual yang berhubungan dan hidup di bumi ini dipengaruhi oleh energi bintang-bintang (astral) dan esensi spiritual. Akasha Chronicle dikatakan telah menjadi “memori kosmik” yang tersedia untuk diinisiasikan [95].

Channeling : medium fisik yang mengklaim dapat bertindak sebagai saluran bagi informasi dari diri-diri lain (other selves) yang biasanya dilepaskan dari entitas kehidupan pada taraf yang lebih tinggi. Channeling ini berhubungan dengan mahluk yang beranekaragam seperti halnya para master tingkat tinggi (ascended masters), malaikat, dewa-dewa, entitas kelompok, roh alam dan sang Diri yang lebih tinggi (the Higher Self).

Christ : Dalam New Age, figur historis Yesus sebaliknya adalah inkarnasi ide atau energi atau sekumpulan getaran-getaran. Bagi Alice Bailey, hari besar permohonan dibutuhkan ketika semua orang yang percaya bisa menciptakan konsentrasi energi spritual seperti ini yang akan menghasilkan inkarnasi lebih lanjut yang akan mengungkapkan bagaimana orang-orang dapat menyelamatkan dirinya mereka sendiri. Karena bagi banyak orang, Yesus adalah sesuatu yang tak lebih dari seorang master spiritual yang seperti Budha, Musa dan Muhammad, atau diantara yang lainnya, telah dirasuki oleh Kristus kosmik. Sang Kristus kosmik dikenal juga sebagai energi kristik (christic energy) pada basis setiap mahluk dan seluruh kehidupan (the whole of being). Setiap individu perlu dimasukan secara bertahap ke dalam kesadaran karakteristik kristik ini yang pada dasarnya mereka miliki. Kristus – dalam terma New Age – mewakili kondisi kesempurnaan diri yang tertinggi [96].

Crystals : diperhitungkan untuk bergetar pada frekuensi yang signifikan. Oleh sebab itu Crystals ini bermanfaat dalam transformasi-diri. Crystals ini digunakan dalam berbagai terapi dan meditasi, visualisasi, ‘perjalanan bintang’ (astral travel) atau jimat. Dari luar kita melihat ke dalam, ternyata crystals tidak memiliki kekuatan intrinsik selain hanya indah.

Depth Psychology : sekolah psikologi ditemukan oleh C.G Jung, bekas murid Freud. Jung mengakui bahwa agama dan hal-hal spiritual adalah penting bagi keseluruhan dan kesehatan. Interpretasi mimpi dan analisis pola pikiran (archetype) adalah elemen kunci dalam metode Jung. Pola pikiran (archetype) adalah struktrur yang melekat pada jiwa manusia; mereka muncul dalam motif atau gambar (image) yang berulang dalam mimpi, fantasi, mitos dan cerita dongeng.

Enneagram : (dari bahasa Yunani ennea = nine + gramma = sign) nama yang mengacu pada diagram yang tersusun atas lingkaran dengan sembilan poin pada bundarannya, dihubungkan dalam lingkaran oleh segitiga dan segienam. Enneagram aslinya digunakan untuk meramal tetapi telah menjadi simbol bagi sistem tipologi kepribadian yang terdiri dari sembilan tipe karakter standar. Enneagram menjadi populer setelah publikasi buku Helen Palmer yang berjudul The Enneagram [97] tetapi dia mengakui hutang budinya pada pemikir dan praktisi esoteris Rusia G.I Gurdjieff, psikologis Cili Claudio Naranjo dan pengarang Oscar Ichazo, pendiri Arica. Asal-usul enneagram diselemuti misteri tetapi beberapa ahli mempertahankan pendapatnya bahwa ini berasal dari mistisisme Sufi.

Esotericism : (dari bahasa Yunani esoteros = yang di dalam) secara umum mengacu pada pokok pengetahuan kuno dan tersembunyi yang tersedia hanya pada kelompok-kelompok yang telah diinisiasikan, yang menggambarkan mereka sendiri sebagai penjaga kebenaran yang tersembunyi dari mayoritas manusia. Proses inisiasi mencabut orang-orang dari pengetahuan realitas yang hanya bersifat eksternal, superfisial kepada kebenaran sisi dalam dan dalam proses ini, membangkitkan kesadaran mereka pada level yang lebih dalam. Orang-orang diajak untuk melakukan “perjalanan sisi dalam” (inner journey) untuk menemukan “kilatan ilahi” (divine spark) di dalam diri mereka. Keselamatan, dalam konteks ini, bertepatan dengan penemuan sang Diri (the Self).

Evolusi : Dalam New Age, evolusi ini lebih banyak daripada sebuah pertanyaan tentang mahluk hidup yang berkembang menuju bentuk kehidupan yang tinggi; model fisik diproyeksikan pada realisme spiritual sehingga kekuatan yang tetap ada dalam manusia akan menggerakan mereka menuju bentuk-bentuk kehidupan spiritual yang tinggi. Manusia dikatakan tidak memiliki kontrol penuh terhadap kekuatan, tetapi tindakan-tindakan baik dan buruk yang mereka lakukan dapat mempercepat atau memperlambat perkembangan mereka. Seluruh ciptaan termasuk manusia, dilihat bergerak dengan tidak dapat ditawar-tawar menuju fusi dengan sang ilahi. Reinkarnasi dengan jelas memiliki tempat yang penting dalam pandangan evolusi spiritual yang progresif yang mana katanya dimulai sebelum kelahiran dan dilanjutkan setelah kematian [98].

Expansion of consciousness : bila kosmos dilihat sebagai satu rantai kehidupan yang terus-menerus maka semua tingkat eksistensi – mineral, sayur-sayuran, binatang, manusia, kosmis dan mahluk-mahluk ilahi – bersifat saling ketergantungan (interdependent). Manusia katanya menjadi sadar pada tempat mereka di dalam visi realitas global yang bersifat holistik dengan memperluas kesadaran mereka secara baik di luar batas-batas normalnya. New Age menawarkan aneka ragam teknik yang luas untuk membantu orang-orang meraih tingkat yang lebih tinggi dalam merasakan realitas, yakni suatu cara mengatasi pemisahan diantara subjek dan antara subjek dan objek dalam proses yang dikenal, yang berakhir dalam fusi total dari apa kesadaran yang bersifat normal, inferior itu melihatnya sebagai pemisah atau pembeda realitas.

Feng-shui : suatu bentuk geomancy, dalam hal ini suatu metode klenik (occult) Cina untuk menguraikan kehadiran tersembunyi dari arus positif dan negatif dalam gedung-gedung dan tempat-tempat lain, dengan basis pengetahuan tentang kekuatan bumi dan atmosfir. “Sama seperti tubuh manusia atau kosmos, tempat-tempat merupakan bagian-bagian yang dilalui oleh arus yang keseimbangannya adalah sumber kesehatan dan kehidupan” [99].

Gnosis : dalam pengertian umum, gnosis merupakan bentuk pengetahuan yang tidak bersifat intelektual namun visioner atau mistis dan ini suatu gagasan yang diungkapkan dan mampu menggabungkan manusia dengan misteri ilahi. Dalam abad pertama Kekristenan, para Bapa Gereja berjuang melawan gnostisisme, sebab paham ini sangat aneh dengan iman Kristen. Beberapa orang melihat kelahiran kembali ide-ide gnostik dalam banyak pemikiran New Age, dan beberapa pengarang yang dihubungkan dengan New Age ternyata mengutip awal-awal gnostisisme. Tetapi, penekanan yang lebih besar dalam New Age pada monisme dan bahkan pantheism atau panentheisme mendorong beberapa orang untuk menggunakan terma neo-gnosticism untuk membedakan antara gnosis dari gnostisisme kuno.

Great White Brotherhood : Ny. Blavatsky mengklaim memiliki kontak dengan mahatmas atau masters, mahluk yang diagungkan yang bersama-sama merupakan Persaudaraan Putih Agung. Dia melihat mereka sebagai penuntun evolusi peradaban manusia dan mengarahkan kerja dari Masyarakat Theosopikal.

Hermeticism : ini adalah praktek-praktek dan spekulasi-spekulasi filosopis dan religius yang dihubungkan dengan tulisan-tulisan dalam the Corpus Hermeticum dan teks-teks Alexandrian yang dihubungkan dengan mitos Hermes Trismegistos. Ketika pertama kali teks-teks ini dikenal selama zaman Renaisans, teks-teks tersebut dipikir bisa mengungkapkan doktrin pra-Kristen namun kemudian studi-studi menunjukkan teks-teks tersebut berasal dari abad pertama era Kekristenan [100]. Hermetisisme Alexandrian adalah sumber utama bagi esoterisme modern dan keduanya memiliki persamaan : ekletisisme, yakni penyangkalan dualisme ontologis, suatu penegasan karakter alam semesta yang positif dan simbolik, serta ide kegagalan dan pemulihan manusia yang berlangsung kemudian. Spekulasi hermetik telah memperkuat kepercayaan dalam tradisi fundamental kuno atau yang disebut philosophia perennis yang secara salah dianggap sama pada tradisi semua agama. Bentuk-bentuk magis yang tinggi dan bersifat seremonial berkembang dari Hermetisisme Renaisans.

Holism : konsep kunci dalam “paradigma baru”, mengklaim bisa menyediakan kerangka teoritis yang mengintegrasikan seluruh pandangan dunia tentang manusia modern. Kebalikan dengan pengalaman yang menambah fragmentasi dalam pengetahuan dan kehidupan sehari-hari, “keseluruhan” (wholeness) diajukan sebagai pusat konsep metodologis dan ontologis pusat. Manusia cocok dengan alam semesta sebagai bagian dari organisme tunggal yang hidup, suatu jaringan yang rapih dari persahabatan yang dinamis. Perbedaan klasik antara subjek dan objek, yang karenanya Descartes dan Newton secara tipikal disalahkan, ditantang oleh berbagai ilmuwan yang menawarkan jembatan antara pengetahuan dan agama. Manusia adalah bagian dari jaringan alam dan dunia yang bersifat universal (eko-sistem, keluarga) dan manusia harus mencari harmoni dengan setiap elemen otoritas kuasi-transenden ini (pura-pura transenden). Ketika seseorang memahami tempatnya dalam alam, di dalam kosmos yang juga ilahi, maka orang itu harus juga memahami bahwa “keseluruhan” dan “kesucian” merupakan hal yang satu dan sama. Artikulasi yang paling jelas dari konsep holisme ini adalah dalam hipotesis “Gaia” (Yun. dewi bumi) [101].

Human Potential Movement : sejak permulaannya (Esalen, California dalam tahun 1960-an), gerakan ini telah berkembang ke dalam jaringan kelompok yang mempromosikan pembebasan kapasitas manusia yang berpembawaan halus bagi adanya kreativitas melalui penyadaran-diri (self-realisation). Anekaragam teknik transformasi personal digunakan lebih banyak lagi oleh perusahaan dalam program-program pelatihan manajemen, yang pada akhirnya digunakan untuk alasan-alasan normal ekonomis. Teknologi-teknologi Transpersonal, Gerakan untuk Kesadaran Spiritual Inti (inner), Transformasi Organisasional dan Pembangunan Organisasional dipertimbangkan sebagai hal-hal non religius, tetapi dalam realitasnya pegawai-pegawai perusahaan dapat menemukan diri mereka sendiri tunduk pada ‘spiritualitas’ asing (alien) dalam situasi yang menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan personal. Ada hubungan-hubungan yang jelas antara spiritualitas Timur dan psikoterapi, meskipun pada saat ilmu psikologi Jung dan Gerakan Potensi Manusia sangat berpengaruh pada Shamanisme dan bentuk-bentuk Paganisme yang “direkonstruksikan” seperti Druid dan Wicca. Dalam pengertian umum, “perkembangan personal” dapat dipahami sebagai bentuk “keselamatan agama” yang mengambil bentuk dalam gerakan New Age: hal ini dikuatkan bahwa pelepasan dari penderitaan dan kelemahan manusia akan diraih melalui pengembangan potensi manusia yang hasilnya berupa penambahan hubungan dengan keilahian inti kita [102].

Initiation : Dalam etnologi religius, inisiasi merupakan perjalanan eksperensial dan/atau perjalanan kognitif dengan jalan mana seseorang diakui, baik ketika ia sendiri atau sebagai bagian dari kelompok, dengan penggunaan ritual-ritual khusus bagi anggota komunitas agama, masyarakat rahasia (contohnya Freemason) atau suatu asosiasi misteri (magis, okultisme esoteris, gnostik, theosopikal dsb).

Karma : (dari bahasa Sansekerta dari akar kata Kri = tindakan, perbuatan) suatu gagasan kunci dalam Hinduisme, Jainisme dan Buddhisme namun seseorang yang memiliki maksud perbuatannya tidak harus berarti sama dengan karma. Dalam periode Vedic kuno, karma mengacu pada aksi ritual, terutama korban, dengan menggunakan sihir seseorang memperoleh akses pada kebahagiaan atau berkat setelah kehidupan. Ketika Jainisme dan Buddhisme muncul (sekitar 6 abad sebelum Kristus), Karma kehilangan arti keselamatannya : cara pembebasan merupakan pengetahuan Atman atau “diri”. Dalam doktrin samsara, Karma dipahami sebagai siklus kelahiran dan kematian yang tak putus-putusnya (Hinduisme) atau kebangkitan kembali (Buddhisme) [103]. Dalam konteks New Age, “hukum karma” sering dilihat sebagai moral yang equivalen dengan evolusi kosmis. Ini tidak lagi berhubungan dengan iblis atau penderitaan – ilusi yang dialami sebagai bagian dari “permainan kosmik” – melainkan suatu hukum universal sebab dan akibat, bagian dari kencenderungan alam semesta yang diinterkoneksikan menuju keseimbangan moral [104].

Monism : ini merupakan kepercayaan metafisik yang mana perbedaan diantara kehidupan merupakan ilusi. Hanya ada satu mahluk universal, yang mana setiap mahluk dan setiap orang termasuk bagian di dalamnya. Sebab monisme New Age memasukkan ide bahwa realitas itu secara fundamental adalah bersifat spiritual, monisme merupakan bentuk kontemporer pantheisme (sesuatu yang secara eksplisit merupakan penolakan terhadap materialisme, khususnya Marxisme). Klaim dari monisme adalah untuk memecahkan semua dualisme yang tidak memberikan ruangan bagi Allah yang transenden, jadi segala sesuatu itu adalah Allah. Masalah lebih lanjut muncul bagi Kekristenan ketika pertanyaan tentang asal-usul iblis itu mengemuka. C.G Jung melihat iblis sebagai “sisi bayangan” Allah yang, dalam theisme klasik, adalah semua kebaikan.

