Dokumen Vatikan Mengenai New Age

Catatan :

Diterjemahkan bebas oleh Leonard T. Panjaitan

Dokumen ini dikeluarkan oleh Vatican pada tanggal 3 Februari 2003.

Judul asli : PONTIFICAL COUNCIL FOR CULTURE, PONTIFICAL COUNCIL FOR INTERRELIGIOUS DIALOGUE – JESUS CHRIST THE BEARER OF THE WATER OF LIFE : A Christian reflection on the “New Age”.

DEWAN KEPAUSAN UNTUK KEBUDAYAAN

DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR AGAMA

YESUS KRISTUS

PEMBAWA AIR KEHIDUPAN

Suatu Refleksi Iman Kristen tentang Ajaran “New Age”

DAFTAR ISI

Kata Pendahuluan

1. Macam-macam refleksi tentang “New Age”

1.1 Mengapa baru sekarang ?

1.2 Komunikasi

1.3 Latar belakang budaya

1.4 New Age dan iman Katolik

2. Spiritualitas New Age : suatu tinjauan

2.1 Apa yang baru tentang New Age ?

2.2 Apa yang New Age klaim untuk diberikan ?

2.2.1 Daya Tarik : Pasti Ada seorang Malaikat

2.2.2 Harmoni dan Pemahaman : Getaran-getaran yang baik

2.2.3 Kesehatan : Kehidupan Emas

2.2.4 Keseluruhan (Wholeness) : Perjalanan misteri magis

2.3 Prinsip-prinsip fundamental dari gagasan New Age

2.3.1 Respon global dalam masa krisis

2.3.2 Matriks esensial dari gagasan New Age

2.3.3 Tema sentral New Age

2.3.4 Apa yang New Age katakan tentang

2.3.4.1 ….pribadi manusia ?

2.3.4.2 …Allah ?

2.3.4.3 …dunia ?

2.4 “Penghuni mitos daripada penghuni sejarah” : New Age dan kebudayaan

2.5 Mengapa New Age berkembang dengan pesat dan menyebar dengan efektif ?

3. New Age dan iman Kristen

3.1 New Age sebagai spiritualitas

3.2 Narsisisme spiritual ?

3.3 Kristus Kosmik

3.4 Mistisisme Kristen dan Mistisisme New Age

3.5 Allah yang berada di dalam dan theosis

4. New Age dan iman Kristen dalam perbandingan

5. Yesus Kristus menawarkan kita air kehidupan

6. Poin-poin untuk dicatat

6.1 Petunjuk dan informasi akurat dibutuhkan

6.2 Langkah-langkah praktis

7. Appendix

7.1 Beberapa formulasi singkat tentang ide-ide New Age

7.2 Daftar kata-kata pilihan

7.3 Tempat-tempat penting New Age

8. Sumber-sumber

8.1 Dokumen-dokumen Magisterium Gereja Katolik

8.2 Studi-studi Kristen

9. Bibliographi umum

9.1 Beberapa buku-buku New Age

9.2 Karya-karya historis, deskriptif dan analitis

Kata Pendahuluan

Studi ini menyangkut fenomena New Age yang kompleks yang mempengaruhi banyak aspek dari kebudayaan kontemporer.

Studi ini merupakan laporan sementara. Laporan ini merupakan buah dari refleksi biasa dari kelompok kerja yang bertugas menangani Gerakan Agama Baru yang terdiri dari anggota staf dicasteries Tahta Suci : Dewan Kepausan untuk Kebudayaan dan Dialog antar Agama (Dewan ini merupakan redaktur utama bagi proyek ini), Konggregasi untuk Evangelisasi Umat dan Dewan Kepausan untuk meningkatkan persatuan Kristen.

Refleksi ini ditujukan khususnya kepada mereka yang terlibat dalam karya pastoral sehingga mereka dapat menjelaskan mengenai Gerakan New Age yang berbeda dari iman kristiani. Studi ini mengajak para pembaca untuk memperhatikan (take account of the way) bahwa agama New Age mengisi kerinduan spiritual dari orang-orang zaman ini. Hal ini seharusnya diketahui bahwa daya tarik yang ditawarkan Agama New Age kepada beberapa orang kristen mungkin berhubungan dengan kurangnya perhatian dalam komunitas mereka terhadap tema-tema aktual yang merupakan bagian dari sintesis (perpaduan) Katolik seperti pentingnya dimensi spiritual manusia dan integritasnya dengan seluruh kehidupan, pencarian arti hidup, hubungan antara manusia dan ciptaan lain, keinginan akan transformasi sosial dan personal serta penolakan terhadap pandangan kemanusiaan yang rasionalistis dan materialistis.

Publikasi saat ini meminta perhatian para pembaca mengenai perlunya untuk mengetahui dan mengerti New Age sebagai kebudayaan masa kini begitu pula perlunya umat Katolik untuk memiliki pengertian tentang doktrin dan spirtualitas Katolik yang otentik dan agar dapat menilai tema-tema New Age dengan tepat. Dua bab pertama membicarakan New Age sebagai tendensi (kecenderungan) keaneragaman budaya, mengajukan analisis mengenai dasar dari pikiran yang disampaikan dalam konteks ini. Dari bab ketiga ke depan beberapa indikasi diberikan dalam rangka investigasi tentang New Age dalam perbandingannya dengan amanat-amanat kristen.

Mereka yang berniat mendalami lebih jauh studi New Age akan menemukan pentunjuk-petunjuk yang berguna di appendix laporan ini. Diharapkan karya ini akan menyediakan stimulus terhadap studi yang lebih jauh lagi yang mengadaptasi berbagai konteks budaya yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendorong ketajaman bagi mereka yang mencari poin-poin petunjuk dugaan (sound) demi kepenuhan hidup yang lebih besar. Ini adalah keyakinan kita bahwa melalui banyak orang di jaman ini yang sedang mencari, kita dapat menemukan kedahagaan sejati akan Allah. Seperti Paus Yohanes Paus 2 katakan kepada sekelompok uskup dari Amerika Serikat : “Imam harus jujur mengatakan apakah mereka telah memberikan perhatian yang cukup kepada keingintahuan/kedahagaan hati manusia akan “air kehidupan” yang hanya oleh Kristus Penebus diberikan (lih Yoh 4 : 7 – 13)”. Seperti Paus, kita ingin mengandalkan “kehangatan/kesejukan abadi dari amanat Kitab Suci dan kapasitasnya untuk mentransformasikan serta memperbaharui mereka yang menerimanya (kitab suci)” (AAS 86/4,330).

1. Refleksi mengenai apa ?

Refleksi-refleksi di bawah ini dimaksudkan sebagai petunjuk bagi umat Katolik yang terlibat dalam pengajaran Kitab Suci dan ajaran iman pada setiap level dalam Gereja. Dokumen ini tidak bertujuan menyediakan satu set jawaban yang lengkap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh New Age atau isyarat-isyarat (signs) kontemporer tentang pencarian manusia akan kebahagiaan abadi, tujuan (meaning) dan keselamatan. Dokumen ini merupakan ajakan untuk memahami New Age dan mengikutsertakan dalam dialog yang tulus dengan mereka yang terpengaruh oleh pemikiran New Age. Dokumen ini menuntun mereka yang terlibat dalam karya pastoral dalam pengertian dan tanggapan mereka terhadap spiritualitas New Age baik dengan mengilustrasikan poin-poin dimana spiritualitas New Age berbeda dengan iman Katolik maupun menolak posisi yang didukung oleh pemikir New Age dalam perlawanannya terhadap iman Kristen. Apa yang diperlukan oleh umat kristen pertama-tama dan terutama adalah, dasar yang solid dalam iman mereka. Dengan dasar seperti ini, mereka dapat membangun kehidupan untuk menanggapi secara positif undangan dalam surat Petrus yang pertama : “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3 ay 15).

1.1 Mengapa baru sekarang ?

Awal milenium ketiga datang bukan hanya dua ribu tahun setelah kelahiran Kristus tetapi juga ketika pada saat astrolog percaya bahwa Zaman Pisces (Age of Pisces) – yang dikenal mereka sebagai zaman orang Kristen (Christian age) – semakin dekat. Refleksi-refleksi ini berbicara mengenai New Age yang mengambil nama dari zaman Aquarius (Age of Aquarius) yang bersifat astrologis yang sebentar lagi tiba. New Age adalah satu dari sekian penjelasan yang signifikan dari momen sejarah yang menyerang kebudayaan kontemporer (khususnya barat) dan ini sulit untuk melihat dengan jelas apa itu New Age dan apa yang tidak konsisten dengan amanat Kristen. Jadi refleksi ini nampaknya merupakan momen yang tepat untuk menawarkan kepada orang Kristen suatu penilaian mengenai pemikiran New Age dan New Age sebagai gerakan secara keseluruhan.

Telah dikatakan secara jelas bahwa banyak orang akhir-akhir ini terombang-ambing diantara kepastian dan ketidakpastian, khususnya pertanyaan yang berhubungan dengan identitas mereka 1. Beberapa orang mengatakan bahwa : agama Kristen itu patriarkal dan otoriter, institusi politik tidak dapat memperbaiki dunia dan ilmu kedokteran formal (allopathic) jelas gagal untuk menyembuhkan orang secara efektif. Fakta yang merupakan elemen sentral di dalam masyarakat yang dirasakan tidak dapat dipercayai atau memiliki kekurangan dalam otoritas yang sejati (tulus) telah menciptakan iklim dimana orang melihat ke dalam dirinya sendiri untuk mencari arti/tujuan dan kekuatan. Ada pula pencarian terhadap institusi alternatif sehingga orang berharap akan menanggapi kebutuhan mereka yang begitu dalam. Komunitas alternatif dalam kehidupan yang kacau atau tak berstruktur di tahun 1970-an telah memberi jalan terhadap pencarian disiplin (ilmu) dan struktur yang secara jelas merupakan elemen kunci dalam gerakan “mistik” yang sangat populer. New Age sebagian besar menarik sebab apa yang ditawarkan New Age itu memenuhi kerinduan yang sering ditinggalkan secara tidak memuaskan oleh institusi mapan.

Walaupun banyak dari New Age merupakan reaksi terhadap kebudayaan kontemporer namun terdapat beberapa cara yang dapat disebut anak budaya. Kebangkitan dan Reformasi telah membentuk orang-orang barat modern menjadi individual yang tidak dibebani dengan beban eksternal seperti kekuasaan ekstrinsik dan tradisi belaka namun orang-orang merasakan bahwa kebutuhan untuk “memiliki” institusi semakin berkurang (tetapi kesendirian merupakan bencana yang begitu banyak terjadi dalam kehidupan modern) dan cenderung mereka tidak menggolongkan secara “resmi” pendapat yang melampaui pendapat mereka sendiri. Dengan kultus kemanusiaan ini, agama terinternalisasi dalam cara persiapan yang dasar bagi perayaan kekudusan diri sendiri. Ini sebabnya New Age berbagi banyak nilai yang didukung oleh budaya perusahaan dan “ajaran/kitab suci kemakmuran” (ini akan lebih banyak dibahas kemudian : bagian 2.4) dan juga didukung oleh kebudayaan konsumen yang pengaruhnya jelas dari pertumbuhan orang-orang yang cepat yang menegaskan bahwa itu adalah hal yang mungkin untuk memadukan antara Kekristenan dan New Age dengan mengambil apa yang mengena pada mereka sebagai yang terbaik bagi kedua-duanya 2. Patut diingat bahwa deviasi di dalam Kekristenan telah melampaui/melebihi theisme tradisional dalam menerima peralihan unilateral kepada diri sendiri dan hal ini akan mendorong adanya perpaduan dari berbagai pendekatan. Hal yang penting untuk dicatat bahwa Allah dikurangi perannya dalam praktek-praktek tertentu New Age supaya dapat memajukan individu secara lebih lanjut.

New Age menarik perhatian orang-orang yang diilhami oleh nilai-nilai kebudayaan modern. Kebebasan, otentisitas, percaya/mengandalkan pada diri sendiri, dan kesukaan-kesukaan yang dipercayai suci. New Age juga menarik perhatian bagi mereka yang memiliki masalah dengan kepatriakan. New Age “tidak meminta lebih banyak iman atau kepercayaan daripada pergi ke bioskop”, 3 tetapi aliran ini menyatakan dapat memuaskan rasa lapar orang-orang akan spiritualitas. Tetapi di sini bisa kita sampaikan sebuah pertanyaan : apa yang dimaksud dengan spiritualitas dalam konteks New Age ini ? Jawaban ini merupakan kunci untuk membuka beberapa perbedaan antara tradisi Kristen dengan apa yang banyak disebut sebagai New Age. Beberapa versi New Age memanfaatkan kekuatan alam dan mencoba berkomunikasi dengan dunia lain untuk menemukan nasib seseorang/indivual, membantu seseorang mendengarkan frekuensi yang tepat sesuai dengan selera dan keadaan mereka sendiri. Dalam banyak kasus, New Age sangat fatal. Sebaliknya, Kekristenan adalah ajakan untuk melihat keluar dan ke atas menuju “advent baru” di mana Allah memanggil kita untuk hidup dalam dialog kasih 4.

1.2 Komunikasi

Revolusi teologis dalam komunikasi selama beberapa tahun terakhir ini telah menghasilkan situasi yang sama sekali baru. Kemudahan dan kecepatan yang mana sekarang orang-orang dapat berkomunikasi merupakan salah satu dari alasan mengapa New Age telah menarik perhatian mereka dari segala umur dan latar belakang, dan banyak pula orang-orang yang mengikuti Kristus tidak begitu yakin mengenai apa itu New Age. Internet secara khusus telah mempengaruhi sangat besar terutama orang-orang muda. Tetapi internet merupakan alat dari informasi yang salah dan berubah-ubah yang mempengaruhi pada banyak aspek agama : tidak semua yang berlabel “Kristen” atau “Katolik” yang dapat dipercayai merefleksikan ajaran-ajaran Gereja Katolik dan pada saat bersamaan ada sejumlah ekspansi/perluasan sumber-sumber New Age yang berkisar dari serius sampai ke hal-hal yang lucu. Orang-orang membutuhkan dan memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai perbedaan antara Kekristenan dan New Age.

1.3 Latar belakang budaya

Ketika seseorang menguji tradisi-tradisi New Age maka segera akan menjadi jelas ada suatu fakta kecil bahwa New Age itu baru. Nama New Age ini kelihatannya telah beredar melalui Rosicrucianisme dan Freemason pada saat Revolusi Perancis dan Amerika tetapi realitas menunjukkan bahwa New Age merupakan varian dari esoterisme barat. Hal ini kembali ke masa kelompok Gnostik yang berkembang pada awal-awal Kekristenan dan memperoleh momentum pada saat Reformasi di Eropa. New Age telah berkembang pararel bersamaan dengan pandangan dunia pengetahuan. Aliran ini telah terlibat dalam penolakan yang progresif terhadap Allah sebagai pribadi dan New Age memfokuskan pada entitas lain yang dapat menjadi figur intermediasi antara Allah dan manusia dalam tradisi Kekristenan, dengan banyak adaptasi asli dari entitas-entitas tersebut. Tren yang kuat dalam kebudayaan barat yang telah memberi ruang bagi ide-ide New Age merupakan dukungan secara umum dari teori evolusioner Darwin, dan ini bersama dengan arah kekuatan spiritual yang tersembunyi atau kekuatan alam telah menjadi tulang punggung dari apa yang sekarang dikenal sebagai teori New Age. Prinsipnya, New Age telah menjadi tingkat sebuah akseptasi yang luar biasa sebab pandangan dunia yang mengarah ke hal itu secara luas telah diterima. Dasar New Age dipersiapkan dengan baik oleh perkembangan dan penyebaran paham relativisme serta antipati atau ketidakacuhan terhadap iman Kristen. Selanjutnya ada beberapa diskusi hangat yang dilakukan dalam rangka apakah dan dalam bentuk apa New Age dapat digambarkan sebagai fenomena posmodern. Keberadaan dan semangat pemikiran serta praktek New Age menjadi saksi atas kerinduan yang tak terpuaskan dari jiwa manusia akan transendensi dan pencarian spiritualitas yang tidak hanya hal ini merupakan fenomena kebudayaan kontemporer saja melainkan sebuah bukti dalam dunia purba baik itu orang Kristen maupun penyembah berhala.

1.4 New Age dan Iman Katolik

Bahkan bila agama New Age diterima , yang dalam beberapa aspek merespon kerinduan spiritual manusia dari sifat kemanusiaannya yang normal, maka harus diakui bahwa usaha-usahanya untuk melakukan hal ini menghasilkan balasan terhadap wahyu Kristen. Kebudayaan barat khususnya daya tarik mengenai pendekatan “alternatif” terhadap spiritualitas begitu kuat. Pada satu segi, bentuk-bentuk baru dari penguatan psikologis individu telah menjadi sangat populer diantara orang Katolik bahkan dalam rumah-rumat retret, seminar dan institusi-institusi untuk formasi keagamaan. Pada saat yang sama ada beberapa peningkatan nostalgia dan keingintahuan terhadap kebijaksanaan dan ritual masa lalu yang merupakan salah satu alasan bagi perkembangan luar biasa dalam popularitas esoterisme dan gnostisisme. Banyak orang kini tertarik sekali pada apa yang dikenal –entah benar atau salah- spiritualitas “celtic” 5 atau agama orang-orang zaman dulu. Buku-buku dan kursus-kursus mengenai spiritualitas dan agama timur atau kuno menjadi suatu bisnis yang meledak/booming dan kursus-kursus seperti ini sering disebut “New Age” demi tujuan komersial. Tetapi hubungan dengan agama-agama itu tidak selalu jelas. Bahkan hubungan-hubungan seperti itu sering disangkal.

Kemampuan Kristen yang cukup tajam (discernment) untuk membedakan pemikiran dan praktek New Age tidak mungkin gagal untuk mengenali bahwa , seperti gnostisisme abad kedua dan ketiga, New Age mewakili sesuatu ikhtisar dari berbagai posisi yang oleh Gereja telah diidentifikasikan sebagai heterodox. Paus Yohanes Paulus II memperingatkan sehubungan dengan “kembalinya” ide-ide gnostis kuno yang tersamar melalui apa yang disebut New Age : Kita tidak dapat menipu diri sendiri bahwa ide-ide tersebut akan membawa kita pada pembaharuan agama. Hal seperti ini hanya cara baru dari praktek gnostisisme – sikap dari semangat yang atas nama pengetahuan yang dalam mengenai Allah menghasilkan distorsi terhadap Sabda-Nya dan menggantikan Sabda itu dengan kata-kata manusia belaka. Gnostisisme tidak pernah sama sekali meninggalkan aspek Kekristenan. Sebagai gantinya, New Age selalu hidup berdampingan dengan Kekristenan, kadang-kadang mengambil bentuk dari gerakan filosofis, tetapi New Age sendiri lebih sering mengambil karakter dari sebuah agama atau para-agama (para-religion) secara jelas, apabila karakter itu tidak dinyatakan dalam agama tersebut, sehingga mengalami konflik dengan apa yang secara esensial merupakan ajaran Kristen 6. Sebuah contoh dapat dilihat dalam enneagram, sebuah alat yang bertipe sembilan untuk melakukan analisa karakter, yang ketika digunakan sebagai alat pertumbuhan spiritual menimbulkan ambiguitas dalam doktrin dan kehidupan iman Kristiani.

1.5 Sebuah tantangan positif

Daya tarik agama New Age tidak dapat disepelekan. Ketika pemahaman terhadap isi iman Kristiani lemah, beberapa orang secara keliru menganggap bahwa agama Kristen tidak mengilhami suatu spritualitas yang dalam sehingga mereka mencarinya di tempat lain. Sebenarnya, beberapa orang mengatakan New Age sudah melewati kita dan mengacu kepada zaman “berikutnya” 7. Mereka berbicara mengenai krisis di Amerika Serikat pada awal 1990-an yang dimulai untuk memanifestasikan krisis itu sendiri, tetapi mereka mengakui bahwa khususnya di luar dunia yang berbahasa inggris, “krisis” seperti itu akan datang kemudian. Tetapi toko-toko buku dan stasiun radio serta kebanyakan dari kelompok-kelompok yang mengandalkan pertolongan dari diri sendiri (self help group) di banyak kota di negara Barat nampaknya menceritakan kisah yang berbeda-beda. Kelihatan pula setidaknya untuk saat ini, New Age masih banyak hidup dan merupakan bagian dari gambaran kebudayaan saat ini.

Kesuksesan New Age membawa tantangan bagi Gereja. Orang-orang merasa agama Kristen tidak lagi menawarkan mereka – atau mungkin tidak pernah memberikan – sesuatu yang mereka butuhkan. Pencarian yang sering menuntun orang-orang menuju New Age merupakan kerinduan/hasrat yang sejati : demi pencapaian spiritualitas yang lebih dalam, demi sesuatu yang akan menyentuh hati mereka, dan demi suatu cara agar dunia yang terasing dan sering membingungkan ini lebih masuk akal. Ada suara yang bernada positif dalam kritisisme yang dilancarkan New Age terhadap “materialisme kehidupan sehari-hari, filosopi, dan bahkan terhadap ilmu kedokteran dan psikiatri, reduksionisme yang menolak mempertimbangkan pengalaman-pengalaman religius dan spiritual; kebudayaan industiral dari paham individualisme yang bebas yang mengajarkan egoisme dan tidak memperhatikan orang lain, serta masa depan dan lingkungan” 8 . Beberapa masalah yang ada dalam New Age akan ditemukan dalam apa yang ditawarkan New Age melalui jawaban-jawaban alternatif terhadap pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan. Bila Gereja tidak ingin dituduh karena tuli terhadap kerinduan orang-orang maka anggota-anggota Gereja perlu melakukan 2 (dua) hal yakni : sungguh-sungguh mengakar di dalam fundamental iman mereka sendiri dan memahami jeritan diam dari hati orang-orang yang mengantar mereka ke tempat lain bila mereka tidak puas dengan Gereja. Ada pula panggilan dari semua ini untuk lebih dekat lagi kepada Yesus Kristus agar siap untuk mengikuti Nya, karena Dia menjadi jalan yang riil menuju kebahagiaan, kebenaran mengenai Allah dan kepenuhan kehidupan untuk semua pria dan wanita yang siap untuk menanggapi Kasih-Nya.

2. Spiritualitas New Age : Sebuah Tinjauan

Orang-orang kristen dalam masyarakat barat dan di berbagai tempat di dunia, sering berhubungan dengan aspek-aspek fenomenal yang berbeda-beda yang dikenal sebagai New Age. Banyak dari antara orang-orang merasakan kebutuhan untuk memahami bagaimana mereka dapat melakukan pendekatan terhadap sesuatu secara baik yang ketika itu juga memikat, kompleks, sukar dipahami dan kadang-kadang menggelisahkan. Refleksi-refleksi ini merupakan suatu usaha untuk membantu orang-orang Kristen melakukan 2 (dua) hal :

- mengidentifikasikan elemen-elemen dari tradisi New Age yang berkembang;

- mengindikasikan elemen-elemen tersebut yang tidak konsisten dengan wahyu Kristiani.

Hal ini merupakan tanggapan/jawaban pastoral terhadap tantangan saat ini yang bahkan tidak mencoba untuk menyediakan daftar fenomena New Age secara lengkap, karena itu akan menghasilkan tomus (buku besar) yang banyak sekali dan informasi mengenai hal demikian sudah tersedia di berbagai tempat lainnya. Hal ini esensial untuk memahami New secara tepat, agar dapat mengevaluasi New Age secara baik, dan mencegah timbulnya karikatur/sindiran. Akan lebih bodoh dan salah mengatakan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan New Age adalah baik atau jelek. Meskipun demikian, visi yang mendasar dari agama New Age seperti yang dijelaskan di atas akan sulit untuk bertemu dengan doktrin-doktrin dan spiritualitas Kristen.

New Age bukan sebuah gerakan yang dalam pengertian normal merupakan terminologi “Gerakan Religius/Kerohaniaan Baru” dan New Age bukan pula diartikan secara normal sebagai sebuah “cara memuja/cult” dan “sekte”. Sebab New Age tersebar di berbagai kebudayaan, dalam fenomena yang beraneka-ragam seperti music, film, seminar, lokakarya, retret, terapi, dan aktivitas serta kegiatan-kegiatan lainnya, New Age lebih banyak tersebar dan bersifat informal, meskipun beberapa agama atau kelompok para-agama (para-religious) secara sadar bekerjasama dengan elemen-elemen New Age, namun dikesankan bahwa New Age telah menjadi sumber ide-ide bagi macam-macam sekte agama dan para-agama (para-religious) 9. New Age tidak bersifat tunggal dan gerakan uniform/sama, tetapi lebih pada jaringan lepas dari praktisi yang melakukan pendekatan dengan cara pikir global tetapi bertindak secara lokal. Orang-orang yang merupakan bagian dari jaringan tidak perlu saling kenal dan jarang, kalaupun pernah bertemu. Dalam sebuah upaya untuk menghindari kebingungan yang dapat muncul akibat penggunaan terminologi “gerakan”, beberapa orang mengacu kepada New Age sebagai “milieu (lingkungan pergaulan)” 10 atau “audience cult (klenik pendengar)” 11 . Tetapi, telah ditunjukkan bahwa “New Age merupkan arus pemikiran yang sangat koheren (bertalian)” 12, tantangan yang disengaja bagi kebudayaan modern. New Age merupakan suatu struktur sinkretis yang menggabungkan bermacam-macam elemen, memperbolehkan orang-orang berbagi kepentingan-kepentingan atau koneksi-koneksi ke berbagai tingkatan-tingkatan yang sangat berbeda-beda serta kepada kadar komitmen yang beraneka-ragam pula. Banyak tren, praktek dan sikap-sikap yang dalam beberapa hal, bagian New Age adalah benar-benar bagian yang luas dan merupakan reaksi yang tidak dapat dikenali secara tepat dari kebudayaan arus utama, sehingga kata “gerakan” itu sendiri tidak seluruhnya mengacu kepada tempat. Kondisi seperti itu dapat pula dipakai kepada New Age hanya dalam pengertian yang sama seperti gerakan sosial yang luas lainnya, seperti gerakan Hak-hak Sipil, Gerakan Perdamaian, yang serupa dengan gerakan-gerakan tersebut, termasuk jaringan yang dihubungkan dengan orang-orang yang bingung dengan tujuan utama suatu gerakan, tetapi sangat beraneka-ragam dalam cara mereka terlibat dan dalam pemahaman mereka mengenai isu-isu khusus.

Ungkapan “agama New Age” lebih banyak mengandung perdebatan, sehingga akan baik sekali New Age dihindari, meskipun New Age sering menjadi jawaban terhadap pertanyaan dan kebutuhan spiritual orang-orang, dan daya tarik New Age ditujukan kepada orang-orang yang sedang mencoba untuk mencari atau menemukan kembali dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Menghindari istilah “agama New Age” bukan dimaksudkan untuk mempertanyakan karakter asli dari orang-orang yang melakukan pencarian arti dan perasaan dalam kehidupan ini, namun untuk menghormati kenyataan bahwa banyak dalam Gerakan New Age sendiri mereka membedakan secara hati-hati antara antara “agama” dan “spiritualitas”. Banyak orang telah menolak agama yang terorganisir, sebab dalam penilaian mereka agama telah gagal untuk menjawab kebutuhan mereka dan karena alasan yang tepat itu mereka telah melihat ke luar untuk menemukan “spiritualitas”. Lebih lanjut lagi, inti New Age adalah kepercayaan bahwa waktu buat agama-agama khusus sudah berakhir, sehingga untuk mengacu kepada New Age sebagai agama akan berlawaan dengan pengertian dirinya sendiri mengenai agama. Tetapi, hal ini cukup akurat untuk menempatkan New Age dalam konteks yang lebih luas dari kerohaniaan esoteris yang daya tariknya semakin berkembang. 13

Ada suatu masalah yang terbentuk di dalam teks New Age saat ini. Adalah suatu usaha untuk memahami dan mengevaluasi sesuatu yang pada dasarnya merupakan pengagungan kekayaan terhadap pengalaman manusia. Ini merupakan suatu cakupan untuk mendatangkan kritisisme yang tidak pernah dapat memberikan keadilan kepada gerakan kebudayaan yang esesensinya untuk mengobarkan apa yang dilihat sebagai batas dari wacana rasional yang sempit. Tetapi hal ini dimaksudkan sebagai ajakan bagi orang Kristen untuk memperhatikan New Age secara serius, dan dengan demikian meminta para pembaca untuk memasuki dialog yang kritis dengan orang-orang yang melakukan pendekatan terhadap dunia dini dengan perspektif yang berbeda-beda.