Mysticism : Mistisisme New Age menuju masuk ke dalam/bathin diri sendiri daripada persatuan dengan Allah yang “secara mutlak adalah lain” (totally other). Mistisisme ini merupakan fusi dengan alam semesta, suatu pembasmian individu dalam persatuan dengan keseluruhan. Pengalaman Diri dianggap sebagai pengalaman keilahian, sehingga orang melihat ke dalam untuk menemukan kebijaksaan, kreativitas dan kekuatan yang otentik.

Neopaganism : suatu judul yang ditolak oleh banyak orang yang kepada mereka neopaganisme ini berlaku, neopaganisme mengacu pada arus yang berjalan pararel menuju New Age dan sering berinterkasi dengannya. Dalam gelombang besar reaksi
yang melawan agama-agama tradisional, yang secara spesifik adalah warisan Barat Judaisme-Kristen, banyak orang mengunjungi kembali agama-agama pribumi kuno, tradisional dan pagan. Apapun yang mendahului Kekristenan dianggap memiliki keaslian pda roh daratan atau negara, suatu bentuk agama natural yang tidak terkontaminasi, yang berhubungan dengan kekuatan alam, sering bersifat matriarkal, magis atau shamanis. Dikatakan, manusia akan lebih sehat bila kembali pada siklus festival (pertanian) alamiah dan kembali pada penguatan kehidupan yang umum. Beberapa agama “neo-pagan” merupakan rekonstruksi masa kini yang hubungan otentiknya pada bentuk asli dapat dipertanyakan, khususnya dalam kasus-kasus yang didominasi oleh komponen ideologis modern seperti, ekologi, feminisme atau dalam beberapa kasus, mitos kemurnian rasial [105].

New Age Music : ini adalah industri yang booming. Musik yang satu ini sering dibungkus sebagai alat untu mencapai harmoni dengan diri sendiri atau dunia, dan beberapa dari musik ini adalah “Celtic” atau druidic. Beberapa komposer New Age mengklaim musik mereka dimaksudkan untuk membangun jembatan antara yang sadar dan tidak sadar, namun ini mungkin lebih banyak, di samping melodi, terdapat juga repetisi frase-frase kunci yang bersifat ritmik dan meditatif. Seperti halnya dengan elemen-elemen dari fenomena New Age, beberapa musik New Age dimaksudkan untuk membawa orang-orang lebih jauh masuk ke dalam Gerakan New Age, tetapi kebanyakan musik ini hanya bersifat komersial dan artistik.

New Thought : gerakan agama abad ke-19 ini ditemukan di AS. Asal-usulnya adalah dalam idealisme, yang mana gerakan ini adalah bentuk yang dipopulerkan. Dikatakan Allah itu secara mutlak baik dan iblis semata-mata suatu ilusi; realitas dasar adalah pikiran. Karena pikiran orang itu yang menyebabkan suatu kejadian dalam kehidupannya, maka orang itu harus bertanggungjawab penuh terhadap setiap aspek dari situasi yang bersangkutan.

Occultism : pengetahuan tentang okult (tersembunyi) dan kekuatan pikiran dan alam yang tersembunyi adalah basis kepercayaan dan praktek-praktek yang dihubungkan pada rahasia yang diduga “filosopi abadi” (perennial philosophy) yang berasal dari ilmu magis Yunani Kuno dan alkemi, di satu sisi dan mistisisme Yahudi di sisi lain. Okultisme ini disimpan rapat-rapat melalui kode kerahasiaan yang dipaksakan pada mereka yang telah diinisiasi ke dalam kelompok-kelompok dan masyarakat yang menjaga pengetahuan dan teknik-teknik yang terkait. Dalam abad ke-19, spiritualisme dan Masyarakat Theosopikal memperkenalkan bentuk baru dari okultisme yang telah mempengaruhi berbagai arus dalam New Age.

Pantheism : (Yun. pan = segala sesuatu dan theos = Allah) kepercayaan yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Allah atau kadang-kadang, bahwa segala sesuatu itu ada di dalam Allah dan Allah ada dalam segala sesuatu (panentheism). Setiap elemen alam semesta itu bersifat ilahi, dan keilahian sama-sama hadir dalam segala sesuatu. Tidak ada ruang dalam pandangan ini bagi Allah sebagai mahluk yang berbeda dalam pengertian theisme klasik.

Parapsychology : parapsikologi ini memperlakukan sesuatu itu sebagai persepsi ekstrasensoris, telepati mental, telekinesis, penyembuhan fisik dan komunikasi dengan roh-roh lewat medium atau saluran (channeling). Meskipun terdapat kritik pedas dari para ilmuwan, parapsikologi telah berpindah dari kekuatan ke kekuatan dan cocok sekali dalam pandangan populer dalam beberapa area New Age yang mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan fisik yang luar biasa namun hanya sering berlaku dalam kondisi yang tidak memadai.

Planetary Consciousness : pandangan dunia berkembang dalam tahun 1980-an untuk membantu loyalitas pada komunitas manusia daripada loyalitas kepada negara-negara, suku-suku atau kelompok sosial lainnya. Ini bisa dianggap sebagai ahli waris gerakan-gerakan New Age dalam awal abad ke-20 yang mempromosikan pemerintahan dunia. Kesadaran akan persatuan manusia cocok dengan hipotesis Gaia.

Positive Thinking : keyakinan bahwa orang-orang dapat mengubah realitas fisik atau keadaan eksternal dengan mengubah sikap mental, dengan berpikir secara positif dan konstruktif. Kadang-kadang ini hanya masalah kesadaran terhadap kepercayaan yang dianut secara tidak sadar yang menentukan situasi kehidupan kita. Para pemikir positif dijanjikan kesehatan dan keseluruhan (wholeness) sering juga dijanjikan kemakmuran dan bahkan hidup abadi.

Rebirthing : Dalam tahun 1970-an Leonard Orr mendeskripsikan bahwa kelahiran kembali itu sebagai suatu proses yang mana seseorang dapat mengidentifikasikan dan mengisolasi area-area di sumber masalah saat ini yang dalam kesadarannya tak terpecahkan.

Reincarnation : Dalam konteks New Age, reinkarnasi dihubungkan dengan konsep evolusi kekuasaan untuk menjadi ilahi. Seperti penentangan terhadap agama-agama India yang berasal daripadanya, New Age memandang reinkarnasi sebagai gerak maju jiwa individual menuju keadaan yang lebih sempurna. Apa yang direinkarnasikan secara esensial adalah sesuatu yang bersifat immaterial atau spiritual; lebih tepat lagi, ini adalah kesadaran yang menyiratkan energi dalam diri seseorang yang berbagi dalam kosmik atau energi “kristik”. Kematian tidak lain adalah perjalanan jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Rosicrucians : ini adalah kelompok klenik Barat yang terlibat dalam alkemi, astrologi, Theosopi dan interpretasi kitab suci kabbalisik Kelompok Rosicrucian Fellowship memberikan kontribusi pada kebangkitan astrologi dalam abad ke 20 dan kelompok Ancient dan Mystical Order of the Rosae Crucis (AMORC) mengaitkan kesuksesan dengan kemampuan yang diduga bisa mewujudkan citra mental kesehatan, kekayaan dan kebahagiaan.

Shamanism : praktek-praktek dan kepercayaan yang dikaitkan pada komunikasi dengan roh-roh alam dan roh-roh orang mati melalui prosesi ritual (dengan menggunakan roh-roh) seorang cenayang yang bertindak sebagai medium. Shamanisme ini begitu atraktif dalam lingkungan New Age sebab ini menekankan harmoni dengan kekuatan alam dan penyembuhan. Ada juga citra yang diromantiskan dari agama-agama asli dan kedekatan mereka dengan bumi dan alam.

Spiritualisme : Walaupun selalu ada usaha-usaha untuk melakukan kontak dengan roh-roh orang mati, spiritualisme abad ke-19 dianggap menjadi salah satu arus yang mengalir ke dalam New Age. Spiritualisme berkembang untuk melawan latar belakang ide-ide Swedenborg dan Mesmer, dan menjadi semacam agama baru. Ny Blavatsky merupakan seorang medium, sehingga spiritualisme memiliki pengaruh besar pada Masyarakat Theosopikal, meskipun pada spiritualisme terdapat penekanan pada kontak dengan entitas dari masa lalu daripada orang-orang yang baru saja mati. Allan Kardec berpengaruh dalam penyebaran spiritualisme dalam agama-agama Afrika-Brasil. Ada juga elemen-elemen spiritualis dalam beberapa Gerakan Agama Baru di Jepang.

Theosophy : suatu terma kuno, yang aslinya mengacu pada sejenis mistisisme. Theosopi dikaitkan pada gnostik Yunani dan Neoplatonis, lalu pada Meister Eckhart, Nicholas dari Cusa dan Jakob Boehme. Nama ini diberi penekanan oleh Masyarakat Theosopikal, yang ditemukan oleh Helena Petrovna Blavatsky dan yang lainnya pada tahun 1875. Mistisisme theosopikal cenderung monistik, menekankan persatuan esensial dari komponen alam semesta yang bersifat material dan spiritual. Theosopi ini mencari kekuatan tersembunyi yang menyebabkan benda dan roh berinteraksi, sehingga dengan cara ini manusia dan pikiran-pikiran ilahi akhirnya bertemu. Ini adalah ketika theosopi menawarkan penebusan atau pencerahan mistis.

Transcendentalism : Ini adalah gerakan abad ke-19 dari para penulis dan pemikir di Inggris Baru yang berbagi sekumpulan idealistik dari kepercayaan-kepercayaan dalam persatuan esensial ciptaan, kebaikan yang berpembawaan halus dari pribadi manusia dan superioritas pengetahuan di atas logika dan pengalaman bagi wahyu kebenaran yang terdalam. Figur utama di sini adalah Ralph Waldo Emerson yang pindah dari Kristen Orthodox melalui Unitarianisme ke mistisisme alamiah baru yang mengintegrasikan konsep Hindu dengan konsep populer Amerika seperti individualisme, tanggungjawab personal dan kebutuhan untuk sukses.

Wicca : suatu terma Inggris lama untuk menggambarkan tukang sihir yang telah diserahkan kepada kebangkitan neo-pagan dari elemen-elemen ritual magis. Ini ditemukan di Inggris tahun 1939 oleh Gerald Gardner yang mendasarkannya pada beberapa teks-teks sarjana yang menurut ilmu gaib Eropa abad pertengahan merupakan agama alam kuno yang dianiaya oleh orang-orang Kristen. Disebut “keahlian”, istilah ini berkembang dalam tahun 1960-an di AS dimana wicca ini berjumpa dengan “spiritualitas wanita”.

7.3 Tempat-tempat penting New Age

* Komunitas Esalena ditemukan di Big Sur, California tahun 1962 oleh Michael Murphy dan Richard Price yang tujuan utamanya adalah mencapai penyadaran diri (self-realisation) melalui nudisme dan visi, serta “obat-obatan lunak” (bland medicines). Ini menjadi salah satu pusat penting dari Gerakan Potensi Manusia, dan telah menyebarkan ide-ide tentang pengobatan holistik dalam dunia pendidikan, politik dan ekonomi. Ini dilakukan melalui kursus-kursus perbandingan agama, mitologi, mistisisme, meditasi, psikoterapi, ekspansi kesadaran dan sebagainya. Bersama dengan Findhorn, ini dianggap sebagai tempat-tempat penting dalam perkembangan kesadaran Aquarius. Kelompok The Esalen Soviet American Institute bekerjasama dengan pejabat-pejabat Soviet pada Proyek Peningkatan Kesehatan.

* Findhorn: komunitas pertanian holistik yang dimulai oleh Peter dan Eileen Caddy mencapai perkembangan tanam-tanaman yang luar biasa dengan menggunakan metode yang tidak orthodoks. Pendirian komunitas Findhorn di Skotlandia tahun 1965 merupakan kejadian penting dalam gerakan yang memasang label ‘New Age’. Kenyataannya, Findhorn dilihat sebagai ‘perwujudan keteladanan transformasi prinsipil’. Pencarian kesadaran universal, tujuan harmoni dengan alam, visi dunia yang ditransformasikan, dan praktek penyaluran (channeling), yang semuanya itu telah menjadi tanda Gerakan New Age, hadir di Findhorn sejak pembentukannya. Kesuksesan komunitas ini mengarah untuk menjadi model bagi, dan/untuk inspirasi kelompok-kelompok lain, seperti Alternatif di London, Esalen di Big Sur, California dan kelompok the Open Center and Omega Institute di New York” [106].

* Komunitas utopis Monte Verita dekat Ascona di Swis. Sejak akhir abad ke 19, komunitas ini merupakan tempat pertemuan bagi eksponen Eropa dan Amerika untuk kontra-budaya dalam bidang politik, psikologi, seni dan ekologi. Konferensi Eranos telah diselenggarakan di sana sejak tahun 1933, mengumpulkan beberapa bintang termasyur dari New Age. Buku tahunan memperjelas maksud mereka untuk menciptakan suatu agama dunia yang terintegrasi [107]. Begitu menarik untuk melihat daftar mereka yang berkumpul pada tahun-tahun tersebut di Monte Verita.

8 Sumber-sumber

Dokumen-dokumen Magesterium Gereja Katolik

John Paul II, Address to the United States Bishops of Iowa, Kansas, Missouri and Nebraska on their “Ad Limina” visit, 28 May 1993.

Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter to Bishops on Certain Aspects of Christian Meditation (Orationis Formas), Vatican City (Vatican Polyglot Press) 1989.

International Theological Commission, Some Current Questions Concerning Eschatology, 1992, Nos. 9-10 (on reincarnation).

International Theological Commission, Some Questions on the Theology of Redemption, 1995, I/29 and II/35-36.

Argentine Bishops’ Conference Committee for Culture, Frente a una Nueva Era. Desafio a la pastoral en el horizonte de la Nueva Evangelización, 1993.

Irish Theological Commission, A New Age of the Spirit? A Catholic Response to the New Age Phenomenon, Dublin 1994.

Godfried Danneels, Au-delà de la mort: réincarnation et resurrection, Pastoral Letter, Easter 1991.

Godfried Danneels, Christ or Aquarius? Pastoral Letter, Christmas 1990 (Veritas, Dublin).

Carlo Maccari, “La ‘mistica cosmica’ del New Age”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

Carlo Maccari, La New Age di fronte alla fede cristiana, Turin (LDC) 1994.

Edward Anthony McCarthy, The New Age Movement, Pastoral Instruction, 1992.

Paul Poupard, Felicità e fede cristiana, Casale Monferrato (Ed. Piemme) 1992.

Joseph Ratzinger, La fede e la teologia ai nostri giorni, Guadalajara, May 1996, in L’Osservatore Romano 27 October 1996.

Norberto Rivera Carrera, Instrucción Pastoral sobre el New Age, 7 January 1996.

Christoph von Schönborn, Risurrezione e reincarnazione, (Italian translation) Casale Monferrato (Piemme) 1990.