Efektivitas pastoral dari Gereja di milenium ketiga ini tergantung pada cakupan yang luas tentang kesiapan seorang komunikator yang efektif untuk menyebarkan pesan-pesan Kitab Suci. Apa yang menjadi langkah berikutnya adalah tanggapan terhadap kesulitan-kesulitan yang dirasakan oleh banyak orang yang berhubungan dengan fenomena yang kompleks dan sukar dipahami yang sekarang dikenal sebagai New Age. Dan ini pun merupakan usaha untuk memahami apa itu New Age dan untuk mengenal pertanyaan-pertanyaan yang mana New Age memberikan jawaban dan solusinya. Ada beberapa buku dan sumber-sumber yang bagus yang mengetengahkan penelitan mengenai seluruh fenomena atau menjelaskan aspek-aspek khusus dalam detail yang lengkap dan referensi dalam buku-buku tersebut disediakan dalam appendix. Tetapi buku-buku atau sumber-sumber itu tidak selalu memberikan ketajaman yang bagus dalam bingkai cahaya iman Kristen. Tujuan dari kontribusi ini adalah untuk membantu umat Katolik menemukan kunci untuk memahami prinsip dasar di belakang pemikiran New Age sehingga kemudian umat Katolik dapat membuat evaluasi terhadap elemen-elemen New Age yang mereka hadapi. Layak untuk dikatakan bahwa banyak orang tidak menyukai istilah “New Age” dan beberapa orang menyarankan bahwa “spiritualitas alternatif” bisa salah dan kurang membatasi. Itu juga benar bahwa banyak fenomena yang disebutkan dalam dokumen ini mungkin tidak akan menghasilkan beberapa nama khusus melainkan untuk singkatnya diduga bahwa para pembaca akan mengenali sebuah fenomena atau serangkaian fenomena yang setidak-tidaknya pantas berhubungan dengan gerakan budaya umum yang sering dikenal dengan New Age.

2.1 Apa yang baru mengenai New Age ?

Bagi banyak orang istilah New Age jelas mengacu kepada titik balik penting dalam sejarah. Menurut para astrolog, kita hidup dalam Zaman Pisces yang didominasi oleh Kekristenan. Tetapi zaman Pisces ini akan segera digantikan oleh New Age dari Aquarius di milenium ketiga ini 14. Zaman Aquarius memiliki ciri-ciri yang tinggi (high profile) dalam gerakan New Age yang sebagian besar karena pengaruh dari theosophy, spiritualisme dan anthroposophy serta penyebab terdahulu (antecedent) yang bersifat esoteris. Orang-orang yang menekankan perubahan yang cepat di dunia ini sering menyatakan hasrat atas perubahan itu, tetapi tidak begitu banyak dalam dunia ini sendiri seperti dalam budaya kita, yang dengan suatu cara kita berkenaan dengan dunia; dan ini secara khusus jelas ditujukan bagi mereka yang menekankan ide tentang Paradigma Baru untuk kehidupan. Karena dalam beberapa ekspresi, cara ini merupakan suatu pendekatan yang atraktif, namun sekarang ini orang-orang tidak memperhatikan dengan pasif lagi melainkan mereka memiliki peran aktif dalam budaya yang berubah dan menghasilkan kesadaran spritual baru. Dalam ekspresi lainnya, kekuasaan yang lebih dianggap berasal dari perkembangan siklus alam yang tidak bisa dielakan. Dalam beberapa kasus, Zaman Aquarius merupaka sebuah visi, dan bukan teori. Tetapi New Age merupakan tradisi yang luas yang memasukkan banyak ide yang tidak memiliki hubungan eksplisit dengan perubahan dari Zaman Pisces ke Zaman Aquarius. Ada beberapa ide yang moderat tetapi lebih umum, visi-visi masa depan dimana akan ada spiritualitas yang berhubungan dengan planet yang berdampingan dengan agama-agama yang terpisah, institusi politis yang bersifat planetaris yang serupa dengan komplemen yang memiliki institusi lokal, kesatuan ekonomi global yang lebih bersifat partisipatoris dan demokratis, penekanan yang besar pada komunikasi dan pendidikan, pendekatan gabungan terhadap ilmu kedokteran yang mengkombinasikan kesehatan dan penyembuhan diri sendiri, pemahaman diri sendiri yang lebih bersifat androginis dan cara-cara mengintegrasikan ilmu pengetahuan, mistisisme, teknologi dan ekologi. Dan, ini adalah bukti dari keinginan yang dalam untuk pengenapan dan eksistensi yang sehat bagi ras manusia dan planet. Beberapa tradisi yang mengalir kepada New Age adalah : praktek-praktek klenik (occult) mesir kuno, kabbalisme, gnostisisme kristen awal, sufisme, adat dan pengetahuan kaum druids, kekristenan celtic, alkemi abad pertengahan, hermetisisme renaisans, zen buddhisme, yoga dan sebagainya 15 .

Di bawah ini adalah apa yang “baru” mengenai New Age. Ini adalah sebuah “sinkretisme dari elemen-elemen esoteris dan sekular” 16 . Mereka berhubungan ke dalam persepsi yang dirasakan luas bahwa waktu sudah matang untuk melakukan perubahan fundamental dalam diri seseorang, masyarakat dan dunia. Ada berbagai macam ekspresi dari kebutuhan untuk melakukan pergeseran/perpindahan (shift) :

- dari fisika mekanistis Newton ke fisika kuantum;

- dari mengagungkan akal budi modernis ke apresiasi perasaan, emosi dan pengalaman (sering digambarkan seperti tombol dari pemikiran rasional “otak kiri” ke pemikiran intuitif “otak kanan”);

- dari dominasi maskulitas dan kebapaan ke perayaan feminitas, pada individu dan dalam masyarakat.

Dalam konteks tersebut istilah “pergeseran paradigma (paradigm shift)” sering dipakai. Dalam beberapa kasus, hal ini seharusnya menjadi jelas bahwa pergeseran bukan sesuatu yang mudah diinginkan melainkan hal justru tidak bisa dihindarkan. Penolakan terhadap modernitas/modernisasi yang mendasari keinginan bagi perubahan tersebut tidaklah mudah tetapi dapat digambarkan sebagai “kebangkitan agama berhala yang modernis dengan perpaduan pengaruh-pengaruh dari agama-agama timur maupun psikologi modern, filosopi, ilmu pengetahuan dan budaya tandingan yang dikembangkan pada tahun 1950 dan 1960-an 17. New Age tak kurang adalah saksi dari revolusi budaya itu, yang merupakan suatu reaksi kompleks terhadap ide-ide dan nilai-nilai dominan dalam budaya barat, akan tetapi kritisisme idealistis dari New Age justru ironis karena budaya yang dikritik New Age adalah tipikal budayanya sendiri.

Ada suatu pesan yang perlu disampaikan terhadap gagasan pergesaran paradigma. Istilah paradigm shift ini dipopulerkan oleh Thomas Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan dari AS yang melihat paradigma sebagai “konstelasi keseluruhan dari kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, teknik-teknik, dan sebagainya yang disusun menurut anggota-anggota komunitas yang ada” 18. Ketika ada sebuah pergeseran dari satu paradigma ke paradigma lainnya maka hal tersebut menjadi sebuah pertanyaan mengenai transformasi besar dari sebuah perspektif daripada hal ini merupakan suatu perkembangan pergeseran yang gradual. Ini benar-benar merupakan sebuah revolusi dan Khun menekankan bahwa paradigma-paradigma yang bersaing tak dapat dibandingkan dan tidak dapat hidup berdampingan satu sama lain. Jadi ide yang mengatakan bahwa pergeseran paradigma dalam wilayah agama dan spiritualitas yang merupakan cara baru dan sederhana dalam menetapkan kepercayaan tradisional adalah suatu yang tidak dipahami oleh orang. Apa yang sebenarnya terjadi adalah adanya perubahan radikal dalam pandangan dunia yang menghabiskan pertanyaan bukan hanya isi namun juga interpretasi dasar dari visi yang terdahulu. Mungkin contoh yang sangat jelas dari hal tersebut, dalam hubungannya antara istilah New Age dengan Kekristenan, adalah total penyusunan kembali kehidupan dan arti Yesus Kristus. Dan ini tidak mungkin dapat menyatukan dua visi tersebut 19.

Ilmu pengetahuan dan teknologi jelas telah gagal untuk menyampaikan semua yang nampaknya pernah mereka janjikan, jadi dalam pencarian mereka akan arti dan pembebasan orang-orang telah merubah aspek spiritual. New Age seperti yang kita ketahui datang dari sebuah pencarian akan sesuatu yang lebih manusiawi dan cantik dari pengalaman kehidupan masyarakat barat yang bersifat menindas dan terasing. Anggota-anggota atau eksponen New Age yang pertama disiapkan untuk melihat lebih jauh dalam pencarian mereka, dengan demikian pencarian mereka menjadi sebuah pendekatan eklektis (bersifat memilih dari berbagai sumber). Ini mungkin merupakan salah satu tanda dari “kembalinya agama”, tetapi ini jelas bukan kembalinya ke doktrin-doktrin dan iman Kristen yang orthodox. Simbol pertama dari “gerakan” New Age yang merembes masuk ke dalam kebudayaan barat adalah ketika diadakannya festival yang luar biasa di Woodstock New York tahun 1969 dan festival musikal hair, yang dinyatakan pada tema utama New Age dalam lagu yang berlambang “Aquarius” 20 . Tetapi ini hanya ujung dari gunung es yang dimensinya telah menjadi relatif lebih jelas baru-baru ini saja. Idealisme tahun 1960 dan 70-an masih hidup dalam beberapa bagian tetapi sekarang ide itu tidak lagi menonjol pada anak-anak remaja yang terlibat New Age. Hubungan dengan partai yang berideologi sayap kiri telah memudar, dan penggunaan obat-obat bius yang bersifat “menenangkan jiwa” (psychedelic drugs) tidak semenonjol ketika mereka pernah terlibat dalam obat-obat bius itu. Begitu banyak yang telah terjadi sejak semua itu kemudian tidak lagi kelihatan revolusioner; kecenderungan-kecenderungan “spiritual” dan “mistis” dahulu terlarang bagi budaya tandingan sekarang merupakan bagian dari budaya yang utama dan tak dapat dipungkiri mempengaruhi segi-segi kehidupan yang demikian beraneka-ragam seperti ilmu kedokteran, ilmu pengetahuan, seni dan agama. Kebudayaan barat sekarang sedang diilhami dengan kesadaran politis dan ekologis yang lebih umum dan pergeseran budaya yang menyeluruh ini memiliki dampak yang besar terhadap gaya kehidupan orang-orang. Ini dikesankan oleh beberapa orang bahwa “gerakan” New Age secara tepat merupakan perubahan utama terhadap apa yang diperhitungkan menjadi “cara hidup yang lebih baik dan berarti” 21

2.2 Apakah yang ditawarkan New Age ?

2.2.1 Daya tarik : Pasti ada seorang Malaikat

Salah satu elemen yang paling lazim dalam “spiritualitas” New Age adalah pesona dengan manifestasi yang luar biasa dan khususnya dengan entitas paranormal. Orang-orang mengetahui “spiritualitas” ini sebagai “medium” yang menyatakan bahwa kepribadian mereka diambil alih oleh entitas lain selama mereka berada dalam keadaan tak sadarkan diri (trance) dalam fenomena New Age ini yang juga dikenal sebagai “channeling (saluran)” selama medium itu dapat melepaskan diri dari tubuh dan panca indera mereka. Beberapa orang yang telah menyaksikan peristiwa ini akan mau mengakui bahwa manifestasi-manifestasi tersebut benar-benar bersifat spiritual tetapi manifestasi tersebut bukan berasal dari Allah meskipun bahasa kasih dan cahaya hampir sering digunakan…Hal seperti ini mungkin lebih tepat mengacu pada bentuk spiritualisme kontemporer daripada spiritualitas dalam arti yang tepat. Kawan-kawan dan konselor dari dunia roh ini adalah para malaikat (mereka telah menjadi pusat industri baru dari buku-buku dan lukisan-lukisan New Age). Mereka yang mengacu pada malaikat dalam New Age melakukan hal-hal demikian dengan cara yang tidak sistematis; dan sesungguhnya perbedaan-perbedaan dalam area ini kadang-kadang digambarkan tak menolong bila mereka begitu tepat karena “ada banyak tingkat pedoman, entitas, energi, dan mahluk dalam setiap oktaf alam semesta ini…Tingkatan-tingkatan entitas itu berada di alam semesta untuk diambil dan dipilih dari hubungan kepada mekanisme daya tarik/penolakan” 22 . Entitas-entitas ini pun sering dimintakan “hal-hal yang tak berhubungan dengan agama” untuk membantu dalam relaksasi yang ditujukan untuk pembuatan keputusan yang baik dan mengontrol kehidupan dan karir seseorang. Fusi (peleburan) dengan beberapa roh yang mengajar melalui orang-orang tertentu merupakan pengalaman New Age yang lain yang dinyatakan oleh orang-orang yang mengacu pada diri mereka sendiri sebagai “mistikus”. Beberapa roh-roh alam digambarkan sebagai energi yang kuat yang hidup dalam dunia alam/natural dan juga pada “bidang yang berada di inti (inner planes)” : contoh mereka yang dengan mudah memperoleh melalui upacara ritual, penggunaan obat-obatan dan teknik-teknik lainnya untuk mencapai keadaan kesadaran yang berubah (altered state of consciousness). Setidak-tidaknya secara teori sudah jelas bahwa New Age sering tidak mengenal adanya otoritas spiritual yang lebih tinggi daripada pengalaman personal yang sangat dalam/inti.

2.2.2. Harmoni dan Pemahaman : Vibrasi/Getaran yang baik

Fenomena yang beranekaragam semacam kebun Findhorn (Findhorn garden) dan Feng Shui 23 mewakili jenis-jenis cara yang mengilustrasikan pentingya menjadi selaras dengan alam atau kosmos. Dalam New Age tidak ada perbedaan antara baik dan jahat. Tindakan-tindakan manusia merupakan buah baik dari iluminasi/penerangan atau ketidaktahuan. Oleh sebab itu kita tidak dapat menghakimi seseorang dan tidak ada orang yang perlu meminta maaf. Percaya kepada eksistensi/keberadaan yang jahat hanya dapat menciptakan rasa negatif dan ketakutan. Jawaban terhadap rasa negatif ini adalah kasih. Tetapi ini bukan sejenis kasih yang harus diterjemahkan kedalam perbuatan-perbuatan ; Kasih ini lebih merupakan jawaban terhadap sikap-sikap dari pikiran. Kasih adalah energi yang merupakan vibrasi/getaran berfrekuensi tinggi dan rahasia untuk menuju kebahagiaan dan kesehatan serta kesuksesan bisa selaras untuk menemukan tempat bagi seseorang di dalam rangkaian keberadaannya yang luas. Para pengajar dan ahli terapi New Age mengklaim bisa menawarkan suatu kunci untuk menemukan persesuaian/korespondensi antara semua elemen dari alam semesta, dengan demikian orang-orang bisa mengatur/memodulasi nada dari kehidupan mereka dan berada dalam harmoni mutlak dengan satu sama lain dan dengan segela sesuatu yang berada di sekitar mereka meskipun ada bebera latar belakang teoritis yang berbeda24.

2.2.3 Kesehatan : Kehidupan emas

Ilmu kedokteran formal (allopathic) saat ini cenderung untuk membatasi ilmu ini kedalam penyembuhan secara khusus termasuk penyakit aneh/terisolir dan ilmu kedokteran ini pun gagal untuk melihat profil kesehatan seseorang secara luas : ini telah membangkitkan adanya sejumlah ketidakpuasan yang bisa dimaklumi. Terapi alternatif telah memperoleh populatis yang besar sebab terapi ini mengklaim bisa melihat orang secara keseluruhan dan terapi seperti ini menekankan penyembuhan/healing daripada mengobati/curing. Seperti yang diketahui, kesehatan secara holistik berkonsentrasi pada peranan penting yang memainkan pikiran dalam kesembuhan secara fisik. Dikatakan bahwa Hubungan antara aspekspiritual dan fisik seseorang merupakan sistem kekebalan atau sistem cakra india. Dalam perspektif New Age, penyakit dan penderitaan datang dari kerja yang berlawanan dengan alam; ketika seseorang selaras dengan alam maka orang tersebut bisa mengharapkan banyak kehidupan yang lebih sehat, dan bahkan kemakmuran materiil, karena menurut beberapa penyembuh New Age sebenarnya kita tidak perlu ada keinginan untuk mati. Membangun potensi kemanusiaan kita akan bisa berhubungan dengan keilahian inti/inner divinity dan dapat pula berhubungan dengan bagian-bagian dari potensi diri kita yang telah diasingkan dan ditekan. Ini diungkapkan di atas semuanya dalam Kondisi Kesadaran yang Berubah/Altered States of Consciousness (ASCs) yang disebabkan baik oleh obat-obatan atau aneka ragam teknik-teknik perluasan pikiran khususnya dalam konteks “psikologi transpersonal”. Cenayang/dukun sering dilihat sebagai spesialis dari ASCs yang merupakan mediator antara bidang roh/jiwa dan dewa dan dunia manusia.

Ada bermacam-macam pendekatan yang luar biasa yang berguna untuk meningkatkan kesehatan holistik, beberapa pendekatan itu berasal dari tradisi kebudayaan kuno apakah itu agama atau esoteris, sementara pendekatan lainnya berhubungan dengan teori psikologis yang berkembang di Esalen selama tahun 1960-1970. Adpertensi/iklan yang berhubungan dengan New Age meliputi rentang praktek yang luas seperti akupuntur, biofeedback, chiropractic, kinesiology, homeopathy, iridology, pijat/massage, dan bermacam-macam olah tubuh/”bodywork” (seperti orgonomy, Feldenkrais, reflexology, rolfing, pijat polaritas/polarity, sentuhan therapeutic dll), meditasi dan visualisasi, terapi nutrisi, penyembuhan fisik, aneka ragam pengobatan verbal, penyembuhan dengan kristal, logam, musik atau warna-warni, terapi-terapi reinkarnasi dan akhirnya program duabelas langkah dan kelompok pertolongan sendiri/self help groups 25 . Sumber penyembuhan dikatakan berada di dalam diri kita sendiri, sesuatu yang kita capai ketika kita berhubungan dengan energi inti atau energi kosmis.

Lantaran kesehatan memasukkan perpanjangan kehidupan, New Age menawarkan formula Timur dalam terminologi Barat. Semula reinkarnasi adalah bagian dari pemikiran siklus hindu berdasarkan atman atau inti kepribadian ilahi (belakangan hal ini disebut konsep jiwa) yang bergerak dari satu tubuh ke tubuh lainnya dalam satu siklus penderitaan (samsara) yang ditentukan oleh hukum karma, yang berhubugan dengan perilaku kehidupan masa lalu. Harapan terletak dalam kemungkinan lahirnya ke dalam keadaan yang lebih baik atau pada akhirnya harapan terletak dalam pembebasan dari kebutuhan untuk lahir kembali. Apa yang membedakannya dengan kebanyakan tradisi budha adalah apa yang bergerak dari tubuh ke tubuh bukan merupakan sebuah jiwa melainkan kelanjutan kesadaran. Kehidupan saat ini dilekatkan dalam sebuah proses kosmis yang potensial tak berakhir bahkan termasuk allah/tuhan. Di barat, karena berkurangnya waktu, reinkarnasi telah dimengerti secara optimis lebih jauh sebagai proses pembelajaran dan pencapaian individu yang progresif. Spiritualisme, theosophy, antrosophy dan New Age semuanya memandang reinkarnasi sebagai partisipasi dalam evolusi kosmis. Pendekatan pasca Kristen terhadap eskatologi dikatakan untuk menjawab pertanyaan yang tak terpecahkan dari theodicy dan pembuangan ide mengenai neraka. Ketika jiwa dipisahkan dari tubuh maka setiap individu dapat melihat kembali kehidupan mereka sampai kepada ujung hidup mereka dan ketika jiwa itu bersatu di dalam tubuh baru maka ada sebuah pertunjukkan mengenai fase kehidupan yang akan datang. 26

2.2.4. Keseluruhan (wholeness) : Perjalanan Misteri Magis

Salah satu pusat perhatian mengenai gerakan New Age adalah pencarian “keseluruhan” (wholeness). Ada dorongan untuk mengatasi semua bentuk “dualisme” sedemikian rupa sehingga perpecahan merupakan produk yang tak sehat dari masa lalu yang kurang terang. Perpecahan diklaim oleh pendukung New Age perlu diatasi termasuk perbedaan yang nyata antara Pencipta dan ciptaan, antara manusia dan alam, atau antara jiwa dan benda yang semuanya itu dianggap keliru sebagai bentuk-bentuk dualisme. Pada akhirnya kecenderungan-kecenderungan dualistik ini disering diasumsikan berdasarkan akar Judeo-Kristen dari peradaban barat, walaupun itu akan lebih akurat dihubungkan dengan gnostisisme khususnya Manichaeisme. Revolusi ilmiah dan jiwa dari rasionalisme modern secara khusus dipersalahkan karena adanya kecenderungan fragmentasi yang memperlakukan seluruh organik sebagai mekanisme yang dapat dikurangi sampai komponen terkecilnya dan kemudian dijelaskan dalam istilah yang baru dan juga karena kecenderungan untuk mengurangi jiwa kepada benda sehingga realitas spiritual itu termasuk jiwa menjadi sebuah “epiphenomenon” yang tergantung dari proses material pokok. Dalam seluruh area ini, alternatif-alternatif New Age disebut “holistik”. Holisme menyerap gerakan New Age dari perhatiannya terhadap kesehatan holistik ke pencariannya terhadap kesadaran unitif (satu) dan dari kesadaran ekologis ke ide mengenai “jaringan” global.

2.3 Prinsip-prinsip pemikiran New Age yang fundamental

2.3.3 Tanggapan global dalam saat krisis

“Baik tradisi Kristen maupun kepercayaan sekuler dalam proses pengetahuan yang terbatas harus menghadapi pecahnya secara parah revolusi pelajar dan yang dimanifestasikan pertama-tama dalam revolusi tersebut tahun 1968” 27. Kebijaksanaan dari generasi yang lebih tua tiba-tiba dicabut dari makna dan kehormatannya, sementara kehebatan ilmu pengetahuan diagung-agungkan sehingga Gereja sekarang “harus menghadapi gangguan serius dalam transmisi imannya kepada generasi muda” 28. Kehilangan iman secara umum dalam pilar-pilar kesadaran dan kohesi sosial terdahulu secara tidak diharapkan telah disertai oleh kembalinya agama kosmis, ritual-ritual, dan keyakinan-keyakinan yang dipercaya oleh banyak orang digantikan oleh Kekristenan, tetapi arus esoteris yang terpendam dan abadi ini tidak pernah benar-benar hilang. Gelombang dalam popularitas agama Asia dalam poin ini merupakan hal yang baru dalam konteks barat, yang dibangun pada abad 19 lampau dalam gerakan teosophis dan gerakan ini “merefleksikan kesadaran spiritualitas global yang berkembang, yang menggabungkan semua tradisi agama yang ada” 29.

Satu dan banyak pertanyaan yang bersifat filosopis dan abadi memiliki bentuk kontemporer modern dalam godaan untuk mengatasi bukan hanya perpecahan yang tak semestinya tetapi bahkan juga perbedaan dan penghormatan dan juga ekspresi yang paling lazim dari ini adalah holisme, yakni sebuah unsur esensial dalam New Age dan suatu unsur dalam tanda-tanda zaman yang prinsipil dalam waktu seperempat abad ke 20 yang lampau. Energi yang luar biasa jumlahnya telah menjadi usaha untuk mengatasi perpecahan ke dalam karakteristik komponen dari ideologi mekanistis tetapi usaha ini mengarah pada rasa kewajiban untuk tunduk pada jaringan global yang memiliki otoritas yang pura-pura bersifat trandensental. Implikasi yang jelas adalah proses transformasi yang sadar dan perkembangan ekologi 30. Visi baru yang merupakan tujuan dari transformasi yang sadar telah menyita waktu dalam memformulasikannya dan pembuatannya ditentang oleh bentuk-bentuk pemikiran yang lebih tua yang dinilai berakar dalam status quo. Apa yang telah sukses adalah generalisasi ekologi seperti daya tarik alam dan resakralisasi bumi, dewi bumi atau Gaia, dengan karakteristiknya yang bersemangat misioner dari politik Biru (Green politics). Agen (alat) eksekutif bumi adalah ras manusia sebagai keseluruhan dimana harmoni dan pengertian yang dibutuhkan demi penguasaan yang bertanggungjawab makin bertambah dipahami menjadi pemerintahaan yang bersifat global dengan kerangka kerja etis global pula. Kehangatan dari dewi bumi, yang keilahiaannya menyerap seluruh ciptaan, diadakan untuk menjembatani kerenggangan antara ciptaan dengan Allah Bapa dari Judaisme dan Kekristenan yang bersifat transendental serta menghapuskan harapan yang dinilai oleh Keberadaan seperti itu.

Dalam visi alam semesta yang tertutup ini yang berisi “Allah” dan mahluk-mahluk lainnya bersama dengan diri kita, kita mengenal secara implisit suatu aliran pantheisme. Ini adalah poin fundamental yang menyerap semua pemikiran dan praktek New Age, serta kondisi-kondisi yang sebelumnya adalah penilaian positif atau negatif dimana bahwa “manusia secara esensial merupakan ciptaan dan tetap tinggal sampai selamanya sehingga absorpsi manusia dalam keilahiaan tidak akan pernah mungkin” 31.

2.3.4 Matriks (Kandungan) esensial dari pemikiran New Age

Kandungan esensial dari pemikiran New Age dapat ditemukan dalam tradisi esoteris yang bersifat theosopis yang hampir diterima secara luas di kalangan lingkaran para intelektual Eropa dalam abad ke 18 dan 19. Pemikiran ini kuat sekali dalam freemansory, spiritualisme, okultisme dan theosopi yang berbagi sejenis kebudayaan esoteris. Dalam pandangan global, alam semesta yang kasat mata dan tak terlihat dihubungkan dengan rangkaian persesuaian, analogi dan pengaruh-pengaruh antara mikrokosmos dengan makrokosmos, antara logam dengan planet, antara planet dengan bermacam-macam bagian tubuh manusia, antara kosmos yang kasat mata dengan aspek realitas yang tak terlihat. Alam adalah benda hidup yang ditembakkan melalui jaringan simpati dan antipati, yang dijiwai oleh cahaya dan api rahasia yang dicoba dikuasai oleh manusia. Orang-orang dapat berhubungan dengan dunia atas dan bawah melalui sarana-sarana imaginasi mereka (sebuah organ dari jiwa atau roh) atau menggunakan mediator (malaikat, roh, iblis) atau upacara ritual.

Orang-orang dapat diinisiasikan dalam misteri kosmos, Allah dan diri sendiri melalui sarana-sarana transformasi rencana perjalanan (itinerary) spiritual. Tujuan akhirnya adalah gnosis, bentuk pengetahuan tertinggi sederajat dengan keselamatan. Tujuan ini melibatkan pencarian untuk tradisi paling tua dan muda dalam filosopi (apa yang tidak tepat disebut philosophia perennis) dan agama (teologi primordial), suatu doktrin rahasia (esoteris) yang merupakan kunci bagi semua tradisi-tradisi “eksoteris” yang mudah masuk ke semua orang. Ajaran-ajaran esoteris diserahkan dari seorang master kepada murid dalam program inisiasi yang dilakukan secara bertahap.

Esoterisme abad ke 19 dipandang oleh beberapa orang seperti esoterisme yang sama sekali tersekularisasikan. Alkemi, magis, astrologi dan elemen esoterisme tradisional lainnya telah diintegrasikan sepenuhnya dengan aspek kebudayaan modern termasuk pencarian mengenai hukum sebab akibat, evolusisme, psikologi dan studi agama-agama. Esoterisme mencapai bentuk yang paling jelas dalam ide-ide Helena Blavatsky, seorang medium Rusia yang bersama-sama Henry Olcott menemukan Theosophical Society (masyarakat theosopis) di New York tahun 1875. Masyarakat mengarahkan penggabungan elemen-element tradisi Timur dan Barat dalam sebuah jenis spiritualisme evolusioner. Jenis spiritualisme evolusioner ini memiliki tiga sasaran :

1. “Membentuk nukleus dari Persaudaraan manusia secara universal tanpa membeda-bedakan ras, kepercayaan atau warna kulit.

2. Mendorong perlunya studi perbandingan agama, filosopi dan ilmu pengetahuan.

3. Menyelidiki hukum-hukum Alam yang tak terjelaskan dan kekuatan yang tersembunyi dalam diri manusia.

“Arti dari ketiga tujuan ini seharusnya menjadi jelas. Tujuan pertama secara implisit menolak “kefanatikan yang irasional” (irrational bigotry) dan “sektarianisme” (sectarianism) dari Kekristenan tradisional yang dirasakan oleh para ahli spiritual (spiritualist) dan ahli theosopi (theosophist)….Hal ini tidak dengan serta merta menjadi jelas dari tujuannya sendiri bahwa bagi theospist, “ilmu pengetahuan” diartikan sebagai ilmu klenik/gaib (occult science) dan filosopi sebagai filosopi klenik (occulta philosophia) dan bahwa hukum-hukum alam merupakan sebuah klenik (occult) atau alam fisik serta bahwa akhirnya perbandingan agama diharapkan bisa membuka selubung “tradisi primordial” yang digambarkan pada kekekalan filosopis petapa (Hermeticist philosophia perennis)”32 .

Komponen utama dari tulisan Ny Blavatsky adalah emansipasi wanita yang melibatkan suatu serangan kepada Allah Judaisme yang berkelamin “pria” baik dari tradisi Kekristenan maupun Islam. Ny Blavatsky mendesak orang-orang untuk kembali kepada Dewi Ibu Hinduisme dan mempraktekan nilai-nilai perempuan. Hal ini berlanjut di bawah bimbingan Annie Besant seorang dalam barisan depan gerakan feminis. Wicca dan “spiritualitas wanita” melaksanakan perjuangan ini melawan Kekristenan saat ini yang bersifat “patriarkal”.

Marilyn Ferguson menyumbangkan sebuah bab dalam The Aquarian Conspiracy kepada pelopor Zaman Aquarius, yakni mereka yang telah menyusun topik mengenai transformasi visi berdasarkan ekspansi kesadaran dan pengalaman transendensi diri. Dua dari antara yang disebutkan oleh Ferguson adalah psikolog Amerika bernama William James dan psikater Swis Carl Gustav Jung. James mendefinisikan agama sebagai pengalaman, bukan dogma, dan dia mengajarkan bahwa manusia dapat merubah sikap mental mereka dalam cara sedemikian sehingga mereka dapat menjadi arsitek bagi nasib mereka sendiri. Jung menekankan karakter transenden dari kesadaran (transcendent character of consciousness) dan memperkenalkan ide mengenai alam bawah sadar kolektif (collective unconscious), suatu jenis penyimpanan bagi simbol-simbol dan memori yang dibagikan kepada orang-orang dari berbagai macam umur dan budaya. Menurut Wouter Hanegraaff, kedua orang ini memberiki kontribusi kepada “sakralisasi psikologi” (sacralisation of psychology), sesuatu yang telah menjadi elemen penting dari pemikiran dan praktek New Age. Jung, benar-benar, “bukan hanya esoterisme yang terpsikologikan (psychologized esoterism) tetapi juga dia mengsakralkan psikologi dan mengisinya dengan kandungan spekulasi esoteris (contents of esoteric speculation). Hasilnya adalah terbentuknya tubuh teori (body of theories) yang dapat membuat orang-orang mampu berbicara mengenai Allah meski diartikan sebagai jiwa atau hati (psyche) mereka sendiri sebaliknya mengenai jiwa atau hati (psyche) mereka sendiri meski diartikan sebagai yang ilahi. Bila hati atau jiwa (psyche) adalah “pikiran” dan Allah adalah “pikiran” juga maka untuk mendiskusikan sesuatu seseorang pun harus mendiskusikan bagian lainnya” 33 . Tanggapan Jung terhadap tuduhan bahwa dia telah “mempsikologikakan” Kekristenan adalah bahwa “psikologi adalah mitos modern dan hanya dalam terminologi mitos masa kini maka kita dapat memahami iman”. 34 Ini sudah tentu bahwa psikologi Jung memancarkan cahaya pada banyak aspek dari iman Kristen, khususnya kebutuhan untuk menghadapi realitas jahat, tetapi pendirian kerohaniaannya begitu berbeda pada tahap-tahap kehidupannya yang mana ada sesuatu yang ditinggalkannya bersama dengan citra Allah yang membingungkan. Elemen sentral dalam pikirannya adalah pemujaan matahari dimana Allah adalah energi vital (libido) di dalam diri sesesorang 35. Seperti yang dia katakan, “perbandingan ini bukan hanya permainanan kata-kata” 36. Ini adalah “allah di dalam” yang Jung arahkan, yakni keilahian esensial yang ia percayai ada dalam setiap manusia. Jalan menuju alam yang lebih dalam (inner universe) adalah melalui alam bawah sadar. Persesuaian dunia yang lebih dalam kepada dunia yang di luar ada dalam keadaan bawah sadar yang kolektif.

Kecenderungan untuk menukar tempat antara psikologi dengan spiritualitas dilekatkan dengan kuat dalam Gerakan Potensi Manusia seperti yang dikembangkan pada akhir tahun 1960-an di Institut Esalen California. Psikologi transpersonal yang dipengaruhi begitu kuat oleh agama-agama Timur dan Jung menawarkan perjalanan kontemplatif dimana ilmu pengetahuan bertemu dengan mistisisme. Tekanannya diadakan pada tubuh jasmani dimana penelusuran cara-cara untuk mengembangkan kesadaran dan pengolahan mitos dari alam bawah sadar kolektif merupakan dorongan bagi pencarian akan “Allah yang di dalam” diri seseorang. Untuk menyadari potensi seseorang, maka orang itu harus pergi melewati egonya agar menjadi allah yang berada di bagian dalam bawah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan memilih terapi yang cocok – meditasi, pengalaman parapsikologis, penggunaan obat-obatan halusinasi. Terapi-terapi ini adalah jalan untuk mencapai “pengalaman puncak”, yakni pengalaman penggabungan “mistis” bersama Allah dan kosmos.

Simbol dari Aquarius diambil dari mitologi astrologis tetapi kemudian menandakan keinginan atau hasrat akan dunia baru secara radikal. Dua pusat yang adalah wadah-kekuatan mula-mula dari New Age dan masih pada tingkat tertentu merupakan komunitas Kebun (Garden community) Findhorn di Skotlandia Timur Laut dan Pusat bagi pengembangan potensi manusia Esalen berada di Big Sur, California Amerika Serikat. Apa menjadi makanan New Age secara konsisten adalah bertumbuhnya kesadaran global dan meningkatnya kesadaran akan bayangan krisis ekologis.

2.3.5 Tema-tema sentral New Age

New Age tidak dengan tepat berbicara tentang agama tetapi New Age tertarik pada apa yang disebut dengan “ilahi” (divine). Inti dari New Age adalah perkumpulan lepas dari macam-macam kegiatan, ide-ide dan orang-orang yang mungkin secara sadar tertarik kepada istilah itu. Meskipun ini dan walaupun jenisnya banyak sekali di dalam New Age namun ada beberapa hal-hal yang sama :

- kosmos dipandang sebagai keseluruhan organis

- kosmos digerakkan oleh sebuah Energi yang juga diidentifikasikan sebagai Jiwa atau Roh ilahi

- kepercayaan banyak diberikan pada meditasi dari aneka-ragam kesatuan spiritual – manusia mampu bergerak naik ke kondisi yang lebih tinggi dan tak terlihat, dan dapat mengontrol kehidupan mereka sendiri di luar kematiannya.

- Ada “pengetahuan abadi” (perennial knowledge) yang dijadikan pegangan yang mendahului dan mengungguli semua agama dan budaya.

- Orang-orang mengikuti soerang master yang berfungsi memberikan pencerahan…

2.3.6 Apa yang New Age bicarakan….

2.3.6.1 ….pribadi seseorang ?

New Age melibatkan kepercayaan fundamental dalam penyempurnaan pribadi manusia oleh sarana-sarana teknik dan terapi yang luas (seperti yang ditentang oleh pandangan kristen mengenai kerjasama dengan rahmat ilahi). Ada keserasian dengan ide Nietzche bahwa Kekristenan telah menghalangi adanya manifestasi penuh dari sifat kemanusiaannya yang asli. Kesempurnaan, dalam konteks ini berarti mencapai penggenapan diri menurut tata tertib nilai-nilai yang kita ciptakan sendiri dan yang kita capai dengan kekuatan kita: oleh sebab itu seseorang dapat berbicara mengenai diri yang menciptakan dirinya sendiri (self –creating self). Dalam cara pandang ini, ada lebih banyak perbedaan antara manusia seperti sekarang dan manusia seperti masa yang akan datang ketika mereka secara penuh menyadari potensi mereka, daripada perbedaan antara manusia dengan kera (anthropoid).

Ini berguna untuk membedakan antara esoterisme, yaitu pencarian akan pengetahuan, dan magis atau klenik (occult) : yang terakhir ini adalah sarana untuk mencapai kekuatan. Beberapa kelompok tersebut merupakan esoteris dan sekaligus klenik (occult). Pusat sistem klenik adalah kemauan untuk berkuasa berdasarkan mimpi untuk menjadi ilahi.

Teknik pengembangan pikiran ditujukan untuk mengungkapkan kepada orang-orang kekuatan ilahi mereka dengan menggunakan kekuatan klenik ini sehingga orang-orang siap pada jalan menuju Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment). Pengagungan manusia ini menjungkirbalikan hubungan yang benar antara Pencipta dan ciptaan dan salah satu bentuk ekstrim dari pengagungan manusia adalah Setanisme (Satanism). Setan menjadi simbol pemberontakan melawan adat kebiasaan (conventions) dan peraturan, yang mana simbol pemberontakan ini sering berlaku agresif, egois dan memakai cara-cara kekerasan. Beberapa kelompok evangelis memperlihatkan perhatiannya pada kehadiran yang luhur dari apa yang mereka klaim sebagai simbolisme setan dalam beberapa jenis musik rock yang memiliki pengaruh luas pada anak-anak muda. Ini semua secara luas terhapuskan dari amanat damai dan harmoni yang ditemukan dalam Perjanjian Baru; ini sering merupakan salah satu konsekuensi dari pengagungan manusia ketika meniadakan Allah yang transendental.

Tetapi ini bukan hanya sesuatu yang mempengaruhi orang-orang muda tetapi juga tema-tema dasar dari budaya esoteris yang muncul dalam aspek politik, pendidikan dan hukum 37 . Ini pun secara khusus menyangkut kasus yang berhubungan dengan ekologi. Tekanan ekologi yang dalam pada bio-sentrisme menyangkal visi antropologis kitab suci yang mana manusia adalah pusat dunia karena mereka dipandang sebagai yang unggul secara kualitatif dibandingkan dengan bentuk-bentuk alamiah lainnya. Tekanan ini sangat jelas dalam hukum dan pendidikan saat ini meskipun fakta menunjukkan bahwa bio-sentrisme meremehkan manusia. Matrix budaya esoteris yang sama dapat ditemukan dalam teori ideologis yang mendasari kebijakan-kebijakan pengontrolan populasi dan eksperimen dalam rekayasa genetis yang kelihatannya memperlihatkan mimpi manusia agar bisa menciptakan dirinya sendiri sekali lagi. Bagaimana orang-orang berharap bisa melakukan hal ini ? Dengan menguraikan kode genetik, yang dapat mengubah aturan seksualitas alamiah, maka tindakan tersebut menolak adanya batas kematian (limits of death).

Apa yang mungkin bisa dikatakan sebagai aturan New Age adalah orang-orang dilahirkan dengan percikan ilahi, dalam pengertiannya mengingatkan kembali gnostisisme kuno; hal ini menghubungkan mereka ke dalam persatuan Keseluruhan (unity of Whole). Jadi mereka pada pokoknya dilihat ilahi meskipun mereka berpartisipasi dalam keilahian kosmis di tingkat kesadaran diri yang berbeda-beda. Kita adalah co-pencipta dan kita menciptakan realitas diri kita sendiri. Banyak pengarang New Age mempertahankan bahwa kita bisa memilih keadaan hidup kita (bahkan penyakit dan kesehatan kita pun) dalam visi dimana setiap individu dianggap sebagai sumber alam semesta yang kreatif. Tetapi kita perlu membuat perjalanan agar secara penuh dapat memahami dimana kita cocok delam persatuan kosmos. Perjalanan tersebut berupa psikoterapi dan pengakuan akan kesadaran universal merupakan keselamatan. Tidak ada dosa; yang ada hanyalah pengetahuan yang tak sempurna. Identitas setiap manusia dicairkan dalam wujud universal (universal being) dan dalam proses inkarnasi yang berturut-turut. Orang-orang merupakan subjek bagi penentuan pengaruh-pengaruh bintang tetapi orang-orang tersebut dapat dibuka kepada keilahian yang hidup dalam diri mereka melalui pencarian yang berlanjut (dengan sarana teknik-teknik yang pas) karena adanya harmoni yang selamanya lebih besar antara diri dan energi kosmis ilahi. Tidak perlu ada Pewahyuan (Revelation) atau Keselamatan (Salvation) yang datang dari orang-orang di luar mereka sendiri tetapi perlu adanya pengalaman keselamatan yang tersembunyi dalam diri mereka sendiri (self-salvation) dengan menguasai teknik-teknik psiko-psikis (psyco-physical techniques) yang mengantar orang pada pencerahan definitif (definitive enlightenment).

Beberapa tahap untuk menuju penebusan diri (self-redemption) adalah persiapan (meditasi, harmoni tubuh, melepaskan energi penyembuhan diri). Cara-cara ini adalah titik awal untuk menuju proses spiritualisasi, kesempurnaan dan pencerahan yang membantu orang-orang memperoleh pengendalian diri secara lebih jauh dan konsentrasi psikis pada “transformasi” dari diri seseorang ke dalam “kesadaran kosmis” (cosmic consciousness). Takdir manusia adalah rangkaian reinkarnasi jiwa secara berturut-turut dalam tubuh yang berbeda-beda. Ini dipahami bukan sebagai siklus “samsara”, dalam pengertian purifikasi seperti hukuman, tetapi sebagai kenaikan gradual menuju pengembangan potensi diri yang sempurna.

Psikologi digunakan untuk menjelaskan perluasan pikiran (mind expansion) sebagai pengalaman “mistis”. Yoga, zen, meditasi transendental dan latihan-latihan tantric membawa orang menuju kepada pengalaman penggenapan diri (self-fulfilment) atau pencerahan. Pengalaman puncak (mengenangkan kembali kelahiran seseorang, bepergian menuju gerbang kematian, biofeedback, tarian dan bahkan obat-obatan yang merupakan cara-cara yang dapat membangkitkan keadaan kesadaran yang berubah) diyakini dapat menuju persatuan dan pencerahan. Karena hanya ada satu Pikiran, beberapa orang dapat menjadi channels bagi wujud yang lebih tinggi. Setiap bagian dari wujud universal tunggal memiliki kontak dengan bagian lainnya. Pendekatan klasik dalam New Age adalah psikologi transpersonal yang konsep utamanya adalah Pikiran Unversal (Universal Mind), Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self), kesadaran personal dan kolektif serta ego individual. Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) adalah identitas riil kita, suatu jembatan antara Allah sebagai Pikiran ilahi (divine Mind) dan manusia. Pengembangan spiritual merupakan kontak dengan Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) yang mengatasi semua bentuk dualisme antara subjek dan objek, antara kehidupan dan kematian, antara jiwa/hati dan soma, antara diri dengan aspek diri yang terpisah-pisah. Kepribadian kita yang terbatas seperti sebuah bayangan atau mimpi yang diciptakan oleh diri riil (self real). Tingkat Diri yang lebih Tinggi (Higher Self) berisi memori dari (re)-inkarnasi dini.

2.3.4.2…..Allah ?

New Age memiliki preferensi yang telah ditandai bagi agama-agama Timur atau pra-Kristen yang dianggap tak terkontaminasi oleh distorsi Judeo-Kristen. Oleh sebab itu penghormatan yang besar diberikan kepada ritus pertanian kuno dan pemujaan fertilitas (fertility cults). “Gaia”, dewi bumi, ditawarkan sebagai sebuah alternatif Allah Bapa, yang citra-Nya dihubungkan kepada konsepsi dominasi pria terhadap wanita yang bersifat patriarkal. Memang ada perbincangan mengenai Allah, tetapi ini bukan Allah yang personal, Allah yang New Age bicarakan bukan bersifat personal dan transendental. Ini bukan pula Pencipta dan penopang alam semesta melainkan sebuah Allah yang merupakan “energi impersonal” yang tetap ada di dunia yang dengan mana membentuk “kesatuan kosmik” “ Semua adalah satu”, “jiwa atau roh dunia”, suatu penjumlah total dari kesadaran yang hidup dalam dunia. Maksudnya adalah bahwa segala sesuatunya adalah Allah. Kehadiran Allah yang paling jelas adalah dalam aspek realitas spiritual sehingga setiap pikiran/roh secara inderawi adalah Allah.

Ketika perasaan ini diterima secara sadar oleh wanita dan pria maka “energi ilahi” sering digambarkan sebagai “energi yang bersifat Kristus” (Christic energy). Ada juga perbincangan mengenai Kristus tetapi ini bukan berarti Yesus dari Nazareth. “Kristus” adalah gelar kecil yang diterapkan kepada seseorang yang telah sampai pada kondisi kesadaran dimana dia meraskan “Kristus” atau dirinya sendiri menjadi ilahi dan dengan demikian dirinya mengklaim menjadi seorang “Master universal” (universal Master). Yesus dari Nazareth bukanlah Kristus seperti yang ditafsirkan New Age ini melainkan sungguh-sungguh seseorang diantara tokoh-tokoh historis yang kepadanya sifat “Kristus” ini dinyatakan seperti halnya Buddha dan tokoh-tokoh lainnya. Setiap realisasi historis (historical realization) dari Kristus ini dengan jelas menunjukkan bahwa semua manusia adalah ilahi dan surgawi dan mengantar mereka menuju realisasi ini. Tingkat yang paling dalam dan personal (“cenayang”) yang mana “energi kosmik ilahi” ini didengar oleh manusia disebut juga “Roh Kudus”.

2.3.4.3…….dunia ?

Langkah dari model mekanistis fisika klasik ke fiskia atom yang modern serta “holistik” dan fisika sub atomik yang didasarkan pada konsep benda seperti gelombang energi daripada partikel merupakan pusat pemikiran New Age. Alam semesta adalah lautan energi yang keseluruhan tunggal atau jaringan mata rantai. Energi menggerakan organisme tunggal yang mana alam semesta itu adalah “roh”. Tidak ada perubahan antara Allah dengan dunia. Dunia itu sendiri ilahi dan dunia menjalakan sebuah proses evolusioner yang mengarah dari benda lembam ke “kesadaran sempurna dan lebih tinggi” (higher and perfect consciousness). Dunia tidak diciptakan, bersifat abadi dan mencukup dirinya sendiri (self-sufficient). Masa depan dunia didasarkan pada dinamika dalam yang perlu positif dan mengarah pada kesatuan damai (ilahi) dari semua yang ada. Allah dan dunia, jiwa dan tubuh, intelegensia dan perasaan, surga dan bumi adalah getaran energi yang sangat besar sekali.

Buku James Lovelock dalam Hipotesis Gaia mengklaim bahwa “keseluruhan cakupan benda-benda hidup di dunia” dari ikan paus ke virus, dan dari pohon ek ke alga, dapat dipandang sebagai kesatuan kehidupan tungal yang berkuasa dan mampu memanipulasi atmosfir bumi untuk menyesuaikan seluruh kebutuhannya yang dibantu dengan panca indera serta kekuatan-kekuatan yang melewati jauh dari kebutuhan-kebutuhan unsur-unsur pokoknya” 38 . Bagi beberapa orang, hipotesis Gaia adalah “sintesis yang aneh tentang individualisme dan kolektivisme. Ini semua terjadi seakan-akan ini adalah New Age, yang menarik orang-orang keluar dari politik yang terpisah-pisah yang tak tahan untuk melemparkan politik itu ke dalam ketel dari pikiran global yang besar”. Otak global memerlukan institusi yang dengan institusi ini memerintah atau dengan kata lain, suatu pemerintahan dunia. “Agar dapat berurusan dengan masalah-masalah sekarang ini, New Age bermimpi tentang aristokrasi spiritual dalam corak Republik Plato yang dijalankan oleh masyarakat rahasia (secret societies)…”39 . Ini mungkin merupakan jalang untuk menyatakan keadaan yang dibesar-besarkan tetapi ada banyak bukti bhwa elitisme gnostic dan pemerintahan global bertemu dalam isu-isu politik internasional.

Segala sesuatu dalam alam semesta itu saling bertalian; bahkan setiap bagian itu sebenarnya adalah dirinya sendiri yang berada dalam suatu citra totalitas; keseluruhan berada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu itu adalah keseluruhan. Dalam “rantai mahluk hidup yang besar” (great chain of being), semua mahluk hidup secara akrab berhubungan dan membentuk satu keluarga dengan tingkat evolusi yang berbeda-beda. Setiap manusia adalah suatu hologram, suatu citra seluruh ciptaan yang mana dalam segala sesuatunya bergetar pada frekuensinya masing-masing. Setiap mahluk hidup adalah suatu neurone dalam sistem saraf pusat bumi dan semua kesatuan individu merupakan hubungan yang saling melengkapi dengan yang lainnya. Sebenarnya ada sifat saling melengkapi yang sangat dalam atau androgini dalam seluruh ciptaan 40.

Salah satu dari tema yang manjur dalam tulisan-tulisan dan pemikiran New Age adalah “paradigma baru” yang mana ilmu pengetahuan kontemporer telah membuka diri. “Ilmu Pengetahuan telah memberikan kepada kita wawasan ke dalam keseluruhan dan sistem (wholes and systems). Kita berkomunikasi mengenai kegagalan-kegagalan sistem yang tua itu, memaksa kerangka kerja baru bagi penyelesaian masalah dalam setiap area” 41. Dengan demikian, “pergeseran paradigma” (paradigm shift) tiada lebih adalah perubahan perspektif secara radikal. Pertanyaan apakah pemikiran dan perubahan nyata itu sepadan dan seberapa efektif dalam dunia luar suatu transformasi yang dalam dapat dibuktikan. Seseorang dipaksa untuk bertanya bahkan tanpa mengekspresikan penilaiannya yang negatif, seberapa spesifiknya proses pemikiran itu ketika proses itu meminta penegasan seperti ini : “Perang itu dapat dipikirkan dalam masyarakat yang terdiri dari orang-orang otonom yang telah menemukan keterhubungan dengan semua manusia yang tidak takut akan ide-ide dan budaya-budaya asing yang tahu bahwa semua revolusi itu bermula di dalam diri manusia dan kamu tidak dapat memaksa jenis pencerahan pada orang-orang lain” 42. Ini tidak logis untuk disimpulkan dari fakta bahwa sesuatu itu tak dapat dipikirkan bahwa itu tak dapat terjadi. Alasan demikian adalah benar-benar gnostik, dalam arti memberikan banyak kekuasaan kepada pengetahuan dan penyadaran diri (consciousness). Cara ini bukan untuk menolak peranan fundamental dan krusial bagi pengembangan penyadaran diri dalam penemuan ilmiah dan pengembangan kreatif tetapi benar-benar suatu kewaspadaan terhadap realitas eksternal tentang apa yang masih ada dalam pikiran.

2.4 “Warga mitos daripada warga sejarah” 43 ? : New Age dan budayanya

“Pada dasarnya, daya tarik New Age berhubungan dengan kepentingan yang secara budaya terstimulasikan dalam diri, nilai-nilainya, kapasitas dan masalah-masalah. Padahal agama tradisional , dengan organisasi hirarkinya ternyata cocok bagi komunitas itu, sementara spiritualitas yang mengalami detradisionalisasi cocok secara individual. New Age “adalah” diri (self) di dalam apa yang memfasilitasi penyelenggaraan dari apa yang menjadi dan akan menjadi serta New Age itu “untuk” diri (self) di dalam pembedaan dari banyaknya arus utama (mainstream), hal ini diposisikan untuk menangani masalah-masalah identitas yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk kehidupan konvensional” 44 .

Penolakan tradisi dalam bentuk organisasi patriarkal, sosial hirarkial atau gerejawi

Mengimplikasikan adanya pencarian bagi bentuk masyarakat alternatif, suatu bentuk yang dengan jelas diinspirasikan oleh gagasan diri (self) yang modern. Banyak tulisan-tulisan New Age setuju bahwa seseorang tidak dapat melakukan sesuatu (secara langsung) untuk merubah dunia melainkan segala sesuatu itu merubah dirinya sendiri; mengubah kesadaran individual dipahami untuk menjadi suatu cara (tidak langsung) mengubah dunia.