J. Francis Stafford, Il movimento “New Age”, in L’Osservatore Romano, 30 October 1992.

Working Group on New Religious Movements (ed.), Vatican City, Sects and New Religious Movements. An Anthology of Texts From the Catholic Church, Washington (USCC) 1995.

Studi-studi Kristen

Raúl Berzosa Martinez, Nueva Era y Cristianismo. Entre el diálogo y la ruptura, Madrid (BAC) 1995.

André Fortin, Les Galeries du Nouvel Age: un chrétien s’y promène, Ottawa (Novalis) 1993.

Claude Labrecque, Une religion américaine. Pistes de discernement chrétien sur les courants populaires du “Nouvel Age”, Montréal (Médiaspaul) 1994.

The Methodist Faith and Order Committee, The New Age Movement Report to Conference 1994.

Aidan Nichols, “The New Age Movement”, in The Month, March 1992, pp. 84-89.

Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999.

Ökumenische Arbeitsgruppe “Neue Religiöse Bewegungen in der Schweiz”, New Age – aus christlicher Sicht, Freiburg (Paulusverlag) 1987.

Mitch Pacwa s.j., Catholics and the New Age. How Good People are being drawn into Jungian Psychology, the Enneagram and the New Age of Aquarius, Ann Arbor MI (Servant) 1992.

John Saliba, Christian Responses to the New Age Movement. A Critical Assessment, London (Chapman) 1999.

Josef Südbrack, SJ, Neue Religiosität – Herausforderung für die Christen, Mainz (Matthias-Grünewald-Verlag) 1987 = La nuova religiosità: una sfida per i cristiani, Brescia (Queriniana) 1988.

“Theologie für Laien” secretariat, Faszination Esoterik, Zürich (Theologie für Laien) 1996.

David Toolan, Facing West from California‘s Shores. A Jesuit’s Journey into New Age Consciousness, New York (Crossroad) 1987.

Juan Carlos Urrea Viera, “New Age”. Visión Histórico-Doctrinal y Principales Desafíos, Santafé de Bogotá (CELAM) 1996.

Jean Vernette, “L’avventura spirituale dei figli dell’Acquario”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

Jean Vernette, Jésus dans la nouvelle religiosité, Paris (Desclée) 1987.

Jean Vernette, Le New Age, Paris (P.U.F.) 1992.

9 Bibliograpi Umum

9.1. Beberapa buku mengenai New Age

William Bloom, The New Age. An Anthology of Essential Writings, London (Rider) 1991.

Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels between Modern Physics and Eastern Mysticism, Berkeley (Shambhala) 1975.

Fritjof Capra, The Turning Point: Science, Society and the Rising Culture,
Toronto (Bantam) 1983.

Benjamin Creme, The Reappearance of Christ and the Masters of Wisdom,
London (Tara Press) 1979.

Marilyn Ferguson, The Aquarian Conspiracy. Personal and Social Transformation in Our Time, Los Angeles (Tarcher) 1980.

Chris Griscom, Ecstasy is a New Frequency: Teachings of the Light Institute, New York (Simon & Schuster) 1987.

Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, Chicago (University of Chicago Press) 1970.

David Spangler, The New Age Vision, Forres (Findhorn Publications) 1980.

David Spangler, Revelation: The Birth of a New Age, San Francisco (Rainbow Bridge) 1976.

David Spangler, Towards a Planetary Vision, Forres (Findhorn Publications) 1977.

David Spangler, The New Age, Issaquah (The Morningtown Press) 1988.

David Spangler, The Rebirth of the Sacred, London (Gateway Books) 1988.

9.2. Karya-karya historis, deskriptif dan analitis

Christoph Bochinger, “New Age” und moderne Religion: Religionswissenschaftliche Untersuchungen, Gütersloh (Kaiser) 1994.

Bernard Franck, Lexique du Nouvel-Age, Limoges (Droguet-Ardant) 1993.

Hans Gasper, Joachim Müller and Friederike Valentin, Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, updated edition, Freiburg-Basel-Vienna (Herder) 2000. See, inter alia, the article “New Age” by Christoph Schorsch, Karl R. Essmann and Medard Kehl, and “Reinkarnation” by Reinhard Hümmel.

Manabu Haga and Robert J. Kisala (eds.), “The New Age in Japan”, in Japanese Journal of Religious Studies, Fall 1995, vol. 22, numbers 3 & 4.

Wouter Hanegraaff, New Age Religion and Western Culture. Esotericism in the Mirror of Nature, Leiden-New York-Köln (Brill) 1996. This book has an extensive bibliography.

Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996.

Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000.

Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (Il Saggiatore) 1998.

J. Gordon Melton, New Age Encyclopedia, Detroit (Gale Research Inc) 1990.

Elliot Miller, A Crash Course in the New Age, Eastbourne (Monarch) 1989.

Georges Minois, Histoire de l’athéisme, Paris (Fayard) 1998.

Arild Romarheim, The Aquarian Christ. Jesus Christ as Portrayed by New Religious Movements, Hong Kong (Good Tiding) 1992.

Hans-Jürgen Ruppert, Durchbruch zur Innenwelt. Spirituelle Impulse aus New Age und Esoterik in kritischer Beleuchtung, Stuttgart (Quell Verlag) 1988.

Edwin Schur, The Awareness Trap. Self-Absorption instead of Social Change, New York (McGraw Hill) 1977.

Rodney Stark and William Sims Bainbridge, The Future of Religion. Secularisation, Revival and Cult Formation, Berkeley (University of California Press) 1985.

Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond the New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press), 2000.

Charles Taylor, Sources of the Self. The Making of the Modern Identity, Cambridge (Cambridge University Press) 1989.

Charles Taylor, The Ethics of Authenticity, London (Harvard University Press) 1991

Edênio Valle s.v.d., “Psicologia e energias da mente: teorias alternativas”, in A Igreja Católica diante do pluralismo religioso do Brasil (III). Estudos da CNBB n. 71, São Paulo (paulus) 1994.

World Commission on Culture and Development, Our Creative Diversity. Report of the World Commission on Culture and Development, Paris
(UNESCO) 1995.

M. York, “The New Age Movement in Great Britain”, in Syzygy. Journal of Alternative Religion and Culture, 1:2-3 (1992) Stanford CA.


1 Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996, p. 137.

2 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 164f.

3 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 173.

4 Cf. John Paul II, Encyclical Letter Dominum et vivificantem (18 May 1986), 53.

5 Cf. Gilbert Markus o.p., “Celtic Schmeltic”, (1) in Spirituality, vol. 4, November-December 1998, No 21, pp. 379-383 and (2) in Spirituality, vol. 5, January-February 1999, No. 22, pp. 57-61.

6 John Paul II, Crossing the Threshold of Hope, (Knopf) 1994, 90.

7 Cf. particularly Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000.

8 M. Introvigne, op. cit., p. 267..

9 Cf. Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (il Saggiatore) 1998, p. 86. The word “sect” is used here not in any pejorative sense, but rather to denote a sociological phenomenon.

10 Cf. Wouter J. Hanegraaff, New Age Religion and Western Culture. Esotericism in the Mirror of Secular Thought, Leiden-New York-Köln (Brill) 1996, p. 377 and elsewhere

11 Cf. Rodney Stark and William Sims Bainbridge, The Future of Religion. Secularisation, Revival and Cult Formation, Berkeley (University of California Press) 1985.

12 Cf. M. Lacroix, op. cit., p. 8.

13 The Swiss “Theologie für Laien” course entitled Faszination Esoterik puts this clearly. Cf. “Kursmappe 1 – New Age und Esoterik”, text to accompany slides, p. 9.

14 The term was already in use in the title of The New Age Magazine, which was being published by the Ancient Accepted Scottish Masonic Rite in the southern jurisdiction of the United States of America as early as 1900 Cf. M. York, “The New Age Movement in Great Britain”, in Syzygy. Journal of Alternative Religion and Culture, 1: 2-3 (1992), Stanford CA, p. 156, note 6. The exact timing and nature of the change to the New Age are interpreted variously by different authors; estimates of timing range from 1967 to 2376.

15 In late 1977, Marilyn Ferguson sent a questionnaire to 210 “persons engaged in social transformation”, whom she also calls “Aquarian Conspirators”. The following is interesting: “When respondents were asked to name individuals whose ideas had influenced them, either through personal contact or through their writings, those most often named, in order of frequency, were Pierre Teilhard de Chardin, C.G. Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Aldous Huxley, Robert Assagioli, and J. Krishnamurti. “Others frequently mentioned: Paul Tillich, Hermann Hesse, Alfred North Whitehead, Martin Buber, Ruth Benedict, Margaret Mead, Gregory Bateson, Tarthang Tulku, Alan Watts, Sri Aurobindo, Swami Muktananda, D.T. Suzuki, Thomas Merton, Willis Harman, Kenneth Boulding, Elise Boulding, Erich Fromm, Marshall McLuhan, Buckminster Fuller, Frederic Spiegelberg, Alfred Korzybski, Heinz von Foerster, John Lilly, Werner Erhard, Oscar Ichazo, Maharishi Mahesh Yogi, Joseph Chilton Pearce, Karl Pribram, Gardner Murphy, and Albert Einstein”: The Aquarian Conspiracy. Personal and Social Transformation in Our Time, Los Angeles (Tarcher) 1980, p. 50 (note 1) and p. 434.

16 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 520.

17 Irish Theological Commission, A New Age of the Spirit? A Catholic Response to the New Age Phenomenon, Dublin 1994, chapter 3.

18 Cf. The Structure of Scientific Revolutions, Chicago (University of Chicago Press), 1970, p. 175.

19 Cf. Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999, passim, but especially pp. 11-34. See Also section 4 below.

20 It is worth recalling the lyrics of this song, which quickly imprinted themselves on to the minds of a whole generation in North America and Western Europe: “When the Moon is in the Seventh House, and Jupiter aligns with Mars, then Peace will guide the Planets, and Love will steer the Stars. This is the dawning of the Age of Aquarius… Harmony and understanding, sympathy and trust abounding; no more falsehoods or derision – golden living, dreams of visions, mystic crystal revelation, and the mind’s true liberation. Aquarius…”.

21 P. Heelas, op. cit., p. 1f. The August 1978 journal of the Berkeley Christian Coalition puts it this way: “Just ten years ago the funky drug-based spirituality of the hippies and the mysticism of the Western yogi were restricted to the counterculture. Today, both have found their way into the mainstream of our cultural mentality. Science, the health professions, and the arts, not to mention psychology and religion, are all engaged in a fundamental reconstruction of their basic premises”. Quoted in Marilyn Ferguson, op. cit., p. 370f.

22 Cf. Chris Griscom, Ecstasy is a New Frequency: Teachings of the Light Institute, New York (Simon & Schuster) 1987, p. 82.

23 See the Glossary of New Age terms, §7.2 above.

24 Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., chapter 15 (“The Mirror of Secular Thought”). The system of correspondences is clearly inherited from traditional esotericism, but it has a new meaning for those who (consciously or not) follow Swedenborg. While every natural element in traditional esoteric doctrine had the divine life within it, for Swedenborg nature is a dead reflection of the living spiritual world. This idea is very much at the heart of the post-modern vision of a disenchanted world and various attempts to “re-enchant” it. Blavatsky rejected correspondences, and Jung emphatically relativised causality in favour of the esoteric world-view of correspondences.

25 W.J. Hanegraaff, op. cit., pp. 54-55.

26Cf. Reinhard Hümmel, “Reinkarnation”, in Hans Gasper, Joachim Müller, Friederike Valentin (eds.), Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, Freiburg-Basel-Wien (Herder) 2000, 886-893.

27 Michael Fuss, “New Age and Europe – A Challenge for Theology”, in Mission Studies Vol. VIII-2, 16, 1991, p. 192.

28 Ibid., loc. cit.

29 Ibid.,p. 193.

30 Ibid.,p. 199.

31 Congregation for the Doctrine of Faith, Letter to the Bishops of the Catholic Church on Some Aspects of Christian Meditation (Orationis Formas), 1989, 14. Cf. Gaudium et Spes, 19; Fides et Ratio, 22.

32 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 448f. The objectives are quoted from the final (1896) version, earlier versions of which stressed the irrationality of “bigotry” and the urgency of promoting non-sectarian education. Hanegraaff quotes J. Gordon Melton’s description of New Age religion as rooted in the “occult-metaphysical” tradition (ibid., p. 455).

33 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 513.

34 Thomas M. King s.j., “Jung and Catholic Spirituality”, in America, 3 April 1999, p. 14. The author points out that New Age devotees “quote passages dealing with the I Ching, astrology and Zen, while Catholics quote passages dealing with Christian mystics, the liturgy and the psychological value of the sacrament of reconciliation” (p. 12). He also lists Catholic personalities and spiritual institutions clearly inspired and guided by Jung’s psychology.

35Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 501f.

36 Carl Gustav Jung, Wandlungen und Symbole der Libido, quoted in Hanegraaff, op. cit., p. 503.

37 On this point cf. Michel Schooyans, L’Évangile face au désordre mondial, with a preface by Cardinal Joseph Ratzinger, Paris (Fayard) 1997.

38 Quoted in the Maranatha Community’s The True and the False New Age. Introductory Ecumenical Notes, Manchester (Maranatha) 1993, 8.10 – the original page numbering is not specified.

39 Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (il Saggiatore) 1998, p. 84f.

40 Cf. the section on David Spangler’s ideas in Actualité des religions nº 8, septembre 1999, p. 43.

41 M. Ferguson, op. cit., p. 407.

42 Ibid.,p. 411.

43 “To be an American… is precisely to imagine a destiny rather than inherit one. We have always been inhabitants of myth rather than history”: Leslie Fiedler, quoted in M. Ferguson, op. cit., p. 142.

44 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 173f.

45 David Spangler, The New Age, Issaquah (Mornington Press) 1988, p. 14.

46 P. Heelas, op. cit., p. 168.

47 See the Preface to Michel Schooyans, L’Évangile face au désordre mondial, op. cit. This quotation is translated from the Italian, Il nuovo disordine mondiale, Cinisello Balsamo (San Paolo) 2000, p. 6.

48 Cf. Our Creative Diversity. Report of the World Commission on Culture and Development, Paris (UNESCO) 1995, which illustrates the importance given to celebrating and promoting diversity.

49 Cf. Christoph Bochinger, “New Age” und moderne Religion: Religionswissenschaftliche Untersuchungen, Gütersloh (Kaiser) 1994, especially chapter 3.

50 The shortcomings of techniques which are not yet prayer are discussed below in § 3.4, “Christian mysticism and New Age mysticism”.

51 Cf. Carlo Maccari, “La ‘mistica cosmica’ del New Age”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

52 Jean Vernette, “L’avventura spirituale dei figli dell’Acquario”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2, p. 42f.