Insrumen yang paling penting bagi perubahan sosial adalah adanya teladan personal. Pengakuan secara luas dari teladan-teladan personal akan terus-menurus mengarah pada transformasi pikiran kolektif dan transformasi demikian akan menjadi pencapaian yang utama dari era kita. Ini bagian yang dengan jelas merupakan paradigma holistik dan pernyataan kembali mengenai pertanyaan filosopis klasik tentang satu dan banyak hal (the one and the many). Ini juga dihubungkan dengan teori persesuaian (theory of correspondence) yang mendukung Jung dan penolakannya mengenai sebab-akibat (causality). Individu-individu merupakan perwakilan yang terpisah dari hologram planet (planetary hologram); dengan melihat ke dalam diri seseorang bukan hanya mengetahui alam semesta tetapi juga mengubah alam semesta. Tetapi semakin orang melihat ke dalam diri, semakin kecil arena politis yang terjadi. Apakah ini benar-benar cocok dalam retorika partisipasi demokratis dalam urutan planet atau ini suatu pelepasan wewenang (disempowerment) orang-orang yang tak kentara dan halus yang membuat mereka terbuka terhadap manipulasi ? Apakah keasyikan yang sedang berlangsung dengan masalah keplanetan (isu ekologis, penyebaran sumber-sumber daya, populasi berlebihan, jurang ekonomi antara timur dan selatan, penyimpanan senjata nuklir dan ketidakstabilan politik) memungkinkan atau melumpuhkan kesepakatan yang secara cukup nyata ada dalam pertanyaan-pertanyaan politis dan sosial lainnya ? Pepatah lama yang mengatakan bahwa “amal dimulai dari rumah” dapat memberikan keseimbangan yang sehat terhadap pendekatan seseorang mengenai isu-isu tersebut. Beberapa pengamat New Age mendeteksi adanya otoritarianisme yang mengancam di balik ketidakacuhan politik. David Spangler sendiri menunjuk bahwa salah satu bayangan New Age adalah “penyerahan halus kepada ketakberdayaan dan ketidakbertanggungjawaban dalam menunggu New Age yang sekedar datang daripada menjadi pencipta aktif keseluruhan dalam kehidupan orang itu” 45

Meskipun hal ini sulit untuk secara tepat disarankan bahwa paham peredaan/ketenangan (quietism) bersifat universal dalam sikap-sikap New Age namun salah satu kritisisme utama Gerakan New Age adalah pencarian pribadi bagi pencapaian diri mungkin sebenarnya bekerja melawan kemungkinan adanya budaya agama yang kuat. Tiga poin ini menghasilkan fokus sebagai berikut :

- Ini masih bisa dipertanyakan apakah New Age mempertunjukkan daya meyakinkan secara intelektual (intellectual cogency) untuk memberikan gambaran yang lengkap tentagn kosmos dalam pandangan dunia yang mengklaim bisa mengintegrasikan alam dan realitas spiritual. Alam semesta barat dilihat sebagai alam yang satu dan terbagi berdasarkan monotheisme, transenden, perubahan (alterity) dan pemisahan (separateness). Dualisme fundamental dideteksi seperti pembagian antara riil dengan ideal, antara relatif dan absolut, antara terbatas dan tak terbatas, antara manusiawi dan ilahi, antara kudus dan keduniawiaan, antara masa lalu dan sekarang, semua yang berbau harum dari “penyadaran tak bahagia” (unhappy consciousness) dari Hegel. Ini digambarkan seperti sesuatu yang tragis. Tanggapan dari New Age adalah persatuan melalui penggabungan (fusi); New Age mengklaim bisa mendamaikan jiwa dengan tubuh, wanita dan pria, roh dan benda, manusia dengan ilahi, bumi dan kosmos, transenden dan imanen, agama dan pengetahuan, perbedaan diantara agama-agama, Yin dan Yang. Dengan demikian tidak ada pengubahan (alterity); apa yang disisakan menurut istilah manusia adalah transpersonalitas (transkepribadian). Dunia New Age tidak problematik; tidak ada yang tersisa untuk dicapai. Tetapi pertanyaan metafisik tentang satu dan banyak hal tetap tak terjawab, bahkan mungkin tak ditanyakan, bahwa ada sejumlah besar penyesalan akibat pengaruh perpecahan (disunity) dan pembagian (divisions) namun tanggapannya merupakan deskripsi tentang bagaimana sesuatu itu akan muncul dalam visi yang lain.

- New Age mengimpor sedikit demi sedikit praktek-praktek agama Timur yang diintrepretasikan kembali agar cocok dengan orang-orang Barat; hal ini termasuk penolakan bahasa dosa dan keselamatan, serta menggantikannya dengan bahasa yang lebih netral secara moral yakni kecanduan (addiction) dan penyembuhan (recovery). Referensi terhadap pengaruh-pengaruh extra Eropa kadang-kadang hanya merupakan “pseudo-Orientalisasi” kebudayaan Barat. Lebih jauh lagi, ini hampir tidak merupakan suatu dialog asli; dalam konteks dimana pengaruh-pengaruh Yunani-Romawi (Graeco-Roman) dan Judaisme-Kristen (Judaeo-Christian) menjadi kecurigaan, sehingga pengaruh oriental digunakan secara tepat sebab pengaruh-pengaruh ini merupakan alternatif bagi kebudayaan Barat. Ilmu tradisional dan kedokteran dirasakan inferior dibandingkan pendekatan holistik seperti pendekatan patriarkal dan struktur partikular dalam politik dan agama. Semua ini akan menjadi halangan bagi kedatangan jaman Aquarius (Age of Aquarius); sekali lagi sudah jelas bahwa apa yang diimplikasikan ketika orang-orang memilih alternatif-alternatif New Age adalah putusnya hubungan dengan tradisi yang membentuk mereka. Apakah ini menjadi sematang dan sebebas yang sering dipikiran dan dianggap orang-orang ?

- Tradisi-tradisi agama otentik mendorong ketertiban dengan tujuan yang pada akhirnya mendapatkan kebijaksanaan (wisdom), ketenangan hati (equanimity), dan rasa kasihan (compassion). New Age menggemakan kedalaman masyarakat yang tak dapat diberantas untuk menghasilkan kebudayaan agama integral serta sesuatu yang lebih generik dan mengandung penerangan daripada apa yang para politisi tawarkan tetapi ini tidak jelas apakah benefit visi tersebut yang berdasarkan pengembangan diri (self expanding) adalah untuk individual atau masyarakat. Kursus-kursus pelatihan New Age (biasa dikenal dengan “Pelatihan seminar Erhard” [EST] dsb). Memadukan nilai-nilai budaya tandingan dengan aliran utamanya perlu berhasil, yakni kepuasan di dalam (inner satisfaction) dengan kesuksesan di luar (outer success); “Semangat Bisnis” Findhorn memundurkan transformasi pengalaman kerja saat peningkatan produktivitasnya; beberapa penganut New Age terlibat tidak hanya menjadi lebih otentik dan spontan tetapi juga agar menjadi lebih makmur (melalui magis dll). “Apa yang membuat hal-hal bahkan lebih menarik bagi para pelaku bisnis (enterprise-minded business person) adalah bahwa pelatihan-pelatihan New Age juga menyuarakan ide-ide besar yang agak lebih humanistis dalam dunia bisnis. Ide-ide tersebut harus berhubungan dengan tempat kerja sebagai ‘lingkungan belajar’ (learning environtment), ‘membuat kehidupan kembali bekerja’, ‘memanusiakan pekerjaan’ (humanizing work), ‘memenuhi manajer’ (fulfilling manager), ‘orang-orang adalah yang pertama’ (people come first) atau ‘membuka potensi’ (unlocking potential). Diwakili oleh para trainer New Age, kemungkinan besar mereka memohon lebih banyak pelatihan-pelatihan humanistis (sekuler) kepada orang-orang bisnis yang telah terlibat sebelumnya dan yang menginginkan untuk mengambil hal-hal tersebut secara lebih jauh lagi; pada waktu yang sama demi pertumbuhan personal, kebahagiaan dan entusiasme, dan juga demi produktivitas komersial” 46 . Jadi ini jelas bahwa orang-orang yang terlibat benar-benar mencari kebijaksanaan dan ketenangan hati dmei keuntungan mereka sendiri, tetapi seberapa banyakkah aktivitas yang melibatkan mereka bisa memungkinkan mereka bekerja demi kebaikan yang umum itu ? Terlepas dari pertanyaan mengenai motivasi, semua fenomena ini perlu dinilai melalui buah-buahnya dan keraguan sehingga patut dipertanyakan apakah mereka mempromosikan diri (self) atau solidaritas (solidarity), bukan hanya dengan ikan paus, pohon-pohon atau seperti orang berpikiran seperti itu melainkan dengan seluruh ciptaan termasuk seluruh manusia. Konsekuensi yang paling merusak dari beberapa filosopi egoisme yang dirangkul erat oleh institusi-institusi atau banyak orang telah diidentifikasikan oleh Kardinal Joseph Ratzinger sebagai suatu rangkaian “strategi untuk mengurangi jumlah mereka yang akan makan di meja manusia (eat at humanity’s table)” 47. Ini adalah kunci yang standard yang bisa mengevaluasi dampak dari filosopi atau teori New Age. Kekristenan selalu mencoba mengukur usaha-usaha melalui keterbukaan mereka kepada Pencipta dan semua ciptaan yang lain sebagai sebuah penghormatan yang benar-benar didasarkan pada cinta.

2.5 Mengapa New Age tumbuh dengan cepat dan menyebar secara efektif ?

Apakah pertanyaan dan kritik itu bisa menarik perhatian, New Age adalah suatu usaha oleh orang-orang yang mengalami dunia ini kejam dan tak memiliki hati sehingga kehangatan perlu dibawa kembali kepada dunia itu. Sebagai suatu reaksi terhadap modernitas, New Age bekerja lebih sering daripada yang bukan tingkat perasaaan, insting dan emosi. Kecemasan mengenai masa depan instabilas ekonomi yang bersifat apokaliptik, ketidakpastian politis dan perubahan iklim memainkan bagian besar yang menyebabkan orang-orang mencari suatu alternatif, yakni hubungan yang secara tegas optimistis terhadap kosmos. Ada suatu pencarian bagi keseluruhan dan kebahagiaan, yang secara eksplisit sering muncul pada tingkat spiritualitas. Tetapi ini cukup signifikan bahwa New Age telah menikmati kesuksesan luar biasa dalam sebuah era yang bisa dikarakterisasikan melalui pengagungan perbedaan yang hampir bersifat universal. Kebudayaan barat telah mengambil langkah melampaui toleransi – dalam pengertian penerimaan atau peletakan yang segan terhadap idiosyncrasies (karakterisitik tingkah laku yang aneh) seseorang atau kelompok minoritas – menuju erosi sadar dari penghormatan terhadap normalitas. Normalitas dipresentasikan sebagai suatu konsep bermuatan moral, yang perlu dikaitkan dengan norma-norma absolut. Karena jumlah orang-orang yang terus bertumbuh. Kepercayaan absolut atau norma-norma tidak mengidentifikasikan sesuatu kecuali suatu ketidakmampuan untuk bertoleransi pada pada pandangan dan keyakinan orang lain. Dalam keadaan ini, gaya hidup dan teori-teori alternatif ini benar-benar membawa pergi: yang tidak hanya diterima namun juga secara positif baik untuk berbeda-beda 48.

Ini perlu sekali dipikirkan bahwa orang-orang dilibatkan dengan New Age dalam cara-cara yang berbeda dan pada banyak tingkatan. Dalam banyak kasus hal ini bukan merupakan pertanyaan mengenai “kepemilikan” (belonging) bagi kelompok atau gerakan; bukan pula mengenai penyadaran secara sadar (conscious awareness) terhadap prisinp-prinsip yang dibangun dalam New Age. Kelihatannya karena bagian yang paling banyak, orang-orang tertarik pada terapi atau praktek khusus tanpa masuk ke dalam latar belakang mereka dan orang-orang lainnya benar-benar konsumen produk yang dilabelkan “New Age”. Sebagai contoh, Orang-orang yang menggunakan aromaterapi atau mendengar musik “New Age”, biasanya tertarik pada efek yang berhubungan dengan kesehatan mereka; namun hanya beberapa orang saja yang mendalami masalah itu dan coba untuk memahami signifikansi teoritisnya (atau “mistis”). Hal ini dengan pas cocok ke dalam pola-pola konsumsi masyarakat dimana kesenangan dan waktu luang memainkan bagina yang penting ini. “Gerakan” ini telah mengadaptasi dengan baik hukum-hukum pasar dan sebagian telah masuk dalam hukum-hukum tersebut sebab hukum tersebut merupakan rencana ekonomi yang menarik bahwa New Age menjadi begitu luas dikenal. New Age telah dilihat setidak-tidaknya dalam beberapa kebudayaan sebagai label produk yang diciptakan melalui penerapan prinsip-prinsip pemasaran terhadap fenomena agama 49. Akan selalu ada cara menghasilkan profit dari kebutuhan spiritual yang dirasakan masyarakat. Seperti banyak hal lainnya dalam ekonomi kontemporer, New Age merupakan fenomena global yang dipegang dan dihidupi oleh informasi melalui media massa. Ini bisa diperdebatkan bahwa komunitas global diciptakan oleh sarana-sarana media massa dan cukup jelas bahwa literatur yang populer dan komunikasi massa menjamin bahwa gagasan-gagasan umum yang dipegang oleh “kaum percaya” (believers) dan simpatisannya menyebar hampir tiap hari dengan begitu cepatnya. Tetapi, tidak ada cara untuk membuktikan bahwa penyebaran gagasan-gagasan demikian adalah kebetulan atau disengaja karena ini adalah bentuk bebas dari “komunitas”. Seperti komunitas cycber (cyber communities) yang diciptakan oleh Internet, ide-ide itu merupakan domain dimana hubungan antara orang-orang dapat berupa personal atau impersonal dalam pengertian yang sangat selektif.

New Age telah menjadi sangat populer sebagai perangkat kepercayaan, terapi dan praktek lepas yang sering dipilih dan dikombinasikan pada kehendak, terlepas dari ketidakcocokan dan ketidakkonsistenan yang mungkin terimplikasikan. Tetapi ini ternyata diharapkan dalam pandangan dunia mengenai kesadaran diri di (world-view self consciously) berdasarkan pemikiran intuitif “otak kanan” (right-brain). Dan ini secara seksama mengapa hal ini penting untuk menemukan kembali dan mengenali karakteristik fundamental dari ide-ide New Age. Apa yang ditawarkan sering digambarkan sebagai sungguh-sungguh “spiritual” daripada milik beberapa agama, ada pula beberapa kaitan yang lebih dekat kepada agama Timur partikular daripada yang “konsumen” sadari. Ini ternyata penting dalam kelompok “doa” yang dipilih orang-orang untuk diikuti tetapi kelompok ini pula menimbulkan pertanyaan yang nyata bagi manajemen dalam jumlah perusahaan yang bertumbuh yang pengawai-pegawainya diminta untuk mempraktekan meditasi dan mengadopsi teknik-teknik pengembangan pikiran sebagai bagian dari kehidupan pekerjaan mereka 50.

Adalah layak untuk mengatakan bahwa promosi bersama New Age sebagai sebuah ideologi, tetapi ini merupakan isu yang komplek. Beberapa kelompok telah bereaksi terhadap New Age dengan menyapu bersih tuduhan-tuduhan adanya konspirasi, tetapi secara umum jawabannya akan menjadi bahwa kita sedang bersaksi mengenai perubahan kultural spontan yang arahnya agak ditentukan oleh pengaruh-pengaruh diluar kontrol manusia. Bagaimana pun juga, ini sudah jelas menunjuk bahwa New Age berbagi dengan sejumlah kelompok internasional yang berpengaruh dengan tujuan menggantikan agama-agama partikular/khusus agar dapat menciptakan ruang untuk agama universal yang dapat menyatukan manusia. Yang berhubungan erat dengan ini adalah usaha-usaha bersama pada bagian dari banyak institusi untuk menemukan sebuah Etika Global , yakni kerangka kerja etis yang akan merefleksikan sifat global budaya kontemporer, ekonomi dan politik. Lebih jauh lagi, politisasi masalah-masalah ekologis secara pasti mewarnai seluruh pertanyaan mengenai hipotesis Gaia atau pemujaan kepada ibu bumi.

3 NEW AGE DAN SPIRITUALITAS KRISTEN

3.1 New Age sebagai bentuk spiritualitas

New Age sering dihubungkan kepada mereka yang mempromosikannya sebagai bentuk “spiritualitas baru”. Ini nampaknya ironis untuk menyebut New Age “baru” ketika banyak ide-idenya telah diambil dari agama-agama dan kebudayaan-kebudayaan kuno. Tetapi apa yang benar-benar baru adalah bahwa New Age merupakan pencarian yang sadar bagi sebuah alternatif terhadap budaya Barat dan akar agama Judaisme-Kristen. “Spiritualitas” dalam cara ini mengacu kepada pengalaman harmoni dan persamaan yang lebih dalam mengenai keseluruhan realitas yang menyembuhkan setiap perasaan ketidaksempurnaan dan keterbatasan manusia. Orang-orang menemukan keterhubungannya yang dalam dengan kekuatan universal yang suci atau energi yang merupakan nukleus dari semua kehidupan. Ketika mereka membuat penemuan ini, laki-laki dan perempuan bisa menanamkan pada jalur kesempurnaan yang dapat memungkinkan mereka untuk melakukan penyortiran kehidupan pribadi dan hubungan mereka kepada dunia ini dan untuk mengambil tempat mereka dalam proses menjadi universal dan dalam Kejadian Baru (New Genesis) dunia ini dalam evolusi yang konstan. Hasilnya adalah sebuah mistisisme kosmik (cosmic mysticism)51 berdasarkan pada kesadaran orang-orang mengenai alam semesta yang berkembang dalam energi yang dinamis. Demikian energi kosmik, vibrasi, cahaya, Allah, kasih – bahkan Diri yang tinggi (supreme Self) – semua mengacu pada realitas yang satu dan sama, sumber utama yang hadir dalam setiap mahluk.

Spiritualitas ini mengandung dua elemen yang berbeda, satu metafisik yang lain filosopis. Komponen metafisik berasal dari akar esoteris dan theosopis New Age dan ini pada dasarnya merupakan bentuk gnosis yang baru. Jalan masuk kepada keilahian adalah melalui pengetahuan misteri yang tersembunyi, yang setiap individu mencari “yang nyata di belakang apa yang hanya kelihatan, yang asli diluar waktu, yang transenden diluar apa yang hanya berlalu cepat, tradisi primordial diluar tradisi yang hanya berlangsung cepat, yang lain diluar diri sendiri (self), keilahian kosmis diluar inkarnasi individu”. Spiritualitas esoteris “adalah investigasi Mahluk diluar keterpisahan dari mahluk-mahluk, sejenis nostalgia bagi kesatuan yang hilang”. 52

“Di sini seseorang dapat melihat susunan (matrix) spiritualitas esoteris gnostik. Ini merupakan bukti ketika anak-anak Aquarius mencari Kesatuan Transendental agama-agama. Mereka cenderung memilih hanya nukleus historis dari agama-agama historis yang mereka klaim menjadi pelindungnya. Entah bagaimana mereka menolak sejarah dan tidak akan menerima bahwa spiritualitas dapat berakar dalam waktu atau dalam institusi. Yesus dari Nazareth bukanlah Allah, tetapi salah satu dari banyak manifestasi historis dari Kristus yang kosmis dan universal”. 53

Komponen psikologis dari jenis spiritualitas ini berasal dari pertemuan antara budaya esoteris dan psikologi (lihat sub bab 2.32). Dengan demikian New Age menjadi sebuah pengalaman psiko personal – transformasi spiritual, yang dilihat sebagai analogi terhadap pengalaman religius. Bagi beberapa orang, transformasi ini mengambil bentuk pengalaman mistis yang dalam, setelah krisis personal atau pencarian spiritual yang panjang. Bagi orang lainnya, transformasi ini datang dari penggunaan meditasi atau sejenis terapi atau dari pengalaman paranormal yang mengubah keadaan kesadaran (state of consciousness) dan menyediakan pengetahuan ke dalam kesatuan realitas.54

3.2 Narsisisme spiritual ?

Beberapa pengarang melihat Spiritualitas New Age sebagai jenis narsisisme spiritual atau pseudo-mistisisme. Ini menarik untuk dicatat bahwa kritik ini diletakkan bahkan oleh eksponen penting New Age, David Spangler, yang dalam karya-karya terakhirnya, menjauhi dirinya sendiri dari banyak aspek esoteris pada arus pemikirian ini. Dia menulis bahwa, bentuk-bentuk New Age yang lebih populer, “individu-individu dan kelompok-kelompok sedang hidup sampai pada fantasi-fantasi pengalaman dan kekuatan mereka, biasanya merupakan klenik atau bentuk millenarian….Karakteristik prinsipil tingkat ini adalah alat pelengkap kepada dunia ego yang bersifat privat - penggenapan dan penarikan yang konsekuensi (meskipun tidak selalu nyata) dari dunia. Pada tingkat ini, New Age menjadi padat dengan keanehan dan mahluk eksotik, master, orang yang terampil, mahluk luar angkasa (ET); Ini adalah tempat kekuatan fisik dan misteri klenik, dari konspirasi-konsiprasi dan ajaran-ajaran tersembunyi”.55

Dalam karya terakhirnya, David Spangler menyusun daftar mengenai apa yang dia lihat sebagai elemen-elemen negatif atau “bayangan-bayangan” New Age: “pengasingan dari masa lalu atas nama masa depan; alat kelengkapan kesenangan yang baru demi dirinya sendiri…; sikap tidak pandang bulu dan tidak adanya pembeda-bedaan atas nama keseluruhan dan persekutuan, oleh karena itu adalah suatau kegagalan untuk memahami atau menghormati peranan batas-batas…; kebingungan adanya fenomena fisik dengan kebijaksanaan, penyaluran (channeling) dengan spiritualitas, perspektif New Age dengan kebenaran akhir”.56 Tetapi, akhirnya, Spangler yakin bahwa, narsisisme irasional dan egois terbatas pada beberapa penganut New Age. Aspek-aspek positif yang dia tekankan adalah fungsi New Age sebagai citra perubahan dan sebagai inkarnasi yang kudus, gerakan yang mana banyak orang merupakan “pencari kebenaran yang serius” , yang bekerja dalam kepentingan hidup dan pertumbuhan yang lebih dalam.

Aspek komersial dari produk-produk dan terapi yang memikul nama New Age dikeluarkan oleh David Toolan, seorang Yesuit Amerika yang menghabiskan beberapa tahun dalam pergaulan New Age. Dia mengobservasi bahwa para penganut New Age telah menemukan kehidupan yang lebih dalam dan dipesonakan oleh prospek yang menjadi tanggungjawab bagi dunia, tetapi bahwa mereka juga dengan mudah diatasi oleh kecenderungan kepada individualisme dan pandangan segala sesuatu itu sebagai objek konsumsi. Dalam pengertian ini, hal itu bukan agama Kristen, New Age bukan pula Budha, sebab hal ini tidak melibatkan penolakan diri sendiri. Dalam prakteknya, mimpi mengenai kesatuan mistis nampak mengarah hanya kepada kesatuan virtual yang pada akhirnya meninggalkan orang-orang sendirian dan tak terpuaskan.

3.3 Kristus Kosmik

Pada awal Kekristenan, para pengikut Yesus Kristus dipaksa untuk menghadapi agama-agama gnostik. Para pengikut tersebut tersebut tidak mengabaikan agama-agama tersebut tetapi menantang dengan positif dan menerapkan terminologi yang digunakan dalam ketuhanan kosmik kepada Yesus sendiri. Contoh yang paling jelas dari keadaan tersebut adalah kidung yang populer kepada Kristus dalam surat Paulus kepada umat di Kolose : “Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebihutama dari yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Dialah kepala Tubuh, yaitu Gereja. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Diala Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan Diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus”.(Col 1 : 15 – 20)

Bagi orang Kristen perdana, tidak ada zaman kosmik yang akan datang; apa yang mereka rayakan dengan kidung ini adalah penggenapan segala sesuatu yang telah dimulai dalam Kristus. “Waktu benar-benar digenapi oleh fakta saja bahwa Allah, dalam Inkarnasi turun ke dalam sejarah manusia. Keabadian memasuki waktu : ‘penggenapan’ apa dapat lebih besar dari ini ? ‘Penggenapan’ lain yang apa yang mungkin terjadi ?”57 Kepercayaan gnostik dalam kekuatan kosmik dan beberapa penghalangan dari jenis takdir ini mengambil tanggungjawab hubungan kepada Allah personal yang dinyatakan dalam Kristus. Bagi orang Kristen, Kristus kosmik yang nyata adalah seseorang yang hadir secara aktif dalam berbagai macam anggota-anggota tubuhnya yakni Gereja. Mereka tidak melihat kekuatan kosmik impersonal tetapi kepada perlindungan kasih Allah personal; bagi mereka bio-centrisme kosmik harus diubah ke dalam seperangkat hubungan sosial (dalam Gereja) dan mereka terkunci dalam pola siklus dari kegiatan-kegiatan kosmik tetapi memfokuskan pada Yesus historis, khususnya penyaliban dan kebangkitan-Nya. Kita temukan dalam Surat kepada Kolose dan dalam Perjanjian Baru sebuah doktrin Allah yang berbeda dari yang implisit dalam pemikiran New Age: Konsepsi Kristen mengenai Allah adalah salah satu dari Trinitas Pribadi-pribadi yang telah menciptakan ras manusia karena keinginan untuk berbagi komuni kehidupan Trinitaris dengan pribadi-pribadi yang patuh. Bila dimengerti secara sepadan, ini berarti bahwa spiritualitas yang otentik tidak sebanyak pencarian kita akan Allah melainkan pencarian Allah terhadap kita.

Yang lainnya, sama sekali berbeda, pandangan pentingnya Kristus kosmik telah menjadi arus dalam lingkaran New Age. “Kristus kosmik adalah pola ilahi yang berhubungan dalam pribadi Yesus Kristus (tetapi sama sekali tidak terbatas kepada orang itu). Pola konektivitas yang ilahi itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita (Yoh 1 : 14) …..Kristus Kosmik…memimpin eksodus baru dari perbudakan dan pandangan Newton yang pesismistis, alam semesta mekanistis begitu matang dengan kompetisi, pemenang, dualisme, antroposentrisme dan rasa jemu yang datang ketika ketika alam semesta kita yang mengasikkan ini digambarkan seperti mesin yang kehilangan harapan akan misteri dan mistisisme. Kristus Kosmik bersifat lokal dan historis, benar-benar mendalam bagi sejarah manusia. Kristus Kosmik mungkin tinggal di sebelah kita atau bahkan di dalam diri seseorang yang terdalam dan paling benar” 58. Meskipun pernyataan ini mungkin tidak memuaskan setiap orang yang terlibat dalam New Age, pernyataan tersebut benar-benar menangkap suaranya dengan baik dan pernyataan ini pun menunjukkan dengan kejernihan yang mutlak dimana perbedaan-perbedaan antara dua cara pandang mengenai Kristus terletak. Bagi New Age Kristus Kosmik dilihat seperti pola yang dapat diulang-ulangi dalam banyak orang, tempat dan waktu; ini merupakan pembawa perubahan paradigma yang sangat hebat; hal ini potensi yang akhirnya ada diantara kita. Menurut ajaran Kristen, Yesus Kristus bukanlah pola, melainkan sosok ilahi yang figur ilahi-manusianya mengungkapkan misteri kasih Bapa kepada setiap orang melalui sejarah (Yoh 3 : 16); Dia tinggal dalam kita sebab Dia berbagi hidup-Nya dengan kita, tetapi hal ini bukan dipaksa atau pun otomatis. Semua laki dan perempuan diajak untuk berbagi hidupnya, untuk hidup “dalam Kristus”.

3.4 Mistisisme Kristen dan mistisisme New Age

Bagi penganut agama Kristen, kehidupan spiritual merupakan hubungan dengan Allah yang secara gradual melalui rahmat-Nya menjadi lebih dalam, dan dalam proses memancarkan cahaya pada hubungan kita dengan sesama baik itu laki-laki maupun perempuan dan dengan alam semesta. Spiritualitas dalam terminologi New Age berarti mengalami keadaan penyadaran yang didominasi oleh perasaan harmoni dan peleburan dengan Keseluruhan (the Whole). Jadi “mistisisme” mengacu bukan kepada perjumpaan dengan Allah transendental dalam kepenuhan Kasih tetapi kepada pengalaman yang ditimbulkan melalui penyerahan diri, rasa riang yang menjadi satu dengan alam semesta, sebuah rasa yang membiarkan individualitas seseorang tenggelam ke dalam samudra luas keberadaan (Being).59

Perbedaan fundamental ini adalah bukti pada semua tingkatan perbandingan antara mistisisme Kristen dan mistisisme New Age. Cara purifikasi New Age didasarkan pada kesadaran akan ketaktenteraman atau keterasingan yang akan diatasi oleh pembenaman ke dalam Keseluruhan (the Whole). Agara dapat menjadi pengikut New Age, seseorang perlu memanfaatkan teknik-teknik yang mengantarkan kepada pengalaman mengenai penerangan (illumination). Hal ini akan mentransformasikan kesadaran seseorang dan membuka dirinya untuk mengadakan kontak dengan keilahian yang dipahami sebagai esensi realitas yang terdalam.

Teknik-teknik dan metode-metode yang ditawarkan dalam sistem agama imanentis (immanentist) ini yang mana tidak memiliki konsep Allah sebagai pribadi, bekerja ‘dari bawah’. Meskipun teknik-teknik tersebut meliputi turunnya kepada kedalaman hati seseorang atau jiwa, teknik atau metode –metode tersebut mengangkat manusia secara esensial pada bagian pribadi yang mencoba bangkit kepada keilahian melalui usaha-usahanya sendiri. Ini sering merupakan sebuah “pendakian” pada tingkat penyadaran kepada apa yang dipahami sebagai kesadaran bebas dari “Allah yang di dalam” (the god within). Tidak semua orang memiliki akses terhadap teknik-teknik tersebut yang benefitnya dibatasi pada “aristokrasi” spiritual istimewa.

Elemen dasar dalam iman Kristen bagaimana pun juga adalah turunnya Allah kepada segenap mahluk-Nya khususnya yang paling rendah hati, yakni mereka yang paling lemah dan sedikit berbakat menurut nilai-nilai “dunia” ini. Ada beberapa teknik yang berguna untuk dipelajari, tetapi Allah dapat melewati (by pass) teknik-teknik tersebut atau bekerja tanpanya. “Suatu metode Kristen untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak didasarkan pada teknik dalam pengertian yang sempit. Hal itu akan berlawanan dengan semangat kekanak-kanakan seperti yang disebut dalam Kitab Suci. Inti mistisisme Kristen yang asli bukanlah teknik : Intinya selalu adalah karunia Allah; dan orang yang mendapatkan manfaat dari mengetahui dirinya sendiri yang tak layak”.60

Bagi orang Kristen, perubahan (conversion) adalah kembalinya kepada Bapa melalui Putra, dan dalam kepatuhan kepada kekuatan Roh Kudus. Semakin banyak orang-orang berkembang dalam hubungannya dengan Allah – yang selalu dan di dalam segala cara merupakan karunia bebas – semakin akut pula kebutuhan untuk bertobat dari dosa, kebutaan spiritual (spiritual myopia) dan kebirahian diri sendiri (self-infatuation), semua yang merintangi penyerahan diri sendiri dan percaya kepada Allah dan keterbukaan kepada orang-orang lain.

Semua teknik meditasi perlu dibersihkan dari kesombongan dan kemegahan. Doa Kristen bukanlah suatu lahihan dalam kontemplasi diri, keheningan dan pengosongan diri, melainkan suatu dialog kasih, dialog yang “berimplikasi pada sikap pertobatan, sebuah perjalanan dari ‘diri’ kepada ‘Engkau’ Allah”.61 Hal ini mengarah kepada penyerahan lengkap yang makin bertambah kepada kehendak Allah, dengan jalan kita diundang kepada solidartas yang dalam, asli terhadap saudara-saudari kita.62

3.5 “allah di dalam” dan “theosis”

Ini adalah poin penting yang kontras antara New Age dan Kekristenan. Jadi banyak literatur diarahkan melalui keyakinan bahwa tidak ada mahluk ilahi “di luar sana”, atau dalam cara riil yang berbeda dari realitas yang ada. Dari jaman Jungs hingga sekarang ditemukan banyak aliran dalam “allah di dalam”. Masalah kita dalam perspektif New Age adalah ketidakmampuan untuk mengakui keilahian kita sendiri, yang merupakan suatu ketidakmampuan yang dapat diatasi dengan bimbingan dan pemanfaatan keseluruhan berbagai macam teknik untuk mengungkapkan potensi (ilahai) yang tersembunyi itu. Ide dasarnya adalah bahwa ‘Allah’ berada di dalam diri kita masing-masing. Kita adalah allah, dan kita menemukan kekuatan yang tidak terbatas dalam diri kita dengan meninggalkan lapisan ketidakotentikan [63]. Semakin sering hal ini dikenal, semakin sering pula hal ini akan disadari dan dalam pengertian ini New Age memiliki idenya sendiri mengenai theosis, menjadi ilahi atau, lebih tepatnya mengenali dan menerima bahwa kita adalah ilahi. Kita diberitahu oleh beberapa orang untuk hidup dalam “era yang mana pemahaman kita tentang Allah harus diperdalam : dari Allah Yang Maha Kuasa ke Allah yang dinamis, kekuatan kreatif yang tinggal di dalam pusat semua mahluk : Allah sebagai Roh” [64].

Dalam kata pengantar book ke 5 dari Melawan Para Bidaah, Santo Ireneus mengacu pada “Yesus Kristus yang benar-benar, melalui kasih transenden-Nya, menjadi sama seperti kita, bahwa Dia dapat membuat kita bahkan seperti Dia Sendiri. Hal ini adalah theosis, yang mana pemahaman Kristen tentang pengilahian, terjadi tidak melalui usaha kita sendiri melainkan dengan bantuan Rahmat Allah yang bekerja di dalam dan melalui kita. Ini mau tak mau melibatkan kesadaran yang berawal dari ketidaksempurnaan dan dosa-dosa manusia, yang tak lain adalah pemuliaan diri sendiri. Selanjutnya, pemahaman ini mengantar kita pada kehidupan Trinitas, suatu kasus pembedaan yang sempurna pada inti persatuan; ini adalah sinergi daripada sebuah fusi (penggabungan). Ini semua terjadi sebagai suatu hasil perjumpaan personal, suatu tawaran tentang hidup baru. Hidup dalam Kristus bukan sesuatu yang personal dan pribadi yang dibatasi aspek kesadaran. Dan ini juga bukan semata-mata merupakan tingkat kesadaran baru. Hidup dalam Kristus terjadi transformasi dalam jiwa dan tubuh kita melalui partisipasi dalam kehidupan sakramental Gereja.

4 Perbedaan Antara NEW AGE Dengan Iman Kristen

Adalah sulit untuk memisahkan elemen individual dari religiositas New Age – tanpa kelihatan rasa bersalah – dari mendominasi kerangka kerja yang menyerap keseluruhan pemikiran dengan dunia gerakan New Age. Sifat gnostik dari gerakan ini memanggil kita untuk menilainya dalam suatu keseluruhan. Dari sudut pandang iman Kristen, adalah tidak mungkin untuk mengisolasi beberapa elemen dari religositas New Age seperti yang diterima umat Kristen, namun di lain pihak menolak yang lainnya. Karena gerakan New Age membuat banyak komunikasi dengan alam, dengan pengetahuan kosmik dalam nilai-nilai kebaikan universal – yang dengan cara demikian menyangkal kandungan yang terungkap dalam iman Kristen – maka hal ini tidak dapat dipandang sebagai positif atau tidak berbahaya. Dalam lingkungan kultural, yang ditandai oleh relativisme religius, adalah perlu untuk memberi peringatan melawan usaha untuk menempatkan religiositas New Age pada level yang sama seperti halnya iman Kristen, membedakan antara iman dan kepercayaan menjadi bersifat relatif, dengan demikian menciptakan kebingunan yang besar bagi mereka yang hati-hati. Dalam melihat ini, adalah bermanfaat untuk memperhatikan nasihat St Paulus “agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain atau pun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tiada putus-putusnya, yang hanya menghasilkan persoalan belaka dan bukan tata tertib hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman (1 Tim 1 : 4). Beberapa praktek secara tidak tepat dan begitu mudahnya dinamai New Age sebagai sebuah strategi marketing untuk membuat praktek-praktek tersebut terjual lebih baik, tetapi tidak benar-benar diasosiasikan dengan pandangan dunia. Hal ini hanya menambah kebingungan. Oleh karena itu perlu untuk mengidentifikasikan secara akurat elemen-elemen yang terdapat dalam gerakan New Age, dan yang tidak dapat diterima oleh mereka yang beriman kepada Kristus dan Gereja-Nya.

Pertanyaan berikut ini dapat menjadi kunci yang memudahkan kita untuk mengevaluasi beberapa elemen sentral pemikiran New Age dan praktek dari sudut pandang Kristen. “New Age” mengacu pada ide-ide seputar Allah, manusia dan dunia, orang-orang dengan siapa umat Kristen berbicara mengenai agama, bahan publikasi untuk kelompok-kelompok meditasi, terapi dan sejenisnya, pernyataan eksplisit tentang agama dan sebagainya. Beberapa pertanyaan ini cocok untuk orang-orang dan ide-ide yang tidak secara eksplisit dinamai New Age akan mengungkapkan lebih jauh jaringan tanpa nama atau yang tidak dikenal dengan keseluruhan suasana New Age.

* Apakah Allah suatu mahluk yang kepadaNya kita dapat memiliki hubungan atau sesuatu atau kekuatan yang bisa dimanfaatkan ?

Konsep New Age tentang Allah itu agak tersebar, padahal konsep umat Kristen itu sangat jelas sekali. Dalam New Age, allah itu adalah energi impersonal, benar-benar suatu ekstensi khusus atau komponen kosmos; allah dalam pengertian ini adalah kekuatan kehidupan (life-force) atau jiwa dunia ini. Keilahian ditemukan dalam setiap mahluk, dalam suatu gradasi “dari kristal terendah dunia mineral sampai pada dan di luar Allah Galaktis itu sendiri, tentang Dialah yang tak terucapkan dengan kata-kata. Ini bukan suatu manusia tetapi Kesadaran Besar” [65]. Dalam beberapa tulisan klasik New Age, adalah jelas bahwa manusia dimaksudkan agar berpikir tentang dirinya sendiri sebagai allah: hal ini lebih berkembang dalam beberapa orang dibandingkan dengan yang lain. Allah tidak lagi dicari di luar dunia, tetapi tinggal dalam diri sendiri [66]. Bahkan ketika “Allah” adalah sesuatu di luar dirinya sendiri, makannya ia bisa dimanipulasi.

Ini sangat berbeda sekali dari pemahaman orang Kristen tentang Allah sebagai pencipta surga dan bumi dan sumber dari segala kehidupan personal. Allah sendiri adalah pribadi, Sang Bapa, Putra dan Roh Kudus yang menciptakan alam semesta agar Dia dapat berbagi kehidupan-Nya dengan ciptaan-Nya. “Allah yang ‘tinggal dalam terang yang tak dapat didekati’, ingin mengkomunikasikan kehidupan ilahiNya sendiri kepada manusia yang Dia ciptakan secara bebas, agar dapat mengadopsi mereka sebagai anak-anak-Nya di dalam Anak-Nya yang tunggal. Dengan menyatakan diriNya Allah ingin membuat mereka mampu merespon Dia, dan mengenal Dia, dan mencintai Dia di luar kapasitas alamiah mereka”[67]. Allah tidak diidentifikasikan dengan prinsip kehidupan yang dimengerti sebagai “Roh” atau “energi dasar” dari kosmos, tetapi Allah itu sendiri Kasih yang berbeda secara absolut dari dunia ini dan yang secara kreatif hidup di mana-mana dan menuntun manusia kepada keselamatan.

* Apakah hanya ada satu Yesus Kristus, atau ada ribuan Kristus ?

Yesus Kristus sering dinyatakan dalam literatur New Age sebagai satu dari banyak orang bijak atau anggota atau inkarnasi dewa hindu (avatar) padahal dalam tradisi Kristen, Dia adalah Anak Allah. Di bawah ini beberapa poin dalam pendekatan New Age :

- Yesus secara historis dan personal berbeda dari Kristus yang bersifat kekal, impersonal dan universal;

- Yesus tidak dianggap hanya sebagai Kristus;

- Kematian Kristus pada salib disangkal atau di-reinterpretasikan untuk meniadakan ide bahwa Dia sebagai Kristus bisa saja menderita;

- Dokumen extra-biblis (seperti injil neo-gnostic) dianggap sumber otentik bagi pengetahuan tentang aspek kehidupan Kristus yang tidak akan ditemukan dalam kanon Kitab Suci. Wahyu lain mengenai Yesus yang dibuat oleh entitas, petunjuk roh dan master yang telah naik (ascended master), atau bahkan melalui Akasha Chronicles yang merupakan dasar bagi kristologi New Age;

- Jenis penafsiran esoteris diaplikasikan ke dalam teks-teks biblis untuk memurnikan Kekristenan dari agama formal yang merintangi jalan menuju esensi esoteris [68].

Dalam Tradisi Kristen Yesus Kristus adalah Yesus dari Nazareth yang mana injil berbicara, putra Maria dan Anak Allah satu-satunya, manusia sejati dan Allah sejati, kepenuhan wahyu dari kebenaran ilahi, Penyelamat dunia yang unik: “demi kita Dia disalibkan di bawah pemerintahan Ponsius Pilatus; menderita, wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Dia bangkit kembali sesuai dengan Kitab Suci; Dia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa”[69].

* Manusia : apakah hanya ada satu mahluk universal atau ada banyak individu ?

“Inti dari teknik-teknik New Age adalah untuk mereproduksi kondisi mistis berdasarkan kehendak manusia, seakan-akan merupakan masalah material laboratoris. Kelahiran kembali, umpan balik biotis (biofeedback), isolasi sensoris, pernapasan holotropis, hipnotis, mantra, puasa, pencabutan rasa kantuk, dan meditasi transendental merupakan usaha-usaha untuk mengontrol kondisi tersebut dan untuk mengalami pengalaman tersebut secara kontinu”[70]. Semua praktek-praktek ini mencipakan atmospir kelemahan fisik (dan sifat mudah kena serang). Ketika objek latihan adalah apa yang harus kita temukan kembali pada diri sendiri maka timbul pertanyaan riil tentang siapa “Saya” ini. “Allah di dalam diri kita” dan persatuan holistik dengan seluruh kosmos menekankan pertanyaan tersebut. Kepribadian individual yang terisolasi akan menjadi patologis dalam terma New Age (khususnya psikologi transpersonal). Tetapi “bahaya yang nyata adalah paradigma holistik. Pemikiran New Age itu berdasarkan persatuan totalitaria dan inilah sebabnya berbahaya….” [71]. Lebih moderat lagi : “Kita adalah otentik ketika ‘mengontrol’ diri kita sendiri, ketika pilihan dan reaksi kita mengalir dengan spontan dari kebutuhan-kebutuhan terdalam, ketika tingkah laku dan perasaan yang diekspresikan merefleksikan keseluruhan pribadi kita” [72]. Gerakan Potensial Manusia adalah contoh paling jelas dari keyakinan bahwa manusia adalah ilahi atau berisi kilatan ilahi di dalam diri kita sendiri.

Pendekatan Kristen berkembang karena ajaran-ajaran skriptural tentang sifat manusia; laki-laki dan wanita diciptakan menurut gambar dan citra Allah (Gen 1:27) dan Allah sangat mempertimbangkan mereka, sebanyak kejutan yang menenangkan dari Mazmur (cf. Mz 8). Pribadi manusia merupakan suatu misteri yang dinyatakan secara penuh hanya dalam Yesus Kristus (cf. GS 22) dan menjadi manusia secara otentik dan wajar dalam hubungannya dengan Kristus melalui karunia Roh [73]. Hal ini sangat jauh sekali dari karikatur antroposentrisme yang digambarkan kepada Kekristenan dan ditolak oleh banyak penulis dan praktisi New Age.

* Apakah kita menyelamatkan diri sendiri atau keselamatan adalah karunia semata-mata dari Allah ?

Kuncinya adalah menemukan dengan apa atau dengan siapa kita percaya maka kita diselamatkan. Apakah kita menyelamatkan diri sendiri dengan tindakan-tindakan kita seperti yang sering dijelaskan dalam kasus New Age, atau kita diselamatkan oleh kasih Allah ? Kata kunci berikutnya adalah pemenuhan-diri dan penyadaran-diri, penebusan-diri. New Age secara esensial merupakan Pelagian dalam pemahaman tentang sifat manusia [74].

Bagi umat Kristen, keselamatan tergantung dari partisipasi dalam sengsara, kematian dan kebangkitan Kristus dan lebih pada hubungan personal langsung dengan Allah daripada suatu teknik. Situasi manusia yang dipengaruhi seperti dosa asal dan dosa pribadi dana diralat oleh tindakan Allah: dosa adalah perlawanan terhadap Allah dan hanya Allah yang dapat merekonsiliasikan kita kepada diriNya. Dalam rencana keselamatan ilahi, manusia dapat diselamatkan oleh Yesus Kristus yang, sebagai Allah dan manusia, adalah mediator penebusan. Dalam Kekristenan keselamatan bukanlah pengalaman diri, yang merupakan cara tinggal meditatif dan intiutif dalam diri sendiri melainkan lebih banyak pengampunan dosa, bangkit karena ambivalensi yang besar dalam diri sendiri dan ketenangan sifat melalui karunia persatuan dengan Allah yang mengasihi. Cara untuk mencapai keselamatan tidak dilakukan semata-mata dalam transformasi kesadaran yang digerakkan oleh diri sendiri, melainkan pembebasan dari dosa dan konsekuensinya yang menuntun kita pada perjuangan melawan dosa dalam diri sendiri dan di dalam masyarakat. Ini perlu untuk menggerakkan kita menuju solidaritas kasih dengan tetangga kita yang membutuhkan.

* Apakah kita menemukan kebenaran ataukah kita merangkul kebenaran ?

Kebenaran New Age adalah tentang vibrasi yang baik, korespondensi kosmis, harmoni dan ekstasi dalam pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan bersifat umum. Ini adalah masalah penemuan kebenaran diri sendiri yang sesuai dengan faktor yang dirasakan baik. Mengevaluasi agama dan pertanyaan-pertanyaan etis merupakan sifat relatif yang nyata pada perasaan dan pengalaman orang itu.

Yesus Kristus dipresentasikan dalam ajaran Kristen sebagai “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 16 :6). Pengikut-pengikutNya diminta untuk membuka seluruh hidup mereka kepada-Nya dan kepada nilai-nilai Nya atau dengan kata lain membuka diri pada suatu persyaratan objektif yang pada akhirnya merupakan bagian dari realitas objektif yang dapat diketahui oleh semua orang.

* Doa dan meditasi : apakah kita sedang berbicara kepada diri sendiri atau kepada Allah ?

Kecenderungan untuk membingungkan psikologi dan spiritualitas membuat sulit bukan untuk mendesak bahwa banyak dari teknik meditasi sekarang digunakan bukanlah doa. Teknik-teknik tersebut sering kali merupakan persiapan yang baik buat berdoa, tetapi tidak lebih dari itu, sekalipun teknik-teknik tersebut menuntun pada kondisi pikiran yang menyenangkan atau timbulnya kesenangan tubuh. Pengalaman-pengalaman yang muncul itu sungguh-sungguh asli tetapi untuk berada pada level ini maka harus berada pada kesendirian, tidak dalam kehadiran dengan yang lain. Pencapaian keheningan dapat menghadapkan kita pada kekosongan, lebih dari keheningan akibat kontemplasi pada yang dicintai. Ini juga benar bahwa teknik-teknik untuk menuju lebih dalam dari jiwa orang itu sendiri pada akhirnya merupakan daya tarik bagi kemampuan diri orang itu untuk mencapai sang ilahi, atau bahkan menjadi ilahi: bila teknik-teknik tersebut melupakan pencarian Allah akan hati manusia maka teknik tersebut bukanlah suatu doa umat Kristen. Meskipun teknik tersebut dilihat sebagai suatu hubungan dengan Energi Universal, “seperti ‘hubungan’ yang mudah dengan Allah, dimana fungsi Allah dilihat sebagai penyedia kebutuhan kita, maka ini menunjukkan egoisme pada inti New Age[75].

Praktek-praktek New Age bukan benar-benar suatu doa, praktek-praktek mereka secara umum adalah soal introspeksi atau fusi dengan energi kosmik, seperti yang ditentang pada orientasi ganda doa-doa Kristen yang melibatkan introspeksi tetapi secara esensial juga merupakan perjumpaan dengan Allah. Jauh dari sekedar usaha manusia, mistisisme Kristen secara esensial adalah dialog yang “yang menyiratkan suatu sikap pertobatan, suatu perjalanan dari ‘diri’ menuju ‘dikau’ Allah”[76]. “Orang Kristen, bahkan ketika dia sendiri dan berdoa diam-diam, dia itu sadar bahwa dia selalu berdoa bagi kebaikan Gereja dalam persatuan dengan Kristus, dalam Roh Kudus dan bersama-sama dengan orang-orang Kudus” [77].

* Apakah kita dicobai untuk menyangkal dosa atau apakah kita menerima bahwa ada dosa itu ?

Dalam New Age tidak ada konsep yang riil tentang dosa, tetapi agak merupakan pengetahuan yang tidak sempurna; apa yang dibutuhkan adalah pencerahan, yang dapat dicapai melalui teknik-teknik psiko-fisik. Mereka yang mengambil bagian dalam aktivitas-aktivitas New Age tidak akan diberitahu apa yang harus dipercayai, apa yang harus dilakukan atau apa yang tidak boleh dilakukan selain : “Ada ribuan jalan untuk mengeksplorasi realitas yang dalam (inner reality). Pergilah kemana intelegensia dan intuisi menuntun anda”[78]. Otoritas mengalami perubahan dari tempat theistik ke dalam diri manusia. Masalah yang paling serius dirasakan dalam pemikiran New Age adalah keterasingan dari seluruh kosmos daripada kegagalan pribadi atau dosa. Perbaikannya adalah dengan membenamkan ke dalam seluruh mahluk. Dalam beberapa tulisan dan praktek New Age adalah jelas bahwa suatu kehidupan tidaklah cukup sehingga harus ada reinkarnasi untuk membiarkan orang menyadari potensi penuh diri mereka.

Dalam perspektif Kristen “hanya terang Wahyu ilahilah yang bisa mengklarifikasi realitas dosa dan khususnya dosa yang dilakukan pada manusia. Tanpa pengetahuan dari Wahyu yang berbicara tentang Allah, kita tidak bisa mengenali dosa dengan jelas dan kita ditantang untuk menjelaskannya semata-mata sebagai kerusakan perkembangan, kelemahan psikologis, sebuah kesalahan atau konsekuensi logis dari struktur sosial yang tak memadai dll. Hanya dalam pengetahuan tentang rencana Allah bagi manusia maka kita dapat memahami bahwa dosa adalah penyalahgunaan kebebasan yang Allah berikan kepada manusia ciptaanNya sehingga mereka mampu untuk mencintai Dia dan mencintai satu sama lain” [79]. Dosa adalah perlawanan terhadap akal budi, kebenaran dan hati nurani yang benar; dosa adalah kegagalan dalam cinta sejati kepada Allah dan sesama yang disebabkan oleh keinginan jahat terhadap hal-hal tertentu. Dosa melukai sifat manusia dan menciderai solidaritas manusia…[80]. Dosa adalah pelanggaran terhadap Allah…dosa membuatnya bertentangan dengan kasih Allah bagi kita dan mengubah hati kita jauh dari kasih Allah…Dosa dengan demikian adalah ‘cinta diri sendiri bahkan penghinaan terhadap Allah’” [81].

* Apakah kita dianjurkan untuk menolak atau menerima penderitaan dan kematian ?

Beberapa penulis New Age memandang penderitaan sebagai pemaksaan diri atau karma buruk atau setidak-tidaknya sebagai kegagalan untuk memanfaatkan sumber daya diri sendiri. Penulis lain memfokuskan pada metode untuk meraih kesuksesan dan kesejahteraan (seperti Deepak Chopra, Jose Silva dsb). Dalam New Age, reinkarnasi sering dilihat sebagai elemen yang diperlukan dalam perkembangan spiritual, suatu tahapan dalam evolusi spiritual progresif yang dimulai sebelum kita lahir dan akan berlanjut setelah kita mati. Dalam kehidupan kita sekarang, pengalaman kematian orang lain menimbulkan krisis yang sehat.

Baik persatuan kosmis maupun reinkarnasi tidak bisa didamaikan dengan kepercayaan Kristen yang mana pribadi manusia adalah mahluk yang berbeda, yang memiliki satu kehidupan, yang untuknya dia bertanggungjawab penuh: pemahaman tentang pribadi manusia ini mempertanyakan baik tanggungjawab maupun kebebasan. Umat Kristen tahu bahawa “dalam salib Kristus tidak hanya penebusan yang diselesaikan melalui penderitaan namun juga penderitaan manusia itu sendiri yang telah ditebus. Kristus – yang tidak memiliki dosa- mengambil diriNya sendiri ‘seluruh kejahatan dosa manusia’ (total evil of sin). Pengalaman dosa ini menentukan besarnya penderitaan Kristus yang tiada taranya, yang menjadi harga penebusan…. Sang Penebus menderita dalam tempat manusia dan untuk manusia. Setiap orang memiliki bagiannya masing masing dalam penebusan. Setiap orang juga dipanggil untuk berbagi dalam penderitaan yang melaluinya penebusan dapat dicapai. Dia dipanggil untuk berbagi dalam penderitaan yang melaluinya setiap penderitaan manusia juga telah ditebus. Dalam menyelesaikan penebusan melalui penderitaan, Kristus juga menaikkan penderitaan manusia sampai pada tingkat penebusan. Dengan demikian setiap manusia dalam penderitaannya dapat juga menjadi pembagi dalam penderitaan Kristus yang bersifat menebus”[82].

* Apakah komitmen sosial ini dielakkan atau berusaha ditemukan secara positif ?

Banyak hal dalam New Age yang merupakan promosi diri tanpa rasa malu tetapi beberapa figur utama dalam gerakan ini mengklaim bahwa tidak fair untuk menilai seluruh gerakan dengan sejumlah kecil egoisme, irasionalitas dan kaum narsisistik (narcissistic people) serta mengijinkan diri sendiri untuk dipesonakan oleh beberapa praktek yang aneh yang merupakan hambatan untuk melihat dalam New Age sebuah spiritualitas dan pencarian spiritual yang sejati [83]. Fusi individu-individu ke dalam kosmik itu sendiri, relativisasi atau abolisi perbedaan dan oposisi dalam harmoni kosmis tidak dapat diterima pada Kekristenan.

Ketika ada cinta sejati, maka harus ada (pribadi) lain yang berbeda. Seorang Kristen sejati mencari persatuan dalam kapasitas dan kebebasan yang lain untuk berkata “ya” atau “tidak” bagi karunia kasih. Penyatuan (union) dilihat dalam kaca mata Kekristenan sebagai persatuan (communion), persatuan sebagai komunitas (community).

* Apakah masa depan kita berada dalam bintang-bintang atau kita membantu untuk mengkonstruksikannya ?

New Age yang sedang berkembang akan dilengkapi oleh ‘kesempuraan’, yakni mahluk androgini yang secara total menguasai hukum alam kosmik. Dalam skenario ini, Kekristenan harus dihapuskan dan kekristenan harus memberikan jalan pada agama global dan tata dunia baru.

Orang-orang Kristen berada dalam kondisi kewaspadaan yang konstan, siap untuk hari-hari terakhir ketika Kristus akan datang kembali; New Age mereka dimulai 2000 tahun lalu, bersama Kristus, yang bukan siapa-siapa kecuali “Yesus dari Nazareth; dia adalah Sabda Allah yang menjadi manusia bagi keselamatan semua”. Roh Kudus-Nya hadir dan aktif dalam hati setiap individu, dalam “masyarakat dan sejarah, orang-orang, kebudayaan dan agama-agama”. Kenyataannya, “Roh Bapa, yang dilimpahkan secara berlebihan oleh Putra adalah animator bagi semuanya” [84]. Kita hidup dalam masa lampau.