53 J. Vernette, loc. cit.

54 Cf. J. Gordon Melton, New Age Encyclopedia, Detroit (Gale Research) 1990, pp. xiii-xiv.

55 David Spangler, The Rebirth of the Sacred, London (Gateway Books) 1984, p. 78f.

56 David Spangler, The New Age, op. cit., p. 13f.

57 John Paul II, Apostolic Letter Tertio Millennio Adveniente (10 November 1994), 9.tel

58 Matthew Fox, The Coming of the Cosmic Christ. The Healing of Mother Earth and the Birth of a Global Renaissance, San Francisco (Harper & Row) 1988, p. 135.

59 Cf. the document issued by the Argentine Bishops’ Conference Committee for Culture: Frente a una Nueva Era. Desafío a la pastoral en el horizonte de la Nueva Evangelización, 1993.

60 Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 23.

61 Ibid.,3. See the sections on meditation and contemplative prayer in the Catechism of the Catholic Church, §§. 2705-2719.

62 Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 13.

63Cf. Brendan Pelphrey, “I said, You are Gods. Orthodox Christian Theosis and Deification in the New Religious Movements” in Spirituality East and West, Easter 2000 (No. 13)

[64] Adrian Smith, God and the Aquarian Age. The new era of the Kingdom, Great Wakering (McCrimmons) 1990, p. 49

[65] Cf. Benjamin Creme, The Reappearance of Christ and the Masters of Wisdom, London (Tara Press) 1979, p. 116

[66]Cf. Jean Vernette, Le New Age, Paris (P.U.F.) 1992 (Collection Encyclopédique Que sais-je?), p. 14.

[67] Catechism of the Catholic Church, 52

[68] Cf. Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine Critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999, especially pages 13-34. The list of common points is on p. 33

[69] The Nicene Creed

[70] Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (Il Saggiatore) 1998, p. 74.

[71] Ibid.,p. 68.

[72] Edwin Schur, The Awareness Trap. Self-Absorption instead of Social Change, New York (McGraw Hill) 1977, p. 68

[73]Cf. Catechism of the Catholic Church, §§ 355-383.

[74] Cf. Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996, p. 161

[75] A Catholic Response to the New Age Phenomenon,Irish Theological Commission 1994, chapter 3.

[76] Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 3.

[77] Ibid.,7.

[78] William Bloom, The New Age. An Anthology of Essential Writings, London (Rider) 1991, p. xvi.

[79]Catechism of the Catholic Church, § 387.

[80]Ibid., § 1849.

[81]Ibid., § 1850.

[82]John Paul II, Apostolic Letter on human suffering “Salvifici doloris” (11 February 1984), 19.

[83]Cf. David Spangler, The New Age, op. cit., p. 28.

[84]Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris Missio (7 December 1990), 6, 28, and the Declaration Dominus Jesus (6 August 2000) by the Congregation for the Doctrine of the Faith, 12.

[85] Cf. R. Rhodes, The Counterfeit Christ of the New Age Movement,Grand Rapids (Baker) 1990, p. 129.

[86]Helen Bergin o.p., “Living One’s Truth”, in The Furrow, January 2000,
p. 12.

[87]Ibid.,p. 15.

[88] Cf. P. Heelas, op. cit., p. 138.

[89]Elliot Miller, A Crash Course in the New Age, Eastbourne (Monarch) 1989, p. 122. For documentation on the vehemently anti-Christian stance of spiritualism, cf. R. Laurence Moore, “Spiritualism”, in Edwin S. Gaustad (ed.), The Rise of Adventism: Religion and Society in Mid-Nineteenth-Century America, New York 1974, pp. 79-103, and also R. Laurence Moore, In Search of White Crows: Spiritualism, Parapsychology, and American Culture, New York (Oxford University Press) 1977

[90]Cf. John Paul II, Encyclical letter Fides et Ratio (14 September 1998),
36-48
.

[91] Cf. John Paul II, Address to the United States Bishops of Iowa, Kansas, Missouri and Nebraska on their “Ad Limina” visit, 28 May 1993

[92]Cf. John Paul II, Post-Synodal Apostolic Exhortation Ecclesia in Africa
(14 September 1995), 103. The Pontifical Council for Culture has published a handbook listing these centres throughout the world: Catholic Cultural Centres (3rd edition, Vatican City, 2001)

[93]Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, and § 3 above

[94]This is one area where lack of information can allow those responsible for education to be misled by groups whose real agenda is inimical to the Gospel message. It is particularly the case in schools, where a captive curious young audience is an ideal target for ideological merchandising. Cf. the caveat in Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000, p. 277f.

[95]Cf. J. Badewien, Antroposofia, in H. Waldenfels (ed.) Nuovo Dizionario delle Religioni, Cinisello Balsamo (San Paolo) 1993, 41

[96]Cf. Raúl Berzosa Martinez, Nueva Era y Cristianismo, Madrid (BAC) 1995, 214

[97]Helen Palmer, The Enneagram, New York (Harper-Row) 1989.

[98]Cf. document of the Argentine Episcopal Committee for Culture, op. cit

[99]J. Gernet, in J.-P. Vernant et al., Divination et Rationalité, Paris (Seuil) 1974, p. 55

[100]Cf. Susan Greenwood, “Gender and Power in Magical Practices”, in Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press) 2000, p. 139

[101]Cf. M. Fuss, op. cit., 198-199

[102]For a brief but clear treatment of the Human Potential Movement, see Elizabeth Puttick, “Personal Development: the Spiritualisation and Secularisation of the Human Potential Movement”, in: Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press) 2000, pp. 201-219.

[103]Cf. C. Maccari, La “New Age” di fronte alla fede cristiana, Leumann-Torino (LDC) 1994, 168.

[104]Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., 283-290

[105]On this last, very delicate, point, see Eckhard Türk’s article “Neonazismus” in Hans Gasper, Joachim Müller, Friederike Valentin (eds.), Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, Freiburg- Basel-Wien (Herder) 2000, p. 726.

[106]Cf. John Saliba, Christian Responses to the New Age Movement. A Critical Assessment, London, (Geoffrey Chapman) 1999, p.1.

[107]Cf. M. Fuss, op. cit., 195-196.

Gerakan Ekumenisme

Gerakan Ekumenisme : Apa dan Bagaimana yang seharusnya dilakukan untuk mencapai Persatuan Gereja yang Visible dan Penuh ?

By Leonard T. Panjaitan

Sejarah Singkat Gerakan Ekumenisme

Menurut Adolf Heuken, SJ dalam Ensiklopedia Gereja (1991) kata “ekumene” diturunkan dari kata oikumene yang berasal dari kata kerja oikeo dalam bahasa Yunani, yang berarti tinggal, berdiam, atau juga mendiami. Dengan kata lain oikumene berarti menyangkut “wilayah yang dihuni (manusia), maksudnya seluruh bagian dunia yang berkebudayaan. Dalam umat Kristen “ekumenis” mendapat pengertian “yang termasuk Gereja yang umum dan resmi”, misalnya dalam hubungan dengan konsili. Konsili ekumenis adalah konsili yang diadakan oleh seluruh Gereja di dunia dan berhubungan dengan persatuan kristiani. Sejak awal abad 20 yang lalu ekumenisme merupakan suatu gerakan yang dipakai di kalangan gereja-gereja protestan untuk mengembalikan keesan atau kesatuan gereja. Gerakan ini sebenarnya diilhami oleh semangat revivalisme atau pietisme yang berkobar-kobar pada abad 18 di Amerika dan Eropa dalam rangka penyebaran injil ke seluruh dunia serta pembaharuan hidup untuk kembali kepada kitab suci. Kemudian gerakan ekumenisme ini lahir pada saat Konferensi Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh Skotlandia yang berlangsung pada tanggal 14 – 23 Juni 1910. Konferensi ini dipelopori oleh John Raleigh Mott (1865 – 1955), seorang Metodis dari Amerika Serikat dan Joseph H Oldham (1874 – 1969) dari Skotlandia (Dr Christiaan de Jonge, Menuju Keesaan Gereja, 1990, hal 9). Para anggota konferensi ini memandang dirinya bukan hanya sebagai umat kristiani namun merupakan kumpulan gereja-gereja yang pada akhirnya menjadi daya dorong untuk memulai gerakan ekumenisme dengan melibatkan sebanyak mungkin gereja-gereja lainnya. Konferensi ini membicarakan beberapa pokok permasalahan antara lain adalah pekabaran injil di seluruh dunia, gereja di lapangan pekabaran injil hingga masalah kerjasama dan keesaan. Konferensi juga mendirikan 3 (tiga) badan yakni International Missionary Council (IMC atau Dewan Pekabaran Injil Internasional), gerakan Faith and Order (Iman dan Tata Gereja) -yang bertujuan untuk membicarakan soal-soal tentang ajaran dan organisasi gereja- serta gerakan Life and Work (Kehidupan dan Karya) yang berkecimpung dalam masalah sosial politis. Kedua gerakan terakhir ini berkembang dan mengadakan beberapa sidang raya hingga pada tahun 1948 sepakat melebur menjadi World Council of Churches atau Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) yang berpusat di Jenewa Swis. Selanjutnya pada tahun 1961 IMC pun ikut bergabung dengan DGD dan mengambil bagian dalam Pekabaran Injil. Keanggotan DGD mencakup lebih dari 200 Gereja yang mayoritas adalah protestan dan kemudian Gereja Orthodox bergabung tahun 1961. Sementara Gereja Katolik Roma tidak mau ikut bergabung oleh karena Magisterium atau Paus menganggap bawah Gereja Katolik adalah fullness atau kepenuhan dari Gereja yang didirikan dan diwariskan oleh Kristus sendiri kepada Petrus atau Penggantinya (Mat 16 : 18).

Sementara itu tujuan berdirinya DGD pertama-tama adalah untuk lebih mendekatkan sesama gereja-gereja anggota hingga akhirnya menuju kesatuan atau keesaan gereja. Di samping itu pula DGD juga berusaha untuk memelopori dan mendukung segala usaha di dunia ini dalam rangka terciptanya perdamaian dan keadilan sosial, menentang rasisme, ketidakadilan ekonomi dan perlombaan senjata. (Harta Dalam Bejana, Th van den End, 2001, hal 387). Kemudian di Indonesia semangat gerakan ekumenisme muncul tanggal 25 Mei 1950 ketika Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) berdiri. Pembentukan dewan ini sebenarnya merupakan muara dari konferensi IMC yang ketiga di Tambaran pada tahun 1938. Tujuan dari DGI adalah pembentukan Gereja Kristen yang esa di Indonesia (AD 1950 ps 3). Dan pada saat Sidang Raya DGI X di Ambon tahun 1984 Dewan Gereja-gereja di Indonesia berubah menjadi Persatuan Gereja-gereja di Indonesia. Perlu kita perhatikan bahwa ada sedikit perbedaan tujuan antara DGD dan PGI dimana PGI berusaha untuk mendirikan Gereja yang esa di Indonesia sementara DGD hanya menciptakan suasana atau dasar yang baik bagi gereja-gereja untuk bersatu dengan sendirinya. (Th van den End, ibid, hal 88). Dewan Gereja-gereja dunia bukanlah “super gereja” melainkan wadah komunikasi antara gereja-gereja anggota untuk lebih mewujudkan usaha-usahanya menuju persatuan gereja.

Usaha-usaha Ekumenisme yang telah dilakukan Gereja selama ini

Gerakan Ekumenisme Gereja sebenarnya sudah sejak lama diusahakan oleh Gereja Roma dalam memulihkan persatuannya dengan Gereja-gereja Orthodox (Timur). Dalam buku A History of General Councils – AD 325 through AD 1870 yang ditulis oleh Mgr Philip Hughes 1961, Konsili Gereja (Katolik) di Lyon (1274) – yang dihadiri oleh Batrik Konstantinopel Germanus dan Uskup Agung Nicea Theophanos – dan Basel-Ferrara-Florence (1431 – 1445) yang dihadiri 31 orang perwakilan dari Gereja Orthodox Yunani, sebenarnya membicarakan reunifikasi dengan Timur terutama Yunani selain masalah yang lain dibahas seperti Filioque, Purgatory, hingga supremasi Paus sebagai kepala Gereja seluruh dunia. Namun usaha-usaha Gereja dalam kedua konsili ini kurang membawa hasil yang kongkrit dan gerakan ekumenis kedua Gereja Timur dan Barat ini sampai sekarang belum menjadi kenyataan.

Malah usaha-usaha menuju ekumenisme gereja mendapat tantangan keras pada tahun 1928 ketika Paus Pius XI mengeluarkan surat ensiklik Mortalium Animos yang mengatakan bahwa Tahta Suci melarang semua orang Katolik membantu, mendukung atau pun terlibat dalam gerakan atau perkumpulan-perkumpulan ekumenisme protestan karena bertentangan dengan keesaan sejati Gereja yang sudah terpenuhi dalam Gereja Katolik Roma. Apabila orang-orang Katolik tidak mengindahkan larangan ini berarti mereka menyetujui suatu agama Kristen yang palsu dan sangat asing bagi Gereja Kristus yang satu itu.

Namun demikian aroma persatuan Gereja nampaknya terus-menerus dihembuskan oleh Roh Kudus hingga pada tahun 1959 Paus Johanes XXIII tiba-tiba mengeluarkan pemikirannya untuk membuat konsili ekumenis. Walaupun konsili Vatican II merupakan konsili Gereja Katolik namun Paus Johanes XXIII berpendapat bahwa pembaharuan gereja tidak mungkin berhasil tanpa melibatkan “saudara-saudara yang terpisah”. Sehingga pada tahun 1960 didirikanlah Sekretariat untuk memajukan persatuan Kristen atau Secretariat for promoting christian unity. Sekretariat ini dipimpin oleh Kardinal Bea sebagai ketua dan sekretaris adalah Mgr Willebrands (Beliau akhirnya menggantikan Kardinal Bea karena meninggal dan sebagai sekretaris baru diangkatlah Mgr Moeller). Konsili ekumenis ini yang dihadiri oleh utusan dari Yunani dan dimulai tahun 1962 serta ditutup tahun 1965, menghasilkan beberapa dokumen penting yang salah satunya berbicara mengenai persatuan gereja seperti yang terdapat dalam dokumen yang berjudul Unitatis Redintegratio (Pemulihan kembali persatuan Gereja). Dalam pasal 3 dokumen ini, dikatakan bahwa Gereja yang Satu didirikan oleh Kristus yang sejak zaman permulaan mengalami perpecahan-perpecahan. Baik pihak Katolik maupun non Katolik bersalah dalam perpecahan ini meskipun orang-orang yang sekarang hidup terpisah dari Gereja Katolik Roma tidak dapat dipersalahkan karena mereka bukan penyebab perpecahan ini. Mereka harus diterima sebagai saudara-saudari dalam Kristus. Namun mereka tidak menikmati persekutuan penuh dengan Roma. Dekrit ini tetap melihat bahwa Gereja Katolik Roma sebagai Gereja yang sebenarnya dimana pusatnya adalah Tahta Petrus yang kepadanyalah Kristus mempercayakan semua alat keselamatan secara penuh. Sementara dalam pasal 15 dikatakan juga bahwa ada berbagai-bagai ikatan antara Gereja Katolik Roma dan “mereka yang karena baptisan memiliki nama Kristen, tetapi tidak mengakui iman secara penuh di bawah pengganti Petrus”. Kemudian dekrit juga mendefinisikan apa yang disebut “gereja-gereja dan persekutuan gerejani”. Gereja-gereja adalah Gereja-gereja yang berada dalam lingkup Orthodox yang memiliki tradisi dan suksesi apostolik lengkap seperti Gereja Katolik Roma hanya tidak mengakui paus sebagai pengganti Petrus sementara persekutuan gerejani adalah kumpulan jemaat yang berada dalam protestanisme terutama gereja-gereja hasil reformasi yang tidak memiliki tradisi dan jabatan rasuli secara murni.