Pada satu sisi, sudah jelas bahwa banyak praktek New Age nampaknya bagi mereka yang terlibat di dalamnya berusaha untuk tidak mengungkapkan masalah-masalah doktriner; namun pada saat yang bersamaan, hal ini tak bisa ditolak bahwa praktek-praktek itu sendiri mengkomunikasikan, sekalipun secara tidak langsung, suatu mentalitas yang dapat mempengaruhi pemikiran dan mengilhami visi realitas yang sangat khusus. Sudah barang tentu New Age menciptakan atmospirnya sendiri dan ini mungkin sulit untuk membedakan antara hal-hal yang tidak berbahaya dengan hal-hal yang benar-benar patut dipertanyakan. Meskipun demikian, adalah suatu yang baik untuk menyadari bahwa doktrin Kristus yang menyebar dalam lingkungan New Age diinspirasikan oleh ajaran-ajaran theosophis dari Helena Blavatsky, anthrosophi-nya Rudolf Steiner dan “Sekolah Arcane”-nya Alice Bailey. Pengikut-pengikut kontemporer bukan hanya mempromosikan ide-ide mereka saat ini namun juga bekerja bersama pengikut New Age (New Ager) untuk mengembangkan pemahaman realitas baru dan lengkap, suatu doktrin yang dikenal oleh para pengamat sebagai “kebenaran New Age” [85].

5 YESUS KRISTUS MEMBERIKAN KITA AIR KEHIDUPAN

Fondasi Gereja adalah Yesus Kristus yang merupakan Tuhan dari Gereja. Yesus ada di hati setiap tindakan orang dan amanat-amanat Kristen. Jadi Gereja secara konstan kembali bertemu dengan Tuhan-Nya. Injil bercerita banyak tentang perjumpaan dengan Yesus, mulai dari para gembala di Yerusalem sampai pada dua orang pencuri yang disalibkan bersama Dia, lalu dari dua orang tua yang mendengarkan-Nya di sinagoga sampai pada murid-murid yang berjalan menuju Emmaus. Tetapi satu episode yang benar-benar berbicara dengan jelas mengenai apa yang Dia tawarkan kepada kita adalah kisa perjumpaan-Nya dengan wanita Samaria di dekat sumur Yakob yang ada di bab empat dari Injil Yohanes; Injil Yohanes ini juga digambarkan sebagai “paradigma keterlibatan kita dengan kebenaran” [86]. Pengalaman perjumpaan orang asing yang menawarkan air kehidupan adalah kunci dari suatu cara orang Kristen agar dapat atau seharusnya terlibat dalam dialog dengan siapa pun yang tidak mengenal Yesus. Salah satu elemen atraktif dari catatan Yohanes tentang perjumpaan ini adalah bahwa ini melibatkan wanita meskipun hanya sekilas dari apa yang Yesus maksudkan dengan air ‘kehidupan’ atau air yang ‘hidup’ (ayat 11). Bahkan begitu, wanita tersebut terpesona – bukan hanya karena orang asing tersebut namun juga karena amanat-Nya – dan ini yang membuat wanita itu mendengarkan. Setelah kaget karena menyadari bahwa Yesus mengetahui dia (“Kamu tepat ketika mengatakan bahwa ‘saya tidak memiliki suami’; karena engkau telah memiliki lima suami dan yang ada padamu sekarang bukanlah suamimu; hal ini tepat engkau katakan, ayat 17 – 18), maka wanita itu menjadi agak terbuka kepada kata-kata-Nya: “Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi” (ayat 19). Dialog mengenai adorasi kepada Allah dimulai dari : “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang tidak kami kenal sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (ayat 22). Yesus menyentuh hatinya agar dapat dia siap untuk mendengarkan apa yang Dia katakan mengenai Diri-Nya sebagai Mesias : “Akulah dia yang sedang berkata-kata kepada engkau – Akulah Dia” (ayat 26) mempersiapkan dia agar hatinya terbuka kepada adorasi sejati dalam Roh Kudus dan pengungkapan diri Yesus sebagai Yang Diurapi Allah. (Helen Bergin o.p, “Kebenari Sang Hiduo”, dalam The Furrow, Januari 2000, h.12).

Wanita itu maka “meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ” mengenai Dia (ayat 28). Efek yang luar biasa pada wanita itu karena bertemu dengan orang asing membuat mereka ingin sekali “bercakap-cakap dengan Dia” (ayat 30). Mereka segera menerima kebenaran identitas-Nya : “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kau katakan sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (ayat 42). Mereka bergerak dari mendengar tentang Yesus lantas mengenal dia secara pribadi kemudian memahami arti universal dari identitas-Nya. Ini semua terjadi karena pikiran mereka, hati mereka dan yang lainnya terlibat.

Fakta bahwa kisah ini terjadi di dekat sumur sangat berarti. Yesus menawarkan wanita itu “sumber mata air….yang memancar kepada hidup yang kekal” (ayat 14). Cara yang ramah yang ditampilkan Yesus kepada wanita itu merupakan model efektivitas pastoral yang bisa menolong orang lain untuk setia tanpa menderita dalam proses memperoleh pengakuan diri (self recognition) sebab (“Dia telah berkata segala sesuatu yang telah kulakukan”, ayat 39). Pendekatan ini bisa menghasilkan panen yang melimpah dalam pengertian orang-orang yang mungkin tertarik pada pembawa air (Aquarius) namun yang masih serius untuk mencari kebenaran. Mereka seyogyanya diajak untuk mendengarkan Yesus yang menawarkan kita sesuatu yang tidak semata-mata memuaskan dahaga kita saat ini namun juga menawarkan kedalaman spiritualitas dari “air kehidupan”. Adalah hal yang penting untuk mengakui ketulusan orang-orang yang mencari kebenaran; tidak ada pertanyaan mengenai kebohongan atau tindakan menipu diri sendiri. Penting pula agar kita sabar seperti yang sudah diketahui oleh setiap pendidik. Setiap orang yang memeluk kebenaran maka tiba-tiba akan dibangkitkan oleh perasaan baru akan kebebasan secara utuh terutama akibat kegagalan masa lalu dan ketakutan dan “setiap orang yang berjuang untuk mencari pengetahuan diri seperti pada wanita di sumur itu, akan mempengaruhi orang lain dengan keinginan untuk mengetahui kebenaran yang dapat membebaskan mereka pula” [87].

Suatu ajakan untuk bertemu Yesus Kristus, Sang Pembawa air kehidupan, akan membawa lebih banyak beban bila ajakan ini disampaikan oleh seseorang yang telah jelas dipengaruhi secara mendalam oleh perjumpaannya dengan Yesus sebab ajakan ini disampaikan bukan oleh orang yang hanya telah mendengar Dia melainkan oleh orang yang bisa yakin “bahwa Dia benar-benar penyelamat dunia” (ayat 42). Ini menyangkut hal membiarkan orang bereaksi dengan cara mereka sesuai dengan langkah mereka dan membiarkan Allah menyelesaikan sisanya.

6 POINT YANG PERLU DICATAT

6.1 Petunjuk dan formasi kuat yang diperlukan

Kristus atau Aquarius ? New Age hampir selalu dihubungkan dengan “alternatif”, baik itu visi realitas alternatif atau cara alternatif memperbaiki situasi seseorang masa kini (magic) [88]. Alternatif-alternatif tidak menawarkan dua kemungkinan namun hanya satu kemungkinan memilih satu hal dalam preferensi terhadap yang lain : dalam terma agama, New Age menawarkan sebuah alternatif warisan Judeo-Kristen. Zaman Aquarius dibayangkan seperti sesuatu yang akan menggantikan Zaman Pisces Kristen yang berkuasa. Pemikir New Age benar-benar sadar akan hal ini; diantara mereka diyakinkan bahwa perubahan yang akan datang bakal tak terhindarkan sementara pemikir New Age yang lain dengan aktif membantu kedatangan zaman tersebut. Orang-orang yang ragu apakah bila percaya sekaligus pada Kristus maupun Aquarius hanya bisa berhasil dengan mengetahui bahwa ini akan banyak situasi “kedua-duanya” (either-or). “Tidak ada pelayan yang menjadi budak dari dua tuan : maka ia akan membenci yang satu dan mencintai yang lain atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk 16:13). Orang Kristen semata-mata harus berpikir tentang perbedaan antara orang yang bijak dari Timur dengan Raja Herodes untuk mengenali efek luar biasa dari pilihan untuk atau melawan Kristus. Hal ini jangan pernah dilupakan bahwa gerakan-gerakan yang telah banyak memberi makan New Age adalah anti Kristen. Pendirian mereka ini terhadap Kekristenan tidak netral selain bersifat menetralkan: meskipun yang sering dikatakan tentang perlunya keterbukaan bagi semua pendirian religius, Kekristenan tradisional tidak sungguh-sungguh dipandang sebagai alternatif yang bisa diterima. Kenyataannya, kadang-kadang hal ini dinyatakan dengan jelas bahwa “tidak ada tempat perlu ditolerir untuk Kekristenan yang benar” dan bahkan ada argumen yang membenarkan perilaku anti-Kristen [89]. Penentangan ini awalnya dibatasi untuk bidang yang dijernikan oleh mereka yang terjun ke dalam kasih sayang superficial New Age tetapi penentangan ini sudah mulai lebih awal agar bisa menyerap semua tingkat budaya “alternatif” yang memiliki daya tarik kuat di atas semua masyarakat Barat modern.

Penggabungan (fusion) atau kebingunan (confusion) ? Tradisi New Age dengan sadar dan sengaja mengaburkan perbedaan yang ada: antara pencipta dan ciptaan, antara manusia dan sifatnya; antara agama dan psikologi, antara realitas subyektif dan obyektif. Tujuan idealistik adalah selalu untuk mengatasi skandal perpecahan tetapi dalam teori New Age, ada suatu pertanyaan tentang fusi sistematik elemen-elemen yang secara umum telah dibedakan dengan jelas dalam kebudayaan Barat. Apakah ini, mungkin, wajar untuk menyebutnya “kebingungan” ? Oleh sebab itu kita tidak bisa bermain pada kata-kata sehingga New Age dikesankan berkembang pesat dalam kebingungan. Tradisi Kristen selalu menilai akal budi dalam membenarkan iman dan dalam memahami Allah, dunia dan pribadi manusia [90]. New Age menangkap keadaan jiwa (mood) dari orang-orang dalam menolak akal budi yang dingin, tidak manusiawi dan penuh perhitungan. Ketika akal budi merupakan wawasan yang positif, mengingat kembali adanya kebutuhan keseimbangan yang melibatkan semua kemampuan (faculties) maka ini tidak membenarkan untuk menghentikan kemampuan (faculties) yang penting bagi kehidupan manusia secara penuh. Rasionalitas memiliki manfaat universalitas: Rasionalitas dengan bebas tersedia untuk setiap orang, tidak serupa halnya dengan karakter esoteris yang bersifat misterius dan mengagumkan atau agama gnostik “mistis”. Sesuatu yang meningkatkan kekacauan konseptual atau kerahasiaan harus diteliti secara seksama. Sebab hal ini lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan sifat utama realitas. Kekacauan konseptual ini berkorespondensi dengan adanya kehilangan keyakinan post modern di dalam suatu kepastian yang cukup tegas dari waktu yang terdahulu yang mana kekacauan ini sering masuk dalam irasionalitas. Tantangannya adalah menunjukkan bagaimana kerjasama yang sehat diantara iman dan akal budi meningkatkan hidup manuia dan mendorong orang untuk menghormati ciptaan.

Ciptakan realitasmu sendiri. Keyakinan New Age yang tersebar luas dan bahwa orang dapat menciptakan realitas sungguh hal yang menarik namun penuh ilusi. Ini terkristalisasi dalam teori Jung yang mengatakan bahwa manusia adalah pintu gerbang dari dunia luar menuju dunia di dalam dari dimensi yang tidak terbatas dimana setiap orang adalah Abraxas, yang memberikan kelahiran pada dunianya sendiri atau yang bisa menghancurkannya. Bintang yang bersinar dalam dunia dalam yang tidak terbatas merupakan Allah manusia dan tujuan. Konsenkuensi paling pedih dan problematis akibat penerimaan ide bahwa orang dapat menciptakan realitas mereka sendiri merupakan pertanyaan tentang penderitaan dan kematian : orang-orang yang cacat parah atau memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan merasa dicurangi dan direndahkan dirinya ketika dikonfrontasikan dengan sugesti bahwa mereka telah membawa kesialan atas mereka sendiri atau ketidakmampuan mereka untuk mengubah sesuatu menunjukkan kelemahan dalam pendekatan kehidupan mereka. Hal ini jauh dari isu akademis murni: hal ini juga memiliki implikasi yang dalam dalam pendekatan pastoral Gereja sampai pada pertanyaan eksistensial yang dihadapi oleh semua orang. Keterbatasan-keterbatasan kita merupakan fakta kehidupan dan bagian menjadi suatu ciptaan. Kematian dan kehilangan menghadirkan tantangan dan kesempatan sebab cobaan untuk sembunyi dalam pengerjaan kembali ide reinkarnasi cara barat ini adalah bukti yang jelas dari rasa takut mati dan keinginan orang-orang untuk hidup selamanya. Apakah kita membuat yang banyak kesempatan kita mengingat kembali apa yang dijanjikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus ? Bagaimana iman yang riil dalam kebangkitan badan yang oleh orang-orang Kristen diproklamasikan dalam kredo pada setiap Minggu ? Ide New Age yang mengatakan bahwa kita ada pada beberapa pengertian dan allah itu satu menimbulkan banyak pertanyaan di sini. Seluruh pertanyaan sudah tentu tergantung pada definisi realitas orang itu. Pendekatan yang mantap terhadap epistemologi dan psikologi harus diperkuat – dengan cara yang pantas- pada setiap tingkat pendidikan Katolik, formasi dan pengajaran (khotbah). Kesulitan dasar dari semua pemikiran New Age adalah bahwa transendensi itu benar-benar suatu transendensi diri (self-transcendence) yang dicapai dalam alam semesta yang tertutup.

Sumber-sumber Pastoral. Dalam bab 8, indikasi ini terdapat di dalam dokumen-dokumen pokok Gereja Katolik yang didalamnya dapat ditemukan sebuah evaluasi tentang ide New Age. Tempat pertama berasal dari amanat Paus Yohanes Paulus II yang dikutip dalam kata pendahuluan. Paus menghargai beberapa aspek positif dalam tren kultural, seperti “pencarian makna baru dalam kehidupan, sebuah sensitivitas ekologis baru dan keinginan untuk berada di luar religiositas yang rasionalistik dan dingin. Tetapi Paus juga meminta perhatian semua orang beriman terhadap elemen-elemen ambigu tertentu yang tidak sesuai dengan iman Kristen: gerakan-gerakan ini “hanya memperhatikan sedikit saja Kitab Wahyu”, “mereka cenderung merelativisasi doktrin agama yang sesuai dengan pandangan dunia yang samar-samar”, “mereka sering mengajukan konsep pantheistik tentang Allah”, “mereka menggantikan tanggung jawab pribadi dan tindakan-tindakan kita kepada Allah dengan arti tugas kosmos, dengan demikian menjatuhkan konsep dosa yang benar dan kebutuhan penebusan melalui Kristus”[91]

6.2 Langkah-langkah Praktis

Pertama-tama, layaklah kita katakan sekali lagi bahwa tidak setiap orang atau segala sesuatu dalam cakupan New Age yang luas itu dihubungkan kepada teori-teori gerakan dengan cara-cara yang sama. Demikian juga label New Age itu sendiri sering disalahgunakan atau diperluas terhadap fenomena yang dapat dikategorikan dengan cara-cara yang lain. Terma New Age telah disalahgunakan untuk men-setankan orang-orang dan praktek-prakteknya. Ini penting untuk dilihat apakah fenomena yang dihubungkan dengan gerakan New Age, meskipun longgar, merefleksikan atau mengalami konflik dengan visi Kristen mengenai Allah, pribadi manusia dan dunia. Penggunaan terma New Age dalam dirinya sendiri hanya memiliki arti yang sedikit, terutama bila dimaksudkan sesuatu. Hubungan antara pribadi, kelompok, praktek atau komoditas pada ajaran-ajaran sentral Kekristenan menjadi berarti.

Gereja Katolik memiliki jaringan kerja (network) sendiri yang sangat efektif yang mungkin bisa lebih baik digunakan. Contohnya, terdapat sejumlah besar pusat pastoral, pusat budaya, dan pusat spiritualitas. Idealnya, pusat-pusat tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan kebingungan mengenai religiositas New Age dengan beberapa caya yang kreatif seperti menyediakan forum diskusi dan studi. Sayangnya harus diakui bahwa terdapat banyak kasus dimana pusat-pusat spiritualitas Katolik terlibat dengan aktif dalam penyebaran religiositas New Age dalam Gereja. Hal ini tentunya harus dikoreksi, bukan hanya menghentikan tersebarnya kekacauan dan eror, namun juga agar mereka bisa efektif dalam mempromosikan spiritualitas Kristen yang benar. Pusat-pusat kebudayaan Katolik, secara khusus, bukan merupakan institusi pengajaran saja melainkan menjadi ruang bagi terciptanya dialog yang jujur [92]. Beberapa institusi spesialis yang hebat banyak berhubungan dengan masalah-masalah ini. Sebab masalah-masalah ini merupakan sumber yang berharga yang harus dibagikan dengan cuma-cuma dalam area yang kuang disentuh dengan baik.

Beberapa kelompok New Age menyambut baik setiap kesempatan untuk menjelaskan filosopi dan kegiatan-kegiatan mereka kepada orang-orang lain. Pertemuan dengan kelompok New Age seharusnya dilakukan dengan hati-hati dan selalu melibatkan pribadi-pribadi yang mampu menjelaskan iman Katolik dan spritualitasnya maupun merefleksikan secara kritis pemikiran New Age dan praktek-prakteknya. Ini luar biasa pentingnya untuk mengecek surat kepercayaan (credentials) orang-orang New Age, kelompok dan institusinya yang mengklaim bisa menawarkan petunjuk dan informasi tentang New Age. Dalam beberapa kasus apa yang mulai dilakukan sebagai investigasi netral kemudian bisa menjadi promosi aktif atau advokasi atas nama “agama-agama alternatif”. Beberapa institusi internasional secara aktif sedang melakukan kampanye yang mempromosikan penghormatan terhadap “keanekaragaman agama”, dan mereka ini menegaskan status dari organisasi-organisasi yang mungkin meragukan kita. Hal ini cocok dengan visi New Age yang bergerak ke dalam suatu masa dimana karakter terbatas dari agama-agama khusus ini memberi jalan pada universalitas agama atau spiritualitas baru. Dialog yang benar, pada satu sisi, dari permulaannya akan selalu menghargai keanekaragaman dan tidak akan pernah mencari perbedaan yang samar dalam peleburan tradisi-tradisi agama.

Beberapa kelompok New Age lokal mengarahkan pertemuan mereka sebagai “persekutuan-persekutuan doa”. Orang-orang itu yang diajak pada kelompok ini perlu mencari ciri-ciri asli spiritualitas Kristen dan harus hati-hati bila menemukan sejenis acara inisiasi. Kelompok ini memanfaatkan kelemahan teologis dan kelemahan pembentukan spiritual seseorang sehingga bisa memikat mereka secara bertahap ke dalam apa yang mungkin menjadi bentuk ibadah yang palsu. Orang-orang Kristen harus diajarkan tentang objek dan kandungan doa yang benar – dalam Roh Kudus, melalui Yesus Kristus kepada Bapa – agar bisa menilai dengan tepat intensi dari sebuah “persekutan doa” tersebut. Doa Kristen dan Allah Yesus Kristus akan dengan mudah dikenal [93]. Banyak orang yakin bahwa tidak ada yang salah dalam ‘meminjam’ kebijaksanaan Timur, tetapi contoh Meditasi Transendental (MT) seharusnya membuat orang-orang Kristen berhati-hati terhadap kemungkinan mereka melakukan komitmen yang tanpa diketahui masuk ke dalam agama lain (dalam kasus ini, Hinduisme), meskipun promotor MT telah mengklaim netralitas dari agama ini. Tidak ada masalah dengan belajar bagaimana bermeditasi tetapi objek atau isi dari latihan ini dengan jelas menentukan apakah ini berhubungan dengan Allah yang disingkapkan oleh Yesus Kristus pada beberapa wahyu yang lain atau hanya pada kedalaman diri (self) yang tersembunyi.

Kelompok-kelompok Kristen yang mempromosikan kepedulian terhadap bumi sebagai ciptaan Allah juga perlu diberikan pengenalan yang seharusnya. Pertanyaan mengenai respek terhadap ciptaan adalah sesuatu yang bisa didekati dengan kreatif di sekolah-sekolah Katolik. Banyak hal dari apa yang diusulkan oleh elemen-elemen radikal dari gerakan ekologis itu sulit diperdamaikan dengan iman Katolik. Memang, kepeduliaan terhadap lingkungan dalam terma umum adalah tanda yang tepat terhadap perhatian yang memadai dari apa yang Allah telah berikan kepada kita, mungkin suatu ciri pekerjaan yang mengurus ciptaan akan tetapi “ekologi dalam (deep ecology)” sering dilakukan berdasarkan pada pantheistik dan kadang-kadang prinsip-prinsip gnostik[94].

Permulaan milenium ketiga menawarkan kairos nyata bagi evangelisasi. Pikiran dan hati orang-orang sudah tidak biasa terbukan pada informasi yang terpercaya pada pemahaman Kristen tentang waktu dan sejarah keselamatan. Penekanan pada apa yang tidak cukup dari pendekatan-pendekatan lainnya seharusnya tidak menjadi prioritas utama. Ini sekedar pertanyaan untuk mengajak kembali secara konstan sumber-sumber iman kita, sehingga kita dapat menawarkan suatu amanat dan presentasi yang baik dari amanat Kristen. Kita bisa bangga dari apa yang dipercayakan, sehingga kita perlu melawan tekanan budaya dominan untuk menyembunyikan karunia-karunia tersebut (cf. Mat 25:24-30). Salah satu dari alat-alat yang paling bermanfaat dan tersedia adalah Katekismus Gereja Katolik. Ada juga warisan besar yakni jalan menuju kesucian dari kehidupan pria dan wanita di masa lalu dan sekarang. Ketika simbolisme Kekristenan yang kaya dan tradisi artistik, estetikal dan musikalnya dikenal atau telah dilupakan maka terdapat banyak karya yang dilakukan untuk umat Kristen sendiri dan akhirnya juga dilakukan untuk setiap orang yang mencari pengalaman atau mencari kesadaran akan kehadiran Allah. Dialog antara umat Kristen dan orang-orang yang tertarik pada New Age akan lebih sukses bila mempertimbangkan daya tarik dari apa yang menyentuh emosi dan bahasa simbolik. Bila tugas kita adalah mengenal, mencintai dan melayani Yesus Kristus maka yang terpenting adalah kita mulai dengan pengetahuan yang baik tentang Kitab Suci. Tetapi yang penting dari ini semua, datang bertemu Tuhan Yesus dalam doa dan sakramen, yang mana dengan tepat adalah suatu momen ketika kehidupan biasa ini disucikan, adalah cara yang paling pasti bahwa seluruh amanat Kristen masuk akal.

Mungkin yang paling simpel, ukuran yang paling nyata dan mendesak untuk diambil, yang juga mungkin paling efektif, adalah dengan membuat kekayaan spiritual Kristen itu menjadi paling kaya. Ordo-ordo religius yang besar memiliki tradisi meditasi dan spiritualitas yang kuat yang bisa dibuat lebih tersedia melalui kursus-kursus atau periode yang di saat tertentu rumah-rumah ordo itu menyambut baik para pencari kebenaran. Hal ini sudah dan sedang dilakukan namun usaha-usaha yang banyak sangat dibutuhkan. Membantu orang dalam pencarian spiritual mereka dengan menawarkan teknik-teknik yang terjamin dan pengalaman doa yang riil dapat membuka dialog dengan mereka yang demikian akan menyingkapkan kekayaan tradisi Kristen dan mungkin mengklarifikasi hal-hal tentang proses New Age.

Dengan citra yang hidup dan bermanfaat, salah satu eksponen New Age telah membandingkan agama-agama tradisional dengan ajaran Gereja dan antara New Age dengan daya tarik dunia luas. Gerakan New Age dilihat sebagai ajakan kepada orang-orang Kristen untuk membawa amanat Gereja kepada suatu daya tarik yang sekarang melanda seluruh dunia. Gambaran ini menawarkan umat Kristen suatu tantangan positif karena ini saatnya untuk membawa amanat Gereja kepada orang-orang yang tertarik oleh dunia. Sesungguhnya orang-orang Kristen tidak perlu dan tidak harus menunggu ajakan untuk membawa khabar baik Yesus Kristus kepada mereka yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan mereka, yakni makanan rohani yang mengenyangkan dan air kehidupan. Dari gambaran yang dijelaskan tadi, orang-orang Kristen harus menciptakan sesuatu yang berasal dari Gereja terutama yang berisi sabda dan sakramen dan mengimplementasikan Injil dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari – “Pergilah ! Misa telah selesai !”. Dalam Surat Apostolik Novo Millennio Inuente Bapa Suci menyatakan sebuah kepentingan besar dalam spiritualitas yang terdapat dalam dunia sekular saat ini dan bagaimana agama-agama lain menanggapi permintaan ini dengan cara-cara yang menarik. Paus lalu menantang umat Kristen terhadap masalah ini : “Tetapi kita yang telah menerima rahmat kepercayaan pada Kristus, penyingkap Sang Bapa, Penyelamat dunia, memiliki tugas untuk menunjukkan dalam tingkat kedalaman apa hubungan dengan Kristus dapat terarah” (n.33). Bagi mereka yang berkelana dalam blantika tawaran-tawaran agama dunia, daya tarik Kekristenan pertama-tama akan dirasakan dalam kesaksian setiap anggota Gereja, yang nampak dalam kepercayaan, kelembutan, kesabaran dan suka cita dan dalam kasih nyata mereka terhadap sesama, semua ini adalah buah-buah iman mereka yang hidup dalam doa-doa personal yang otentik.

7 APPENDIX

7.1 Beberapa formulasi singkat tentang Ide-ide New Age

William Bloom, Formulasi New Age tahun 1992 yang dikutip dalam Heelas, h.225f :

*Semua kehidupan – semua keberadaan – adalah manifestasi Roh, manifestasi Yang Tidak Diketahui, manifestasi kesadaran tertinggi yang dikenal dengan nama-nama yang berbeda dalam kebudayaan yang berbeda-beda pula.

*Tujuan dan dinamika semua keberadaan adalah untuk membawa Kasih, Kebijaksanaan, Pencerahan….ke dalam manifestasi penuh.

*Semua agama merupakan ekspresi pada realitas yang lebih dalam (inner reality) dan sama.

*Semua kehidupan, seperti yang kita rasakan dengan panca indera manusia atau instrumen ilmiah, hanya selubung luar dari realitas yang tidak kelihatan, yang lebih dalam dan kausal.

*Dengan cara yang sama, manusia ciptaan dua kali lipat – dengan : (1) suatu kepribadian temporer yang terletak di sebelah luar dan (ii) suatu mahluk multi dimensional yang lebih dalam (jiwa atau diri (self) yang lebih tinggi).

*Kepribadian sebelah luar dibatasi dan cenderung menuju cinta.

*Tujuan incarnasi mahluk yang lebih dalam adalah untuk membawa getaran kepribadian sebelah luar ke dalam gema cinta.

*Semua jiwa dalam inkarnasi bebas memilih jalan spiritual mereka sendiri.

*Guru-guru spiritual kita adalah mereka yang memiliki jiwa yang bebas dari kebutuhan untuk berinkarnasi dan yang mengekspresikan cinta yang tak bersyarat, kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa mahluk yang hebat ini dikenal dan telah menginspirasikan agama-agama dunia. Beberapanya dikenal dan bekerja secara tidak kelihatan.

*Semua kehidupan, dalam bentuk dan kondisinya, energi yang di-interkoneksikan – dan ini termasuk perbuatan-perbuatan, perasaaan dan gagasan-gagasan kita. Oleh karena itu, kita bekerja dengan Roh dan energi-energi ini ikut menciptakan realitas kita.

*Meskipun dijaga dalam dinamika cinta kosmik, kita bersama-sama bertanggungjawab untuk kondisi diri sendiri, bertanggungjawab bagi lingkungan dan semua kehidupan kita.

*Selama periode masa ini, evolusi planet dan kemanusiaan telah mencapai poin ketika kita melakukan perubahan spiritual fundamental dalam kesadaran individual maupun massa. Inilah sebabnya kita berbicara tentang New Age. Kesadaran baru ini adalah hasil incarnasi yang sukses dan makin bertambah dari apa yang orang-orang panggil dengan energi cinta kosmik. Kesadaran baru ini mendemonstrasikan dirinya sendiri dalam suatu pemahaman naluriah tentang kesucian dan khususnya , ketersambungan semua keberadaan.

*Kesadaran baru ini dan pemahaman baru tentang saling ketergantungan antara semua kehidupan berarti bahwa kita sekarang ini sedang dalam proses melibatkan suatu kebudayaan planetaris baru.

Heelas (h.226) dari “formulasi komplementer”-nya Jeremy Tarcher.

1. Dunia, termasuk peradaban manusia, merupakan suatu ekspresi dari sifat ilahi yang lebih komprehensif dan lebih tinggi.

2. Tersembunyi dalam setiap manusia adalah diri ilahi yang lebih tinggi, yang merupakan manifestasi sifat ilahi yang lebih tinggi dan lebih komprehensif.

3. Sifat yang lebih tinggi dapat dibangkitkan dan dapat menjadi pusat kehidupan individual setiap hari.

4. Pembangkitan ini adalah alasan bagi keberadaan setiap hidup individu.

David Spangler dikutip dalam Actualite des religion n0 8, September 1999, h.43, pada karakteristik pokok visi New Age, yang adalah :

*holistik (globalisasi sebab hanya ada satu realitas-energi);

*ekologis (dewi bumi adalah ibu kita ; setiap diri kita adalah impuls (neurone) sistem saraf pusat bumi);

*androginus (pelangi dan Yin/Yang kedua-duanya simbol NA, yang berhubungan dengan komplementaritas kebalikan, terutama maskulin dan feminin);

*mistikal (menemukan sesuatu yang suci dalam setiap hal, hal-hal yang paling biasa);

*planetaris (orang-orang harus pada saat yang sama berlabuh pada budaya mereka sendiri dan terbuka pada dimensi universal, mampu mempromosikan cinta, hasrat, damai dan bahkan pembentukan pemerintah dunia).

7.2. Daftar Kata-kata Pilihan

Zaman Aquarius : setiap zaman astrologis sekitar 2146 tahun dinamakan sesuai dengan salah satu tanda zodiak, tetapi “hari besar” berlaku kebalikan, jadi Zaman Pisces yang berlangsung sekarang akan berakhir, dan Zama Aquarius akan muncul. Setiap Zaman Baru memiliki energi kosmiknya masing-masing; energi dalam Pisces telah membuat suatu era perang dan konflik. Tetapi Aquarius ditentukan untuk menjadi suatu era harmoni, keadilan, perdamaian, persatuan dsb. Dalam aspek ini, New Age menerima ketakterelakan historis. Beberapa orang menghitung zaman Aries adalah masa agama Yahudi, zaman Pisces masa Kekristenan, Aquarius masa agama universal.

Androgyny : ini bukan hermaproditisme, seperti eksistensi dalam karakteristik fisik baik laki-laki maupun wanita, melainkan kesadaran akan kehadiran elemen-elemen dalam setiap pribadi pria dan wanita; hal ini merupakan kondisi harmoni sisi dalam yang berimbang dari animus dan anima. Dalam New Age, androgini ini adalah kondisi yang merupakan hasil dari kesadaran baru dari dua mode baik objek (being) maupun eksistensi yang adalah karakteristik setiap pria dan wanita. Semakin banyak karakteristik ini tersebar, semakin banyak pula membantu dalam transformasi tingkah laku interpersonal.

Anthroposophy : suatu doktrin teosopikal yang aslinya dipopulerkan oleh seorang Kroasia bernama Rudolf Steiner (1861-1925), yang meninggalkan Masyarakat Teosopikal setelah menjadi pemimpin cabang Jerman dari tahun 1902 sampai 1913. Ini adalah suatu doktrin esoteris yang bermaksud menginisiasikan orang-orang ke dalam “pengetahuan objektif” dalam bidang spiritual-ilahi. Steiner percaya doktrin ini telah membantu dia mengeksplorasi hukum-hukum evolusi kosmos dan manusia. Setiap bentuk fisik memiliki bentuk spiritual yang berhubungan dan hidup di bumi ini dipengaruhi oleh energi bintang-bintang (astral) dan esensi spiritual. Akasha Chronicle dikatakan telah menjadi “memori kosmik” yang tersedia untuk diinisiasikan [95].

Channeling : medium fisik yang mengklaim dapat bertindak sebagai saluran bagi informasi dari diri-diri lain (other selves) yang biasanya dilepaskan dari entitas kehidupan pada taraf yang lebih tinggi. Channeling ini berhubungan dengan mahluk yang beranekaragam seperti halnya para master tingkat tinggi (ascended masters), malaikat, dewa-dewa, entitas kelompok, roh alam dan sang Diri yang lebih tinggi (the Higher Self).

Christ : Dalam New Age, figur historis Yesus sebaliknya adalah inkarnasi ide atau energi atau sekumpulan getaran-getaran. Bagi Alice Bailey, hari besar permohonan dibutuhkan ketika semua orang yang percaya bisa menciptakan konsentrasi energi spritual seperti ini yang akan menghasilkan inkarnasi lebih lanjut yang akan mengungkapkan bagaimana orang-orang dapat menyelamatkan dirinya mereka sendiri. Karena bagi banyak orang, Yesus adalah sesuatu yang tak lebih dari seorang master spiritual yang seperti Budha, Musa dan Muhammad, atau diantara yang lainnya, telah dirasuki oleh Kristus kosmik. Sang Kristus kosmik dikenal juga sebagai energi kristik (christic energy) pada basis setiap mahluk dan seluruh kehidupan (the whole of being). Setiap individu perlu dimasukan secara bertahap ke dalam kesadaran karakteristik kristik ini yang pada dasarnya mereka miliki. Kristus – dalam terma New Age – mewakili kondisi kesempurnaan diri yang tertinggi [96].

Crystals : diperhitungkan untuk bergetar pada frekuensi yang signifikan. Oleh sebab itu Crystals ini bermanfaat dalam transformasi-diri. Crystals ini digunakan dalam berbagai terapi dan meditasi, visualisasi, ‘perjalanan bintang’ (astral travel) atau jimat. Dari luar kita melihat ke dalam, ternyata crystals tidak memiliki kekuatan intrinsik selain hanya indah.

Depth Psychology : sekolah psikologi ditemukan oleh C.G Jung, bekas murid Freud. Jung mengakui bahwa agama dan hal-hal spiritual adalah penting bagi keseluruhan dan kesehatan. Interpretasi mimpi dan analisis pola pikiran (archetype) adalah elemen kunci dalam metode Jung. Pola pikiran (archetype) adalah struktrur yang melekat pada jiwa manusia; mereka muncul dalam motif atau gambar (image) yang berulang dalam mimpi, fantasi, mitos dan cerita dongeng.

Enneagram : (dari bahasa Yunani ennea = nine + gramma = sign) nama yang mengacu pada diagram yang tersusun atas lingkaran dengan sembilan poin pada bundarannya, dihubungkan dalam lingkaran oleh segitiga dan segienam. Enneagram aslinya digunakan untuk meramal tetapi telah menjadi simbol bagi sistem tipologi kepribadian yang terdiri dari sembilan tipe karakter standar. Enneagram menjadi populer setelah publikasi buku Helen Palmer yang berjudul The Enneagram [97] tetapi dia mengakui hutang budinya pada pemikir dan praktisi esoteris Rusia G.I Gurdjieff, psikologis Cili Claudio Naranjo dan pengarang Oscar Ichazo, pendiri Arica. Asal-usul enneagram diselemuti misteri tetapi beberapa ahli mempertahankan pendapatnya bahwa ini berasal dari mistisisme Sufi.

Esotericism : (dari bahasa Yunani esoteros = yang di dalam) secara umum mengacu pada pokok pengetahuan kuno dan tersembunyi yang tersedia hanya pada kelompok-kelompok yang telah diinisiasikan, yang menggambarkan mereka sendiri sebagai penjaga kebenaran yang tersembunyi dari mayoritas manusia. Proses inisiasi mencabut orang-orang dari pengetahuan realitas yang hanya bersifat eksternal, superfisial kepada kebenaran sisi dalam dan dalam proses ini, membangkitkan kesadaran mereka pada level yang lebih dalam. Orang-orang diajak untuk melakukan “perjalanan sisi dalam” (inner journey) untuk menemukan “kilatan ilahi” (divine spark) di dalam diri mereka. Keselamatan, dalam konteks ini, bertepatan dengan penemuan sang Diri (the Self).

Evolusi : Dalam New Age, evolusi ini lebih banyak daripada sebuah pertanyaan tentang mahluk hidup yang berkembang menuju bentuk kehidupan yang tinggi; model fisik diproyeksikan pada realisme spiritual sehingga kekuatan yang tetap ada dalam manusia akan menggerakan mereka menuju bentuk-bentuk kehidupan spiritual yang tinggi. Manusia dikatakan tidak memiliki kontrol penuh terhadap kekuatan, tetapi tindakan-tindakan baik dan buruk yang mereka lakukan dapat mempercepat atau memperlambat perkembangan mereka. Seluruh ciptaan termasuk manusia, dilihat bergerak dengan tidak dapat ditawar-tawar menuju fusi dengan sang ilahi. Reinkarnasi dengan jelas memiliki tempat yang penting dalam pandangan evolusi spiritual yang progresif yang mana katanya dimulai sebelum kelahiran dan dilanjutkan setelah kematian [98].

Expansion of consciousness : bila kosmos dilihat sebagai satu rantai kehidupan yang terus-menerus maka semua tingkat eksistensi – mineral, sayur-sayuran, binatang, manusia, kosmis dan mahluk-mahluk ilahi – bersifat saling ketergantungan (interdependent). Manusia katanya menjadi sadar pada tempat mereka di dalam visi realitas global yang bersifat holistik dengan memperluas kesadaran mereka secara baik di luar batas-batas normalnya. New Age menawarkan aneka ragam teknik yang luas untuk membantu orang-orang meraih tingkat yang lebih tinggi dalam merasakan realitas, yakni suatu cara mengatasi pemisahan diantara subjek dan antara subjek dan objek dalam proses yang dikenal, yang berakhir dalam fusi total dari apa kesadaran yang bersifat normal, inferior itu melihatnya sebagai pemisah atau pembeda realitas.

Feng-shui : suatu bentuk geomancy, dalam hal ini suatu metode klenik (occult) Cina untuk menguraikan kehadiran tersembunyi dari arus positif dan negatif dalam gedung-gedung dan tempat-tempat lain, dengan basis pengetahuan tentang kekuatan bumi dan atmosfir. “Sama seperti tubuh manusia atau kosmos, tempat-tempat merupakan bagian-bagian yang dilalui oleh arus yang keseimbangannya adalah sumber kesehatan dan kehidupan” [99].

Gnosis : dalam pengertian umum, gnosis merupakan bentuk pengetahuan yang tidak bersifat intelektual namun visioner atau mistis dan ini suatu gagasan yang diungkapkan dan mampu menggabungkan manusia dengan misteri ilahi. Dalam abad pertama Kekristenan, para Bapa Gereja berjuang melawan gnostisisme, sebab paham ini sangat aneh dengan iman Kristen. Beberapa orang melihat kelahiran kembali ide-ide gnostik dalam banyak pemikiran New Age, dan beberapa pengarang yang dihubungkan dengan New Age ternyata mengutip awal-awal gnostisisme. Tetapi, penekanan yang lebih besar dalam New Age pada monisme dan bahkan pantheism atau panentheisme mendorong beberapa orang untuk menggunakan terma neo-gnosticism untuk membedakan antara gnosis dari gnostisisme kuno.

Great White Brotherhood : Ny. Blavatsky mengklaim memiliki kontak dengan mahatmas atau masters, mahluk yang diagungkan yang bersama-sama merupakan Persaudaraan Putih Agung. Dia melihat mereka sebagai penuntun evolusi peradaban manusia dan mengarahkan kerja dari Masyarakat Theosopikal.

Hermeticism : ini adalah praktek-praktek dan spekulasi-spekulasi filosopis dan religius yang dihubungkan dengan tulisan-tulisan dalam the Corpus Hermeticum dan teks-teks Alexandrian yang dihubungkan dengan mitos Hermes Trismegistos. Ketika pertama kali teks-teks ini dikenal selama zaman Renaisans, teks-teks tersebut dipikir bisa mengungkapkan doktrin pra-Kristen namun kemudian studi-studi menunjukkan teks-teks tersebut berasal dari abad pertama era Kekristenan [100]. Hermetisisme Alexandrian adalah sumber utama bagi esoterisme modern dan keduanya memiliki persamaan : ekletisisme, yakni penyangkalan dualisme ontologis, suatu penegasan karakter alam semesta yang positif dan simbolik, serta ide kegagalan dan pemulihan manusia yang berlangsung kemudian. Spekulasi hermetik telah memperkuat kepercayaan dalam tradisi fundamental kuno atau yang disebut philosophia perennis yang secara salah dianggap sama pada tradisi semua agama. Bentuk-bentuk magis yang tinggi dan bersifat seremonial berkembang dari Hermetisisme Renaisans.

Holism : konsep kunci dalam “paradigma baru”, mengklaim bisa menyediakan kerangka teoritis yang mengintegrasikan seluruh pandangan dunia tentang manusia modern. Kebalikan dengan pengalaman yang menambah fragmentasi dalam pengetahuan dan kehidupan sehari-hari, “keseluruhan” (wholeness) diajukan sebagai pusat konsep metodologis dan ontologis pusat. Manusia cocok dengan alam semesta sebagai bagian dari organisme tunggal yang hidup, suatu jaringan yang rapih dari persahabatan yang dinamis. Perbedaan klasik antara subjek dan objek, yang karenanya Descartes dan Newton secara tipikal disalahkan, ditantang oleh berbagai ilmuwan yang menawarkan jembatan antara pengetahuan dan agama. Manusia adalah bagian dari jaringan alam dan dunia yang bersifat universal (eko-sistem, keluarga) dan manusia harus mencari harmoni dengan setiap elemen otoritas kuasi-transenden ini (pura-pura transenden). Ketika seseorang memahami tempatnya dalam alam, di dalam kosmos yang juga ilahi, maka orang itu harus juga memahami bahwa “keseluruhan” dan “kesucian” merupakan hal yang satu dan sama. Artikulasi yang paling jelas dari konsep holisme ini adalah dalam hipotesis “Gaia” (Yun. dewi bumi) [101].

Human Potential Movement : sejak permulaannya (Esalen, California dalam tahun 1960-an), gerakan ini telah berkembang ke dalam jaringan kelompok yang mempromosikan pembebasan kapasitas manusia yang berpembawaan halus bagi adanya kreativitas melalui penyadaran-diri (self-realisation). Anekaragam teknik transformasi personal digunakan lebih banyak lagi oleh perusahaan dalam program-program pelatihan manajemen, yang pada akhirnya digunakan untuk alasan-alasan normal ekonomis. Teknologi-teknologi Transpersonal, Gerakan untuk Kesadaran Spiritual Inti (inner), Transformasi Organisasional dan Pembangunan Organisasional dipertimbangkan sebagai hal-hal non religius, tetapi dalam realitasnya pegawai-pegawai perusahaan dapat menemukan diri mereka sendiri tunduk pada ‘spiritualitas’ asing (alien) dalam situasi yang menimbulkan pertanyaan tentang kebebasan personal. Ada hubungan-hubungan yang jelas antara spiritualitas Timur dan psikoterapi, meskipun pada saat ilmu psikologi Jung dan Gerakan Potensi Manusia sangat berpengaruh pada Shamanisme dan bentuk-bentuk Paganisme yang “direkonstruksikan” seperti Druid dan Wicca. Dalam pengertian umum, “perkembangan personal” dapat dipahami sebagai bentuk “keselamatan agama” yang mengambil bentuk dalam gerakan New Age: hal ini dikuatkan bahwa pelepasan dari penderitaan dan kelemahan manusia akan diraih melalui pengembangan potensi manusia yang hasilnya berupa penambahan hubungan dengan keilahian inti kita [102].

Initiation : Dalam etnologi religius, inisiasi merupakan perjalanan eksperensial dan/atau perjalanan kognitif dengan jalan mana seseorang diakui, baik ketika ia sendiri atau sebagai bagian dari kelompok, dengan penggunaan ritual-ritual khusus bagi anggota komunitas agama, masyarakat rahasia (contohnya Freemason) atau suatu asosiasi misteri (magis, okultisme esoteris, gnostik, theosopikal dsb).

Karma : (dari bahasa Sansekerta dari akar kata Kri = tindakan, perbuatan) suatu gagasan kunci dalam Hinduisme, Jainisme dan Buddhisme namun seseorang yang memiliki maksud perbuatannya tidak harus berarti sama dengan karma. Dalam periode Vedic kuno, karma mengacu pada aksi ritual, terutama korban, dengan menggunakan sihir seseorang memperoleh akses pada kebahagiaan atau berkat setelah kehidupan. Ketika Jainisme dan Buddhisme muncul (sekitar 6 abad sebelum Kristus), Karma kehilangan arti keselamatannya : cara pembebasan merupakan pengetahuan Atman atau “diri”. Dalam doktrin samsara, Karma dipahami sebagai siklus kelahiran dan kematian yang tak putus-putusnya (Hinduisme) atau kebangkitan kembali (Buddhisme) [103]. Dalam konteks New Age, “hukum karma” sering dilihat sebagai moral yang equivalen dengan evolusi kosmis. Ini tidak lagi berhubungan dengan iblis atau penderitaan – ilusi yang dialami sebagai bagian dari “permainan kosmik” – melainkan suatu hukum universal sebab dan akibat, bagian dari kencenderungan alam semesta yang diinterkoneksikan menuju keseimbangan moral [104].

Monism : ini merupakan kepercayaan metafisik yang mana perbedaan diantara kehidupan merupakan ilusi. Hanya ada satu mahluk universal, yang mana setiap mahluk dan setiap orang termasuk bagian di dalamnya. Sebab monisme New Age memasukkan ide bahwa realitas itu secara fundamental adalah bersifat spiritual, monisme merupakan bentuk kontemporer pantheisme (sesuatu yang secara eksplisit merupakan penolakan terhadap materialisme, khususnya Marxisme). Klaim dari monisme adalah untuk memecahkan semua dualisme yang tidak memberikan ruangan bagi Allah yang transenden, jadi segala sesuatu itu adalah Allah. Masalah lebih lanjut muncul bagi Kekristenan ketika pertanyaan tentang asal-usul iblis itu mengemuka. C.G Jung melihat iblis sebagai “sisi bayangan” Allah yang, dalam theisme klasik, adalah semua kebaikan.

Mysticism : Mistisisme New Age menuju masuk ke dalam/bathin diri sendiri daripada persatuan dengan Allah yang “secara mutlak adalah lain” (totally other). Mistisisme ini merupakan fusi dengan alam semesta, suatu pembasmian individu dalam persatuan dengan keseluruhan. Pengalaman Diri dianggap sebagai pengalaman keilahian, sehingga orang melihat ke dalam untuk menemukan kebijaksaan, kreativitas dan kekuatan yang otentik.

Neopaganism : suatu judul yang ditolak oleh banyak orang yang kepada mereka neopaganisme ini berlaku, neopaganisme mengacu pada arus yang berjalan pararel menuju New Age dan sering berinterkasi dengannya. Dalam gelombang besar reaksi
yang melawan agama-agama tradisional, yang secara spesifik adalah warisan Barat Judaisme-Kristen, banyak orang mengunjungi kembali agama-agama pribumi kuno, tradisional dan pagan. Apapun yang mendahului Kekristenan dianggap memiliki keaslian pda roh daratan atau negara, suatu bentuk agama natural yang tidak terkontaminasi, yang berhubungan dengan kekuatan alam, sering bersifat matriarkal, magis atau shamanis. Dikatakan, manusia akan lebih sehat bila kembali pada siklus festival (pertanian) alamiah dan kembali pada penguatan kehidupan yang umum. Beberapa agama “neo-pagan” merupakan rekonstruksi masa kini yang hubungan otentiknya pada bentuk asli dapat dipertanyakan, khususnya dalam kasus-kasus yang didominasi oleh komponen ideologis modern seperti, ekologi, feminisme atau dalam beberapa kasus, mitos kemurnian rasial [105].

New Age Music : ini adalah industri yang booming. Musik yang satu ini sering dibungkus sebagai alat untu mencapai harmoni dengan diri sendiri atau dunia, dan beberapa dari musik ini adalah “Celtic” atau druidic. Beberapa komposer New Age mengklaim musik mereka dimaksudkan untuk membangun jembatan antara yang sadar dan tidak sadar, namun ini mungkin lebih banyak, di samping melodi, terdapat juga repetisi frase-frase kunci yang bersifat ritmik dan meditatif. Seperti halnya dengan elemen-elemen dari fenomena New Age, beberapa musik New Age dimaksudkan untuk membawa orang-orang lebih jauh masuk ke dalam Gerakan New Age, tetapi kebanyakan musik ini hanya bersifat komersial dan artistik.

New Thought : gerakan agama abad ke-19 ini ditemukan di AS. Asal-usulnya adalah dalam idealisme, yang mana gerakan ini adalah bentuk yang dipopulerkan. Dikatakan Allah itu secara mutlak baik dan iblis semata-mata suatu ilusi; realitas dasar adalah pikiran. Karena pikiran orang itu yang menyebabkan suatu kejadian dalam kehidupannya, maka orang itu harus bertanggungjawab penuh terhadap setiap aspek dari situasi yang bersangkutan.

Occultism : pengetahuan tentang okult (tersembunyi) dan kekuatan pikiran dan alam yang tersembunyi adalah basis kepercayaan dan praktek-praktek yang dihubungkan pada rahasia yang diduga “filosopi abadi” (perennial philosophy) yang berasal dari ilmu magis Yunani Kuno dan alkemi, di satu sisi dan mistisisme Yahudi di sisi lain. Okultisme ini disimpan rapat-rapat melalui kode kerahasiaan yang dipaksakan pada mereka yang telah diinisiasi ke dalam kelompok-kelompok dan masyarakat yang menjaga pengetahuan dan teknik-teknik yang terkait. Dalam abad ke-19, spiritualisme dan Masyarakat Theosopikal memperkenalkan bentuk baru dari okultisme yang telah mempengaruhi berbagai arus dalam New Age.

Pantheism : (Yun. pan = segala sesuatu dan theos = Allah) kepercayaan yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu adalah Allah atau kadang-kadang, bahwa segala sesuatu itu ada di dalam Allah dan Allah ada dalam segala sesuatu (panentheism). Setiap elemen alam semesta itu bersifat ilahi, dan keilahian sama-sama hadir dalam segala sesuatu. Tidak ada ruang dalam pandangan ini bagi Allah sebagai mahluk yang berbeda dalam pengertian theisme klasik.

Parapsychology : parapsikologi ini memperlakukan sesuatu itu sebagai persepsi ekstrasensoris, telepati mental, telekinesis, penyembuhan fisik dan komunikasi dengan roh-roh lewat medium atau saluran (channeling). Meskipun terdapat kritik pedas dari para ilmuwan, parapsikologi telah berpindah dari kekuatan ke kekuatan dan cocok sekali dalam pandangan populer dalam beberapa area New Age yang mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan fisik yang luar biasa namun hanya sering berlaku dalam kondisi yang tidak memadai.

Planetary Consciousness : pandangan dunia berkembang dalam tahun 1980-an untuk membantu loyalitas pada komunitas manusia daripada loyalitas kepada negara-negara, suku-suku atau kelompok sosial lainnya. Ini bisa dianggap sebagai ahli waris gerakan-gerakan New Age dalam awal abad ke-20 yang mempromosikan pemerintahan dunia. Kesadaran akan persatuan manusia cocok dengan hipotesis Gaia.

Positive Thinking : keyakinan bahwa orang-orang dapat mengubah realitas fisik atau keadaan eksternal dengan mengubah sikap mental, dengan berpikir secara positif dan konstruktif. Kadang-kadang ini hanya masalah kesadaran terhadap kepercayaan yang dianut secara tidak sadar yang menentukan situasi kehidupan kita. Para pemikir positif dijanjikan kesehatan dan keseluruhan (wholeness) sering juga dijanjikan kemakmuran dan bahkan hidup abadi.

Rebirthing : Dalam tahun 1970-an Leonard Orr mendeskripsikan bahwa kelahiran kembali itu sebagai suatu proses yang mana seseorang dapat mengidentifikasikan dan mengisolasi area-area di sumber masalah saat ini yang dalam kesadarannya tak terpecahkan.

Reincarnation : Dalam konteks New Age, reinkarnasi dihubungkan dengan konsep evolusi kekuasaan untuk menjadi ilahi. Seperti penentangan terhadap agama-agama India yang berasal daripadanya, New Age memandang reinkarnasi sebagai gerak maju jiwa individual menuju keadaan yang lebih sempurna. Apa yang direinkarnasikan secara esensial adalah sesuatu yang bersifat immaterial atau spiritual; lebih tepat lagi, ini adalah kesadaran yang menyiratkan energi dalam diri seseorang yang berbagi dalam kosmik atau energi “kristik”. Kematian tidak lain adalah perjalanan jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya.

Rosicrucians : ini adalah kelompok klenik Barat yang terlibat dalam alkemi, astrologi, Theosopi dan interpretasi kitab suci kabbalisik Kelompok Rosicrucian Fellowship memberikan kontribusi pada kebangkitan astrologi dalam abad ke 20 dan kelompok Ancient dan Mystical Order of the Rosae Crucis (AMORC) mengaitkan kesuksesan dengan kemampuan yang diduga bisa mewujudkan citra mental kesehatan, kekayaan dan kebahagiaan.

Shamanism : praktek-praktek dan kepercayaan yang dikaitkan pada komunikasi dengan roh-roh alam dan roh-roh orang mati melalui prosesi ritual (dengan menggunakan roh-roh) seorang cenayang yang bertindak sebagai medium. Shamanisme ini begitu atraktif dalam lingkungan New Age sebab ini menekankan harmoni dengan kekuatan alam dan penyembuhan. Ada juga citra yang diromantiskan dari agama-agama asli dan kedekatan mereka dengan bumi dan alam.

Spiritualisme : Walaupun selalu ada usaha-usaha untuk melakukan kontak dengan roh-roh orang mati, spiritualisme abad ke-19 dianggap menjadi salah satu arus yang mengalir ke dalam New Age. Spiritualisme berkembang untuk melawan latar belakang ide-ide Swedenborg dan Mesmer, dan menjadi semacam agama baru. Ny Blavatsky merupakan seorang medium, sehingga spiritualisme memiliki pengaruh besar pada Masyarakat Theosopikal, meskipun pada spiritualisme terdapat penekanan pada kontak dengan entitas dari masa lalu daripada orang-orang yang baru saja mati. Allan Kardec berpengaruh dalam penyebaran spiritualisme dalam agama-agama Afrika-Brasil. Ada juga elemen-elemen spiritualis dalam beberapa Gerakan Agama Baru di Jepang.