Perkembangan ke arah persatuan Gereja antara Roma dengan Orthodox telah banyak dilakukan. Pada tanggal 7 Desember 1965, anathema (kutukan) akibat skisma tahun 1054 dilenyapkan oleh Paus Paulus VI dan Batrik Athenagoras di Istambul. Lalu pada tahun 1995 Batrik (Ekumenis) Konstantinopel Bartholomeus II bertemu Paus Johanes Paulus II di Roma dalam kerinduan mendalam untuk menuju persatuan, hingga peristiwa fenomenal pada bulan Mei 2001 ketika dalam kunjungan ke Yunani Paus Johanes Paulus II secara rendah hati meminta maaf kepada Gereja-gereja Orthodox atas kesalahan-kesalahan Gereja di masa lalu. Selain dengan Konstantinopel, Paus pun dua kali telah bertemu dengan Batrik Rumania Teoctist di Bucharest pada bulan Mei 1999 serta kunjungan balasan Batrik itu ke Roma awal Oktober 2002. Untuk lebih memperdalam usaha-usaha menuju persatuan Gereja maka beberapa dialog teologis diadakan seperti yang berlangsung di Balamand Lebanon tahun 1993 yang membahas full communion, tahun 2000 di Baltimore AS mengenai praksis pastoral. Kemudian pada tanggal 31 Oktober – 2 November 2002 di Ottawa Kanada juga diadakan dialog yang membicarakan filioque (doktrin Gereja Katolik bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putera) serta tema-tema aktual lainnya. Bahkan pada tanggal 10 Juni 2002 ini Paus Johanes Paulus II bersama Batrik Ekumenis Konstantinopel Bartholomeus II menandatangani Deklarasi bersama mengenai Etika Lingkungan Hidup di Roma Italia.

Dari serangkaian usaha-usaha kedua Gereja baik dalam bentuk dialog teologis maupun pertemuan-pertemuan formal/informal lainnya yang terus-menerus digalakkan namun sudah hampir 1000 tahun lamanya sejak skisma Timur tahun 1054 disusul usia reformasi Luther yang hampir mencapai 500 tahun sejak tahun 1517, ketiga Gereja ini belum mencapai kata sepakat untuk melakukan reunifikasi penuh. Sudah berpuluh-puluh deklarasi ditandatangani baik secara sendiri-sendiri maupun bilateral antara Roma dengan Gereja-gereja Orthodox namun tak kunjung pula persatuan Gereja yang visible (terlihat) terwujud. Begitu pula dengan cita-cita ekumenis di kalangan protestanisme yang telah lama dicoba untuk diwujudkan namun persatuan gereja diantara mereka sendiri pun menjadi sesuatu yang sulit tercapai. Apakah yang sebenarnya terjadi ? Telah begitu keraskah hati para pemimpin ketiga Gereja ini untuk mencapai persatuan ? Adakah gerakan ekumenisme yang dimotori jemaat-jemaat protestan telah melempem dan tak terdengar lagi suaranya ? Lalu bagaimanakah seharusnya bentuk persatuan Gereja ini sehingga Tubuh Mistik Yesus Kristus dapat kembali lagi utuh dan Satu ? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini ada baiknya kita semua mendengar Sabda Allah yang berkarya melalui Roh Kudus kepada segenap jemaat di dunia ini.

Menuju Persatuan Gereja yang Visible dan Penuh

Persatuan Gereja yang sebenarnya urgent dilaksanakan sekarang ini adalah antara Timur dan Barat dimana Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja patriarkal Orthodox harus terlebih dahulu mengkonsolidasikan dirinya secara bersama-sama dengan penuh kerendahan hati dan semangat pembaharuan iman. Gereja-gereja Timur ini pun sebenarnya menyadari bahwa perpecahan Gereja sangat merugikan mereka sehingga mereka pun tidak dapat melakukan konsili ekumenis tanpa keikutsertaan Roma. Jelas sekali bahwa konsili ekumenis yang diakui adalah bersama-sama Roma yakni sejak Konsili Ekumenis ke-1 di Nicea thn 385 sampai Konsili Ekumenis ke-7 thn 787 di Nicea pula. Oleh sebab itu yang perlu disadari oleh segenap klerus dan umat awam adalah bahwa perpecahan gereja merupakan suatu dosa yang akibat ulah iblis Tubuh Kristus yang Satu itu mengalami “mutilasi” dan “pendarahan”. Kita secara kejam telah membiarkan Yesus untuk sekali lagi menderita secara mistik akibat perpecahan gereja ini. Salah satu tokoh Gereja Orthodox Indonesia bahkan pernah mengatakan kepada saya bahwa sebagai orang Kristen sebenarnya kita harus malu pada perpecahan gereja ini yang menurut Erwin Fahlbush, David Barret dkk dalam Encyclopedia of Christianity (Wm. B Eerdman Publishing Co, Desember 1998) berjumlah 33.800 denominasi protestan. Sebab kalau kita bandingkan dengan Islam, yang meskipun memiliki beberapa aliran yang berbeda-beda di dalamnya namun di seluruh dunia mereka hanya memiliki Satu mesjid saja. Di mana pun mereka sembahyang atau berdoa mereka tidak bingung memilih tempat karena mereka dapat datang ke mesjid mana pun. Dan bila kita sadari bahwa Yesus hanya memiliki satu jubah tanpa jahitan sehingga para serdadu Romawi tak kuasa untuk memotong-motongnya sehingga harus diundi maka kita akan semakin sedih bercampur galau melihat kekacauan yang kita buat sendiri demi egoisme masing-masing. Kita telah “menciptakan” Kristus menurut gambaran bahkan selera kita masing-masing. Gereja-gereja saat ini sudah banyak dihuni oleh figur-figur seperti Kain, Esau hingga Yudas Iskariot -yang penuh ambisi pribadi, memanfaatkan Gereja untuk menumpuk kekayaan- baik dari kalangan pemimpin maupun yang dipimpin. Sudah terlalu lama kita berpisah dan bahkan sering pula kita saling mengejek. Tak terkecuali Paus yang secara kasar sering digambarkan oleh beberapa sekte protestan sebagai kaki tangan setan. Kita membutuhkan pemimpin yang berhati seperti Habel dan Jacob yang jujur, rendah hati dan terbuka. Dan bila kita menghindari persatuan Gereja ini niscaya kita akan memakan buah yang kita tanam dan akan musnah. Maka kini saatnya kita semua menyadari betapa gawatnya “penderitaan” Kristus ini dan mulai membangun kehidupan baru yang dibimbing oleh Roh Kudus, Roh yang dapat mempersatukan kita semua dalam ikatan Kasih Kristus.

Enigma Persatuan Gereja dalam Perspektif Orthodoksi

Dalam wacana persatuan Gereja antara Timur dan Barat terdapat masalah mendasar antara Kristen Orthodox dengan Roma Katolik yang sering menimbulkan konflik apologetis yang berkepanjangan. Perbedaan itu ternyata bersumber masalah doktrin dan eklesiologi yang terangkum sebagai sebagai berikut :

1. Filioque

Si “Pengajar malaikat” St. Thomas Aquinas dalam Contra Errores Graecorum (1264) – Melawan Kesalahan Orang-orang Yunani membuktikan : apabila dikatakan bahwa Vicar Kristus yaitu, Uskup Roma, tidak memegang primasi dalam Gereja universal maka itu adalah suatu kesalahan yang bisa dianalogikan dengan penolakan Roh Kudus yang berasal dari Putra [1]. Selanjutnya Fr. Yves Congar, seorang teolog dominikan yang hebat mengomentari pernyataan Thomas Aquinas sebagai berikut : Telah diketahui bahwa teologi yang menolak prosesi kekal Roh Kudus dari sang Sabda cenderung meminimalkan bagian yang dimainkan oleh bentuk otoritas yang nyata dalam kehidupan aktual dan hal ini akan menimbulkan cara yang lebih terbuka terhadap inspirasi independen. Eklesiologi Gereja-gereja Orthodox memiliki kecenderungan “pneumatic” (Roh Kudus) yang jelas dan menolak ide otoritas Katolik yang nampaknya suka dengan legalisme2. Sehingga penolakan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra menimbulkan kebingungan akan adanya 2 prosessi (procession), sehingga dalam teorinya, unsur yang satu akan diserap di dalam unsur yang lainnya. Lanjut Aquinas, karena dalam kasus ini, sepanjang sejarah Kekristenan, kesalahan dalam iman “kelihatannya secara prinsipil akan cenderung, bahwa penolakan filioque akan menghilangkan martabat Kristus, yang dalam theologi Orthodox, prosesi sang Putra diserap oleh Roh Kudus. Penyerapan ini menjadi bukti yang jelas bahwa eklesiologi Orthodox yang mengacu pada misi ilahi yang dalam esensinya, memasukkan prosesi eternal dengan efek temporer. Dengan demikian, tidaklah heran bahwa dalam eklesiologi Orthodox perluasan misi mesianik Kristus yang visible dalam keberadaan Wakil-Nya (Vicar) yang visible diserap seluruhnya dalam misi Roh Kudus yang invisible seperti dasar persatuan Gereja3.

Persatuan Gereja yang Visible dalam Full Communion

Bentuk persatuan Gereja yang visible (terlihat jelas) dan penuh adalah persatuan sakramental- teologis yang dilandasi oleh Tradisi dan suksesi apostolik serta memiliki kepenuhannya (fullness) pada eucharistic communion atau eucharistic unity (persekutuan/kesatuan ekaristik) sebagai pusat atau jantung kehidupan Gereja. Tanpa menuju pada kesatuan ekaristik ini Gereja tidak akan hidup baik secara esensial maupun institusional. Esensi sakramen ekaristi terletak pada panunggalan atau bersatunya Kristus dalam diri kita melalui korban Roti dan Anggur yang secara substansial berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Sementara banyak dari kalangan jemaat protestan yang kurang memahami dan bahkan mengurangi makna dari tradisi sakramental ini. Diantara mereka bahkan memandang sakramen ekaristi ini hanya sebagai simbol iman yang tidak memiliki fungsi soterologis atau keselamatan. Maka tak heran bila dalam jemaat-jemaat protestan terdapat perbedaan waktu memberikan 2 (dua) rupa Roti dan Anggur dalam kebaktiannya. Sebagai contoh jemaat advent hanya 3 bulan sekali, bethel sebulan sekali hingga lutheran yang hanya 3 kali setahun. Secara institusional pun keberadaan sakramen ekaristi akan memperkuat “pondasi” Gereja berupa ketaatan dan kesetiaan pada Hukum Allah yang berupa Tradisi suci ini. Tanpa ada ketaatan dan kesetiaan ini maka akan mudah bagi iblis untuk menipu dan menjerat kita ke dalam perpecahan ini.

Persatuan Gereja pun harus menyentuh aspek teologis yang bertumpu pada ketujuh sakramen yang ada baik pada Gereja Katolik Roma maupun Orthodox. Tanpa ketujuh sakramen ini maka akan mustahil bagi umat protestan untuk dapat masuk ke dalam inti persatuan yang mendasarkan kepenuhannya pada Ekaristi Kudus. Sehingga melalui ketujuh sakramen ini pengakuan iman akan Kristus yang Satu dan Kudus menjadi lengkap. Bentuk konfesional ini pun akan membawa kita semua pada satu tujuan keselamatan yang sama dan visioner sebab bila terjadi pereduksian sakramen akan semakin menjauhkan kita dari pusat kehidupan beriman di dalam Gereja yaitu Ekaristi Suci. Keterbatasan protestan dalam hal dogma pun turut mempersulit kesatuan gereja ini. Terlalu banyaknya denominasi protestan (33.800) mengakibatkan diantara mereka sendiri kadang-kadang mengalami keterasingan. Dogma yang merupakan suatu ajaran resmi Gereja yang mengikat seluruh umat seperti Purgatory (Api Penyucian), Immaculate Conception (Maria Dikandung Tanpa Noda), Theotokos (Maria Bunda Allah), dan lain-lain, turut memberi andil untuk memperkuat iman dan relasi antara manusia dengan Allah. Begitu juga dengan Tradisi Gereja seperti penghormatan kepada orang Kudus, mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, yang membawa kita pada pengamalan kasih yang tak berkesudahan.

Hembusan Roh Kudus untuk mengilhami segenap umat Kristiani agar bersatu rupanya mulai dirasakan oleh beberapa tokoh protestan bahkan Paus sendiri. Pada tahun 1995 Paus mengeluarkan surat apostolik Orientale Lumen (Terang dari Timur) yang berisi ajakan Paus untuk kepada umat Katolik agar menggali terus-menerus kekayaan dan khasanah spiritualitas Timur serta menghimbau Gereja-gereja partikular untuk membantu perkembangan Gereja-gereja Orthodox yang kebetulan berada dalam wilayah keuskupan lokal. Sebelumnya pada tahun 25 Maret 1993, Dewan Kepausan untuk peningkatan persatuan umat Kristiani mengeluarkan directory (petunjuk) pelaksanaan dan norma-norma ekumenisme. Beranjak ke tahun 2002 tepatnya tanggal 21 Juni pada saat Uskup Agung Canterbury George L Carey dari Gereja Anglikan berkunjung ke Roma, beliau mengatakan kepada Paus : “Your great courage, wisdom and holiness of life have touched and inspired Christians throughout the world. Your invitation to church leaders and theologians to engage with you in a patient and fraternal dialogue about the Petrine ministry has made it possible for us to reflect on ways in which a Primacy of love and service could be a gift to share. While we are not yet in the full communion to which the Lord calls us, I rejoice in our shared baptismal faith and the growth in fellowship between our two churches”. Lalu pada tanggal 22 Agustus 2002 Tom Oden seorang ahli teologi dari Gereja United Methodist AS melalui tulisannya di situs “Catholic Exchange” mengatakan “I have predicted the imminent death of the “old ecumenism” that is centered around the failing structures of mainline Protestantism. Kemudian ia melanjutkan “An emerging new ecumenism will depend on theologically evangelicals, Roman Catholics and Eastern Orthodox who prefer ‘classic orthodox Christianity’ to left-wing politics”. Dan pada tanggal 17 November 2002 diadakan pertemuan antara Federasi Gereja-gereja Lutheran dengan Gereja Katolik di Vatican yang bertujuan untuk membicarakan full visible unity dengan Roma. Dan pada tanggal 12 Desember 2002 seorang Prof. Stephan Tobler -seorang ahli teologi dari gereja reformasi injili-dari Universitas Tubingen Jerman dalam rangka mengomentari Surat Apostolik Paus tentang “Rosarium Virginis Mariae” mengatakan “It is a letter of a spiritual and theological depth that I wasn’t expecting — a letter that breathes an evangelical dimension, which has very much surprised me. The letter says that it is necessary to relaunch the rosary as a Christological prayer. In fact, it does so, from the first to the last line”.

Dengan demikian dari berbagai uraian di atas maka sudah saatnya kita yang mengaku sebagai pengikut Kristus untuk segera mewujudkan persatuan Gereja menjadi terlihat dan penuh (full visible unity) dan marilah kita tinggalkan retorika-retorika persatuan yang hanya bersifat sloganistis yang dapat melelahkan Hati Yesus Yang Maha Kudus. Sudah jelas dari pemaparan di atas bahwa persatuan Gereja harus kembali kepada Roma sebagai penerus Tahta Petrus (Mat 16 : 18, Yoh 21 : 15 – 19, Kis 15 : 7 – 8). Persatuan tanpa gembala ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Atau pernahkah kita melihat ada kawanan domba tanpa gembala ? Paus adalah gembala Gereja dunia yang diberi tanggungjawab untuk menjaga domba-domba-Nya sampai Dia datang kembali dan Yesus adalah Gembala Sejati Gereja yang akan menyatukan seluruh umat manusia dalam Satu bahasa dan pemerintahan. Dan kita harus yakin bahwa Kitab Suci tidak pernah berbohong dan ketetapan Yesus yang memilih Petrus sebagai penerus Gereja-Nya di dunia haruslah kita hormati setulus-tulusnya. Dilihat secara hakekat kedua Gereja Katolik Roma dan Gereja-gereja Orthodox sebenarnya merupakan brethren Church atau Gereja yang bersaudara dan seangkatan serta memiliki Tradisi suci dan jabatan rasuli yang sama.. Memang ada beberapa masalah politis dan perbedaan penafsiran dalam beberapa doktrin seperti Infalibilitas (kebal salah) dan yurisdiksi Paus yang membuat kedua Gereja kita ini berpisah hampir seribu tahun lamanya sejak tahun 1054. Namun hendaknya hak utama atau yang dikenal sebagai primat Uskup Roma yang diperhalus dengan primus inter pares atau first among equals atau yang terutama namun sejajar (dengan Batrik lainnya) harus benar-benar dihormati dan diwujudkan oleh kedua induk Gereja ini. Untuk itu “papalisme phobia” yang secara implisit sering ditunjukkan oleh beberapa kalangan Orthodox maupun Protestan dalam melihat Tahta Petrus sebagai Vicar of Christ (wakil Kristus di dunia ini) haruslah dihilangkan sebab persatuan Gereja yang sedang dirintis oleh Paus Johanes Paulus II bukanlah meletakkan sosok pengganti Petrus ini dalam kekuasaan Gereja yang monarkis absolut namun lebih pada kepemimpinan yang inklusif dalam bingkai kasih, moral dan iman. Menurut Paus Johanes Paulus II, “usaha dan semangat ekumenis dari Gereja bersaudara yang berlandaskan pada dialog dan doa merupakan pencapaian terhadap total communion (persekutuan total) secara sempurna sehingga persatuan bukan merupakan bentuk ‘absorpsi (penyerapan) dan fusi (penggabungan)’ melainkan lebih pada sebuah perjumpaan dalam kebenaran dan kasih” (Slavorum Apostoli no.27). Dengan demikian Persatuan Gereja bukanlah suatu bentuk proselytism (mengajak orang pindah agama) seperti yang dikhawatirkan oleh Orthodox terhadap Gereja Katolik namun lebih pada kerjasama kasih yang tulus antara Gereja-gereja Timur dan Barat.

Pentingnya persatuan Timur dan Barat ini juga akan semakin menyempurnakan dua buah “paru-paru” Kristus yang berfungsi sebagai organ “pernafasan” yang membuat Gereja-Nya atau Tubuh-Nya akan dapat terus menerus bernafas dan bertahan hidup. Dalam rangka memulihkan Tubuh Kristus ini Allah menginginkan kerjasama dengan Gereja sehingga usaha awal persatuan Gereja antara Timur dan Barat harus dimulai dengan menyatukan Tanggal Paskah. Dengan menyatukan tanggal Paskah ini maka Luka-Luka Yesus akibat perpecahan ini akan mulai pulih dan bagian-bagian TubuhNya yang tercerai-berai akan berangsur-angsur menyatu kembali. Sementara sisanya kita serahkan kepada Yesus seperti kata orang bijak “do your best and God do the rest”. Dan suatu saat bila Roma dan Orthodox bersatu maka orang-orang Katolik dapat menerima Komuni Kudus di Gereja-gereja Orthodox dan sebaliknya demikian. Perlu diketahui bahwa sampai saat ini larangan bagi Gereja-gereja Orthodox untuk memberi roti dan anggur kepada umat non Orthodox tetap berlaku sementera Gereja Katolik sudah cukup lunak yang mana menurut hukum Kanon pasal 844 Gereja tidak melarang umat non Katolik seperti Orthodox dan Protestan untuk menerima komuni dalam Gereja Katolik asal mereka beritikad baik.

Di lain pihak semua umat protestan yang berada di bawah Lutheran dan mereka yang telah mengisolasi diri secara total harus kembali kepada Petrus (baca Paus). Sekali lagi ketetapan Yesus ini harus ditaati dengan jujur dan sudah saatnya kita pun menyingkirkan semua argumen yang sia-sia yang menyangkal kebenaran ini. Kalau semua umat beriman beserta pemimpin Gereja terutama protestan mengedepankan sikap kerendahan dan ketulusan hati maka kenyataan seperti ini bukanlah suatu hal yang impossible atau menyesakkan dada. Dan ini pula bukan suatu bentuk pemaksaan untuk mengakui supremasi Paus namun cara “kembali” seperti ini adalah perjuangan final yang didasari kasih bagi persatuan Gereja secara menyeluruh. Sebuah perjuangan yang menuntut kebesaran hati semua pihak yang menyadari bahwa perpecahan Gereja merupakan dosa atau malapetaka dan persatuan Gereja adalah jawaban bagi perwujudan karya spiritual yang paling mulia di mata Tuhan bagi terciptanya kerajaan Allah di bumi ini. Oleh sebab itu kita harus membutuhkan Rahmat Pengertian dari Allah untuk dapat menyadari bahwa perpecahan Gereja adalah suatu skandal besar umat Kristiani yang disebabkan ulah si jahat sehingga kita pun turut berdosa. Tak henti-hentinya pula kita meminta lagi Rahmat Kebijaksanaan agar melalui Rahmat ini kita memiliki semangat rekonsiliasi antar saudara sehingga kita semua dapat mewujudkan persatuan Gereja secara ikhlas. Dengan demikian domba-domba yang tercerai berai akan kembali berkumpul menjadi satu kawanan sehingga cita-cita seperti yang selalu diucapkan dalam pengakuan iman rasuli una sancta catholica apostolica ecclesia (Gereja, Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik) akan menjadi kenyataan serta doa Yesus kepada Bapa akan tergenapi (Yoh 17 : 20 – 23). Tuhan memberkati !


[1] Dikutip dari Yves Congar, The Mystery of Church (Baltimore:Helicon Press 1960), h.153

2 ibid, h.153

3 James Likoudis, Eastern Orthodoxy : Primacy and Reunion, The Catholic University America Press, 1966, h.104-116

Mewaspadai Ajaran Naturalisme, Reiki, dan New Age

Mewaspadai Ajaran Naturalisme, Reiki Kundalini dan New Age

(Sebuah Fenomena Pencarian Spiritual Yang Bertentangan dengan Ajaran Iman Kristen)

by Leonard T. Panjaitan

Akhir-akhir ini nampak begitu semarak di tengah masyarakat sebuah metode atau program “alternatif” yang cukup memikat kawula muda, eksekutif bahkan ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan semacam kursus-kursus meditasi, yoga hingga pengobatan alternatif cukup menarik perhatian beberapa kalangan baik sekedar ingin tahu maupun memperdalamnya sebagai jalan keluar dari problematika hidup atau mengatasi penyakit. Tak ketinggalan pula media massa turut meramaikan fenomena ini melalui ruang-ruang iklan yang terpampang di halaman-halaman surat khabar agar mengunjungi “ahli-ahli” yang bergelar “kiai”, “ki” yang dapat membantu anda sukses dalam berumah-tangga, berkarir, berdagang hingga mengatasi berbagai keluhan penyakit sampai guna-guna sekali pun. Seakan belum cukup, televisi-televisi nasional saling berlomba menayangkan acara-acara mistis nan menyeramkan yang justru meningkatkan rating mereka.

Bila kita perhatikan secara seksama fenomena-fenomena seperti itu apakah gerangan yang terjadi di masyarakat kita bahkan mungkin di dunia ? Apakah ini gejala-gejala kebosanan atau pun pemberontakan terhadap nilai-nilai moral dan agama yang dianut oleh sebagian besar komunitas kita ini ? Sebagai umat beriman khususnya Katolik saya mencoba mengajak masyarakat untuk mengamati secara jelas dan jernih metode-metode atau teknik-teknik “alternatif” yang disodorkan oleh jaman ini dari kaca mata ajaran-ajaran Katolik. Sejauh yang saya amati, fenomena-fenomena yang sedang “ngetrend” ini merupakan buah-buah dari Naturalisme dan ajaran-ajaran New Age. Untuk lebih jelasnya maka saya jabarkan sebagai berikut :

Naturalisme

Naturalisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa alam (nature) sebagai satu-satunya sumber yang asli dan fundamental dari segala sesuatu yang ada dan dengan segala cara paham ini menjelaskan semua kejadian (event) dalam bingkai alam (lih catholic encyclopedia di newadvent.org). Tetapi istilah alam (nature) atau alamiah (natural) bukan merupakan istilah yang digunakan dalam satu pengertian saja namun dalam prakteknya dewasa ini, naturalisme mengarah kepada penolakan akan eksistensi Allah sebagai sumber ilahi atau transenden yang menjadi sebab pertama dari segala sesuatu. Ajaran ini menyatakan bahwa hukum-hukum yang mengatur kegiatan dan perkembangan kehidupan baik yang bersifat rasional maupun irasional tidak pernah saling mencampuri. Ajaran ini pun menolak fakta atau kemungkinan intervensi ilahi atau transendental terhadap kehidupan manusia.

Perkembangan naturalisme di jaman ini cukup menarik perhatian generasi muda apalagi di saat masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia mengalami dekadensi iman dan moral sehingga naturalisme mendapat tempat yang layak bagi mereka yang sedang mencari “pencerahan” baru untuk keluar dari multi krisis ini. Naturalisme yang mengingkari Kemahakuasaan Allah menjelma melalui berbagai macam seni beladiri dan pernapasan yang sudah berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Aliran-aliran di Indonesia seperti merpati putih, reiki kundalini, panca daya, satria nusantara, sekte druids, wicca di Eropa adalah manifestasi naturalisme yang bertumpu pada energi alam dan inner power (kekuatan dalam manusia) yang diproses menjadi sumber kekuatan fisik manusia dalam teknik-teknik latihan yang teratur. Energi alam atau tubuh itu kemudian diatur dalam pernapasan tubuh lalu dioptimalkan sedemikian rupa melalui berbagai gerakan atau olah tubuh sehingga menghasilkan kekuatan untuk melumpuhkan lawan atau menyembuhkan beragam penyakit.

Reiki Kundalini

Kaum reikis (saya menyebutnya demikian) mengenal aliran ini sebagai energi universal yang merupakan bentuk penyembuhan lewat kekuatan alam (natural force). Dalam mistik Cina kuno, penggunaan kekuatan alam ini dinamakan Chi. Bentuk-bentuk penyembuhan melalui energi Chi antara lain : Chi Gong, Pranic Healing (Penyembuhan Prana), Chelation dan Polarity Balancing (Keseimbangan Polaris). Teknik penyembuhan reiki sangat sederhana, yakni sang praktisi reiki menempatkan tangannya di atas pasien. Lalu sang reikis menanamkan sugesti kepada pasien agar ada keinginan sembuh yang kuat. Setelah itu energi muncul dari sang reikis dan mengalir ke seluruh tubuh pasien. Bagi kaum reikis, Energi reiki ini cukup cerdas mengingat pakemnya adalah Alam Semesta (Universe) yang merupakan tempat yang cerdas untuk didayagunakan. Energi ini seolah bisa bergerak otomatis ke tempat yang dituju di tubuh pasien serta bisa melakukan apa saja yang patut dilakukan pada bagian-bagian tubuh pasien. Di samping itu energi ini bisa dipandu oleh praktisi yang memiliki intelegensia yang lebih tinggi (higher intelligence). Energi ini bisa mengatur dirinya sendiri, dan bisa keluar dari sang praktisi/penyembuh sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien. Semua pergerakan energi ini seolah-olah tanpa disadari betul oleh sang penyembuh reiki. Tugas sang penyembuh ini adalah memberikan jalan keluar, menjaga ruang penyembuhan tetap terbuka luas dan memperhatikan atau mendengarkan tanda-tanda hingga tahap penyembuhan berikutnya.

Di banyak Negara termasuk Indonesia, teknik yang dipakai adalah Usui System of Natural Healing yang ditemukan oleh Dr Mikao Usui awal tahun 1900. Sang “gembala” reiki ini berasal dari Jepang yang sebutannya Grand Master Usui. Kemudian ada pula istilah kundalini yang berarti healing channel (saluran penyembuhan) dan cakra yang telah dibuka sehingga kita dapat mendapatkan akses ke energi bumi. Sekali lagi Aliran reiki merupakan suatu teknik metafisik yang membantu manusia mengatasi penyakit fisik maupun psikologis.

Bila diamati secara seksama maka buah-buah naturalisme dan reiki menekankan pada self realization (kesadaran diri sendiri) sebagai sebuah sistem energi baik yang memanfaatkan alam sekitar maupun individual yang berfungsi untuk menyembuhkan tubuh, pikiran dan jiwa. Akhirnya teknik-teknik self realization ini bila tidak diwaspadai akan mengarah pada suatu spiritual enlightenment (pencerahan spiritual) yang menggantikan peranan iman, harapan dan kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa sebagai satu-satunya sumber kekuatan, kebijaksanaan, kebaikan dan penyembuhan. Anehnya aliran reiki ini sudah memasuki beberapa Gereja Katolik sebagai sebuah kursus atau pelatihan “spiritual”. Bahkan menjelang hari Paskah lalu, di Gereja kita yang Kudus, St. Herkulanus Depok, beberapa oknum pengurus Dewan Paroki secara sembrono mengijinkan praktek reiki digelar. Sungguh memprihatinkan, sekaligus memalukan !!!

Energi Allah Vs Energi Universal

Dalam kesempatan yang terbatas ini, saya mencoba sekilas untuk menerangkan tentang masalah energi dalam kaitannya dengan tulisan saya ini (khusus masalah energi ini, secara detail akan saya jelaskan kemudian dalam tulisan yang terpisah termasuk debat teologis diantara Bapa Gereja masa dulu). Dalam Tritunggal MahaKudus terdapat pribadi-pribadi Allah yang memiliki hubungan yang unik atau disebut hypostasis, yakni pribadi Bapa, pribadi Putra dan pribadi Roh Kudus. Walaupun Trinitas merupakan kesatuan dalam ketiga pribadi Allah namun sesungguhnya mereka tidak saling bercampur. Mereka bisa saling membedakan diri meski ketiga-tiganya adalah satu esensi. Dalam kaitannya dengan energi, yang berasal dari kata enérgeia (Yun) – berarti operasi, aktualitas, kerja – Tritunggal Maha Kudus memiliki energi yang keluar dari ketiga pribadi Allah. Namun energi dimaksud bukanlah pribadi Allah dan bukan juga esensi Allah. Sebagai contoh, pohon-pohon bisa tumbuh itu karena ada energi Allah yang menggerakkannya. Bintang-bintang di langit bersinar karena ada energi Allah yang menyinarinya. Dalam kitab suci, ada kisah ketika seorang perempuan yang mengalami pendarahan akhirnya sembuh ketika menyentuh jubah Yesus. Inilah energi yang keluar dari Yesus (Mrk 5 :25-34). Selain itu, energi Allah juga nampak ketika orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat (Kis 19:12).

Terma atau istilah energi inilah yang banyak dipakai secara tidak proporsional oleh kaum reikis, new age, naturalis dalam teknik-teknik spiritual mereka. Energi yang diklaim oleh reikis, new ager, dan naturalis bukanlah energi spiritual yang sama dengan pribadi Allah melainkan energi natural/material yang bersifat universal. Kita tahu materi tidak bisa menggerakan dirinya sendiri, apalagi sampai menyembuhkan. Jadi diperlukan kekuatan lain untuk unjuk gigi. Kekuatan apakah ? Kekuatan demonik alias iblis. Si jahat mampu mengeluarkan energi yang ada dalam alam semesta ini. Mengapa demikian ? Sebab, Setan diberi kuasa juga untuk melakukan sesuatu, yakni dengan mujizat-mujizat palsunya. Ciri khas antara energi Allah yang menyembuhkan dengan energi setan yang menyesatkan adalah :

Ø Allah menyembuhan penyakit secara komplit. Dia tidak perlu menggunakan medium atau perantara/penyalur berupa seorang master. Dalam aksinya, Yesus tidak semata-mata meng-improve kesehatan si pasien dan tidak pula menganjurkan orang itu untuk memperhatikan aksi dan teknik penyembuhan yang dilakukanNya. Sebaliknya, ketika orang itu sembuh maka yang terjadi adalah muzijat yang permanen dan otentik plus gratis. Ini semua adalah rahmat/anugerah yang adiluhung.

Ø Setan bertindak atas dasar permintaan orang. Dan ini tentu bukan cara Roh Kudus. Tindakan penyembuhan yang dilakukan Allah bukan melalui penyaluran tenaga/energi kepada si pasien namun dengan cara-cara diskrit, ajaib dan misterius. Tidak ada cara apa pun sehingga orang bisa memaksa tangan Tuhan untuk menggunakan media atau fasilitas “pembangkit” energi. Allah itu berkuasa, berdaulat penuh dan Dia bergerak sesuai dengan kehendakNya. Hanya dengan berdoa maka yang sakit bisa disembuhkan, bukan dengan menggunakan energi-energi asing. Biarkanlah cara misterius Allah dalam bekerja/berkarya ini tetap menjadi misterius, jangan kita berusaha merasionalkanNya dengan pola-pola atau teknik-teknik seperti prana, reiki cs.

New Age

Menurut dokumen Vatikan yang berjudul “Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian Reflection on the ‘New Age’ dan dikeluarkan tanggal 3 Februari 2003 menyatakan bahwa New Age bukan suatu gerakan religius baru (new religious movement) dan bukan pula bentuk “cult” (pemujaan) atau “sekte” karena ajaran new age tersebar dalam berbagai budaya serta dapat dijumpai melalui musik, film, seminar, workshop, retret, terapi dan kegiatan-kegiatan atau event lainnya. Sifat aliran ini informal, uniform, serta memiliki jaringan yang lepas. Ajaran new age mengajarkan kosmos dipandang sebagai keseluruhan organis yang digerakkan oleh energi dan diidentifikasikan sebagai divine soul atau spirit (jiwa atau roh ilahi), inti ajarannya terlihat dalam kesatuan meditasi spiritual dimana manusia mampu mencapai keadaan yang lebih tinggi dan tak terlihat, serta dapat mengontrol diri sendiri di luar kematiannya. Mereka memberontak terhadap nilai-nilai moral, etis Gereja yang esoteris dan formal. Mereka menolak kemapanan Gereja yang tradisional yang menurut mereka sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan budaya kontemporer masa kini. New Age tumbuh dalam alam modernisme yang rasionalistik.

Meski sangat modernis, mereka masih meninggalkan sisi spiritualitas yang bersumber dari nilai-nilai Timur yakni filosofi + pengobatan ala Tibet, Cina, dan India; budha dan hindu. Nilai-nilai kekristenan bagi mereka sudah tidak berlaku lagi. Adpertensi/iklan yang berhubungan dengan New Age meliputi rentang praktek yang luas seperti akupuntur, biofeedback, chiropractic, kinesiology, homeopathy, iridology, pijat/massage, dan bermacam-macam “bodywork” atau olah tubuh (seperti orgonomy, Feldenkrais, reflexology, rolfing, pijat polaritas/polarity, sentuhan therapeutic dll), meditasi dan visualisasi, terapi nutrisi, penyembuhan fisik, aneka ragam pengobatan verbal, penyembuhan dengan kristal, logam, musik atau warna-warni, terapi-terapi reinkarnasi dan akhirnya program duabelas langkah dan kelompok pertolongan sendiri/self help groups[1]. Sumber penyembuhan dikatakan berada di dalam diri kita sendiri, sesuatu yang kita capai ketika kita berhubungan dengan energi inti atau energi kosmis.

Penganut ajaran new age memiliki perennial knowledge (pengetahuan kekal) yang mendahului dan berada di atas semua agama dan kebudayaan. Tujuan utama New Age adalah menjadi agama universal. Dan para new ager mengikuti pemimpin mereka yang berjuluk enlightened master. Paham new age tidak mengenal konsep dosa, yang ada hanya ketidaktahuan atau ketidakmampuan manusia mencapai pengetahuan tertinggi. Keselamatan berasal dari diri sendiri (the salvation of the self), yang dengan demikian menyangkal inti ajaran Kristen bahwa keselamatan adalah semata-mata sebuah Anugerah dari Sang Juru yakni Yesus Kristus.

Dari uraian sekilas di atas kita bisa menilai bahwa secara esensial aliran new age ini tidak berbeda dengan naturalisme yang bertitik tolak pada kebenaran di luar yang imanen atau ilahi yaitu Allah sebagai pencipta tunggal alam semesta ini. Di lain pihak aliran-aliran seperti reiki kundalini, dan pengobatan-pengobatan metafisik lainnya tak tertutup kemungkinan masuk dalam kategori new age ini. Dalam new age, ada istilah vibration yakni suatu ekspresi getaran dari tingkat rendah (low) atau padat (dense) dari dunia fisik ke tingkat yang lebih tinggi dari dunia spiritual. Ini menyerupai konsep reiki.

Naturalisme, Reiki dan New Age : Bentuk De-kristenisasi baru yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik

“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya : memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” (Matius 18 : 7). Dimanakah letak penyimpangan dari ketiga aliran atau pemahaman di atas terhadap ajaran Injil atau Gereja Katolik ?

  1. Paham-paham tersebut menyangkal secara eksplisit Ke-MahaKuasa-an Allah yang memiliki Kehendak Suci atau Takdir Ilahi. Kekuatan natural/alam dijadikan satu-satunya sumber yang transenden atau ilahi. Padahal satu-satunya sumber kekuatan dan kesembuhan adalah Yesus Kristus sebagai Penyelamat manusia. Dia yang adalah Anak Allah memiliki Kekuatan Supranatural yang melebihi segala-galanya. Dalam Dia sudah tercukupi segala-galanya.
  2. Mengagungkan atau mengkultuskan energi universal sebagai roh penyembuh atau getaran tingkat tinggi yang bisa menyembuhkan segala sesuatu. Memang sesaat reiki bisa menyembuhkan namun ini bersifat temporer dan manipulatif. Kesembuhannya membawa jebakan yakni kesengsaraan di masa datang baik fisik maupun mental.
  3. Tidak ada pengajaran akan Firman Allah yang terdapat dalam Injil. Pun tidak pernah keluar atau setidak-tidaknya diajarkan secara benar dan tepat dari mulut sang master reikis atau new age. Tidak ada doa-doa yang ditujukan kepada salah satu pribadi Tritunggal Maha Kudus. Mereka memiliki mantra-mantra yang tersembunyi, terselebung sejak ditemukannya paham-paham ini. Suatu doktrin menyesatkan di bawah alam sadar mereka.
  4. Manusia mengingkari dirinya sebagai mahluk ciptaan yang diciptakan oleh Allah berdasarkan CitraNya. Melalui paham-paham tersebut, manusia sudah melepaskan ketergantungan sepenuhnya dari Allah. Kalaupun ada bentuk keterlibatan Allah, itu hanya bagian kecil saja dan sangat bias. Di sini Allah tidak mendapatkan tempat yang paling dominan dan benar. Dengan demikian orang Kristen diarahkan untuk tidak percaya pada pada tubuh dan darahNya (Dan 11:31-39; Why 13 :14-18; Why 21:1-27)
  5. Cara-cara atau metode naturalisme, reiki, dan new age adalah bentuk dekristenisasi baru yang menjauhkan manusia dari keterlibatan langsung Allah dalam karya keselamatan manusia. Manusia bisa selamat karena adanya interaksi dengan alam kosmos atau kosmis, pendayagunaan energi alam semesta melalui teknik metafisik atau pencerahan dari para master reiki atau master new age. Lagipula dalam Tradisi Gereja maupun Kitab Suci tidak pernah diajarkan tentang ajaran reiki, prana, new age dan konco-konconya. Ini semua adalah produk duniawi yang menyimpang dari jalan kebenaran.
  6. Kaum reiki, naturalis dan new age takut atau tidak tahan untuk hidup menderita dan sakit-sakitan secara fisik. Padahal seperti yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam beberapa ensikliknya, ada hikmah dibalik berbagai penyakit dan penderitaan manusia, yakni semangat untuk berkorban/silih demi keselamatan orang lain. Jadi penderitaan bukan sesuatu yang harus cepat-cepat disembuhkan dengan berbagai macam cara hingga merusak tatanan iman Kristen.

Allah Sumber Segala Kekuatan dan Kesembuhan

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7 : 24-27)”.

Merujuk pada kutipan ayat suci di atas maka sebagai umat Katolik yang sudah dibaptis, menerima krisma serta komuni pertama maka untuk mengantisipasi penyesatan-penyesatan dalam berbagai macam aliran dan paham adalah sebagai berikut :

  1. Dalam iman Katolik, kekuatan Allah yang paling hebat dan tak tertandingi adalah Ekaristi atau Komuni Kudus. Hosti kecil yang sering kita makan setiap minggu adalah inti Gereja yang memiliki kuasa penyembuhan dan kuasa untuk meningkatkan iman setiap insan Katolik. Dengan pengorbanan Kristus di salib, kekuatan setan sudah dikalahkan. Dengan demikian Ekaristi yang adalah memori akan korban Kristus benar-benar memiliki kekuatan maha dashyat yang jauh melebihi kekuatan dunia bila kita percaya sepenuh-penuhnya. Hanya pada ekaristi suci dan dengan iman penuh/bulat (bukan setengah percaya Kritus, setengah percaya yang bukan Kristus alias dualisme kepercayaan) maka apa yang terasa sakit dan pahit dalam hidup ini menjadi sehat dan manis di dalam Tuhan. Ingat saudara/i-ku, Allah itu pencemburu. Ingatlah 10 perintah Allah terutama yang nomor 1 sampai 3.
  2. Di samping itu, ada salah satu jalan atau cara penyembuhan yang paling mujarab yang sesuai dengan koridor iman Kristiani yakni pembaruan karismatik. Melalui karunia-karunia Roh Kudus yang jumlahnya kurang lebih 7 (tujuh) buah – diantaranya karunia berbahasa Roh, mengartikan bahasa Roh, penyembuhan, eksorsisme (pengusiran setan) dan sebagainya – sudah seharusnya umat mengambil bagian secara aktif. Bukankah Yesus itu adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6) ? Apakah pembaruan karismatik yang adalah anugerah besar Gereja masih tidak cukup untuk memberikan kesembuhan bagi yang sakit, menguatkan iman yang rapuh ? Apalagi yang perlu kita sangsikan pada iman kita dalam Kristus ? Namun sayang, masih banyak di kalangan Gereja mulai dari imam sampai awam yang sinis, apatis terhadap pembaruan Karismatik dan anehnya lagi produk-produk duniawi seperti reiki dan konco-konconya lebih cepat mendapat sambutan hangat daripada ikut misa karismatik atau misa regular lainnya. Malahan umat bersemangat datang untuk merasakan penyembuhan ala reiki. Namun demikian, Saudara-saudara, meminjam istilah Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI ketika mereka dilantik menjadi penerus Santo Petrus, jangan takut ! Semua pergumulan, kesulitan, kekhawatiran, bahkan penyakit , serahkanlah itu semua dalam Gereja dan melalui Gereja. Sebab Gerejalah kerajaan di bumi ini !!!
  3. Cara-cara yang dipakai oleh naturalisme, reiki, prana, new age adalah sinkretisme. Ini berbahaya buat umat Kristiani yang terombang-ambing diantara paham-paham sekuler masa kini. Merujuk pada khotbah Paus Benediktus XVI menjelang konklaf, “Selama 20 tahun terakhir Gereja Katolik menghadapi berbagai ajaran baru. Berbagai pemikiran-pemikiran kecil seperti diombang-ambingkan oleh gelombang pemikiran besar. Dan manusia yang ada di tengah-tengah gelombang itu ada dalam tarik-menarik pemikiran atau ajaran ke arah marxisme sampai liberalisme, bahkan libertinisme. Manusia diombang-ambingkan dari pengaruh kolektivisme ke individualisme radikal, dari ateisme ke mistik religius yang sering kali ekstrem dan aneh, dari agnotisisme ke sinkretisme. Bahkan, kita juga mengalami setiap hari muncul sekte-sekte baru. Dan Gereja Katolik juga ikut tertempa berbagai arus pemikiran itu. Tetapi, lalu muncul pemikiran dari mereka, memiliki iman yang kuat menurut kepercayaan Gereja Katolik sering kali dicap sebagai fundamentalisme. Begitu besarnya pengaruh pemikiran-pemikiran baru itu, lanjutnya, sehingga relativisme, individualisme sering kali digunakan sebagai sarana untuk mengukur kepercayaan seseorang. Sebagai orang Katolik, kita mempunyai tolok ukur tersendiri, yaitu Yesus Kristus. Dialah yang menjadi ukuran kemanusiaan sejati. Menjadi dewasa dalam iman tidak berarti harus mengikuti gelombang mode dan pemikiran-pemikiran baru yang bermunculan. Bagi kita, menjadi dewasa dalam iman adalah makin kukuhnya akar pada persahabatan dengan Kristus. Persahabatan dengan Kristus itu membuka kita semua pada apa yang baik dan memberikan kepada kita kriteria untuk menentukan yang benar dari yang salah, yang mengecoh dengan yang berdasar kebenaran sejati” [2]. Selain itu, merujuk Deklarasi “Dominus Iesus” (Yesus Tuhan) yang dikeluarkan oleh Joseph Kardinal Ratzinger sebagai Prefect Konggregasi Ajaran Iman tanggal 6 Agustus 2000, Gereja menegaskan bahwa konsep pluralisme – yang mensejajarkan Yesus dengan ajaran-ajaran agama-agama lain beserta masing-masing sokogurunya- sangat bertentangan dengan doktrin dan iman Katolik. Deklarasi itu juga mengajarkan bahwa iman Kristiani itu unik, memiliki unisitas yang mutlak dan membawa keselamatan kekal untuk semua orang. Oleh sebab itu ajaran Kristen berada di atas ajaran agama lainnya sebab Yesus adalah satu-satunya (the only one) Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Dialog antar agama jelas diperlukan dan mereka yang terlibat di dalamnya sudah seharusnya duduk sederajat namun diingatkan bahwa dalam hal isi, makna dan ajaran iman, maka agama Kristen berada di atas agama-agama lainnya.

5. Orang yang beriman kepada Kristus adalah ibarat kanvas kosong yang setiap saat bisa dilukis oleh Allah melalui hati dan pikiran kita. Kalau dalam diri kita sudah masuk unsur-unsur, energi-energi asing yang adalah lawan dari Dia yang Menyelamatkan, maka bagaimana mungkin Roh Kudus dapat bertahta dalam hati dan pikiran kita ? Kalau Roh Kudus tidak ada dalam diri kita, bagaimana mungkin kita bisa tenang dan merasakan damai-suka cita ? Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kerajaan surga ? Di samping itu, mereka yang terseret dengan paham-paham diabolik di atas namun tetap berani untuk menerima komuni pertama, bukankah Saudara/i-ku malah mencederai tubuh Kristus ? Jadi tak ada gunanya Saudara/i untuk menerima komuni selain berbuat dosa. Hai Saudara/i-ku, Di luar Kristus yang ada hanya sengsara dan malapetaka.

  1. Keselamatan adalah semata-mata anugerah Allah. Untuk mencapai taraf keselamatan, yang bisa kita lakukan adalah : hidup dalam iman benar, hanya berpengharapan pada Yesus, mengamalkan kasih Kristus kepada sesama. Bagi saudara/i-ku yang pernah dan masih berkecimpung dalam dunia naturalisme, reiki dan new age, bertobatlah ! Kembalilah kepada Yesus, bergantunglah sepenuhnya kepada Dia Yang Maha Rahim. Kalian hanya korban ketidaktahuan akibat kelaliman setan yang dengan liciknya memaksakan paham-paham kesesatan untuk menjauhkan kalian dari Tritunggal Maha Kudus. Strategi utama setan di masa kini adalah meyakinkan kita semua, anak-anak Tuhan, bahwa setan itu sungguh tidak ada. Mintalah maka kamu akan diberikan, mintalah Roh Kudus (Roh Kudus pembeda – discernment Spirit) untuk membedakan tangan kiri dengan tangan kanan. Amin



[1] Wouter J. Hanegraaff, New Age Religion and Western Culture. Esotericism in the Mirror of Secular Thought, Leiden-New York-Köln (Brill) 1996, Bab 15 (“The Mirror of Secular Thought”).

[2] Kompas tanggal 19 April 2005, Berita Utama Konklaf Dimulai Tanpa Hiruk-pikuk Kampanye, hal 1

Melawan Naturalisme dan New Age

Mewaspadai Pengaruh Naturalisme dan New Age

– Tanggapan atas maraknya pengajaran reiki kundalini

Akhir-akhir ini nampak begitu semarak di tengah masyarakat sebuah metode atau program “alternatif” yang cukup memikat kawula muda, eksekutif bahkan ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan semacam kursus-kursus meditasi, yoga hingga pengobatan alternatif cukup menarik perhatian beberapa kalangan baik sekedar ingin tahu maupun memperdalamnya sebagai jalan keluar dari problematika hidup atau mengatasi penyakit. Tak ketinggalan pula media massa turut meramaikan fenomena ini melalui ruang-ruang iklan yang terpampang di halaman-halaman surat khabar agar mengunjungi “ahli-ahli” yang bergelar “kiai”, “ki” yang dapat membantu anda sukses dalam berumah-tangga, berkarir, berdagang hingga mengatasi berbagai keluhan penyakit sampai guna-guna sekali pun. Seakan belum cukup, televisi-televisi nasional saling berlomba menayangkan acara-acara mistis nan menyeramkan yang justru meningkatkan rating mereka.

Bila kita perhatikan secara seksama fenomena-fenomena seperti itu apakah gerangan yang terjadi di masyarakat kita bahkan mungkin di dunia ? Apakah ini gejala-gejala kebosanan atau pun pemberontakan terhadap nilai-nilai moral dan agama yang dianut oleh sebagian besar komunitas kita ini ? Sebagai umat beriman khususnya Katolik saya mencoba mengajak masyarakat untuk mengamati secara jelas dan jernih metode-metode atau teknik-teknik “alternatif” yang disodorkan oleh jaman ini dari kaca mata ajaran-ajaran Katolik. Sejauh yang saya amati, fenomena-fenomena yang sedang “ngetrend” ini merupakan buah-buah dari Naturalisme dan ajaran-ajaran New Age. Untuk lebih jelasnya maka saya jabarkan sebagai berikut :

Naturalisme

Naturalisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa alam (nature) sebagai satu-satunya sumber yang asli dan fundamental dari segala sesuatu yang ada dan dengan segala cara paham ini menjelaskan semua kejadian (event) dalam bingkai alam (lih catholic encyclopedia di newadvent.org). Tetapi istilah alam (nature) atau alamiah (natural) bukan merupakan istilah yang digunakan dalam satu pengertian saja namun dalam prakteknya dewasa ini, naturalisme mengarah kepada penolakan akan eksistensi Allah sebagai sumber ilahi atau transenden yang menjadi sebab pertama dari segala sesuatu. Ajaran ini menyatakan bahwa hukum-hukum yang mengatur kegiatan dan perkembangan kehidupan baik yang bersifat rasional maupun irasional tidak pernah saling mencampuri. Ajaran ini pun menolak fakta atau kemungkinan intervensi ilahi atau transendental terhadap kehidupan manusia.

Perkembangan naturalisme di jaman ini cukup menarik perhatian generasi muda apalagi di saat masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia mengalami dekadensi iman dan moral sehingga naturalisme mendapat tempat yang layak bagi mereka yang sedang mencari “pencerahan” baru untuk keluar dari multi krisis ini. Naturalisme yang mengingkari Kemahakuasaan Allah menjelma melalui berbagai macam seni beladiri dan pernapasan yang sudah berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Aliran-aliran di Indonesia seperti merpati putih, reiki kundalini, panca daya, satria nusantara, sekte druids, wicca di Eropa adalah manifestasi naturalisme yang bertumpu pada energi alam dan inner power (kekuatan dalam manusia) yang diproses menjadi sumber kekuatan fisik manusia dalam teknik-teknik latihan yang teratur. Energi alam atau tubuh itu kemudian diatur dalam pernapasan tubuh lalu dioptimalkan sedemikian rupa melalui berbagai gerakan atau olah tubuh sehingga menghasilkan kekuatan untuk melumpuhkan lawan atau musuh. Olah pernapasan dalam meditasi yang diperagakan oleh aliran reiki kundalini (berasal dari Tibet dan ditemukan kembali oleh Master Usui dari Jepang sekitar awal 1900) diyakini pula dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kundalini yang berarti healing channel (saluran penyembuhan) dan cakra yang telah dibuka sehingga kita dapat mendapatkan akses ke energi bumi. Aliran reiki ini yang juga mengandalkan chi nampaknya merupakan suatu teknik metafisik yang membantu manusia mengatasi penyakit fisik maupun psikologis.

Sekali lagi bila diamati secara seksama maka buah-buah naturalisme yang berasal dari aliran-aliran di atas menekankan pada self realization (kesadaran diri sendiri) sebagai sebuah sistem energi baik yang memanfaatkan alam sekitar maupun individual yang berfungsi untuk menyembuhkan tubuh, pikiran dan jiwa. Akhirnya teknik-teknik self realization ini bila tidak diwaspadai akan mengarah pada suatu spiritual enlightenment (pencerahan spiritual) yang menggantikan peranan iman, harapan dan kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa sebagai satu-satunya sumber kekuatan, kebijaksaanan, kebaikan dan penyembuhan. Anehnya aliran reiki ini disinyalir sudah memasuki beberapa Gereja Katolik sebagai sebuah kursus atau pelatihan “spiritual”.

New Age

Menurut dokumen Vatikan yang berjudul “Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian Reflection on the ‘New Age’ dan dikeluarkan tanggal 3 Februari 2003 menyatakan bahwa New Age bukan suatu gerakan religius baru (new religious movement) dan bukan pula bentuk “cult” (pemujaan) atau “sekte” karena ajaran new age tersebar dalam berbagai budaya serta dapat dijumpai melalui musik, film, seminar, workshop, retret, terapi dan kegiatan-kegiatan atau event lainnya. Sifat aliran ini informal, uniform, serta memiliki jaringan yang lepas. Ajaran new age mengajarkan kosmos dipandang sebagai keseluruhan organis yang digerakkan oleh energi dan diidentifikasikan sebagai divine soul atau spirit (jiwa atau roh ilahi), inti ajarannya terlihat dalam kesatuan meditasi spiritual dimana manusia mampu mencapai keadaan yang lebih tinggi dan tak terlihat, serta dapat mengontrol diri sendiri di luar kematiannya. Kemudian penganut ajaran new age memiliki perennial knowledge (pengetahuan kekal) yang mendahului dan berada di atas semua agama dan kebudayaan. Dan para penganut new age mengikuti pemimpin mereka yang berjuluk enlightened master. Paham new age tidak mengenal konsep dosa, yang ada hanya ketidaktahuan atau ketidakmampuan manusia mencapai pengetahuan tertinggi. Keselamatan berasal dari diri sendiri, yang dengan demikian menyangkal inti ajaran Kristen bahwa keselamatan adalah semata-mata sebuah Anugerah dari Sang Juru yakni Yesus Kristus.

Dari uraian sekilas di atas kita bisa menilai bahwa secara esensial aliran new age ini tidak berbeda dengan naturalisme yang bertitik tolak pada kebenaran di luar yang imanen atau ilahi yaitu Allah sebagai pencipta tunggal alam semesta ini. Di lain pihak aliran-aliran seperti reiki kundalini, dan pengobatan-pengobatan metafisik lainnya tak tertutup kemungkinan masuk dalam kategori new age ini. Dalam new age, ada istilah vibration yakni suatu ekspresi getaran dari tingkat rendah (low) atau padat (dense) dari dunia fisik ke tingkat yang lebih tinggi dari dunia spiritual. Ini menyerupai konsep reiki.

Benang Merah

Dunia sekarang sedang berada di bawah pengaruh asap setan bahkan asap ini ikut masuk ke dalam Gereja. Hanya Roh Kudus Sang Pemberi Kehidupan saja-lah kita bisa berharap dan mengandalkan bukan kepada kekuatan individual atau energi-energi universal yang memberi kita kekuatan atau pencerahan. Apa yang dilakukan oleh sekte-sekte atau aliran-aliran tadi hanya menjadikan kita korban tipuan dari si setan dan para pengikutnya. Jangan mudah kita tertipu oleh suatu teknik-teknik metafisik melalui meditasi-meditasi yang nampaknya mengesankan namun penuh jebakan. Dalam ajaran kristiani, pusat meditasi kita terletak pada dan di dalam Kristus saja bukan melalui interaksi dengan alam material. Oleh karena itu hendaklah kita jangan bersandar pada kekuatan manusia atau alam untuk mengatasi problematika hidup termasuk penyakit melainkan pada Rahmat, Kasih dan Damai Allah sehingga kita beroleh keselamatan.

Oleh sebab itu segenap umat beriman khususnya Katolik harus mewaspadai pengaruh dari ajaran-ajaran naturalisme, new age yang menyangkal Kemahakuasaan Allah serta mengesampingkan keterlibatan aktif Tuhan Yesus dalam karya keselataman kekal. Telah dikatakan bahwa pada suatu saat si setan dengan kekerasan akan merecoki manusia dengan rasionalisme dan pada saat lain dengan naturalisme karena bertujuan menghapuskan dan mematikan sisa cahaya kecil yang masih tertinggal dalam diri kita sebagai bait Allah. Si iblis yang telah menduduki umat manusia termasuk Gereja, memaksakan kemurtadannya yang menghancurkan di dalam diri putera-puteri Allah serta menghapuskan kurban kekal Kristus (Ekaristi Kudus) dari dalam diri kita ( baca Dan 11:31-39; Why 13 :14-18; Why 21:1-27), supaya gantinya iblis dapat mendirikan sebuah tiruan yang tak bernilai, suatu gambaran manusia yang dapat mati yang adalah kejijikan kemurtadan dalam kekudusan-Nya. Semua sekte-sekte baik new age, naturalisme bahkan rasionalisme sesungguhnya membawa manusia menuju atheisme. Sekali orang-orang ini terperangkap oleh sekte-sekte itu maka mereka berhenti juga menerima Kurban Kekal, yaitu Ekaristi Kudus. Mintalah maka kamu akan diberikan. Marilah kita pula meminta Roh Kudus yang dapat membeda-bedakan mana tangan kiri dan kanan (discernment Spirit) sehingga kita tidak mudah terjebak dalam arus duniawi yang semakin jahat ini. Amin.