Theosophy : suatu terma kuno, yang aslinya mengacu pada sejenis mistisisme. Theosopi dikaitkan pada gnostik Yunani dan Neoplatonis, lalu pada Meister Eckhart, Nicholas dari Cusa dan Jakob Boehme. Nama ini diberi penekanan oleh Masyarakat Theosopikal, yang ditemukan oleh Helena Petrovna Blavatsky dan yang lainnya pada tahun 1875. Mistisisme theosopikal cenderung monistik, menekankan persatuan esensial dari komponen alam semesta yang bersifat material dan spiritual. Theosopi ini mencari kekuatan tersembunyi yang menyebabkan benda dan roh berinteraksi, sehingga dengan cara ini manusia dan pikiran-pikiran ilahi akhirnya bertemu. Ini adalah ketika theosopi menawarkan penebusan atau pencerahan mistis.

Transcendentalism : Ini adalah gerakan abad ke-19 dari para penulis dan pemikir di Inggris Baru yang berbagi sekumpulan idealistik dari kepercayaan-kepercayaan dalam persatuan esensial ciptaan, kebaikan yang berpembawaan halus dari pribadi manusia dan superioritas pengetahuan di atas logika dan pengalaman bagi wahyu kebenaran yang terdalam. Figur utama di sini adalah Ralph Waldo Emerson yang pindah dari Kristen Orthodox melalui Unitarianisme ke mistisisme alamiah baru yang mengintegrasikan konsep Hindu dengan konsep populer Amerika seperti individualisme, tanggungjawab personal dan kebutuhan untuk sukses.

Wicca : suatu terma Inggris lama untuk menggambarkan tukang sihir yang telah diserahkan kepada kebangkitan neo-pagan dari elemen-elemen ritual magis. Ini ditemukan di Inggris tahun 1939 oleh Gerald Gardner yang mendasarkannya pada beberapa teks-teks sarjana yang menurut ilmu gaib Eropa abad pertengahan merupakan agama alam kuno yang dianiaya oleh orang-orang Kristen. Disebut “keahlian”, istilah ini berkembang dalam tahun 1960-an di AS dimana wicca ini berjumpa dengan “spiritualitas wanita”.

7.3 Tempat-tempat penting New Age

* Komunitas Esalena ditemukan di Big Sur, California tahun 1962 oleh Michael Murphy dan Richard Price yang tujuan utamanya adalah mencapai penyadaran diri (self-realisation) melalui nudisme dan visi, serta “obat-obatan lunak” (bland medicines). Ini menjadi salah satu pusat penting dari Gerakan Potensi Manusia, dan telah menyebarkan ide-ide tentang pengobatan holistik dalam dunia pendidikan, politik dan ekonomi. Ini dilakukan melalui kursus-kursus perbandingan agama, mitologi, mistisisme, meditasi, psikoterapi, ekspansi kesadaran dan sebagainya. Bersama dengan Findhorn, ini dianggap sebagai tempat-tempat penting dalam perkembangan kesadaran Aquarius. Kelompok The Esalen Soviet American Institute bekerjasama dengan pejabat-pejabat Soviet pada Proyek Peningkatan Kesehatan.

* Findhorn: komunitas pertanian holistik yang dimulai oleh Peter dan Eileen Caddy mencapai perkembangan tanam-tanaman yang luar biasa dengan menggunakan metode yang tidak orthodoks. Pendirian komunitas Findhorn di Skotlandia tahun 1965 merupakan kejadian penting dalam gerakan yang memasang label ‘New Age’. Kenyataannya, Findhorn dilihat sebagai ‘perwujudan keteladanan transformasi prinsipil’. Pencarian kesadaran universal, tujuan harmoni dengan alam, visi dunia yang ditransformasikan, dan praktek penyaluran (channeling), yang semuanya itu telah menjadi tanda Gerakan New Age, hadir di Findhorn sejak pembentukannya. Kesuksesan komunitas ini mengarah untuk menjadi model bagi, dan/untuk inspirasi kelompok-kelompok lain, seperti Alternatif di London, Esalen di Big Sur, California dan kelompok the Open Center and Omega Institute di New York” [106].

* Komunitas utopis Monte Verita dekat Ascona di Swis. Sejak akhir abad ke 19, komunitas ini merupakan tempat pertemuan bagi eksponen Eropa dan Amerika untuk kontra-budaya dalam bidang politik, psikologi, seni dan ekologi. Konferensi Eranos telah diselenggarakan di sana sejak tahun 1933, mengumpulkan beberapa bintang termasyur dari New Age. Buku tahunan memperjelas maksud mereka untuk menciptakan suatu agama dunia yang terintegrasi [107]. Begitu menarik untuk melihat daftar mereka yang berkumpul pada tahun-tahun tersebut di Monte Verita.

8 Sumber-sumber

Dokumen-dokumen Magesterium Gereja Katolik

John Paul II, Address to the United States Bishops of Iowa, Kansas, Missouri and Nebraska on their “Ad Limina” visit, 28 May 1993.

Congregation for the Doctrine of the Faith, Letter to Bishops on Certain Aspects of Christian Meditation (Orationis Formas), Vatican City (Vatican Polyglot Press) 1989.

International Theological Commission, Some Current Questions Concerning Eschatology, 1992, Nos. 9-10 (on reincarnation).

International Theological Commission, Some Questions on the Theology of Redemption, 1995, I/29 and II/35-36.

Argentine Bishops’ Conference Committee for Culture, Frente a una Nueva Era. Desafio a la pastoral en el horizonte de la Nueva Evangelización, 1993.

Irish Theological Commission, A New Age of the Spirit? A Catholic Response to the New Age Phenomenon, Dublin 1994.

Godfried Danneels, Au-delà de la mort: réincarnation et resurrection, Pastoral Letter, Easter 1991.

Godfried Danneels, Christ or Aquarius? Pastoral Letter, Christmas 1990 (Veritas, Dublin).

Carlo Maccari, “La ‘mistica cosmica’ del New Age”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

Carlo Maccari, La New Age di fronte alla fede cristiana, Turin (LDC) 1994.

Edward Anthony McCarthy, The New Age Movement, Pastoral Instruction, 1992.

Paul Poupard, Felicità e fede cristiana, Casale Monferrato (Ed. Piemme) 1992.

Joseph Ratzinger, La fede e la teologia ai nostri giorni, Guadalajara, May 1996, in L’Osservatore Romano 27 October 1996.

Norberto Rivera Carrera, Instrucción Pastoral sobre el New Age, 7 January 1996.

Christoph von Schönborn, Risurrezione e reincarnazione, (Italian translation) Casale Monferrato (Piemme) 1990.

J. Francis Stafford, Il movimento “New Age”, in L’Osservatore Romano, 30 October 1992.

Working Group on New Religious Movements (ed.), Vatican City, Sects and New Religious Movements. An Anthology of Texts From the Catholic Church, Washington (USCC) 1995.

Studi-studi Kristen

Raúl Berzosa Martinez, Nueva Era y Cristianismo. Entre el diálogo y la ruptura, Madrid (BAC) 1995.

André Fortin, Les Galeries du Nouvel Age: un chrétien s’y promène, Ottawa (Novalis) 1993.

Claude Labrecque, Une religion américaine. Pistes de discernement chrétien sur les courants populaires du “Nouvel Age”, Montréal (Médiaspaul) 1994.

The Methodist Faith and Order Committee, The New Age Movement Report to Conference 1994.

Aidan Nichols, “The New Age Movement”, in The Month, March 1992, pp. 84-89.

Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999.

Ökumenische Arbeitsgruppe “Neue Religiöse Bewegungen in der Schweiz”, New Age – aus christlicher Sicht, Freiburg (Paulusverlag) 1987.

Mitch Pacwa s.j., Catholics and the New Age. How Good People are being drawn into Jungian Psychology, the Enneagram and the New Age of Aquarius, Ann Arbor MI (Servant) 1992.

John Saliba, Christian Responses to the New Age Movement. A Critical Assessment, London (Chapman) 1999.

Josef Südbrack, SJ, Neue Religiosität – Herausforderung für die Christen, Mainz (Matthias-Grünewald-Verlag) 1987 = La nuova religiosità: una sfida per i cristiani, Brescia (Queriniana) 1988.

“Theologie für Laien” secretariat, Faszination Esoterik, Zürich (Theologie für Laien) 1996.

David Toolan, Facing West from California‘s Shores. A Jesuit’s Journey into New Age Consciousness, New York (Crossroad) 1987.

Juan Carlos Urrea Viera, “New Age”. Visión Histórico-Doctrinal y Principales Desafíos, Santafé de Bogotá (CELAM) 1996.

Jean Vernette, “L’avventura spirituale dei figli dell’Acquario”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

Jean Vernette, Jésus dans la nouvelle religiosité, Paris (Desclée) 1987.

Jean Vernette, Le New Age, Paris (P.U.F.) 1992.

9 Bibliograpi Umum

9.1. Beberapa buku mengenai New Age

William Bloom, The New Age. An Anthology of Essential Writings, London (Rider) 1991.

Fritjof Capra, The Tao of Physics: An Exploration of the Parallels between Modern Physics and Eastern Mysticism, Berkeley (Shambhala) 1975.

Fritjof Capra, The Turning Point: Science, Society and the Rising Culture,
Toronto (Bantam) 1983.

Benjamin Creme, The Reappearance of Christ and the Masters of Wisdom,
London (Tara Press) 1979.

Marilyn Ferguson, The Aquarian Conspiracy. Personal and Social Transformation in Our Time, Los Angeles (Tarcher) 1980.

Chris Griscom, Ecstasy is a New Frequency: Teachings of the Light Institute, New York (Simon & Schuster) 1987.

Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, Chicago (University of Chicago Press) 1970.

David Spangler, The New Age Vision, Forres (Findhorn Publications) 1980.

David Spangler, Revelation: The Birth of a New Age, San Francisco (Rainbow Bridge) 1976.

David Spangler, Towards a Planetary Vision, Forres (Findhorn Publications) 1977.

David Spangler, The New Age, Issaquah (The Morningtown Press) 1988.

David Spangler, The Rebirth of the Sacred, London (Gateway Books) 1988.

9.2. Karya-karya historis, deskriptif dan analitis

Christoph Bochinger, “New Age” und moderne Religion: Religionswissenschaftliche Untersuchungen, Gütersloh (Kaiser) 1994.

Bernard Franck, Lexique du Nouvel-Age, Limoges (Droguet-Ardant) 1993.

Hans Gasper, Joachim Müller and Friederike Valentin, Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, updated edition, Freiburg-Basel-Vienna (Herder) 2000. See, inter alia, the article “New Age” by Christoph Schorsch, Karl R. Essmann and Medard Kehl, and “Reinkarnation” by Reinhard Hümmel.

Manabu Haga and Robert J. Kisala (eds.), “The New Age in Japan”, in Japanese Journal of Religious Studies, Fall 1995, vol. 22, numbers 3 & 4.

Wouter Hanegraaff, New Age Religion and Western Culture. Esotericism in the Mirror of Nature, Leiden-New York-Köln (Brill) 1996. This book has an extensive bibliography.

Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996.

Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000.

Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (Il Saggiatore) 1998.

J. Gordon Melton, New Age Encyclopedia, Detroit (Gale Research Inc) 1990.

Elliot Miller, A Crash Course in the New Age, Eastbourne (Monarch) 1989.

Georges Minois, Histoire de l’athéisme, Paris (Fayard) 1998.

Arild Romarheim, The Aquarian Christ. Jesus Christ as Portrayed by New Religious Movements, Hong Kong (Good Tiding) 1992.

Hans-Jürgen Ruppert, Durchbruch zur Innenwelt. Spirituelle Impulse aus New Age und Esoterik in kritischer Beleuchtung, Stuttgart (Quell Verlag) 1988.

Edwin Schur, The Awareness Trap. Self-Absorption instead of Social Change, New York (McGraw Hill) 1977.

Rodney Stark and William Sims Bainbridge, The Future of Religion. Secularisation, Revival and Cult Formation, Berkeley (University of California Press) 1985.

Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond the New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press), 2000.

Charles Taylor, Sources of the Self. The Making of the Modern Identity, Cambridge (Cambridge University Press) 1989.

Charles Taylor, The Ethics of Authenticity, London (Harvard University Press) 1991

Edênio Valle s.v.d., “Psicologia e energias da mente: teorias alternativas”, in A Igreja Católica diante do pluralismo religioso do Brasil (III). Estudos da CNBB n. 71, São Paulo (paulus) 1994.

World Commission on Culture and Development, Our Creative Diversity. Report of the World Commission on Culture and Development, Paris
(UNESCO) 1995.

M. York, “The New Age Movement in Great Britain”, in Syzygy. Journal of Alternative Religion and Culture, 1:2-3 (1992) Stanford CA.


1 Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996, p. 137.

2 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 164f.

3 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 173.

4 Cf. John Paul II, Encyclical Letter Dominum et vivificantem (18 May 1986), 53.

5 Cf. Gilbert Markus o.p., “Celtic Schmeltic”, (1) in Spirituality, vol. 4, November-December 1998, No 21, pp. 379-383 and (2) in Spirituality, vol. 5, January-February 1999, No. 22, pp. 57-61.

6 John Paul II, Crossing the Threshold of Hope, (Knopf) 1994, 90.

7 Cf. particularly Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000.

8 M. Introvigne, op. cit., p. 267..

9 Cf. Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (il Saggiatore) 1998, p. 86. The word “sect” is used here not in any pejorative sense, but rather to denote a sociological phenomenon.

10 Cf. Wouter J. Hanegraaff, New Age Religion and Western Culture. Esotericism in the Mirror of Secular Thought, Leiden-New York-Köln (Brill) 1996, p. 377 and elsewhere

11 Cf. Rodney Stark and William Sims Bainbridge, The Future of Religion. Secularisation, Revival and Cult Formation, Berkeley (University of California Press) 1985.

12 Cf. M. Lacroix, op. cit., p. 8.

13 The Swiss “Theologie für Laien” course entitled Faszination Esoterik puts this clearly. Cf. “Kursmappe 1 – New Age und Esoterik”, text to accompany slides, p. 9.

14 The term was already in use in the title of The New Age Magazine, which was being published by the Ancient Accepted Scottish Masonic Rite in the southern jurisdiction of the United States of America as early as 1900 Cf. M. York, “The New Age Movement in Great Britain”, in Syzygy. Journal of Alternative Religion and Culture, 1: 2-3 (1992), Stanford CA, p. 156, note 6. The exact timing and nature of the change to the New Age are interpreted variously by different authors; estimates of timing range from 1967 to 2376.

15 In late 1977, Marilyn Ferguson sent a questionnaire to 210 “persons engaged in social transformation”, whom she also calls “Aquarian Conspirators”. The following is interesting: “When respondents were asked to name individuals whose ideas had influenced them, either through personal contact or through their writings, those most often named, in order of frequency, were Pierre Teilhard de Chardin, C.G. Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Aldous Huxley, Robert Assagioli, and J. Krishnamurti. “Others frequently mentioned: Paul Tillich, Hermann Hesse, Alfred North Whitehead, Martin Buber, Ruth Benedict, Margaret Mead, Gregory Bateson, Tarthang Tulku, Alan Watts, Sri Aurobindo, Swami Muktananda, D.T. Suzuki, Thomas Merton, Willis Harman, Kenneth Boulding, Elise Boulding, Erich Fromm, Marshall McLuhan, Buckminster Fuller, Frederic Spiegelberg, Alfred Korzybski, Heinz von Foerster, John Lilly, Werner Erhard, Oscar Ichazo, Maharishi Mahesh Yogi, Joseph Chilton Pearce, Karl Pribram, Gardner Murphy, and Albert Einstein”: The Aquarian Conspiracy. Personal and Social Transformation in Our Time, Los Angeles (Tarcher) 1980, p. 50 (note 1) and p. 434.

16 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 520.

17 Irish Theological Commission, A New Age of the Spirit? A Catholic Response to the New Age Phenomenon, Dublin 1994, chapter 3.

18 Cf. The Structure of Scientific Revolutions, Chicago (University of Chicago Press), 1970, p. 175.

19 Cf. Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999, passim, but especially pp. 11-34. See Also section 4 below.

20 It is worth recalling the lyrics of this song, which quickly imprinted themselves on to the minds of a whole generation in North America and Western Europe: “When the Moon is in the Seventh House, and Jupiter aligns with Mars, then Peace will guide the Planets, and Love will steer the Stars. This is the dawning of the Age of Aquarius… Harmony and understanding, sympathy and trust abounding; no more falsehoods or derision – golden living, dreams of visions, mystic crystal revelation, and the mind’s true liberation. Aquarius…”.

21 P. Heelas, op. cit., p. 1f. The August 1978 journal of the Berkeley Christian Coalition puts it this way: “Just ten years ago the funky drug-based spirituality of the hippies and the mysticism of the Western yogi were restricted to the counterculture. Today, both have found their way into the mainstream of our cultural mentality. Science, the health professions, and the arts, not to mention psychology and religion, are all engaged in a fundamental reconstruction of their basic premises”. Quoted in Marilyn Ferguson, op. cit., p. 370f.

22 Cf. Chris Griscom, Ecstasy is a New Frequency: Teachings of the Light Institute, New York (Simon & Schuster) 1987, p. 82.

23 See the Glossary of New Age terms, §7.2 above.

24 Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., chapter 15 (“The Mirror of Secular Thought”). The system of correspondences is clearly inherited from traditional esotericism, but it has a new meaning for those who (consciously or not) follow Swedenborg. While every natural element in traditional esoteric doctrine had the divine life within it, for Swedenborg nature is a dead reflection of the living spiritual world. This idea is very much at the heart of the post-modern vision of a disenchanted world and various attempts to “re-enchant” it. Blavatsky rejected correspondences, and Jung emphatically relativised causality in favour of the esoteric world-view of correspondences.

25 W.J. Hanegraaff, op. cit., pp. 54-55.

26Cf. Reinhard Hümmel, “Reinkarnation”, in Hans Gasper, Joachim Müller, Friederike Valentin (eds.), Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, Freiburg-Basel-Wien (Herder) 2000, 886-893.

27 Michael Fuss, “New Age and Europe – A Challenge for Theology”, in Mission Studies Vol. VIII-2, 16, 1991, p. 192.

28 Ibid., loc. cit.

29 Ibid.,p. 193.

30 Ibid.,p. 199.

31 Congregation for the Doctrine of Faith, Letter to the Bishops of the Catholic Church on Some Aspects of Christian Meditation (Orationis Formas), 1989, 14. Cf. Gaudium et Spes, 19; Fides et Ratio, 22.

32 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 448f. The objectives are quoted from the final (1896) version, earlier versions of which stressed the irrationality of “bigotry” and the urgency of promoting non-sectarian education. Hanegraaff quotes J. Gordon Melton’s description of New Age religion as rooted in the “occult-metaphysical” tradition (ibid., p. 455).

33 W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 513.

34 Thomas M. King s.j., “Jung and Catholic Spirituality”, in America, 3 April 1999, p. 14. The author points out that New Age devotees “quote passages dealing with the I Ching, astrology and Zen, while Catholics quote passages dealing with Christian mystics, the liturgy and the psychological value of the sacrament of reconciliation” (p. 12). He also lists Catholic personalities and spiritual institutions clearly inspired and guided by Jung’s psychology.

35Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., p. 501f.

36 Carl Gustav Jung, Wandlungen und Symbole der Libido, quoted in Hanegraaff, op. cit., p. 503.

37 On this point cf. Michel Schooyans, L’Évangile face au désordre mondial, with a preface by Cardinal Joseph Ratzinger, Paris (Fayard) 1997.

38 Quoted in the Maranatha Community’s The True and the False New Age. Introductory Ecumenical Notes, Manchester (Maranatha) 1993, 8.10 – the original page numbering is not specified.

39 Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (il Saggiatore) 1998, p. 84f.

40 Cf. the section on David Spangler’s ideas in Actualité des religions nº 8, septembre 1999, p. 43.

41 M. Ferguson, op. cit., p. 407.

42 Ibid.,p. 411.

43 “To be an American… is precisely to imagine a destiny rather than inherit one. We have always been inhabitants of myth rather than history”: Leslie Fiedler, quoted in M. Ferguson, op. cit., p. 142.

44 Cf. P. Heelas, op. cit., p. 173f.

45 David Spangler, The New Age, Issaquah (Mornington Press) 1988, p. 14.

46 P. Heelas, op. cit., p. 168.

47 See the Preface to Michel Schooyans, L’Évangile face au désordre mondial, op. cit. This quotation is translated from the Italian, Il nuovo disordine mondiale, Cinisello Balsamo (San Paolo) 2000, p. 6.

48 Cf. Our Creative Diversity. Report of the World Commission on Culture and Development, Paris (UNESCO) 1995, which illustrates the importance given to celebrating and promoting diversity.

49 Cf. Christoph Bochinger, “New Age” und moderne Religion: Religionswissenschaftliche Untersuchungen, Gütersloh (Kaiser) 1994, especially chapter 3.

50 The shortcomings of techniques which are not yet prayer are discussed below in § 3.4, “Christian mysticism and New Age mysticism”.

51 Cf. Carlo Maccari, “La ‘mistica cosmica’ del New Age”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2.

52 Jean Vernette, “L’avventura spirituale dei figli dell’Acquario”, in Religioni e Sette nel Mondo 1996/2, p. 42f.

53 J. Vernette, loc. cit.

54 Cf. J. Gordon Melton, New Age Encyclopedia, Detroit (Gale Research) 1990, pp. xiii-xiv.

55 David Spangler, The Rebirth of the Sacred, London (Gateway Books) 1984, p. 78f.

56 David Spangler, The New Age, op. cit., p. 13f.

57 John Paul II, Apostolic Letter Tertio Millennio Adveniente (10 November 1994), 9.tel

58 Matthew Fox, The Coming of the Cosmic Christ. The Healing of Mother Earth and the Birth of a Global Renaissance, San Francisco (Harper & Row) 1988, p. 135.

59 Cf. the document issued by the Argentine Bishops’ Conference Committee for Culture: Frente a una Nueva Era. Desafío a la pastoral en el horizonte de la Nueva Evangelización, 1993.

60 Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 23.

61 Ibid.,3. See the sections on meditation and contemplative prayer in the Catechism of the Catholic Church, §§. 2705-2719.

62 Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 13.

63Cf. Brendan Pelphrey, “I said, You are Gods. Orthodox Christian Theosis and Deification in the New Religious Movements” in Spirituality East and West, Easter 2000 (No. 13)

[64] Adrian Smith, God and the Aquarian Age. The new era of the Kingdom, Great Wakering (McCrimmons) 1990, p. 49

[65] Cf. Benjamin Creme, The Reappearance of Christ and the Masters of Wisdom, London (Tara Press) 1979, p. 116

[66]Cf. Jean Vernette, Le New Age, Paris (P.U.F.) 1992 (Collection Encyclopédique Que sais-je?), p. 14.

[67] Catechism of the Catholic Church, 52

[68] Cf. Alessandro Olivieri Pennesi, Il Cristo del New Age. Indagine Critica, Vatican City (Libreria Editrice Vaticana) 1999, especially pages 13-34. The list of common points is on p. 33

[69] The Nicene Creed

[70] Michel Lacroix, L’Ideologia della New Age, Milano (Il Saggiatore) 1998, p. 74.

[71] Ibid.,p. 68.

[72] Edwin Schur, The Awareness Trap. Self-Absorption instead of Social Change, New York (McGraw Hill) 1977, p. 68

[73]Cf. Catechism of the Catholic Church, §§ 355-383.

[74] Cf. Paul Heelas, The New Age Movement. The Celebration of the Self and the Sacralization of Modernity, Oxford (Blackwell) 1996, p. 161

[75] A Catholic Response to the New Age Phenomenon,Irish Theological Commission 1994, chapter 3.

[76] Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, 3.

[77] Ibid.,7.

[78] William Bloom, The New Age. An Anthology of Essential Writings, London (Rider) 1991, p. xvi.

[79]Catechism of the Catholic Church, § 387.

[80]Ibid., § 1849.

[81]Ibid., § 1850.

[82]John Paul II, Apostolic Letter on human suffering “Salvifici doloris” (11 February 1984), 19.

[83]Cf. David Spangler, The New Age, op. cit., p. 28.

[84]Cf. John Paul II, Encyclical Letter Redemptoris Missio (7 December 1990), 6, 28, and the Declaration Dominus Jesus (6 August 2000) by the Congregation for the Doctrine of the Faith, 12.

[85] Cf. R. Rhodes, The Counterfeit Christ of the New Age Movement,Grand Rapids (Baker) 1990, p. 129.

[86]Helen Bergin o.p., “Living One’s Truth”, in The Furrow, January 2000,
p. 12.

[87]Ibid.,p. 15.

[88] Cf. P. Heelas, op. cit., p. 138.

[89]Elliot Miller, A Crash Course in the New Age, Eastbourne (Monarch) 1989, p. 122. For documentation on the vehemently anti-Christian stance of spiritualism, cf. R. Laurence Moore, “Spiritualism”, in Edwin S. Gaustad (ed.), The Rise of Adventism: Religion and Society in Mid-Nineteenth-Century America, New York 1974, pp. 79-103, and also R. Laurence Moore, In Search of White Crows: Spiritualism, Parapsychology, and American Culture, New York (Oxford University Press) 1977

[90]Cf. John Paul II, Encyclical letter Fides et Ratio (14 September 1998),
36-48
.

[91] Cf. John Paul II, Address to the United States Bishops of Iowa, Kansas, Missouri and Nebraska on their “Ad Limina” visit, 28 May 1993

[92]Cf. John Paul II, Post-Synodal Apostolic Exhortation Ecclesia in Africa
(14 September 1995), 103. The Pontifical Council for Culture has published a handbook listing these centres throughout the world: Catholic Cultural Centres (3rd edition, Vatican City, 2001)

[93]Cf. Congregation for the Doctrine of the Faith, Orationis Formas, and § 3 above

[94]This is one area where lack of information can allow those responsible for education to be misled by groups whose real agenda is inimical to the Gospel message. It is particularly the case in schools, where a captive curious young audience is an ideal target for ideological merchandising. Cf. the caveat in Massimo Introvigne, New Age & Next Age, Casale Monferrato (Piemme) 2000, p. 277f.

[95]Cf. J. Badewien, Antroposofia, in H. Waldenfels (ed.) Nuovo Dizionario delle Religioni, Cinisello Balsamo (San Paolo) 1993, 41

[96]Cf. Raúl Berzosa Martinez, Nueva Era y Cristianismo, Madrid (BAC) 1995, 214

[97]Helen Palmer, The Enneagram, New York (Harper-Row) 1989.

[98]Cf. document of the Argentine Episcopal Committee for Culture, op. cit

[99]J. Gernet, in J.-P. Vernant et al., Divination et Rationalité, Paris (Seuil) 1974, p. 55

[100]Cf. Susan Greenwood, “Gender and Power in Magical Practices”, in Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press) 2000, p. 139

[101]Cf. M. Fuss, op. cit., 198-199

[102]For a brief but clear treatment of the Human Potential Movement, see Elizabeth Puttick, “Personal Development: the Spiritualisation and Secularisation of the Human Potential Movement”, in: Steven Sutcliffe and Marion Bowman (eds.), Beyond New Age. Exploring Alternative Spirituality, Edinburgh (Edinburgh University Press) 2000, pp. 201-219.

[103]Cf. C. Maccari, La “New Age” di fronte alla fede cristiana, Leumann-Torino (LDC) 1994, 168.

[104]Cf. W.J. Hanegraaff, op. cit., 283-290

[105]On this last, very delicate, point, see Eckhard Türk’s article “Neonazismus” in Hans Gasper, Joachim Müller, Friederike Valentin (eds.), Lexikon der Sekten, Sondergruppen und Weltanschauungen. Fakten, Hintergründe, Klärungen, Freiburg- Basel-Wien (Herder) 2000, p. 726.

[106]Cf. John Saliba, Christian Responses to the New Age Movement. A Critical Assessment, London, (Geoffrey Chapman) 1999, p.1.

[107]Cf. M. Fuss, op. cit., 195-196.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: